Ayo ke Labuan Bajo!

 

Labuan bajo“Ayo Berwisata ke Labuan Bajo!”, pernahkah Anda mendengar ucapan sekaligus ajakan tersebut? Atau mungkin Anda sering menyatakannya untuk sahabat Anda?  

Ya, apapun jawaban Anda, itu pengalaman Anda. Namanya juga bebas berpendapat. Yang pasti, itu adalah salah satu iklan sebuah produk minuman energy yang diiklankan oleh salah satu stasiun TV swasta beberapa waktu yang lalu.  

Lalu, mengapa dan ada apa dengan Labuan Bajo?

Saya tak tahu pasti mengapa dan apa alasan bagian produk minuman berenergi suku bima mau-maunya bekerjasama dengan salah satu stasiun TV swasta mengiklankan produknya dengan latar Labuan Bajo.

Saya menduga mereka memiliki beberapa alasan, di antaranya:

1.        Labuan Bajo adalah Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat (NTT), yang merupakan salah satu kabupaten terbaru hasil pemekaran kabupaten Manggarai.

2.        Labuan Bajo adalah kota sederhana yang terletak di paling ujung barat pulau Flores, yang merupakan pulau terbesar di profinsi NTT.

3.        Labuan Bajo merupakan ibu kota Kecamatan Komodo, dimana wisata komodo berada.

4.       Labuan Bajo merupakan salah satu pusat objek wisata terkenal di manca negara, terutama karena letaknya yang tak berjauhan dengan pulau Komodo, dimana binatang komodo hidup.

 

Ah entahlah, itu kan hanya dugaan saya. Jika benar adanya, ya oke punya tuh dugaan. Kalau tidak, ya emang masalah buat Lho? Kan tidak. Namanya dugaan, ya ada benarnya, ada salahnya he he he.

Dari beberapa dugaan saya di atas, tentu Anda punya perasaan yang berbeda dengan kata Komodo atau pulau Komodo. Iya kan? Hayo jujur?

Iya, Anda tak salah. Komodo atau Pulau komodo, sebuah objek wisata yang beberapa waktu terakhir lagi naik daun, bukan naik pesawat, apalagi naik taksi, tidak lah he he he.

Lalu, Mengapa? Apa sebab?  

Sebelum menjawab secara singkat pertanyaan itu, saya mengingatkan Anda dulu bahwa sebetulnya Komodo atau Pulau Komodo sudah terkenal sejak lama. Bukan saja di pulau Flores, Indonesia bahkan di manca negara. Tidak percaya? Datang aja sendiri ke pulau Komodo. Terus tanya deh sama Komodonya, sudah kenalan atau belum? Atau tanya tuh para wisatawan yang tiap hari lalulang di pulau Komodo atau Labuan Bajo.    

Oh iya, kembali ke pertanyaan, “Mengapa dan Apa sebab” Komodo atau Pulau Komodo lagi naik daun?

Sebetulnya Anda sudah tahu jawabannya, apalagi penikmat media massa, baik cetak maupun elektronik, pasti sudah tahu. Lebih oke lagi kalau penduduk sekitar pulau Komodo.

Oke, agar tak panjang-lebar, karena saya tidak berbicara tentang rumusan luas persegi, langsung saja ke poin inti.

Apa itu?

Yuk lanjuuuut! Komodo pernah menjadi salah satu nominasi—dan kini menjadi salah satu—7 keajaiban dunia. Berita dari metronews.com Jumat, 04 November 2011 05:06 WIB menyebutkan banyak wisman bali lanjut ke pulau komodo. Media online tersebut menjelaskan, Denpasar: Ketua Bali Tourism Board, Ida Bagus Ngurah Wijaya mengatakan selama ini cukup banyak wisatawan yang berminat mengunjungi wisata komodo di Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali pun banyak yang meneruskan berkunjung ke Pulau Komodo. “Cukup banyak wisatawan dari berbagai negara yang berlibur ke Bali tertarik menikmati wisata Komodo,” ujar Ngurah Wijaya, Kamis (3/11). Namun dia tak bisa merinci jumlah wisatawannya secara pasti setiap bulannya yang berkunjung ke sana dari Bali. Bagi Ngurah Wijaya, wisata Komodo di Pulau Komodo sangat layak dipromosikan oleh pemerintah, karena objeknya benar-benar langka yang tak ada duanya di dunia.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah tentang Taman Nasional Komodo (TNK), salah satu taman wisata paling banyak dikunjungi wisatawan asing juga lokal dalam sekian tahun terakhir.

Lalu, mengapa begitu banyak wisatawan yang berkunjung? Memang di sana ada apa sih? Bagaimana kondisinya?

Nah, ini dia jawaban sekaligus cerita yang Anda tunggu. Semoga Anda berkenan mengikuti penjelasan saya selanjutnya.

 

 

1.  Ada Komodo Lho!

Awal cerita, eh salah. Maksudnya awal kisah. Eh sama saja ding. Begini. Sepenggal kisah, kepopuleran pulau komodo berawal pada tahun 1910 ketika para pasukan Belanda menerima laporan adanya monster naga yang mendiami sebuah pulau yang kemudian diterbitkan dalam sebuah paper hindia belanda oleh Peter Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor, kabar ini tersebar hingga seantero dunia, kabar ini pula yang mendorong W. Douglas Burden melakukan ekspedisi ke pulau komodo tahun 1926 dan kemudian menjadi orang pertama yang memberi nama Komodo Dragon.

Taman ini didirikan tahun 1980 letaknya di antara Pulau Sumbawa dan Flores dengan luas 1.817 km2 yang 6 tahun kemudian (1986) ditetapkan sebagai situs warisan alam dunia dan cagar biosfir oleh UNESCO tempat konservasi untuk melestarikan Komodo.

 komodoSebetulnya bukan hanya habitat naga purba yang legendaris ini saja yang dilestarikan, karena TNK juga rumah bagi begitu banyak keanekaragaman hayati di darat maupun laut. Jadi, di sana mata Anda akan dimanjakan oleh pemandangan yang elok dan aktifitas binatang yang menarik.

TNK terdiri dari 3 pulau besar yang indah, Pulau Komodo, Rinca dan Padar. Selain tempat habitat Komodo, taman ini juga sebagai rumah bagi setidaknya 1000 spesies ikan, ratusan spesies karang, koral dan 70 jenis tanaman sponge, 19 spesies paus dan lumba-lumba, juga banyak terdapat plankton yang merupakan makanan utama Pari Manta (Manta Birostris), binatang eksotis yang bisa dijadikan ikon bahari kawasan TNK.

Tanah warna merah TNK yang terpantul dari terik matahari Flores sangat memikat mata, bentangan hutan kering dan savana dipadu dengan daerah perbukitan menghadirkan keindahan tiada tara, paduan biru langit, putihnya sapuan awan tipis, merah tanah dan hijau savana memberikan keindahan lukisan alam tersendiri tiada bandingannya. Pesona keindahan TNK membuat pulau ini memang layak dikunjungi.

Ada begitu banyak pertunjukan alam di TNK tapi pertunjukan utama tentu menyaksikan dari dekat satu-satunya habitat asli dari salah satu hewan purba yang masih berkembang biak sampai saat ini, Komodo. Anda bisa berdekat-dekat dengan hewan ini sambil membayangkan hidup jutaan tahun lalu, indahnya.

Berdekatan dengan Komodo, memangnya sudah siap dilahap sang Komodo?

Het, jangan salah tanggap dulu. Kekhawatiran Anda sangat manusiawi, karena Anda manusia kan? Cek cek cek… Iya Anda boleh khawatir tapi jangan berlebihan. Kalau berlebihan, nanti mubajir. Jadi sahabat setan deh.

Eh, tapi,,, tapi Anda jangan khawatir keganasan Komodo. Karena ketika berkunjung ke TNK Anda akan didampingi para Jagawana atau Ranggers sebutan untuk para pemandu yang gagah menghalau jika Komodo terlalu dekat dengan Anda. Para jagawana ini bisa dikenali dari tongkat panjang bercabang seperti ketapel pada ujungnya yang mereka bawa Para rangger pula-lah yang akan memilihkan track yang sesuai dengan kemampuan Anda.

 

2.  Pink Beach, Asyik!

Tak hanya cerita tentang Komodo, bagi saya dan pencinta objek wisata pantai yang lain, nama Pink Beach (Pantai Merah Muda) begitu menarik minat untuk dikunjungi, bahkan untuk sekadar bermain santai di sana. Tak sedikit wisatawan yang berkunjung ke sana. Baik wisatawan asing maupun lokal. Untuk wisatawan asing, misalnya, berasal dari berbagai negara Asia,  Eropa juga Amerika. Untuk wisatawan lokal, misalnya, diwakili oleh Arianto, sebagaimana pengakuannya di salah satu media sosial. Bagi saya kata Arianto, pencinta objek wisata pantai, nama Pink Beach begitu menarik minat saya.[1]

Pink beachAnda—apalagi jika belum pernah berkunjung ke Pink Beach—tentu bertanya, apa dan bagaimana sih Pink Beach itu? Mengapa ia begitu disenangi para pengunjung?  

Bagi wisatawan—termasuk para Traveler—pasti memiliki pertanyaan yang sama dengan Anda. Beberapa teman saya juga begitu. Itu sangat manusiawi. “Malu bertanya sesat di jalan”, begitu pribahasa mengingatkan. Jadi, lebih baik bertanya daripada bingung sendirian. He he.

Perlu Anda tahu, Pink Beach merupakan pantai dengan air yang sangat jernih, airnya berwarna biru tua dan muda, dengan ombak tipis dan karang yang memikat, selain di Bahama. Namanya Pink Beach. “Saya sangat tertarik menikmati pantai dengan segala keindahan dan keunikannya ini.” demikian aku Arianto, singkat. 

Kabar baiknya, ya ini kabar baiknya.

Kasih tahu kagak ya?

Oke, kasih tahu aja deh. Soale dah banyak yang kagak sabaran menuju Pantai Merah. Termasuk untuk melihat Komodo di Pulau Komodo. Iya kan?

Begini. Dalam literatur wisata bahari, ada tujuh pantai berpasir warna pink di dunia. Apa saja? Ah silahkan cari sendiri. Yang pasti salah satunya di Pulau Komodo. Para wisatawan lokal menyebutnya dengan Pantai Merah. Turis manca negara menyebutnya Pink Beach. Pantai ini memang indah dan unik. Hamparan pantai dengan latar belakang air laut bergradasi biru, perbukitan hijau, langit biru cerah, awan putih bergumpal- gumpal, matahari yang cerah, dan hamparan pasir berwarna pink. Itulah keistimewaan yang dimiliki pantai ini.

   Daya tarik berikutnya adalah, di Pink Beach tidak ada bangunan apa-apa dan tidak dihuni satu penduduk pun. Pantainya kosong. Sebuah pantai tak bertuan kata seorang teman. Yang ada hanya hutan hijau, tebing, bukit dan hempas halus ombak pantai dengan panorama pink yang menawan. Anda tentu saja sangat penasaran dengan keindahannya. Betul apa betul banget? 

Coba perhatikan komentar para wisatawan yang sudah berkunjung ke sana.

“Wow. It was incredible. The beach is so natural and unique. You thank your country has a wealth of unique natural and exotic., Wow. Ini sungguh luar biasa. Pantai yang begitu alami dan unik. Anda bersyukur negara Anda memiliki kekayaan alam yang khas dan eksotis ini.” ujar Helen JR Marvis, seorang wisatawan asal Kanada yang sedang berkunjung awal Juni 2013, di Pink Beach.

Helen adalah salah seorang dari rombongan wisatawan asal Kanada yang sudah lama mendengar kabar tentang Pink Beach. Nama Pink Beach cukup tersohor di kalangan wisatawan manca negara, khususnya Kanada, yang senang berwisata bahari. Pasalnya pantainya berpasir halus dan berwarna merah muda.

Selain Helen dan rombongannya, ada beberapa turis dari Jepang dan Australia. Beberapa turis local juga menikmati keindahan dan uniknya Pink Beach.

Dari beberapa obrolan dengan para turis itu, ada hal yang istimewa di Pinck Beach dibandingkan pantai Bahama. Karangnya masih perawan, hutannya alami, ombaknya tipis, pasir pinknya begitu banyak, tak ada penduduk dan tidak komersial.

In the Bahamas it’s all commercial and full of patches. Here it is not. It’s exciting, Di Bahama semuanya sudah komersil dan penuh tempelan. Di sini tidak. Sungguh menggairahkan.” papar Helen membandingkan. Helen mengaku, dia sudah sering ke Bahama, dan menjejakkan kaki di Pink Beach baru kali pertama.

Oh iya, lebih sederhana, berikut adalah keunikan Pink Beach yang layak Anda tahu.

 

Pertama, warna yang indah

Bagi para turis seperti Helen, ada semacam keyakinan bahwa terjadinya warna pink pada pasir itu berasal dari pipe corral atau terumbu karang berbentuk pipa yang mati secara alami kemudian hancur menjadi butiran halus pasir berwarna merah muda. Proses itu diperkirkan terjadi ratusan tahun lalu. Bahkan ada yang memperkirakan ribuan tahun lalu.

 Pink beach 2Tapi ada juga pendapat warna merah pada pasir di Pink Beach dikarenakan perubahan warna pada pasir, karena hewan mikroskopik semacam amuba, bernama Foraminifera yang memproduksi warna merah atau pink terang pada karang. Warna pada karang inilah akhirnya ikut memberi warna pada pasir yang kemudian tersapu ombak hingga ke pantai.

Sejauh ini memang masih perlu penelitian dan kajian. Karena tak jauh dari area Pink Beach, pantainya tidaklah berarna pink, bahkan teramat sulit mencari sebutir pasir berwarna pink. Pantainya berpasir putih biasa. Lalu, mengapa pipe coral tak mencapai pantai di sekitarnya? Mengapa hewan mikroskopik yang memproduksi warna pink dan merah sampai ke pantai sebelahnya? Itulah pertanyaan yang menyisahkan jawaban misterius.

Faktanya, pantai yang nyaman dan terasa hening itu memang memiliki pasir yang unik. Ada pasir berwarna merah di antara pasir putih. Bila datang ombak menyapu pasir dan menariknya, maka warna pasir tersebut berubah menjadi pink tua. Butiran pasirnya halus dan empuk. Bila bertelanjang kaki di atasnya sungguh nikmat. Kadang kita merasa berjalan di atas tumpukan sekam untuk pencuci piring. Kadang bagai merasa di atas tumpukan tepung.

Di bentangan pasir Pink Beach inilah, Helen dan teman-temannya berjemur sepuasnya. Mereka menikmati sengatan matahari dan hamparan warna merah muda yang menggoda. “You do not come bask with us?, Kau tak ikut berjemur dengan kami?“, tanya Sandra Wiliam, teman Helen ketika mereka berbaring seenaknya di pantai itu. Sementara para turis lokal, asyik berendam di pantai.

“Di sini, di pantai ini suasana eksotis sekali karena kaya dengan warna. Tak hanya merah muda. Ada putih, biru tua, biru muda. Seakan bermandi dengan warna,” sambung Sandra setelah beberapa jam sebelumnya menemani Arianto  bersnorkeling.

Kedua, bersnorkeling

Para turis lokal juga mengaku, disamping pantainya yang indah dan unik, Pink Beac juga merupakan salah satu tempat wisata bersnorkeling. Hamparan lautnya yang tenang, air lautnya yang jernih, dengan aneka terumbu karang di bawahnya menjadi sorga para pesnorkeling dan pediving.

Aneka ikan hias yang berenang di terumbu penuh warna, sungguh menggoda siapapun untuk berenang, bersnorkeling dan diving. Panoramanya pun indah. Pantai ini berlatar belakang perbukitan yang memang tak sulit didaki. Bentuk bukitnya ada yang menyerupai stupa.

“Ini salah satu tempat untuk bersnorkeling,” papar Ferdy Setiawan seorang wisatawan asal Jakarta. Ferdy yang mengantongi sertifikat diving nasional ini mengaku bahwa ia sudah dua kali ke Pink Beac. Banyak tempat bersnorkeling di wilayah timur Indonesia salah satu yang “wajib” dikunjungi tentu saja Pink Beach”,tambahnya.

Di pantai ini selain asyik berfoto, berjemur, berenang, atau sekadar rehat-rehat juga cocok untuk dijadikan tempat menenangkan hati. Susana pantai yang alami dan terjaga. Tidak ramai dan komersil, bisa melupakan kepenatan dan kemusut pikiran selama Anda seharian bekerja. Begitulah keunggulan yang Anda dapatkan ketika berkunjung ke sini.

“Di sinilah surganya bersenorkeling dan diving. Banyak hard corals dan soft corals yang berwarna-warni dan masih sehat. Ditambah lagi banyaknya ikan-ikan hias, seperti clown fish (disebut Nemo) butterfly fish, dan bat fish,” terangnya Ferdy.

Ketiga, tujuan wisata favorit

Pantai yang unik dan alami ini memang menyedot banyak perhatian. Wisatawan manca negara dan lokal memang sudah mulai ramai berkunjung ke sini. Sebagaian besar untuk menikmati ke unikan pantai dan suasana sepi, alami dan tidak komersial itu. Yang utama tentu saja untuk bersnorkeling dan diving.

Jangan lupa, Pink Beach memang sudah menjadi “buruan” perusahaan besar untuk dijadikan objek atau latar atau ilustrasi iklan produk mereka. Di pihak lain, Pink Beach dijadikan tujuan utama bagi para rumah wisata bahari dalam dan luar negeri sebagai tempat untuk senorkeling dan diving.

Makna “ramai” tentulah bukan setiap hari puluhan pengunjung ada di Pink Beach. “Untuk wisatawan lokal bisa mencapai 50 orang, bahkan akhir-akhir ini mencapai 200 orang. Manca negara bisa mencapai dua kali lipatnya,” ujar Reberto, salah seorang pemandu wisata di sana.

Wisatawan biasanya berkunjung di bulan Juni dan Juli. Karena bulan itu, saatnya liburan panjang dan musim panas. Tidak akan ada curah hujan. Jadi tidak mengganggu perjalanan. Atau kegiatan menyelam dan berenang,” tambahnya.

Namun sebagai lokasi tujuan para wisatawan, Pink Beach memang terkendala infrastruktur yang belum memadai. Roberto melihat, bukan saja permasalahan speed boat atau kapal nelayan yang harus disewa dengan mahal bila ingin ke Pink Beac, tapi transportasi darat dari Bandara Komodo ke Labuan Bajo terganggu dengan kondisi jalan yang banyak berlubang. Kualitas aspal yang buruk membuat jalan darat sulit dilalui kendaraan roda empat dengan lancar dan nyaman.

Roberto menilai, pemerintah daerah (Kabupaten Mabar) maupun pusat (Menteri terkait) tak memiliki keseriusan untuk membangun sarana wisata di Pink BeacH. “Selayaknya sudah dibangun penginapan atau pondok wisata di tempat ini,” paparnya. Karena selama ini, kunjungan wisata yang lumayan ramai itu, hanya dinikmati segelintir orang di NTT. “Yang menikmati uang-uang para turis itu hanya pemilik speed boat, kapal pesiar, rakyat jelata tak mendapatkan rezeki apa-apa,” keluhnya. Bila saja sarana penginapan, pondok seni tempat penduduk lokal menjual kerajinan khas NTT disiapkan, diyakini wisatawan pasti bisa menginap berhari-hari untuk menikmati Pink Beach.”

Dampaknya tentu saja akan sedikit mensejahterkan penduduk lokal,” tandas Roberto.

Oh iya, Anda tertarik dengan informasi ini? Jangan menunggu nanti, segeralah bertindak! Eh maksudnya, segera hubungi agent wisata Anda. Silahkan cari di kota Anda, atau cari informasi di google. Setelah itu, Anda tidak sekadar bertanya ‘Mengapa ke Labuan Bajo?” deh. Tapi Anda akan datang sendiri bersama keluarga Anda ke Labuan Bajo. Bahkan Anda mengajak banyak orang dan ikutan menyebarkan iklan ini, “Ayo ke Labuan Bajo!”. Saya juga ikutan Anda deh kalau begitu. Ayo ke Labuan Bajo! [Syamsudin Kadir–Direktur Eksekutif Mitra Pemuda/Pegiat Wisata Kuliner/Penulis-Edtor lepas–No HP: 085 220 910 532]


[1] Sumber: http://ariantaonline.wordpress.com/2011/11/04/ayo-ke-labuan-bajo/ (diakses pada Jum’at 26 Juli 2013 pukul 10.00 WIB)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s