‘Melawan Dogmatisme Aktivis Liberal’

8 Jan

SAYA memahami Islam sebagai din yang sempurna dan menyeluruh; mencakup seluruh kehidupan manusia. Ia memiliki konsep yang kuat, tak terterjangi kemampuan dan akal manusia yang terbatas. Saya meyakini itu tanpa meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; dalam artian agama yang bisa diotak-atik oleh manusia seenaknya. Ia memang selalu sesuai dengan zaman dan tempat, tapi bukan berarti Islam bisa dirombak konsep dan prinsip-prinsipnya pada etalase ruang dan waktu secara dangkal dan membabibuta. Kesesuaian Islam dengan ruang dan waktu yang dimaksudkan adalah bahwa konsep, nilai-nilai dan pesan-pesan Islam tidak mungkin bertabrakan dengan proses alamiyah dan perputaran sunatullah yang berlaku di alam raya. Islam tidak seperti yang dipahami atau yang diyakini oleh kaum liberal yang memahami : “Islam sebagai agama “abad 7 masehi”, dan karenanya, Islam hanya berlaku untuk zaman itu. Selebihnya, Islam perlu dikontekstualisasikan sesuai selera dan sesukanya. Dalam pengertian bahwa hal-hal prinsip maupun cabang dalam Islam perlu dirombak atau menurut bahasa mereka “digugat.” Kedangkalan pemikiran kaum liberal dalam memahami Islam, dengan begitu, mereka memahami Islam sebagai patung. Sebagaimana galibnya, patung bisa dipahat, dirubah bentuk dan segala macamnya sesuai selera pematung atau pemahat patung. Karena Islam bukan patung, kecuali kaum liberal itu sendiri, bahkan dalam hal tertentu mereka tak jauh beda dengan patung yang bisa dipahat dalam bentuk yang variatif sesuai selera nara sumber pemikran mereka yang kaku.

Saya melihat, kecenderungan yang kuat dan jelas dari ide-ide mereka untuk “memperkosa” Islam, bahkan akhir-akhir ini amat menonjol. Karena itu, saya perlu mengatakan suatu hal: sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menghalangi atau membatasi berbagai kecenderungan liberalisme seperti ini.


Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha sederhana menyegarkan kembali pemikiran kaum liberal atas Islam yang saya pandang cenderung merusak keyakinan umat Islam dan konsep-konsep dasar Islam. Nalar mereka terlalu naïf untuk dianggap ilmiah dan rasional. Pemahaman dan pemikiran yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi kemajuan Islam itu sendiri.

Di antara jalam menuju kemajuan berpikir yang lebih objektif dalam lingkup pemikiran kaum liberal adalah dengan mempersoalkan cara mereka dalam menafsirkan agama ini. Untuk menuju ke arah itu, kita memerlukan beberapa hal.

Pertama, penafsiran Islam di atas dasar atau landasan ilmu yang benar, bukan sesuai denyut nadi kaum liberal yang pragmatis.

Jadi, yang diperlukan adalah penafsiran Islam yang utuh dan menyeluruh, bukan penyimpangan pemahaman ala kaum liberal. Islam itu memiliki nilai-nilai yang universal, mencakup setiap masa dan tempat. Apa yang dianggap haram oleh Islam pada masa lalu, maka berlaku juga untuk saat ini. Begitu juga yang halal. Tidak dipahami bahwa Islam mesti dipahami berdasarkan selera budaya tertentu misalnya konteks Arab, Melayu, Asia Tengah, dan seterusnya. Seperti kata kaum liberal: “Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam…. tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab. Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum (public decency). Kepantasan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia. Begitu seterusnya.” Nalar seperti ini mencerminkan kepicikan dan kedangkalan dalam menggunakan akal dan dalam memahami pesan-pesan historis dan hukum dalam sejarah Islam.

Kedua, umat Islam hendaknya memandang dirinya sebagai “masyarakat” atau “umat” yang memiliki posisi strategis sebagai umat terbaik, “bersyarat”. (Qs. Ali ‘Imran : 104, 110)
Dengan munculnya berbagai ide dangkal kaum liberal justru mengingkari bahwa umat Islam memiliki peluang untuk menjadi umat terbaik. Bahkan dengan serta merta kaum liberal mengingkari kenyataan bahwa umat manusia adalah keluarga universal sebagaimana yang digariskan Islam dengan tanpa sedikitpun embel-embel liberalisme-nya. Kemanusiaan adalah nilai yang sejalan, bukan berlawanan dengan Islam. Dalam keragaman bukan berarti hal-hal prinsip dalam Islam digadai untuk kebutuhan seks dan kepentingan perut lainnya. Kebolehan untuk menikah beda agama seperti yang menjadi salah satu tema kaum pluralisme adalah semata-mata bukan untuk menghormati keragaman tapi untuk kebodohan yang bersifat sesaat, bahkan konon karena kebutuhan biologis semata. Larangan kawin beda agama dalam Islam, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, adalah suatu prinsip yang sangat relevan untuk setiap zaman, termasuk zaman sekarang dan di masa depan.

Islam sendiri sangat tegas melarang itu, karena Islam menganut pandangan universal, legalitas dan taat hukum serta berperadaban. Ia menghargai martabat manusia yang sederajat, yang kemudian mendapat jaminan derajat berdasarkan kualitas takwa. Orang kafir tentu tidak bertkawa kepada Allah dan nabi Muhammad Saw. Dan tentu saja orang bertakwa tidak mau menikahkan anaknya kepada orang yang mengingkari Allah dan nabi Muhammad Saw.

Karena itu, segala produk pemikiran liberal yang tidak mengakui adanya terminologi “Iman”, kafir” dan sejeninya perlu direvisi bahkan dimusnahkan dari warisan sejarah umat manusia. Karena, anti terminologi tersebut juga merupakan wujud nyata bahwa ide liberalisme memang bukan ide yang dibangun di atas landasan rasionalitas tapi khayalan yang berdiri tegak di atas ranjang dogmatis dan doktrin-doktrin usang.

Ketiga, kita perlu menegaskan bahwa Islam memiliki konsep mengenai struktur sosial, politik dan semacamnya.
Kebenaran Islam dan berbagai konsep yang terkandung di dalamnya bukan konsep yang berlaku hanya untuk individu, tapi juga untuk kehidupan publik. Karena itu, pemahaman liberal yang mengatakan Islam adalah urusan individu adalah wujud kebodohan atas ajaran Islam itu sendiri. Kegagalan dalam memaknai Islam sebagai agama yang mengatur aspek kehidupan, baik yang bersifat individu maupun publik, akan berakibat pada jauhnya praktik islami dalam kehidupan nyata. Hal ini bisa diperhatikan dalam praktik nyata ajaran-ajaran Islam dalam lingkup kehidupan kaum liberal. Sederhananya, susah ditemukan Islam dalam lingkup kehidupan mereka.

Menurut saya, syari’at itu ada dalam Islam, dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam, bukan seperti seperti keyakinan dan pemikiran segelintir kaum liberal yang kini semakin punah ditelan ruang dan waktu. Misalnya, hukum tentang pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Dan beberapa hal lain yang mengandung prinsip-prinsip umum dan universal. Nilai-nilai itu adalah perlindungan atas keteraturan, akal, kepemilikan, keluarga/keturunan, dan kehormatan (honor). Bagaimana nilai-nilai itu diterjemahkan? Itu tidak diserahkan begitu saja dalam konteks sejarah dan sosial tertentu. Karena itu, ia perlu patokan dari konsep utama Islam. Sebab budaya dan kondisi sosial sselalu berubah. Realitas yang berubah tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur untuk menentukan salah dan benarnya sesuatu.

Keempat, Di antara nilai luhur ajaran Islam adalah konsep-konsep keadilan.
Nilai yang diutamakan Islam adalah keadilan dan penegakannya. Di antara misi Islam yang paling penting adalah bagaimana menegakkan keadilan di muka Bumi, terutama di bidang politik, ekonomi (tentu juga di bidang budaya), dan berbagai tata etik dalam Islam seperti menutup aurat (jilbab dan lan-lain), menempatkan perempuan sesuai fitrah yang digariskan Islam, memelihara sunnah dan semacamnya.

Dengan begitu, Islam mengingkari misi “pemerkosaan” atas Islam seperti yang dilakukan oleh kaum liberal dengan mencurigai konsep-konsepnya yang agung dan fitrawi. Keadilan itu tidak bisa hanya dikhotbahkan (seperti yang dilakukan oleh kaum liberal), tetapi harus diwujudkan dalam bentuk sistem dan aturan main, undang-undang, dan sebagainya, dan diwujudkan dalam perbuatan. Termasuk dalam rumah tangga.

Upaya menafsirkan Islam secara liberal, bagi saya, adalah wujud ketidakberdayaan kaum liberal dalam menghadapi masalah ekonomi, kemajuan ilmu, dan kedinamisan Islam serta berbagai problem sosial yang mengimpit mereka. Kaum liberal menganggap, semua masalah akan selesai dengan sendirinya (1) manakala Islam dipahami secara bebas, (2) umat Islam mesti kufur terhadap Islam, (3) dalam penafsirannya umat Islam mesti percaya dengan keyakinan dogmatis-keseragaman, dalam pengertian bahwa Islam mesti dipahami dengan cara keluar dari konsep dasar atau utama Islam.

Karena itu, menurut saya, masalah kemanusiaan tidak bisa diselesaikan dengan merujuk kepada “kaum liberal” (sekali lagi: saya tidak percaya adanya kebenaran dalam gagasan dan penafsiran yang bersifat liberal dari “kaum liberal”; saya hanya percaya pada pemahaman para ulama yang saleh, berilmu dan bertanggung jawab atas ilmunya), tetapi harus merujuk kepada hukum-hukum atau sunnah yang telah diletakkan Allah dalam wahyu-Nya. Baik dalam masalah ibadah maupun dalam masalah muamalah, yang dalam konteks tertentu sudah diformulasikan oleh para ulama dalam berbagai tema ilmu.

Kata Nabi, konon, man aradad dunya fa’alihi bil ‘ilmi, wa man aradal akhirata fa ‘alihi bil ‘ilmi; barang siapa hendak mengatasi masalah keduniaan, hendaknya memakai ilmu, begitu juga yang hendak mencapai kebahagiaan di dunia, juga harus pakai ilmu. Saya tak menemukan nuansa ilmiyah dalam kajian kaum liberal, justru kenyataannya adalah kajian dogmatis bahkan sangat radikal. Dengan mudahnya mereka meneror agama dengan sangat sadis. Ilmu dunia maupun akhirat takkan ditemukan dalam etalase kaum liberal.

Pandangan bahwa pemikiran liberal adalah suatu “paket lengkap” yang sudah jadi, suatu resep ideal dalam menyelesaikan masalah umat adalah pandangan yang sangat keliru, bahkan akan menimbulkan masalah yang sangat dahsyat. Mengajukan model penafsiran “hermeneutika” sebagai solusi atas semua masalah adalah sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah; sebentuk eskapisme dengan memakai alasan kebebasan, untuk kemudian “mencuri cara orang lain” untuk menafsirkan kitab suci sendiri yang sudah memiliki metode tafsir tersendiri.

Eskapisme inilah yang menjadi sumber kemunduran intelektual di mana-mana. Saya tidak bisa menerima “kemalasan” semacam ini, apalagi kalau ditutup-tutupi dengan alasan, itu semua demi menegakkan kebebasan akal dan kebebasan berekspresi. Jangan dilupakan: tak ada kebebasan abadi. Sebab dalam kehidupan sosial kebebasan dibatasi oleh kebebasan orang lain yang berbeda. Dan karena itu diperlukan aturan yang dijadikan patokan atau alat ukur. Selebihnya, umat Islam perlu tahu bahwa tak ada kebebasan objektif dalam kredo kaum liberal, yang ada adalah pemaksaan pemikiran yang bersumber dari keyakinan dan pemikiran tokoh-tokoh fosil yang tak memiliki peran sejarah dalam membangkitkan peradaban manusia ke arah yang berperadaban—selain kejumudan, taklid, dan dogmatis.

Musuh Islam paling berbahaya sekarang ini adalah dogmatisme kaum liberal, sejenis keyakinan yang tertutup bahwa suatu doktrin tokoh tertentu merupakan obat mujarab atas semua masalah, dan mengabaikan bahwa kehidupan manusia terus berkembang, dan perkembangan peradaban manusia dari dulu hingga sekarang adalah hasil dari pemahaman yang benar atas Islam yang ditorehkan oleh generasi awal Islam dan ulama yang berilmu dan sholeh.

Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara “kami” dengan “mereka”, antara “kaum liberal” dan “kaum Muslimin”; adalah bukti nyata sekaligus penyakit sosial kaum liberal yang tak bisa kita ingkari. Karena nyatanya begitu. Itulah terminologi yang sering mereka ungkapkan dalam berbagai pertemuan, seminar, kajian bahkan karya-karya mereka.

Pemisah antara “kami” dan “mereka” sebagai akar pokok dogmatisme kaum liberal, mengingkari kenyataan bahwa mereka adalah bagian dari manusia yang lain, bahkan mengikari bahwa mereka adalah bagian dari umat Islam.

Saya memahami bahwa Islam adalah agama Allah yang dianugrahkan kepada manusia melalui seperangkat aturan, konsep dan nilai-nilai yang tersistematiskan dalam wahyu-Nya. Islam bukan agama seperti yang diyakini kaum liberal : “Bahwa Islam adalah sebuah “proses” yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah “lembaga agama” yang sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan.” Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 19 adalah tamparan gratis dan telak bagi kaum liberal.

Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, tidak semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Dengan demikian, tidak semua agama adalah benar. Semua agama bukan berada ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya. Islam memiliki konsepnya sendiri yang sangat berbeda dengan agama lain. Saya beragama dengan memilih Islam karena saya yakin bahwa keyakinan selainnya adalah keliru atau salah. Itu sudah jelas diungkap di dalam Al-Qur’an, baik secara tekstual maupun pesan-pesan konteks ayat-ayatnya.

Kelima, Syarat dasar memahami Islam yang tepat adalah dengan tetap mengingat, apa pun penafsiran yang kita bubuhkan atas agama itu, patokan utama yang harus menjadi batu uji adalah maslahat manusia itu sendiri.
Selama ini penjelasan atau interpertasi kaum liberal jelas-jelas justru mendatangkan mafsadat yang besar. Islam adalah anugrah buat umat manusia. Memang manusia adalah makhluk yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif, tapi tidak dengan serta merta agama juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia itu sendiri. Yang ada adalah manusia mesti menjadikan takaran-takaran agama sebagai landasan agar tidak terjerumus dalam lembah kenistaan.

Jika Islam hendak diseret kepada suatu penafsiran yang justru berlawanan dengan maslahat manusia itu sendiri sebagaimana yang sering dilontarkan oleh kaum liberal, atau malah menindas kemanusiaan itu sendiri, maka pemahaman yang semacam ini adalah keyakinan dan kepercayaan kaum fosil yang tak lagi berguna buat umat manusia.

Mari kita cari Islam yang lebih segar, lebih cerah, lebih memenuhi maslahat manusia. Mari kita tinggalkan pemahaman kaum liberal yang beku, yang menjadi sarang dogmatisme yang menindas maslahat manusia itu sendiri. Taubatlah wahai fosil-fosil liberalisme! []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: