Menatap Masa Depan : Rumusan Diagnosa

18 Feb

KEHIDUPAN ini adalah pergiliran antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Masa lalu telah lewat, masa kini sedang kita lalui dan masa depan sedang kita sambut. Berbagai peristiwa di masa lalu dan masa kini selalu memiliki korelasi yang kuat dengan apa yang terjadi di masa depan. Kemampuan mengambil hikmah dan pelajaran dari masa lalu dan pada masa kini adalah salah satu modal utama kita bagi upaya menatap masa depan yang lebih baik. Hampir tak ada masa depan tanpa masa lalu dan masa kini. Maka tataplah masa depan dengan mengambil hikmah dan pembelajaran pada masa lalu dan pada masa kini. Agar masa depan menjadi akumulasi dari rencana strategis yang kita susun dan rencanakan pada masa kini. Mari belajar dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada setiap zaman!

 

1.    Rumusan Diagnosa

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang, yang memiliki jumlah penduduk yang cukup besar. Bahkan di level dunia, Indonesia berada pada peringkat ke 4 setelah China, India dan Amerika Serikat. Dari hampir 240 juta jiwa penduduk Indonesia, sekitar 85%-nya beragama Islam.

Karena itu juga, negeri ini sangat kaya dengan berbagai macam dinamika dan corak pemikiran keagamaan. Massa Islampun mencapai puluhan bahkan ratusan jumlah organisasi. Artinya, secara sosiologis umat Islam memiliki peluang dan tanggung jawab yang cukup besar.

Sebagai umat yang visioner, mencari titik temu antara Islam dan umatnya merupakan agenda utama yang mesti direncanakan secara matang. Apalagi kejayaan yang kita maksudkan adalah kejayaan Islam yang menghadirkan kemaslahatan bagi kemanusiaan umumnya. Baik umat Islam maupun non muslim; baik yang berada di negeri ini maupun di negara-negara lainnya di dunia.

Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam menyukseskan agenda besar tersebut. Dan banyak cendekiawan dan ulama yang menjelaskan kepada kita. Sebagai awalan, mudah-mudahan beberapa usulan berikut bermanfaat!

 

Pertama, pandai-pandai menggalang barisan  

Umat Islam di negeri ini merupakan komunitas mayoritas. Dalam konteks tertentu kita sebenarnya adalah pemberi saham terbesar dalam hal mengisi kekosongan negeri ini, baik dari aspek kepemimpinan, aspek delegasi sampai stok sumber daya.

Ini merupakan peluang yang mesti diperhatikan secara cerdik sejak dini. Keragaman umat dengan berbagai macam bentuk dan dinamika pemikirannya merupakan kekayaan yang mesti dikelola menjadi kekuatan sekaligus peluang berkontribusi untuk masa depan Indonesia dan umat Islam secara cerdas.

Oleh sebab itu, agenda umat Islam mesti dibicarakan dalam ruang diskusi internal umat Islam. Agar semua agenda, terutama agenda strategis keumatan dan kebangsaan tersusun rapi dan terjadwal dengan jelas. Selain, sebagai upaya penyolidan barisan umat Islam, metode ‘duduk bersama’ ini juga bisa menjadi sarana pembagian tugas yang jelas sekaligus sebagai ajang silaturahim antara elemen umat Islam.

Keengganan untuk ‘duduk bersama’ dalam sebuah ruang konsolidasi yang sederhana sekalipun adalah suatu bentuk kerumunan yang terlalu lucu dan mengkhawatirkan banyak kalangan, terutama generasi muda yang masih perlu atau berhak memperoleh ketauladanan dari generasi tua, dari tokoh-tokoh Islam.

 

Kedua, terus melakukan pembenahan   

Gerakan penyolidan basis kekuatan umat dengan metode ‘duduk bersama’ adalah sebuah upaya lain dari agenda pembenahan umat Islam atas kondisi bangsa ini. Kita sudah memaklumi bahwa umat Islam adalah komunitas mayoritas di negeri ini. Untuk itu, selain sebagai warga negara, sebagai muslim yang negarawan kita juga memiliki tanggung jawab dan peran kontribusi dalam menyongsong kebangkitan Indonesia sebagai juru bicara kebaikan Islam ke negara-negara muslim dan juga negara-negara Barat.

Metode yang ditawarkan oleh berbagai Ormas dalam menata umat dan bangsa ini beberapa waktu yang lalu bahkan sampai saat ini memang masih ada daya efeknya, namun lagi-lagi itu masih perlu pematangan dan upaya tindaklanjut. Sederhananya, dalam konteks berkontribusi ‘membangun Indonesia’, umat Islam mesti memposisikan dirinya sebagai penyangga sekaligus tiang utama, bukan penonton atau pembantu.  

Lebih dalamnya lagi, ide politik oposisi mesti dikaji ulang. Karena terlalu bangga atau berlebihan dengan haluan oposisi akhirnya sebagai umat Islam kita lebih senang ‘mengeong’ daripada menabuh gendang kebangkitan untuk masa depan. Kita terlalu lama terpesona dengan ide oposisi dengan pemaknaan yang dangkal, padahal kita tidak terberdayakan dengan jinak. Akhirnya kita terlalu jinak hanya dengan ‘hadiah tikus busuk’ misalnya berupa dana untuk Ormas, bantuan sosial dan seterusnya. Yang kemudian pada akhirnya kita hanya dikenal sebagai komunitas yang senang diberi, suka marah dengan kerumunan yang tidak jelas, dan selanjutnya belum berbakat dan tak berfirasat untuk menjadi pelaku utama, yang suka memberi dan senang berkontribusi.

Bagi umat Islam, memahami negara ini dengan segala macam instrumennya, idealnya tidak berdasarkan logika pembantu umum, tetapi sebagai pelaku utama. Bukan komunitas di luar kandang, tapi yang berada di dalam kandang dan membersihkan kandang. Bukan komunitas yang menonton keadaan, tapi pelaku perubah setiap perubahan kebangsaan. Bukan pengguna tapi pemilik sekaligus pengelola negara.

Jika selama ini peran umat Islam dianggap tidak efektif bagi pembentukan basis umat yang kuat untuk pembenahan Indonesia, maka umat Islam mesti berpikir ulang dan ‘duduk bersama’. Umat Islam mesti melakukan penyolidan di tingkat pemimpin umat dan umat secara umum, untuk kemudian dalam waktu tertentu mesti menyusun ulang metode atau cara yang dipilih dalam menata kondisi bangsa yang butuh pembenahan. Sekali lagi, umat Islam mesti berbenah diri secara massif. Kematangan umat Islam dalam menata individu atau komunitasnya sangat mempengaruhi kontribusi umat Islam dalam proses pembangunan bangsa dan negara ini. Bahkan sangat mempengaruhi posisi dan peran Indonesia dalam kancah global.

 

Ketiga, fokus terhadap mimpi-mimpi besar  

Menata Indonesia adalah kerja besar, mulia dan jangka panjang. Ia membutuhkan tenaga, waktu dan komitmen bahkan juga pengorbanan yang tak sedikit. Di sini tak sedikitpun ruang bagi ‘ide rebutan’ kursi. Menyatukan ide besar dan menyusun agenda besar adalah fokus utama. Di sini, yang dibutuhkan adalah komitmen yang kuat untuk menjadi pelaku yang fokus berkontribusi dan bukan menanti materi atau kedudukan apa yang diperoleh.

Pikiran-pikiran yang mengarah kepada ‘bagi kursi’ (baca : kekuasaan, kedudukan dan harta) adalah pikiran yang mesti dieliminasi sejak dini. Agaknya, kita mesti meneladani beberapa tokoh generasi pejuang yang telah berkontribusi kepada negeri ini di masa lalu. Kita tentu masih ingat Mohammad Natsir dengan gagasan dan dinamika pemikirannya dalam pentas perpolitikan dan dinamika dakwah Islam di negeri  ini.

Selama kita membangun umat Islam dan negeri ini dengan simbol atau bendera tanpa isi atau narasi, maka umat Islam atau negeri ini tetap akan menjadi korban tanpa kematangan posisi dan peran. Kepentingan individu atau kelompok yang mendominasi dan menghegemoni adalah penyakit sekaligus virus akut yang mesti dimatikan sejak dini. Itulah yang menyebabkan banyak komunitas dan Negara yang mati-hidup tak pasti. Karena itu, kita mesti hati-hati dengan sikap dan cara-cara seperti itu di samping kiri-kanan kita. Tidak ada yang terlambat, selama umat Islam sigap maka semuanya bisa dihalau. Karena kita tidak boleh berharap kecuali kepada kesadaran diri kita sendiri, umat Islam sendiri.  

Keempat, perkuat jaringan

Secara statistik, sampai saat ini Ormas atau organisasi berbasis massa Islam sangat banyak. Kita tentu merasa bangga dengan realitas tersebut. Namun, kita tentu punya catatan evaluasi. Salah satu koreksi kita adalah lemahnya peran dan efektifitas kerja Ormas Islam dalam membangun bangsa. Dinamika Ormas dalam mendukung atau memberi restu terhadap setiap calon pemimpin dalam beberapa level kepemimpinan—seperti Presiden, Gubernur dan Wali Kota—adalah bagian lain dari catatan yang mungkin tak pernah hilang dalam ingatan kita. Tidak salah memang, namun apa yang dilakukan tidak diperkuat dengan strategi jaringan. Sehingga apa yang diperoleh dari dinamika politik itu hanya kelelahan, yang selanjutnya adalah kemarahan.

Hal ini menjadi identitas Ormas-ormas Islam, karena sering menjadi sapi perah—yang bukan karena para politisinya yang pintar atau cerdas, namun karena Ormas-ormas Islam sendiri memang berpeluang atau punya bakat untuk dijajah secara terbuka oleh kekuatan politik pragmatis. Lagi-lagi, agaknya umat Islam Indonesia perlu belajar banyak kepada Mohammad Natsir dan para tokoh semasa beliau. Agar umat Islam tidak selalu menjadi korban kepentingan sesaat dan pragmatis.

Hidup dalam ruang dinamika yang rumit seperti ini memang perlu kesabaran yang utuh, karenanya aspek-aspek yang dihadapi mesti diterjang dengan logika pejuang dan kepahlawanan; bekerja untuk kepentingan kolektif secara sadar dan ikhlas, bukan untuk agenda kerdil dengan niat dan orientasi duniawi yang sessat tapi menyengsarakan umat Islam dalam waktu yang lama.

Hal ini menunjukkan secara jelas bahwa bidang-bidang real dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan tidak boleh diabaikan oleh kaum muslimin. Tentu, dalam dakwah bil-hal, gagasan ini mesti ditunaikan oleh semua elemen umat secara teratur dan terorganisir, sehingga dengan demikian ia akan menjadi kekuatan kolektif dalam membantu umat Islam untuk mewujudkan kerja-kerja yang lebih efektif, insya Allah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: