Workshop Pemikiran Islam; Mencari Akar Epistemologi Islam

foto yaSalah satu problem penting umat Islam saat ini adalah problem keilmuan—atau dapat juga disebut sebagai perang pemikiran—yang menyebabkan terjadinya loss of adab. Di antara “biang” penyebabnya—menurut Adian Husaini, pada sebuah acara Workshop Pemikiran Islam tahun 2005 di Jogjakarta, dan pada kegiatan bedah buku Wajah Peradaban Barat tahun 2005 di UIN Bandung—adalah hilangnya tradisi keilmuan di tengah-tengah umat Islam, termasuk di kalangan generasi muda muslim. Bahkan, lanjut Adian, tak sedikit di antara umat Islam yang minder mempelajari peradaban dan keilmuannya. Sebaliknya, justru kagum berlebihan bahkan menjiplak tanpa sikap kritis kepada peradaban lain—terutama Barat.

Apa yang disinggung oleh Adian sebetulnya sudah pernah disinggung lebih awal oleh Ibnu Khaldun (1332-1406) ketika mengatakan Al-Maghlub mula‘un abadan bi l-iqtida’ bi l-ghalib fi shi‘arihi wa ziyyihi wa milatihi wa sa’iri ahwalihi wa ‘awa’idihi (Si pecundang senantiasa meniru penakluknya, baik dalam slogan, cara berpakaian, beragama dan seluruh gaya serta adat istiadatnya). Ibnu Khaldun memberi gambaran tentang kebiasaan manusia yang kalah, yang selalu mengekor pada yang menang, baik dalam bidang keilmuan, pemikiran, politik, militer, sosial, pendidikan, ekonomi, budaya dan seterusnya.

Mungkin saja dalam konteks tertentu umat Islam atau juga kaum liberal terkesima dengan pernyataan Abdullah Cevdet,  tokoh Turki Muda, “There is only one civilization, and that is European civilization. Therefore, we must borrow western civilization with both its rose and its thorn.” Jadi, menurut Cevdet, kalau mau menjadi atau menghadirkan peradaban yang maju, maka jangan sekadar memetik kebaikan Barat tapi juga keburukannya. Satu falsafah yang tentu saja sangat bertentangan dengan cara pandang (Islamic Worldview) kaum muslimin.

Jika kita membaca sejarah, maka sebetulnya kita dapat memahami bahwa umat Islam memiliki sejarah peradaban yang sangat gemilang. Sekian abad Islam menguasai peradaban dunia, bahkan sampai 2/3 dunia, adalah satu fase sekaligus fakta sejarah yang tidak terhapus dalam catatan sejarah peradaban manusia. Dengan demikian, menurut Prof. Wan Daud (yang sering disapa Profan oleh koleganya)—dalam sebuah Seminar Pendidikan Internasional tahun 2009 di ITB dan Lonching buku Islam dan Sekularisme (edisi terbitan PIMPIN, Bandung, 2010) tahun 2010 di UPI Bandung—dapat dipahami bahwa Islam adalah sistem sekaligus konsep yang inheren dengan peradaban umat manusia. Atau dalam bahasa lain, menurut Hamid Fahmy Zarkasyi, Islam itu sangat manusiawi, insaniyah.

Lebih lanjut, kalau kita membaca bukunya Dr. Majid Irsan Al-Kilani, Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, maka di situ sangat jelas dan runut dipaparkan bagaimana uniknya Islam, keunggulan sekaligus penyakit umat Islam. Mengamini pemaparan Al-Kilani, Hamid Fahmy—dalam acara Tasyakuran Insitute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) tahun 2008 lalu di Depok—mengatakan bahwa secara konseptual, Islam memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri, seperti kematangan konsepsional dalam beberapa aspek berikut: Konsep Teologi, Kenabian, Wahyu, Keilmuan, Muamalah, Sosial, Kehidupan Dunia-Akhirat dan seterusnya, dimana semua itu saling terkait, dan tentu saja sangat berbeda dengan sistem keyakinan atau kepercayaan agama lain seperti di Barat. Dengan begitu—di momentum acara yang sama—menurut Adian Husaini, Islam itu memiliki konsep yang ekslusif dan inklusif sekaligus. Di satu sisi, ia memiliki kekhasan (ekslusif) yang membuatnya berbeda dengan yang lain, sementara di sisi lain, ia juga memiliki hal-hal yang sama dengan yang lain (inklusif). Islam memahami adanya hal-hal ekslusif agama lain tapi  bukan berarti menganggapnya benar. Hal ini, misalnya, bisa dipahami dari Qur’an surat al-Kafirun (109) ayat 1-6.

