Buah Manis dari Kota Cantik

AWAL MEI 2012 yang lalu saya mendapat undangan untuk membedah buku saya The Power Of Motivation. Acara ini merupakan salah satu rangkaian pembukaan Musyawarah Komisariat (Muskom) KAMMI Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Palangkaraya Kalimantan Tengah. Menurut panitianya, acara ini akan memadukan antara bedah buku dan pelatihan. Ya, acara ini akan diformat dalam bentuk mini pelatihan agar lebih refresh dan mudah ‘terinternalisasi’ kepada peserta.

Pada awalnya saya belum memberikan jawaban ‘ya’, sebab ketika itu saya memiliki aktivitas yang cukup padat dan mendapat undangan untuk mengisi acara pada tanggal yang sama di beberapa kota. Namun setelah beberapa hari, ditambah lagi dengan saran sang istri, Mba Uum Heroyati, akhirnya saya pun memberikan jawaban ‘ya’, saya siap, tentu dengan segala ‘warnanya’.

Kesiapan untuk menghadiri acara ini adalah ‘barokah’ tersendiri bagi saya. Ya, banyak buah manis yang dapatkan. Sebab, baru kali inilah saya bersua dengan Kota Cantik, Kota Palangkaraya, ibu kota propinsi Kalimantan Tengah. Selama sekian tahun saya menikmati kehidupan dunia, baru kali inilah saya menyentuh pulau terbesar negara muslim terbesar di dunia ini.

30 Mei 2012; Menuju Kota Bandung

Waktu terus berjalan. Saya pun bersiap untuk berangkat. Rabu, 30 Mei pukul 13.00 WIB saya berangkat dari Cirebon menuju Kota Bandung menggunakan bus sahabat ber-AC. Selama perjalanan saya manfaatkan untuk membaca buku dan mengirim SMS ke beberapa orang sahabat.

Tanpa diduga, sekarang saya sudah sampai Bandung. Ya, saya sampai di terminal Cicaheum Kota Bandung tepat pada pukul 19.30 WIB. Setelah turun dari bus saya langsung menunaikan shalat isya dan magrib secara jama’. Setelah itu, sambil menunggu keberangkatan angkutan, saya manfaatkan waktu yang ada untuk makan malam di salah satu warung nasi. Setelah itu, saya jalan-jalan santai menyaksikan keramaian  terminal.

Dari Cicaheum ke Leuwi Panjang 

Sekarang sudah pukul 20.00 WIB, saya pun langsung naik angkutan ke terminal Leuwi Panjang (LP). Perjalanan kali ini saya manfaatkan untuk menyaksikan Kota Kembang yang sudah saya tinggalkan selama satu setengah tahun. Alhamdulillah, perjalanan cukup mulus. Pukul 21.00 WIB, angkutan yang saya tumpangi pun sampai terminal LP jua. Saaya pun turun. Seperti yang saya duga, bus menuju Bekasi sudah habis. Tak menyia-nyiakan waktu ‘menunggu’ bus, saya memanfaatkan untuk jalan-jalan santai menyaksikan keramaian terminal LP, makan malam, baca koran, baca buku sampai pukul 04.30 WIB.

Oh ya, selama di LP saya punya cerita unik. Sekitar pukul 02.00 WIB (Kamis, 31 Mei 2012) saya jalan-jalan santai sambil mencari colokan listrik untuk HP saya yang sudah lowbat. Di dekat WC, pas di jalan utama menuju ke terminal saya melihat beberapa orang sedang menjaga konter pulsa, perbaikan jam dan lain-lain. Di antara mereka (sebut saja namanya Si Kang) ada yang bertanya kepada saya sedang mencari apa. Tanpa basa-basi saya langsung mengabarkan perihal yang saya cari. Si Kang langsung mencari colokan, ternyata hampir seluruh colokan di terminal ini sudah penuh semua. Tak mau kalah si Kang langsung mencari colokan di atas pintu WC di belakang konter-nya. Alhamdulillah usahanya mendapatkan hasil, HP saya pun mendapatkan ‘makanan’ kembali. Terima kasih ya Kang!

 Yang tak kalah asyiknya, Si Kang terus memberi manfaat. Ceritanya begini, karena Si Kang tahu saya lelah, Si Kang langsung menawarkan jasa pemijatan kepada saya. Sekadar informasi, tempat pemijatan ini dibuka 24 jam dan bisa dipastikan akan ditonton oleh banyak orang. Mengapa? Karena tempatnya di samping jalan utama menuju terminal. Tepatnya 3 meter di samping WC terminal LP. Pada awalnya saya tak mau, tapi karena ‘kebaikannya, lalu setelah berkenalan ternyata beliau adalah salah satu pengurus masjid di terminal LP. Sikap dan cara bicaranya sangat santun. Sebuah potret ‘manusia’ yang jarang saya temukan di dunia terminal di beberapa kota yang pernah saya singgahi. Akhirnya, saya pun menerima tawarannya, pijit refleksi. Mantap!  Alhamdulillah. Di atas segalanya, terima kasih Kang!

Dari Bandung ke Bekasi

Sekarang sudah pukul 04.30 WIB (Kamis, 31 Mei 2012), pertanda saya harus ke mesjid untuk menunaikan shalat subuh berjama’ah. Setelah subuh saya manfaatkan untuk tilawah Qur’an. Tak lama kemudian, bus Primajasa Executive tujuan Bekasi pun datang jua. Tanpa menunggu lama, saya langsung membeli tiket dan langsung masuk mencari tempat duduk.

Kini sudah pukul 05.45 WIB, bus yang saya tumpangi pun berangkat menuju Bekasi. Selama perjalanan saya manfaatkan untuk membaca koran dan menulis beberapa ungkapan hikmah yang terinspirasi dari SMS-SMS yang masuk ke nomor HP saya.

Perjalanan kali ini tak ada kendala, apalagi macet, nyaris tak ada. Tepat pukul 07.45 WIB bus yang saya tumpangi sampai terminal Bekasi. Setelah turun dari bus saya langsung mencari warung untuk sarapan pagi. 15 menit kemudian Pak Wawan datang menjemput saya dan langsung ke rumahnya. Tepat pukul 08.00 WIB saya sudah sampai rumah Pak Wawan. Di sini saya singgah sampai pukul 12.00 WIB. Selama sekian jam itu saya manfaatkan untuk ngobrol santai mengenai banyak hal seperti masalah bisnis, usaha mandiri, penerbitan, baca buku, baca koran, nonton TV, bermain dengan anak-anak Pak Wawan (Nafisa dan Salwa) dan lain-lain.

Kini jam di tangan saya menunjukkan pukul 12.00 WIB. Ditemani Pak Wawan, saya langsung menuju masjid dekat rumah untuk menunaikan shalat zuhur berjama’ah. Setelah itu dilanjutkan dengan makan siang sambil ngobrol santai menjelang pemberangkatan. Alhamdulillah, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk bersua dengan Pak Wawan yang telah banyak membantu dan menginspirasi saya selama ini. Di atas segalanya, terima kasih Pak Wawan. Mudah-mudahan ‘persahabatan’ kita selama ini abadi hingga ke surga-Nya!

Dari Kayu Waringin ke Soekarno Hatta

Kini sudah pukul 12.30 WIB (Kamis, 31 Mei 2012). Ini isyarat saya segera berangkat. Saya pun diantar Pak Wawan menuju terminal damri Kayu Ringin (KR) Bekasi. Perjalanan dari rumah Pak Wawan sampai terminal KR ditempuh sekitar 30 menit dengan menggunakan motor.

Tepat pukul 13.00 WIB, kami pun sampai terminal KR.  Tanpa basa-basi saya langsung membeli tiket damri tujuan Bandara Soekarno Hatta (SH), sedangkan Pak Wawan langsung ke kantornya di Jakarta. Tak lama kemudian Damri yang saya tumpangi langsung menuju bandara SH. Sampai di bandara memerlukan waktu kurang lebih 1 jam. Ya, saya sampai di SH tepat pukul 16.00 WIB. Sekarang saya sudah di bandara SH. Agar tak ‘ngantri’ panjang, saya langsung chek in, tepatnya pada pukul 16.00 WIB. Setelah itu saya langsung ke ruang tunggu. Di sela-sela menunggu pesawat saya manfaatkan untuk membaca buku dan koran, menulis, lalu menunaikan shalat magrib dan isya secara jama’.

Waktu terus berjalan, jam di tangan saya menunjukan pukul 19.05 WIB, pesawat belum berangkat juga. Rupanya pemberangkatan kali ini terlambat. Sekitar 1 jam kemudian pesawat yang akan saya tumpangi datang jua. Sebagaimana penumpang yang lain, saya pun bersiap-siap menuju pesawat. Alhamdulillah.

Dari Soekarno Hatta Ke Cilik Riwut

Singkat cerita, Kamis, 31 Mei 2012 pukul 20.00 WIB pesawat yang saya tumpangi pun berangkat menuju bandara Cilik Riwut (CR) Palangkaraya. Dari bandara SH sampai bandara CR membutuhkan waktu 90 menit. Selama 90 menit ini saya manfaatkan untuk membaca, memandang keindahan alam dari dalam pesawat dan sisanya tidur. Maha Besar Allah atas semua karunia-Nya!

Tak terasa, jam di tangan saya menunjukkan pukul 21.30 WIB. Rupanya waktu Jakarta dan Palangkaraya sama saja. Ya, kini saya sudah sampai bandara CR. Beberapa menit setelah transit, saya langsung menuju pintu keluar bandara. Tanpa diduga, di dekat pintu keluar saya sudah ditunggu oleh dua orang penjemput. Mereka adalah Mas Razikin (Ketua KAMMI STAIN Palangkaraya) dan Mas Eka (pengurus KAMMI STAIN Palangkaraya); panitia yang mengundang saya beberapa waktu yang lalu.

Tak berbasa-basi, saya langsung diantar menuju sekretariat (sekre) KAMMI STAIN Palangkaraya menggunakan mobil yang ditempuh sekitar 15 menit dari bandara CR.  Selama perjalanan saya manfaatkan untuk berkenalan lebih dekat dengan keduanya. Ternyata orangtua mereka masing-masing adalah transmigran dari Jawa Timur. Dan kini sudah menjadi penduduk Kalimantan Tengah.

Sekarang saya sudah sampai sekre. Seperti biasa ketika berkunjung atau menghadiri berbagai undangan kegiatan dari beberapa kampus di berbagai kota, saya memilih untuk ngobrol santai dengan siapapun yang saya temui, terutama panitianya. Ya, di sekre ini saya ngobrol santai dengan beberapa orang pengurus KAMMI STAIN Palangkaraya dari pukul 21.50 WIB  sampai pukul 01.00 WIB (Juma’at, 1 Juni 2012). Banyak hal yang dibicarakan; tentang KAMMI, umat Islam di palangkaraya, pergerakan, tradisi baca-tulis, isu kekinian dan lain-lain. Pokoknya penuh inspirasi. Terima kasih aktivis muda!

Kini sudah pukul 01.00 WIB. Karena sudah larut malam dan lelah, saya pun memilih untuk istirahat. Ya, saya istirahat mulai pukul 01.00 WIB-03.30 WIB. Setelah itu, saya bangun bersiap-siap ke masjid Daarussalam—yang merupakan salah satu masjid terbesar di Palangkaraya—untuk menunaikan shalat subuh berjama’ah. Agar tidak terlambat, saya langsung diantar pakai mobil yang saya tumpangi sebelumnya.

Setelah shalat subuh, saya kembali ke sekre. Agar pagi kali itu lebih ‘semangat’, saya ‘memaksakan’ diri untuk tilawah Qur’an dan tentu saja salah satu kebiasaan saya; membaca buku. Beberapa menit kemudian, tepatnya pukul 04.45 WIB Mas Abdul Azis (Ketua KAMMI Kalteng) datang ke sekre KAMMI STAIN. Pertemuan kali ini cukup ‘terkesan’. Di sini kami berbincang-bincang sampai pukul 05.45 WIB. Banyak yang dibicarakan seperti KAMMI, umat Islam, Dayak, hubungan Muslim dan non Muslim, komitmen perjuangan, kepemudaan, semangat reformasi dan seterusnya.  Pokoknya ayik!

Asyiknya obrolan kami dibatasi oleh waktu jua. Ya, sebagaimana yang disampaikan oleh Mas Azis, pagi ini ada rapat pengurus Daerah KAMMI Kalimantan Tengah di masjid Daarussalam. Karena mendesak, akhirnya Mas Azis memilih untuk ke tempat rapat.

Nah, jika mas Azis ada rapat pengurus, maka saya mengisi ‘kesendirian’ saya dengan menulis sebagian tulisan ini dalam bentuk coretan bebas. Setelah itu membaca buku, nyuci dan sarapan pagi. Karena sangat ‘ngantuk’, pada pukul 10.00 WIB saya memilih untuk tidur hingga pukul 11.00 WIB. Alhamdulillah, walau hanya 60 menit, bagi saya istirahat kali ini rasanya nikmat sekali. Nyenyak! Terima kasih Ya Robb!

Setelah itu, tepatnya pada pukul 11.20 WIB—setelah mandi—saya langsung ke masjid Daarussalam untuk menunaikan shalat Juma’at. Khutbah kali ini disampaikan oleh Ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Kalimantan Tengah (namanya saya lupa). Materi khutbahnya cukup menyentuh, seputar pentingnya shalat dalam Islam. Benar-benar ‘mengena’, terutama bagi saya yang baru pertama kali ini menunaikan shalat Juma’at di pulau Kalimantan. Terima kasih Pak Kiyai!

Setelah Juma’atan, Mas Razikin langsung mengajak saya untuk makan siang ke salah satu warung di sebelah utara kampus Universitas Palangkaraya (Unpal). Di sana saya memilih untuk menyantap es buah saja (lagian enak sih he he he). Mengapa? Siang ini cukup panas, ditambah lagi saya masih kenyang. Terima kasih Pak pemilik warung!

Tidak lama kemudian, kamipun kembali ke sekre. Mengapa? Karena pukul 13.00 WIB saya mesti menghadiri undangan untuk mengisi acara Sharing Bareng Kader KAMMI Se-Kalimantan Tengah di masjid Daarussalam, tempat saya shalat Juma’at sejam sebelumnya.

Tak menunggu lama, setelah sampai di sekre, Mas Razikin langsung mengantar saya menuju masjid. Sampai di sana peserta sudah menunggu. Mas Aziz, Ketua KAMMI Daerah Kalimantan Tengah memberi sinyal kepada salah seorang pengurus pertanda acara segera dimulai. Mas Ogi sebagai pemandu acara secara sigap mengamini Mas Azis. Acara dimulai dengan pembukaan, lalu tilawah, kemudian materi dan diskusi.

Banyak hal yang didiskusikan di antaranya seputar kaderisasi, membangun gerakan, tips rapat, manajemen organisasi, curhat, menjaga ukhuwah, virus dakwah dan seterusnya. Sebagai manusia biasa, saya hanya memberikan jawaban sesuai yang saya ketahui dan saya alami. Ada banyak pertanyaan yang disampaikan, yang tentu saja membuat saya ‘kelimpungan’. Walau begitu, saya berusaha untuk memberikan jawaban dengan ‘gaya santai’; ya seperti obrolan santai. Saya sangat percaya bahwa apa yang saya sampaikan bisa menginspirasi mereka untuk konsisten dalam jalan perjuangan.

Jam di tangan saya menunjukkan pukul 15.00 WIB, ini pertanda waktu shalat ashar segera tiba. Dugaan saya benar, kumandang azan pun menghilangkan keheningan peserta dalam mendengar pemaparan saya yang sesekali ‘kocak’. Acara pun diakhiri. Kini saya bersiap-siap untuk menunaikan shalat ashar pertama di pulau Kalimantan ini.  Menurut rencana awal, acara ini selesai ketika azan ashar. Tapi karena masih banyak yang mau bertanya dan ingin berdiskusi, akhirnya setelah shalat ashar Mas Azis memberitahu saya dan menyuruh pemandu acara untuk melanjutkan acara sampai pukul 16.45 WIB. Dalam waktu sekitar 1 jam itu, banyak hal yang ditanyakan, tentu saja saya menjawab sesuai ‘selera’ saya. Dari wajah dan ekspresi mereka saya pahami kalau mereka mendapat sedikit ‘pencerahan’ yang bermanfaat. Ya, semoga usaha mereka dan apa yang saya sampaikan terhitung amal soleh di sisi Allah Swt.!

Setelah itu, pengurus KAMMI STAIN pergi ke aula STAIN untuk mempersiapkan acara besoknya. Karena k’pingin tahu tempatnya, saya pun ‘memaksakan’ diri untuk ke aula. Dia aula saya menyaksikan begitu kompaknya panitia menyiapkan tempat untu acara besoknya. Sebuah kondisi yang layak dicontoh.

Karena sudah sore, tepatnya pukul 17.00 WIB, salah seorang panitia mengantar saya ke sekre. Sampai di sekre, saya langsung mandi. Setelah itu, langsung ke mesjid untuk menunaikan shalat magrib berjama’ah. Tak menyia-nyiakan keringanan dari Allah, sayapun langsung menjama’ magrib saya dengan shalat isya.

Waktu terus berjalan. Sekarang sudah pukul 19.30 WIB. Karena sudah jadwal makan malam, Mas Razikin langsung mengantar saya ke salah satu rumah makan (Madiun) yang berada di pusat kota Palangkaraya. Setelah itu, saya langsung diantar ke sekre. Di sekre, seperti biasa, saya manfaatkan untuk membaca, menulis dan ngobrol santai dengan beberapa aktivis KAMMI dan LDK yang sesekali datang menemui saya.

Sekarang sudah pukul 23.00 WIB, kini saatnya saya beristirahat untuk acara utama besoknya; Training Motivasi. Alhamdulillah kali ini saya istirahat cukup lama. Ya, tidur paling lama selama berada di Palangkaraya. Terima kasih ya Allah!

Saya pun bangun. Jam di tangan saya menunjukkan pukul 03.30 WIB (Sabtu, 2 Juni 2012). Ini pertanda saya mesti segera ke masjid untuk menunaikan shalat subuh berjama’ah. Setelah shalat subuh, saya langsung ke sekre untuk tilawah Qur’an, membaca buku dan merapihkan beberapa tulisan saya di laptop kesayangan.

Sekarang sudah pukul 05.00 WIB-07.00 WIB. 2 jam ini saya manfaatkan untuk mandi, nyuci, merapihkan materi untuk acara pagi ini. Setelah itu, tepatnya pukul 07.30 WIB, Mas Razikin langsung mengantar saya ke warung nasi untuk sarapan pagi. Setelahnya, kembali ke sekre untuk persiapan acara. Tak menunggu lama, pukul 08.00 WIB Mas Razikin langsung mengantar saya menuju aula STAIN Palangkaraya; tempat acara diselenggarakan.

Sampai di aula, saya menyaksikan peserta sudah memenuhi kursi-kusri yang tersedia. Yang hadir ketika itu sekitar 400 orang. Singkat cerita, jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 08.30 WIB. Acara Training Motivasi pun dimulai. Di awali pembukaan (bacaan basamalah dan tilawah), sambutan (Ketua Panitia, Ketua KAMMI STAIN Palangkaraya, Ketua KAMDA Kalteng dan Alumni KAMMI—Pak Asnawi yang kini sudah menjadi anggota DPRD Propinsi Kalteng periode 2009-2014) lalu ditutup dengan do’a (dari salah seorang panitia yang sudah ditentukan sebelumnya).

Sekarang sudah pukul 09.00 WIB. Agar lebih refresh, MC melanjutkan acara dengan selingan. Tanpa diduga, MC langsung meminta saya untuk menyanyikan nasyid Edcustic yang berjudul Muhasabah Cinta. Walaupun agak ‘gugup’ saya memilih untuk mengiyakan. Agar lebih asyik saya meminta beberapa orang aktivis KAMMI STAIN untuk menemani saya. Ternyata mereka sudah menghafal lagunya. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan “Band KAMMI” STAIN Palangkaraya. Alhamdulillah suasana training yang dihadiri sekitar 400 peserta dan 50 panitia ini pun terasa lebih asyik.

Kini jam di tangan saya menunjukkan pukul 09.30 WIB. Acara inti Training Motivasi pun dimulai. Saya menunaikan amanah ini dengan ‘asal’. Mengapa? Ya, karena saya belum berpengalaman untuk memadukan antara bedah buku dan training pada satu kesempatan yang sama. Tapi dari respon peserta dan panitia, saya yakin apa yang saya lakoni kali ini mampu menginspirasi mereka, semoga saja begitu.

Sekarang  sudah pukul 11.45 WIB, azan pun berkumandang. Ini pertanda saya segera ke masjid untuk menunaikan shalat zuhur berjama’ah. Setelah itu, Mas Azis mengantar saya ke sekre KAMDA Kalteng. Lalu berkeliling kota pakai motor. Setelah itu, makan siang di salah satu rumah makan.

Sekarang sudah pukul 15.30 WIB. Seperti tak kenal lelah (padahal sudah sangat lelah he he), saya langsung diantar oleh Mas Azis menuju masjid kampus Unpal. Di situ saya mengisi acara diskusi dengan tema Pergulatan Pemikiran. Acara ini dihadiri oleh puluhan aktivis dari berbagai organisasi. Beberapa pertanyaan semakin menambah gurihnya diskusi kali ini. Namun tetap saja waktu menjadi kuasa yang membuat acara ini mesti diakhiri.

Setelah itu, tepatnya pukul 17.30 WIB saya langsung diantar menuju warung makan lesehan di dekat sungai di pusat Kota Palangkaraya. Perjalanan cukup melelahkan. Mas Azis sepertinya paham kondisi saya. Tanpa basa-basi, Mas Azis langsung memesan nasi dengan lauk istimewanya dan beberapa minuman segar.

Karena penyiapan pesanan cukup lama, saya pun memilih untuk langsung menunaikan shalat magrib berjama’ah, setelah itu makan malam bareng Mas Aziz, Mas Razikin dan Mas Siswanto. Di sela-sela makan malam ini, saya manfaatkan untuk ngobrol santai dengan mereka tentang banyak hal. Alhamdulillah, seperti yang saya duga, mereka sangat suka diskusi, tentu saja dengan beragam tema. Rindu bersua kembali dengan kondisi seperti itu!

Jam di tangan saya menunjukan pukul 19.00 WIB, saya pun diantar kembali ke sekre. Beberapa menit kemudian, saya langsung diantar ke masjid Daarussalam Palangkaraya. Mengapa? Karena malam ini adalah malam terakhir saya di Palangkaraya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, aktivis KAMMI dan LDK pun meminta saya untuk mengisi acara malam ini. Ya, semcama Mabit begitulah.

Ya, sekarang sudah pukul 19.30 WIB. Acara Halaqoh Gerakan ADK Se-Palangkaraya pun dimulai. Acara dipandu oleh Mas Beri (Staf Kaderisasi sekaligus Vokalis Band KAMMI STAIN). Banyak hal yang didiskusikan pada pertemuan kali ini. Tradisi aktivis, nalar pergerakan, manajemen waktu, penataan organisasi, komitmen dakwah, ruang kontribusi dan lain-lainnya.

Sekarang sudah pukul 21.15 WIB. Acara pun diakhiri. Yang muslimahnya langsung menuju markaz masing-masing, sedangkan yang laki-lakinya (baca: ikhwan-nya) masih di masjid. Ternyata diskusi malam kali ini terus berlanjut hingga pukul 23.30 WIB. Para aktivis muda ini sepertinya masih ‘k’pingin diskusi.

Namun, waktu tetap punya kuasa. Semuanya tertakluk juga. Ya, setelah itu, saya langsung pulang ke sekre. Sampai di sekre saya manfaatkan untuk merapihkan pakian, membaca buku, nonton TV dan lain-lain.

Sekarng sudah pukul 00.15 WIB (Ahad, 3 Juni 2012). Saya pun langsung istirahat. Setelah itu, tepatnya pukul 03.30 WIB saya bangun dan langsung ke masjid Darussalam untuk shalat subuh berjama’ah. Setelah itu, saya manfaatkan untuk nyuci, membaca buku dan nonton TV, tepatnya TVRI. Kajian TVRI kali ini cukup mengundang selera saya untuk menonton. Ya, jatuh cinta kepada acara TVRI.  Mengapa? Bagaimana tidak, kali ini TVRI menghadirkan kajian penting; Mengkaji Kitab Shahih Bukhari. Tak tanggung-tanggung, narasumbernya adalah DR. Luthfi Fatullah, seorang doktor hadits yang masih asing bagi negeri ini; dan dua orang narasumber lain yang namanya saya lupa.

Setelah itu, saya menonton acara stasiun TV yang sama, yang sedang menayangkan diskusi dengan tema seputar tembakau; semacam jorok dan menjijikannya asap rokok. Acara penting yang layak ditonton oleh siapapun yang mencintai hidup sehat dan kehidupannya.

Kini sudah pukul 07.30 WIB. Waktu yang berharga ini saya manfaatkan untuk berbincang dengan beberapa sesepuh KAMMI di sekre ini seperti Mas Rosyadi (transmigran asal Cirebon, sekarang sudah menjadi penduduk Palangkaraya). Dan tentu saja dengan Mas Razikin yang hampir semua waktunya digunakan untuk menemani saya selama di Palangkaraya. Banyak hal yang dibicarakan; peluang usaha, usaha perkebunan sawit, usaha penerbitan, kondisi dakwah di Kalteng, dan lain-lain.

Sekarang sudah pukul 09.30 WIB. Saya pun diantar menuju salah satu rumah makan untuk sarapan pagi sekaligus jalan-jalan mencari oleh-oleh untuk istri dan anak tercinta. Kali ini saya ditemani oleh Mas Rosyadi, Mas Razikin dan Mas Eka (pengurus KAMMI STAIN yang juga menjadi sopir kami kali ini).

Jam di tangan saya menunjukkan pukul 11.00 WIB. Kami pun kembali ke sekre untuk bersiap-siap ke mesjid. Sekarang sudah pukul 11.45 WIB, sayapun langsung ke masjid untuk menunaikan shalat zuhur berjama’ah. Tak lama kemudian, saya langsung diantar menuju tempat Muskom KAMMI STAIN di salah satu gedung kampus STAIN untuk salam perpisahan dengan aktivis KAMMI STAIN yang sedang mengadakan Muskom.

Dari Cilik Riwut ke Soekarno Hatta

Setelah itu, saya langsung diantar ke bandara Cilik Riwut. Sampai bandara tepat pukul 12.30 WIB. Tak menunggu lama saya langsung chek in. Setelah itu, karena pesawat belum datang, saya memanfaatkan waktu  untuk ngobrol santai dengan Mas Rosyadi, Mas Razikin dan Mas Eka tentang banyak hal.

Tanpa terasa kini sudah pukul 13.40 WIB. Pesawat dari Jakarta pun tiba jua. Kedatangannya adalah isyarat saya segera masuk ke peswat. Ya, saya pun langsung ke pesawat. Sekarang sudah pukul 14.00 WIB, peswat Lion Air tumpangan saya pun berangkat menuju bandara SH, Jakarta. Perjalanan kali ini cukup nyaman dan tak ada gangguan. Tidak seperti sebelumnya ketika dari Jakarta-Palangkaraya yang ditempuh selama 90 menit (karena sedikit gangguan cuaca), kini hanya membutuhkan waktu selama 60 menit.

Oh ya, selama 60 menit itu saya manfaatkan untuk ngobrol dengan seorang pengusaha muda yang duduk di samping saya (saya lupa menanyakan siapa namanya). Banyak hal yang saya dapatkan darinya seperti modal tahan banting, kejujuran, berani memulai, mental pemenang, perantau idaman dan seterusnya.

Sekarang sudah pukul 13.00 WIB, pesawat yang saya tumpangi sudah tiba di bandara SH. Ya, saya sudah berada di Jakarta lagi. Setelah turun dari pesawat, saya langsung mencari damri ke arah Stasiun Gambir. Sekitar 1 jam kemudian damri pun tiba. Agar tak terlambat, akhirnya saya langsung membeli tiket. Seperti biasa, damri tumpangan saya cukup disiplin. Sekarang sudah pukul 14.00 WIB, damri pun langsung menuju Gambir. Sampai Gambir tepat pukul 16.00 WIB.

Sampai Gambir saya langsung membeli tiket kreta api executive menuju Stasiun Besar (SB) Cirebon. Sambil menunggu kreta, saya manfaatkan waktu yang ada untuk jalan-jalan di sekitar Monas. Setelah itu, saya memilih untuk duduk di kursi yang tersedia untuk penumpang. Di situ saya membaca buku, nonton TV, dan lain-lain. Di sela-sela aktivitas tersebut, tanpa saya duga ternyata di samping kanan saya ada seorang penumpang yang sedang membaca al-Qur’an. Dia penumpang kreta pukul 18.10 WIB menuju Cirebon. Sebuah suasana indah dan sangat mengesankan bagi saya.

Beberepa waktu kemudian, saya langsung naik ke lantai atas, ruang tunggu bagi penumpang kreta yang berangkat pukul 20.10 WIB. Di sela-sela ‘masa penantian’ ini, tiba-tiba seorang calon penumpang kreta yang saya tumpangi duduk di dekat saya. Kebetulan dia baru datang dari sekitar Jakarta diantar oleh keluarganya. Mungkin karena haus asap, orang ini memilih untuk merokok. Rokoknya baru mau dinyalakan, saya langung mengingatkannya bahwa ini kawasan bebas asap rokok. Dengan ‘angkuh’ dia bilang “tak apa-apa, yang penting tersembunyi”. Saya langsung bilang, ini tempat umum, terbuka dan ber-AC, tidak semua orang suka asap rokok. Kalau Mas tidak suka makan babi, lalu tiba-tiba ada seseorang makan babi dekat Mas, apakah Mas marah? Rupanya karena ‘bodoh’ dia belum paham juga dengan apa maksud saya. Akhirnya, saya langsung bilang, maaf Mas, saya tidak suka asap rokok, pernafasan saya terganggu kalau ada asap rokok, mohon maklum dengan kondisi saya. Dengan penjelasan seperti ini, dia langsung memohon maaf dan mengurungkan niatnya untuk melahap asap rokok. Jujur, dengan kejadian seperti ini saya mengambil hikmah bahwa kejujuran dalam menyampaikan perasaan dan rasa itu akan memberi efek yang dahsyat kepada siapa saja.

Selain itu, saya juga memahami bahwa sebetulnya para pengisap rokok itu tak benar-benar membutuhkan asap rokok. Mereka merokok bukan karena benar-benar membutuhkan tapi karena agar dianggap ada, padahal apa yang mereka isap itu adalah racun. Tapi itulah anehnya, racun diisap. Kesehatan rusak, menggangu kenyamanan orang lain dan yang tak kalah jijiknya adalah bau mulutnya seperti WC terminal, sangat bau. Lebih aneh lagi, pemerintah justru mengizinkan produksi rokok. Jadi, pemerintah, perusahaan rokok dan para perokok sama-sama gila, bodoh dan ‘anyun’. (Kalau ada yang tersinggung ya tak mengapa. Lagian asap rokok itu merusak kesehatan kok. Kalau kamu merokok di tempat milikmu saja sih tak mengapa. Silahkan saja. Tapi kalau di tempat umum, itu kurang ajar namanya. Bahkan dengan menebar asap rokok itu pertanda kamu telah melanggar HAM orang untuk hidup sehat. Itu juga pertanda kalau kamu benar-benar biadab)

Sekarang sudah pukul 19.55 WIB, kreta executive yang akan saya tumpangi pun tiba. Tak menunggu lama lagi, saya langsung naik mencari tempat duduk sesuai nomor yang tertera di tiket; 1—11 C  (gerbong 1 nomor 11 C), kemudian duduk santai. Beberapa menit kemudian, tepatnya pukul 20.15 WIB, kreta yang saya tumpangi langsung berangkat menuju Stasiun Besar (SB) Cirebon. Selama perjalanan saya manfaatkan untuk membaca, selebihnya istirahat. (Lumayan bisa tidur sekitar 1 jam-an)

Sekarang sudah pukul 23.30 WIB, kreta yang saya tumpangi sudah sampai SB Cirebon. Karena angkutan sudah tak ada lagi, akhirnya saya memilih untuk naik ojek. Kali ini ojeknya lebih keren dari biasanya. Mengapa? Ya secara, ojekan saya—sebagaimana diakui oleh sopirnya—adalah mobil milik seorang pengusaha. Sekarang saya sudah sampai di Persil, di rumah tempat saya tinggal bersama istri dan anak saya. Alhamdulillah, saya bisa bersua dengan istri dan anak tercinta lagi.

Cerita saya tak selesai di situ. Di sini saya akan cantumkan juga beberapa SMS ‘ukhuwah’ dari beberapa sahabat dari Palangkaraya (tapi maaf, tak semuanya, sebab ada yang terhapus). Berikut saya kutipkan:

Jazakumullahu lakum. Sama-sama. Mohon maaf atas kesalahan sikap kami. Semoga bukan pertemuan terakhir. Kapan-kapan ke Palangkaraya lagi. Jangan lupa, kalau sudah sampai Cirebon tolong kirim buku karyanya Mas Kadir, nanti saya transfer bayarannya. Terima kasih.” (Mas Rosyadi)

 

“Mohon maaf jikalau sikap maupun jamuan kami di Palangkaraya kurang berkenan dan banyak kekurangan. Terima kasih atas semua ilmunya. Moga dapat dipertemukan lagi… ” (Mas Aziz)

 

“Sip Kang Kadir, salam kenal tuk Mba Uum.” (Mba Halimah)

 

“Maaf Pak Kadir” (Mas Razikin)

 

“Sudah sampai Cirebon Pak?” (Mas Riswanto)

Di akhir catatan ini, saya ingin menyampaikan permohonanan maaf. Ya, jika selama di Palangkaraya saya memiliki kesalahan dan kekeliruan dalam berucap dan bersikap, saya mohon maaf. Selain itu, saya juga perlu menyampaikan ucapan terima kasih banyak kepada seluruh aktivis muslim (KAMMI, LDK dan aktivis mahasiswa lainnya) di Palangkaraya Kalimantan Tengah, terkhusus untuk Pak Asnawi, Mas Rosyadi, Mas Azis, Mas Razikin, Mba Halimah, Mba Vita, Mas Eka dan semuanya,,, yang tak cukup saya sebut satu persatu dalam catatan ini. Sahabat, teruslah berjuang, jangan berhenti tangan mendayung, nanti arus membawa hanyut! [Palangkaraya-Cirebon; 1-3 Juni 2012—Kang Kadir, Penulis buku Kampungku; Buku dan Surga] 

Iklan

4 thoughts on “Buah Manis dari Kota Cantik

  1. “Pemenang mencari motivasi, pecundang menunggu motivasi”
    Syukron katsir ilmunya pak ustadz……….
    Barakallahufikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s