Menulis tanpa gelar penulis

1 Des

“… aku ingin agar Anda menyempatkan diri untuk megajari aku bagaimana menulis yang baik dan benar. Sehingga penaku tak menulis sesuatu yang tidak penting untuk digoreskan,,, mari menulis, walaupun tanpa gelar sebagai penulis—apalagi penulis hebat!”

 

Beberapa waktu yang lalu aku baru saja membaca salah satu tulisan seseorang yang menurutku sudah punya nama di papan nama penulis baru Indonesia. Siapa itu? Anda pasti tahu. Namanya Mas Dwi Suyikno.  Banyak kritik yang beliau sampaikan, salah satu kritik beliau yang aku pahami dari beberapa tulisannya adalah masalah orientasi para pendatang baru dalam dunia kepenulisan. Paling tidak aku dapat menyimpulkan pernyataan beliau dalam pernyataan yang aku sederhanakan lagi: tak jarang yang menulis karena ingin disebut atau dipanggil sebagai penulis.

Membaca tulisan tersebut hatiku tersontak. Mengapa? Bukan karena selama ini aku menulis dengan orientasi untuk dikenal atau disebut sebagai penulis, sama sekali tidak. Tapi, ada semacam pecutan bagi siapapun pendatang baru bahkan yang sudah bercibaku dalam dunia kepenulisan—termasuk aku yang boleh jadi masih ingusan. Bahwa masalah orientasi adalah masalah paling mendasar dalam dunia kepenulisan. Semakin mulia orientasi seseorang, maka karya tulisannya juga akan memberi efek yang dahsyat kepada para pembacanya, bahkan untuk penulisnya sendiri. Sebaliknya, semakin ‘rendah’ orientasinya, maka karya tulisnya juga akan memberi efek sesaat saja kepada para pembacanya, bahkan tak memberi efek sedikitpun kepada penulisnya selain kelelahan fisik dan kesumpekan hati.

Menulis agar dikenal sebagai penulis. Secara sepintas orientasi seperti itu tak salah. Namun seringkali karena orientasi yang terlalu ‘pendek’, aktivitas bahkan keseriusan untuk menulis menjadi hilang beriringan dengan berjalannya waktu. Menulis kemudian dipresepsikan sebagai aktivitas mengejar target ‘gelar’ bukan mencerahkan diri dan pembaca melalui tulisan atau karya tulis. Sehingga tak heran ada yang mengejar target untuk menyelesaikan sebuah karya tulis hanya karena ingin disebut sebagai penulis. Selebihnya mengejar uang atau royalty semata. Astaghfirullah!

Ya, menulis adalah aktivitas yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Bahkan klaim sebagai penulis juga merupakan hak setiap orang. Tak ada yang berhak atau punya otoritas yang melarang setiap orang untuk mengklaim dirinya sebagai penulis, bahkan penulis hebat sekalipun. Namun ada satu hal yang mesti dipahami bahwa dunia kepenulisan bukanlah dunia sandiwara, dunia permainan. Sebab apa yang ditulis, apalagi dalam bentuk buku, akan menjadi sumber bagi pembaca. Nah dengan begitu, jika Anda menulis hanya untuk dikenal sebagai penulis, ya Anda akan terkenal. Namun apakah Anda menyadari bahwa kelak tulisan Anda berumur pendek bagi diri Anda dan pembacanya? Ini bukan soal matematis, tapi ini hitungan ‘barokah’ sebuah karya.

Anda perlu merenungi pernyataan ini: Jika penulis adalah nama untuk sebuah profesi, maka hanya berapa orang saja yang layak disebut sebagai penulis. Walaupun hingga kini standarnya juga belum ada. Dan memang tak perlu ada. Lalu, jika penulis adalah sebutan untuk siapapun yang bisa melakukan aktivitas menulis, maka hampir semua orang adalah penulis, termasuk anak TK sekalipun. