Mengenang Ummi Tsani

Nah, di sinilah kenangan itu dimulai. Tiba-tiba dari ruang dalam datang seorang Ibu membawakan sarung untuk kami. Beliau adalah istri Abun Tsani, yang kukenang Ummi Tsani. Aku mendapatkan sarung warna biru, sedangkan Yasin mendapatkan sarung berwarna lain—warnanya aku lupa. Baru kali ini kami mendapatkan hadiah seperti ini. Apalagi yang memberinya adalah sesepuh atau tetua di NH. Tidak hanya memberi hadiah, ketika itu beliau juga memberi pesan kepada kami agar rajin-rajin belajar sekaligus mendoa’akan agar kami sukses dalam hidup.

***

Mei 2002, aku lulus dari Madrasah Aliyah Putra Pondok Pesantren Nurul Hakim (NH) Kediri Lombok Barat NTB. Ini adalah ujung periode bagiku menjadi santri di NH. Ya, perjalanan 6 tahun dari Tsanawiyah (1996) hingga Aliyah (2002) adalah waktu yang cukup lama. Namun, jika ditelisik lagi, ternyata 6 tahun adalah waktu yang singkat. Apalagi jika dibandingkan dengan ilmu yang berhasil aku petik. Benar-benar sedikit. Betul bahwa di NH banyak Ulama dan Ustaz yang luar biasa, namun aku menyadari keterbatasan diri dalam memetik ilmu kepada mereka. 

Selama 6 tahun ini ada banyak kisah, pengalaman dan hal-hal berkesan yang susah dilupakan. Di antara ratusan bahkan ribuan hal yang terkesan, ada satu hal yang selalu terngiang dalam benakku hingga kini. Apa itu? Do’a dan pesan serta hadiah sarung dari istri Bapak TGH. Muharrar Mahfuz (Abun Tsani), yang kukenang Bunda Tsani.

Ceritanya begini. Jika dibandingkan dengan santri yang lain, aku termasuk santri yang kurang mampu secara ekonomi. Walau begitu, tekad dan semangat belajar terus berkobar dalam dadaku. Menyadari kondisi tersebut, aku pun mencari peluang bea siswa. Hampir 3 bulan menjelang lulus, aku habiskan untuk mencari informasi. Singkat cerita, Zul Hadi (asal Gerung), salah seorang santri Panti Asuhan (PA) Ashabul Hikam sekaligus teman seangkatanku memberi kabar bahwa ada bea siswa ke Ma’had Umar bin Khathab Surabaya Jawa Timur bagi santri yang ingin melanjutkan studi. Informasi ini ia dapatkan dari Ust. Satriwan, menantu Bapak TGH. Muharrar Mahfuz, teman dekat Pimpinan Ma’ah Umar.

Tidak menyia-nyiakan informasi ini, aku pun langsung menindaklanjutinya. Oh ya, ketika itu aku ditemani Mohammad Yasin—yang kupanggil Yasin—santri yang berasal dari kampungku, dan secara ekonomi sama dengan kondisi ekonomiku. Karena tekad dan semangat untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi sudah tak terbendung lagi, kami pun datang menemui Ust. Satriawan untuk mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut.            Usaha kami tak sia-sia. Ternyata benar bahwa ada bea siswa bagi santri NH yang ingin melanjutkan kuliah. Ust. Satriawan langsung menyarankan agar menyiapkan beberapa syarat administrasi, di antaranya ijazah asli dan foto kopinya, akta kelahiran asli dan foto kopinya, surat keterangan lulus asli dan foto kopinya, foto berwarna, surat dari keluarga, surat pernyataan pribadi dan seterusnya.

Tak mau terlambat, kami pun pulang kampung, memohon izin dan restu keluarga. Di kampung kami ceritakan kepada keluarga perihal keinginan kami untuk melanjutkan studi dan kabar gembira yang baru saja kami dapatkan. Alhamdulillah, keluarga besar sangat gembira mendapatkan kabar dari kami. Ditambah lagi dengan kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan, kabar gembira ini benar-benar membuat keluarga merasakan sesuatu yang luar biasa.

Sekarang adalah saatnya bagi kami untuk kembali bersua dengan Ust. Satriawan. Ketika itu, beliau tinggal di rumah Bapak TGH. Muharrar Mahfuz, mertua beliau. Tak menunggu lama, kami pun diterima oleh Ust. Satriawan. Di sela-sela perbincangan mengenai bea siswa dan segala macamnya, di sini kami mendapatkan suguhan luar biasa. Roti, buah-buahan dan minuman segar. Bayangkan saja, santri yang ‘biasa-biasa’ bertamu ke rumah Wakil Pimpinan Pondok. Ya, secara, suguhannya pasti istimewa. Apalagi ukuran kami, santri-santri NH masa itu. Uang jajan untuk sebulan saja hanya Rp. 1.000. Dan yang sedang kami nikmati sekarang tak sebanding dengan Rp 1.000. Lipatannya sudah tak terhitung lagi.

Setelah berbincang dan menikmati suguhan, Ust. Satriawan mengisyaratkan kepada kami bahwa beliau memiliki agenda di luar. Itu pertanda kami harus segera meninggalkan rumah ini. Nah, di sinilah kenangan itu dimulai. Tiba-tiba dari ruang dalam datang seorang Ibu membawakan sarung untuk kami. Beliau adalah istri Abun Tsani, yang kukenang Ummi Tsani. Aku mendapatkan sarung warna biru, sedangkan Yasin mendapatkan sarung berwarna lain—warnanya aku lupa. Baru kali ini kami mendapatkan hadiah seperti ini. Apalagi yang memberinya adalah sesepuh atau tetua di NH. Tidak hanya memberi hadiah, ketika itu beliau juga memberi pesan kepada kami agar rajin-rajin belajar sekaligus mendoa’akan agar kami sukses dalam hidup.

Tak cukup di situ, ada satu pesan singkat beliau yang susah aku lupakan, bahwa sarung yang beliau hadiahkan agar dipakai untuk ibadah kepada Allah, dipakai untuk shalat. Satu pesan yang tentu saja istimewa. Betapa senangnya hati kami. Kami pun memberi ucapan terima kasih atas hadiah ini dan semua pesan dan do’a yang beliau sampaikan. Bagi kami, khususnya aku, hadiah sarung dan pesan-pesan beliau adalah satu kenangan indah yang susah dilupakan. Semoga pertemuan kami ketika itu adalah pertemuan mulia di sisi Allah. Dengan begitu, pertemuan kami adalah pertemuan yang mengabadi hingga ke surga-Nya kelak.

Mei 2001, aku dan Yasin langsung berangkat ke Ma’had Umar. Di sini kami bertemu dengan Pimpinan Ma’had menceritakan perihal kedatangan kami sekaligus apa yang kami perbincangkan dengan Ust. Satriawan yang aktif menjadi pengajar di NH. Alhamdulillah, kami diterima sebagai mahasiswa baru. Sekarang saatnya kami belajar, menjadi mahasiswa baru di kampus ini.

Pertengahan Juni 2002, ceritaku di Ma’had Umar berakhir. Ya, karena jenuh dengan situasi Ma’had dan ditambah lagi di Bandung ada keluarga, tepatnya paman, akhirnya aku memilih melanjutkan kuliah di UIN Sunan Gunung Djati Bandung Jawa Barat—yang ketika itu masih berstatus IAIN (Institut Agama Islam Negeri). Sebuah pilihan yang tentu saja dengan berbagai kendala dan kisah uniknya.

Selama sekian tahun di Bandung, aku manfaatkan dengan melakukan berbagai aktivitas. Mengajar, menulis buku, menulis artikel, menjadi editor di penerbitan, aktif di berbagai organisasi, mengisi kegiatan berbagai organisasi mahasiswa di beberapa kampus dan di luar kota; dan seterusnya.

4 Oktober 2010, aku menikah. Karena istri mendapatkan tugas untuk mengajar di SDIT Cirebon Jawa Barat, akhirnya kami memilih untuk tinggal di Cirebon. Ya, sekarang aku dan istriku, Mba Uum Heroyati, tinggal di Cirebon Jawa Barat. Alhamdulillah, pada tanggal 16 Juli 2011 Allah memberi kami anugrah sekaigus amanah seorang anak, yang kami namai Azka Syakira.

Keseharian kami dilalui dengan berbagai aktivitas yang begitu padat. Dari mengajar, menulis buku, mengedit naskah, mengelola penerbitan hingga mengelola Sekolah Menulis Gratis (SMG) dan seterusnya. Pokoknya benar-benar sibuk. Rutinitas yang tentu saja membutuhkan mental baja, keuletan, keikhlasan, kesabaran dan disiplin yang tinggi.

Rutinitas yang dilalui kadang membuat kami lelah. Namun hal tersebut tak membuat kami berhenti. Apalagi rutinitas kami ditemani oleh sang anak yang selalu memberi inspirasi dan perilaku kocaknya. Di samping itu, ada hal istimewa yang membuat kami—khususnya aku—untuk terus melaju menggapai impian-impian kami. Apa itu? Do’a dan pesan Ummi Tsani. Ya, do’a dan pesan beliau ketika itu masih aku ingat hingga kini. Ia adalah penyemangat bagiku untuk terus melangkah, menggapai impian-impianku.

Tidak cukup di situ, sarung yang beliau hadiahkan untukku ketika itu masih ada. Ya, sarung warna biru yang sudah berumur 10 tahun itu masih menemaniku hingga kini. Aku dan istri sering menggunakannya untuk shalat, di samping untuk anak kami yang masih kecil. Semoga hadiah yang beliau berikan termasuk kategori amal jariah yang menambah timbangan amal soleh beliau di hadapan Allah bertambah berat!

2011, aku lupa pastinya, aku mendapatkan informasi dari Bapak TGH. Muharrar Mahfuz, suami beliau, jika beliau meninggal. Ya, istri Wakil Pimpinan Pondok Nurul Hakim itu meninggalkan kami anak-anaknya. Bukan anak biologis, tapi anak atau generasi pelanjutnya. Satu informasi yang tentu saja mengagetkanku. Ya, ketika itu air mataku bercucuran. Aku pun langsung menghubungi keluarga besar di NH, termasuk Abun Tsani. Karena kendala teknis, akhirnya aku hanya bisa mengirimkan do’a dan pesan belasungkawa lewat SMS. Inna Lillahi!

Di atas segalanya, melalui tulisan sederhana ini aku ingin menyampaikan ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada keluarga besar Abun Tsani—termasuk Ust. Satriawan—atas semua kebaikannya kepada kami, para santri, terutama aku. Jujur, aku merasakan ada banyak hal istimewa yang aku dapatkan ketika berinteraksi. Kini, walaupun fisik jarang bersua, namun aku yakin bahwa Allah selalu mempertemukan hamba-Nya dalam satu visi kehidupan. Semoga Allah melanggengkan kita dalam jalan dakwah-Nya!

Khusus untuk Ummi Tsani, aku tak cukup apa-apa untuk membalas kebaikanmu selama berinteraksi. Aku juga belum mampu membalas jasa-jasamu, hadiah sarungmu. Namun, do’a ini insya Allah selalu untukmu. Semoga di sana Ummi mendapat tempat yang layak, mendapatkan surga-Nya. Betul bahwa fisik kita sudah berpisah, namun impian dan cita-cita kita tetap menyatu. Mudah-mudahan Allah ‘terlibat’ dalam segala upaya kita dalam menggapai impian dan cita-cita. Akhirnya, terima kasih Ummi! [Syamsudin Kadir, Alumni Madrasah Aliyah Putra NH 2002; Pengajar di beberapa tempat; Penulis sekaligus Editor buku; Cp. 085323027046]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s