Belajar Tegar Kepada Pengamen Tegar

Foto TegarAKHIR Maret 2013 lalu saya baru saja kembali dari toko buku Gramedia, Grage Mall (GM) Kota Cirebon-Jawa Barat. Sesampainya di rumah, di Karya Mulya, seperti biasa saya menyempatkan diri untuk melihat HP Cross milik saya yang biasa saya simpan di kantong baju sebelah kiri. Tak lain, selain untuk iseng-iseng godain HP juga untuk membaca SMS yang keluar-masuk seharian ketika itu. Alhamdulillah pada kesempatan itu banyak informasi baru, termasuk informasi mengenai buku baru saya “Spirit To Your Success” dan “The Power Of Motivation” yang segera dicetak ulang oleh penerbit Mitra Pemuda. Termasuk beberapa naskah yang baru diedit, yang segera diterbitkan juga oleh penerbit yang sama.

Tak cukup di situ, apalagi hanya buka dan baca SMS keluar-masuk, saya pun menyempatkan diri menonton TV, salah satunya SCTV, melalui HP yang berwarna hitam yang sudah berumur setahun—yang saya beli dari sisa uang gajian sebagai editor lepas—itu. Tak saya duga, ternyata di SCTV sedang ada acara inbox yang menghadirkan beberapa penyanyi papan atas negeri ini. Tak saya sangka sebelumnya, setelah beberapa penyanyi sudah menghibur penonton inbox dan pemirsa di rumah dengan segala ‘gayanya’, tiba-tiba pembawa acara yang cukup kocak ketika itu menginformasikan bahwa beberapa menit lagi akan ada penyanyi cilik yang memiliki latar belakang sebagai pengamen—bahkan masih menjadi pengamen—untuk menghibur penonton inbox dan pemirsa di rumah.

Pada mulanya saya tak begitu percaya, namun hati saya selalu terngiang dengan informasi sang pembawa acara. Pengamen saja bisa masuk acara inbox, loh masa saya belum bisa? Begitu gumam saya. Saya tak sabar menunggu dan sepertinya saya sudah terhipnotis untuk mendengar suara sang pengamen. Tak selang beberapa menit, Tegar, sang pengamen yang saya tunggu itu pun naik ke atas panggung dan langsung menyanyi, menghibur para penonton dan pemirsa di rumah.

Mendengar suaranya yang merdu dan merenungi syair lagunya yang khas membuat hati saya luluh. Betapa Tegar hadir tepat pada waktu yang tepat. Ia hadir di saat saya dan mungkin banyak orang di luar sana mencari hiburan yang mengandung makna,,, yang mampu menyentuh hati nurani dan menghentakkan jiwa nestapa. Lagi-lagi, Tegar hadir pada waktu yang tepat.

 

Ku yang dulu bukanlah yang sekarang//

Dulu ditendang sekarang ku disayang//

Dulu-dulu dulu ku menderita//

Sekarang aku bahagia//

 

Tegar sepertinya sedang mengingat masa lalunya yang kaya penderitaan. “Ku yang dulu bukan yang sekarang”, kata tegar. Ya, dulu Tegar—sebagaiamana pengamen yang lain—sering diacuhkan dan dilecehkan, bahkan ditendang. Bisa jadi sampai sekarang mereka masih mengalami hal yang sama.

Di jalan raya, di lampu merah, di dalam angkutan umum, di dalam gerbong kereta dan di dalam bus antar kota Tegar dan teman-temannya hadir menghibur. Namun …

Namun apa dikata, tak jarang yang mereka dapatkan justru acuhan, lecehan bahkan tendangan. Padahal mereka menghibur dengan harapan khas semoga pendengar terhibur, hanya itu. Selebihnya semoga jasa alias suara mereka mendapat balasan, minimal untuk menambah pundi recehan,,, ya untuk membeli sesuap nasi, untuk mengisi perut kosong yang selalu menemani mereka tiap harinya.

“Dulu ditendang sekarang ku disayang”, lanjut Tegar. Namun kenyataan tak semuanya permanen, ia selalu memiliki ruang untuk berubah. Sebab kehidupan ini layak disebut kehidupan jika ia melalui perubahan. Iya, mungkin Tegar pernah ditendang, namun sekarang ia disayang. Bisa jadi dulu Tegar dilecehkan, sekarang justru ia disanjung-sanjung. Bahkan boleh jadi dulu Tegar sering mendapatkan makian, sekarang justru ia banyak memperoleh pujian.

Yang menarik, ketika melantunkan lagunya ia begitu santai, lugu dan tulus. Seperti tak ada yang ia sembunyikan selain ingin mengungkapkan secara jujur dan tulus mengenai penderitaan yang pernah ia alami dan apa yang ia peroleh kini. Di samping sesuatu yang ia harapkan dari khalayak negeri ini. Seakan-akan Tegar ingin menyampaikan bahwa Tegar mengamen untuk menghibur pendengar, tapi Tegar justru tak jarang mendapat pelecehan dan cacian. Dan sekarang Tegar akui bahwa dirinya sudah mendapatkan sebaliknya. Walau belum sesempurna yang dialami oleh kebanyakan orang, Tegar sudah mengalami kondisi yang sedikit berbeda.

Tegar begitu apik menyampaikan pesan istimewa bahwa dulu—bahkan mungkin sampai sekarang—ia menderita. Namun, sekarang aku Tegar, sudah mulai mengalami kehidupan yang lebih baik jika dibandingkan sebelumnya. Tegar yang sekarang adalah Tegar yang dulu, namun apa yang ia peroleh kini lebih baik dari apa yang ia peroleh sebelumnya.

 

Dulu-dulu dulu ku menderita//

Sekarang aku bahagia//

Cita-citaku menjadi orang kaya//

Dulu ku susah sekarang alhamdulillah//

Bahagia yang disampaikan Tegar—pada syair lagunya yang mampu menyentuh nurani penonton dan pemirsa yang menonton acara inbox SCTV itu—sepertinya bukan pada limpahnya harta, tapi pada keberhasilannya menghibur banyak orang, terutama ketika mengamen. Tentu saja ia bertambah bahagia ketika mendapat kesempatan dari Allah untuk tampil di ruang publik. Ya, Tegar tentu saja bertambah bahagia ketika mendapat kesempatan untuk tampil di salah satu acara bergengsi itu. Melalui crew inbox SCTV, Allah memberi kesempatan kepada Tegar untuk menghibur banyak orang, yang mungkin kelak akan mempermudah dirinya ke dapur rekaman sebagaimana harapannya melalui syair lagunya itu.

Sebagaimana banyak orang, Tegar juga memiliki cita-cita tertinggi. Tegar memiliki cita-cita untuk menjadi orang kaya, demikian ia akui melalui lantunannya—seperti yang terbaca juga dalam syair lagunya. Tegar tak salah, sebab ia berasal dari keluarga yang kurang begitu beruntung sebagaimana yang lain. Untuk melampaui kondisi keluarga yang demikian tragisnya, membuat Tegar berpikir dan ikut menjadi tulang punggung keluarga. Walau dengan cara mengamen, Tegar telah menghentak jiwa dan menginspirasi siapapun, termasuk saya bahwa selama tak kenal lelah berjuang dan memiliki kesabaran yang tinggi maka cita-cita dan impian pasti tercapai. Tegar memang belum kaya harta, namun ia sudah kaya jiwa dan kaya hati. Ia mampu menjadi penghibur di saat yang lain durjana. Ia mampu membuktikan hasil kerja potensi uniknya.

Sebagai wujud syukur atas semua perubahan yang ia alami kini, Tegar tak merasa “wah”. Bahkan ia justru mengajak siapapun, terutama diri dan keluarganya untuk selalu bersyukur. Sebab Allah-lah yang mengatur semua kejadian dan kenyataan. Tegar seakan-akan ingin mengatakan bahwa Tegar yang dulu dan yang sekarang hanyalah hamba Allah yang mesti banyak bersyukur atas semua kejadian. Bahwa kenyataan yang ia alami dulu dan sekarang adalah takdir Sang Kuasa, maka kembali dan bersyukur kepada Allah adalah sebuah keniscayaan. Bukan untuk apa-apa, selain agar kehidupan ini semakin bermakna.

Hidupku dulunya seorang pengamen//

Pulang malam slalu bawa uang recehan//

Mengejar cita-cita paling mulia//

Membantu keluarga di rumah//

 

Tegar akui bahwa Tegar adalah seorang pengamen. Tapi menjadi pengeman, bagi Tegar, tidak seperti yang dipahami oleh sebagian orang. Bagi Tegar, mengamen bukanlah sebuah upaya mengganggu ketertiban umum, bukan pula usaha untuk menganggu penumpang di gerbong kereta atau di bus angkutan kota. Itu sama sekali bukan niatan Tegar. Mungkin sebagian penumpang merasa risih dengan kehadiran dan tingkah Tegar, namun sekali lagi itu bukanlah niat Tegar. Tegar punya niat baik, insya Allah. Selain untuk menghibur orang, Tegar mau menjadi pengamen karena terdesak kondisi keluarga. Ia mau melakukan semuanya untuk cita-cita mulia, untuk kebahagiaan keluarga di rumah.

Bagaimana tidak, Ayah tirinya hanyalah seorang kuli di stasiun kereta Pagaden, Subang-Jawa Barat dengan penghasilan yang tentu saja belum mencukupi kebutuhan keluarganya. Demikian juga Ibunya, hanya seorang pengamen di stasiun yang sama. Walau seorang sinden, ternyata apa yang diperoleh Ibunya belum cukup juga untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tegar sebagai anak tertua dari 4 bersaudara itu tentu ikut merasakan bagaimana kedua orangtuanya lelah mencari nafkah untuk kebutuhan hidup keluarga, terutama adik-adiknya.

Sebagaimana diakuinya beberapa waktu yang lalu, seusai mengamen ia dan keluarga berlabuh pada sebuah rumah petak berukuran sekitar 4×6 meter. Sebuah rumah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah keluarganya yang cukup banyak. Ada Ayah dan Ibu Tegar beserta tiga orang adiknya yang masih kecil-kecil. Belum ditambah lagi dengan logitik rumah tangga lainnya, baik sarana tidur, piring makan dan seterusnya. Jika saya menempati rumah yang sama dengan jumlah anggota keluarga yang sama, saya mungkin tak mampu bersabar. Betapa sumpek rasanya jika tinggal di rumah sekecil itu. Tapi lain saya, lain Tegar. Ia dan keluarganya begitu menikmati kehidupan tanpa memperlihatkan ke siapapun bahwa Tegar dan keluarga sedang dalam kesusahan.

Sekolah dulu ku engga punya biaya//

Terpaksa ku harus mencari makan//

Tetapi aku tak berputus asa//

Pasti Yang Kuasa memberi jalannya//

Selain untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Tegar rela mengamen karena cita-citanya yang mulia. Ia ingin menempuh pendidikan dasar, bahkan hingga perguruan tinggi. Namun apa daya, Tegar tak cukup biaya. Tegar yang lahir pada 19 September 2001 di Pemalang—yang kini (2013) berumur 12 tahun—itu tak punya biaya sepeser pun. Tegar yang bernama asli Tegar Septian—sebagaimana kebanyakan pengamen dan anak-anak terlantar lainnya—seperti hanya menjadi korban janji palsu para elite penguasa dan politik yang suka berbagi janji palsu menjelang Pemilu dan Pilkada. Biaya pendidikan, biaya ini dan itu serba bebas. Ternyata bebas yang dimaksud adalah bebas dari biaya. Artinya tak ada biaya untuk orang miskin, ada juga untuk anak pejabat dan anak para elite.

Bagi Tegar, jangan kan untuk kuliah di perguruan tinggi, untuk biaya belajar di sekolah dasar saja tak ada. Jangan kan untuk biaya sekolah, untuk kebutuhan rumah tangga terutama untuk makan pagi-siang-malam saja masih mengandalkan recehan yang diberikan oleh para pendengar setia suara merdunya ketika mengamen.

Namun lagi-lagi, Tegar—sebagaimana namanya—selalu tegar dalam semua kondisi. Ia tak mau berputus asa dengan kenyataan yang ia alami. Sebab ia yakin bahwa Allah selalu memberi jalan kemudahan. Tegar sepertinya benar-benar terhentak dengan pesan Allah dalam Al-Qur’an bahwa dalam setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Ia begitu percaya bahwa pada kesulitan pasti ada celah untuk hadirnya kemudahan.

 

Hidupku dulunya seorang pengamen//

Pulang malam slalu bawa uang recehan//

Mengejar cita-cita paling mulia//

Bersyukur masuk dapur rekaman//

Dari salah satu syair lagu yang ia lantunkan, ada satu bait yang cukup menyentuh juga, terutama para pemilik studio rekaman. Iya, Tegar punya harapan agar kelak ia bisa masuk rumah rekaman. Kalau masuk ruang sekolah tak bisa, ya minimal ia bisa masuk ruang rekaman.

Terdengar lucu memang, namun itulah keluguan sang Tegar ketika membahasakan kehendak hati dan nuraninya kepada saya dan siapapun penonton inbox dan pemirsa di rumah ketika itu.

Mendengar suara Tegar, hati saya tersontak kaku, Tegar yang punya aktivitas ‘mengamen’ saja punya impian, masa saya yang banyak ‘kelebihan’ potensi belum melakukan hal-hal besar? Ah Tegar, kau memang sumber inspirasi. Kau sederhana namun kaya, ya kau kaya cita-cita dan kaya harapan.

Sebagaimana pengamen yang lain, biasanya Tegar pulang ke rumah malam-malam. Yang ia bawa pulang tentu bukan nasi goreng, bukan mobil atau bukan barang-barang mewah. Yang ia bawa pulang adalah recehan. Recehan yang ia bawa pulang akan digunakan untuk cita-cita mulia, ya untuk kebutuhan keluarga dan pendidikan diri juga adik-adiknya kelak.

Jujur, saya benar-benar terinspirasi dengan syair lagunya, saya juga terkesima dengan suara merdu yang ia lantunkan ketika itu. Betul bahwa Tegar begitu terbuka mengakui aktivitasnya sebagai pengamen yang dalam konteks tertentu dinilai “rendahan”. Namun …

Namun percayalah bahwa Tegar bukan sekadar mengamen, apalagi yang “rendahan”. Tegar ingin menjadi pengamen yang tahu diri, bukan saja di hadapan manusia tapi juga di hadapan Sang Kuasa, Allah Swt. “Dulu ku susah sekarang alhamdulillah, Bersyukurlah pada Yang Maha Kuasa”, ungkap Tegar pada akhir tampilannya selama tiga menit 10 detik itu.

Apa yang saya dapatkan dari acara inbox ternyata membuat saya semakin tergila-gila dan terngiang dengan nama Tegar. Rasa itu semakin memuncak ketika tetangga di samping rumah terus mendengarkan lagu Tegar pada setiap sorenya. Karena tak sabaran akhirnya pada Ahad, 30 Maret 2013 (pukul 20.00 WIB), saya menyempatkan diri untuk browsing di internet, mencari video acara inbox yang sudah disebarkan dan bisa diakses dengan gratis di youtube itu. Alhamdulillah apa yang saya cari seperti mengerti hati saya. Akhirnya saya pun mendapatkan video pengamen cilik, Tegar, yang sedang mengamen, termasuk video ketika Tegar tampil di acara inbox SCTV yang saya tonton itu. Kini keduanya saya simpan di folder motivasi dan inspirasi dalam laptop kesayangan saya.

Lagi-lagi, Tegar telah menginspirasi saya tentang banyak hal. Tegar telah mengajari saya untuk tak cepat lelah dalam berjuang. Ia mengingatkan saya untuk selalu semangat dalam segala kondisi dan selalu sabar dalam semua kenyataan hidup yang dialaui. Menderita sekalipun, bagi Tegar, mesti tetap sabar. Sabar bagi Tegar bukan berarti berdiam diri dengan kenyataan hidup. Sabar menurut Tegar justru terus berjuang secara total, dan menanti hasil dengan tulus dengan tanpa melupakan tawakal kepada Sang Kuasa.

Bagi Tegar, menderita hanyalah selingan. Ya, Tegar telah membuktikan bahwa itu semua hanya selingan kehidupan. Jika tak kenal lelah dan selalu sabar, maka percayalah jalan kemudahan selalu menanti. Kebahagiaan itu akan hadir tepat pada waktunya. Kebahagiaan terjadi karena kesungguhan, pengorbanan tinggi untuk cita-cita mulia, dan tentu saja karena mengharap banyak kepada Sang Kuasa, Allah Swt. Bagi saya, Tegar cilik sosok pengamen inspiratif. Ia adalah Guru ketegaran hidup. Ia adalah sumber inspirasi tak terkira. Semoga Tegar tetap berada pada jalan yang Allah rahmati dan ridhoi, bukan pada jalan yang  hina dan tersesat!

Di atas segalanya, selamat berjuang Tegar. Walau kini kita belum bersua, namun kita punya pengalaman yang sama. Apa yang pernah Tegar alami juga menjadi kenyataan yang pernah saya alami dulu di Bandung. Selama kuliah di Bandung, saya pernah menjual koran di damri. Saya juga pernah mengamen di jalan raya, di angkutan umum termasuk di damri. Ya, saya menyanyi di pasar dan lampu merah. Namun, kau begitu tegar dalam melalui semua kenyataan hidup. Tegar lebih tegar dari saya. Ya, kau memang benar-benar Tegar. Semoga ke depan kita bisa bersua, minimal di Pagaden, Subang-Jawa Barat, tempat kau tinggal kini. Jujur, di Pagaden-lah tempat saya mengajar dulu (2009). Saya pernah mengajar di Ekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Al-Ukhuwah, yang berada di dekat kantor kecamatan Pagaden. Ketika itu saya mengalami kenyataan hidup yang benar-benar ‘menantang’. Saya tentu tak perlu menceritakan kepada kau Tegar. Saya hanya ingin menyampaikan untukmu: Ingat, jangan sampai seperti kacang yang lupa kulit. Kalau kesuksesan atau ketika kelak kau sudah menjadi orang kaya, jangan lupa asal juga dengan teman-teman dan keluargamu di Pagaden. Pagaden adalah negerimu, rumah besar keluargamu. Selain itu, hati-hatilah dengan dunia publik, di situ banyak ujian dan godaan hidup. Selebihnya, masa lalu bukanlah onggokan kosong. Masa lalu selalu punya pesan bermakna. Ia adalah guru terbaik bagi kehidupan yang sesungguhnya. Ingat, keberhasilan dengan cara yang mudah mungkin menyenangkan, tetapi keberhasilan atas sesuatu yang kita perjuangkan secara total akan terasa lebih indah bahkan lebih abadi. Sekali lagi, selamat berjuang Tegar, selamat berjuang pengamen tegar! [Syamsudin Kadir—Mantan Pengamen, Penulis lepas dan Pemerhati Sosial-Politik; Nomor HP: 085 220 910 532, Cirebon, 3 April 2013]

One thought on “Belajar Tegar Kepada Pengamen Tegar

  1. Reblogged this on ruchmishaaryhaflii and commented:
    “Masa lalu selalu punya pesan bermakna. Ia adalah guru terbaik bagi kehidupan yang sesungguhnya. Ingat, keberhasilan dengan cara yang mudah mungkin menyenangkan, tetapi keberhasilan atas sesuatu yang kita perjuangkan secara total akan terasa lebih indah bahkan lebih abadi.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s