Membangun Optimisme Rakyat

12 Jul

AKHIR-AKHIR ini berbagai media massa mempertontonkan adegan penguasa dan elit politik yang semakin membingungkan juga memiriskan rakyat. Membingungkan, karena apa yang dipraktikkan oleh penguasa dan elit politik yang rakyat pilih di saat pesta demokrasi justru sangat jauh dari apa yang mereka janjikan di saat menjelang pesta demokrasi. Memiriskan, karena apa yang rakyat dapatkan justru menambah beban politik negara sekaligus beban sosial-ekonomi rakyat sendiri.

Ingatan rakyat takkan pikun, dimana praktik korupsi dalam berbagai kasus seperti BLBI, Lapindo, Century, wisma atlet, korupsi Qur’an dan semacamnya nyaris tak berujung penyelesaian. Rakyat mendapatkan suguhan yang jijik-menjinjikkan. Tidak hanya itu, penguasa dan elit politik juga lebih sibuk mengurus jabatan dan partai politiknya daripada mengurus kepentingan negara dan rakyat. Sebuah fakta yang susah untuk dihapus dalam coretan-coretan sederhana rakyat jelata sekalipun.   

Sejarah politik bangsa ini memang terlalu naif bagi rakyat—tentu saja di samping hal-hal yang baik lainnya. Naif, sebab apa yang rakyat sebut sebagai harapan sering dibalas dengan ratapan. Optimsme rakyat sering dihadapai dengan pesimisme penguasa dan elit politik. Betul bahwa bernegara itu adalah upaya memberi tak harap kembali. Tetapi jika lakon kekuasaan (dan elit politik) selalu mencederai filosofi institusi negara sekaligus pemangku jabatannya (dari Partai politik), maka lagi-lagi bagi rakyat, berbenegara itu naif.  Di atas kenaifan itulah rakyat kadang terpaksa untuk memiliki optimisme—walau selalu ada syarat untuk pesimis.

Membaca fenomena tersebut, mengharuskan siapa pun penghuni negeri ini untuk mengambil peran. Dalam pada realitas seperti itu elemen-elemen penting negara, terutama rakyat, diharuskan berbicara secara tepat dan bersikap tegas. Hanya dengan begitu, kenyataan dan fenomena tidak menjadi pemicu munculnya caci maki yang tak elok, tapi justru menginspirasi munculnya pikiran-pikiran jenial yang konstruktif.

Sejarah tak pernah merupakan deretan potret atau kumpulan gambar terpotong yang diam. Sejarah selalu merupakan rangkaian adegan gambar hidup yang sambung menyambung. Maka, pembicaraan tentang fenomena penguasa dan elit politik satu periode bahkan era tertentu  tak bisa lepas dari diskusi tentang periode bahkan era lain yang mengantarnya serta yang dijemputnya. Begitulah, perbincangan tentang era Reformasi mesti menyertakan diskusi mengenai Orde Baru dan Orde Lama yang mengantarnya serta era yang akan datang yang dijemputnya. Fenomena penguasa dan elit politik Indonesia saat ini pun diantar oleh fenomena yang sama pada era sebelumnya dan menjemput era barunya yang akan datang.

Menanggalkan Pesimisme

Dalam kondisi yang “jijik” seperti itu, rakyat tentu tak perlu terjebak lama dalam kubangan putus asa. Tentu saja selalu tersedia alasan untuk pesimis, namun rakyat sejati adalah mereka yang tak terjebak dalam kesalahan dan kekeliruan penguasanya. Betul bahwa fenomena menjijikkan seperti yang sedikit dikupas sebelumnya terus menayang di hadapan mata, namun tanpa optimisme rakyat maka negara ini hanya akan menjadi gugusan tak berbentuk apa-apa.

Selain itu, pesimisme tak akan pernah menjadi modal memadai untuk merebut hari ini dan besok yang lebih baik. Meminjam Noam Chomsky, “Jika Anda berlaku seolah-olah tak ada peluang bagi perubahan, maka sebetulnya Anda sedang menjamin bahwa memang tak akan ada perubahan.”

Pesimisme kerapkali tidak terlalu relevan bagi “para pemain”. Bukan kah dalam satuan negara, rakyat punya peran strategis dan penting? Di masa lalu, rakyat memang mau tak mau, suka atau tidak, dipaksa menjadi penonton, sementara perubahan diserahkan kepada para “wali”, yakni para elite yang bekerja seolah-olah atas nama dan untuk rakyat. Sekarang, zaman itu sudah lewat. Dari penonton, posisi rakyat bergeser menjadi pemain. Konsep “wali” digantikan oleh “mandat”.

Benar bahwa para elite—terutama mereka yang bercokol di lembaga legislatif dan pejabat publik yang terpilih—kerapkali tetap mengabaikan kepentingan dan aspirasi rakyat. Tetapi, posisi rakyat sebagai pemberi mandat tak bisa digantikan dan dihentikan. Dalam konteks ini, perilaku elite yang “jijik” dan menyebalkan dalam batas-batas tertentu mencerminkan karakteristik para pemilih mereka, ya rakyat sendiri. Dalam batas-batas tertentu, pada waktu-waktu tertentu, rakyat sesungguhnya bisa menghentikan mereka.

Persoalannya, harapan mengenai perubahan perilaku elite hanya mungkin terwujud manakala setiap orang (baca: rakyat) pun lebih dahulu melakukan perubahan kualitas dirinya—sebagai warga negara maupun sebagai (calon) pemilih). Dalam konteks inilah, setiap orang tak berkesempatan menjadi penonton. Setiap orang dituntut menjadi pemain dalam kapasitas masing-masing yang serba terbatas.

Bagi sebagian orang, argumentasi di atas boleh jadi terasa romantis. Tetapi, sejarah peradaban-peradaban besar membuktikan bahwa “romantisme” perubahan-berbasis-orang-per-orang (baca: warga negara) seperti itulah yang tebukti menjadi modal yang layak untuk merebut besok yang lebih baik.

Dalam kerangka itulah, sebuah peribahasa dikenali oleh sejumlah masyarakat demokratis: Beda antara optimisme dan pesimisme sesungguhnya tipis belaka; optimisme adalah berusaha merebut donat, pesimisme merebut lubangnya. Ya, bagi para pemain, bukan penonton, pesimisme pun menjadi tak relevan. Karenanya, menanggalkan pesimisme menjadi penting. Selebihnya, sebagai elemen penting negara, rakyat lebih baik mencari jalan lain yang lebih elegan, agar Indonesia semakin indah untuk dipandang dan nyaman untuk dihuni.

Membangun Optimisme

Pertanyaannya, mungkinkah kita, di Indonesia, memasuki era baru, dengan penuh optimisme? Tersediakan alasan untuk optimis di tengah centang perenang politik dan ekonomi kita beberapa waktu terakhir? Tidakkah optimisme yang dipaksakan hanya akan menjadi pelipur lara, bahkan semacam upaya membohongi diri sendiri?

Alih-alih langsung menjawab langsung deretan pertanyaan krusial itu, kita selayaknya mulai dengan membongkar ulang “paradigma” kita tentang optimisme versus pesimisme. Selama ini, kita terbiasa membayangkan Indonesia sebagai sebuah “satuan besar” yang beban pembenahannya diletakkan sepenuhnya di pundak kita. Kita tak dibiasakan memandang pembenahan Indonesia sebagai hasil penjumlahan dari usaha-usaha kecil yang dikerjakan banyak orang dengan segenap keterbatasan masing-masing.

Kita pun terbiasa memandang sejarah sebagai hikayat orang besar yang di pundak mereka Indonesia Raya diusung ke mana-mana. Kita tak terbiasa memahami sejarah sebagai percikan keringat orang-orang yang namanya tak dikenal, yang jumlahnya jutaan, yang memikul serpihan-sepihan kecil Indonesia sesuai dengan keterbatasan kemampuan dan arena kerja masing-masing.

Terjadilah kekeliruan paradigmatik sebagai konsekuensinya. Kita terbiasa menunggu orang-orang besar bekerja atas nama dan untuk kita. Kita terbiasa menitipkan perebutan masa depan pada segelintir orang yang kita pandang “lebih dari kita”. Kita pun tak terbiasa “mencicil Indonesia” menjadi bangsa besar dan berwibawa.

Sebagai sebuah proyek, agenda kerja, tanggung jawab, atau tuntutan hidup, Indonesia pun terasa berat. Kita pun dipaksa untuk tak bisa memelihara optimisme. Pesimisme pun begitu dekat dengan kita, bahkan tak hadir sebagai sebuah pilihan, melainkan sesuatu yang tak terhindarkan. Kita terbiasa memborong pesimisme dan, sebaliknya, tak pernah belajar mencicil optimisme.

Langkah kaki kita ke depan selayaknya dimulai dengan belajar membangun optimisme, sedikit demi sedikit. Kita, orang per orang, memang tak akan pernah kuasa membuat Indonesia yang lebih baik sendirian. Tapi, kita bisa melakukan perbaikan dalam skala yang terjangkau, di arena tempat aktivitas masing-masing. Setiap orang pun akan punya skala atau ukuran optimisme versus pesimismenya masing-masing.

Maka, setiap orang, dengan cara masing-masing, membangun optimisme. Pada titik inilah optimisme bukan saja menjadi sebuah kemungkinan yang terbuka melainkan juga perlengkapan yang sesungguhnya telah kita miliki.

Bagi mereka yang terbiasa dengan mekanisme kerja sentralistik dan perolehan hasil yang instan, gagasan ini tentu tak menarik. Tapi, di sinilah persoalan Indonesia selama reformasi. Kita terbiasa mengelola turbulensi di era baru—yang diakibatkan oleh proses perpindahan dari yang lama ke yang baru itu—dengan menggunakan logika lama.

Catatan ini mungkin tak lazim untuk “membaca” fenomena penguasa dan elit politik akhir-akhir ini. Namun, alam bawa sadar saya selalu memberi saya inspirasi untuk berbicara apa adanya. Bagi saya, membohongi diri sendiri dan enggan berbicara apa adanya tentang pemangku kekuasaan dan elit politik yang carut-marut adalah bentuk lain dari carut-marut itu sendiri. Karena itu, sekali lagi, saya mesti bicara—minimal atas nama saya sendiri sebagai rakyat biasa. Selain itu, saya menempatkan catatan ini sebagai ajakan untuk menanggalkan logika lama dalam mengelola turbulensi di era baru negeri ini ke depan. Semoga kita bisa membangun kesadaran dan kekuatan serta merebut kesempatan untuk menjemput besok yang lebih dari hari ini dan hari ini yang lebih baik dari kemarin. Karena hanya dengan begitulah, sebutan rakyat punya makna dan relevansinya dalam tenunan negara yang kita namai Indonesia. [Jakarta; 11 Juli 2012, Oleh : Syamsudin Kadir, Pegiat Sosial-Politik di Kadir Institute—081 804 621 609]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: