Menyongsong Cirebon Sebagai Kota Buku

IMG3660ASEPERTI biasa, hari ini Juma’at 5 April 2013 saya kembali mencari inspirasi di Cirebon, sebuah kota yang konon dikenal sebagai kota wali. Cirebon merupakan salah satu kotamadya paling timur di provinsi Jawa Barat. Ia berbatasan langsung dengan Brebes, provinsi Jawa Tengah. Ia termasuk kota jasa Indonesia. Bahkan menurut informasi yang saya dapatkan dari beberapa teman yang berkiprah di pemerintahan Jawa Barat, Cirebon akan dijadikan sebagai kota jasa dan niaga. Semoga saja begitu!

Iya, Jum’at kali ini telah saya agendakan untuk beberapa aktivitas santai, di antaranya kunjungan ke Festival Buku di IAIN Studen Center (ISC) IAIN Syekh Nurjati, ke kantor pos di Jl. Perjuangan, ke Laziswa Fair 2013 di Islamic Center Cirebon (ICC), shalat Jum’at di Masjid At Taqwa Cirebon di Jl. Kartini, membaca beberapa naskah buku dan beberapa agenda santai lainnya.

Agar hari ini lebih fresh, pada paginya saya sudah menyiapkan diri. Biasa, orang yang semangat muda enggan tidur lama-lama, apalagi menjelang subuh. Saya pun bangun pukul 04.00 WIB. Pada pukul 04.30 WIB saya langsung menunaikan shalat subuh. Setelah subuh saya langsung mandi pagi, terus membaca buku dan merapihkan beberapa naskah serta tulisan yang belum tuntas saya rapihkan dan baca semalaman. Cukup lelah memang, namun ada asyiknya juga. Otak saya ‘dipaksa’ untuk terus bekerja, termasuk fisik saya. Tentu saja wawasan makin luas. Pokoknya asyik benaar!

powerSetelah sarapan pagi, saya menyempatkan diri untuk mengambil beberapa naskah buku dan tulisan beberapa teman di email, sambil obrol santai dengan beberapa teman di facebook (FB). Ada yang berbagi inspirasi, ada yang minta bantu menyempurnakan naskah buku dan tulisan, ada yang cuma tanya kabar, ada juga yang bertanya tentang buku baru saya ‘The Power Of Motivation’ dan ‘Spirit To Your Success’, dan seterusnya. Pokoknya asyik betul nih teman-teman di FB.

Sekadar Anda tahu saja, saya tidak begitu kenal mereka. Bahkan sebagian besar mereka tak pernah bersua dengan saya. Tapi kalau sudah urusan teman dan komentar di FB, ya mereka-lah yang paling “wah”—seperti orang yang sudah pernah bersua saja. Jujur saja, saya tak tahu tuh wajah asli mereka. Tapi persahabatan kami sepertinya sudah melekat bagai perangko he he he. Sampai-sampai saling memberi kepercayaan segala. Ya bagi saya ini hitung-hitung sebagai sarana menguji kejujuran diri. Terima kasih ya sahabat-sahabat di FB.

Tak terasa, hari sudah mulai siang. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 09.00 WIB. Demi efektifitas waktu, saya pun menuju ke kampus IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Pada awalnya saya ingin menggunakan angkutan umum D 10, tapi karena sudah menunggu cukup lama, ya saya mengambil langkah cepat deh, ya jalan kaki. Hitung-hitung olahraga pagi Juma’at. Lagian cuma 5 menitan dari rumah saya. Alhamdulillah saya sampai juga ke tempat tujuan.

Sekarang saya sudah sampai di kampus IAIN, tepatnya di Festival Buku diadakan. Selain bazaar buku, pada festival kali ini juga ada bazar pakian muslim/muslimah, makanan ringan, lomba nasyid, dan beberapa agenda lain yang tak sempat saya saksikan.

Selain bersua dengan berbagai buku dari beberapa penerbitan, saya juga bersua dengan para pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat Cirebon, dimana sebagian besarnya adalah keluarga besar civitas akademika IAIN Syekh Nurjati, terutama mahasiswanya. Alhamdulillah mahasisiwa IAIN sudah ‘nyadar’ buku. he he he.

Tak membiarkan momentum ini saya ‘memaksa’ diri saya untuk membeli beberapa buku yang menurut saya penting. Selain karena mengandung informasi dan keunikan tersendiri, juga karena penulisnya oke punya. Di antara buku yang saya beli adalah Begawan Muhammadiyah (Bunga Rampai Pidato Pengukuhan Guru Besar Tokoh Muhammadiyah) terbitan PSAP (Jakarta, 2005), Indonesia Raya Diberedel karya Ignatius Haryanto terbitan LKIS (Yogjakarta, 2006).

Sebetulnya di bazar kali ini banyak buku yang ingin saya beli. Namun karena dompet belum begitu bersahabat, akhirnya saya mencukupkan diri dengan dua buku yang tebal masing-masing 419 dan 327 tersebut. Walau hanya dua buku, bagi saya bukunya oke punya. Kebetulan saya lagi suka-sukanya membaca buku yang ‘berbau’ Muhamdiyah, Dialketika Ideologi, Sosial-politik, Pers dan lain-lain.

Lelah mondar-mandir sana-sini, akhirnya saya meneruskan perjalanan. Ya, jam di tangan saya menujukkan pukul 10.30 WIB, itu menunjukkan saya harus segera menunaikan agenda selanjutnya.

Pukul 10.35 WIB, saya pun ke kantor pos, yang jaraknya hanya 2 menit dari kampus IAIN Syekh Nurjati, lagi-lagi sambil berjalan kaki santai. Ini mah sekalian olahraga, karena pagi hari ini saya belum olaharga he he he. Saya ke kantor pos untuk mengirim uang ke beberapa teman. Namun karena ongkos kirim yang cukup mahal (kebetulan tidak ada jatah untuk itu) akhirnya saya membatalkan,,, mungkin lain kali aja deh ngirimnya. Maaf ya teman-teman. Bukan ingkar janji kok, ini cuma masalah teknis aja. Maaf ya!

Setelah dari kantor pos, saya langsung berangkat ke Masjid At Taqwa Cirebon menggunakan angkutan D3. Kebetulan hari ini saya menjadwalkan diri untuk shalat Jum’at di Masjid At Taqwa. Tak lama menunggu, angkutan yang saya tunggu datang juga. Ya, saya langsung naik angkutan D3. Satu nama angkutan umum yang selalu terngiang dalam benak orang Cirebon.

Walau sedikit macet, beberepa menit kemudian mobil angkutan yang saya tumpangi sudah sampai di depan gerbang Masjid At Taqwa. Seperti sudah paham, sopir angkutan yang saya tumpangi langsung menghentikan mobil setirannya, sebagai isyarat jika saya segera turun. Saya pun turun dan langsung membayar ongkos angkutan sebanyak Rp 2.500. Alhamdulillah sampai juga.

Dari kejauhan saya menyaksikan orang lalu lalang, seperti ada orang berkumpul ata ada apa begitu. Ternyata mata saya tak salah. Di depan masjid lagi ada agenda Laziswa Fair 2013. Acara yang diselenggarakan oleh Laziswa Cirebon dan didukung oleh beberapa seponsor ini diselenggarakan dari tanggal 1-25 April 2013. Agendanya tentu saja banyak. Ada bazar buku, jualan makanan ringan, donor darah, seminar dan lain-lain.

Agar tak ketinggalan acara bazar saya pun langsung menuju ke tempat bazar buku. Di situ saya menemukan banyak buku berkualitas dan seperti biasa harganya lagi murah-murah. Saya benar-benar tergoda untuk membeli atau memiliki semua buku yang ada di bazar kali ini. Namun apa dikata, lagi-lagi dompet belum bersahabat. Saya bersyukur, karena Allah masih memberi saya nikmat kemauan untuk membaca dan membaca. Allahu Akbar!

Namun di situ saya membeli beberapa buku yang menurut saya oke punya untuk dibaca. Ya, hitung-hitung nambah ilmu baru. Banyak buku, rajin baca, banyak ilmu dan tersemangati untuk selalu mengeksekusinya jadi amal soleh. Begitulah alur galibnya sebagai manusia bisa yang ingin terus belajar dan belajar. Saya sedang belajar untuk mewujudkan itu dalam kehidupan saya, terutama keluarga saya.

Di antara buku yang saya beli adalah Dialog Antarumat Beragama karya J.B. Banawiratma dkk terbitan Mizan (Bandung, 2010), Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat karya James Marcus Bach terbitan Kaifa (Bandung, 2011), Mengikat Makna Update karya Hernowo terbitan Mizan (Bandung, 2009), Mohammad Natsri dalam Sejarah Politik Indonesia karya M. Dzulfikriddin terbitan Mizan (Bandung, 2010).

Oh iya sekadar nambahain cerita yah,,, saya sengaja membeli buku Mengikat Makna Update, sebab dalam jadwal saya, pada Ahad 13 April 2013 nanti saya mesti menghadiri undangan acara bedah buku saya The Power Of Motivation dan Pelatihan Kepenulisan di IAIN Syekh Nurjati yang diselenggarakan oleh mahasiswa kampus setempat. Menurut informasi, peserta kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini diikuti oleh peserta dari beberapa kampus Se-Wilayah III (Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuning). Jadi, saya mesti menyiapkan diri secara maksimal. Walaupun sudah memiliki bukunya—bahkan sudah membacanya beberapa kali—bagi saya buku Mas Hernowo tersebut kaya ilmu. Bahkan jika diperkenankan saya berani menyebut buku tersebut sebagai risalah literasi. Entahlah, itu mungkin hanya perasaan saya. Lebih jelasnya, silahkan Anda baca saja bukunya. Ya hitung-hitung nambahin suplemen sekaligus spirit untuk menulis.

Secara gituhu, Mas Hernowo kan berpengalaman tuk tema yang beginian. Bahkan untuk Anda yang tak sempat kunjung ke Bazar saya bantu tuh tuk beliin. Kalau mau beli bukunya silahkan hubungi saya ya. Cukup di: 082 147 324 063. Murah aja kok. Harga aslinya Rp 59.000. Di saya cukup Rp 50.000 saja. Murah kan? Bahkan kalau belinya di atas 5, dapat diskon,,, menjadi Rp 45.000 untuk 1 bukunya. Bukunya tebal dan berkualitas. Berwarna lagi. Ukurannya juga besar banget, 24×19 cm. Jadi, menurut saya ini bukan buku biasa tapi buku luar biasa. Saya tunggu ya sahabat yang baik hati.  

Oh iya, alhamdulillah di situ juga saya sempat membeli buku untuk seorang teman yang sering berbagi inspirasi dengan saya dengan cara khasnya. Orangnya santai tapi suka senyum. Ah pokoknya asyik deh mendapat kesempatan melakukan kebaikan,,, mumpung masih ada waktu. Kali saja dalam waktu dekat saya segera menemui ajal kematian. Saya mesti memperbanyak saldo amal kebaikan nih. Oh ya, mohon maaf ya jika Anda belum mendapatkan hadiah buku dari saya. Mohon do’anya, kali saja lain kesempatan giliran Anda yang mendapat jatah. Atau mau ngasih hadiah ke saya nih? Bagus juga tuh,,, Hayo mari bangun tradisi memberi hadiah sesama anak bangsa.

Cukup lelah memang, namun karena keburu doyan ketemu buku, ya saya maksakan diri juga tuh tuk nongkrong di tempat bazaar buku. Di samping beberapa buku yang dapat saya taklukkan, ya kini beberapa buku yang saya lihat di bazar kali ini sudah menjadi milik saya. he he he.

Tak berselang beberapa menit setelah itu, dari kejauhan terdengar suara dari masjid, tepatnya dari DKM bahwa waktu Jum’atan sebentar lagi. Akhirnya saya pun memilih untuk segera ke masjid. Iya, tepat pukul 11.45 WIB saya langsung masuk masjid, shalat jumat. Sebelum khotib naik mimbar saya menyempatkan diri untuk menunaikan shalat tahiyatul masjid. Setelah itu saya merapihkan beberapa buku yang saya simpan dalam plastik bertuliskan penerbit Mizan Bandung.

Kini azan Jum’at berkumandang. Pertanda rangkaian shalat Jum’at sudah dimulai. Khotib kali ini adalah Prof. Abdulllah Ali, MA., Guru besar di IAIN Syekh Nurjati. Beliau mengangkat tema tentang karakter orang beriman. Beliau mengingatkan bahwa orang beriman itu seperti karakter nabi Muhammad Saw.; kasih sayang sesama kaum beriman dan tegas dengan orang kafir. Pokoknya pembahasan khotib kali ini oke banget. Benar-benar berisi.

Setelah khotib turun dari mimbar, imam pun maju memimpin shalat Jum’at kali ini. Selain suaranya yang renyah, lafal hurufnya juga benar-benar oke punya. Sangat menginspirasi saya untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Ada yang mau membimbing saya?

Kini Jum’atan selesai juga. Setelah berzikir, tepat pukul 13.15 WIB saya keluar masjid. Saya memilih duduk santai di emper sebelah timur (belakang) masjid. Di situ ada beberapa orang yang sudah ngantri duduk. Karena kepanasan, saya memilih untuk duduk di dekat seorang yang berbadan tegap. Orangnya ramah dan suka diajak bicara. Di situ kami ngobrol santai. Banyak hal yang kami obrolkan. Dari motivasi, pekerjaan, pengalaman masing-masing, dan wah pokoknya banyak deh. Terima kasih ya Mas.

Eh sekadar nambah-nambahin cerita nih, menjelang Si Mas pergi, saya sempat-sempatnya ta’arufan, ya kenalan githu. Ternyata Mas yang baru saja saya ajak ngobrol itu namanya Yanto. Ia lahir pada tahun 1986. Itu artinya, kini ia sudah berusia 27 tahun. Lebih muda dari saya. Ia asli Cirebon. Menurutnya ia sempat kerja di Kerawang Jawa Barat, dan kini kembali ke Cirebon untuk kerja juga. Ia bekerja sebagai kuli di salah satu perusahaan di Cirebon. Saya lupa menanyakan nama perusahaannya.

Pukul 13.50, perbincangan kami selesai juga. Karena Mas Yanto segera pulang ke rumah, saya memilih untuk membuat tulisan, ya tulisan ini. Karena sendiri dan lantai emper masjid agak panas, saya pun pergi ke warung di sebelah utara masjid At Taqwa Cirebon yang agak sejuk. Di situ saya membeli jus tomat yang rasanya ya cukup lah,,, Karena perut sudah mulai beraksi, saya pun membeli bakso yang tak jauh dari tempat saya duduk. Sambil makan dan menikmati angin ‘berbau’ pantai, saya menyempatkan diri untuk membaca berapa buku secara acak (sesukanya aja), di samping menuntaskan tulisan ini.

Ah, untuk  Anda yang k’pingin menulis,,, tak perlu bingung ya. Tulis saja apa yang Anda lakukan dari pagi hingga sore harinya. Pokoknya seharian itu, Anda ngapain saja, ya ditulis saja. Kali saja menginspirasi sahabat lain di luar sana untuk melakukan kebaikan-kebaikan, termasuk menulis buku,,, Kalau saya sih, menulis sambil (sekalian) jalan-jalan saja. Jadi tak terasa capenya… Malah bertambah asyik deh. Mudah dan asyik kan?

Menuju Cirebon Sebagai Kota Buku

Kini Cirebon semakin berubah. Benar-benar berubah. Dulu jarang ada bazar buku, boro-boro bazar buku, yang baca buku juga jarang. Bahkan menurut seorang teman yang sudah lama tinggal di Cirebon, mahasiswa di Cirebon jarang baca buku. Kalau mahasiswa sebagai icon intelektual saja jarang baca buku, bagaimana masyarakat luas? Intinya budaya baca di Cirebon sangat rendah katanya.

buku yaApapun kondisinya, bagi saya kehadiran buku alias pameran atau bazar buku di ISC IAIN dan di depan ICC Cirebon merupakan salah satu indikasi adanya kemajuan Cirebon dalam dunia baca. Saya dan tentu saja Anda—utamanya warga Cirebon—mesti mengapresiasi perubahan semacam ini.

Bagi saya, ini adalah era saling mendukung untuk maju. Ya, siapapun punya peluang menjadi generasi yang mengambil peran penting dalam menghadirkan peradaban maju di Cirebon. Ini adalah momentum untuk menjadikan Cirebon sebagai kota buku, kota yang mencintai buku, kota yang masyarakatnya—khususnya pelajar juga mahasiswanya, terutama pejabatnya—doyan membaca alias jatuh cinta dengan buku. Bahkan ke depan saya bermimpi bisa mengambil peran dalam menghadirkan penulis-penulis hebat dari generasi muda Cirebon. Bagaimanapun, kota wali yang sering disematkan untuk kota Cirebon akan menjadi bermakna ketika Cirebon dihuni oleh manusia-manusia yang menghargai ilmu, yang membangun masyarakat Cirebon ke arah yang baik. Semua itu akan tercapai—misalnya—dengan memasifkan tradisi baca, terutama buku. Dengan banyak membaca buku-lah orang Cirebon semakin berilmu, semakin berperadaban.

Pesan Untuk Pak Ano, Wali Kota Baru

Untuk menyukseskan impian ini, tentu saja membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pemerintah kota, terutama Wali Kota yang baru saja teripilih mesti mengambil peran penting. Ya, kita berharap agar Pak Ano Sutrisno mengambil peran dalam menyukseskan agenda ini. Di samping elemen umat Islam seperti Ormas Islam, kalangan kampus atau perguruan tinggi, gerakan mahasiswa dll-nya juga mesti mengambil peran.

Sederhana saja, mari masifkaan budaya baca dan tulis di Cirebon tercinta. Mari tunaikan dari di lingkungan kita, terutama lingkungan keluarga kita. Sebelum itu semua, mulailah dari diri kita sendiri, dari diri kita masing-masing.

Untuk Anda yang masih menjadi pelajar dan mahasiswa, hayo buktikan intelektual Anda. Buktikan jika Anda adalah generasi intelektual bukan generasi sisa alias sampah! Malu sama adik-adik kita yang masih duduk di bangku SD/MI tapi sudah terbiasa dengan budaya baca-tulis bahkan sudah punya karya tulis. Baik berupa novel, cerpen maupun buku-buku jenis lainnya. Malu yeh?

coverkuIngat, Cirebon ini hanya ada beberapa kecamatan—tidak lebih dari 5 kecamatan. Tentu saja ini sangat kecil jika dibandingkan dengan kota lain. Artinya, ini peluang besar bagi siapapun untuk ikut membangun kota Cirebon dengan menghadirkan budaya baca alias memperbanyak area atau lingkungan cinta buku. Ya lingkungan Cirebon yang kecil ini perlu dibangun menjadi kota yang mencintai baca dan buku.

Ke depan kita berharap agar di angkutan umum, warung nasi, wartel, warnet, kantor pos, stasiun, terminal, dll-nya terdapat perpustakaan atau tersedia buku bacaan gratis. Oh iya, mumpung banyak bazar yang menjual buku murah,,, hayo mari manfaatkan sebagiaan uang atau hartanya untuk agenda besar ini. Beli buku yah!

Akhirnya, jika saya diakui sebagai penulis—walaupun lebih layak disebut pengamen jalanan, yang sementara ini masih tinggal di Cirebon—saya ingin menyampaikan satu hal: Cirebon kota buku, bukan sekadar mimpi! Jika Anda tak mau berperan, maka saksikanlah saya akan mewujudkannya. [Syamsudin Kadir, Penulis buku Spirit To Your Success, Mantan Pengamen. Cp.: 085 220 910 532—Kantin ICC Masjid At Taqwa Cirebon, Juma’at 5 April 2013, siang menjelang sore]

One thought on “Menyongsong Cirebon Sebagai Kota Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s