14 Tahun KAMMI: Sabda Nurani

Siapa lagi yang mau pergi, “dipergikan” atau mungkin ada yang mau ikutan “mati”? Ya negeri ini memang masih menyisahkan manusia kerdil yang tak punya rasa hormat kepada manusia-manusia besar. Provokasi dengan nalar atau rasionalitas tak mereka pahami, nalar gila juga tak mereka terima… Lalu, apakah dengan menghidupkan Fir’aun, baru membuat mereka bersuara dan mengalur,,, mendaur kesepian? Oh bangsa, oh negeri. Maaf, kami terserang penyakit buta… Buta memandang kaum super di alam nyata depan mata, tapi mengharap dalam kebisuan pada Fir’aun yang anti instrupsi, ogah kritik dan angkuh… Sampai kapan mereka yang lugu menerima kenyataan tandus patriotis berdiam diri? Jujur, aku tak begitu tahu. Jika boleh manmpar, aku hanya ingin mengatakan : Ah mayit, masuklah ke dalam liang kuburmu. Jangan ganggu kami, jangan halangi kami, dan jangan bunuh kami!

Sumpah! Akar-akar palsu ditanam, disirami sirup yang memabukkan: tanpa orientasi dan buah pasti. Lalu tak malu-malu berkata pada “nyamuk” yang doyan menggigit: Ahai,,, aku penting, aku pahlawan, dan sabda-sabda tak bernyawa. Lalu, kesepian dan ketandusan itu dianggap “takdir”? Ah, batu nisan menjadi saksi jika kau memang mayit yang tidak dimandikan. Bukan karena kau syahid. Tapi air yang dipakai tuk memandikanmu telah kau buang sendiri di tengah lapangan tak bertuan, walau ramai seperti di pasar dusta para elit, janji indah para penjajah dan nyanyi jorok pedangdut sumbing. Jorok memang, memang jorok. Itu fakta. Matahari, bulan, bintang dan kehidupan menjadi saksinya. Atau tanya saja pada rumput yang bergoyang.

Air mata ini tak selalu berharga, dan memang bisa jadi tak bernilai apa-apa. Tapi nurani ini tak mau menutup diri, tak mau membungkam melihat fenomena dan fakta. Ini bukan wujud kecewa tanpa buah seperti patung-patung yang bangga menelanjangi diri dan melaparkan diri di depan istana atau rumah-rumah “Fir’aun” yang mereka banggakan bahkan mereka tanamkan sekian dasawarsa. (Itu tak salah, tapi terlalu picik). Tapi, belajar menampar stagnasi langkah dan kematian nurani di tengah tangisan jutaan anak manusia di seluruh penjuru. Ini keyakinan, ini sabda keabadian. Atau apakah jiwa-jiwa garang itu sudah kena racun tikus sehingga enggan berkata apa-apa selain diam? Sepi terus, bisa jadi mati. Lalu, kesepian itu dibiarkan begitu dengan alasan: on mission. Eh. Dunggunya negeriku, dunggunya anak-anak muda berjas, dungunya mereka yang punya lidah… Atau jangan-jangan aku, kau, dia dan kita semua sama-sama dungu? Ah malu aku menjawabnya. Tapi aku yakin di pojok nurani selalu ada “nurani”. Dan, ya tanya saja nurani tulus itu.

Ah bisa jadi,,, Bisa jadi negeri ini lebih banyak tembok “piramida’ Fir’aun daripada “tongkat” Musa. Bangga dengan simbol “persatuan” tapi “membunuh” bibit jenius, buah apel manis dan jutaan “emas” kenyal. Atau aku, kau dan dia sudah tak bermata nurani, sehingga tak merasa apa-apa ketika disiram berhala “picisan” seperti janji palsu para elit, nalar capital para penjajah atau “air kencing” tuan PT? Masya Allah. Mari bertaubat bangsaku, mari beristighfar kaum muda!

Sungguh, ini cinta. Ya ekspresi cinta. Walau di antara anak bangsa mencampakkannya dalam lubang syahwat, cinta selalu membuat keraguan ke tanam indah keyakinan. Ya ‘Abdun, si pemilik sangkar cerah, sapa mereka yang “menghakimi” cinta sebagai sabda jahil. Mereka seperti itu karena jahil filosofi, buta nurani, korban acting dan praktik “badut” di kaca TV dalam rumah mereka. Bahkan dalam kemaluan mereka yang salah guna. Atau dalam kutub sulbi mereka tak ada cinta? Bukan kah cinta yang membuatnya indah, elok dan mau menghargai potensi dirinya tanpa agunan? Katakan pada mereka wahai ‘Abdun: cinta itu indah, bukan pepesan kosong seperti yang dipertontonkan oleh “sampah” jahil, pembantu palsu, pelayan angkuh, atau penjaga lembaga instan bentukan para pemabuk yang doyan renang di lautan “bertahi ayam”.

Oh Natsir, Oh Hatta, Oh Habibie, percayalah kami segera hadir. Mudah-mudahan ide besar, narasi apik, rencana strategi, api semangat dan nurani cerah selalu terlahir dari sini. Dari rahim organisasi mungil yang dideklarasikan pada 29 Maret 1998 ini. Kini ia sudah berusia 14 tahun. Muda, dan ya benar-benar muda. Walau berbeda, kita semua adalah Indonesia. Ya, aku KAMMI :  Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Aku yakin kau bersama aku di sini, di negeri indah Indonesia. Walau fisikmu tak bersama aku di sini, tapi kau tetap membersamaiku: menanam benih cinta untuk-Nya dengan menata taman indah Indonesia. Semoga kelak kita bersua di sana, di alam keabadian: surga-Nya!  [Syamsudin Kadir, Bidang Pembinaan Kader KAMMI Pusat 2011-2013]

Iklan

4 thoughts on “14 Tahun KAMMI: Sabda Nurani

  1. Romantic… bahagianya aku menjadi bagian dari gerakan ini.. bahagianya bersama mereka, yang wajahnya tulus penuh keikhlasan, namun menjadi lantang kala manyuarakan nurani… bahagia bersama mereka, yang terbangun, tersadar, lalu bergerak. Lalu datanglah cinta memberi tenaga pada gerak mereka. Maka langkah kaki mereka menancap kokoh di tapak sejarah, melaju secepat angin, kuat bertenaga bagai badai…. Aku, mencintai KAMMI, aku mencintai Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s