Menjangkau Masa Depan Islam

Agama, Negara dan Peradaban

Dalam sejarah kita temukan bahwa sejarah agama (din)—dalam hal ini Islam—itu jauh lebih panjang dan abadi daripada sejarah negara. Karena itu, sejarah para nabi dan rasul—sebagai komunikator sekaligus model terbaik manusia yang mampu mengejahwantahkan agama pada skala individu dan publik sekaligus—jauh lebih abadi daripada sejarah para raja. Bahkan, pengaruh para nabi dan rasul masjidterhadap peradaban umat manusia secara keseluruhan jauh lebih kuat, lebih luas dan abadi daripada sejarah pengaruh para raja dan negara kepada sejarah peradaban umat manusia. Jauh lebih unik, ketika mata rantai kenabian diputuskan pun, agama tetap tumbuh dan tegak bahkan semakin menggeliat. Agama (Islam) tak pernah lekang dari ruang dan waktu. Ia sangat berbeda dengan Kristen yang mengalami problem dalam berbagai sisi—sebagaimana yang disinggung Adian Husaini (Wajah Peradaban Barat, Penerbit GIP: 2005)—berupa problem sejarah Kristen, problem teks Bible, dan problem teologi Kristen.

Kalau kita bandingkan dengan umur ideologi yang dicetuskan dari pikiran-pikiran manusia, dengan umur agama—lagi-lagi dalam hal ini Islam—maka kita akan menemukan kenyataan bahwa tidak ada  ideologi bahkan peradaban yang menandingi panjangnya umur Islam. Islam tegak dan mendapatkan respon yang menggeliat dari umat manusia sejak Nabi Adam hingga kini. Periodesasi sejarah bahkan tidak pernah menceritakan Islam terhengkang dari sejarah umat manusia.

Lain Islam, lain yang lain. China cukup lama mendunia namun ia hanya dibaluti sejarah perang bukan peradaban yang beradab. Romawi dan Yunani juga begitu. Di satu sisi ruang pengetahuan dibuka lebar, namun pada sisinya yang lain berbagai peristiwa mengenaskan juga terlalu telanjang dipandang mata. Peristiwa berdarah dalam sejarah justru semakin menjadi-jadi di era peradaban Romawi dan Yunani menggeliat. Untuk Romawi sendiri hancur karena banyak fakor seperti problem agama Kristen, dekadensi moral, kepemimpinan otoritarian, krisis keuangan dan pembangkangan militer. Demikian sebagian yang disinggung oleh Edward Gibbon (The Decline And Fall Of The Roman Empire, Bison Books: 1979)

Pada era modern sendiri, komunis hanya mampu bertahan selama kurang lebih 70 tahun. Kapitalisme sekalipun sekarang sudah mulai sakarat dijemput ajal kematiannya. Kapitalisme dengan segala digdayanya di satu sisi tradisi keilmuan begitu menggeliat, namun pada sisinya yang lain juga anti terhadap kejujuran dan objektivitas ilmu pengetahuan. Siapa pun tentu masih ingat bagaimana peristiwa “perendahan” terhadap ilmu pengetahuan dalam dunia Kristen-Barat. Menurut Syamsudin Kadir (Islam Bukan Liberal, Penerbit Mitra Pemuda: 2010), sejumlah ilmuwan mengalami benturan dengan Gereja, seperti Gelileo Galilei (1546-1642), Nicolaus Corpenicus (1473-1543). Mereka pun disiksa hingga dihukum mati. Bahkan Geordano Bruno (1548-1600), pengagum Nicolas Corpenicus, dibakar hidup-hidup. Jadi, pada dasarnya kapitalisme hanya menjadi biang yang menyebabkan peradaban manusia menjadi tak menentu. Ia sangat antipati terhadap keaslian dan objektivitas ilmu.

Memahami realitas semacam itu, teori The End of History-nya Fukuyama (The End of History and The Last Man, Avon Books: 1992) yang mengatakan bahwa era agama—dalam hal ini terutama Islam—telah berakhir, dengan begitu kapitalis-liberal menjadi penguasa tunggal, sudah tidak up to date lagi dengan kenyataan global, bahkan terkesan sangt “bebal” dan “norak”. Fukuyama sendiri pernah meramalkan bahwa Islam tidak akan pernah menjadi agama seorang pun dari penduduk Barat. Faktanya justru sangat jauh dari apa yang ia ramalkan. Ramalan Fukuyama semakin menemukan faktanya sebagai ramalan “bebal” dan “norak”, ketika di Barat bukan saja ada yang memeluk Islam tapi juga terjadi peningkatan jumlah umat Islam. Studi ilmiah Islam dan pertemuan-pertemuan umat Islam se-dunia justru semakin menggeliat. Di samping “bebal” dan “norak”, ramalan Fukuyama sangat “semberono” dan bias kepentingan. Ia membangun objektivitas ilmiah di balik panggung sobjektivitas politik dan kepentingan Barat yang memang sudah anti terhadap Islam sejak awal.

Begitu juga teori The Clash of Civilization-nya Samuel P. Huntington (The Clash of Civilization and The Remaking of World Order, Touchtone: 1996), jika dikontekskan dengan realitas Barat atau munculnya fenomena islamisasi dalam ruang publik Barat beberapa dekade terakhir, maka teori itu terlalu “naif” dan “bebal”. Bukan saja “naif” dan “bebal”, teori Huntington justru juga memperlihatkan betapa standar ilmiah di Barat—utamanya dalam beberapa dekade terakhir—selalu bernuansa politis dan sangat jauh dari tradisi keilmuan sebagaimana yang terbangun dalam sejarah peradaban Islam. Alih-alih menjadi “akhir sejarah”—dalam pengertian (meminjam penjelasan Huntington sendiri) “tak ada ideologi atau peradaban yang menyaingi peradaban Barat”—kini justru peradaban Islam hadir dan dihadirkan oleh manusia Barat sendiri (terutama kalangan akademisi yang jujur dengan ilmunya) yang dalam dekade terakhir masuk Islam dan merasakan betapa Islam adalah agama yang tidak saja nikmat dan indah bagi individu umatnya tapi juga rahmat bagi peradaban umat manusia secara keseluruhan. Bahwa Islam bukan saja agama ritual tapi juga agama peradaban.

Dalam konteks lain, alih-alih berdialog dengan peradaban lain, Barat sendiri—dalam hal ini seperti apa yang diisyaratkan oleh Huntington sendiri bahwa pengendali utama Barat sekarang ini adalah manusia yang dilahirkan dari wujud nyata kegagalan Kristen dalam mengendalikan umatnya—tidak punya ide naratif yang menjangkau kepentingan seluruh umat manusia. Barat, dalam hal ini terutama Amerika dan sekutunya, hanya mementingkan dirinya sendiri—itupun tak terpenuhi. Bahkan konflik dan problem sosial dalam negaranya sendiri sekarang semakin rumit juga meningkat. Kebijakan politik luar negeri dan ekonomi sering mendapatkan kecaman dari dalam negeri, baik rakyat maupun penguasa—serta dalam beberapa kebijakan termasuk kecaman dari penguasa negara sekutunya (seperti Inggris, Perancis) yang berbeda dalam memahami realitas dan pilihan politik. Angka perceraian, aborsi, kriminalitas, kematian dan korupsi semakin meningkat. Populasi penduduk pun tak memiliki peningkatan yang cukup signifikan, sebab pemerintah melegalkan adanya kebebasan kaum wanita untuk tidak menikah (tapi tetap melakukan hubungan seks secara bebas), di samping munculnya komunitas gay yang sudah mendapatkan legalitas dari negara sebagai bentuk penghargaan terhadap keragaman sosial. Bahkan Obama sudah memberi permakluman—terutama dalam kampanye era Pemilu lalu—bahwa menghargai dan membiarkan komunitas gay hidup dengan pola hidup khas gay-nya adalah bentuk penghargaan atas ekspresi kebebasan dalam negara demokrasi. Tak cukup di situ, pada satu sisi Barat, dalam hal ini lagi-lagi utamanya Amerika dan sekutunya, begitu semangat mengkampanyekan penghormatan terhadap hak-hak individu (sipil) dan kemerdekaan serta kedaulatan bernegara, namun pada sisinya yang lain Barat jugalah yang  membunuh warga sipil di berbagai negara bahkan paling aktif untuk menciptakan konflik antar negara bahkan kawasan.

Uniknya, di saat Barat menghadang laju agama dalam ruang publik—seperti membatasi munculnya simbol sekaligus wujud ejahwantah agama dan membunuh umat Islam di berbagai kawasan—justru kini Islam menjadi agama yang dianut terbesar ke-2 di Amerika. Begitu juga di beberapa negara Eropa seperti Perancis, Jerman, Inggris, Belanda dan Spanyol, populasi umat Islam semakin meningkat tajam bahkan—mengutip istilah seorang pengamat—nyaris tak terkendali. Lebih unik lagi, mereka yang belakangan menganut Islam adalah kalangan akademisi, ilmuwan dan aktivis sosial, yang dalam konteks pengaruh tentu saja lebih besar daripada kalangan lain. Ini tentu saja membuat ilmuwan, akademisi dan penguasa Barat yang anti Islam sangat “terganggu” dan “ketar-ketir” juga “ketakutan”.

Sekarang secara global kita dapat menyaksikan ada gelombang pencarian kolektif umat manusia terhadap solusi-solusi baru atau sumber-sumber nilai baru yang bisa menginspirasi mereka dalam menyelesaikan masalah dan konflik yang mereka hadapi. Karena sumber-sumber nilai yang mereka agungkan selama ini sudah tidak mampu lagi membuat mereka betah dan bertahan, bahkan tidak mampu menghadirkan ketenangan dan kesejahteraan murni dalam hidup mereka. Itu sebabnya, menurut Anis Matta (Video Ceramah Peradaban: 2013), ketika tahun 2008 lalu negara-negara Barat, terutama Amerika dan Eropa, dilandai berbagai krisis, para ekonom dan pengusaha mereka mengatakan—sesuatu yang berbeda dengan penguasa mereka—bahwa ini adalah akhir dari sejarah imperium kapitalisme. Ya, bagi umat Islam, ini betul-betul akhir sejarah Barat yang berbasis pada nilai “kesejahteraan”  alias materialisme yang semu, sekaligus menjadi “Muqadimah baru” bagi peradaban Islam di Barat.

Titik Balik

Dari fakta dan fenomena semacam itu kita dapat memahami betapa ada kemestian sejarah bagi kita untuk menyambung keterputusan sejarah mengenai pemikiran integratif dan narasi panjang antar agama dan realitas kehidupan umat manusia—yang selanjutnya dapat juga disebut sebagai peradaban. Kita tentu punya impian agar yang selama ini terpisah-pisah dan disintegratif itu bisa bersambung dan menyatu kembali. Kita punya pemikiran bahwa agamalah sesungguhnya yang menjadi sumber nilai dari proses membangun keteraturan sosial (social order) dalam semua lingkup kehidupan manusia. Agamalah justru yang mampu menegakkan peradaban beradab dalam seluruh skala, baik individu, negara maupun peradaban. Kesadaran semacam ini mesti terus kita konstruksi dalam alam bawa sadar dan pemikiran kita, agar jiwa kita terus “membatin” dan gagasan kita “membesar” menjangkau ruang dan waktu.

Mengapa kita perlu membangun kesadaran semacam itu? Karena faktanya, selama ini—karena efek jajahan kolonial di samping kemalasan kita untuk memahami sejarah peradaban Islam dan peradaban lain sebagai pembanding—kita kemudian memahami dengan sekonyong-konyong bahwa dunia dan akhirat itu terpisah dan tidak memiliki korelasi juga tidak memiliki keterpaduan. Dengan demikian, orang yang ahli di bidang duniawi tidak diperkenankan untuk masuk dalam urusan ukhrawi. Sebaliknya, orang yang ahli di aspek ukhrawi tidak diperkenankan untuk masuk dalam urusan duniawi. Satu pemahaman yang sangat jauh dari tradisi peradaban Islam sebagaimana yang dilakoni oleh para ulama kita di masa silam.

Karena masih terpesona dengan pemikiran dan realitas a-historis semacam itu, selama ini kita juga terbiasa untuk memahami agama sebagai sesuatu yang tak punya hubungan dengan negara sebagai instrumen keteraturan sosial. Bahkan, agama dipahami sebagai ruang privat yang hanya punya tanggung jawab untuk mengurusi hal-hal kecil dalam skala individu, sementara negara adalah ruang terbuka (publik) yang mengurusi hal-hal besar dalam skala publik. Pemikiran sekularistik semacam itu, semakin memperkuat sebuah pemahaman warisan kolonial bahwa agama dan negara adalah dua variabel yang tidak punya hubungan korelatif dan integratif.

Nah, realitas semacam itu—sejak lama dan terutama akhir-akhir ini—ternyata berbenturan dengan suara nurani dan fitrah manusia itu sendiri. Dalam diri manusia, baik yang muslim maupun yang non muslim, mengandung unsur individu sekaligus unsur sosial. Manusia tidak lahir dengan sendirinya. Ia ada melalui proses biologis yang matang antara dua jenis manusia yang secara sosial tentu saja memiliki jenis dan latar yang berbeda. Itu menunjukan bahwa secara fitrah manusia memiliki tanggung jawab bukan saja yang bersifat individu tapi juga yang bersifat kolektif (sosial). Agama—dalam hal ini Islam—sejak awal menempatkan negara sebagai instrumen untuk merealisasikan nilai-nilai agama, sementara nilai-nilai agama adalah basis nilai yang membuat keteraturan sosial dalam instrumen individu, masyarakat, negara bahkan peradaban. Dengan demikian, agama, negara dan peradaban adalah satu kesatuan yang integratif. Negara sendiri akan menjadi beradab manakala dihuni dan dikelola oleh manusia yang memiliki basis nilai yang—meminjam istilah Hamid Fahmi Zarkasy—“berperadaban”.

Teori pemisahan agama dan negara sendiri dalam perjalanan sejarahnya justru semakin memperlihatkan ketidakmampuan negara sebagai instrumen menghadirkan kesejahteraan publik di saat agama sukses membangun bangunan manusia dan peradaban secara terus menerus. Bahkan tak sedikit orang yang merasakan bahwa akhir-akhir ini negara sudah tidak bisa mengatur dirinya sendiri. Mereka perpandangan, alih-alih mengurus urusan publik yang lebih luas, negara pun memperlihatkan ketidakmampuannya dalam menata dirinya sendiri—karena model manusianya tidak memenuhi standar kualifikasi manusia peradaban. Akhirnya mereka mencari basis nilai yang mampu membuat mereka teratur, dan itu mereka temukan dalam agama (Islam). Sebab agama memiliki unsur penafsir paling ajeg atas realitas kehidupan sekaligus unsur penyerap berbagai konflik yang paling aspiratif serta memiliki solusi terbaik bagi masalah-masalah sosial mereka. Selain itu, dipahami bahwa hanya agamalah yang mampu membuat keteraturan sosial (social order) dan mampu memperekat berbagai elemen yang beragam dalam kehidupan sosial.

Peradaban Barat sendiri, dalam hal ini Amerika dan Eropa, dalam beberapa waktu yang lalu memiliki keteraturan sosial karena pemenuhan satu syarat keteraturan sosial berupa meningkatnya taraf kesejahteraan. Namun saat ini, di saat taraf kesejahteraan menurun (sejak 2007 akhir hingga sekarang, sebagaimana yang pernah disinggung Soros), sementara basis nilai—terutama spiritual—menghilng, maka mereka menghadapi konflik horizontal dan problem sosial yang rumit dan pelik. Bukan saja membingungkan penguasanya tapi juga masyarakat Barat secara keseluruhan.

Survei yang dilakukan Columbia Universiy yang menempatkan Denmark, Norwegia, Swiss, Belanda, Swedia, Kanada, Finlandia, Austria, Islandia dan Australia sebagai negara paling bahagia di dunia untuk tahun 2013—sebagaimana yang dilangsir berbagai media massa (termasuk detik.com)—beberapa waktu yang lalu pun tidak diukur berdasarkan nilai-nilai universal dan menjangkau aspek jiwa-raga manusia. Faktanya, jumlah orang stress atau yang berpenyakit jiwa, konflik sosial dan konflik horizontal di hampir seluruh negara tersebut setiap tahun terus meningkat. Lucunya, mereka tidak memasukkan dua negara muslim terkaya (Brunei Darussalam dan Kuwait) sebagai negara paling bahagia di dunia. Padahal kedua negara tersebut sangat jauh dari kriminalitas, korupsi, konflik bahkan dari sisi kesejahteraan lebih dari cukup daripada negara-negara bahagia yang mereka sebutkan. Artinya, standar ilmiah survei tersebut justru tidak berbanding lurus dengan fakta statistik di negara bersangkutan yang mereka “banggakan”. Di sini ketidakjujuran juga benar-benar terlihat dengan jelas. Lagi-lagi, begitulah standar ilmiah Barat. Selain “norak” dan “bebal” juga jauh dari kejujuran dan tentu saja sangat bias kepentingan.

Al-Mawardi dalam teori-teori politiknya—sebagaimana yang tersirat dalam kitabnya Adab wa Dunia pada bab ad-Dunya—mengatakan bahwa manusia akan menikmati keteraturan sosial (social order) dan terjaga dari konflik horizontal manakala terpenuhinya beberapa syarat, di antaranya kesejahteraan. Namun, sebelum menyebut unsur kesejahteraan, di poin pertama Al-Mawardi mengatakan yang menjadi syarat utama hadirnya keteraturan sosial adalah din al-mutaba’ah, agama yang diikuti. Sebab agama, menurut al-Mawardi, diturunkan bukan untuk kepentingan Allah tetapi justru untuk kepentingan manusia itu sendiri. Dengan begitu, agamalah yang mestianya menjadi tiang penyanggah kehidupan manusia bukan sekadar tingkat kesejahteraan—apalagi yang dimanipulasi demi kepentingan tertentu, jelas tidak relevan.

Jadi, ketidakmauan dan ketidakmapuan manusia untuk menjadikan petunjuk Allah sebagai basis nilai dalam kehidupan mereka, maka bisa dipastikan mereka tidak akan mampu menghadapi berbagai konflik horizontal dan problem sosial. Bahkan mereka tidak mampu hidup lama dalam dunia yang dihuni beragam latar manusia dan kehidupan sosial yang semakin rumit. Sekadar contoh, kita layak menggugat dalam satu pertanyaan sederhana: apakah Denmark yang sangat rasial dan anti keragaman (tepatnya anti Islam dan kaum muslimin) layak dimasukan dalam negara paling bahagia?

Lain Barat, lain Islam. Sekali lagi, satu-satunya unsur yang mampu menyerap dan menyelesaikan konflik dan berbagai masalah adalah agama. Itu sebabnya, yang membutuhkan agama itu pada dasarnya adalah negara. Kebutuhan agama kepada negara tidak lebih besar daripada kebutuhan negara kepada agama. Makanya ada ulama yang mengatakan bahwa “kerajaan atau kekuasaan bertahan lebih lama karena agama, dan dengan agama negara itu lebih kuat.” Sementara kebutuhan agama kepada negara sendiri sangat kecil—namun punya efek sebagaimana yang diungkap para sejarawan—yaitu efek pengganda.

Dalam kaitan munculnya teori efek pengganda pada perkembangan sains dan kenyataan sosial berupa perkembangan umat manusia, maka kita bisa menemukan teori yang lain berupa teori efesiensi. Dalam konteks hubungan agama dan negara juga begitu. Agama ini mendapat efek pengganda dari negara. Dengan agama, efesiensi waktu dan sumber daya dalam menyebarkan prinsip dan nilai-nilai agama pun terlihat sangat gamblang dan semakin mudah.

Mari kita lihat faktanya dalam sejarah Islam. Kalau kita baca siroh (baca: sejarah Islam) dalam konteks statstiknya, maka kita akan menemukan efek teori efesiensi ini. Kita tahu bahwa ketika nabi berdakwah selama 13 tahun di Mekkah—walau prinsip-prinsip dasar agama ditegakkan di sana, namun—hasilnya sangat sedikit, dalam artian pengikutnya hanya sedikit. Bayangkan saja yang ikut hijrah bersama Rasulullah Saw. ke Madinah sebanyak 200 orang, yang sudah masuk Islam dan hijrah ke Habasyah (Ethopiah) sebanyak 85 orang dan 70 orang Ansor yang sudah masuk Islam sebelum Rasulullah Saw. hijrah ke Madinah. Jadi, modal (sumber daya manusia) yang menjadi basis utama dakwah Islam di Madinah pada era awal hanya 270 orang, ditambah cadangan muslim yang berada di Habasyah sebanyak 85 orang.

Namun coba kita lihat efek ganda sekaligus efesiensi dakwah Islam setelah Rasulullah Saw. berada di Madinah. Satu tahun pertama Rasulullah Saw. di Madinah, terjadi perang Badar. Jumlah yang ikut dalam perang tersebut sebanyak 300 orang. Tahun ketiga, terjadi Perang Uhud, jumlah yang ikut sebanyak 1.000 orang. Tahun kelima, terjadi Perang Khandak yang ikut sebanyak 3.000 orang. Tahun kedelapan, dalam Fathul Mekkah yang ikut sebanyak 10.000 orang. Tahun kesepuluh, dalam Hajatu Wada’ yang ikut sebanyak 100.000 orang, atau dalam riwayat lain dijelaskan sebanyak kurang lebih 120.000 orang.

Jadi dalam waktu 10 tahun dakwah Islam di Madinah, jumlah kaum muslimin naik, dari 270 orang menjadi 120.000 orang. Jika di Mekkah dakwah Islam hanya diikuti oleh sekitar 270 orang, maka ketika di Madinah diikuti oleh 120.000 orang. Mengapa di Madinah terjadi lonjakan angka pengikut Rasulullah Saw.? Karena dakwah di Mekkah menggunakan pola individualitik, orang perorang, yang tentu saja dengan efek keberhasilnya secara statistik sangat kecil. Sementara di Madinah Rasulullah Saw. memanfaatkan efek pengganda dari keberadaan negara. Dari sisi waktu dan sumber daya cukup efesien, sehingga hasilnya masif dan berlipat ribuan persen.

Tetapi ini bukan berarti bahwa agama dikendalikan negara, justru agamalah yang mengendalikan negara. Dalam pengertian bahwa agama pada dasarnya memberi nilai-nilai bagi pembangunan negara, sebab negara hanyalah instrumen mengelola urusan publik. Sementara negara tidak memiliki basis nilai yang masif, maka agama hadir sebagai sumber sekaligus basis nilai yang membuat negara sebagai instrumen bisa bekerja lebih teratur, efektif dan masif. Dengan kata lain, negara tanpa nilai dan narasi agama, maka umur negara tidak panjang. Kalau kita membandingkan sejarah Yunani, Romawi dan peradaban Islam, misalnya, maka kita akan mendapatkan fakta bahwa umur peradaban Islam lebih panjang dan memiliki efek historikal yang sangat kuat terhadap memori kolektif umat manusia. Itulah efek pengganda dan efesiensi agama.

Di era informasi yang terbuka lebar dan sangat “gratis” ini, komunikasi dan pembangunan jaringan bukan lagi antar individu dan individu dalam satu negara dan atau antar negara dan negara, tapi juga sudah berkembang menjadi antar individu dengan individu dari beberapa negara. Dengan begitu, agama bukan lagi konsumsi “lokal” tapi sudah menjadi basis nilai manusia dunia. Betul bahwa di beberapa negara muslim terjadi gejolak sosial  namun secara keseluruhan narasi kebangkitan Islam semakin menyeruak. Berbagai media pun berperan positif untuk mengambil tugas sejarahnya sebagai perantara yang baik dalam menyukseskan agenda mulia ini, setahap demi setahap, tentu di samping efek negatifnya dalam menghadirkan fenomena autisme manusia dalam konteks sosial.

Konteks Indonesia

Nah, sekarang faktanya kita mewarisi salah satu peradaban Islam yang sangat istimewa yaitu Indonesia. Ia menjadi salah satu negara terbesar di dunia. Secara geografis, negeri ini berada pada kawasan yang sangat strategis. Diapiti berbagai benua dan dilalui lintasan perdagangan global. Dalam konteks sejarah dan sosial, ia juga berada pada konteks sejarah Islam yang sangat fenomenal. Proses islamisasi di negeri ini terjadi dengan damai. Pada tingkat populasi juga negeri ini menjadi negara bermayoritas muslim terbesar di dunia, atau mencapai angka kurang lebih sekitar 18% (250 juta jiwa) dari seluruh umat Islam di dunia. Lebih jauh, tidak ada negara di dunia ini yang memiliki struktur sosial yang beragam seperti Indonesia. Bukan saja budaya, ras dan etnik tapi juga bahasa dan agama penghuninya yang beragam. Apalagi dalam al-Qur’an diisyaratkan bahwa luas bumi ini 2/3 nya adalah air, dan Indonesia sama persis dengan isyarat al-Qur’an bahwa 2/3 wilayah Indonesia adalah lautan. Jadi, selain mempresentasikan model dunia sekaligus struktur sosial global yang harmonis, Indonesia juga menjadi model qur’anik bagi isyarat banyak ayat dalam al-Qur’an.

Oleh karena itu, Indonesia mesti kita tempatkan pada posisi idealnya sebagai negara besar dan berperadaban. Ia merupakan the big brohter bagi negara-negara muslim yang lain di seluruh dunia. Ia mesti mengambil posisi strategisnya sebagai juru bicara terbaik dunia Islam untuk berdebat atau berdialog secara elegan dengan peradaban lain yang masih tersisa di seluruh dunia. Itulah warisan sejarah nabi dan rasul juga para ulama juga pejuang di masa lalu yang dapat kita ekspresikan di atas negeri kathulistiwa ini juga ke pentas global ke depan.

Dipahami bahwa peran para nabi dan rasul adalah menjadi model ideal dari agama dan mendakwahkan agama kepada umat manusia. Dalam konteks politik, mereka tidak punya tugas untuk mencari suara tapi punya kewajiban membentuk pengikut. Ini adalah keunikan sekaligus kekhasan generasi awal mengapa kemudian peradaban Islam mengabadi hingga kini. Ikatan suara bersifat semu dan labil, bahkan tak sedikit melahirkan banyak pecundang juga menjadi musuh paling progesif terhadap Islam, sementara ikatan pengikut bersifat materil-spiritualis, zhahir-bathini, periodik-naratif, kini-masa depan, bahkan mengabadi menjangkau dunia-akhirat.

Sebagai pewaris, tugas kita tentu tak sedikit. Namun sebagai pengelola bumi sekaligus yang menghadirkan kesejahteraan dan rasa aman bagi penghuninya—sebagaimana yang diisyaratkan dalam al-Qur’an yang juga dipraktikkan oleh para nabi dan rasul serta para pejuang Islam di era sebelumnya—bukanlah amanah dan tanggung jawab yang tidak bisa dilakukan. Kita tentu saja mampu melakukannya, asal kita memenuhi syarat juga unsur-unsurnya, atau apa yang disebut Ziaudin Sardar (Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, Penerbit Mizan: 1992) dengan “kelayakan” menjadi manusia peradaban.

Amanah Peradaban untuk Generasi Baru

Dari penjelasan singkat di atas kita dapat menyimpulkan apa saja yang mesti dilakukan oleh umat Islam—termasuk kalangan muda Islam sebagai generasi baru bangsa ini—dalam menjangkau masa depan peradaban Islam. Jika disederhanakan, yang menjadi agenda mendesak di antaranya, pertama, kewajiban—apa yang disebut oleh Kuntowijoyo—mengilmui Islam. Bukan saatnya lagi menyusun alasan untuk tidak memahami Islam dan sumbernya dengan, misalnya, “saya bukan

Perpustakaan Rumah Syamsudin Kadir (Impian)
Perpustakaan Rumah Syamsudin Kadir (Impian)

anak pesantren”, “saya kuliah di eksat dan kedokteran”, “jurusan dan study saya fokus di hukum” dan alasan-alasan “kerdil” dan “picik” lainnya. Selama kita muslim, maka memahami, mengamalkan Islam—hingga menyebarkan Islam—adalah keniscayaan. Islam adalah sumber nilai dan basis yang menjembatani kita untuk memahami realitas dari sudut pandang yang luas dan mengabadi.

Kedua, kemestian untuk memahami sejarah. Sejarah adalah realitas dan seluruh tafsir atasnya. Ia adalah pengetahuan mengenai waktu juga momentum. Tidak ada peradaban yang tidak masuk dalam perjalanan sejarah. Memahami sejarah termasuk tafsir (baca: interpertasi) atasnya dapat membantu kita untuk memahami zaman dalam berbagai konteks waktu dan pemikiran.

Ketiga, memiliki pengetahuan sosial-budaya dan bahasa. Hidup dalam ruang lingkup yang beragam meniscayakan kita untuk memiliki pengetahuan sosial dan budaya di samping bahasa sebagai sarana komunikasi dan pembangunan jaringan. Dialog maupun perdebatan peradaban membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik bahkan aktif, dan itu adalah wujud konkret kemampuan berbahasa. Kita mesti mengupayakan untuk aktif berbahasa seperti Indonesia, Arab, Inggris, Mandarin, Jepang, Jerman dan seterusnya.

Keempat, memiliki pengetahuan geografi dan demografi. Pengetahuan geografi adalah pengetahuan tentang ruang tempat dimana kita hidup dan ingin mementaskan berbagai peristiwa sejarah. Sementara demografi adalah pengetahuan yang menjelaskan kepada kita tentang laju penduduk dan kepadatannya, di samping sirkulasinya pada konteks perubahan zaman, dimana kita ingin melakukan berbagi aktivitas menyejarah. Peta ruang dan manusia inilah yang membantu kita dalam mewujudkan tugas—yang oleh Yusuf Qordahwi disebut sebagai proses—“islamisasi”.

Kelima, memahami konsep pertahanan-keamanan. Pengetahuan pertahanan-keamanan bukan saja membantu kita dalam memetakan realitas, tapi juga membantu kita dalam menghitung laju “gerakan” dalam mengejahwantahkan agama sebagai nilai sekaligus basis pembangun peradaban umat manusia.

Keenam, memiliki kompetensi startegis berbasis ilmu pengetahuan. Kompetensi strategis tidak saja soal pertahanan-kemananan dan penguasaan atau pengelolaan sumber daya alam, tapi juga aspek lain yang sangat mempengaruhi sukses atau tidaknya impian besar kita. Misalnya, kompetensi teknologi dan jurnalistik. Keduanya sangat membantu kita dalam menunaikan tugas sejarah keumatan, terutama di era yang serba terbuka dan kompetitif ini. Penguasaan teknologi dan kemampuan jurnalisme menjadi penting dan mendesak.

Ketujuh, memiliki jaringan dan basis enterpreneurship. Memiliki jaringan merupakan syarat mutlak menjadi manusia abad 21 bahkan abad 22 ke depan. Jaringan yang kita maksudkan selain “teman bicara”, juga jaringan yang dapat “membantu” dalam menyukseskan lakon-lakon sejarah kita sebagai anak sejarah peradaban era sebelumnya. Karena itu juga, kita mesti memiliki basis massa yang terjun ke dalam dunia enterpreneurship. Jadilah manusia “kapital dan jadikan “kapital” sebagai sarana untuk “membeli” impian-impian besar kita. Sederhananya, di era ini dan ke depan, menjadi orang kaya itu niscaya.

Kedelapan, kemestian mengkonstruksi model manusia yang layak memimpin peradaban. Inilah yang menjadi pekerjaan kolektif umat Islam. Bukan saatnya lagi kita mencukupkan diri menjadi manusia yang rajin menanti “ratu adil” dari “orang lain” yang tidak mengerti apa kehendak kita bagi diri kita, apa kehendak kita bagi negara kita dan apa kehendak kita bagi peradaban umat manusia. Sebab, dalam diri kita, di internal umat Islam sendiri memiliki bangunan konsep yang siap “mengkonstruksi” dan stok manusia yang bisa “dikonstruksi”. Apa yang disebut oleh Anis Matta sebagai “model manusia muslim” pun dapat kita hadirkan dalam peta sejarah peradaban manusia.

Akhirnya, semoga catatan mampu menempati tugasnya sebagai pemantik, bukan saja untuk diskusi tapi juga untuk aksi. Aksi, bukan sekadar demontrasi massa tapi juga unjuk gagasan yang mampu menjangkau masa depan Islam. [Oleh: Syamsudin Kadir—Direktur Mitra Pemuda, Penulis dan Editor lepas. Nomor HP: 085 220 910 532 dan E-mail: mitra.pemuda@ymail.com. Tulisan ini adalah pemantik diskusi dalam berbagai forum diskusi]   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s