Awas Bahaya Hermeneutika!

Musuh-musuh Islam tahu bahwa kekuatan umat Islam adalah al-Qur’an, maka mereka membuat strategi untuk menjauhkan umat Islam dari al-Qur’an dan bahkan berusaha memusnahkannya. Tokoh-tokoh mereka mengatakan:

 ü ”Sesungguhnya kepentingan Eropa di Asia Jauh dan Asia Tengah terancam bahaya selama di sana ada al-Qur’an yang dibaca dan Ka’bah yang kerap dikunjungi”. (William Gladstone, Politisi kawakan Inggris)

ü Kita harus menggunakan al-Qur’an sebagai senjata untuk melawan umat Islam sendiri. Kalau harus menjelaskan kepada umat Islam bahwa apa yang benar dalam al-Qur’an bukanlah sesuatu yang baru, sesungguhnya sesuatu yang baru dalam al-Qur’an belum tentu benar”. (Talky, Missionaris)

 

Dikampanyekannya tafsir hermeneutika dalam studi pendidikan Islam di berbagai perguruan tinggi Islam adalah salah satu agenda terselubung yang mesti diwaspadai oleh umat Islam. Hermenetika adalah salah satu model tafsir warisan orientalis. Agar pernyataan ini tidak dianggap doktrin dan upaya penyebaran kebencian, di sini perlu dipaparkan secara singkat mengenai model tafsir ini.

Secara harfiah, hermeneutika artinya ‘tafsir’. Secara etimologi, istilah hermeneutics berasal dari bahasa Yunani (ta hermeneutika), (bentuk jamak dari to hermeneutikon) yang berarti hal-hal yang berkenaan dengan pemahaman dan penerjemahan suatu pesan atau yang berarti menafsirkan (hermeneuin). Istilah ini merujuk kepada seorang tokoh mitologis dalam mitologi Yunani yang dikenal dengan nama Harmes (Mercurius).[1]

Kedua kata tersebut merupakan derivat dari kata Hermes, yang dalam mitologi Yunani dikatakan sebagai dewa yang diutus oleh Zeus (Tuhan) untuk menyampaikan pesan dan berita kepada manusia di bumi. Dalam karya logika Aristoteles, kata hermeneias berarti ungkapan atau pernyataan (statement), tidak lebih dari itu. Bahkan para teolog Kristen abad pertengahan pun lebih sering menggunakan istilah interpretatio untuk tafsir, bukan hermeneusis. Karya St. Jerome, misalnya, diberi judul De optimo genere interpretandi (Tentang Bentuk Penafsiran yang Terbaik), sementara Isidore dari Pelusium menulis De interpretatione divinae scripturae (Tentang Penafsiran Kitab Suci).

Adapun pembakuan istilah hermeneutics sebagai suatu ilmu, metode dan teknik memahami suatu pesan atau teks, baru terjadi kemudian, pada sekitar abad ke-18 M. Dalam pengertian modern ini, hermeneutics biasanya dikontraskan dengan exegesis sebagaimana ilmu tafsir dibedakan dengan tafsir. Adalah Schleiermacher, seorang teolog asal Jerman, yang konon pertama kali memperluas wilayah hermeneutika dari sebatas teknik penafsiran kitab suci (Biblical Hermeneutics) menjadi hermeneutika umum (General Hermeneutics) yang mengkaji kondisi-kondisi apa saja yang memungkinkan terwujudnya pemahaman atau penafsiran yang betul terhadap suatu teks. Schleiermacher bukan hanya meneruskan usaha Semler dan Ernesti untuk membebaskan tafsir dari dogma, ia bahkan melakukan desakralisasi teks.

Dalam perspektif hermeneutika umum, semua teks diperlakukan sama, tidak ada yang perlu diistimewakan, apakah itu kitab suci ataupun teks karya manusia biasa. Kemudian datang Dilthey yang menekankan historisitas teks dan pentingnya kesadaran sejarah (Geschichtliches Bewusstsein). Seorang pembaca teks, menurut Dilthey, harus bersikap kritis terhadap teks dan konteks sejarahnya, meskipun pada saat yang sama dituntut untuk berusaha melompati jarak sejarah antara masa-lalu teks dan dirinya. Pemahaman kita akan suatu teks ditentukan oleh kemampuan kita mengalami kembali (Nacherleben) dan menghayati isi teks tersebut. Di awal abad ke-20, hermeneutika menjadi sangat filosofis.

Interpretasi merupakan interaksi keberadaan kita dengan wahana sang Wujud (Sein) yang memanifestasikan dirinya melalui bahasa, ungkap Heidegger. Yang tak terelakkan dalam interaksi tersebut adalah terjadinya hermeneutic circle, semacam lingkaran syetan atau proses tak berujung-pangkal antara teks, praduga-praduga, interpretasi, dan peninjauan kembali (revisi). Demikian pula rumusan Gadamer, yang membayangkan interaksi pembaca dengan teks sebagai sebuah dialog atau dialektika soal-jawab, dimana cakrawala kedua-belah pihak melebur jadi satu (Horizontverschmelzung), hingga terjadi kesepakatan dan kesepahaman. Interaksi tersebut tidak boleh berhenti, tegas Gadamer. Setiap jawaban adalah relatif dan tentatif kebenarannya, senantiasa boleh dikritik dan ditolak. Habermas pergi lebih jauh. Baginya, hermeneutika bertujuan membongkar motif-motif tersembunyi (hidden interests) yang melatarbelakangi lahirnya sebuah teks. Sebagai kritik ideologi, hermeneutika harus bisa mengungkapkan pelbagai manipulasi, dominasi, dan propaganda di balik bahasa sebuah teks, segala yang mungkin telah mendistorsi pesan atau makna secara sistematis.

The New Encyclopedia Britannica menulis,  bahwa hermeneutika adalah studi prinsip-prinsip general tentang interpretasi Bibel (the study of the general principle of biblical interpretation). Tujuan dari hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bibel.

Model interpretasi Bibel

Dalam sejarah interpretasi Bibel, ada empat model utama interpretasi Bibel, yaitu: (1) literal interpretation, (2) moral interpretation (3) allegorical interpretation, dan (4) anagogical interpretation.[2]

Interpretasi  literal maksudnya adalah interpretasi yang sesuai dengan makna yang jelas (plain meaning), sesuai konstruksi tata bahasa dan konteks sejarahnya. Model ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan kemauan penulis Bibel. Mereka percaya bahwa kata-kata yang tercantum dalam Bibel adalah berasal dari Tuhan. Mereka dikritik sebab tidak mempertimbangkan banyaknya bukti yang menunjukkan adanya “individual style” pada masing-masing penulis Bibel. Model ini dianut oleh banyak tokoh dalam sejarah Kristen, seperti Jerome (pakar Bibel pada abad ke-4 M), Thomas Aquinas, Nicholas of Lyra, John Colet, Martin Luther, dan John Calvin.

Interpretasi moral  adalah interpretasi yang mencoba membangun prinsip-prinsip penafsiran yang memungkinkan nilai-nilai etik diambil dari beberapa bagian dalam Bibel. Biasanya juga digunakan teknik alegoris dalam model ini. The Letter of Barnabas (sekitar 100 M), misalnya, menginterpretasikan undang-undang tentang makanan dalam Kitab Imamat (Leviticus), bukan sebagai larangan untuk memakan daging hewan tertentu, tetapi lebih merupakan sifat-sifat buruk yang secara imajinatif diasosiasikan dengan hewan-hewan itu.

Menurut model ketiga, allegorical interpretation, teks-teks Bibel mempunyai makna pada level kedua, di atas seseorang, sesuatu, ataupun yang jelas-jelas disebutkan secara gamblang dalam teks. Format utama model ini adalah tipologi. Tokoh-tokoh kunci dan peristiwa-peristiwa penting dalam Perjanjian Lama (Old Testament) dilihat sebagai satu tipe bayangan ke depan untuk tokoh dan peristiwa-peristiwa yang ada di Perjanjian Baru (New Testament).

Menurut pendukung metode ini, perahu Noah adalah satu “tipe” dari gereja Kristen yang sudah dirancang Tuhan sejak dulu. Philo (50 SM-20 M), seorang filosof Yahudi, adalah pelopor model interpretasi ini. Philo melakukan usaha kreatif yang menggabungkan tradisi Yahudi dengan tradisi Yunani. Ia tidak mengabaikan makna literal. Makna literal dipandang rendah, primitif, dan perlu diangkat ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu makna alegoris (kiasan). Model ini kemudian diikuti Christian Clement of Alexandria. Berikutnya, Origen melakukan sistematisasi terhadap prinsip-prinsip hermeneutika alegoris ini. Menurutnya, ada tiga kategori makna dalam teks Bibel, yaitu literal, moral, dan alegoris. Yang terakhir itulah yang tertinggi tingkatannya. Origen mengembangkan teorinya dari filsafat Paulus dan Yunani, bahwa tubuh manusia terdiri atas “body”, “soul” dan “spirit”. Sebagaimana teks Bibel juga mempunyai pengertian “literal”, “moral”, dan “spiritual”.

Di abad pertengahan (500-1500 M), teori “tiga tingkat” Origen itu dikembangkan lagi menjadi “empat tingkat” dengan menambah model yang keempat, yaitu anagogis. Anagogical interpretation juga dikenal sebagai “mystical  interpretation”. Model ini dipengaruhi oleh tradisi mistik Yahudi (Kabbala) yang di antaranya mencoba mencari makna-makna mistis dari angka-angka dan huruf-huruf Hebrew. Contoh dari interpretasi empat tingkat adalah kata ‘jerusalem’. Pada level  literal, Jerusalem adalah nama kota yang ada di bumi. Pada makna alegoris, Jerusalem diartikan sebagai “gereja Kristen”. Menurut makna moral, Jerusalem berarti jiwa (soul). Dan pada level anagogis (escatbological), Jerusalem adalah “kota Tuhan di masa depan”.

Dari empat model itu, dua model menjadi arus utama  interpretasi Bibel pada awal-awal sejarah kekristenan, yaitu model Alexandria (alegoris) dan model Antioch (literal): Paparan Paulus dalam Galatia 4:24 tentang kisah Abraham, Hagar, dan Sarah menjadi sandaran model alegoris. Alexandria memang menjadi tempat yang subur bagi tradisi filsafat Yunani, sehingga berpengaruh besar terhadap model interpretasi Bibel.

Agak sedikit berbeda dengan sistematika The Encyclopedia Britannica tentang herrmeneutika dalam tradisi Bibel, Werner G. Jeanrond dalam bukunya “Theological Hermeneutics”, menguraikan secara sistematis sejarah perkembangan hermeneutika di kalangan Yunani, Yahudi, dan Kristen. Di kalangan Yahudi, misalnya, di awal-awal tumbuhnya Kristen, memiliki berbagai metode interpretasi terhadap Taurat, yaitu literalist interpretation, Midrashic Interpretations, Pesher interpretations, dan Allegorical  interpretation.

Di masa awal Kristen, Jesus cenderung tidak mengikuti interpretasi secara literal, tetapi lebih mendekati metode Midrashic.  Namun pada awal abad ke-3 M, aliran hermeneutika yang berkembang di kalangan Kristen, khususnya Alexandria, adalah allegorical interpretation. Tokoh hermeneutika alegoris yang menonjol adalah Origen (185-254). Aliran alegoris Alexandria segera mendapat kritikan dari aliran literal dan historis dari kalangan Kristen Antioch. Dari perseteruan dua aliran hermeneutika ini muncul seorang tokoh Kristen yang sangat terkenal yaitu Augustine of Hippo (354-430). Ia menulis buku De Doctrina Christiana (On Christian Doctrine), yang mencoba memadukan kedua aliran tersebut.

Model alegoris memang bisa menghasilkan pengertian yang liar. Karena itu, kalangan Kristen membatasi model ini dengan rule of faith, yaitu bahwa interpretasi haruslah sejalan dengan ajaran gereja. Selain rule of faith alat kontrol penafsiran liar adalah apa yang disebut sebagai “hermeneutical circle”, maksudnya, suatu teks harus diinterpretasikan sesuai konteks Bibel secara keseluruhan, bukan hanya konteks lokal teks terebut. Interpreter Bibel pada awal-awal sejarah Kristen, seperti Irenaeus (m. 202 M) dan Tertulian (m. sekitar 222 M) berargumen bahwa hanya pastur-pastur  yang memiliki garis otoritatif dari para apostles saja yang memiliki otoritas untuk menginterpretasi Bibel (apostles atau rasul dalam terminologi Kristen menunjuk pada pengikut Jesus).

Pada abad pertengahan, muncul nama Thomas Aquinas (1225-1274), yang dianggap pemikir besar dalam hermeneutika. Bukunya, Summa Theologica menekankan pentingnya interpretasi secara literal. Dia bahkan masih menyatakan: “The author of holy scripture is God, in whose power it is to signify meaning, not by words only (as man can also do), but by things themselves.” Di sini teologi masuk ke dalam persoalan hermeneutika. Bahkan hingga masa reformasi, penempatan teologi sebagai basis interpretasi hermeneutika masih terus dilakukan.

Martin Luther, seorang tokoh reformis pada abad ke-16, menyatakan, bahwa “kata-kata Tuhan harus diartikan secara jelas (simplest meaning) selama masih memungkinkan. Kata-kata Tuhan itu, katanya, harus dipahami sesuai arti tata bahasa dan makna literalnya. Jika metode literal tidak digunakan, menurut Luther, maka akan memberikan kesempatan kepada musuh untuk melakukan penghinaan kepada Bibel. Para reformis Kristen ini menekankan model literal dengan tujuan untuk mengalihkan otoritas interpretasi Bibel dari Gereja, konsili-konsili, dan Paus, ke teks Bibel itu sendiri. Para reformis ini memang sangat anti kepada Paus dan Katolik.

Menurut Luther, kekuatan anti-kristus adalah Paus dan bangsa Turki. Kekuatan jahat memiliki tubuh dan nyawa. Nyawa dari kekuatan anti-kristus adalah Paus, daging dan tubuhnya adalah Turki … Bangsa Turki adalah bangsa yang dimurkai Tuhan. (Antichrist is the Pope and the Turk together. A beast full of life must have a body and soul. The spirit or soul of Antichjrist is the Pope, his flesh and body the Turk … The Turk are the people of the Wrath of God).

Kisah pemberontakan Martin Luther terhadap Gereja memang menarik. Pada 31 Oktober 1517, ia mulai melawan kekuasaan Paus dengan cara menempelkan 95 poin pernyataan (ninety-five Theses) di pintu  gerejanya, di Jerman. Ia terutama menentang praktik penjualan “pengampunan dosa” (indulgences) oleh pemuka gereja. Pada 95 theses-nya itu, Luther juga menggugat keseluruhan doktrin supremsi Paus, yang dikatakannya telah kehilangan legitimasinya akibat  penyelewengan yang dilakukannya. Tahun 1521, Luther dikucilkan dari Gereja Katolik. Namun, Luther berhasil mendapatkan perlindungan seorang penguasa di wilayah Jerman dan akhirnya mengembangkan gereja dan ajaran tersendiri  terlepas dari kekuasaan Paus.[3]

Antara satu model dengan model interpretasi tersebut terjadi perbedaan yang begitu jauh. Sehingga dari masing-masing interpretasi tersebut menghasilkan berbagai pandangan yang berwujud dalam pengamalan atau praktik keagamaan, khususnya di dunia Barat dan umumnya dunia global hingga kini.

Ada satu pertanyaan yang mesti kita ajukan, apakah hermeneutika merupakan suatu metode tafsir?

Untuk menjawab pertanyaan ini, di sini perlu dipaparkan berbagai pendapat.

Hermeneutika, menurut Schleiermacher, mencakup banyak hal, seperti tata bahasa, retorika, logika, sejarah tradisi teks, penerjemahan, dan kritik terhadap teks. Tugas utama hermeneutika adalah untuk memahami teks sebagaimaa dimaksudkan oleh para  penulis teks itu sendiri. (The main taks of hermeneutics, however, was to understand the texts as their authors bad understood them).

Dari sini dapat dipahami bahwa hermeneutika bukan sekadar tafsir, melainkan satu ‘metode tafsir’ tersendiri atau satu filsafat tentang penafsiran, yang sangat berbeda dengan metode tafsir dalam kajian tafsir Islam. Bahkan ia sangat bertentangan dengan prinsip dan metode tafsir yang dipahami dalam kajian tafsir Islam yang dikembangkan oleh para ulama.

Setiap agama memiliki kitab keagamaan, dan setiap kitab keagamaan memiliki sejarah dan tradisi pemahamannya sendiri-sendiri. Problem pemahaman teks suatu agama tidak dapat diselesaikan oleh metode pemahaman teks agama lain. Sebagaimana juga problem undang-undang suatu Negara tidak dapat diselesaikan oleh undang-undang Negara lain.

Berbagai kajian di kalangan cendekiawan Kristen sendiri menujukkan bahwa teks Bibel baik secara historis maupun teologis memang bermasalah. Karena problem teks yang dihadapi para teolog Kristen inilah, maka mengapa hermeneutika asal Yunani itu diperlukan untuk menginterpretasikan Bibel?

Di kalangan Kristen, saat ini, penggunaan hermeneutika dalam interpretasi Bibel sudah sangat lazim, meskipun juga menimbulkan perdebatan di antara mereka sendiri.[4] Salah satu buku yang banyak dirujuk kalangan akademisi IAIN dalam menulis hermenetika adalah buku E. Sumaryono yang berjudul Hermeneutika: Sebuah Metodologi Filsafat (Yogjakarta: Penerbit Kanisius, 1999). Buku ini, menurut Adian, memuat kesalahan yang fatal dalam memandang konsep teks kitab suci agama-agama dan menyatakan bahwa tafsir (Al-Qur’an) sama dengan hermeneutika. Ditulis dalam buku ini (baca:  Hermeneutika: Sebuah Metodologi Filsafat):

“Disiplin ilmu yang pertama yang paling banyak menggunakan hermeneutika adalah ilmu tafsir kitab suci. Sebab, semua karya yang mendapatkan inspirasi Ilahi seperti al-Qur’an, kitab Taurat, kitab-kitab Weda, dan Unpanishad supaya dapat dimengerti memerlukan interpretasi atau hermeneutika.” [5]

Cara pandang Sumaryono sebagai orang Katolik memang khas konsep Kristen tentang Bibel. Tetapi Sumaryono jelas tidak cermat, karena di kalangan Kristen seperti Dr. C. Groenen, banyak yang sadar akan perbedaan antara konsep teks al-Qur’an dengan Bibel. Al-Qur’an bukanlah kitab suci yang mendapatkan inspirasi dari Tuhan sebagaimana yang dipercayai oleh petinggi Kristen dalam memahami konsep Bibel, karena al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan lafaz dan maknanya dari Allah Swt. Konsep ini berbeda dengan konsep teks dalam Bibel, yang merupakan teks yang dibuat dan ditulis oleh manusia yang kata mereka mendapat inspirasi dari ruh kudus. Bahkan, Paus sendiri mengakui perbedaan antara al-Qur’an dan Bibel.[6]

Para penganut paham hermeneutika memang sudah menganut paham relativisme tafsir. Menurut mereka tidak ada tafsir yang tetap. Semua tafsir mereka pandang sebagai produk akal manusia yang relatif, kontekstual, temporal dan personal. Tidak ada tafsir yang benar. Bahkan di antara mereka ada yang beranggapan bahwa para ulama tidak cukup representatif untuk menafsirkan al-Qur’an.

Salah satu tokoh yang sering ‘mencaplok’ paham dan ide-ide hermeneutika, Amin Abdullah, menggambarkan fungsi hermeneutika sebagai berikut:

“Dengan sangat intensif hermeneutika mencoba membongkar kenyataan bahwa siapapun orangnya, kelompok apapun namanya, kalau masih pada level manusia, pastilah ‘terbatas’, ‘parsial-kontekstual’ pemahamannya, serta ‘bisa saja keliru’. Hal ini tentu berseberangan dengan keinginan egois hampir semua orang untuk ‘selalu benar’.[7]

Berangkat dari pemahaman seperti ini, maka tidak ada lagi satu kebenaran yang bisa diterima semua pihak. Semua manusia bisa salah. Lalu, bagaimana dengan Nabi dan ijma’ para sahabat? Bukankah ada satu hadits Nabi yang menyatakan, “Umatku tidak akan bersepakat dalam kesesatan”? Apakah semua itu harus dibongkar dengan hermeneutika? Imam Bukhori dan para Imam hadits lainnya banyak menyepakati tentang keshahihan dan kemutawatiran hadits Nabi. Mereka menuangkan pemikiran mereka ke dalam kitab-kitab hadits, hasil akal pikiran mereka.

Jika konsep hermeneutika seperti yang dirumuskan oleh Amin Abdullah itu diterima, maka jelas akan membongkar dasar-dasar Islam. Dalam bidang tafsir, misalnya, maka akan mereka katakan bahwa semua produk tafsir adalah akal manusia, dan karena itu sifatnya pasti ‘terbatas’, parsial-kontekstual’, dan ‘bisa saja keliru’. Dengan demikian, menurut penganut  hermeneutika ini, maka tidak ada tafsir yang qath’i, tidak ada yang pasti kebenarannya, semuanya relatif, semuanya zhanni.

Pemikiran seperti itu sangat tidak beralasan. Islam adalah din yang satu, dan sepanjang sejarah ulama Islam bersatu dalam banyak hal. Umat Islam sejak zaman Nabi Saw. hingga kini sampai Kiamat, membaca syahadat dengan lafaz yang sama, shalat subuh dua raka’at, membaca takbir ‘Allahu Akbar’, shoum di bulan Ramadan dengan cara yang sama, haji ke Baitullah juga dengan cara yang sama. Akal manusia jelas bisa menjangkau hal yang mutlak, yang tentu saja dalam batas-batas manusia. Artinya, akal manusia bisa meyakini kebenaran yang satu. Tidak benar pemahaman yang mengatakan bahwa akal manusia selalu berbeda dalam segala hal. Bahkan dalam menafsirkan al-Qur’an pun, para mufasir tidak berbeda tentang kewajiban shalat lima waktu, tidak berbeda tentang kewajiban shoum Ramadhan, kewajiban zakat dan lain-lain. Para mufasir juga tidak pernah berbeda dalam hal keharaman babi, haramnya zina, haramnya khomer, haramnya wanita muslimah menikah atau dinikahkan dengan laki-laki non-muslim, dan sebagainya. Artinya, ungkapan bahwa semuanya ‘relatif’ adalah sebuah ungkapan yang sangat ‘relatif’.

Jika begitu, apa saja bahaya hermeneutika terhadap al-Qur’an? Tadi sudah dipaparkan mengenai defenisi dan berbagai perspektif mengenai hermeneutika. Selanjutnya yang perlu dipaparkan adalah mengenai bahaya hermeneutika terhadap Islam, terutama terhadap al-Qur’an.

Paham hermeneutika yang mengandung prinsip relativisme agama ini sangat berbahaya. Sebab, menurut Adian Husaini, (1) menghilangkan keyakinan akan kebenaran dan finalitas Islam, sehingga selalu berusaha memandang kerelativan Islam, (2) menghancurkan bangunan ilmu pengetahuan Islam yang lahir dari al-Qur’an dan Sunnah Rasul yang sudah teruji selama ratusan tahun. Padahal, metode hermeneutika al-Qur’an hingga kini masih merupakan upaya coba-coba beberapa ilmuwan kontemporer yang belum membuahkan pemikiran Islam yang utuh dan komprehensif. Akibatnya, para pendukung hermenutika tidak akan mampu membuat satu interpretasi al-Qur’an yang utuh, apalagi menafsirkannya. Mereka hanya berkutat pada masalah dekonstruksi sejumlah konsep/hukum Islam yang sudah dipandang baku dalam Islam, dan (3) menempatkan Islam sebagai agama sejarah yang selalu berubah mengikuti zaman. Bagi mereka tidak ada yang tetap dalam Islam. Hukum-hukum Islam yang sudah dinyatakan final dan tetap akan senantiasa bisa diubah dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Saat ini, sejalan dengan arus liberalisasi Islam, sudah banyak yang berani menghalalkan hukum-hukum yang sudah pasti, sepertinya haramnya muslimah menikah dengan laki-laki non muslim, dan haramnya pernikahan homoseksual.[8]

Mereka beranggapan bahwa menikah itu urusan privat atau hak individu dengan Pencipta (Allah). Sesama manusia tidak punya hak untuk menyatakan salah atau benarnya aktivitas atau pilihan hidup manusia lain. Semua agama itu sama-sama menuju Tuhan, karena itu menikah beda agama adalah sah. Bahkan menikah dengan sesama jenis adalah pilihan terbaik yang merupakan bagian dari hak kemanusiaan.

Pemahaman-pemahaman seperti itu sebetulnya terlahir karena kegagalan Kristen-Barat dalam menformat dan memahamkan Bibel kepada kaum mereka dengan apa yang mereka sebut sebagai hermeneutika. Berbagai kasus pemerkosaan dan lesbian yang terjadi di Barat adalah bukti nyata bahwa aplikasi dari konsep dan metode itu tak memenuhi standar ilmiah dan sangat merusak tatanan hidup masyarakat dan kemanusiaan.

Lebih lanjut, mari kita kaji sedikit mengenai Bibel dalam Tradisi Yahudi dan Kristen. Coba diperhatikan, istilah “Bibel” digunakan oleh Yahudi dan Kristen. Keduanya—meskipun memiliki konflik yang panjang dalam sejarah—berbagi irisan dalam soal Bibel. Hingga kini Bibel (Latin: Biblia, artinya ‘buku kecil’; Yunani: Biblos) biasanya dipahami sebagai Kitab Suci kaum Kristen dan Yahudi.

Namun, ada perbedaan antara kedua agama itu dalam menyikapi fakta yang sama, khususnya bagian yang oleh pihak Kristen disebut sebagai The Old Testament atau Perjanjian Lama. Istilah “Old Testament” ditolak oleh Yahudi karena istilah itu mengandung makna, perjanjian (covenant  atau testament) Tuhan dengan Yahudi adalah Perjanjian Lama (Old Testament) yang sudah dihapus dan digantikan dengan “Perjanjian Baru” (New Testament) dengan kedatangan Jesus yang dipandang kaum Kristen sebagai Juru Selamat. Yahudi menolak klaim Jesus sebagai  juru selamat manusia.

Bagi Yahudi, yang disebut sebagai Bibel adalah 39 Kitab dalam ‘Perjanjian Lama’–nya kaum Kristen, dengan sedikit perbedaan susunan. Yahudi menyebut Kitabnya ini sebagai Bible atau Hebrew Bible atau Jewish Bible. Kedudukan Bibel, yang di dalamnya termuat Torah, bagi kaum Yahudi adalah sangat vital. Louis Jacobs, seorang teolog Yahudi merumuskan: “A Judaism without God is no Judaism. A Judaism without Torah is no Judaism. A Judaism without Jews is no Judaism.” Yang disebut Torah adalah lima kitab pertama dalam Hebrew Bibel, yaitu Genesis (Kejadian), Exodus (Keluran), Leviticus (Imamat), Numbers (Bilangan), dan Deuteronomy (Ulangan).

Meskipun Hebrew Bibel merupakan kitab yang sangat tua dan  mungkin paling banyak dikaji manusia, tetapi tetap masih merupakan misteri hingga kini. Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, menulis, bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis Kitab ini masih merupakan misteri. (It’s a strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization). Ia mencontohkan, the Book of Torah, atau The Five Book of Moses, diduga ditulis oleh Moses. Book of lamentation ditulis Nabi Jeremiah. Separoh Mazmur (Psalm) ditulis King David. Tetapi, kata Friedman, tidak seorang pun tahu, bagaimana  penyandaran itu memang benar. The Five Book of Moses, kata Friedman, merupakan teka-teki paling tua di dunia (It is one of the oldest puzzles in the world). Tidak ada satu ayat pun dalam Torah yang menyebutkan, bahwa Moses adalah penulisnya. Sementara di dalamnya dalam teks-nya dijumpai banyak kontradiksi.

Problem lain dalam Hebrew Bibel adalah soal standar moral para tokohnya. David, the King of Israel, digambarkan melakukan tindakan keji dengan melakukan perzinahan dengan Batsheba dan menjerumuskan suaminya, Uria, ke ujung kematian. Akhirnya, ia megawini Batsheba dan melahirkan Solomon. Harper’s Bible Dictionary, mencatat sosok David sebagai: “The most powerful King of Biblical Israel.” Namun, David bukanlah sosok yang patut diteladani dalam berbagai hal. A Dictionary of the Bible mengungkap sederet kejanggalan perilaku dan moralitas David, sebagaimana tersebut dalam Bibel. Peperangan-peperangan yang dilakukannya, terkadang diikuti dengan kekejaman yang ganas. Dan dosa besarnya, adalah perzinahannya dengan seorang perempuan cantik bernama Batsheba, yang ketika itu masih menjadi isteri sah dari anak buahnya sendiri. “The great sins of his life, his adultery with Batsheba and murder of Uriah, are perhaps but the common crimes of an oriental despot, but so far as we can judge, they were not common to Israel, and David as well as his subjects knew of a higher moral standard.”

Kasus perzinahan dan perselingkuhan banyak tersebar dalam Bibel. Judah (Yehuda), tokoh Israel, anak Jacob dari Lea, berzina dengan menantunya sendiri yang bernama Tamar (Kejadian 38:1-11 dan 15-18). Juga, Amon bin David diceritakan memerkosa adiknya sendiri. Kisah ini dengan sangat  panjang dan secara terperinci diceritakan dalam 2 Samuel  13:1-22. Padahal, hukuman bagi pezina menurut Kitab Imamat 20, adalah hukuman mati.

Kajian ilmiah terhadap teks Perjanjian Baru (The New Testament) yang berkembang pesat di kalangan teologi Kristen serta fakta sejarah dan sains dalam Bibel membuktikan banyaknya problem yang dihadapi. Dua pakar Yahudi, Israel Finkelstein dan Neil Asher Silberman, tahun 2002 lalu menulis buku: The Bible Unearthed: Archaelogy’s New Vision of Ancient Israel and the Origin of Its sacred Texts. Isinya memberikan kritik yang tajam terhadap berbagai data sejarah dalam Hebrew Bibel.

Profesor Bruce M. Metzger, guru besar bahasa Perjanjian Baru di Princeton Theological Seminary, menulis beberapa buku tentang teks Perjanjian Baru. Salah satu bukunya yang berjudul “The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration” (Oxford University Press, 1985) menunjukkan problematika teks yang serius. Dalam pembukaan bukunya yang lain berjudul “A Textual Commentary on the Greek New Testament”, (terbitan United Bible Societies, corrected edition tahun 1975), Metzger menjelaskan adanya dua kondisi yang selau dihadapi oleh interpreter Bibel, yaitu (1) tidak adanya dokumen Bibel yang original saat ini, dan (2) bahan-bahan yang ada pun sekarang ini bermacam-macam, dan berbeda satu dengan lainnya.

Dalam bukunya itu Metzger menjelaskan bahwa The New Testament yang asalnya berbahasa Yunani (Greek) itu mengalami problem kanonifikasi yang rumit. Banyaknya manuskrip menyebabkan keragaman versi teks Bibel tidak dapat dihindari. Hingga kini, ada sekitar 5000 manuskrip teks Bibel dalam bahasa Greek, yang berbeda satu dengan lainnya. Cetakan pertama The New Testament bahasa Greek terbit di Basel pada 1516, disiapkan oleh Desiderius Erasmus. (Ada yang menyebut tahun 1514 terbit  The New Testament edisi Greek di Spanyol). Karena tidak ada manuskrip Greek yang lengkap, Erasmus menggunakan berbagai versi Bibel untuk melengkapinya. Untuk Kitab Wahyu (Revelation) misalnya, ia gunakan versi Latin susuan Jerome, Vulget. Padahal, teks Latin itu sendiri memiliki keterbatasan dalam mewakili bahasa Greek. Dalam bukunya yang lain, The Early Versions of the New Testaments, Metzger mengutiip tulisan Bonifatius Fischer, yang berjudul, “Limitationof Latin in Representing Greek”: “Although the Latin language is in general very suitable for use in making a translation from Greek, there still remain certain features which can not be expressed in Latin.

Memang bahasa asli Bibel menjadi salah satu sebab penting timbulnya persoalan makna-makna dalam teks itu dan sudah tentu interpretasinya. Tahun 1519, terbit edisi kedua Teks Bibel dalam bahasa Yunani. Teks ini digunakan oleh Martin Luther dan William Tyndale untuk menerjemahkan Bibel dalam bahasa Jerman (1522) dan Inggris (1525). Tahun-tahun berikutnya banyak terbit Bibel bahasa Greek yang berbasis pada teks versi Byzantine. Antara tahun 1516 sampai 1633 terbit sekitar 160 versi Bibel dalam bahasa Greek. Dalam edisi Greek ini dikenal istilah Textus Receptus (teks yang disepakati) yang dipopulerkan oleh Bonaventura dan Abraham Elzevier. Namun, edisi ini pun tidak jauh berbeda dengan 160 versi lainnya. (Bruce M. Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament”, hal. xxii-xxiv).

Meskipun sekarang telah ada kanonifikasi, tetapi menurut Metzger, adalah mungkin untuk menghadirkan edisi lain dari The New Testament (the way is open for the possible edition of another book or epistle to the New Testament canon). Jadi karena Bibel asli tidak ditemukan maka teks standar  untuk membuat berbagai versi pun diperparah lagi oleh tradisi kependetaan (Rabbanic Tradition) yang memberikan kuasa agama secara penuh kepada Gereja. Di sinilah sebenarnya akar masalahnya sehingga Bibel memerlukan hermeneutika.

Lalu, jika teori yang “problematis” dan “gagal” tersebut diterapkan kepada al-Qur’an, maka pemahaman terhadap al-Qur’an bahkan Islam akan menjadi rapuh dan ragu. Ujung-ujungnya, umat Islam akan lebih suka mengacak-acak al-Qur’an daripada usaha untuk memahami ilmu tafsir dan isinya. Lebih rajin mencaci maki para ulama dan sesama muslim daripada melawan para penghancur dan perusak Islam dan al-Qur’annya.

Selain itu, cara dan metode tafsir hermeneutika tidak bisa diterapkan dalam penafsiran al-Qur’an, sebab al-Qur’an adalah wahyu yang lafaz dan maknanya dari Allah, bukan buatan manusia. Karena itu, misalnya, ketika al-Qur’an berbicara mengenai pernikahan, khamer, aurat wanita, dan sebagainya, al-Qur’an tidak berbicara untuk orang Arab, tapi untuk semua manusia. Contoh kecil tentang aurat, bahwa aurat bagi wanita adalah seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangannya. Nah, struktur umum dari anatomi tubuh semua manusia itu sama. Karena itu, hukum menutup aurat berlaku untuk semua manusia yang beriman kepada al-Qur’an di manapun mereka berasal dan bertempat tinggal. Para ulama sudah menyepakati pemahaman itu. Konsep finalitas seperti inilah yang tidak ditemukan dalam konsep agama lain, baik Kristen, Hindu, Budha maupun yang lainnya.

Dengan demikian, penggunaan hermeneutika sebagai satu metode tafsir al-Qur’an sangat berbahaya, karena berpotensi besar membubarkan ajaran Islam yang sudah final. Dan itu sama artinya dengan membubarkan Islam itu sendiri. Karena itu, para akademisi muslim dan umat Islam yang masih bangga dengan metode ini semestinya sadar benar akan bahaya besar ini. Yang mesti difokuskan adalah menyadarkan diri dan umat untuk kembali memahami metode tafsir yang sudah menjadi metode para ulama yang secara turun-temurun bersambung hingga ke Rasulullah Saw.

Bukan sebaliknya, bersikap tidak peduli atau bahkan dengan gagah dan bangganya mengikuti tradisi Barat dalam memperlakukan Yahudi dan Kristen; atau perlakuan mereka terhadap Bibel. Karena bagaimanapun, Bibel adalah tak lebih seperti karya tulis yang pada faktanya tak ada hubungannya dengan Islam (baca: al-Qur’an) bahkan dengan seluruh para nabi dan rasul Allah. Sebab tak satupun catatan sejarah yang objektif dan ilmiah yang menjelaskan bahwa Bibel benar-benar wahyu Allah. Ia hanyalah kumpulan interpertasi petinggi Kristen-Barat terhadap sebuah fenomena keagamaan kemudian disakralkan dan didokumentasikan sebagai kitab suci.

Dalam bukunya “Metodologi Bibel dalam Studi Al-Qur’an” (Jakarta: GIP, 2005), Adnin Armas telah melakukan penelitian yang cukup mendalam tentang realitas infiltrasi atau adopsi metodologi studi Bibel dalam studi al-Qur’an, termasuk dalam metodologi penafsiran al-Qur’an. Walaupun masih dan akan terus gagal, proyeksi dan agenda infiltrasi terhadap studi al-Qur’an ini cukup berbahaya bagi umat Islam. Karenanya perlu kewaspadaan yang tak sedikit dari para ulama dan akademisi Muslim.

Ada satu hal yang menjadi renungan bagi kaum muslimin bahwa perkembangan hermeneutika dalam tradisi Bibel tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kristen dan peradaban Barat (Eropa), yang banyak dipengaruhi oleh trauma Barat terhadap otoritas Gereja, dan problematika teks Bibel itu sendiri. Perkembangan tradisi kritiks teks dan kajian historisitas Bibel telah membuka pintu lebar-lebar terhadap perkembangan kajian hermenutika modern yang kemudian mensubordinasikan metode interpretasi Bibel ke dalam prinsip-prinsip hermeneutika umum. Sebagai satu teks, Bibel memang memiliki penulis (author). Banyak teori yang dikemukakan seputar  penulisan Bibel  ini, maka dari itu metode hermeneutika sangat menekankan pada aspek historisitas dan kondisi penulis teks.

Apakah hermeneutika dalam tradisi interpretasi Bibel ini sama dengan tradisi pemahaman dan penafsiran al-Qur’an atau teks-teks keagamaan lain? Dan apakah applicable jika metode semacam ini diterapkan untuk menafsirkan al-Qur’an? Jawaban kedua pertanyaan tersebut, menurut Adian Husaini,  sebenarnya memerlukan dua kajian penting yaitu: Pertama, komparasi antara konsep teks al-Qur’an dan konsep teks Bibel. Kedua, perbandingan antara sejarah  peradaban Islam dan peradaban Barat (Kristen-Eropa).

Namun untuk sementara telah dapat difahami bahwa konsep teks Bibel dan al-Qur’an serta posisi masing-masing di mata penganutnya jelas berbeda. Tradisi keagamaan dalam memahami Bibel dan al-Qur’an sudah tentu berbeda dan realitanya menghasilkan peradaban yang berbeda pula. Seyogyanya ini disadari, agar tidak terjadi sikap latah, mengikuti ke mana saja “sang tuan” memberi petunjuk, meskipun harus masuk ke lubang biawak.

Penjelasan di atas sangat jelas dan tegas. Selebihnya, silahkan perdalam berbagai macam ilmu otentik Islam dari berbagai referensi atau sumber. Ada qur’an-ilmu qur’an, tafsir-ilmu tafsir, hadits-ilmu hadits, fiqih-ushul fiqih, siroh-fiqih siroh, nahwu, shorof, mantiq, balaghoh dan berbagai macam pengetahuan lainnya daripada secara latah, picik dan kerdil mengikuti konsep epistemologi ilmu-ilmu Barat tanpa koreksi dan nalar kritis. []

Jakarta; 10 September 2012

Syamsudin Kadir/ 081 809 621 609


[1] Adian Husaini dan Abdurrahman Al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an (2007), hal. 7

[2] Ibid, hal. 8

[3] Baca tulisan Problem Teks Bibel dan Hermeneutika (Adian Husaini) di http://www.dewandakwah.com/content/view/117/47/

[4] Adian Husaini dan Abdurrahman Al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an (2007), hal. 7

[5] Lebih lengkap terkait pembahasan ini bisa dibaca dalam Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an (Jakarta: 2007) hal. 9. Kajian yang cukup luas tentang hermenutika dalam Bibel ditulis dalam buku Interpreting the Scriptures karya Kevin J. Corner dan Ken Malmin (Malang: Gandus Press, 2004). Ditulis dalam buku ini, bahwa banyaknya perpecahan dalam agama Kristen terjadi bukan hanya karena hal-hal jasmaniyah atau adanya sekte-sekte (heresy), melainkan juga karena perbedaan-perbedaan dalam bidang hermeneutik.

[6] Adian Husaini dan Abdurrahman Al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an (2007), hal. 9

[7] Baca Pengantar M. Amin Abdullah untuk buku Hermenetika Al-Qur’an: Tema-tema Kontoversial, karya Fahrudin Faiz (Yogjakarta: el-SAQ Press: 2005)

[8] Adian Husaini dan Abdurrahman Al-Baghdadi, Hermeneutika dan Tafsir Al-Qur’an (2007), hal. 20

 

 

 

Iklan

One thought on “Awas Bahaya Hermeneutika!

  1. Sangat bermanfaat untuk melindungi alqur’an dari mereka-mereka yang punya rencana mengkaburkan ajaran islam.Agama yang telah jelas allah ridhoi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s