Rumahku Perpustakaanku

14 Nov

Dalam sekian tahun terakhir saya menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas. Pokoknya banyak. Mengisi pelatihan, bedah buku, workshop dll-nya. Nah, di antara aktvitas yang cukup unik adalah berkunjung (silaturahim) ke rumah tokoh-tokoh Nasional seperti Ust. Hilmi Aminudin, Ust. Abu Ridha, Ust. Hidayat Nurwahid, Pak Yusuf Kalla, Pak Din Syamsudin, Pak Jimly Asshidiqy, Pak Anis Matta, Pak Adian Husaini, Bang Fahri Hamzah, Bang Andi Rahmat, Pak Ahmad Heriawan dan tokoh lain yang menurut saya perlu saya kunjungi. Aktivitas (silaturahim) ini saya lakukan sejak 2005-sekarang). Jujur saja, saya melakukan semuanya atas nama pribadi bersama dua-tiga teman. Sebab itu lebih terbuka dan nyaman bagi saya untuk berbincang dan mendengar “uraian” mereka. Utamanya untuk belajar “berpikir” bagaimana cara mereka “berpikir” dan “bersikap”, bagaiamana cara mereka “memahami” dan “memaknai” kehidupan, serta apa mimpi mereka untuk umat Islam dan negeri ini bahkan dunia ini ke depan. Banyak hal yang saya dapatkan selama silaturahim, tentu saja sesuai dengan latar belakang dan “muyul” mereka masing-masing. Di samping “candaan” khas masing-masing tokoh.

Di antara poin yang sempat saya catat selama silaturahim tersebut adalah bahwa kehidupan ini pada dasarnya bersifat “given”, pemberian, Sang Kuasa. Bukan hadir begitu saja. Begitu juga dalam melakoninya. Ada yang sukses dan ada yang gagal. Dalam konteks ini, ada satu hal yang perlu diingat bahwa orang yang sukses maupun gagal dalam dunia yang digelutinya tentu punya pesan dan makna istimewanya masing-masing. Tak ada yang sukses tanpa pengorbanan dan perjuangan. Tak terhitung tenaga, waktu dan energi yang mereka persembahkan untuk apa yang mereka sebut sebagai kesuksesan. Begitu juga yang gagal. Semuanya melalui apa yang namanya waktu. Yang membedakan keduanya adalah cara mereka mengisi waktu. Dalam relung waktu itulah seseorang terverifikasi, apakah bermanfaat atau tidak. Apapun profesi dan karirnya, seseorang tidak bisa terpisahkan dari waktu, sedetik sekalipun. Ada yang menjadi Ulama, Cendekiawan, Intelektual, Akademisi, Pengusaha, Politisi, Penulis, Motivator dan seterusnya.

Wah pokoknya banyak hal yang saya dapatkan. Kalau Anda mau mengikuti jejak saya, silahkan silaturahim saja ke rumah mereka atau menyempatkan diri untuk menyapa mereka jika Anda bersua dengan mereka. Oke.

Well, kalau Anda sudah silatutahim, silahkan buat catatannya ya. Biar saya dan orang di luar sana mendapat manfaat dari silaturahim Anda. Ya, hitung-hitung bagi ilmu dan pengalaman.

Tapi,,,,

Tapi bukan itu saja yang ingin saya sampaikan pada catatan ini. Saya juga ingin mengabarkan satu kenyataan yang layak Anda tiru. Apa itu? Dalam rumah tokoh-tokoh yang saya sebutkan tadi terdapat PERPUSTAKAAN. Ya, perpustakaan. Tempat buku, majalah, koran dan berbagai hal yang berhubungan dengan dunia literasi dan lain sebagainya. Saya sangat salut dengan kesungguhan dan keseriusan mereka untuk yang satu ini. Benar-benar oke punya.

Jujur saja, sejak kecil saya sudah memimpikan punya perpustakaan pribadi. Hal ini saya buktikan sejak SD hingga Perguruan Tinggi, bahkan sampai sekarang setelah menikah. Saya berani membeli buku walaupun kadang lupa makan. He he he. Mengapa? (Kaci tahu ga yaa?)

Kata orang sih begini, “Memiliki perpustakaan pribadi di rumah adalah suatu kebanggaan sekaligus prestise. Bagi pandangan kebanyakan orang, perpustakaan di rumah mencirikan tingkat intelektualitas seseorang. Kalau orang memiliki perpustakaan di rumahnya, maka dapat diyakini bahwa si pemilik rumah adalah seorang intelektual, pencinta ilmu pengetahuan atau seorang yang doyan membaca.”

Ah yang benar?

Ya benar. Oke, coba ikuti saja penjelasan saya selanjutnya.

Perpustakaaan pribadi di rumah memang dapat merupakan simbol intelektualitas seseorang. Anda bisa membayangkan, bagaimana mungkin seseorang disebut intelektual, kalau ia tidak punya cukup buku dan tidak suka membaca. Bagi seorang intelaktual, buku adalah sahabat karibnya. Oleh karena demikian, agar kesukaan akan buku itu terkondisi dengan baik, sudah seyogianya dibangun perpustakaan pribadi di rumah. Bukan sekadar agar disebut intelek, melainkan untuk menyiapkan ‘gudang ilmu’ dengan segala kelengkapannya, sehingga si pemilik bisa dengan mudah menyalurkan aktivitas membacanya dalam kehidupan privat di rumah sendiri. Bahkan si pemilik bisa menjadikan perpustakaannya sebagai sumber utama buku karyanya, andaikan ia penulis buku, artikel, esay dan semacamnya. Apalagi kalau sudah menikah dan punya anak, pasti lebih asyik tuh… Tapi, jangan salah paham ya. Saya gini-gini juga bukan intelektual kok, cuma belajar saja. Btw, disebut intelektual atau tidak mah ga mesti kok. Sekali lagi, yang penting belajar. Iya kan?

Oh iya, alhamdulillah saya sudah menikah dengan seorang Muslimah Solehah, namanya Mba Uum Heroyati. Kami sudah dikarunia seorang anak, namanya Azka Syakira. Kedua manusia “istimewa” inilah yang menyemangati saya untuk semakin giat mengelola perpustakaan rumah. Semoga saja keduanya menyempatkan diri membaca tulisan ini.

Btw, Anda mau tahu perpustakaan rumah saya?

Berikut adalah beberapa fotonya. Semoga Anda terinspirasi.

Oh  iya, ini yang sangat penting untuk Anda tahu. Paling tidak ada lima sarana utama yang perlu dipersiapkan tatkala hendak membangun perpustakaan pribadi di rumah. Pertama, siapkan sebuah ruang dengan luasan tertentu yang memadai untuk maksud ini. Boleh di ruangan khusus perpustakaan, boleh di ruang tamu atau di kamar tidur. Di antara sekian pilihan itu, membuat ruangan khusus perpustakaan adalah yang terbaik. Kalau tidak ada ruang khusus, silakan memanfaatkan ruang tamu atau kamar tidur. Saya  sendiri lebih memilih ruang tamu. Ya lebih asyik aja. Jadi, kalau Anda ke rumah saya jangan menunggu disuguhin nasi, air dan teh manis,,, karena saya lebih memilih menyediakan buku dan seabrek isi perpustakaan rumah untuk Anda. Silahkan dilahap!  He he.. Maksud saya silahkan dibaca,,, dipinjam juga boleh. Asal dikembalikan. Lagian batas waktunya cuma 1 pekan. Yang memnembalikan lebih dari sepekan akan diberi hukuman. Apa itu? Ya, pokoknya tidak bisa digugat. Yang melanggar mesti siap dihukum.

Kedua, siapkanlah rak yang relatif besar untuk meletakkan buku-buku Anda. Rak itu bisa terbuat dari kayu atau dari rangka besi, atau bahan lainnya, terserah Anda. Yang penting rak tersebut cukup kuat untuk menyangga buku-buku Anda ketika jumlahnya kian banyak dan rak itu terisi penuh. Upayakan rak tersebut tertutup dengan kaca tembus pandang. Ini penting untuk menjaga keamanan/keutuhan buku dari kotoran dan debu. Kaca yang transparan dibutuhkan agar tatkala mencari buku, Anda dapat dengan mudah melihatnya tanpa harus membuka kaca. Mudah kan? Beli HP baru saja bisa, iya kan?

Ketiga, siapkan buku, majalah, koran atau semacamnya yang menjadi ‘kekayaan’ Anda itu. Untuk membeli “barang antik” tersebut, tentu Anda harus siap mengeluarkan dana yang lumayan banyak karena harganya belakangan ini terbilang “mahal”. Tapi, semuanya itu tak mesti dibeli sekaligus. Sisihkan saja sebagian kecil dari penghasilan Anda untuk membeli setiap bulannya. Usahakan setiap bulan Anda menambahkan 4-10 buku ke dalam rak buku Anda, misalnya. Kalau ada uang lebih, lebih banyak buku yang Anda koleksi setiap bulannya tentu lebih baik. Atau silahkan menabung, dan menunggu perhelatan akbar seperti Islamic Book Fair, pameran buku dan lain-lain. Biasanya pada momentum itu buku pada murah. Manfaatkan saja.

Keempat, siapkan meja baca dan kursi serta lampunya yang cukup terang tempat Anda nantinya akan bersantai sambil menikmati bacaan dari gudang ilmu alias perpustakaan pribadi Anda. Kalau memungkinkan, sediakan juga makan ringan atau minuman secukupnya.

Kelima, sediakan kertas kosong dan alat tulis berwarna. Tentu ketika atau setelah membaca ada saja ide atau sesuatu yang terlintas yang mesti Anda tulis. Dengan tersedianya kertas kosong dan alat tulis berwarna akan mudah bagi Anda untuk mendokumentasikannya. Oke.

Well, membangun perpustakaan pribadi adalah sebuah langkah awal yang bagus. Tapi, semua itu belumlah cukup kalau Anda tidak meluangkan waktu untuk membaca, menggali ilmu pengetahuan dari perpustakaan yang Anda buat. Sisihkan waktu, paling tidak 1 atau 2 jam setiap hari untuk membaca. Kalau saya sih sudah terbiasa 3-5 jam perhari.

Hari ini, Rabu, 14 November 2012 M bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1434 H adalah momentum terbaik untuk melakukan hal-hal baru dalam hidup saya. Atau paling tidak memaksimalkan hal-hal lama dengan berbagai inovasi baru. Bukan kah hijrah bermakna “perubahan”? Semoga Anda termotivasi ya!

Di atas segalanya, bagi saya rumah adalah perpustakaan. Saya punya impian, kelak di rumah saya terdapat ruang khusus pepustakaan yang lebih besar dan terkelola dengan baik, yang bisa dikunjungi oleh siapapun. Sehingga rumah benar-benar perpustakaan. Ya, “Rumahku Perpustakaanku”. [Cirebon, 14 November 2012 M/01 Muharram 1434 H. Oleh: Syamsudin Kadir, Motivator, Penulis dan Editor lepas—081 804 621 609]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: