Melanggengkan Cinta di Perpustakaan Rumah

Lagi-lagi, saya kembali berbicara tentang perpustakaan rumah. Anda tentu saja bertanya, mengapa perpustakaan dan ada apa dengan perpustakaan? Anda tak salah. Sangat manusiawi jika Anda bertanya tentang itu. Agar Anda tak bosan dengan pemabahsan yang sama, saya mengajak Anda untuk melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Ya, tulisan ini adalah ajakan kepada Anda untuk memahami perpustakaan dari sudut yang lain.

Kemarin Ahad, 25 November 2012, bertepatan 11 Muharram 1434 H, merupakan hari yang istimewa bagi kami sekeluarga. Istimewa, sebab di hari itulah kami bisa berkumpul bersama di rumah setelah menunaikan tugas dan menuntaskan aktivitas di luar rumah selama kurang lebih 6 hari sebelumnya. Seperti biasa, istri mengajar full day, sementara saya menjadi pembicara sekaligus instruktur beberapa seminar dan pelatihan di luar kota.

Jika istri dalam sehari mengajar dari pukul 07.00-16.00 WIB, maka saya dalam sepekan terbiasa beraktivitas di luar rumah sekitar 4 hari full, berangkat hari Rabu pagi kembali Ahad pagi atau siang. Bagi kami, rutinitas ini tentu saja melelahkan. Ya, benar-benar lelah. Hampir saja kelelahan dan kepenatan selalu menyertai. Kadang untuk mengusir kelelahan dan kepenatan, saya membiasakan diri untuk berdiskusi dengan teman-teman lama, baik lewat facebook, SMS maupun email. Istri juga begitu. Pokoknya, kami berusaha agar kelelahan dan kepenatan tak membuat kami hilang semangat untuk menunaikan berbagai aktivitas.

Nah, setelah berpisah selama beberapa hari dalam sepekan, sekarang tibahlah saatnya kami bersua kembali. Ya, saya bersua dengan istri tercinta, Mba Uum Heroyati, dan anak kami, Azka Syakira. Tentu saja kesempatan ini saya manfaatkan sebaik mungkin. Meminjam pernyataan Pak Chairul Tanjung, kesempatan tak selalu datang berulang, namun kesempatan tak selalu ditunggu, ia mesti dijemput dan dibangun. Ah, mungkin Pak Cahirul terlalu romantis untuk dikenang, namun pengalaman beliau sangat tepat untuk diteladani.

Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, saya pun mengajak istri untuk berkunjung ke toko buku Gramedia di Garge Mall Kota Cirebon-Jawa Barat. Sebetulnya sebagian teman sempat mengeluarkan pernyataan sinis, “Mengapa mesti ke Mall, emang tak ada toko buku lain?”. Tanpa panjang-lebar saya sering menjelaskan secara langsung, menyatakan secara jujur. Di Mall, tepatnya di Gramedia, semua judul buku baru dari berbagai penerbitan buku semuanya ada. Nah, saya butuh buku-buku baru. Sebab buku-buku lama sudah saya lahap. (Ini benar, semoga Anda terinspirasi!). Jika Anda menuduh agak miring, ya ini tantangan bagi saya, termasuk penerbit buku lain untuk menaikan kualitas dan pelayanan. Oke damai ya!

Hm hm hm cerita saya sampai di mana ya? Oh iya, kami pun berangkat ke Gramedia. Seperti biasa, saya dan istri mencari mangsa masing-masing. Saya ke stand buku-buku motivasi, pengembangan diri, politik, sejarah dan yang terkait literasi, sedangkan istri ke stand buku-buku kerumahtanggaan, kemuslimahan, novel, kesehatan, anak-anak dan lain-lain. Pokoknya sesuai selera.

Lagi-lagi ada tapinya di sini. Apa itu? Ya Azka Syakira, anak kami. Ia tak mau diatur, tepatnya tak mau digendong. Maunya kelayapan di stand buku anak-anak yang penuh gambar dan warna-warni pula. Pokoknya yang ada gambar atau berwarna. Sempat beberapa kali saya datangin untuk menggendong, ia langsung marah sambil teriak. Entah apa yang ia sampaikan, yang pasti ia benar-benar marah. Hati saya bergumam, begini ya respon seorang anak jika ia sedang serius membaca kemudian diganggu sama orang lain.

Ah, Azka memang luar biasa. Walau masih berumur 16 bulan, ia sudah memberi banyak hikmah dan hal-hal inspiratif kepada saya dan istri. Di sini ada kejujuran, betapa ia tak malu-malu mengatakan apa yang memang mesti ia katakan. Anak sayang, terima kasih ya, kau telah mengajarkan Ayah dan Bundamu. Semoga kesungguhanmu untuk membaca—walaupun masih tak dimengerti oleh Ayah dan Bundamu—akan membuatmu kelak menjadi anak yang bangga untuk dikenang!

Oh iya, setelah membuka beberapa buku anak dan buku gambar, akhirnya Azka dengan sendirinya mencari saya di sudut stand. Agar lebih terkesan, saya pun menyembunyikan diri di sudut stand yang lain. (Lagian sekalian ngajak Azka main). Azka pun mencari sambil teriak “Ayah, Ayah, Ayah…!”. Terbayangkan bagaimana merdunya suara anak kecil di tempat yang cukup hening seperti itu. Mata pengunjung pun sontak mengarah ke Azka sambil senyum gembira. Bahkan di antara mereka ada yang memanggil Azka, “Dede,,, dik,,, sini digendong ama Tanta” dan seterunya. Hm hm hm tak kenal juga,,, ya namanya anak kecil sempat-sempatnya membalas ajakan si Mba dengan senyuman khasnya.

Permainan terus berlanjut, lagi-lagi saya tetap bersembunyi. Azka tak mau kalah. Tetap mencari sambil membawa buku kecil yang baru saja diambilnya di stand buku. Melihat Azka begitu semangat, hati saya bergumam, sepertinya Azka sedang mengajak saya, Ayahnya, untuk membeli buku yang kini sedang ia pegang. Eh nyatanya benar. Setelah saya gendong, ia langsung menyuruh saya untuk memegang buku tersebut—tentu saja dengan bahasa khasnya. Kalau ia menyuruh memegang sesuatu yang ia pegang biasanya ini isyarat mesti dibeli. Namun seperti biasa, karena tujuan kami ke Gramedia hanya mencari judul buku baru (bukan untuk membeli buku), akhirnya saya mengurungkan kemauannya. Maaf ya Sayang, insya Allah pada kesempatan yang lain Ayah akan memenuhi kemauanmu. Ayah bangga punya anak seperti kamu!

Asal Anda tahu saja, sebelum berangkat saya hanya membawa uang untuk ongkos pulang-pergi dan untuk buku baru yang sudah direncanakan sebelumnya. Jadi, mana ada anggaran untuk yang lain. Tapi okelah, ini juga pelajaran berharga bagi siapapun Anda. Jika Anda ke toko buku, dan Anda mengajak anak Anda, pastikan Anda menyediakan “anggaran” untuk si kecil, sebesar apapun itu. Mungkin ini kesempatan terbaik bagi Anda untuk si dia. Saya yakin alam bawa sadar anak Anda sangat paham dengan apa yang Anda lakukan. Saya juga yakin hal itu berlaku untuk anak saya.

Sekarang jam di HP saya menunjukan pukul 18.00 WIB. Saya pun mengingatkan istri untuk bersiap-siap kembali ke rumah, di daerah Karya Mulya Kota Cirebon-Jawa Barat. Tak pakai lama, istri langsung mengiayakan. (Tipe istri taat dan solehah ya begitu. Selalu percaya dengan apapun yang dikatakan suaminya. He he he. Terima kasih ya Sayang!). Kami pun langsng ke kasir untuk membayar buku baru yang baru saja saya ambil di stand. Untuk mengobati keinginan Azka yang belum terpenuhi, saya memberi kesempatan untuknya agar membayar buku tersebut. Dengan senyuman khasnya Azka langsung mengambil uang yang saya pegang, lalu diberikan kepada Mba yang menjaga meja kasir kali ini. Tentu saja di sini ada peristiwa unik. Tahu saja, Azka sempat-sempatnya mengajak senyum si Mba yang menerima uang bayarannya. Hm hm hm siapa yang ngajarin ya, kan Ayah dan Bundanya jarang-jarang senyum sama orang yang belum dikenal? Lagian nanti dikirain orang gila. Apalagi ngajak senyum gadis ayu yang masih belasan tahun. Bisa rame tuh urusan. Tapi lagi-lagi, itulah Azka. Mungkin ngikutin Ayah dan Bundanya pas masih lajang kali ya? Kalau Bundanya tak merasa, ya Ayahnya deh.

Nah, sekarang kami kembali ke rumah. Sampai di rumah langsung shalat dan makan malam. Setelah itu, seperti biasa kami balapan membaca buku di ruang tamu, perpustakaan rumah kami. Istri membaca buku 55 Kisah Inspiratif (karya Parasara Dani) setebal halaman302, saya membaca buku Chairul Tanjung Si Anak Singkong setebal 384 halaman dan buku Anak Kampung Paling Fenomenal (karya Mufti Mubarak) setebal 233 halaman, sementara Azka membuka buku Mendidik Anak, “Membaca, Menulis dan Mencintai Al-Qur’an”. Alhamdulillah saya dan istri sama-sama menamatkan ketiga buku tersebut selama sekitar 2 jam-an. Sementara Azka cuma bermain dengan buku. Ya secara, buku setebal 116 halaman dengan ukuran 27×21 cm, mana mungkin bisa tuntas dibaca oleh anak bayi seumuran Azka. Tapi jangan salah, alhamdulillah Azka mampu membuka halamannya satu persatu. Melihat keunikan itu, saya sempat bergumam, wah bisa menjadi gila buku nih anak. Umur segini saja sudah terbiasa membuka buku setebal dan sebesar itu, apalagi nanti umur 3-6 tahun. Dengan gaya khasnya, istri saya membalas, “Oh iya Ayah, seperti Bundanya, waktu kecil saja sudah menghafal berapa juz. He he he”.

Ya, begitulah suasana ceria, santai dan inspiratif di rumah kami. Kami menjadikan rumah, bukan saja tempat melepas kejenuhan dan kelelahan, tapi juga tempat berbagi canda ria juga sebagai perpustakaan. Ya tempat kami menyimpan triliyunan kenangan dan ribuan buku. Dan di situlah kami membaca sambil bermain dan kadang bercanda santai juga tawa ria. Di situ jugalah kami merumuskan dan membicarakan banyak hal mengenai rumah tangga dan masa depan kami yang lebih baik, termasuk mimpi-mimpi kami untuk masa depan Islam dan negeri ini. Di samping menuntaskan berbagai macam karya tulis, baik yang sudah diterbitkan dan dikirimkan, maupun yang masih dalam penyempurnaan. Walau belum menjadi model dan contoh terbaik untuk keluarga muda, bagi saya, apa yang kami bangun selama ini adalah wujud nyata betapa kami ingin menjadi keluarga yang terbaik. Menjadi basis terkuat sebuah peradaban besar kelak.  

Nah, untuk siapapun Anda, baik yang sudah menikah atau segera menikah, dengan cinta dan bangga, saya menganjurkan agar Anda terbiasa membeli dan membaca buku. Manfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk mendapatkan buku-buku bagus—tentunya yang murah meriah. Isilah rumah Anda dengan buku. Pastikan di rumah Anda tersedia tempat khusus untuk buku-buku Anda. Jika memungkinkan, sediakan satu ruangan khusus untuk itu. Kalau saya dan istri menyepakati agar ruang tamu dijadikan sebagai perpustakaan. Jadi, jika Anda bertamu di rumah saya lebih baik Anda tak menunggu suguhan nasi atau makanan enak. Bukan karena tak mampu membeli, tapi saya dan istri akan lebih bangga jika Anda bertamu atau bersilaturahim ke rumah lalu Anda mendapatkan ilmu dan pengetahuan baru—bahkan buku hadiah dari kami. Mau kan?

Di atas segalanya, apa yang sedang kami suguhkan hanyalah satu di antara bunga-bunga indah rumah tangga yang dapat kami bagi untuk Anda semua. Memiliki perpustakaan rumah bukan saja menambah suasana rumah semakin indah untuk dikenang, tapi juga membuat cinta semakin bersemi. Ya, perpustakaan dapat melanggengkan cinta antara suami dan istri juga anak-anak. Itulah sedikit yang kami praktikkan selama ini. Semoga Anda berkenan mengambil manfaat! [Cirebon, 26 November 2012, 12 Muharram 1234 H; Oleh: Syamsudin Kadir—penulis dan editor lepas, Cp: 081 804 621 609]

http://www.facebook.com/notes/syamsudin-kadir/melanggengkan-cinta-di-perpustakaan-rumah/465838330120905

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s