Menanti Arsitek Muslim Mabar

Muda Mabar
Diskusi Keislaman

PADA hakikatnya manusia seluruhnya adalah makhluk biasa sebagaimana makhluk ciptaan Allah yang lain. Namun dalam kondisi yang serba biasa itulah manusia mendapat mahkota dari Allah yaitu mahkota kepemimpinan dan pemakmur bumi. Dengan begitu, manusia menjadi makhluk luar biasa, yang berbeda dengan makhluk yang lain.

Selain karena amanah kepemimpinan dan tugas memakmurkan bumi, faktanya, secara fisik manusia memiliki struktur atau anatomi tubuh yang unik. Sehingga manusia menjadi mempesona, indah dipandang juga elok ditatap. Pesona fisiknya di luar hitungan manusiawi manusia.

 Lalu, apakah manusia mencukupkan dirinya dengan mahkota dan anatomi yang serba gratis itu? Tentu saja tidak. Karena itu, manusia perlu menyeting dirinya, baik secara spiritual, pemikiran maupun tindakan, agar ia benar-benar mempesona. Lebih dari pesona fisik tapi juga pesona jiwa dan gagasannya.

Dalam kehidupan dunia yang semakin rumit dan penuh kompetisi ini, sebagai manusia kita tentu membutuhkan banyak modal sebagai basis pendukung utama agar mahkota dan tugas pemakmuran yang diamanahkan di pundak kita benar-benar terejahwantah dalam dunia kenyataan, dalam skala ruang dan waktu yang beragam.

Pertanyaannya, dalam kondisi yang begitu rumit dan kaya akan dinamika, adakah manusia yang mampu menjadi pencerah sekaligus pendorong yang kuat agar kita mampu menata diri menjadi manusia yang mempesona? Adakah sosok manusia yang mampu menjadi lilin di alam yang gersang akan cahaya? Jawabannya, tentu saja ada.

Saya menyaksikan manusia atau orang tersebut adalah kita semua, ya generasi muda Islam (Muslim) Manggarai Barat. Kita cukup mematangkan kapasitas diri dengan memiliki pengetahuan bahasa agar gaya bahasa dan cara bicara kita mampu dipahami oleh banyak orang, memiliki pengetahuan agama dan wawasan keilmuan yang luas sebagai basis dasar perubahan, memiliki kemampuan manajerial dan kepemimpinan sebagai modal merekayasa dan menghadirkan perubahan sosial, memiliki jarigan yang luas sebagai modal penguasaan masyarakat, di samping sorotan mata yang meyakinkan orang bahwa kita layak menghadirkan perubahan juga narasi pemikiran kita yang naratif. Itulah sebagian kapasitas yang mesti kita matangkan, agar kita semua memiliki pesona sang arsitek yang mampu menginspirasi dan menggetarkan banyak orang.

Keberhasilan kita untuk menampilkan Islam secara apik pada ruang kehidupan yang beragam (plural) adalah satu lompatan sejarah yang tentu saja sangat dibutuhkan bangsa ini, termasuk pada masyarakat Manggarai Barat yang berbeda keyakinan dan latar sosial dengan kita sekalipun. Ini adalah satu lompatan sejarah yang sangat monumnetal bagi kebangkitan Islam di Manggarai Barat. 

Labuan Bajo adalah salah satu kota di ujung barat pulau Flores. Ia merupakan ibu kota Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) propinsi NTT yang berbatasan langsung dengan Sape-Bima Pulau Sumbawa, NTB. Dalam dunia wisata, Labuan Bajo adalah salah satu nama tempat yang sudah mendapatkan kunjungan wisawatan, baik dari lokal maupun dari mancanegara. Apa sebab? Karena itulah pintu masuk bagi siapapun yang ingin berkunjung ke Pulau Komodo atau Taman Nasional Komodo (TNK). Kini Komodo sudah menjadi binatang yang ‘menjanjikan’ bagi wisatawan lokal maupun asing.  

Lalu, mengapa generasi muda Islam Manggarai Barat mesti menjadi—atau layak disebut sebagai—arsitek di Manggarai Barat? Apa mesti menjadi arsitek yang menjadi pendobrak stagnasi dan menghadirkan perubahan? Itulah sebagian pertanyaan yang menjadi gugatan awal yang perlu dijawab.

Sekali lagi, Manggarai Barat yang beribu kota Labuan Bajo merupakan salah satu daerah yang kaya destinasi pariwisata dan pesona alam. Ia dihuni oleh sekian ribu penduduk dengan latar belakang yang beragam, baik agama, suku, ras maupun budayanya. Dengan kondisi tersebut Labuan Bajo sebagai kota utama menjadi kaya dan khas. Dari aspek agama, misalnya, di Labuan Bajo ditemukan masyarakat yang memiliki keyakinan (agama) yang berbeda. Ada yang Islam (Muslim), Kristen (Katolik dan Protestan), Hindu, Budha dan lain-lain. Dua agama pertama adalah agama yang dipeluk oleh sebagian besar masyarakat Labuan Bajo dengan rasio selisih yang sangat sedikit.

Sejauh ini, Labuan Bajo bahkan Manggarai Barat umumnya, sudah terkena dampak positif pembangunan. Walaupun masih dalam tahap permulaan—dan tanpa menegasikan dampak negatif pembangunan—kini hasil pembangunan dan kemajuan bisa dinikmati sedikit demi sedikit oleh masyarakat Manggarai Barat. Perubahan yang paling ‘mantap’ menurut saya adalah munculnya kesadaran untuk menjaga identitas dan simbol Islam dalam kehidupan pribadi, keluarga dan sosial. Diskusi-diskusi keislaman, pengajian keislaman, jilbab dan berbagai simbol yang identik dengan Islam sudah mulai menjamur di mana-mana. Yang sangat ‘menggetarkan’ adalah munculnya kaum muslimah, utamanya generasi muda/remaja putri—yang memakai jilbab, kerudung atau semacamnya—di berbagai tempat seperti di pasar, jalan umum, rumah sakit, sekolah, kantor, angkutan umum hingga terminal atau dermaga dan bandara udara.

Di atas perubahan—dan kondisi stagnasi—yang terjadi pada aspek tertentu tersebut, satu hal yang belum saya temukan adalah adanya manusia yang memiliki gagasan naratif bagi pembangunan dan kebangkitan Islam di Manggarai Barat. Manusia yang cara pandanganya luas, yang mampu menaratifkan berbagai gagasan yang berserakan, yang bisa mengakumulasi semua kepentingan sosial dan memiliki cita-cita yang menjangkau hingga ke masa depan Manggarai Barat. Itulah yang saya sebut sebagai sang arsitek. Jadi, Manggarai Barat sedang membutuhkan Sang Arsitek. 

Nah, keunggulan generasi muda Islam adalah memiliki konsep kitab suci yang final sehingga melahirkan berbagai gagasan naratif untuk kebangkitan, yang bisa menjangkau berbagai fragmentasi kepentingan sosial-politik bangsa ini umumnya, termasuk masyarakat Manggarai Barat khususnya. Jika dalam konteks negara saja Islam sudah mampu menjadi lokomotif perubahan, maka dalam konteks yang lebih kecil seperti di Manggarai Barat Islam sangat lebih layak dijadikan pijakan.

Pengetahuan, pengalaman dan jaringan yang cukup luas adalah modal bagi generasi muda Islam Manggarai Barat dalam menuntaskan tugas menginspirasi dan menaratifkan kebangkitan Islam di Manggarai Barat. Bagaimana pun, pahlawan adalah orang yang mampu membangkitkan manusia-manusia dari tidur lelapnya, manusia yang gagasannya tidak saja bersarang pada pikirannya tapi juga dalam tindakannya. Maka sosok generasi muda Islam yang sedang menuntut ilmu dan mamatangkan talenta dalam berbagai aspek di beberapa kota dan negara itu layak ditempatkan sebagai arsitek kebangkitan Manggarai Barat yang selalu dan perlu dinantikan.

Sebagai penguat, jika saja generasi muda Islam Manggarai Barat yang memiliki tradisi membaca dan penalaran yang sangat tinggi yang berjumlah ribuan orang—yang masih berada di luar Manggarai Barat—itu masih memahami bahwa Labuan Bajo atau Manggarai Barat umumnya adalah bagian dari bumi pertiwi bahkan dunia seluruhnya—yang Allah serukan agar umat Islam melakukan pengembaraan atasnya—maka sangat elok jika para Arsitek itu datang ke Labuan Bajo, kembali ke Manggarai Barat. Insya Allah, masyarakat Labuan Bajo, masyarakat Manggarai Barat, dari lintas generasi, berbagai agama, ras, suku dan budaya siap menerima motivasi, inspirasi, gagasan naratif dari arsitek-arsitek muda Islam.

masjid yaheAkhirnya, jika saya boleh berharap lebih jauh, maka perkenankan saya untuk berdialog secara imajiner dengan para arsitek itu. “Wahai generasi muda Islam Manggarai Barat, wahai arsitek-arsitek kebangkitan, ini semua tentang kita dan untuk kita. Negeri ini adalah warisan pendahulu yang perlu tindak lanjut pewarisan. Labuan Bajo, Manggarai Barat adalah salah satu kota/daerah indah yang kaya sumber daya alam yang selalu  menanti gagasan dan kerja kalian secara tulus. Ia menanti pikiran, gagasan dan tindakan jenial kalian semua. Semuanya karena dan atas nama cinta. Bahkan jika saja cinta ini bersambut, maka negeri ini, negeri Manggarai Barat ini, akan menemukan titik kebangkitan menuju perubahannya. Masyarakat Manggarai Barat menanti di sini, di atas tanah yang kini alam dan langitnya sudah mulai diperdengarkan ayat-ayat Allah yang berisi prinsip-prinsip hidup, konsep perdamaian, toleransi, kasih sayang, kejujuran, keikhlasan, pengorbanan, pemberdayaan, bahkan cinta. Tanah Manggarai Barat kini semakin layak menjadi ‘masjid’ tempat kita semua boleh bersujud,,, menghamba kepada Sang Kuasa (Allah Swt.), memperlihatkan kebesaran Allah Sawt. dan memperlihatkan kemuliaan Islam ke hadapan alam dan manusia yang menghuni di atasnya. Mari datang ke sini untuk mengobarkan ‘azan’ peradaban, agar manusia-manusia di sini tahu dan paham bahwa kita semua bukan orang lain, tapi manusia biasa yang mencintai Labuan Bajo, Manggarai Barat juga penghuni di atasnya. Hayo Sang Arsitek, datanglah ke Labuan Bajo, kembalilah ke Manggarai Barat!” [Syamsudin Kadir—Direktur Pusat Studi Islam  Manggarai Barat—Jakarta, 30 Juli 2013 pukul 14.00 WIB]

 

 

 

 

One thought on “Menanti Arsitek Muslim Mabar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s