Muslim Negarawan di Bumi Minoritas

Kesempatan masih bersama kita dan akan terus bersama kita, saya percaya bahwa sejarah tak akan menghapusnya kembali!

ALHAMDULILLAH, luar biasa! Itulah ungkapan hati saya ketika mendapatkan informasi dari Saudara Mansur Amiratul (Eks. Pengurus KAMMI Daerah NTB yang kini mengajar di salah satu SMA di Ruteng, Ibukota Kab. Manggarai-NTT) bahwa pada tanggal 14-15 April 2012 yang lalu di Manggarai-NTT telah diadakan Dauroh Marhalah 1 (DM1)—semacam pelatihan kepemimpinan tingkat dasar—Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Ungkapan ini adalah wujud syukur saya kepada Allah, yang dengan segala kuasa-Nya akhirnya aktivis KAMMI bisa mengadakan DM1, hingga pendeklarasian KAMMI di Manggarai. Semua ini adalah anugrah terindah dari Allah; anugrah sejarah bagi kaum muda, anugrah sejarah bagi peradaban baru umat Islam di Manggarai.

Ini juga merupakan wujud bangga saya kepada aktivis KAMMI dari beberapa daerah (baca: kota) seperti Semarang, Purwokerto, Malang, Kupang, Mataram dan lain-lainnya yang mengikuti salah satu program Kemendikbud yang ditempatkan di Ruteng, ibukota kabupaten Manggarai (sebuah daerah minoritas muslim di NTT), selama satu tahun. Merekalah pahlawan yang layak mendapatkan penghargaan dari KAMMI Se-Indonesia, minimal diwakili oleh pengurus pusat KAMMI.

Rasa syukur dan bangga saya semakin tak terbendung ketika melalui catatan facebook dan blognya[1], Saudara Mansur Amiratul mengabarkan bahwa beberapa aktivis KAMMI dengan dukungan alumni DM1 dan berbagai elemen OKP baik muslim maupun non muslim sudah mendeklarasikan KAMMI Komisariat Manggarai, yang merupakan Komsat ke-4 di KAMDA NTT—kedua di Pulau Flores, setelah sebelumnya KAMMI Komisariat Ende.

Kehadiran KAMMI di Manggarai adalah anugrah bagi umat Islam khususnya, bahkan bagi warga Manggarai umumnya. Mengapa? Karena setahu saya, di Manggarai sebelumnya belum ada organisasi pemuda yang berbasis mahasiswa muslim. Selain itu, tentu saja ini adalah sarana terbuka bagi mahasiswa Manggarai dalam mengembangkan bakat, potensi strategis hingga kompetesi kapasitas. Harapannya, dengan hadirnya KAMMI di Manggarai, persaingan kepemimpinan dan pembangunan Manggarai ke depan semakin kompetitif.

Dengan hadirnya KAMMI di Manggarai berarti KAMMI telah mewujudkan orientasi kaderisasi KAMMI; Muslim Negarawan dalam konteks mendasar dan elegan. Muslim Negarawan adalah upaya klarifikasi KAMMI sebagai elemen muda bangsa ini atas fakta kepemimpinan dan tindak lanjut reformasi yang terus mencari model.

KAMMI hadir tentu bukan wujud antitesa Orla, Orba dan Orde Reformasi. KAMMI hadir justru mencari titik temu atau sintesa antara kebaikan-kebaikan dari setiap Orde dengan lakon baru bangsa ke depan. Titik temu itulah yang dalam sistem pengkaderan KAMMI dinamai dengan Muslim Negarawan. Mengapa? Karena KAMMI percaya bahwa KAMMI adalah elemen baru namun tetap meng-Indonesia dan sangat mencintai negeri ini. Bagi KAMMI, negeri ini adalah hak milik seluruh elemen bangsa. Siapapun penghuni republik ini memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk menatanya menjadi lebik indah. Dalam konteks Manggarai juga begitu, KAMMI adalah darah daging Manggarai. Bagi KAMMI, Manggarai adalah hak milik seluruh penghuni Manggarai, apapun latar sosial, suku dan agamanya. Selanjutnya, keberadaan KAMMI di Manggarai sekarang adalah upaya “membangkitkan batang terrendam.” Secara de jure KAMMI baru lahir di Manggarai, namun secara de facto sudah ada sejak lama. Mengapa? Karena dimensi KAMMI itu terdiri dari (1) mahasiswa muslim yang sudah masuk KAMMI, (2) mahasiswa muslim yang belum masuk KAMMI dan (3) mahasiswa non muslim.

Bagi KAMMI, Muslim Negarawan tidak melulu berbicara agama dengan pemaknaan yang sempit, tapi juga pada kompetensi strategis seperti kepakaran, wawasan ke-Indonesia-an, pengetahuan internasional, kapasitas kepemimpinan, kemampuan manajerial, kekuatan jaringan dan seterusnya. Sebab KAMMI memahami bahwa Islam bukan sekadar ibadah dalam format rukun Islam dan rukun Iman, tapi juga sistem dan prinsp-prinsip universal dalam aspek-aspek kehidupan sosial yang lebih luas, sekaligus hal teknis mengenai ejahwantah nilai-nilai luhurnya dalam kerangka kehidupan universal dan terbuka. Atas dasar itu, KAMMI siap bertatap wajah, bertukar argumentasi, berbagi ide bahkan bekerjasama dengan berbagai pihak di manapun dan dari elemen apapun, temasuk di Manggarai. Karena itulah wujud nyata idealis KAMMI dalam menghadirkan model manusia Muslim Negarawan dari rahimnya.

Saya sangat salut kepada aktivis KAMMI dan elemen manapun yang ikut serta dalam menghadirkan dan mendeklarasikan KAMMI di tanah Manggarai. Jujur, KAMMI punya obsesi atau dorongan yang kuat untuk melakukan yang terbaik bagi seluruh penghuni negeri ini. Bukan apa-apa, ini adalah amanah UUD 1945 yang menghendaki setiap warga negara untuk melakukan yang terbaik bagi bumi khatulistiwa ini. Dan KAMMI sangat yakin bahwa KAMMI bisa mengejahwantahkannya di Tanah Manggarai, Tanah Momangge.

KAMMI hadir di Manggarai adalah upaya terlibat dalam membangkitkan warga Manggarai untuk ikut terlibat dalam membangun Manggarai. Walau hadir di bumi minoritas muslim, bagi KAMMI tak masalah; bahkan itu sesuatu yang biasa. Sebab Manggarai begitu elok dengan perdamaian, toleransi, penghargaan dan kasih sayang. Bahkan kalau boleh usul, jika penghuni negeri ini ingin menyaksikan nilai-nilai luhur Indonesia, maka datanglah ke Manggarai. Di Manggarai ada cinta, ada kasih sayang dan ada segalanya.

Akhirnya, atas nama pengurus pusat KAMMI, tepatnya Kaderisasi KAMMI Pusat, saya layak menyampaikan: selamat berjuang dan salam semangat untuk seluruh deklarator KAMMI, aktivis KAMMI dan elemen pendukung KAMMI Manggarai. Hari ini kita menanam kebaikan, semoga esok dan seterusnya kita menunai hasil terbaik. Jangan lelah bergerak, karena perjuangan ini terlalu mulia untuk disia-siakan atau dipinggirkan. Kini KAMMI tengah berada di potongan sejarah bangsa. Generasi ’98 telah menjalankan tugasnya, namun kerja belum benar-benar selesai. Mungkin, memang harus begini kejadiannya; bahwa sejarah menghendaki agar KAMMI melangkah lebih cepat untuk menyelamatkan bangsa ini. Maka, biarlah dengan sedikit memaksakan diri, KAMMI ingin menyampaikan kepada penghuni negeri ini: izinkan KAMMI untuk bekerja, biarkan KAMMI menata ulang taman indah Indonesia, agar ia tersenyum sebelum senja tiba. Ya, kesempatan masih bersama kita dan akan terus bersama kita, saya percaya bahwa sejarah tak akan menghapusnya kembali! [Jakarta, 30 April 2012. Oleh: Syamsudin Kadir, Kaderisasi KAMMI Pusat Periode 2011-2013, 085 220 910 532]


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s