Pak Presiden, Mari Me[negarakan]Rakyat!

29 Feb

Pak Presiden,
Aku dan teman-temanku, ya rakyat biasa, sering mencermati realitas politik mutakhir. Dari semuanya tampak dan dapat dikatakan bahwa di republik ini bernegara sering dipahami bahkan dipraktekkan sebagai ajang atau arena perebutan kekuasaan. Padahal bernegara bukan sekedar kekuasaan atau obsesi tentang keharusan menang dalam Pemilu atau pemilihan jabatan politik tertentu, dominasi gagasan dalam kebijakan, meluasnya peran partai politik dalam sistem kepartaian, mendapatkan jabatan dalam hasil Pemilihan Kepala Daerah, totalitas dalam upaya penegakan hukum dan Hak Azasi Manusia (HAM) atau mati-matian dalam agenda pemberantasan korupsi semata.

Pak Presiden,
Berpolitik juga tidak harus semua jadi calon legislatif (caleg) atau anggota legislatif (aleg). Tidak harus menjadi partai yang berkuasa, sebab tidak mungkin semuanya menjadi eksekutif atau kepala daerah, misalnya. Berpolitik berarti masuk dalam kelompok atau komunitas untuk mengambil peluang, yaitu ’merebut kekuasaan’ atau ’mempengaruhi kebijakan’ demi kepentingan dan kebutuhan kolektif bangsa atau rakyat banyak, tentu sesuai dengan konstitusi atau aturan-aturan yang sudah disepakati atau model yang dipilih.

Pak Presiden,
Yang aku pahami, kekuasaan yang anggun adalah kekuasaan yang ditambat dengan keluhuran karakter sebagaimana ketika Nabi Yusuf as. menjadi Perdana Menteri. Sebuah bentuk transformasi kepribadian yang jarang kita temukan pada model kepemimpinan manusia pada zaman ini. Sebuah amanah besar yang bertemu dengan kualitas manusia yang sangat dan layak untuk diteladani.

Pak Presiden,
Bapak tentu tahu Nelson Mandela. Ketika menjabat sebagai pemimpin tertinggi Afrika Selatan, Nelson Mandela dalam posisi di atas, sangat populer dan dicintai rakyatnya— sampai jika Mandela mencalonkan kembali dalam Pemilu hampir 100% rakyat akan memilihnya kembali. Namun Mandela memilih untuk tidak mencalonkan lagi. Seorang wartawan bertanya kepada Mandela, “mengapa Anda memilih untuk tidak mencalonkan lagi padahal Anda ada jalan lebar untuk berkuasa kembali?” Mandela menjawab, “saudaraku, berkuasa atau tidak, bisa sama artinya. Karena penguasa yang tidak bertanggung jawab nilainya kalah dengan warga negara biasa yang bertanggung jawab.” Lanjut Mandela, “maka izinkanlah saya menjadi warga negara biasa yang bertanggung jawab!”, pintanya.

Pak Presiden,
Begitulah politik atau kekuasaan jika dipahami sebagai pelembagaan wewenang dan fungsi, yang muncul adalah sikap melayani, memberi dan berkorban. Sebaliknya, jika hanya dipahami sebagai peluang melanggengkan kekuasaan dan azas pemanfaatan, maka yang terjadi adalah musibah sekaligus bencana karena ketidakberdayaan kepemimpinan. Hal ini akan terjadi walaupun seorang pemimpin ‘merasa’ telah melakukan ‘azas pemanfaatan’ itu untuk kepentingan publik atau kepentingan yang lebih luas. Karena perasaan saja tidak cukup menjadi saksi bagi kelayakan dan fungsionalnya sebuah kepemimpinan.

Pak Presiden,
Pernyataan yang kedua ini ada relevansinya dengan apa yang pernah dan sedang dialami oleh bangsa ini. Sebagian kebijakan dan program aksi yang dikeluarkan oleh pengambil dan pengeksekusi kebijakan belum menjadi pemicu bagi penyelesaian berbagai masalah bangsa. Artinya, peningkatan kesejahteraan rakyat akan terus menjadi slogan semata. Tidak heran jika kemudian doktrin ’negeriku adalah Indonesia’ belum menjadi kenyataan sebagian besar rakyat yang menghuni republik ini. Tentu lagi-lagi, aku minta maaf jika pernyataan ini salah atau jauh dari kenyataan.

Pak Presiden,
Lebih jauh lagi, senyum bahagiapun hanya menjadi impian keseharian hidup semata. Padahal harapannya, dengan senyum itu, rakyat bisa merenung dan berimajinasi untuk memilih peran, tentang kontribusi yang ditawarkan dan sekaligus memahami atau menjiwai makna bernegara. Tentang bagaimana ikut terlibat dalam membuat peta perubahan dan perbaikan negeri kathulistiwa ini. Tentang pemantapan diri sebagai warga Negara yang aktif atau publik yang kontributif. Tentang kesungguhan untuk memberi yang terbaik bagi masa depan bangsa dan negaranya secara sadar dan bertanggung jawab. Tentang bekerja untuk dan demi masa depan Indonesia.

Pak Presiden,
Mengapa demikian? Aku memahami bahwa warga Negara atau publik yang sejati bukanlah kategori pasif, melainkan sebuah nama untuk komunitas yang aktif. Warga Negara atau publik bukanlah kerumunan massa yang diam atau sekedar menjadi penonton. Publik adalah warga Negara yang memiliki kesadaran akan dirinya, hak, kewajiban dan kepentingannya.

Pak Presiden,
Aku memahami bahwa publik sejati adalah warga Negara yang memiliki keberanian yang kuat untuk menegaskan eksistensi dirinya dan mendesak kekuasaan agar mengakomodasi kepentingannya. Publik sejati adalah warga Negara yang ikut terlibat secara berani dalam membangun bangsanya, menginspirasi hingga mendesak pemimpin untuk melakukan berbagai terobosan terbaik bagi perubahan bangsanya.

Pak Presiden,
Aku juga memahami bahwa bernegara adalah kesyahduan janji bersama mencari cara mendapatkan kehidupan yang layak. Bernegara adalah upaya untuk mencapai cita-cita bersama dan menegakkan nilai-nilai substansial; elit berkuasa, rakyat sejahtera.

Pak Presiden,
Temanku yang juga rakyat biasa seperti aku pernah memberiku pejelasan bahwa bernegara adalah upaya tulus untuk mencapai cita-cita bersama dan menegakkan nilai-nilai keadilan. Bernegara adalah obsesi menyatukan kembali perasaan dan tekad inilah Indonesiaku: negeriku dan bangsaku.

Pak Presiden,
Ya, bernegara mestinya adalah obsesi tentang kepemimpinan diri untuk berkarya bagi yang dipimpin (rakyat banyak), untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka tentang kemerdekaan, tentang pendidikan bermutu, tentang moral bangsa yang terjaga, tentang udara yang bersih, tentang air minum yang segar dan sehat, tentang sungai-sungai yang mengalir indah dan bersih tanpa bau, menjadikan pantai-pantai indah, tentang kebudayaan bangsa berkembang menarik untuk dinikmati jutawan wisatawan, tentang menjaga pulau-pulau yang elok, menjaga hutan-hutan dan lautan.

Pak Presiden,
Bernegara adalah memberikan tempat kepada seluruh anak bangsa untuk belajar dan membaca agar mengetahui rahasia alam semesta, tentang menghargai manusia-manusia cerdas, tentang memberi yang terbaik dari yang memimpin kepada yang dipimpin, tentang kontribusi nyata yang mesti ditunaikan. Baik pada masa kini maupun di masa depan.

Pak Presiden,
Begitulah cara bernegara yang sama-sama kita nantikan wujudnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita; dan itulah peran yang mesti kita tunaikan. Mulai dari diri sendiri, dari yang hal kecil dan dari saat ini adalah prasyarat utama bagi terwujudnya ide-ide tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Bagaimana menurut Bapak?

Pak Presiden,
Aku baru belajar dan akan terus belajar. Minimal mengatakan sesuatu yang mesti aku katakan demi yang terbaik bagi bangsa dan Negara ini di masa depan. Mudah-mudahan apa yang kusuguhkan bermanfaat untuk Indonesia tercinta. Akhirnya, jika berkenan, kiranya Bapak membaca tuntas tulisan ini. Dari seorang manusia alias rakyat biasa yang sedang belajar mencintai Indonesia. Terima kasih Bapak Presiden, terima kasih Pak SBY! []

Bandung, 17 Agustus 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: