Air Mata Cinta Anakku, Azka Syakira

Azka Syakira (25 bulan)
Azka Syakira (25 bulan)

HARI INI, sejak pagi hingga siang ini, aku berdiam di rumah dengan beragam aktivitas. Banyak hal yang mesti aku lakukan seperti merapihkan naskah buku penerbitan, memperbaiki naskah buku karyaku, membaca beberapa buku motivasi, menelpon beberapa keluarga di beberapa kota, SMS beberapa teman dan membuat konsep bedah buku untuk beberapa buku yang diterbitkan oleh Mitra Pemuda beberapa waktu ke depan—termasuk buku karyaku seperti The Power of Motivation dan Spirit to Your Success.

Seperti biasa, aku melakukan semuanya dengan senang dan penuh semangat. Bagaimana tidak, semua aktivitasku hari ini benar-benar berkaitan dengan motivasi dan menjanjikan bagi masa depanku dan keluargaku. Aku semakin senang karena anakku, Azka Syakira (25 bulan), begitu antusias menemaniku. Selain membantu mengambil buku, memijat punggung juga kepala, Azka juga ikut membaca. Ia seakan-akan begitu paham apa yang mesti ia lakukan di saat aku, Ayahnya, beraktivitas seperti ini.

Selama ini Azka memang telah menginspirasi dan menyemangati aku dalam banyak hal. Senyuman manisnya sering membuat aku gemes, k’pingin cubit pipinya tiap saat. Tawa khasnya begitu kuat membuat aku tambah gembira, ingin memeluknya terus menerus. Menatap wajahnya membuat kelelahan dan keletihanku pergi begitu saja, aku ingin memandangnya tanpa henti. Ketulusannnya untuk mengambilkan untukku beberapa buku, bulpen juga air minum mendongkrak motivasi dan semangatku untuk menuntaskan berbagai aktivitas.

Di atas semua itu, hari ini, ya siang ini, aku menangis terharu karenanya. Apa sebab? Aku baru saja menunaikan shalat Zuhur dan membaca naskah buku baruku—dengan rencana judul—YAKIN BISA KARENA ANDA LUAR BIASA ‘Belajar Sukses Kepada Mereka yang Sukses Dari Nothing Jadi Something’. Meyempurnakan naskah buku setebal 270-an halaman, tentu saja menguras tenaga dan pikiran. Bukan saja konsentrasi yang dibutuhkan di sini, keterlibatan jiwa dan nuraniku juga diperlukan. Agar kelelahan dan keletihan menjadi produktif, aku pun menghubungi istri yang masih mengajar di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Sabilul Huda perihal nanti sore (setelah shalat ashar, sekitar jam 4 atau 5-an) berkunjung ke Toko Buku Gramedia di Grage Mall Cirebon-Jawa Barat, sebagai salah satu agenda rutin pekanan keluargaku.

Singkat cerita, aku pun mencari HP. Eh ternyata HP-nya sudah dibuka sama Azka. Tidak itu saja, bahkan kartunya sudah tak ada. Tak tinggal diam, aku pun bertanya kepada Azka, mana kartu HP Ayah. Dengan lugunya Azka menunjukkan jarinya ke dalam satu celeng tabungan uang miliknya. Aku tak begitu saja percaya. Aku pun sedikit mendesak Azka dengan kembali bertanya mana kartu HP Ayah. Lagi-lagi Azka begitu lugu menunjukkan jarinya ke arah yang sama. Seperti tak hirau dengan kejujurannya, dengan sedikit kesal, aku pun menatap wajahnya yang tadi sudah banyak membuat hati dan wajahku riang juga gembira. Ternyata betul kartu HP-ku sudah ia masukkan ke dalam celeng tabungannya.

Tak mau diam, aku semakin tersuluh untuk memarahi Azka yang mungil itu. Dengan begitu teganya aku membentak Azka yang jujur, tulus dan lugu itu,,, Hanya untuk mencari kejujurannya mengenai siapa yang menyembunyikan kartu HP-ku dan di mana ia sembunyikan. Tiba-tiba, wajah cerah dan lugu itu bersimpuh di depanku sambil menunduk tanpa kusuruh,,, ya Azka menangis terseduh-seduh. Dengan suara merdunya ia menyahut penuh iba: “Ayah Ayah, Azka sayang ama Ayah, Azka cinta ama Ayah…. Maafin Azka. Kartu HP Ayah ituuuu ituuuu di sana, di dalam tabungan Azka.”

Ya Allah, begitu teganya aku membuat anak mungil 25 bulan itu—yang bukan siapa-siap selain anakku sendiri—menangis dan memberiku pelajaran berharga. Tak menunggu, aku pun memeluknya sambil menangis dan memohon maaf atas kesalahanku kepadanya. “Maafin Ayah ya sayang!, Ayah salah, Ayah sayang sama Azka.” Dengan tulus Azka menjawab, “Ya Ayah”. Ia menjawabnya beberapa kali. Benar-benar salah satu kejadian terharu dalam perjalanan hidupku bersamanya.

Masih dalam posisi tetap memeluknya, aku pun berdo’a kepada Allah, “Ya Allah, jadikanlah ia sebagai penenang jiwaku, pemberiku semangat dan inspirasi hingga akhir hayat. Ampuni aku ya Allah, aku telah melakukan dosa dan salah kepadanya. Aku bersyukur pada-Mu yang telah menganugerahi aku seorang anak yang masih bayi tapi mau bertanggung jawab dan tahu minta maaf atas sesuatu yang dilakukannya, padahal akulah penyebabnya, padahal akulah yang tak menyimpan HP-ku di tempat yang tepat!”

Tak disangka, setelah aku memeluk dan memohon maaf kepadanya, Azka tiba-tiba mengambil tisu untuk menghapus air mataku yang baru saja membasahi pipinya. Ia melakukannya sambil senyum bahkan tertawa riang. Gayung bersambut, senyum dan tawa Azka kuterima dengan riang. Walau air mataku masih tersisa, aku pun kembali memeluknya. Kehangatan pelukannya kembali kurasakan, yang seharusnya ia mesti dapatkan dari aku Ayahnya.

Rupanya Azka sudah begitu paham apa yang mesti dlakukannya kini. Ia pun berusaha mengeluarkan kartu HP dari dalam celeng tabungananya. Dengan jari tangannya yang begitu mungil, ia mencoba membuka tutup celeng tabungannya. Sesekali ia menatap wajahku, seperti ingin memohon bantuan. Hatiku tak tega, ya aku tak tega melihatnya. Aku pun kembali memeluknya sambil mengambil membuka celeng tabungannya dengan pisau.

Kini tutup celeng tabungan Azka terbuka. Lagi-lagi, Azka seperti begitu paham apa yang mesti dilakukannya. Ia begitu bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya tadi. Ia pun mengambil celeng tabungannya itu dari tanganku lalu berusaha mencari kartu HP yang ia masukkan sebelumnya. Karena uang logam dalam celeng tabungan ini cukup banyak, Azka pun memilah uang logamnya. Tak juga ketemu. Akhirnya, aku pun berupaya mencari… Dan ketemulah kartu yang dicari. Dengan sumringah Azka datang memelukku erat-erat. Dengan pelan ia menyampaikan sesuatu ke telingaku, “Ayah, tabungan Azka terbuka deh… Ketemu deh… Ayah, Azka mau naik haji ama Ayah dan Bunda.”

Hatiku tersontak bergetar. Subhanallah! Hanya Allah-lah yang membimbing anak kesayanganku ini bisa begini dan melakukan semua ini. Ia mampu menyentuh alam bawa sadar dan hati aku, Ayahnya yang masih belajar menjadi Ayah yang baik baginya. Ia telah memberi pelajaran berharga tentang banyak hal seperti kejujuran, ketulusan, cinta, kerjasama, kasih sayang, kesungguhan, tanggung jawab, berterima kasih dan bercita-cita.

Kamar AzkakuAnakku sayang, ruangan ini menjadi saksi atas semua ini. Ayah mohon maaf atas kesalahan Ayah. Ayah berjanji tak mengulanginya lagi. Terima kasih atas semua hikmah yang telah kau ajarkan kepada Ayah. Ayah benar-benar merasakan betapa jiwamu tenang, firasatmu tajam. Di atas segalanya, Ayah menyaksikan betapa air matamu bukan air mata biasa tapi air mata cinta sayangku. Ya, air mata cinta anakku, Azka Syakira. [Syamsudin Kadir, Direktur Penerbit Mitra Pemuda, nomor HP: 085 220 910 532—Cirebon, 29 Agustus 2013]  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s