Menulislah dengan Hati!

SEPULUH tahun terakhir adalah masa-masa dimana tulis-menulis begitu mendapatkan tempat yang khusus dalam kehidupan manusia. Bukan saja di Indonesia, bahkan di seluruh dunia bisa disaksikan bagaimana menjamurnya tradisi menulis. Hal itu dipahami dari menjamurnya komunitas menulis dari tingkat muda sampai tingkat tua. Semuanya bermunculan dengan kekhasannya masing-masing. Ini adalah anugrah, ini adalah cikal bakal peradaban. Saya percaya apa yang terjadi muncul karena mereka menulis dengan hati.

Apa yang saya sampaikan adalah salah satu kutipan dari apa yang saya sampaikan ketika mengisi acara Sekolah Menulis di sebuah kota di Jawa Barat. Ya, saya sangat bangga dengan fenomena menjamurnya tradisi menulis. Semua kalangan mengapresiasi, bahkan berupaya untuk menjadi bagian darinya. Hampir semua orang mau menulis, walaupun tak mau disebut penulis. Saya sangat kagum dengan semangat mereka. Semoga mereka mendapatkan barokah dari Sang Kuasa!

Walau begitu, secara pribadi saya juga perlu mendo’akan agar mereka tetap konsisten dengan orientasinya. Sebab menulis adalah pekerjaan mulia. Hanya dengan menjaga konsisten sajalah, aktivitas menulis menjadi anggun dan membuat pembacanya merasakan adanya sesuatu yang baru dan yang bermakna bagi hidup mereka.

Suatu ketika saya merenung, bagaimana caranya agar tulisan mendatangkan makna dan mampu menggetarkan pembaca? Pertanyaan ini sering muncul dalam benak saya. Sehingga kadang saya menjadi bingung sendiri, apa gerangan jawaban yang tepat. Tak lama kemudian jawaban itu pun tiba begitu saja. Lintasan pikiran saya menginspirasi pena saya untuk mengatakan : menulislah dengan hati.

Menulis dengan hati? Apa maksudnya? Wah itu dia, saya sulit memberikan penjelasan yang tuntas. Tapi tak mengapa, berikan saya kesempatan untuk belajar mengungkapkan apa kata hati saya. Bagi saya, menulis itu adalah aktivitas mulia, ia juga merupakan ekspresi jiwa dan bahasa hati. Tulisan akan menghentakkan jika ia ditulis berdasarkan kehendak hati, sesuai dengan selera hati. Tanpa itu, tulisan akan hambar bahkan membuat penulisnya sendiri tak mendapatkan apa-apa.

Menulis dengan hati bermakna menulis apa saja yang mendatangkan manfaat, menulis apa saja yang tak bertabrakan dengan hati nurani. Hati nurani adalah pena setia yang selalu jujur mengungkap apa yang mesti diungkap. Karenanya, jika kamu ingin menulis, dengarlah apa kata hatimu. Ia adalah sumber hikmah yang selalu jujur untukmu. Percayailah dia, dengarilah dia. Bagaimana, apakah kamu terinspirasi? Saya do’akan semoga kamu terinspirasi. Saya berupaya untuk menulis dengan hati. Kini saya menunggu ketulusan kamu untuk melakukan hal yang sama, itupun jika hatimu mengizinkan. Akhirnya, menulislah dengan hati! [Cirebon, 30 April 2012; Kang Kadir, 085 220 910 532]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s