Bangkitlah dari Keterbatasan!

Bangkit-Syamsudin Kadir
Syamsudin Kadir, Bangkitlah!

ORANG bijak mengatakan, tak ada yang menggapai kesempurnaan tanpa mengalami keterbatasan. Ya, hampir semua manusia pernah merasa terbatas dalam hidupnya. Satu hal yang benar-benar membuat manusia terbatas adalah ketika manusia berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan ini : pada detik ke berapa Anda mulai tidur? Tak ada manusia yang benar-benar tahu sejak detik ke berapa ia mulai tidur.

Dulu keluarga saya tergolong berekonomi lemah. Sehingga tak sedikit impian atau cita-cita keluarga saya yang susah digapai. Tidak cukup di situ, sampai saat ini pun kampung saya masih belum tersentuh listrik, aspal, mobil dan ‘barang mewah’ lainnya.

Kondisi terbatas kadang membuat saya ‘mati rasa’, merasa bahwa semuanya sudah terjadi dan begitu adanya, karena itu saya tak perlu pusing dan tak mesti melakukan apa-apa. Namun, dalam waktu tertentu saya menangis juga miris. Bayangkan saja, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja, warga di kampung saya mesti berjalan kaki sekitar 7-8 jam. Mereka berjalan kaki, berangkat setiap Sabtu pagi dan kembali siangnya. Mungkin bagi sebagian orang, itu dianggap biasa, apalagi di kampung, ya harus seperti itu. Tapi bagi saya, kondisi ini mesti diperbaiki, mesti dirubah.

Ya, dalam perjalanan waktu selanjutnya hingga kini, saya tersadarkan dengan satu falsafah bahwa di samping kegelapan selalu ada cahaya. Di ujung kenyataan tersebut pasti ada kecerahan alias perubahan. Saya sadar bahwa jika saya hanya meratapi keadaan, maka keadaan tidak akan pernah berubah ke arah yang lebih ideal sesuai yang saya impikan.

Maha Benar Allah SWT. yang telah berfirman dalam Kitab suci-Nya :

… Sesungguhnya Allah SWT. tidak mengubah keadaan suatu kaum (masyarakat) sampai mereka mengubah (terlebih dahulu) apa yang ada pada diri mereka (sikap mental mereka)…”

(QS. Ar-Ra’du [13]: 11)

Ya, bukan kah keadaan suatu komunitas, lingkungan, tempat atau sejenisnya akan berubah jika kaum yang ada dalam komunitas, lingkungan atau tempat tersebut berubah, mencari solusi serta melakukan sesuatu?

Orang bijak mengatakan, Just Do It!. Ya, saya dan siapapun bisa dan mesti melakukan sesuatu untuk merubah keadaan.  Kondisi ‘terbatas’ dan ‘tragis’ menginspirasi saya untuk melakukan sesuatu. Dengan keyakinan bahwa saya pasti bisa melakukan sesuatu. Ada banyak hal yang menjadi pilihan saya—di antaranya adalah menulis buku. Yang terlintas dalam pikiran saya, bagaimana caranya agar saya—walaupun tidak bersama keluarga, jauh dari kampung halaman dan dalam kondisi yang serba ‘terbatas’—tetap bisa berkontribusi bagi keluarga dan kemajuan kampung saya. Harapannya, karya saya kelak bisa saya wariskan, terutama untuk keluarga dan warga di kampung saya.

Konon, menurut sebagain sahabat saya, menulis buku adalah satu jenis aktivitas yang menjanjikan.  Kata seorang teman, menjadi penulis adalah satu pekerjaan yang tentu saja menghadirkan banyak keuntungan. Bukan saja nama menjadi ilmu atau wawasan yang meningkat, tapi juga ‘duit’ semakin banyak. Walau begitu, ia tetap saja memiliki kendala atau tantangan tersendiri. Sebagaimana galibnya, hampir tak ada satu jenis profesi atau aktivitas yang luput dari tantangan bahkan ‘kegagalan’.

Dengan segala macam upaya, apa pun garansi yang didapatkan, yang jelas saya harus melakukan sesuatu. Itulah ungkapan yang selalu saya jadikan sebagai penjaga semangat. Saya pun menulis beberapa naskah buku. Ya, selama sekian tahun di Bandung, Jakarta dan Cirebon saya menulis banyak naskah buku, termasuk berbagai artikel yang dikirimkan ke berbagai media massa, selain yang dipublikasikan di berbagai web, blog, facebook dan sejenisnya.

Dari kerja keras beberapa tahun selama di Bandung, Jakarta dan Cirebon tersebut, saya pun memetik hasil yang memuaskan. Dalam beberapa waktu berjalan, akhirnya, naskah yang saya tulis diterbitkan oleh beberapa penerbit di Jogjakarta, Jakarta, Bandung dan Cirebon, serta berbagai tulisan dimuat di berbagai majalah, koran, buletin dan sejenisnya. Bagi saya, ini adalah satu lompatan sejarah yang tentu saja membuat saya semakin yakin bahwa kondisi yang terbatas adalah sumber inspirasi terbaik untuk melakukan sesuatu yang terbaik. Sederhananya, bukan saatnya lagi saya merasa lemah, terbatas, berdiam diri dan tak melakukan apa-apa. Saya harus melakukan sesuatu, saya mesti berkarya.

Di samping itu, saya terdorong untuk selalu mengingatkan siapa pun agar tidak mencaci maki keadaan, karena keadaan tidak akan berubah dengan cacian. Keadaan akan berubah jika adanya usaha nyata dari manusia yang menginginkan keadaan yang lebih baik atau lebih ideal. Apa pun yang dilakukan jika itu baik dan maslahat, maka lakukanlah. Itulah sikap terbaik yang mesti dipilih. Itulah yang membuat kesuksesan cepat diraih.

Saya berkeyakinan bahwa keterbatasan, kondisi ‘tragis’ dan berbagai kendala tidak akan memberi apa-apa jika saya hanya berdiam diri. Keterbatasan keluarga dan rasa minder yang menghinggapi saya takkan mampu merubah keadaan sedikitpun. Karena itu, saya mesti bangkit. Saya harus melakukan sesuatu yang dapat melampaui semua itu. Bukan saja untuk saat ini tapi juga untuk masa yang akan datang.

 

“Semakin kuat keyakinan saya akan kesuksesan, maka akan semakin semangat saya dalam menggapainya.

(Syamsudin Kadir)

Ungkapan itu selalu terngiang dalam benak saya hingga kini. Ya, keyakinan yang kuat akan kesuksesan menyemangati seseorang untuk melakukan sesuatu. Jika keyakinan untuk menggapai kesuksesannya kuat, maka akan semakin semangat ia mengeksekusi langkah-langkah menggapainya.

Merasa terbatas adalah manusiawi, namun bangkit dari kenyataan yang terbatas adalah istimewa. Keterbatasan adalah rahim bagi karya-karya luar biasa dan bersejarah.

(Syamsudin Kadir)

Dengan dukungan istri tercinta, Mba Uum Heroyati, anak saya, Azka Syakira (yang masih kecil) juga keluarga besar, akhirnya beberapa waktu yang lalu saya berhasil menulis beberapa buku dan beberapa tulisan di berbagai antologi. Dari beberapa karya tersebut, walaupun dari segi ‘duit’ belum seberapa, namun respon pembaca atas karya-karya tersebut sangat luar biasa, tentu saja membuat saya semakin tersemangati untuk terus berkarya.

Respon keluarga, teman, sahabat, tetangga, dan pembaca umumnya dari beberapa kota di seluruh penjuru nusantara, termasuk orang-orang di kampung asal saya telah menyalakan kembali api semangat saya yang sempat padam—yang memang harus terus menyala. Untuk semuanya, saya layak menyampaikan banyak terima kasih. Semoga semuanya menggapai sukses!

Sahabat dahsyat! Rasa terbatas itu manusiawi dan kondisi yang ‘tragis’ itu adalah bagian dari episode kehidupan. Keduanya akan menjadi produktif jika seseorang mampu menjadikannya sebagai batu loncatan untuk melakukan sesuatu yang terbaik. Sebab, keadaan hanya akan berubah jika seseorang mau merubah dan melakukan langkah-langkah perubahan. Mari kembali semangat, mari bangkit dari keterbatasan. Hidup ini akan indah jika dilalui dengan mengelola keterbatasan sebagai pembangkit untuk selalu semangat. [Syamsudin Kadir–Penulis dan editor lepas/085 220 910 532]

2 thoughts on “Bangkitlah dari Keterbatasan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s