Dari konsep-konsep Qur’ani tersebut kemudian secara keilmuan muncul berbagai keilmuan dalam kajian keislaman seperti tauhid, akhlak, tafsir, ulumul qur’an, ulumul hadits, mustholahul hadits, ushul fiqih, fiqih, faro’id, nahwu, shorof, balagoh, mantiq, astronomi, optik, kedokteran, pertahahan, strategi perang, ekonomi, politik, tata negara, sosial, budaya dan seterusnya. Lagi-lagi itulah pemicu yang menyebabkan Islam mampu menjadi soko guru peradaban dunia selama sekian abad. Dengan begitu, menurut Hamid Fahmy, Islam sudah dewasa sejak lahir. Tidak seperti agama lain yang masih mencari konsep—yang sampai kapanpun tak akan mereka temukan, alias hanya mencari sesuatu yang nihil dan nisbi. Lalu, atas dasar apa kaum liberalis menjiplak sesuatu yang masih gamang seperti itu?

Islam sangat berbeda dengan agama atau kepercayaan lain yang sudah terkena virus paham liberal, relativis dan agnotis yang tidak memiliki basis konsep yang jelas—yang kemudian melahirkan paham Liberalisme Agama, Pluralisme Agama, Sekularisme, Feminisme dan seterusnya. Bukan saja dangkal dari sisi konsepsional, paham-paham tersebut justru akan lebih elegan jika dipahami sebagai bentuk kedangkalan berpikir sekaligus kebingungan keyakinan yang sangat keropos. Sejak awal Islam sudah memiliki konsep-konsep yang utuh, yang tentu saja sangat berbeda jauh dengan agama atau kepercayaan lain.

Syamsuddin Arif dalam Orientalisme dan Diabolisme Pemikiran menyinggung soal ini. Dalam tradisi Barat, menurut Arif, hermeneutika sudah dijadikan sebagai ilmu tunggal untuk memahami teks kitab suci mereka. Yang pada ujungnya, mereka bingung sendiri dengan apa yang mereka sebut sebagai agama atau kepercayaan. Apalah lagi urusan sosial dan budaya, pasti kacau balau. Ilmu—walau bukan benar-benar ilmu—yang melakukan proses desakralisasi atas Bibel ini kemudian dalam konteks kekinian oleh Nasr Hamid Abu Zayd dijadikan sebagai ilmu tafsir baru untuk menafsir Al-Qur’an. Alih-alih membangun tradisi keilmuan yang otentik dan menambah keimanan umat Islam kepada Al-Qur’an, Abu Zayd justru menghadirkan kedangkalan ilmu dan keraguan secara masif di kalangan akademisi dan kaum muslimin atas sumber bahkan seluruh ajaran agamanya. Abu Zayd dan kawan-kawannya (termasuk penjiplak pemikirannya) tentu saja sangat menolak konsep Islam yang diyakini oleh kaum muslimin bahwa lafaz dan makna Al-Qur’an dari Allah. Bagi mereka, pemahaman kaum muslimin seperti itu justru menegasikan peran akal secara sepihak. Pada sisi lain, mereka juga menolak konsep keilmuan yang disistematikakan oleh ulama terdahulu, baik ilmu ushul fiqih, ulumul hadits, ulmul Qur’an dan semacamnya. Mereka lebih suka menghadirkan konsep baru sesuai selera nafsunya, tanpa menghiraukan otentitas keilmuannya.

Hendri Shalahuddin dalam bukunya Al-Qur’an Dihujat begitu apik menjelaskan bagaimana upaya para orientalis dan kaum liberal dalam melakukan penghujatan secara massal dan masif kepada Al-Qur’an. Tidak saja melalui forum seminar, workshop dan diskusi terbuka, bahkan untuk memuluskan agenda ini mereka sudah masuk dalam sistem dan kurikulum pendidikan—terutama di perguruan tinggi Islam. Di kampus-kampus berlabel Islam, mereka berhasil menghujat Al-Qur’an dan segala keunggulan konsep-konsepnya. Sekadar contoh, satu jurnal yang begitu masif dalam melakukan penghujatan adalah jurnal Justisia milik fakultas Syari’ah IAIN Semarang. Dalam berbagai edisinya, jurnal ini begitu kental melakukan proses dekonstruksi dan desakralisasi terhadap Al-Qur’an juga konsep-konsep syari’at dalam Islam.

Mengenai pemaparan ini dapat juga dibaca dalam bukunya Adian Husaini seperti dalam buku:  buku (1) Wajah Peradaban Barat, (2) Hegemoni Kristen Barat dalam Study Islam di Perguruan Tinggi, dan (3) Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam. Atau kita juga bisa baca dalam buku Metodologi Bibel dalam Study Al-Qur’an karya Adnin Armas. Semuanya begitu apik dan kritis memberi penjelasan bagaimana kesesatan kaum liberal sekaligus bagaimana kaum liberal tersebut menjalankan operasinya. Tentu saja buku-buku tersebut ditulis oleh mereka yang mumpuni secara keilmuan, sehingga siapapun sangat dianjurkan untuk mengkaji buku-buku tersebut agar memiliki basis argumentasi yang jelas dalam menghadapi berbagai paham nyeleneh di tengah-tengah umat Islam.

Sekadar contoh, mari perhatikan pernyataan pengikut sekaligus pecandu liberal alias pemahaman nyeleneh berikut ini:

“Al-Qur’an yang kita baca sekarang itu tidak otentik, ia bias sumber. Ia lebih merupakan karya Utsman yang sangat rentan kepentingan politik dan kekuasaan tertentu. Dan karena itu otentisitasnya perlu digugat kembali.”

 

“Tanpa menegasikan besarnya peran yang dimainkan Mushaf Utsmani dalam mentransformasikan pesan Tuhan, kita terlebih dulu menempatkan Mushaf Utsmani itu setara dengan teks-teks lain. Dengan kata lain, Mushaf itu tidak sakral dan absolut, melainkan profan dan fleksibel. Yang sakral dan absolut hanyalah pesan Tuhan yang terdapat di dalamnya, yang masih dalam proses pencarian.”

 

“Hanya Allah yang tahu kebenaran, semantara manusia tidak tahu kebenaran.”

 

“Penafsiran manusia atas Qur’an itu relatif kebenarannya, hanya teks Tuhan yang final. Dan itu tidak bersama dengan manusia. Karena yang dibaca oleh umat Islam sekarang hanyalah teks budaya, karya manusia biasa yang bisa jadi salah alias keliru.”

 

“Kenabian Muhammad itu tidak final, sebab dalil yang dipakai sangat sobjektif; sumbernya Wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang diterima oleh Muhammad Saw. sendiri dari Tuhannya, yang pada prinsipnya sobjektifitas Muhammad-nya sangat jelas.”

 

“Tidak ada tafsir final dan tunggal dalam Islam, sebab semua tafsir adalah relatif. Sebagian besar umat Islam mengimani dan mengamalkan Islam yang sobjektif itu.”

 

“Ushul fiqih itu adalah ilmu dalam tradisi keilmuan Islam yang sama sekali tidak membangun perkembangan keilmuan, tapi justru membatasi aktivisme keilmuan dalam Islam. Ujung-ujungnya, ruang ijtihad ditutup rapat. Padahal Islam adalah agama yang bersumberkan pada teks yang bebas untuk diinterpertasi oleh manusia mana pun.”

 

“Kaum Muslim lebih suka terbuai dengan kerangkeng dan belenggu pemikiran fiqih yang dibuat imam Syafi’i. Kita lupa, imam Syafi’i memang arsitek ushul fiqih yang paling brilian, tapi juga karena Syafi’ilah pemikiran-pemikiran fiqih tidak berkembang selama kurang lebih dua belas abad. Sejak Syafi’i meletakkan kerangka ushul fiqihnya, para pemikir fiqih Muslim tidak mampu keluar dari jeratan metodologinya. Hingga kini, rumusan Syafi’i itu diposisikan begitu agung, sehingga bukan saja tak tersentuh kritik, tapi juga lebih tinggi ketimbang nash-nash Syar’i (al-Quran dan hadits). Buktinya, setiap bentuk penafsiran teks-teks selalu tunduk di bawah kerangka Syafi’i.”

 

“Jilbab itu urusan budaya, jika budaya suatu bangsa tidak memungkinkan, maka jilbab tidak dapat dijadikan bagian dari aturan atau kewajiban yang perlu ditunaikan.”

 

“Zakat itu hanyalah kewajiban sosial, bukan kewajiban syari’at. Sehingga meninggalkannya tidak serta merta menjadi dosa.”

 

“Nikah beda agama itu HAM, tidak ada ruang agama dalam soal ini. Agama itu urusan privat, dan sama sekali tidak mengurusi masalah selera dan hak orang untuk memulai hubungan sosial.”

 

Dan berbagai berbagai pernyataan nyeleneh lainnya.

Itulah hasil dari paham relativis, liberal dan agnotis yang sudah merasuk dalam keyakinan dan pemahaman sebagian umat Islam saat ini. Ia benar-benar merusak bahkan membongkar konsep-konsep dasar Islam. Parahnya, pemahaman-pemahaman nyeleneh tersebut dipasarkan oleh mereka yang konon dinamai cendekiawan atau intelektual muslim di berbagai perguruan tinggi Islam dan lembaga kajian tertentu.

Pertanyaannya: Siapa yang salah, pada bagian mana kah dari pemikiran-pemikiran tersebut yang bertentangan dengan konsep pemikiran dan keilmuan dalam Islam? Sederhana saja, silahkan baca dan renungi secara mendalam pertanyaan-pernyataan tersebut. Nanti akan terasa dan terlihat di mana kekeliruannya.

Lebih jauh mengenai picik dan dangkalnya pemahaman-pemahaman tersebut, kita sepatutnya menyempatkan diri untuk membaca buku Metodologi Study Al-Qur’an karya kolaboratif ketiga aktivis liberal alias pemasar pemahaman nyeleneh: Abd. Muqsith Ghazali, Luthfi Assyaukani dan Ulil Abshar Abdalla. Atau baca juga buku karya Nasr Hamid Abu Zayd (tokoh kaum liberal)—yang dalam terbitan Indonesianya, berjudul—Imam Syafi’i: Moderatisme, Ekletisme, Arabisme. Dari dua buku tersebut saja—di samping puluhan buku nyeleneh lain—sudah cukup bagi umat Islam untuk mengatakan bahwa paham liberal, relativis dan agnotis itu benar-benar merusak konsep dasar Islam dan keilmuan dalam Islam.

Sepintas, mari kita memberikan sedikit penalaran untuk sebagian pernyataan nyeleneh di atas. Jika ada orang yang mengatakan bahwa kebenaran itu hanya Allah yang tahu sedangkan manusia tidak tahu kebenaran alias kebenaran itu relatif, maka orang tersebut sedang melakukan penghinaan kepada 3 elemen sekaligus. Agar lebih maklum, mari kita urai satu persatu.

Pertama, menghina Allah Swt. yang telah menurunkan Wahyu kepada Nabi Muhamad Saw. untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Jika hanya Allah Swt. yang tahu kebenaran, lalu untuk apa Allah menurunkan Wahyu kepada Nabi Muhammad, seorang manusia yang dianggap tidak tahu kebenaran? Apakah Allah jahil alias tidak tahu kemampuan, pemahaman atau keyakinan manusia, termasuk Nabi sekaligus Rasul utusan-Nya dalam menunaikan amanah-Nya?

Kedua, menghina Nabi Muhammad Saw. Sebab beliau Saw. adalah manusia yang mendapatkan amanah menyampaikan Wahyu kepada umat manusia. Jika hanya Allah Swt. yang tahu kebenaran, lalu untuk apa Nabi Saw. diutus? Bukan kah beliau mendapatkan amanah untuk menyampaikan kebenaran, sementara beliau dinilai tak mampu memahami kebenaran? Untuk apa Allah menurunkan Wahyu kepada manusia yang masih relatif;  antar kemungkinan bisa benar dan bisa keliru dalam menyampaikan Wahyu dari Allah Swt.?

Ketiga, menghina dirinya sendiri. Mengapa? Karena pernyataan itu justru menunjukkan ketidakkonsistenan keyakinan dan pemahamannya. Kalau dia tidak percaya bahwa manusia bisa mengetahui kebenaran, lalu apakah pendapat dia yang menolak pemahaman bahwa manusia bisa mengetahui kebenaran bisa diterima? Pertanyaan sederhananya: dari mana dia tahu bahwa apa yang dia yakini atau pernyataan yang dia katakan itu berada pada posisi benar alias tidak salah? Dari mana dia tahu bahwa orang yang meyakini bahwa manusia bisa tahu kebenaran itu salah? Ukurannya apa, dari siapa dan atas dasar apa?

Coba kita dalami sekali lagi. Jadi, di satu sisi dia menolak konsep benar-salah, sementara pada sisi yang lain dia menerimanya—tentu saja sesuai selera dan sesuka nafsunya. Bukan kah ini merupakan pemahaman yang sangat relatif bahkan sangat dangkal juga salah satu sikap yang sangat tidak adil? Jadi, pernyataan dia sendiri sangat relatif alias belum tentu benar, lalu dengan sepihak mengkalim ini salah dan itu benar. Kalau yang menyampaikan pernyataan tersebut adalah non muslim, maka hal tersebut sangat wajar, sebab mereka tidak memiliki standar kebenaran yang final dan jelas. Sebagaimana yang disinggung oleh Adian Husaini dalam buku Wajah Peradaban Barat mengenai problem besar yang membuat Barat semakin bingung dan menjauhkan agama, yaitu: problem teologi, problem teks kitab suci dan problem sejarah peradaban Barat.

Lain Barat, lain Islam. Karena itu, jika yang mengeluarkan pernyataan tersebut adalah umat Islam (apalagi akademisi atau intelektual muslim), maka kita perlu meluruskannya. Sebab, Islam punya konsep tausiyah yang mewajibkan adanya saling mengajak kepada kebenaran dan kesabaran di antara umatnya. Dalam Islam terdapat hal-hal yang bersifat ekslusif, terdapat juga yang bersifat inklusif sekaligus. Dalam masalah aqidah, pasti hanya Islam yang benar. Dan itu adalah konsep yang sangat ekslusif dalam Islam, yang tentu saja bertentangan dengan agama lain. Sekali lagi, kita perlu meluruskan pemahaman-pemahaman tersebut, agar umat Islam tidak terkecoh dengan berbagai pemahaman dan kepercayaan yang menyesatkan. Itulah dakwah, itulah warisan para nabi dan generasi awal agama ini, yang perlu kita wariskan.

Berbagai pemahaman nyeleneh tersebut lahir karena mereka tidak mengakui sumber ilmu pengetahuan. Alih-alih tidak mengakui alias tidak percaya, mereka bahkan tidak berpijak pada sumber otentik keilmuan sebagaimana yang dipraktikkan oleh para ulama terdahulu. Lain ulama Islam, lain liberal. Mereka (kaum liberal) sangat berbeda bahkan sangat jauh dari semangat para ulama terdahulu dalam mendalami ilmu dan mewarisi tradisi intelektual di tengah-tengah umat. Sederhana saja, apa karya ilmiah kaum liberal yang benar-benar tersohor dan memiliki nilai otentitas dari sisi keilmuan yang patut dibanggakan umat Islam? Apakah mereka berhasil menulis kitab tafsir sebagaimana yang ditulis oleh ulama-ulama Islam? Apakah mereka mampu membangun konsep dasar keilmuan seperti ushul fiqih dan fiqih? Jawabannya, tentu saja tidak. Penyebab utamanya: mereka menolak otoritas Wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhamad Saw.

Para ulama dan ilmuwan muslim menggariskan bahwa syarat mendapatkan pengetahuan atau juga kebenaran itu paling tidak melalui beberapa hal, yaitu: Pertama, Wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Misalnya: tentang Konsep Ketuhanan, Konsep Kenabian, Konsep Wahyu, Konsep Penciptaan, Konsep Kemanusiaan, Konsep Kehidupan dll. Di sinilah titik beda paling mendasar antar agama dan (sekadar) kepercayaan. Agama—dalam hal ini Islam—memiliki konsep finalitas, sementara yang lain pasti tidak final, apalagi “isme” kaum liberal, pasti sangat tidak final.

Kedua, Panca indra. Misalnya: rasa manis, pahit, asam, panas, dingin dll. Contoh kecil, untuk mengetahui apakah api itu panas atau tidak, kita dapat mengetahuinya dari ujicoba para pendahulu. Nah, kita mengatakan panas (atau tidaknya) api hasil ujicoba itulah yang terwariskan sejak adanya api—termasuk zaman nabi Ibrahim—sampai saat ini. Lebih lanjut, untuk zaman berikutnya kita sepakat bahwa api itu panas tanpa kita mencoba-coba memeganganya, sebab sudah yakin bahwa api itu panas. Kebenaran tersebut kita dapatkan dari fungsi indra.

Ketiga, Rasio (Akal). Misalnya: Anak pasti dilahirkan oleh ibunya, ayah pasti berjenis kelamin laki-laki, ibu pasti berjenis kelamin perempuan, orangtua tidak mungkin dilahirkan oleh anak atau adik juga kakaknya, sebagian pasti lebih sedikit daripada keseluruhan, adik pasti lebih muda umurnya daripada kakaknya, nenek pasti lebih tua umurnya daripada anak dan cucunya dll. Kita sudah maklum dengan hal-hal tersebut.

Keempat, Khobar Sodiq (berita benar). Misalnya: periwayatan hadits nabi Saw. dll yang kita yakini kebenarannya. Atau bisa juga tentang kebenaran fakta sejarah bahwa ‘Aisyah binti Abu Bakar adalah istri Nabi Muhamad Saw., Fatimah Az-Zahra istri Ali bin Abi Thalib adalah anak Nabi Muhamad Saw., dan begitu seterusnya. Kita meyakininya, karena kita mengetahuinya secara turun temurun dari sejarah yang tak terputus hingga sekarang bahkan ke depan.

Sekarang, mari kita berbicara tentang kekinian umat Islam. Selama hampir 2 abad terakhir, umat Islam belum mampu menjadikan Islam sebagai basis nilai dalam percaturan dan mengelola peradaban global. Bukan saja sistem kekhilafahan yang dirampas oleh para penjajah, bahkan konsep-konsep dasar Islam pun sekarang mereka otak-atik. Yang lebih parahnya lagi, cara beriman umat Islam juga mereka gugat. Tentu saja di samping kelemahan umat Islam secara internal yang begitu akut, seperti kemiskinan, kebodohan dan lain-lain.

Nah, dalam konteks masa depan, umat Islam memiliki tangung jawab besar untuk melampaui semua itu. Umat Islam sangat perlu melakukan lompatan sejarah baru dalam konteks menghadirkan peradaban islami di tataran global.

Jika dicermati, peradaban Islam akan bangkit dan mampu melakukan hal tersebut karena 2 hal, yaitu, pertama, kebanggaan berislam umat Islam, dan kedua, kontinyuitas sejarah Islam. Kebanggan ber-Islam tidak hanya diukur dari pengakuan lidah semata, tapi juga diiringi oleh kesungguhan untuk mempelari, memahami, meyakini, mengamalkan dan mendakwahkan Islam secara total ke seluruh penjuru dunia. Hal itu akan tercapai jika umat Islam mau mempelajari sejarah masa lalu peradabannya, agar lebih jeli dan paham bagaimana menatap dan merencanakan masa depan peradabannya. Umat Islam mesti mempelajari berbagai ilmu, baik ilmu-ilmu dasar maupun ilmu turunan. Jika ingin bangkit, mempelajari semua ilmu tersebut hukumnya bukan sekadar fardhu kifayah bahkan bisa meningkat menjadi fardu ‘ain.

Kita tentu sangat paham makna hadits yang sering dikaji oleh kalangan santri di pesantren atau pecinta ilmu berikut ini. “Jadilah kamu yang mengajar, yang belajar, yang mendengar, yang senang (dengan aktivitas keilmuan) dan jangan jadi yang kelima, sebab kamu akan binasa!” (Al-Hadits). Itulah kata kunci peradaban itu bisa bangkit kembali. Standarnya mengajar dan belajar, mendengar dan mencintai,,, Dan tidak menjadi yang kelima; orang malas yang tak menjadi apa-apa, tak melakukan apa-apa. Sebab kemalasan hanya mengakibatkan kebinasaan atau kehancuran peradaban.

Dinamika progresifitas atau peradaban yang maju itu sendiri terjadi karena ia memiliki titik tuju yang jelas. Islam memiliki titik tuju yang jelas yaitu Allah Swt., sementara Barat tertuju pada syahwat (wanita, harta dan jabatan). Karena itu, pada faktanya Barat yang saat ini kita saksikan bukanlah peradaban gemilang, tapi peradaban jahili alias rendahan. Kalau peradaban Islam, justru sebaliknya. Sehingga Islam mampu mengendalikan dunia selama sekian abad, bukan saja menghadirkan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi umat Islam, bahkan juga untuk non muslim. Inilah peradaban yang benar-benar beradab.

Sekali lagi, itulah kenyataan sejarah peradaban Islam yang susah dibantah oleh peradaban Barat. Peradaban Islam adalah peradaban yang beradab; menghargai jiwa dan raga sekaligus. Tidak memisahkan antar hati, akal dan fisik. Tidak mendikotomiskan secara serampangan antar urusan dunia dan akhirat. Prof. Naquib Al-Attas mengatakan, “Hadaplah pada jiwamu, sebab engkau menjadi manusia bukan karena fisikmu tapi karena jiwamu!”. Sebaliknya, Barat lebih fokus pada fisik dan materi, sehingga materi adalah ukuran utama maju atau tidaknya peradaban. Lagi-lagi, lain Barat lain Islam. Islam sangat akomodatif terhadap kebutuhan manusia, jiwa maupun raganya. Sungguh benar anonim berikut ini: “Satu-satunya peradaban yang menyelamatkan peradaban Barat dari kebingungan dan keraguan adalah peradaban Islam.”

Upaya membangun peradaban islami hanya mungkin dilakukan di atas dasar ilmu. Itulah yang dalam kajian sejarah peradaban Islam kita kenal sebutan tradisi inetelektual Islam. Secara teknis, upaya membangun tradisi intelektual dapat dilakukan dalam berbagai bentuk dan dapat menggunakan banyak sarana. Salah satu pemantiknya adalah Workshop. Semoga dengan metode Workshop upaya kita dalam melahirkan generasi baru, basis intelektual muda muslim yang memiliki kekuatan keimanan dan basis keilmuan yang matang dapat berjalan masif. Sebab, apa yang kita nikmati saat ini adalah hasil kerja keras para pendahulu sekian tahun bahkan sekian abad yang lalu. Karena itu, kita memiliki tanggung jawab sejarah untuk melakukan lompatan sejarah baru pada saat ini, agar kelak kita bahkan generasi penerus kita bisa menikmati Islam bahkan mampu menjadikan Islam sebagai soko guru peradaban dunia.

Kata kuncinya: Ilmu. Bicara ilmu bukan sekadar gelar—apalagi ijazah—tapi soal tradisi atau kultur keilmuan yang begitu masif, yang bermanfaat dan membuat manusia yakin serta siap mengamalkan kebenaran yang dibawa oleh Islam. Mudah-mudahan ke depan kita mampu menjadi generasi baru yang siap berdebat dan berdialog secara terbuka dengan peradaban Barat. Kita memulainya dari sini, insya Allah. Semoga! [Oleh: Syamsudin Kadir, Pegiat Study Pemikiran dan Peradaban Islam. Cp: 081 804 621 609. Insya Allah bersama tim akan mengadakan Road Show dan Workshop Pemikiran Islam di beberapa kota di seluruh Indonesia pada tahun 2013 dan 2014]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s