72 Jam Menghimpun Buah Surga

10 Mei

IMG3934ABEBERAPA hari yang lalu saya baru kembali dari kampung halaman (Mabar) untuk bersilaturahim dengan keluarga besar sekaligus menjemput sang Bunda. Di samping itu, saya juga baru kembali dari Denpasar-Bali untuk silaturahim dan mengisi seminar kempemudaan, kemudian dari Universitas Samawa di Sumbawa NTB untuk silaturahim dan bedah buku saya yang tebalnya 364 halaman, Spirit to Your Success, yang baru diterbitkan beberapa bulan lalu.

Perjalanan sekaligus agenda melelahkan selama sekian waktu tersebut mengharuskan saya untuk banyak istirahat alias ‘mendendam’. Namun apa daya, niatan saya untuk ‘mendendam’ tak kuasa saya wujudkan. Mengapa demikian? Dengan sedikit ‘terpaksa’ adik saya, Siti Harmiyati (Harmi) ‘mendadak’ menginformasikan jika ia mesti mengikuti Muqobalah (tes penerimaan mahasiswa baru) di Ma’had Ar-Raayah yang bertempat di Sukabumi, Jawa Barat, pada Rabu, 8 Mei 2013.

Ya, mengamini permintaan Harmi, pada Selasa, 7 Mei 2013, saya pun dengan semangat ‘memaksa’ diri untuk mengiyakan permintaannya. Ya, pada Selasa-Kamis kali ini saya memiliki banyak aktivitas yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Namun karena ada agenda mendadak dan mendesak seperti ini, akhirnya saya mesti banting stir.  Dengan uang seadanya saya berusaha untuk mengamini ‘harapan’-nya. Alhamdulillah Allah menyediakan bagi saya ruang untuk beramal sholeh. Saya yakin ini adalah skenario terbaik dari Allah untuk saya. Di atas segalanya, terima kasih Mba Sofistika (Mba Revy) di Jakarta yang telah membantu saya dengan tulus!

Pada pukul 18.45 WIB kami pun langsung menuju terminal Harjamukti Cirebon menggunakan angkutan umum alias becak di bay pas. Sampai di terminal pukul 19.30 WIB. Sebagaimana yang sudah saya duga—juga diinformasikan oleh Mas Reza (Mantan Presiden Mahasiswa Unswagati Cirebon)—bus angkutan ke arah Sukabumi biasanya berangkat pada pukul 21.00 WIB bahkan pukul 22.00 malam. Tak menyia-nyiakan kesempatan ‘menunggu’, saya pun mengajak Harmi untuk membeli es teh manis di warung yang tak jauh dari pintu terminal. Alhamdulillah kelelahan yang dirasakan dan was-was yang menghinggapi kini terasa menghilang.

Kini jam di tangan saya menunjukkan pukul 21.00 WIB, bus Maya Raya jurusan Cirebon-Sukabumi pun tiba jua. Kami pun langsung masuk mencari tempat duduk yang masih belum berpenghuni. Tak lama kemudian, tepatnya pukul 21.30 WIB bus yang kami tumpangi berangkat jua. Perjalanan selama 6-7 jam cukup melelahkan. Bagaimana tidak, kami sampai Sukabumi sekitar 30 menit menjelang azan subuh waktu setempat. Ya, alhamdulillah kami sampai di terminal Sukabami pukul 04.00 WIB.

Ya, kini sudah hari Rabu, 8 Mei 2013. Setelah shalat subuh saya langsung menghubungi Teh Jena dan Kang Baharudin yang tahu arah dan alamat Ar-Raayah yang kami tuju. Namun karena sinyal juga kendala teknis, akhirnya kami memilih untuk mencari sendiri. Namanya juga perjalanan safar, kudu siap-siap bersua dengan kendala toh!

Tak menunggu lama, kami pun lebih memilih mencari masjid. Ya, sambil berjalan kaki sekitar 5 menit dari terminal Sukabumi, kami langsung menuju ke masjid (saya lupa namanya) untuk istirahat (duduk) sejenak dan menunaikan shalat subuh. Mulanya ingin berjama’ah, namun setibanya di masjid jama’ah subuh sudah bubar, kami pun memilih untuk shalat masing-masing.

Setelah shalat subuh kami merapihkan administrasi syarat Muqobalah dan langsung kembali ke terminal, tepatnya di pintu gerbang sebelah barat terminal. Sambil menghubungi beberapa teman yang ‘paham’ Sukabumi termasuk Teh Jena dan Kang Baharudin, saya menyuruh Harmi untuk memperhatikan angkutan umum ke alamat Ma’had yang kami tuju. Sementara saya bertanya ke beberapa orang yang lalu lalang di terminal. Setelah mendapatkan informasi beberapa orang, akhirnya kami pun memilih untuk naik angkutan umum. Ya, tepat pada pukul 06.00 WIB kami langsung naik bus Parung Indah yang menuju ke arah Cibadak. Bus ini mengangkut penumpang ke arah Bogor.  Karena ia melewati terminal Cibadak, akhirnya kami memilih bus ini. Selain ber-AC dan bersih, bus ini juga dikomandoi oleh sopir dan kernet yang sangat sopan dan ramah. Salam kenal ya Kang!

Alhamdulillah kini kami sampai juga. Ya, kami sampai terminal Cibadak tepat pukul 07.20 WIB. Kami pun turun untuk mencari angkutan umum ke arah Ma’had yang kami tuju. Tak menunggu lama, kami pun langsung naik ojek menuju Ma’had Ar-Raayah. Perjalanan puluhan menit dengan jalan serba berlubang tak mampu memupus keinginan dan semangat kami untuk memasuki kompleks Ar-Raayah yang konon menurut cerita beberapa teman dan informasi di website yang saya baca begitu luas dan indah.

Walau menghabiskan uang Rp 50.000 untuk membayar ojek untuk 2 motor yang kami tumpangi, kami benar-benar bersyukur kepada Allah karena bisa bersua dengan Ar-Raayah. Alhamdulillah! Ya, tepat pada pukul 07.55 WIB kami tiba jua di Ma’had Ar-Raayah. Tanpa basa-basi, saya langsung mengantar Harmi ke tempat registrasi tamu-pengunjung, tepatnya calon mahasiswa/i baru. Di situ Harmi langsung mengisi daftar hadir calon mahasiswi Ar-Raayah untuk periode akademik 2013-2014.

raayahKini jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Agar tak ketinggalan, Harmi langsung menuju ruangan tempat Muqobalah, sementara saya memilih untuk berjalan santai di kompleks Ar-Raayah. Karena waktu Muqobalah cukup lama, hingga pukul 11.30 WIB, setelah jalan-jalan santai, saya memilih ke masjid yang ada di Ar-Raayah. Masjid ini benar-benar terasa ‘masjid’-nya. Memanfaatkan kesempatan berharga ini saya memilih untuk menunaikan shalat dhuha, tilawah Qur’an, membaca beberapa naskah buku juga tulisan, juga membaca kitab tafsir yang tersedia di lemari yang berada di bagian kanan masjid.

Kini sudah pukul 11.35 WIB, tanpa saya sangka ternyata Harmi sudah menghubungi saya beberapa kali lewat HP yang sedang saya simpan di lemari di bagian kanan masjid. Ia mengabarkan jika ia dan teman-temannya sudah menyelesaikan tugas Muqobalah, dan kini sudah menunggu di pintu gerbang keluar Ar-Raayah. Saya pun langsung menuju pintu gerbang. Di sana Harmi sedang berbincang santai dengan Teh Jena yang kali ini mengantar teman-temannya untuk mengikuti Muqobalah kali ini. Karena waktu yang begitu mendesak, akhirnya saya mengajak Harmi untuk segera naik angkutan umum ke arah terminal Cibadak.

Ya, kini sudah pukul 12.15 WIB. Angkutan yang kami tumpangi sampai terminal jua. Sekadar berbagi, sejak malam sampai tiba waktu zuhur kami belum tersentuh makanan apa-apa. Ya, benar saja, perut kosong berontak tak karuan. Ya, karena perut cukup lapar saya pun mengajak Harmi untuk mampir di warung yang tak jauh dari pertigaan ke arah terminal Cibadak. Alhamdulillah perut sudah terisi, tenaga kami kembali normal. Walau ditemani rasa kantuk, kami ‘memaksa’ diri agar kelihatan alias seakan-akan masih semangat untuk melanjutkan perjalanan safar kali ini.

Ya, jam di tangan saya menunjukkan pukul 13.00 WIB. Kami pun langsung menuju Sangkuriang, bus angkutan ber-AC, dari Sukabumi menuju Bandung. Agar tak ketinggalan bus, kami memilih menunaikan shalat zuhur dan ashar secara jama’ langsung di bus. Tak lama kemudian bus berwarna merah ini langsung berangkat. Selama perjalanan saya manfaatkan untuk membaca SMS di HP saya, di samping membuka facebook (FB) yang akhir-akhir ini seperti semakin jatuh cinta saja dengan saya. Sementara Harmi lebih memilih untuk tidur sambil sesekali melihat kiri-kanan jalan, termasuk melihat mobil dan bus di jalan tol yang kami lalui.

Lagi-lagi perjalanan kali ini cukup melelahkan. Kini sudah pukul 19.00 WIB. Bus yang kami tumpangi baru tiba di terminal Leuwi Panjang (LP) Kota Bandung. Tak menunggu lama, kami pun langsung naik angkutan umum ke arah Kelapa alias alun-alun Bandung. Setibanya di Kelapa kami langsung naik damri ke arah Cibiru, Kota Bandung. Oh iya, selain karena kendaraan yang nyaris tak terhitung, macetnya perjalanan kali ini juga disebabkan oleh hujan sehingga air menggenangi beberapa ruas jalan di Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung juga Kota Bandung. Tepat pukul 20.15 WIB damri yang kami tumpangi tiba jua di Cibiru. Alhamdulillah, Allahu Akbar!

Karena terdesak waktu, kami pun langsung naik angkutan warna hijau ke arah Cileunyi, Kabupaten Bandung. Sesampainya di Cileunyi kami langsung naik angkutan  warna coklat ke arah Unpad dan Tanjungsari, Sumedang. Perjalanan kali ini cukup melelahkan karena macetnya jalan raya. Bayangkan saja, menurut informasi dari sopir angkutan yang kami tumpangi, macet kali ini dimulai dari pasar Tanjungsari sampai gerbang Unpad. Aneh memang! Jalan raya sudah rusak didiamin saja, mobil dan bus angkutan tak beraturan dan mobil para pengguna jalan pun parkir sembarangan tapi bebas begitu saja tanpa diambil tindakan,,, seperti tak ada manusia yang tahu aturan dan mau diatur, dan tak ada manusia yang mengatur. Btw, kapan bangsa ini disiplin dalam segala hal,,, ke mana tuh pihak berwenang dan berwajib?

Tepat pukul 21.55 WIB angkutan yang kami tumpangi sampai di kompleks perumahan, tempat rumah paman.  Berselang beberapa menit kemudian Tukang ojek yang biasa mengantar penghuni perumahan tiba jua dan langsung mengantar kami menuju alamat yang kami tuju. Ya, tepat pukul 22.15 WIB kami sampai di rumah paman di kompleks perumahan Panorama Blok Q No. 12 Tanjungsari, Sumedang. Sesampainya di rumah, berselang sekitar 15 menit setelah nonton acara berita di beberapa stasiun TV, saya langsung menunaikan shalat magrib dan isya secara jama’.

Kini sudah pukul 23.00 WIB. Saya pun memilih masuk kamar tidur yang tersedia sejak lama alias sudah biasa saya tempati jika bersilaturahim ke rumah paman. Beberapa menit menjelang tidur saya manfaatkan untuk menghubungi beberapa adik dan teman-teman saya di luar kota. Ya berbagi cerita, motivasi dan memohon maaf begitu deh. Kali saja malam ini saya meninggal, kan asyik tuh akhir hidup saya. Lumayanlah mewariskan pesan-pesan berharga bagi kehidupan dunia-akhirat yang kaya akan kesuksesan. Terima kasih adik-adik jua teman-teman setia saya di luar kota sana!

Ya, tanpa kompromi rasa kantuk yang menggoda saya sejak semalam terus memaksa saya untuk tidur. Kini ia temasuk penggoda yang sukses. Ya, karena cukup lelah, saya memilih istirahat sejak pukul 24.00 WIB hingga pukul 04.15 WIB. Pada pukul 04.15 WIB-lah saya bangun dari tidur sebagai ritual ‘dendam’ saya kali ini. Setelah berwudhu saya langsung menunaikan shalat subuh. Setelahnya saya memilih menghormati Bibi dan Harmi yang sudah menyediakan mie rebus dan  teh manis hangat untuk saya dan Paman dengan ‘menghabiskan’ mie dan teh hangat khas panorama itu hanya beberapa menit. Mumpung gratis,,, lagian lapar he he he!

Ya, kini sudah hari Kamis, 9 Mei 2013. Tak lama kemudian paman menginformasikan bahwa pagi ini, tepatnya pukul 06.00 pagi ini Paman dan Bibi mau silaturahim ke Cirebon, sekaligus menjemput Ayah saya. Sekadar berbagi cerita, Ayah saya sudah terkena stroke sejak 2008. Walau kini sudah berangsur pulih, sampai (2013) kini masih mengidap stroke. Mohon do’a dan dukungan dari Anda semua!

Kini sudah pukul 06.00 WIB, saya dan keluarga langsung menuju Cirebon. Oh iya, siapa saja keluarga yang berjalan santai bersama saya kali ini? Mereka adalah Harmi (adik saya), Bi Susi (Bibi), Pa Malik (Paman) dan Pa Nana (sopir).

Perjalanan kami cukup melelahkan, namun candaan kocaak juga ‘ngomelan’ khas Pak Sopir dan gurihnya tahu Sumedang mampu menetralisir semuanya. Benar-benar perjalanan inspiratif dan ‘nyenangin’. Terima kasih Paman, Bibi dan Pa Nana!

Kini kami sudah tiba di rumah. Ya, tepat pukul 10.15 WIB kami sudah tiba di rumah, di Gang Teratai, Karya Mulya, Kec. Kesambi Kota Cirebon. Tak lama berbincang dengan Ayah dan Bunda saya, saya dan istri saya, Paman pun mengisyaratkan segara kembali ke Bandung. Namun, seperti biasa, Bibi tak ketinggalan untuk mencicipi makanan khas daerah, kali ini khas Cirebon. Paman—di samping ‘harapan’ kuat istri saya—akhirnya mengiyakan keinginan Bibi kali ini. Akhirnya pada pukul 11.15 WIB kami langsung ke Warung nasi Mang Dul di Jl. Katamso, sebelah barat Grage Mall Cirebon. Berselang beberapa menit kemudian kami pun tiba di Warung yang digandrungi sebagian pengunjung Cirebon ini. Selain makanannya yang khas, suasananya juga ‘standar’. Ya, kaya kuliner githu deh.

Kini sudah pukul 12.00 WIB. Setelah makan siang di Warung ‘santai’ ini, Paman, Bibi, Sopir, Ayah dan adik sepupu saya (Taufiq) langsung menuju Bandung. Sementara kami (saya, istri dan anak saya) langsung menuju ke masjid At-Taqwa Cirebon. Oh iya sebetulnya saya belum tahu jika di At-Taqwa, tepatnya di Islamic Center Cirebon (ICC), sedang ada Islamic Book Fair (IBF) ke-3. Sekadar berbagi cerita, pada IBF ke-1 saya diundang sebagai pembicara pada acara bedah buku saya The Power Of Motivation. Pada IBF ke-2 saya berbahagia sebagai pengunjung dan pembeli buku-buku di stand IBF. Sedangkan sekarang pada IBF ke-3 ya saya cukup menemani istri dan anak tercinta saja, di samping ‘menculik’ berbagai inspirasi.

Ya, kini sudah pukul 12.15 WIB. Sebelum ke tempat IBF, tepatnya di ICC, kami memilih untuk menunaikan shalat zuhur di masjid terbesar di Cirebon tersebut. Setelah shalat, kami langsung ke ICC. Di situ saya menemukan brosur kegiatan IBF ke-3. Ternyta agenda IBF kali ini berlangsung dari hari Jum’at 3 hingga Jum’at 10 Mei 2013. Acaranya cukup variatif. Ada bazar buku dan majalah, bazar baju,  bazar video, parade nasyid, bedah buku dan lain-lainnya.

Oh iya sekadar usulan nih untuk panitia penyelenggara IBF berikutnya, tolong utamakan acara bedah buku, terutama para penulis muda. Adakan juga pelatihan kepenulisan, agar IBF di Cirebon mampu melahirkan pahlawan pena baru untuk Indonesia tercinta. Kan asyik tuh ceritanya kalau penulis-penulis Indonesia dilahirkan oleh rahim IBF ICC, ya dilahirkan di tanah para wali, Cirebon tercinta.

Lagi-lagi, tak menyia-nyiakan kesempatan, kami—tepatnya istri saya—pun membeli pakian, buku juga majalah. Sekali lagi, tentu saja yang bayarin adalah istri saya. Saya lagi dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk belanja sana-sini, ini-itu dan pokoknya githu deh. Tahu mengapa? Dompet terlalu lama ‘memanjakan’ saya dengan isinya yang kosong. He he he he.

IMG3943AYa, setelah zuhur kami pun langsung berjalan keliling di area bazar, ya di beberapa stand bazar. Tanpa diduga, kami pun tiba di stand Majalah Hidayatullah. Di situ istri membeli majalah Hidayatullah dan buku berjudul Warnai Dunia dengan Menulis karya M. Anwar Djaelani untuk saya. Buku setebal 221 halaman yang diterbitkan oleh penerbit InPAS Publishing Surabaya dan diberi pengantar oleh Dr. Adian Husaini ini sangat inspiratif. Ia benar-benar memprovakasi siapapun, utamanya umat Islam, untuk memasifkan tradisi baca-tulis. Alhamdulillah dengan semangat dan mengharap mendapat ilmu juga inspirasi saya ‘menghabisi’ buku ini dalam waktu singkat. Pokoe lahap habis!

Tidak cukup dengan satu buku, istri juga ternyata membeli buku untuk saya, suami kesayangannya. (He he he ‘ngarep dikatain sayang! Btw, I Love U istri cantik). Ada buku Lelaki Buta Melihat Ka’bah karya Muhammad Subarkah setebal 289 halaman. Buku yang diberi pengantar oleh Pak Taufiq Ismail ini cukup inspiratif juga. Ia berisi 48 judul tulisan ringan namun bernas yang disari dari catatan penulisnya selama bertugas sebagai wartawan Republika yang meliput persiapan dan pelaksanaan ibadah haji—sekaligus ibadah haji—pada musim haji 1432 H/2011 lalu.

Tak ketinggalan buku Berubah Atau Kalah karya Wahid Mahdi. Terus buku Berpikir, Bermain dan Bergembira karya Usamah Husain Al-Ajhuri dan buku Menjadi Entrepreneur Muslim Tahan Banting karya Dr. Asyraf Muhammad Dawwabah, semuanya diterbitkan oleh penerbit Al-Jadid.

Tak ketinggalan, istri juga membeli buku Beginilah Rasanya Ketika Cinta Datang! karya Fathi Muhammad ath-Thahir. Buku ini ia hadiahkan untuk adik iparnya, ya adik kandung saya, Harmi, yang baru saja mengikuti Muqobalah di Ma’had Ar-Raayah Sukabumi. Semoga buku tersebut bermanfaat bagi kehidupan dunia-akhiratnya!

Sementara istri saya mencukupkan diri untuk membeli rok warna hitam yang ‘gaul’ begitu. Sempat ‘negur’ sih, agar beli yang lain saja. Tapi karena kali ini saya lebih suka ‘memanjakan’ istri dengan selera hatinya, ya akhirnya rok produksi khas Bandung itu menjadi hak miliknya jua. Oke deh Sayang, semoga keluarga kita tambah sakinah, mawadah wa rahmah (samarah)!

Oh iya, selain itu, istri juga membeli Tafsir Juz’amma karya Fathi Musa yang diterbitkan oleh penerbit Shahih kelompok penerbit Ziyad Visi Media. Terus ia juga membeli novel Surga Untuk Anakku karya Arini Hidajati yang diterbitkan oleh penerbit Diva Press. Novel setebal 416 halaman ini sangat inspiratif, karena itu layak dimiliki siapapun, terutama Anda yang kini sudah bersuami-istri atau sudah punya anak. Baik sebagai orangtua dari anak-anak Anda maupun sebagai anak dari orangtua Anda. Sederhananya, novel ini berisi kisah perjalanan seorang anak mencari jalan menuju surga. Hayo miliki novelnya!

Oh iya, mungkin Anda mengira bahwa kami memiliki banyak uang. Dugaan Anda tak salah jika nanti ketika kelak kami benar-benar banyak uang. Kini dugaan Anda belum selamanya benar. Jujur saja, harga buku yang saya sebutkan di atas sangat murah. Bahkan buku-buku yang bertema motivasi hanya Rp 5.000/buku. Murah kan? Jadi, ini bukan soal banyak uang atau tidak, tapi soal kesempatan dan harga murah, di samping kemauan yang kuat untuk membaca berbagai referensi keilmuan. Oke Bro!

Sahabat, teman atau siapapun panggilan akrab Anda. Kini saya sudah kembali ke rumah, istri dan anak saya juga begitu. Dari keseluruhan catatan saya di atas, ada satu tema besar yang terlintas dalam benak saya. Satu tema yang mungkin pernah terlintas dalam benak Anda juga. Yaitu, menghimpun buah surga. Ya, selama 3 hari ini, lebih tepatnya lagi 72 jam yang baru saja berlalu, adalah kesempatan saya (juga keluarga) untuk menghimpun buah-buah menuju surga. Dari silaturahim dan bercanda dengan keluarga, mengantar sekaligus menemani adik ke madrasah ilmu, menemani dan mengantar Ayah yang sakit, berkunjung sekaligus membeli majalah dan buku-buku sumber ilmu, inspirasi juga motivasi, menemani dan berbahagia bersama istri dan anak hingga bersua dengan sahabat-sahabat atau saudara-saudara seiman di Ar-Raayah dan ICC. Apa yang saya rasakan belum mampu saya ceritakan secara terbuka pada tulisan sederhana ini. Pokoknya saya benar-benar merasakan banyak hal yang luar biasa. Subhanallah!

Di atas segalanya, terima kasih istri tercinta, Mba Uum Heroyati, yang telah menemani saya dalam kehidupan yang penuh fitnah juga kaya peluang untuk melakukan hal-hal yang maslahat ini. Begitu juga anak tercinta, Azka Syakira, yang semakin ‘kocak’, ramai dan lucu. Terima kasih untuk semua keunikannya. Tapi ingat, jangan keseringan ‘ngerjain Ayah dan Bunda di tempat umum ya Nak. Btw, bayangkan saja Bro semuanya, Azka itu lompat-lompat, naik, lari dan segala macam kehebohannya di lingkungan (stand, panggung) IBF kali ini sungguh melelahkan saya dan Bundanya. Mana lihat buku murah, mana jagain Azka. Bundanya sampai bergumam begini, “Satu saja sudah begini, apalagi 10 orang ya?!”. (Oh ya? Hm hm hm hm,,, sabar ya Bundanya Azka. Namanya juga Bunda para Pahlawan sejati, Uum Heroyati, he he he). Btw, sekali lagi, terima kasih ya anak tercinta!

Akhirnya, semoga apa yang saya alami dapat menginspirasi saya juga Anda semua agar semakin mencintai Allah, keluarga dan diri Anda dengan banyak cara, termasuk dengan mengamalkan atau menghimpun buah-buah surga seperti yang saya ceritakan tadi. Walau sederhana,  jika kita tunaikan dengan ikhlas maka Allah akan memberi kita hidayah agar kita selalu beramal, memberi kita petunjuk yang memudahkan jalan kita menuju surga-Nya yang abadi dan indah. Selamat menghimpun buah surga sahabat juga saudara-saudara seiman tercinta! [Cirebon; Jum’at, 10 Mei 2013]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: