Melacak Jejak Islam Liberal

Wajah Penoda AgamaPemikiran Islam Liberal berawal dari gerakan sekularisasi agama yang dipelopori oleh sebagian aktivis yang berhaluan Barat. Di berbagai Negara muslim, termasuk Indonesia, modus serupa ditemukan sama. Dan menariknya, sebagaimana dikemukan oleh Syamsuddin Arif, pemikiran sekular-liberal berkembang di negeri-negeri muslim pascakolonialisasi oleh bangsa-bangsa Eropa. Sebelumnya, hampir tidak akan ditemukan intelektual muslim yang berhaluan sekular-liberal. Yang ada paling hanya para orientalis Barat (non-muslim) yang memang mempunyai misi untuk memasyarakatkan sekularisasi pemikiran keagamaan, seiring dengan misi penjajahan kolonial itu sendiri.

Di Mesir misalnya, proses sekularisasi berlangsung setelah masuknya penjajah Prancis pada tahun 1798 dan Inggris pada tahun 1802. Tidak sampai 100 tahun kemudian lahirlah tokoh-tokoh yang menyerukan pembaharuan ala Barat. Di antara pionirnya adalah Rif’ah at-Thahthawi (1801-1873) yang pernah tinggal di Paris selama lima tahun dan mengenyam karya-karya pemikir Prancis terkemuka seperti Voltaire, Condillac, Rousseau dan Montesquieu. Menurutnya, ketika negeri muslim tidak berdaya menghadapi invasi bangsa-bangsa Eropa, modernisasi dan sekularisasi menjadi keharusan agar bisa ‘maju’ seperti Eropa.

Qasim Amin (1863-1908) kemudian menyusul dengan idenya bahwa syari’at Islam telah menghambat kemajuan. Lalu, ‘Ali ‘Abdu-Raziq yang mengklaim bahwa politik Islam tidak ada dasarnya dalam Al-Qur’an, hadits maupun ijma’ ulama. Ia menuding bahwa sistem khilafah bertanggung jawab atas ketertinggalan umat Islam.

Ada juga Thaha Husain (1889-1976) yang menyerukan sekularisasi bukan hanya dalam politik, tapi juga dalam pendidikan dan pengajaran. Yang kemudian disambut oleh Gamal Abden Nasser (1952-1970)[1] seorang presiden yang kemudian memberangus Ikhwanul Muslimin (IM) dan menghukum mati para tokohnya, di antaranya Sayyid Qutbh.

Di India, pemerintah kolonial Inggris secara bertahap mencabut undang-undang (syari’at) Islam dan menggantikannya dengan hukum mereka. Sehingga mulai tahun 1870, hukum Islam hanya terbatas pada urusan pribadi seperti pernikahan dan warisan. Hal ini disokong oleh sejumlah pemikir liberal pada masa itu, seperti Sir Sayyid Ahmad Khan, Nawwab Abdul-Latif, Mustafa Khan dan Khuda Bakhsh. Sayyid Ahmad Khan misalnya menyatakan bahwa tafsir Al-Qur’an harus rasional dan agama harus ditarik dari ruang publik. Hal serupa kemudian diikuti oleh Fazlur Rahman di negara tetangganya, Pakistan. Hanya karena upaya Fazlur Rahman ini agak kesiangan, ia tidak kuat bertahan lama menghadapi kuatnya pengaruh para ulama Pakistan yang membentengi umat Islam dan selalu melakukan gugatan atas ide pemikiran liberal yang berkembang. Akhirnya ia pun memilih ‘minggat’ alias ‘melarikan’ diri ke Chicago, Amerika.

Di Turki, kekalahan dalam perang melawan Rusia tahun 1774 dan kegagalan Mesir dari invasi Napoleon tahun 1798 telah memaksa Imperium Turki Usmani untuk melakukan modernisasi dalam semua aspek. Usaha ini kemudian dilanjutkan oleh Mustafa Kemal Ataturk yang menggulirkan sekularisasi demi ‘kemajuan’ bangsa Turki. Akibatnya khilafah diberhentikan, hukum Islam dihapuskan, dan simbol-simbol Islam dilarang.[2]

Di Indonesia, kasusnya tidak jauh berbeda. Pemikiran liberal dengan tajuk ‘sekularisasi’ dan ‘pembaruan’ dengan pionir Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid dan Harun Nasution juga dalihnya modernisasi. Ide-ide yang dipasarkan tidak jauh beda dengan para pendahulunya. Nurcholish bergerak di kalangan anak muda dan terjun ke berbagai NGO dan organisasi mahasiswa, Abdurrahman Wahid bergerak di lingkungan internal NU, dan Harun Nasution bergerak di lingkungan kampus dengan melakukan liberalisasi di IAIN. Ketiga tokoh ini kemudian dijadikan panutan oleh anak-anak muda berikutnya yang menamakan dirinya Jaringan Islam Liberal (JIL)[3] di samping segelintir orang nyeleneh dalam beberapa kelompok kajian.

Menarik untuk mencermati analisa Yudi Latif dalam disertasi doktoralnya tentang Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20. Di mana ia menyimpulkan bahwa lahirnya gerakan liberal adalah sebagai respon akomodasionis (kompromi) terhadap rezim Orde Baru yang meminggirkan Islam (baca: sekularisasi) dan mengutamakan pembangunan. Ini berarti senada dengan analisa Syamsuddin Arif di atas, walau bukan berarti turut menjiplak darinya. Menurut Yudi Latif, pada waktu itu ada dua faksi utama: (1) para penganjur gerakan dakwah Islam dan (2) para penganjur gerakan liberal Islam yang sering disebut “gerakan pembaruan”. Faksi pertama bersikap rejeksionis/pro. Para aktivis Islam dari universitas sekuler merupakan penyokong utama faksi pertama, sedangkan aktivis Islam dari IAIN dan lembaga pendidikan NU merupakan penyokong utama faksi kedua.

Lembaga Mujahid Dakwah (LMD), Lembaga Dakwah Kampus (LDK), lingkaran-lingkaran keagamaan di kampus umum, masjid-masjid “independen” dan harokah Islam yang bersifat global serta program-program mentoring Islam merupakan saluran-saluran utama bagi transmisi ideologi dakwah. Di sisi lain HMI, PMII, NGO-NGO/LSM, dan lingkaran-lingkaran mahasiswa dan intelektual di IAIN dan NU menjadi katalis utama bagi proses transmisi ide-ide pembaruan/liberal. Yudi Latif pun kemudian menyebutkan nama-nama seperti Hatta Radjasa, Hidayat Nurwahid, Adian Husaini dan Anis Matta sebagai contoh inteligensia faksi pertama; dan Azyumardi Azra, Masdar Farid Mas’udi, Komarudin Hidayat, Ulil Absar Abdalla, Luthfi Assyaukanie sebagai contoh inteligensia faksi kedua.[4]

Sebagaimana terlihat di atas, pemikiran Islam Liberal jelas merupakan produk kolonialisasi dan sekularisasi yang dilancarkan Barat, karena tidak akan ditemukan mata rantai yang menghubungkan mereka dengan jejak pemikiran Islam yang sesungguhnya. Ia juga tidak lebih dari sikap “akomodasionisme” (kompromi) terhadap penguasa sekuler yang kering dari nilai-nilai kritis, untuk tidak dikatakan sebagai pecundang pemikiran liberal dan pencopet isi dompet penguasa. Walau mereka sering mengetengahkan ayat-ayat Al-Qur’an, hadits, ijma’ atau atsar salaf, akan tetapi kesan “terlalu dipaksakan” tidak dapat disembunyikan. Dan seringnya mereka memperlihatkan kejujurannya dalam menyandarkan pendapat kepada para orientalis semakin mengokohkan asumsi bahwa memang pemikiran liberal yang sering mereka lontarkan dijiplak—atau berasal—dari rahim Barat yang sekular-liberal.

Dengan demikian, Islam Liberal pada hakikatnya bukanlah Islam. Mereka hanyalah kaum lemah yang tidak berorientasi pada masa depan, tapi berorientasi pada masa lalu. Dalam pengertian, mereka berorientasi pada masa lalu di mana Barat candu terhadap agama, sehingga pada gilirannya anti agama dan semua sumber juga konsep-konsep dasarnya. Menjadikan Islam seperti agama di Barat, jelas merupakan tindakan inferior dan sangat keliru, karena Islam tidak bernasib sama dengan Barat yang memiliki problem dalam masalah agama, baik dalam sejarah, konsep Tuhan dan kitab suci maupun dalam konsep-konsep peribadatan dan kehidupan. Sejak awal Islam sudah memiliki konsep toleransi sehingga tidak perlu paham pluralisme agama, Islam juga tidak bermasalah dalam konsep agamanya dan seluruh aspek kehidupan. Dari dulu sampai sekarang semua konsep tersebut diyakini dan diparktikkan dalam kehidupan umat Islam tanpa masalah. Jadi, jika kaum liberal menyamakan Islam dengan Barat, itu adalah bukti nyata bahwa mereka tidak menggunakan akal sehat alias kemalasan berpikir.

Mengenai hal ini, kita bisa maklum dengan pernyataan Ibnu Khaldun (1332-1406), Al-Maghlub mula‘un abadan bi l-iqtida’ bi l-ghalib fi shi‘arihi wa ziyyihi wa milatihi wa sa’iri ahwalihi wa ‘awa’idihi (Si pecundang senantiasa meniru penakluknya, baik dalam slogan, cara berpakaian, beragama dan seluruh gaya serta adat istiadatnya). [*Tulisan ini merupakan lanjutan (2) dari tulisan Mengenal Islam Liberal, Oleh: Syamsudin Kadir, Pegiat Kajian dan Study Pemikiran Islam/Cp: 081 804 621 609]


[1] Gamal Abdul Nasser lahir di Iskandariah (Alexandria) pada 15 Januari 1918—meninggal 8 September 1970 pada umur 52 tahun. Ia meninggal akibat penyakit jantung dua minggu setelah peperangan usai pada 28 September 1970. Ia digantikan oleh Anwar Sadat sebagai presiden Mesir.

[2] Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran. Jakarta: Gema Insani Press, 2008, hlm. 94-95.

[3] Nashrudin Syarief , Menangkal Virus Islam Liberal. Bandung: Persis Press, 2010, hlm. 17.

[4] Yudi Latif, Inteligensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Inteligensia Muslim Indonesia Abad ke-20. Bandung: Mizan, 2005, hlm. 661-663. Analisa Yudi Latif ini tentu masih perlu diperdebatkan. Karena tidak serta merta intelektual di IAIN dan NU pasti liberal. Tak sedikit aktivis dakwah dan kaum intelektual dari kampus Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) seperti UIN, IAIN dan STAIN juga NU yang justru menolak dan melakukan gugatan atas berbagai pemikiran liberal, termasuk dengan melakukan berbagai seminar, workshop dan lain-lain. Bahkan sudah banyak dari mereka yang berhasil meluruskan berbagai ide liberal melalui karya tulis seperti buku dan artikel di berbagai media massa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s