Belajar Sukses Kepada Mba Uum Heroyati

Foto Mba Uum Heroyati dan Azka Syakira (Anaknya) ketika berkunjung ke Grage Mall Kota Cirebon-Jawa Barat
Foto Mba Uum Heroyati dan Azka Syakira (Anaknya) ketika berkunjung ke Grage Mall Kota Cirebon-Jawa Barat

MENJADI sukses adalah pilihan semua orang, apapun bentuknya dan dalam bidang apapun fokusnya. Semua potensi akan ia kerahkan untuk menggapai kesuksesan yang diimpikannya. Mencapai kesuksesan pada dasarnya bukan sekadar soal modal uang) semata tapi juga soal kemauan dan kesiapan bertindak segera. Nah, dalam kenyataan dunia yang semakin kompetitif ini, yang tak kalah pentingnya adalah keterampilan. Keterampilan bukan sekadar bisa, tapi membuktikan kemampuan diri dengan kerja dan karya nyata.

Memiliki keterampilan untuk membuat suatu karya yang bernilai seni sekaligus bernilai jual (baca: uang) pastilah diidamkan oleh semua orang. Terlebih pada zaman pergulatan ekonomi dan kepentingan bisnis yang menjadi-jadi ini. Orang sering menyatakan ini “era pengetahuan yang bekerja”, bukan “era pengetahuan yang disimpan di pikiran”. Yang masih bertahan dengan apa yang sudah didapat atau enggan melakukan apa-apa akan menjadi korban dan tergilas. Namun, mereka yang ingin menjadi pemenang alias sukses akan berjuang dengan apapun yang dimilikinya. Mengamini pemahaman tersebut, tak sedikit orang yang berusaha menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk melakukan hal-hal positif dalam menggapai apa yang menjadi impiannya. Itulah yang oleh para motivator menyebutnya dengan kreativitas dan produktivitas.

Wanita anggun ini adalah di antara manusia Indonesia yang ingin menjadi pemenang alias sukses dalam kontesta yang syarat “ekonomistis” ini. Ia memang bukan orang pertama, namun upayanya untuk memulai sesuatu adalah bukti nyata betapa ia benar-benar ingin menjadi orang sukses, orang yang mau membuat Indonesia semakin tersenyum. Hal itu bisa dipahami dari pilihannya untuk membagi waktu untuk keluarga, sekolah dan kini dengan usaha barunya. Di tengah amanahnya sebagai Ibu Rumah Tangga—yang mesti melayani suaminya, Kang Kadir dan anak anaknya, Azka Syakira (yang hiper aktif; tidak bisa “diam”), serta berbagai urusan Rumah Tangga lainnya—dan amanah sebagai seorang pendidik di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Sabilul Huda di Kota Cirebon-Jawa Barat, wanita yang mengaku tidak mau puas dengan “kemampuan standar” yang dimilikinya ini berupaya meningkatkan kualitas diri. Hal ini bisa dipahami dari ketekunan dan ketelatenannya dalam menjajal hoby barunya: membuat berbagai pra karya dari kain flanel/felt yang saat ini sedang marak di pasaran. Produk hasil karyanya pun beragam, mulai dari asesoris khas wanita seperti bros/pin dengan aneka bentuk (seperti bunga, binatang, kendaraan dan lain-lainnya), huruf alfabet (dari A-Z), tempat tisu dengan aneka bentuk dan warna, gantungan kunci dalam berbagai bentuk dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kini karya anak ke-6 dari 8 bersaudara ini sudah laku di pasaran, juga sudah dicari oleh konsumen dari berbagai kota di seluruh penjuru Indonesia—bahkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura sudah mulai mencari karyanya. Satu kenyataan yang tentu saja layak diapresiasi di tengah defisitnya produktivitas elit bangsa dalam menunaikan amanah rakyat pada panggung politik.

Walau masih sederhana, apa yang sedang ia lakukan sekarang adalah bukti nyata bahwa sebanyak apapun kegiatan atau sesibuk apapun seseorang, ia tetap saja punya kesempatan lain untuk melakukan aktivitas yang belum pernah ia tekuni sebelumnya. Mengutip pernyataan wanita yang lahir pada tanggal 11 Juni 1985 ini suatu ketika, “Nalar kreatif dan produktif merupakan jawaban terbaik bagi mimpi membangun Indonesia ke arah yang lebih maju. Bagaimanapun, negara maju merupakan buah kreatvitas anak bangsa. Kreativitas akan menjadi “wah” jika ia diwujudkan dengan karya nyaata (produktivitas). Semua itu berawal dari lingkungan kecil yaitu keluarga.”

 Dengan modal semangat (dan sedikit uang), wanita keturunan Jawa (Tengah)—yang dilahirkan dan besar di Subang dan Cirebon Jawa Barat—ini ingin membuktikan kepada siapapun bahwa kekuatan ekonomi-bisnis bisa diawali atau dibangun dari rumah tangga alias keluarga kecil. Hal itu bisa diwujudkan dengan membangun usaha kecil sekalipun.

Generasi muda (terutama mahasiswa) dan para ibu rumah tangga di manapun sepertinya perlu belajar kepada wanita Pendidikan Bahasa Inggris Institut Agama Islam Negeri Syekh Nur Jati (IAIN SNJ) Cirebon angkatan 2004 yang lulus tahun 2010 ini. Semangat, kreativitas dan produktivitasnya memang bukan asal, sebab ia mendapatkannya melalui perjalanan panjang selama aktif di berbagai organisasi, termasuk selama menjadi aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) sejak 2004 hingga kini.

Ah, terlalu banyak hal positif yang bisa diperoleh jika bersua dengan wanita yang bernama lengkap Uum Heroyati yang lahir pada tanggal 11 Juni 1985 ini. Jika berkenan, saya menganjurkan sahabat untuk berkenalan dengannya. Bisa jadi ada hal-hal positif yang bisa sahabat bicarakan, terutama mengenai membangun usaha kreatif di rumah—di tengah-tengah berbagai kesibukan atau amanah lain. Saya hanya mengenalkan kepada sahabat, manusia biasa—yang sering disapa Mba Uum—yang punya potensi positif ini. Demikianlah cara kita membangun Indonesia, tak lelah mencari inspirasi dari siapapun dan kapaun. Selamat dan salam sukses! [Oleh: Seorang sahabat dekat yang selalu menemaninya. Jakarta; Ahad, 27 Januari 2013]

 

Catatan: Bagi sahabat yang ingin memesan karyanya silahkan hubungi di 081 804 621 609, 085 220 910 523 (A.Azka S) 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s