Selamat datang Perubahan!

12 Mar

SEKALI lagi, mari kita berbicara tentang perubahan sosial. Tentu bukan saja teori dan elemen-elemen yang menjadi pra syaratnya, tapi juga bagaimana merekayasanya secara praktis. Berbicara perubahan sosial adalah berbicara mengenai individu, kelompok, negara bahkan dunia yang selalu elastis dan berubah. Manusia merupakan satu di antara elemen terpenting dalam perubahan sosial. Dari satu zaman ke zaman berikutnya, karakter, cita-cita dan impian manusia selalu beragam. Atas dasar itu, manusia, baik secara individu maupun kolektif menghendaki adanya perubahan sosial sesuai dengan seleranya. Akhirnya, perubahan sosial menjadi sesuatu yang bergerak, bahkan perubahan itu sendiri adalah pergerakan menuju masa depan.

Paling tidak ada lima faktor yang menentukan perubahan sosial masa depan, yaitu : (1) Kecepatan, perubahan yang terjadi amat cepat bahkan nyaris tak terlihat, menyeluruh dan menyentuh seluruh aspek kehidupan, (2) Kompleksitas, lompatan kuantum dalam angka-angka kekuatan yang sepertinya tak saling terkait akan mempengaruhi mulai dari gaya hidup, pekerjaan, pribadi hingga keamanan nasional, (3) Risiko, berbagai risiko baru, risiko yang lebih tinggi dan ancaman-ancaman besar lainnya mulai dari teror, kejahatan sampai kemerosotan ekonomi global akan mengubah setiap sendi kehidupan, (4) Perubahan, penyesuaian drastis terhadap pekerjaan, komunitas dan hubungan yang dimiliki oleh berbagai elemen akan mendorong mereka untuk beradaptasi secara cepat terhadap perubahan-perubahan radikal, dan (5) Kejutan, kejuatan-kejuatan yang tekadang memang baik, namun tak jarang di luar imajinasi, akan menjadi bagian kehidupan elemen sosial manapun ke depan, mereka sadari atau mereka tidak sadari. Bahkan ke depan, perubahan sosial yang terjadi di luar kemampuan indrawi dan logika.

Dalam konteks mutaakhir, sebagai elemen sosial, manusia sedang mengalami satu lompatan sejarah yang begitu dahsyat. Manusia diserbu berbagai perkembangan ilmu, kemajuan teknologi, banjir budaya dan perubahan realitas sosial yang nyaris tak terprediksi. Akibatnya, manusia menjadi frustasi dan bingung. Bahkan tak sedikit manusia yang memahami perubahan sosial dan masa depan sebagai sesuatu yang “kebetulan”. Alih-alih merencanakan masa depan—termasuk perubahan sosial—mereka justru dikendalikan oleh masa depan dan realitas sosial itu sendiri.

Lalu, apakah Anda peduli dengan masa depan? Bagaimana masa depan realitas sosial masyarakat, negara dan dunia? Apapun jawaban Anda, saya sangat percaya bahwa ancaman paling berbahaya terhadap kenyataan sosial masa depan elemen sosial, negara bahkan bangunan dunia adalah hadirnya “perubahan tak teratur”. Kenyataan yang tak teratur bukan saja akan terjadi di masa depan, bahkan akhir-akhir ini sudah berhadapan dengan realitas kehidupan kita.

Lalu, jika benar bahwa ancaman yang paling berbahaya di masa depan adalah “perubahan tak teratur”, apakah Anda ingin lebih waspada terhadap perubahan sosial? Apakah Anda terarik mengetahui bagaimana konsep, prinsip dan praktik sosial yang sudah dijadikan acuan pada berbagai peristiwa perubahan sosial beberapa waktu terakhir? Bagaimana juga seharusnya elemen sosial membangun kompetensi gerakannya dalam menghadapi perubahan sosial yang kadang tak terprediksi itu? Bagaimana Agama mengarahkan perubahan sehingga ia tak kering nilai, spiritualitas dan makna?

Buku yang berjudul Rekayasa Perubahan Sosial : Studi Konsep, Prinsip dan Praktik ini adalah bacaan gratis dan renyah yang menggelitik pemikiran bahkan alam bawah sadar Anda untuk bersikap. Penulisnya adalah seorang akademisi dan mantan aktivis pergerakan mahasiswa, sehingga buku ini bersifat “teoritis-praktis”yang siap memantik Anda secara intelektual untuk segera berpikir dan berdiskusi serta memicu Anda untuk segera menyuluh kembali api perubahan. Dengan begitu, buku ini layak dijadikan panduan dan acuan, terutama bagi Anda yang selalu menantikan perubahan. Baik pejabat negara, elit politik, pengusaha, militer, kepolisian, akademisi, peneliti, penulis, aktivis mahasiswa, LSM, kalangan media massa, aktor, sutradara maupun tukang sayur di pasar, pedagang kaki lima di pinggiran jalan kota, pelawak dan lain sebagainya.

Pada awalnya, saya menduga penulisnya sedang belajar “memperkirakan” perubahan—yang tentu saja konotasinya tak menentu. Setelah didalami ternyata penulisnya bukan saja “memperkirakan”, tapi juga “memandu” perubahan sosial yang ingin dibentangkan di masa depan. Hal ini bisa dipahami dari keelokannya dalam menelisik peristiwa-peristiwa sosial dalam sejarah, yang kemudian diracik kembali dengan teori dan fenomena kontemporer sehingga menjadi gagasan segar dan elegan. Ini merupakan satu lompatan intelektual yang cukup strategis bagi dinamika intelektual dan perubahan sosial di masa depan. Jarang penulis yang menulis sesuai dengan apa yang ditekuni, digeluti dan diimpikan oleh dirinya sekaligus publik. Jika ada pembaca yang menilai buku ini biasa-biasa saja, bahkan sama saja dengan yang lain, saya tetap berpandangan bahwa penulisnya menyajikan gagasan yang sesuai perasaan dan selera “orang lain”.

Jadi, penulisnya mengajak elemen sosial manapun agar memiliki “kejujuran” dalam menatap masa depan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara merencanakan masa depan secara menyeluruh : mengkreasi ulang kenyataan masa lalu, mengemas fenomena masa kini dan menfirasati masa depan tanpa sekat-sekat kepentingan. Bahkan yang khas, penulisnya mampu memadukan yang selama ini oleh sebagian pihak sering didikotomikan secara serampangan, berupa teori-teori sosiologi dan nilai-nilai wahyu (al-Qur’an dan al-Hadits). Sehingga masa depan tidak lagi dianggap sesuatu yang “kebetulan”, tapi sesuatu yang bisa diantisipasi, diinovasi, diadaptasi bahkan dievolusi.

Di atas segalanya, saya perlu menyampaikan terima kasih kepada penulis, Kang Maulana Janah, yang telah mengamanahi saya untuk “membubuhi” naskah ini agar terasa renyah. Maaf, apa yang disuguhkan bisa jadi belum sesuai dengan harapan dan kehendak. Dalam kesadaran yang tak selalu sempurna, saya layak memohon maaf. Selebihnya, jika ditemukan kekurangan sana-sini, saya menjadikannya sebagai sarana menghitung diri  agar ke depan lebih baik sekaligus sebagai penyemangat agar  memohon ampun kepada-Nya. Dialah Allah, yang mengetahui dan memiliki segalanya, maka hanya kepada-Nyalah semua urusan dikembalikan.

Yang tak mungkin dilupakan, teman-teman saya di Penerbit Mitra Pemuda yang telah bersedia untuk bekerjasama dalam berbagai hal, terutama dalam “menghadirkan” buku ini. Walau memori ingatan saya belum terlalu apik untuk mengingat semua kebaikan mereka, bagi saya, mereka telah berjasa menjadikan Penerbit Mitra Pemuda sebagai pengeras suara yang “menghutbahkan” berbagai gagasan yang berserakan dalam etalase realitas sosial kebangsaan. Untuk mereka saya ucapkan terima kasih. Kalaupun saya tak sempurna dalam mengapresiasi, maka percayalah Allah takkan pernah tinggal diam.

Ah saya tak memiliki banyak kata dan komentar. Saya berpandangan bahwa buku ini sangat layak dijadikan sebagai kitab perubahan sosial. Jadi, jangan baca buku ini jika Anda masih jatuh cinta dengan model-model stagnasi, status quo, otoriter, tiranik dan oligarki. Cukup begitu. Akhirnya, selamat datang perubahan! []

 

Jakarta, 15 Maret 2012

 

 

Syamsudin Kadir

Editor

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: