Menulis; Mengais ‘Barokah’ Perjalanan

15 Mei

 

Menuju Bandung

Beberapa pekan yang lalu saya mendapat undangan dari Aktivis Dakwah Kampus (ADK) Unpas Bandung untuk menjadi pemateri salah satu materi acara Dauroh Dakwah Kampus (DDK) tahunan ADK Unpas Ahad, 13 Mei 2012 di salah satu Pesantren sebelah utara Kota Bandung.

Setelah meminta pendapat istri, pada Sabtu, 12 Mei 2012 saya pun bersiap-siap ke Bandung. Dari Ciebon saya berangkat tepat pukul 12.30 WIB menggunakan bus Sahabat ber-AC jurusan Cirebon-Bandung. Perjalanan cukup lama dan tentu saja melelahkan. Mengapa? Selain karena saya masih dalam keadaan sakit, biasanya waktu untuk menempuh perjalanan Cirebon-Bandung hanya 4-5 jam, tapi kali ini sangat bebeda. Saya sampai Bandung (tepatnya terminal Cicaheum) pada pukul 19.00 WIB. Artinya, saya menempuh perjalanan selama 6 setengah jam. Itu baru sampai terminal Cicaheum. Belum sampai tempat tujuan. (Waduh,,, waduh!)

Mencari Inspirasi di IBF

Agar terasa lebih tenang dan untuk menghilangkan kelelahan, saya pun berinisiatif untuk membaca semua SMS masuk di inbox HP. Alhamdulillah, ternyata inbox sangat pengertian. Ya di di inbox ada informasi istimewa yang sudah saya terima beberapa pekan sebelumnya. Bagi saya, ini adalah satu informasi berharga. Apa itu? Informasi adanya Islamic Book Fair (IBF) di Bandung pada tanggal 09-15 Mei 2012, tepatnya di Braga Bandung-Jawa Barat, dari Mas Reza, mahasiswa Unswagati Cirebon yang memang sering ke Bandung.

Selain membaca SMS di inbox, saya juga menghubungi Mang Wayan, salah seorang pengusaha muda yang juga alumni Unpas, adik angkatan saya di salah satu organisasi mahasiswa ekstra kampus. Karena Mang Wayan masih memiliki agenda di luar, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke tempat IBF, Braga. Karena jalur angkutannya mesti lewat Masjid Raya Jawa Barat, saya pun langsung naik angkutan ke Masjid Raya Jawa Barat, tepatnya di alun-alun Bandung. Setibanya di alun-alun jam di tangan saya menunjukkan pukul 19.30 WIB. Pada saat yang sama azan Isya sedang berkumandang dari masjid terbesar di Jawa Barat ini. Tanpa berpikir panjang saya pun langsung ikut shalat Isya berjama’ah dan langsung jama’ qosor dengan shalat Magrib.

Setelah shalat dan berjalan santai beberapa menit, pada pukul 19.45 WIB saya langsung mencari warung nasi di belakang Jl. Asia-Afrika, tepatnya belakang gedung Asia-Afrika. Setelah makan dan berbincang sejenak dengan seorang pedagang asli Jakarta, pukul 20.00 WIB-nya saya langsung ke tempat IBF, yang ditempuh kurang lebih 5 menit dari tempat saya makan. Akhirnya, sampailah saya di tempat IBF. Seperti biasa, saya jalan-jalan mengunjungi stand-stand bazar. Walaupun uang seadanya, karena sudah doyan baca buku, saya ‘memaksakan’ diri untuk membeli beberapa buku yang memang sudah saya incar sejak lama.

Bersua dengan Sahabat

Kembali hadir di IBF adalah salah satu kebahagiaan tersendiri bagi saya. Bukan sekadar mendapatkan buku yang sudah lama dicari, tapi juga dapat menyaksikan orang-orang yang doyan baca buku bahkan bersua dengan beberapa penulis buku. Selain itu, saya juga bisa bersua dengan kenalan lama. Entah sahabat, teman atau mereka yang sering bersua ketika di jalan, angkutan, damri ketika masih tinggal di Bandung 10 tahun berjalan. Sekadar contoh, di salah satu stand saya bertemu dengan Pak Hilal Hudan Nuha (IT Telkom 2005, yang kini menjadi Dosen di IT Telkom Bandung) dan istrinya, Mba Vidia Ilyana HAM (ITB 2006). Keduanya adalah adik angkatan saya di salah satu organisasi mahasiswa ekstra kampus dulu di Bandung.

Menyaksikan Debu

Semangat mencari buku terus berkobar. Saya pun terus mengunjungi beberapa stand penerbitan. Dari GIP, Mizan, Sygma, Khazanah Intelektual, Jabal dan seterusnya. Di tengah-tengah kunjungan ke beberapa stand, dari kejauhan saya mendengar lantunan syair khas group Debu. Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung ke panggung IBF. Ternyata telinga saya tak salah dengar, di panggung saya menyaksikan group Debu sedang manggung membawakan beberapa syair lagu. Banyak lagu yang mereka lantunkan. Sebagai kenangan saya pun sempat mometret suasana berkesan ketika itu. Termasuk berfoto bareng dengan salah satu personilnya. Bukan karena apa-apa, saya salut dengan mereka yang konon non muslim dan sekarang sudah masuk Islam. Alhamdulillah!

Menuju Kontrakan Mang Acep

Tak terasa, jam di tangan saya menunjukan pukul 21.00 WIB. Stand-stand IBF pun mulai ditutup. Gerbang gedung tempat IBF-pun mulai dipenuhi pengunjung, isyarat mereka segera pulang ke rumah atau alamat masing-masing, setelah sebelumnya mengunjungi beberapa stand di dalam gedung. Pengunjung yang bawa transportasi pribadi tentu saja tanpa berpikir lama langsung jalan. Saya, dengan transportasi alami (jalan kaki) langsung kembali ke alun-alun. Selama perjalanan saya menyempatkan diri untuk memotret beberapa gedung bersejarah dan tempat yang menurut saya indah dan punya kesan tersendiri seperti Gedung Asia-Afrika, Jalan Asia Afrika, Gedung BRI Alun-Alun, termasuk Taman masjid Raya, Masjid Raya dan lain-lain.

Kini jam di tangan saya menunjukan pukul 22.00 WIB. Ini isyarat saya harus segera mencari tempat istirahat malam. Sayapun menghubungi Mang Acep, adik angkatan saya di salah satu organisasi ekstra kampus dulu. Alhamdulillah Mang Acep mengamini harapan saya malam ini. Kebetulan Mang Acep baru saja pindah kontrakan dari Cicadas ke Antapani. Keduanya adalah daerah yang sudah saya kenal sejak 2002. Sayapun naik angkutan jurusan Kelapa-Binong (perbatasan Kircon dan Antapani, tepatnya lampu merah perempatan Antapani). Sesampainya di perempatan lampu merah Antapani, sambil menunggu Mang Acep yang kebetulan lagi ada acara silaturahim dengan beberapa tokoh, saya sedikit memaksakan diri untuk membaca buku yang baru saja saya beli seperti buku Kebangkitan Pos-Islamisme ‘Analisis Strategi dan Kebijakan AKP Turki Memenangkan Pemilu’ karya Ahmad Dzakirin yang diterbitkan oleh Intermedia Solo Februari 2012 yang lalu, dan beberapa buku motivasi dari penerbit Gema Insani Press yang memang sudah lama saya cari.

Beberapa menit kemudian Mang Acep pun tiba. Tanpa diduga, di situ saya bersua dengan Mang Fadil dan seorang temannya (Mas Ari) yang juga mau ‘numpang’ di kontrakan Mang Acep. Kebetulan mereka sama-sama dari Jakarta menuju ke beberapa tempat di sekitar Bandung,  menggunakan mobil pribadi. Saya pun diajak oleh Mang Fadil untuk naik mobil, dan segera ke kontrakan Mang Acep yang ditempuh sekitar 5 menit perjalanan. Di kontrakan yang baru dihuni sekitar 2 pekan ini kami berbincang tentang banyak hal hingga pukul 02.00 pagi. Cukup lama memang. Namun tidak membuat kami kelelahan. Mengapa? Karena yang kami bicarakan tak terumus secara apik. Bebas, pokoknya dari A-Z. Dari Pilkada DKI, Pilkada Jawa Barat, organisasi, Ormas, media massa, TV dan seterusnya. Tak ketinggalan masalah masa depan rumah tangga atau keluarga. Kebetulan di antara yang ngumpul kali ini yang sudah menikah baru saya, yang lain masih bujang. (Mang Fadil, Mang Acep dan Mas Ari, semoga terinspirasi ya…!)

Waktu terus berjalan, kini waktunya untuk istirahat. Sekitar 2 jam kemudian kami pun bangun malam untuk menunaikan shalat malam dan berlanjut melaksanakan shalat subuh berjama’ah di masjid belakang kontrakan. Setelah shalat, obrolan semalam kami lanjutkan kembali. Perbincangan kami semakin hangat, terutama karena Mang Acep menyuguhkan kepada kami beberapa gorengan khas Bandung. Selain mengingat kembali kehidupan bersama di kontrakan Cicadas beberapa tahun silam, makan gorengan khas Bandung punya kesan tersendiri dalam hidup kami, terutama saya yang memang pernah menikmati ‘pahit-manisnya’ hidup di Bandung.

Bersua dengan ADK Unpas

Waktu terus berjalan, tanpa terasa, kini jam di HP saya menunjukkan pukul 06.30 WIB. Mang Fadil dan Mas Ari bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Sementara saya dan Mang Acep bersiap-siap ke tempat acara ADK Unpas. Tanpa saya duga ternyata Mang Acep juga diundang menjadi pemateri pada acara DDK Unpas pada Sabtu sorenya. Singkat cerita, Mang Acep pun mengantar saya langsung ke tempat acara. Sampai di tempat saya langsung diminta untuk mengisi materi. Tanpa diduga juga, ternyata saya dipanelkan dengan Mang Irfan (ITB 2005), salah satu pengelola ADK ITB mewakili Pak Ari (orang penting dalam ‘struktur’) yang memiliki acara yang cukup padat.

Kami pun segera memulai materi kali ini. Saya dan Mang Irfan diberi waktu masing-masing 40 menit, dan sisanya untuk diskusi. Setelah diskusi singkat, pada pukul 10.30 WIB Mang Irfan langsung minta izin meninggalkan tempat acara karena memang ada agenda mendadak dan mendesak yang sudah direncanakan sebelumnya. Itu berarti pukul 10.30-12.00 WIB adalah waktu yang panjang bagi saya untuk berdiskusi dengan para peserta DDK kali ini.

Banyak hal yang didiskusikan, dari pergulatan perjuangan, kebangkitan gerakan pemuda dan seterusnya. Sebuah kesempatan istimewa bagi saya untuk membicarakan banyak hal, tentu saja sesuai apa yang panitia ingin dan butuhkan. Dan yang paling utama adalah saya bisa bersua dengan para aktivis yang memiliki semangat, optimisme dan idealisme. Bagi saya, mereka adalah sumber inspirasi yang sulit saya lupakan.

Singkat kata, saya kesulitan membalas semua itu. Selain harapan, saya sangat k’pingin memberikan sesuatu untuk mereka, para ADK Unpas. Ya, Allah selalu punya rencana, ternyata dalam tas saya terdapat beberapa buku karya saya, di antaranya buku The Power Of Motivation. Tanpa berpikir lama sayapun langsung memberikan secara simbolik kepada salah satu panitia ADK Unpas. Semoga saja buku tersebut bermanfaat untuk mereka semua, tentu juga saya sebagai penulisnya. Materi saya pun selesai yang diakhiri dengan renungan mengenai komitmen dan kemestian ikhlas dalam perjuangan, dan penyerahan kenangan berupa angklung kepada saya sebagai pemateri.

Kembali ke IBF

Kini jam di tangan saya menunjukkan pukul 12.05 WIB. Dalam keadaan sakit saya memaksakan diri untuk ke tempat IBF lagi. Kebetulan Mang Egi, teman Mang Wayan, bersedia mengantar saya hingga di depan gerbang gedung tempat IBF. Setelah itu, Mang Egi kembai ke tempat DDK, dan saya langsung kembali mencicipi bazar buku di stand-stand IBF. Banyak stand yang saya kunjungi seperti Gema Insani, Mizan dan lain-lain.

Saling Memberi Hadiah Buku Karya

Tanpa ada niatan mau membeli buku, saya tiba-tiba langsung ke salah satu stand penerbit, tepatnya Khazanah Intelektual. Di situ saya menemukan salah satu buku baru judulnya Manusia-manusia Surga. Buku tersebut merupakan elaborasi dari seluruh tulisan Pak Tate Qomarudin, Lc di kolom hadits pada majalah Percikap Iman Bandung. Di situ saya mendapatkan kartu nama seorang pengurus penerbit Khazanah Intelektual sekaligus informasi jika pada pukul 13.00 WIB nanti (sekitar 10 menit ke depan) ada acara bedah buku Manusia-manusia Surga—yang diterbitkan pada Januari 2012 yang lalu—langsung bersama penulisnya. Akhirnya, sayapun langsung membeli bukunya. Setelah itu, langsung ke kursi yang sudah disediakan bagi pengunjung di depan panggung IBF.

Beberapa menit kemudian Pak Tate Qomarudin, Lc. tiba di tempat acara. Beliau duduk di kursi shaf pertama, saya memilih untuk tetap di shaf kedua. Karena benar-benar ingin bersua, akhirnya saya memberanikan diri untuk duduk di kursi shaf pertama agar bisa berbincang sejenak dengan beliau. Bukan sekadar karena ingin bersua dengan beliau sebagai penulis, tapi sebagai wujud bahagianya saya karena baru bersua lagi dengan beliau yang memang sudah saya kenal dan sempat berinteraksi dengan beberapa tahun berjalan selama di Bandung. Dengan percaya diri saya pun menghadiahkan buku baru saya The Power Of Motivation kepada beliau. Alhamdulillah beliau menerimanya dengan senang. Beliaupun berkesempatan untuk membubuhkan tanda tangan di buku beliau yang baru saya beliau. Dan saya juga begitu, beliau meminta saya untuk membubuhi tanda tangan di buku saya yang baru saja beliau dapatkan dari saya. Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk saling memberi hadiah.

Di sela-sela menanti acara bedah buku, saya bersua dengan salah seorang pantia yang saya kenal sejak dulu di kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Namanya Mang Hidayat. Beliau mengingatkan kalau sekarang sudah menunjukkan pukul 13.15 WIB. Acara bedah buku pun dimulai. Diawali dengan basmalah (bacaan bismillah), sambutan dari penerbit, kemudian pemaparan dari penulis dan diskusi dengan pengunjung yang sudah menanti sejak lama.

Berikut adalah beberapa pernyataan yang bisa saya dokumentasikan dari pemaparan Pak Tate Qomarudin, Lc ketika itu.

“Peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak Bogor-Jawa Barat memiliki pesan bahwa Allah memperlihatkan kepada kita bahwa Allah Maha Kuasa untuk mengendalikan hamba-Nya termasuk mengumpulkan orang-orang yang memiliki jadwal kematian yang sama dalam satu peristiwa yang sama.”

“Jangan memberi peluang bagi syetan untuk menghalangi kita dalam beramal soleh yang nantinya menghalangi kita untuk masuk ke dalam surga.”

“Allah menurunkan Risalah-Nya kepada kita bukan untuk membuat kita menjadi malaikat atau menjadi nabi, tapi agar kita menjadi manusia yang menghamba secara total kepada-Nya.”

“Betapa rindunya para sahabat untuk bersua dengan surga. Bagaimana kita?”  

“Ada banyak jenis amalan yang Allah sediakan bagi kita yang bisa membawa kita ke dalam surga-Nya seperti tilawah, shalah malam dan seterusnya.”

 

Untuk kamu yang k’pingin mendapat penjelasan yang akurat, silahkan membeli dan membaca bukunya. Kamu pasti k’pingin masuk surga kan? Hayo, silahkan miliki bukunya, tentu saja baca dan pahami isinya. Luar biasa!

Tentu banyak hal yang saya dapatkan dari acara bedah buku kali ini. Di samping ilmu dan wawasan baru secara gratis, saya juga mendapat doorprize buku Manusia-manusia Surga dari penerbit Khazanah Intelektual setelah saya menjawab pertanyaan panitia pada sesi tanya jawab. Jadi, sekarang saya memiliki dua buku Manusia-manusia Surga. Tidak cukup itu, yang membuat saya bertambah senang adalah ketika Pak Tate Qomarudin, Lc menyempatkan diri untuk berbincang dengan saya mengenai dunia kepenulisan dan beberapa hal lain yang memang penting. Alhamdulillah.

Parade Kecil-kecil Punya Karya (KKPK)

Kini jarum jam menunjukkan pukul 14.30 WIB. Akhirnya sayapun kembali mengunjungi beberapa stand. Di tengah-tengah hiruk pikuk para pengunjung, dari panggung IBF saya mendengar informasi kalau beberapa menit lagi ada parade penulis cilik dari beberapa kota dari seluruh Indonesia yang diprakarsai sekaligus dipandu oleh tim Mizan. Tanpa berpikir lama, saya pun langsung ke panggung menyaksikan acara yang cukup istimewa ini. Di sela-sela menyaksikan parade penulis cilik, saya pun menyempatkan diri untuk berkenalan dengan salah seorang editor Mizan yang juga mengelola aktivitas penulis cilik, Kecil-kecil Punya Karya (KKPK), Mang Dadan. Bahkan saya dan Mang Dadan sempat menyepakati untuk mengembangkan sayap di Cirebon-Jawa Barat. Kebetulan saya sudah mendirikan penerbitan (penerbit Mitra Pemuda) dan Sekolah Menulis Gratis (SMG) bagi anak-anak dan semua umur. Selain itu, saya juga sempat berkenalan dengan Billy (penulis Cilik asal Cilacap). Agar tetap menjadi sumber inspirasi saya pun menyempatkan diri untuk  meminta nomor HP penulis cilik dan mendokumentasikan beberapa hal yang unik, terutama para penulis cilik.

Bersua dengan Sahabat lagi

Kini sudah pukul 15.00 WIB. Saya pun bersiap-siap untuk menjama’ shalat Ashar dan Zuhur. Sebelum keluar gerbang IBF, tanpa diduga saya pun ditakdirkan untuk bersua dengan Mang Ramlan, teman seperjuangan saya dulu di Bandung. Saya bersua dengannya di salah satu sudut stand penerbit Sygma yang menyediakan buku dan permainan untuk anak-anak. Di situ Mang Ramlan sedang menemani anaknya yang baru berumur sekitar 1 tahun. Di situ kami berbincang beberapa menit, setelah itu kami berpisah, melanjutkan acara masing-masing.

Ketemu Uje di Masjid Raya

Jam di tangan saya menunjukkan pukul 15.30 WIB. Saya pun langsung menuju masjid Raya. Ketika saya sampai di masjid Raya shalat Ashar berjama’ah baru saja usai. Saya pun ikut dalam jama’ah baru yang baru saja memulai shalat ashar berjama’ah. Setelah shalat di dalam masjid saya menyaksikan sedang ada tablig akbar. Karena penasaran saya pun mendekat kepada jama’ah dan bertanya perihal adanya ratusan jama’ah yang sedang asyik mendengarkan ceramah. Seorang jama’ah pun memberitahukan bahwa sekarang lagi ada acara tablig akbar bersama Ust. Jefri Bkhori (Uje). Acara ini merupakan salah satu rangkaian awal acara Tablig Akbar keliling 7 Kota bersama Uje. Dan Bandung dipilih sebagai kota pertama. Dari acara yang dimulai pukul 16.10 WIB ini, saya mencatat beberapa pesan atau isi ceramah Uje, di antaranya:

“Banyak orang yang melaksanakan ibadah karena beban bukan karena kebutuhan. Sebagai muslim kita mesti melakukan karena kebutuhan.”

“Banyak orang yang naik haji karena beban, misalnya karena k’pingin dipanggil Pak Haji, akhirnya ibadahnya tak memberi efek apa-apa kepada dirinya apalagi orang lain, kecuali efek negatif.”

“Banyak-banyak memuji Allah dan rasul-Nya daripada memuji manusia atau makhluk-Nya.”  

Membeli Hadiah untuk Istri dan Anak

Jam di tangan saya menunjukkan pukul 17.15 WIB. Ceramah terus berlangsung, saya memilih untuk keluar dari masjid. Di halaman masjid saya menyaksikan banyak pedagang yang menjual berbagai macam jenis barang, makanan, minuman, mainan anak-anak dan lain-lain. Setelah sebelumnya di IBF sudah membeli buku dan kaos kaki untuk istri tercinta (Mba Uum Heroyati), saya pun berinisiatif untuk membeli baju khas Bandung untuk anak tercinta, Azka Syakira. Setelah itu, karena perut sudah mulai ‘negrumun’ minta jatah hari ini, akhirnya sayapun menuju tempat jualan mie rebus. Alhamdulillah, perut mulai bisa diajak ‘bersahabat’ lagi.

Menuju Cicaheum, Kembali ke Cirebon

Jam di tangan saya menunjukkan pukul 17.45 WIB, sayapun naik angkutan menuju terminal Cicaheum. Seperti biasa, saya terhalang macet. Akhirnya menuju ke terminal Cicaheum membutuhkan waktu hampir 1 setengah jam. Tepat pukul 19.00 WIB saya langsung naik bus Bhineka ber-AC jurusan Bandung-Cirebon. Alhamdulillah perjalanan kali ini cukup memuaskan. Tidak seperti saat berangkat yang melelahkan, kali ini saya hanya membutuhkan waktu 4 jam 15 menit untuk sampai rumah di Persil-Cirebon. Ya, saya sampai di BayPass Cirebon pukul 23.10 WIB. Dari situ saya naik motor ojek menuju rumah sekitar 5 menit perjalanan. Alahmdulillah kini saya bisa bersua kembali dengan orang-orang yang saya cintai; istri dan anak saya. Istri dan anak saya tentu saja senang bisa bersua dengan saya. Lebih senang lagi ketika saya memberikan hadiah atau oleh-oleh dari Bandung yang baru saja saya beli.

Menulis; Mengais Barokah Perjalanan

Rasa sakit dan perjalananan yang melelahkan adalah kondisi yang kadang menjadi sumber penyakit. Namun jika dilalui dengan niat baik, kesabaran dan kreatif, maka semuanya akan menjadi indah. Ya, sakit dan lelah itu manusiawi. Tapi akan sangat istimewa jika saya mampu memahami semua itu sebagai peluang untuk mematangkan diri dan membangun ide kreatif dalam diri. Kelelahan, keletihan bahkan rasa sakit yang saya alami tak mampu menghilangkan semangat saya untuk berbagi, termasuk membagi pengalaman perjalanan saya kali ini.

Di atas segalanya, apapun tanggapan kamu, bagi saya perjalanan saya kali ini adalah perjalanan istimewa dalam relung perjalanan hidup saya. Mengapa? Karena selain bisa bersilaturahim dengan beberapa sahabat, berdiskusi dengan para aktivis, bersua dengan pak Tate Qomarudin, berkenalan dengan pengelola KKPK dan para penulis cilik KKPK, berkunjung ke stand-stand IBF, menghadiri tablig akbarnya Uje, membeli hadiah atau oleh-oleh untuk istri dan anak,,, saya juga bisa berbagi kepada kamu; ya siapapun kamu. Bagi saya ini adalah perjalanan indah. Karena itu, saya mesti menceritakannya kepada kamu dalam satu tulisan sederhana, apa adanya. Tulisan ini adalah upaya berbagai ‘barokah’ untuk kamu. Ya menulis; mengais barokah perjalanan. Mudah-mudahan bermanfaat! [Cirebon; Senin, 14 Mei 2012; Kang Kadir, 085 220 910 532—Penulis Buku: Kampungku; Buku dan Surga]

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: