Harus Berani Memulai

21 Feb


“Kalam atau pena yang efektif tak selamanya perlu menyenangkan orang sebanyak-banyaknya; yang perlu adalah bagaimana membuat orang untuk berpikir kembali, berpikir sendiri, setelah membacanya—satu kemampuan yang hanya ada dalam kebudayaan tulisan.” (Chaidir dalam Membaca Ombak)

JIKA ingin bertahan hidup, terutama dalam dunia sekarang ini, kita harus berani. Kita harus mau memposisikan diri di luar sana dan menerima berbagai resiko. Begitulah isi SMS motivasi dari istriku suatu ketika.

Apa yang disampaikan istriku sangat tepat. Langkah awalnya adalah mengklaim kembali kebebasan diri dengan harga apapun. Ya, aku memulai dengan percaya diri bahwa aku memiliki hak dan peluang untuk mewujudkan eksistensi diriku dalam etalase kehidupan dunia.

Ada banyak orang yang pergi setiap harinya ke pekerjaan yang mereka benci. Mereka ingin bertahan karena ingin keamanan pekerjaan, padahal tidak ada keamanan dalam pekerjaan. Menulis adalah aktivitas yang mungkin dinilai paling aman, namun percayalah bahwa menulis adalah aktivitas yang dikelilingi oleh banyak tantangan. Nah, jika ingin menjadi lebih baik, aku harus berani keluar dari zona nyaman. Aku mesti memulai untuk melakukan apa yang aku impikan sekarang juga. Aku tidak boleh merasa nyaman atau menyamankan diri pada zona yang nyaman.

 

Aku percaya dengan satu falsafah hidup bahwa even yang sebenarnya dalam hidup ada dalam pilihan yang aku buat—setiap even menciptakan masa depan baru. Hari ini tumbuh dari pilihan-pilihan kemarin, dan besok akan tumbuh dari pilihan-pilihan hari ini. Karena itu, aku harus melakukan aktivitas yang membuat masa depanku bahagia. Aku mesti melakukan apa yang aku pikirkan dan rencanakan. Aku tak mau menunggu esok dan lusa menghampiriku, karena sekaranglah saatnya untuk membuktikan semuanya.

Aku harus memikirkan kesuksesan, karena aku memiliki hak untuk berkarya secara positif dan menghasilkan karya terbaik. Kehidupan ini tampaknya memiliki cara tersendiri untuk menjadi kenyataan dengan sendirinya. Jadi, aku mesti berpikir mengenai keberhasilan dan kesuksesanku dalam berkarya, ya menulis; dan aku mesti bertindak seakan-akan kegagalan bukanlah suatu pilihan dalam hidupku—walaupun kesempatan untuk gagal pasti ada. Sebaliknya, aku mesti berpikir seakan-akan aku sudah menjadi orang yang sukses, termasuk dalam dunia kepenulisan.

Aku meyakini, sebagaimana bisnis, menulis membutuhkan niat, keinginan, komitmen dan keberanian. Di sini tak ada ruang bagi pikiran “gagal”. Lalu, apakah aku sudah memiliki kebutuhan yang mesti aku miliki? Apakah aku sudah memiliki keberanian untuk menulis? Apakah aku memiliki tekad untuk menghadirkan karya tulis terbaik? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mesti aku jawab.

Sebagian orang memahami menulis sebagai profesi. Entahlah, bagiku, semua orang memiliki hak untuk memberinya makna dan pengertian. Yang jelas, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk melakukan aktivitas ini. Jika aku mau, maka aku pun bisa. Begitu juga Anda, niscaya bisa.

 

Bagiku, jika aku menulis, maka aku sedang membuat sejarah. Sejarah yang berubah dari masa ke masa. Aku sedang menciptakan sesuatu yang baru dan serba baru. Dan bila upaya itu selesai, aku mesti siap dengan hal baru yang lainnya. Langkahku untuk memulai aktivitas menulis merupakan bagian dari aktivitas bergerak ke depan. Sebab menulis adalah kreativitas yang mencerahkan di masa depan. Aktivitas menulis merupakan aktivitas untuk masa depan, dan karenanya aku mesti memulainya, bukan menunggu masa depan datang menghampiriku. Bahkan masa depan adalah aku dan menulis itu sendiri.

Menulis merupakan aktivitas yang perlu ditradisikan dan membutuhkan kedisiplinan bagi siapapun yang ingin menggelutinya. Banyak orang yang mampu menjadikannya sebagai tradisi, banyak juga yang menunaikannya secara disiplin; namun hanya sedikit yang memiliki keduanya sekaligus: tradition of discipline. Karena itu beranilah untuk memulai menulis, dan beranilah untuk mentradisikannya secara disiplin; minimal catatan kecil untuk orang-orang yang Anda cintai—baik ayah, bunda, kakak, adik, keluarga, tetangga, guru, teman, atau siapa saja—sekarang!

Menulis memang membutuhkan keberanian memulai. Aku—semoga juga Anda—belajar dari Sayyid Quthb. Beliau menulis, menuntaskan Tafsir Fi Zhilalil Qur’an selama dalam kondisi darurat. Beliau menuntaskan karya monumental itu ketika berada di dalam penjara. Walau dalam kondisi seperti itu, beliau tetap berani. Penyebabnya hanya satu: beliau menulis karena keyakinan yang kuat atas kebenaran yang beliau perjuangkan. Begitulah tantangan bagi yang berani.

Di Indonesia juga demikian. A. Hasan, Hamka, Natsir dan beberapa tokoh mulim yang lain juga menghadapi berbagai tantangan dan hambatan dalam mewujudkan cita-cita mereka. Bukan saja tantangan psikologis, politis dan ekonomis, bahkan tantangan fisik dan nyawa juga sering mereka lalui. Namun, mereka tetap berani dan terus berjuang. Di antara karya besar yang masing-masing mereka wariskan adalah tafsir dan berbagai macam judul buku yang dibaca oleh berbagai kalangan hingga kini. Mungkin termasuk Anda.

“Kalau takut dilamun ombak, jangan berumah di tepi pantai!”, demikian petuah para leluhur. Ya, aku menyadari bahwa kalau aku tak siap mengambil resiko, maka aku tidak perlu melakukan sesuatu. Artinya, jika aku ingin menulis, maka aku mesti berani. Gerbong waktu tidak akan pernah berhenti, ia terus berjalan mengangkut berbagai macam muatan. Pilihannya tunggal, aku harus masuk. Dan di sana—suka atau tidak suka—sudah menunggu beragam masalah. Dan yang membuat aku bertahan dan mampu melalui semua itu adalah keberanian. Ya, menulis butuh keberanian.

Dalam dunia kepenulisan, yang aku tahu, tantangannya sekarang hanya satu: kemalasan. Hanya itu. Karena sekarang tidak ada yang menulis kemudian dibunuh—atau mendapatkan ancaman pembunuhan. Lalu, apalagi yang aku jadikan sebagai alasan sehingga belum berkarya atau menulis?

Akhirnya, mengutip pernyataan istriku pada catatan hariannya:  Menulis tak mengenal jenis kelamin, ras, budaya, suku bahkan agama. Semua orang memiliki potensi dan peluang yang sama. Sekarang yang dibutuhkan hanya satu: keberanian. []


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: