Di Rumahku Ada Cinta

Barangkali Anda termasuk yang menganggap saya terlalu terbuka dalam masalah keluarga, utamanya dalam masalah perasaan terhadap istri atau juga anak saya. Anda tentu punya hak untuk menilai saya, karenaa itu saya tak punya wewenang untuk membatasi hak Anda. Namun demikian, saya punya hak untuk menyatakan apa sesungguhnya yang terjadi dalam rumah tangga saya, termasuk soal perasaan saya. Sederhananya, biarkan saya berbicara cinta.

Tulisan ini bukan juru bicara yang paling apik untuk menjelaskan apa yang saya peroleh dalam rumah tangga saya. Tulisan ini juga bukan penjelas yang paling sempurna untuk menjelaskan kenyataan dan perasaan hati saya terhadap istri dan anak saya. Namun, paling tidak melalui tulisan ini saya ingin berbagi inspirasi kepada Anda. Semoga semuanya bermanfaat untuk Anda, dan tentu saja untuk istri dan anak saya.

##

Taman punya kita berdua

Tak lebar luas, kecil saja

Satu tak kelihatan lain dalamnya

Bagi kau dan aku cukuplah

Itu penggalan puisi Chairil Anwar, 1943, tentang rumahnya yang disebutnya taman. Taman hati. Taman hidup. Sempit ruangnya. Tapi cinta membuatnya jadi terasa cukup lapang dalam dada. Cinta membuatnya nyaman dihuni.

Kecil, penuh surya taman kita

Tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

Apa yang dialami oleh Khairil Anwar juga saya alami dalam rumah tangga saya. Selama 2 tahun berjalan sejak menikah, saya begitu nyaman menikmati kehidupan rumah tangga bersama istri (dan hampir 16 bulan terakhir bersama anak kami). Betul bahwa kendala dan ujian datang silih berganti, namun kami dapat melaluinya dengan santai dan apa adanya.

Ada satu modal yang saya gunakan untuk melabilkan kondisi selama sekian waktu itu. Ia adalah perasaan cinta, ya rasa cinta. Walau nyaris tak terdefinisi, cinta memang ada dalam perasaan saya. Ia selalu bergejolak menemui padanannya. Kata orang bijak, cinta selalu mencari sang jiwa. Jiwa yang kuat selalu memiliki titik temu apik dengan cinta. Sebab jiwa yang kuat memang merupakan kenyataan lain dari manusia yang bernyawa cinta. Dari situ saya berkesimpulan bahwa istri saya adalah jiwa kuat itu. Jiwa yang selalu siap menerima cinta.

Karena perasaan cinta itu begitu bergejolak, saya begitu nyaman melalui semuanya. Ya kenyamanan. Itu rahasia jiwa yang diciptakan cinta: maka kita mampu bertahan memikul beban hidup, melintasi aral kehidupan, melampaui gelombang peristiwa, sambil tetap merasa nyaman dan teduh.

Anis Matta, dalam Serial Cinta-nya, mengatakan, cinta menciptkan kenyamanan yang bekerja menyerap semua emosi negatif masuk ke dalam serat-serat jiwa melalui himpitan peristiwa kehidupan. Luka-luka emosi yang kita alami di sepanjang jalan kehidupan ini hanya meungkin dirawat di sana: dalam rumah cinta.

Dalam rumah cinta itu kita menemukan sistem perlindungan emosi yang ampuh. Mary Carolyn Davies mengungkapkannya dengan manis:

Ada sebuah tembok yang kuat

Di sekelilingku yang melindungiku

Dibangun dari kata-kata yang kau ucapkan padaku

Jiwa yang terlindung akan cepat bertumbuh dan berbuah. Sederhana saja. Karena hakikat cinta selamanya hanya satu: memberi. Memberi semua kebaikan yang tersimpan dalam jiwa. Melalui tatapan mata, kata atau tindakan. Jika kita terus menerus memberi maka kita akan terus menerus menerima. Pemberian jiwa itu menghidupkan kekuatan kebajikan yang sering tertidur dalam jiwa manusia. Seperti pohon: pada mulanya ia menyerap matahari dan air, untuk kemudian mengeluarkan semua kebajikan yang ada dalam dirinya: buahnya keindahan.

08012012545Ah Uum Heroyati, kau memang istimewa. Dalam rumah yang penuh cinta ini aku menemukan rasa aman, kenyamanan dan kekuatan untuk terus bertumbuh.  Mungkin itu sebabnya rumah yang begitu seperti menghadirkan surga dalam kehidupan kita. Rumah itu pasti utuh. Dan Abadi.

Sayang, adakah doa cinta yang lebih agung daripada apa yang diajarkan sang Rasul kepada kita di malam pertama saat kita meletakkan dasar bangunan hubungan jiwa yang abadi? Rasulullah mengajarkan kepada para suami agar metakkan tangan kanan di atas ubun-ubun istri mereka, lalu ucapka doa ini dengan lembut:

 Ya Allah, aku mohon pada-Mu kebaikan perempuan ini dan semua kebaikan yang tercipta bersama penciptanya.

 Ah Uum Heroyati, ini mungkin hanya perasaan. Namun apa yang kau berikan selama ini adalah anugerah. Tatapan mata, sapaan tulus dan ah pokoknya kau istimewa. Mudah-mudahan hanya karena maut-lah fisik kita berpisah. Karena di rumah ada cinta, ya di rumahku ada cinta.

Di atas segalanya, semoga anak kita, Azka Syakira, kelak mendapatkan anugerah menjadi penikmat cinta sejati, yang mampu meluiluhkan jiwa angkuh,,, ya semuanya menuju Allah, Sang Pecinta sejati. [Cirebon, 25 November 2012, Oleh: Syamsudin Kadir, Penulis dan Editor lepas—081 804 621 609]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s