Ayat-Ayat Pahlawan Muda

Sahabat,

Waktu. Datang terasa singkatnya, pergi terasa cepatnya. Waktu terus berlalu. Hari demi hari silih berganti, hingga kita berjumpa dengan hari ini. Berbagai aktivitas terkadang membuat kita kehilangan kesadaran. Ya, kesadaran tentang waktu di mana kita sedang berada dan waktu yang akan kita hadapi. Putaran waktu berjalan tiada terasa. Siang dan malam bergulir begitu cepatnya. Hentakan masa pun menggiring langkah kita. Dari sebuah awal menuju batas akhirnya. Begitulah bukti nyata kuasa Ilahi. Tentu bukan hanya untuk Ashabul Kahfi, namun juga untuk kita yang mengisi ruang zaman ini. Karena kita tercipta untuk kembali. Ya, masa menyemai karya terbentang, menanti tangan-tangan ikhlas kita yang sedang belajar menjadi pejuang. Buat merangkai sejarah yang tak hanya tuk dikenang, namun juga untuk meniti jalan cahaya menuju terang.

 Sahabat,

Negeri sayang, negeri malang; Negeri kita, Indonesia. Mengetuk nurani kita menanti persembahan. Tapi, adakah kita masih terpaku dalam jerat malam, yang hanya berkeliling kelam? Hari ini, adalah waktunya tiba. Detik ini adalah bukti kuasa-Nya tercipta. Bahwa Ia menggenggam putaran masa. Ia ciptakan sebuah awal untuk menyapa akhirnya. Tapi, kesempatan masih tersisa untuk kita berkarya.

Sahabat,

Laskar purnama pun menjadi saksi perjuangan ini. Walau jalan yang dilalui penuh onak dan duri. Namun cahaya itu tetap bersinar hingga hari ini. Karena jalan juang ini tiadalah bertepi.

Sahabat,

Kata puas tak kan pernah ada dalam kamus juang kita. Kerinduan untuk mengabdi itulah asa setiap jiwa. Karena persembahan kita bukanlah apa-apa. Karena kontribusi kita belumlah seberapa. Sebab hidup ini adalah masa karya. Begitulah Allah memberikan kita masa, ya kesempatan yang diberikan untuk banyak empati dan berasa.

Sahabat,

Kalau imunitas mempertemukan jiwa di alam ketinggian, maka ketiadaannya adalah siksaan jiwa bagi kita sebagai pejuang. Kalau imunitas berpisah dengan diri–diri kita, maka idealnya kita tersiksa rindu. Lalu, jika dalam kepenatan gerakan masih ada ‘ruang rindu’, maka itu adalah isyarat besar bahwa kita yang hidup dalam rumah sederhana negeri ini masih memiliki harapan. Karenanya jagalah ayat-ayat pejuang yang kita miliki: ya imunitas kita.

Sahabat,

Lorong kecil yang menyalurkan udara pada ruang kehidupan sebuah bangsa yang tertutup oleh krisis adalah harapan. Inilah inti kehidupan ketika tak ada lagi kehidupan. Inilah benteng pertahanan terakhir bangsa itu. Tapi benteng itu dibangun dan diciptakan para pahlawan. Mungkin mereka tidak membawa janji pasti tentang jalan keluar yang instan dan menyelesaikan masalah. Tapi mereka membangun inti kehidupan; mereka membangunkan daya hidup dan kekuatan yang ter tidurdi sana, di atas alas ketakutan dan ketidakberdayaan.

Sahabat,

Dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia, Anis Matta mengingatkan bahwa sebuah kehidupan yang terhormat dan berwibawa yang dilandasi keadilan dan dipenuhi kemakmuran masih mungkin dibangun di negeri ini. Untaian Zamrud Katulistiwa ini masih mungkin dirajut menjadi kalung sejarah yang indah. Tidak peduli seberapa berat krisis yang menimpa kita saat ini. Tidak peduli seberapa banyak kekuatan asing yang menginginkan kehancuran bangsa ini. Masih mungkin. Dengan satu kata: para pahlawan. Tapi jangan menanti kedatangannya atau menggodanya untuk hadir ke sini. Sekali lagi, jangan pernah menunggu kedatangannya, seperti orang-orang lugu yang tertindas itu; mereka menunggu datangnya Rata Adil yang tidak pemah datang. Mereka tidak akan penah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di negeri ini. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua.Mereka bukan orang lain. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka; dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah.

Sahabat,

Untaian asa mengiringi langkah kita. Rangkaian diksi tertuang dalam refleksi ini, untuk sebuah agenda terakhir. Namun, sahabat,; sekali lagi, di sini kita berpisah, namun di sana kelak kita kan bersua. Karena perjuangan ini tiada kenal henti, bahkan tak selamanya di sini, karena ia kan hingga sampai raga menapak kaki di surga Firdaus yang sudah menanti. Selamat berkarya para pahlawan muda! []

Jakarta; 10 November 2012

Atas nama Kaum Muda Indonesia

 

 

Syamsudin Kadir/081 804 621 609

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s