Kerancauan Istilah Islam Liberal

liberalJika dicerna lebih jauh, menyandingkan kata ‘Islam’ dan ‘Liberal’ pun dengan sendirinya menjadi sesuatu yang sangat bermasalah. Islam artinya kemenyerahan secara total kepada Allah, sementara Liberal artinya bebas tanpa ikatan. Islam menuntut adanya kepatuhan kepada aturan Ilahi, sementara Liberal menghendaki adanya kebebasan dari segala macam aturan Ilahi. Itu artinya, tidak mungkin Islam itu liberal. Islam ya Islam, Liberal ya Liberal. Hanya dikarenakan istilah ini sudah dibakukan oleh komunitas pemikir Islam, maka mau tidak mau dalam pembahasan ini kita mengikuti terlebih dahulu penggunaan ‘Islam Liberal’ untuk mempermudah penjelasan.

Istilah Islam Liberal sendiri untuk pertama kalinya diperkenalkan pada tahun 1950-an oleh Asaf Ali Asghar Fyzee (1899-1981), seorang intelektual Muslim-India. Ia menyatakan: We need not bother about nomenclature, but if some name has to be given to it, let us call it ‘Liberal Islam’ (Kita tidak perlu menghiraukan nomenklatur, tetapi jika sebuah nama harus diberikan padanya, marilah kita sebut itu Islam Liberal). [1]

Pemaparan Fyzee yang dikutip Kurzaman tersebut menunjukkan bahwa istilah tersebut tidaklah dibangun dengan konsep dan teori yang kokoh. Dan itu diakui sendiri secara sadar oleh Kurzaman yang kemudian mempopulerkan istilah tersebut dalam penelitian yang dilakukannya. Namun ia berkilah bahwa pengistilahan Islam Liberal tersebut hanya alat bantu analisis dan tidak terkait ideologi atau keyakinan tertentu.

Karena berawal dari kerancauan, maka penelitiannya yang diterbitkan pada tahun 1998 itu pun penuh dengan kerancauan. Entah apakah sengaja atau tidak, dalam penelitian tersebut akan dengan mudah ditemukan banyak kerancauan. Di antaranya adalah mengategorikan Yusuf Qaradhawy dan Mohammad Natsir—dua orang tokoh yang nota bene memperjuangkan syari’at Islam dan pembangkit semangat dakwah Islam tersebut—sebagai Islam Liberal.

Menghadapi pendapat ngawur Kurzaman—juga kaum liberal lainnya—beberapa cendekiawan Muslim memberikan pencerahan kepada umat Islam dan melakukan gugatan intelektual dengan berbagai cara— termasuk dengan karya tulis. Dalam hal ini yang sangat gigih, misalnya, Adian Husaini. Adian menulis beberapa buku, salah satunya Islam Liberal; Sejarah, Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya. Selain itu, bersama cendekiawan lain, Adian juga menegaskan bahwa Islam itu menuntut kepatuhan, sementara liberal menghendaki kebebasan. Dengan demikian, bagaimana mungkin ada titik temu antara kedua konsep yang bertentangan?

Jaringan Islam Liberal (JIL), selaku pihak yang mempromosikan istilah ‘Islam Liberal’ memberikan penjelasan:

 “Nama “Islam Liberal” menggambarkan prinsip-prinsip yang kami anut, yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. “Liberal” di sini bermakna dua: kebebasan dan pembebasan. Kami percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirannya. Kami memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu “liberal”. Untuk mewujudkan Islam Liberal, kami membentuk Jaringan Islam Liberal.”[2]

 Lebih lanjut dalam situs tersebut dijelaskan: “Islam Liberal” adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan landasan sebagai berikut:

a. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam.

Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).

b. Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks.

Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur’an dan Sunnah Nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.

c. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural.

Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.

d. Memihak pada yang minoritas dan tertindas.

Islam Liberal berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada kaum minoritas yang tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas yang minoritas adalah berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas di sini dipahami dalam maknanya yang luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik, dan ekonomi.

e. Meyakini kebebasan beragama.

Islam Liberal meyakini bahwa urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan.

f. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam Liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.[3]

Kaum JIL memang punya pola pemikiran tersendiri. Selain tak mau menerima kritikan—satu prinsip yang sering mereka gembar-gemborkan dalam berbagai wacana—mereka enggan membenah diri dari berbagai pemikiran keliru padahal mereka sering mengindentifikasi kelompoknya sebagai kelompok terbuka. Dalam situsnya http://www.islamlib.com begitu jelas menyatakan, “Tujuan utama kami adalah menyebarkan gagasan Islam Liberal seluas-luasnya kepada masyarakat. Untuk itu kami memilih bentuk jaringan, bukan organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik. JIL adalah wadah yang longgar untuk siapapun yang memiliki aspirasi dan kepedulian terhadap gagasan Islam Liberal.” [4]

Lalu, jika tak mau menerima kritik dari elemen umat atau publik, apakah masih dapat diidentifikasi sebagai kelompok terbuka dan dinamis?

Kaum liberal memang begitu gigih, tentu bukan untuk mencari kebenaran tapi untuk menggugat bahkan “memperkosa” kebenaran dengan “kelamin banci” mereka. Hal ini bisa terlihat dengan konsep dan pola pemikiran mereka yang jauh dari tradisi ulama Islam, bahkan justru menghujat ulama-ulama Islam. Dalam konteks jaringan, hal ini bisa dipahami dari misi jaringan ini, yaitu:  Pertama, mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang kami anut, serta menyebarkannya kepada seluas mungkin khalayak. Kedua, mengusahakan terbukanya ruang dialog yang bebas dari tekanan konservatisme. Kami yakin, terbukanya ruang dialog akan memekarkan pemikiran dan gerakan Islam yang sehat. Ketiga, mengupayakan terciptanya struktur sosial dan politik yang adil dan manusiawi. [5]

Uraian dari JIL di atas tetap tidak mengurangi kritikan-kritikan tajam dari para cendekiawan muslim Indonesia. Karena pada pokoknya, istilah Islam walau bagaimanapun menuntut adanya kepatuhan, bukan kebebasan yang sering kebablasan alias ngawur.

Menyadari kelemahan penggunaan istilah “Islam Liberal” ini, Ulil Abshar Abdalla—salah satu pionir kaum JIL—memberikan pembelaan. Dalam pengantarnya untuk buku Ijtihad Islam Liberal, ia menegaskan bahwa Islam telah menjamin kebebasan manusia, termasuk untuk kufur sekalipun. Kewajiban beribadah kepada Allahpun dengan sendirinya bukanlah sebuah hubungan “I-it” (aku-dan-dia), melainkan “I-Thou” (aku-Engkau). Karena menurutnya, agama yang didasarkan pada “penyembahan” dalam kerangka hubungan “I-it” hanya akan memerosotkan martabat manusia dan Allah itu sendiri. Dan agama Allah tidak menghendaki pola hubungan “penyembahan” seperi itu, tetapi menurut Ulil, agama Islam menghendaki pola hubungan dialogal yang kreatif (I-Thou). Mengakhiri tulisannya, Ulil menegaskan:

Kesimpulan yang hendak saya tuju dari ulasan yang agak “ruwet” dan panjang ini adalah bahwa dengan membubuhkan kata “liberal” pada Islam, sesungguhnya saya hendak menegaskan kembali dimenasi kebebasan dalam Islam yang jangkarnya adalah “niat” atau dorongan-dorongan emotif-subyektif dalam manusia itu sendiri. Dan sebaiknya kata liberal dalam “Islam Liberal” dipahami dalam kerangka semacam itu. Kata “liberal” di sini tidak ada sangkut pautnya dengan kebebasan tanpa batas, dengan sikap-sikap permisif yang melawan kecenderungan “intrinsik” dalam akal manusia itu sendiri. Dengan menekankan kembali dimenasi kebebasan manusia, dan menempatkan manusia pada fokus penghayatan keagamaan, maka kita telah memulihkan kembali integritas wahyu dan Islam itu sendiri. Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai.[6]

Sangat disayangkan, umat Islam—setidaknya sampai saat ini—belum menemukan penjelasan yang detail tentang bagaimana “kebebasan yang terbatas” sebagaimana yang diungkapkan Ulil tersebut. Apakah itu nilai “instrinsik dalam akal manusia” sebagaimana yang diungkap Ulil? Kalau iya, bagaimana wujudnya, dan seperti apa patokannya? Bukan kah akal itu, sebagaimana yang sering digembar-gemborkan oleh kaum JIL, sangat relatif? Homoseksual menurut Islam adalah haram, sementara menurut kaum Liberal mengasyikkan, sehingga dijadikan UU resmi di beberapa negara Barat atau Eropa seperti di Spanyol dan lain-lain. Pornografi menurut umat Islam menghinakan martabat manusia, tapi menurut kaum Liberal justru dianggap sebagai wujud kebebasan berekspresi. Menegakkan hukum pernikahan bagi umat Islam adalah hak sekaligus kewajiban, bagi kaum Liberal itu adalah sikap primitif. Lalu, apa sebenarnya liberal yang dimaksud Ulil? Bukan kah liberal seperti yang disampaikan Ulil tersebut adalah “liberal tanpa batas” juga? Jika Ulil mengatakan agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai, maka selaku umat Islam kita mesti menyampaikan untuk Ulil dan kaum JIL lainnya, “Keledai memang suka terperosok ke dalam lubang yang sama berkali-kali tanpa sadar atau mungkin sadar.” Dalam konteks JIL—dan pengikut setianya—mereka sudah terperosok dalam lubang pemikiran Barat yang jauh dari nilai dan ruh adab Islam. [*Tulisan ini merupakan lanjutan (1) dari tulisan Mengenal Islam Liberal, Oleh: Syamsudin Kadir, Pegiat Kajian dan Study Pemikiran Islam/Cp: 081 804 621 609]


[1] Charles Kurzaman, Liberal Islam: A Source Book, terj. Wacana Islam Liberal; Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Global. Jakarta: Paramadina, 2001, hlm. xiii.

[2] http://www.islamlib.com. Kutipan ini penulis akses pada 19 September 2012 pukul 20.00 WIB.

[3] Ibid.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Ulil Abshar Abdalla dalam Abd Moqsith Ghazali (ed), Ijtihad Islam Liberal; Upaya Merumuskan Keberagamaan yang Dinamis. Jakarta: Jaringan Islam Liberal, cet. 1, 2005, hlm. xviii-xix.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s