Kedangkalan Pluralisme Agama

IMG2866AIstilah pluralisme agama mengandung pengertian yang kabur dan membingungkan. Hal ini dapat dilihat dari semakin menjamurnya kajian terbuka, khususnya setelah Konsili Vatikan II. Sungguh sangat mengejutkan, ternyata sedikit bahkan sangat langka orang yang memahami secara mendalam makna pluralisme agama. Sehingga tanpa sadar atau karena kurang iman, banyak kalangan yang mengagungkan pemahaman ini dengan menyisihkan keyakinan terhadap agamanya sendiri. Bahkan sebagian kaum muslimin yang meragukan kebenaran Islam tak palang lelah mengampanyekan pemahaman Pluralisme Agama ini dengan mengacak-acak dalil wahyu (Al-Qur’an dan Hadits) dan pemikiran para ulama yang shohih (benar). Atas dasar itu, di sini perlu pendefinisian yang jelas dan tegas, agar umat Islam tidak menjadi korban lanjutan.

Secara bahasa plural berarti ganda atau beragam. Secara etimologis, pluralisme agama berasal dari dua kata, yaitu ‘pluralisme’ dan ‘agama’. Dalam bahasa Arab diterjemahkan ‘al-ta’adudiyyah al-diniyyah’ dan dalam bahasa Inggris ‘religious pluralism’.

IMG2854ADalam kamus bahasa Inggris mempunyai tiga pengertian. Pertama, pengertian kegerejaan: (i) sebutan untuk orang yang memegang lebih dari satu jabatan dalam struktur kegerejaan, (ii) memegang dua jabatan atau lebih secara bersamaan, baik bersifat kegerejaan maupun non-kegerejaan. Kedua, pengertian filosofis: berarti sistem pemikiran yang mengakui adanya landasan pemikiran yang mendasar yang lebih dari satu. Sedangkan ketiga, pengertian sosio-politis: adalah suatu sistem yang mengakui koeksistensi keragaman kelompok, baik yang bercorak ras, suku, aliran maupun partai dengan tetap menjunjung tinggi aspek-aspek perbedaan yang sangat karakteristik di antara kelompok-kelompok tersebut. Ketiga pengertian tersebut sebenarnya bisa disederhanakan dalam satu makna, yaitu koeksistensinya berbagai kelompok atau keyakinan di satu waktu dengan tetap terpeliharanya perbedaan-perbedaan dan karakteristik masing-masing.[1]

Ketiga pengertian tersebut sebenarnya bisa disederhanakan dalam satu makna, yaitu koeksistensi berbagai kelompok atau keyakinan di satu waktu dengan tetap terpeliharanya perbedaan-perbedaan dan karaketeristik masing-masing.[2]

Ketika disandingan dengan agama, maka pengertian “pluralisme agama” adalah koeksistensi (kondisi hidup bersama) antar-agama yang berbeda-beda dalam satu komunitas, dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik atau ajaran masing-masing agama, seperti yang dijelaskan sebelumnya.

IMG2862ADari segi konteks dimana pluralisme agama sering digunakan dalam studi-studi dan wacana-wacana sosio-ilmiyah pada era modern ini, istilah ini telah menemukan definisi dirinya yang sangat berbeda dengan yang dimiliki semula. John Hick, misalnya, menegaskan bahwa: “…. Pluralisme agama adalah suatu gagasan bahwa agama-agama besar dunia merupakan persepsi dan konsepsi yang berbeda tentang dan secara bertepatan merupakan respon yang beragam terhadap Yang Real atau Yang Maha Agung dari dalam pranata kultural manusia yang bervariasi; dan bahwa transformasi wujud manusia dari pemusatan diri menuju pemusatan hakikat terjadi secara nyata dalam setiap masing-masing pranata kultural manusia tersebut dan terjadi, sejauh yang dapat diamati, disamai pada batas yang sama”.

Dengan kata lain, Hick ingin menegaskan bahwa sejatinya semua agama adalah merupakan ‘manifestasi-manifestasi dari realitas yang satu’. Dengan demikian, semua agama sama dan tidak ada yang lebih baik dari yang lain. Sangat jelas, rumusan Hick ini berangkat dari pendekatan substantif yang mengekang agama dalam ruang (privat) yang sangat sempit, dan memandang agama lebih sebagai konsep hubungan manusia dengan kekuatan sakral yang transendental dan bersifat metafisik ketimbang sebagai suatu sistem sosial.

Dengan demikian, telah terjadi proses pengebirian dan ‘reduksi’ pengertian ‘agama’ (baca: Islam) yang sangat dahsyat. Sesungguhnya, pemahaman agama yang reduksinistik inilah yang merupakan ‘pangkal permasalahan’ sosio-teologis modern yang sangat akut dan kompleks yang tak mungkin diselesaikan dan ditemukan solusinya kecuali dengan mengembalikan ‘agama’ (Islam) itu sendiri ke habitat aslinya, ke titik orbitnya yang sebenarnya, dan kepada pengertiannya yang benar dan komprehenshif, tidak reduksionistik.[3]

Yang unik dalam fenomena baru ini—menurut Adian Husaini—adalah bahwa pemikiran “persamaan” agama (religious equality) ini, tidak saja dalam memandang eksistensi riil agama-agama (equality on existence), namun juga dalam memandang aspek esensi dan ajarannya (syariat), sehingga dengan demikian diharapkan akan tercipta suatu kehidupan bersama antar agama yang harmonis, penuh toleransi, saling menghargai (mutual respect) atau apa yang diimpikan oleh para “pluralis” sebagai “Pluralisme Agama”.[4]

Namun, alih-alih menciptakan kerukunan dan toleransi, paham Pluralisme Agama itu sendiri sebenarnya sangat tidak toleran, otoriter, dan kejam, karena menafikan kebenaran semua agama, meskipun dengan jargon menerima kebenaran semua agama.

Sebagai agama, kata Anis, Pluralisme Agama memiliki ciri-ciri, watak-watak, karakteristik yang khas yang terdapat pada semua agama pada umumnya. Ia memiliki tuhannya sendiri, nabi-nabinya sendiri, ritus-ritus dan ritual-ritualnya sendiri dan sebagainya.

Tuhan agama ini, sebagaimana dikatakan “nabi”nya, John Hick, adalah “The Real” yang mengatasi semua tuhan yang diyakini agama-agama. Jadi pada dasarnya, agama baru ini juga tidak lepas dari “klaim absolut”.

Bahkan sebetulnya agama baru ini lebih eksklusif dari agama-agama yang ada, khususnya Islam. Sebab Islam secara ontologis mengakui dan menghargai “klaim-klaim absolut” yang dibuat agama-agama lain, serta memberikan hak untuk berbeda, juga membiarkan mereka untuk menjadi dirinya masing-masing (to let the others to be others), tanpa berusaha sedikitpun untuk mereduksi atau merelativisasi mereka.

Sebagai konsekwensinya, pada tataran praktis Islam menawarkan “plurality of laws” kepada semua pengikut agama untuk mengatur kehidupan mereka masing-masing sesuai dengan hukum atau syari’at yang mereka yakini.

Apa ada sistem modern (yang paling demokratis, sekalipun) yang berani menawarkan demikian?. Inilah, yang menurut bahasa Isma’il al-Faruqi, the best gift of Islam to humankind. Sikap Islam ini sungguh sangat elegan, lugas dan apa adanya.

Namun sebaliknya, agama baru (Pluralisme Agama) ini “memaksa” agama-agama lain untuk meyakini atau mengimani keunggulan tuhannya, yaitu “The Real” tadi.

Bahwa tuhan-tuhan semua agama itu hanyalah manifestasi “The Real” ini. Ditambah lagi, pada tataran praktis, legal dan formal, agama baru ini memaksakan syari’at atau seperangkat hukumnya kepada semua agama.

Maka, agama baru ini sebetulnya (tanpa disadari) inkonsisten dengan semboyan-semboyannya yang muluk dan memikat lagi mempesona, yang moderat-lah, toleran-lah, kesetaraan-lah, kebebasan-lah dan sebagainya. Semua itu semboyan kosong!

Sebab-sebab lahirnya teori pluralisme agama sangat beragam, sekaligus kompleks. Namun secara umum dapat diklasifikasikan dalam dua faktor utama yaitu faktor internal (ideologis) dan faktor eksternal, yang mana antara satu faktor dengan faktor yang lainnya saling mempengaruhi dan saling berhubungan.

Faktor internal merupakan faktor yang timbul akibat tuntutan akan kebenaran yang mutlak (absolute truth-claims) dari agama-agama itu sendiri, baik dalam masalah akidah, sejarah maupun dalam masalah keyakinan atau doktrin “keterpilihan”. Adapun faktor faktor yang timbul dari luar dapat diklasifikasikan ke dalam dua hal, yaitu faktor sosio-politis dan faktor ilmiyah. Kedua faktor ini terus berkembang sesuai zaman, standar kecerdasan dan keyakinan seseorang terhadap agamanya. Seorang muslim, jika imannya lagi lemah maka dia akan mengakui bahkan meyakini kebenaran agama lain selain Islam.

Keyakinan seseorang yang serba mutlak dan absolut bahwa apa yang diyakini dan diimaninya itu paling benar dan paling superior, adalah alami belaka. Keyakinan akan absolutisme dan kemutlakan ini berlaku dalam hal akidah, mazhab dan ideologi (baik yang berasal dari wahyu Allah maupun dari sumber lainnya). Kenyataan (absolutisme agama) ini hampir tak satu pun yang mempertanyakan atau mempertentangkannya, hingga datangnya era modern di mana faham relativis agama mulai dikenal dan menyebar secara luas di kalangan para pemikir dan intelektual, khususnya pada dekade-dekade terakhir abad ke 20. Namun, jika dicermati secara seksama dan mendalam, hatta mereka yang meyakini demikian ini (baca: relativis agama) dan menolak absolutisme agama pada prinsipnya telah terjebak, secara tak sadar atau mungkin juga sadar, ke dalam suatu yang mereka telah—dan sedang—berusaha menghindarinya, yakni sebuah keyakinan absolut tentang relativisme agama itu sendiri. Bukti empirisnya, mereka selalu mempertahankan keyakinan ini dengan sekuat tenaga dari berbagai kritik dan pelurusan seraya berusaha memasarkannya dengan gigih dan menggunakan berbagai macam cara kepada khalayak ramai. Inilah yang memperkuat alibi bahwa keyakinan relativisme agama muncul sebagai (semacam) ideologi atau agama baru menggantikan faham absolutisme agama.[5]

Dalam mengurai pluralisme agama, Anis Malik Thoha cukup apik dan unik. Beliau secara gamblang menjelaskan mengenai dua madzhab pluralisme agama ini, yakni humanisme sekuler dan teologi global. Humanisme adalah paham kemanusiaan yang menjadikan manusia sebagai pusat dari segala paham. Disebut sekuler karena pada hakikatnya ia sudah keluar dari agama, dengan mengajukan paham tersendiri tentang kemanusiaan. Dari aspek kemanusiaan tersebutlah maka semua agama bisa dinilai sama. Bahkan ekstrimnya, semua paham keagamaan harus segera dihapuskan dan digantikan dengan satu paham saja, yakni kemanusiaan.

Sementara teologi global, di antaranya dikemukakan oleh W.C. Smith yang mengemukakan perlunya agama baru yang berlaku secara global. Seiring globalisasi yang melanda dunia secara keseluruhan, maka teologi pun harus mengalami globalisasi. Paham-paham keagamaan yang dinilai lokal, dengan sendirinya harus dilebur sehingga menjadi teologi global.[6]

Lain Kristen-Barat, lain Islam. Islam tidak mengakui akidah Yahudi yang tribal dan rasis maupun akidah Kristen yang Trinitarian. Sebab Islam hadir dengan aqidah tauhid yang murni dalam arti yang sebenarnya, yang terekspresikan secara kategoris dalam kalimat syahadat. Kalimat syahadat merupakan pemurnian dan pelurusan terhadap bentuk-bentuk penyelewengan yang terjadi pada akidah umat terdahulu dari golongan Yahudi, Nasrani dan yang lainnya. Pada waktu yang sama, kalimat syahadat merupakan suatu statement akan keberadaan Allah yang berlaku untuk semua manusia. Keyakinan ini sudah dibawa dari zaman nabi Adam hingga nabi terakhir, Muhammad Saw. Semua nabi dan rasul meyakini Islam sebagai agamanya, dan meyakini Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir.

 

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.[7]

Dalam surat lain Allah mengingatkan bahwa konsep teologi yang mereka yakini merupakan bentuk kekufuran atau pembangkangan kepada Allah Swt.

 

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (72)

 

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (73)

 

Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (74)

 

Al-Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). (75)[8]

Kalimat sawa’ lainnya sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat sesudahnya adalah keimanan terhadap semua rasul dan kitab yang dikirimkan oleh Allah Swt. termasuk di antaranya Muhamad Saw. Dalam hal ini, bahkan al-Qur’an menyinggung bahwa hal tersebut sudah menjadi perjanjian “primordial” antara Allah dengan mereka, seperti halnya perjanjian “primordial” untuk hanya mengakui Allah Swt. sebagai satu-satunya Tuhan.

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.

 

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.[9]

 

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya.[10]

Dengan begitu, konsep dan pemahaman kegamaan Islam tidak perlu ditransformasikan ke suatu paham yang dinamai pluralisme agama. Tanpa menyamakan semua agamapun, sejak awal Islam mengakui keragaman tapi bukan berarti mengakui kebenaran konsep teologi agama lain. Karena dalam Islam, yang benar jelas benar dan yang batil jelas batil.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghutdan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.[11]

Menurut Adian Husaini, pendapat yang mengatakan bahwa ’semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama’ jelas-jelas merupakan pendapat yang bathil. Jika semua jalan adalah benar, maka tidak perlu Allah Swt. memerintahkan kaum Muslimin untuk berdo’a ‘Ihdinash shirathal mustaqim!’ (Tunjukkanlah kami jalan yang lurus!). Jelas, dalam surat al-Fatihah disebutkan, ada jalan yang lurus dan ada jalan yang tidak lurus, yaitu jalan yang dimurkai Allah Swt. dan jalannya orang-orang yang tersesat.[12] Jadi, tidak semua jalan adalah lurus dan benar. Ada jalan yang bengkok atau jalan yang sesat dan ada jalan yang lurus. Dan sekarang bagi kita adalah memilih di antara dua jalan itu.

Bagi umat Islam yang tetap istiqomah meyakini kebenaran Islam dan tidak ada kebenaran lain selain itu, jangan bimbang dan ragu. Sebab, mereka (baca: siapapun) yang terjebak dengan pemahaman pluralisme agama yang ‘pinggiran’ dan ‘dangkal’ itu tak memiliki tempat (baca: pijakan) yang kuat dalam sistem dan keyakinan Islam. Mereka hanya menginterpretasikan beberapa ayat Al-Qur’an tanpa pemahaman yang substantif, kemudian ditambah dengan klaim dan gagasan beberapa tokoh yang juga masih bingung dengan pluralisme agama itu sendiri.

Jika mereka percaya bahwa agama lain selain Islam mengandung kebenaran ideologis, maka ada beberapa pertanyaan yang mesti mereka (baca: sebagian umat Islam) jawab: Apakah mereka siap menikah dengan non-muslim? Apakah mereka siap menikahkan anak mereka dengan non-muslim? Apakah mereka siap dikubur dengan cara non-muslim? Apakah mereka siap keluar dari Islam dan menjadikan agama selain Islam sebagai agama baru mereka? Apakah mereka siap sembahyang di tempat ritual umat agama lain dengan ritual agama selain Islam? Apakah mereka siap tidak membayar zakat karena mengaku sudah menebus dosa kepada pendeta? Aspek apa saja yang terkandung dalam agama selain Islam yang benar dan mesti diyakini dan diikuti oleh seorang muslim?

Jika ada di antara komunitas yang pro pluralisme agama itu yang memberi jawaban dengan jawaban yang benar dan rasional, maka tidak wajar bagi mereka untuk mengikuti agama lain selain Islam sebagai wujud keyakinan mereka dalam ruang kehidupan nyata. Sebetulnya cukup pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi cambuk, itupun kalau mereka beriman secara utuh terhadap konsep syahadat ahlu sunnah wal jama’ah secara benar; bukan menurut tradisi atau akal (logika) mereka semata—yang masih butuh pengobatan bahkan mungkin amputasi.

Ingat, bagi seorang muslim, dia mesti yakin tanpa ragu bahwa Islam adalah agama yang benar dan tidak ada lagi agama yang benar selain itu. Keraguan terhadapnya adalah kerugian dan kecelakaan yang niscaya. Sebab, Allah telah menjelaskan secara tegas bahwa agama yang diterima di sisi-Nya hanyalah Islam, dan yang mencari selain itu pasti rugi.

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.[13]

 

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.[14]

Demikian ulasan singkat ini, semoga kita sebagai umat Islam semakin teguh keimanannya, di samping diberi petunjuk oleh Allah agar selalu memiliki semangat memahami sumber-sumber Islam yang otentik berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah. Wallahu a’lam. [Syamsudin Kadir, Penikmat Kajian dan Study Pemikiran Islam, HP: 081 804 621 609. Blog: akarsejarah.wordpress.com atau catatan syamsudin kadir. Tulisan ini merupakan tugas kepesertaan pada acara Workshop Pemikiran Islam, dengan tema: “Membuka Cakrawala Pemikiran Islam Kader Aktivis Dakwah Islam”, Narasumber: DR. H. Adian Husaini, MA (Cendekiawan Muslim Indonesia) yang diselenggarakan di Islamic Center Cirebon, Jawa Barat pada 15-16 Januari 2013.]

 

 


[1] Anis Malik Toha, Tren Pluralisme Agama: Tinjaun Kritis, Jakarta: Perspektif, 2005, hlm. 11-12

[2]  Ibid. hal. 14

[3]  Anis Malik Toha, Tren Pluralisme Agama: Tinjaun Kritis, Jakarta: Perspektif, 2005, hlm. 16.

[5]  Winston L. King dalam makalahnya yang berjudul “Agama”, memberikan suatu statement yang cukup menarik. Dia berkata: Ketika satu bentuk keyakinan agama menghilang dari eksistensi dirinya, maka agama lain akan muncul menggantikan posisinya. Lebih jelasnya silahkan baca dalam buku Tren Pluralisme Agama (2005), hal. 25. Artinya, jika ada di antara umat Islam, baik cendekiawan atau yang sering dipanggil kiyai sekalipun, sudah meyakini kebenaran keyakinan agama lain selain Islam, sebetulnya dia sedang berhenti dari keyakinan dan kebenaran Islam. Sederhananya, umat Islam yang menganut pemahaman pluralisme atau relativisme agama—dalam hal ini Islam—adalah sedang lemah atau bahkan kosong iman. Karena itu, layak ditolong atau diobati dengan segera.

[6]  Lebih tuntas mengenai hal ini silahkan baca Anis Malik Toha, Tren Pluralisme Agama: Tinjaun Kritis, Jakarta: Perspektif, 2005, hlm. 51-89.

[7]  QS. An-Nisa [4]: 171.

[8]  QS. Al-Ma’idah [5]: 72-75.

[9]  QS. Al-Baqarah [2]: 146-147.

[10]  QS. Ali ‘Imran [3]: 12.

[11]  QS. Al-Baqarah [2]: 256.

[12]  QS. Al-Fatihah [1]: 6-7, “Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”

[13]  QS. Ali ‘Imran [3]: 19.

[14]  Ibid, ayat 85.

One thought on “Kedangkalan Pluralisme Agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s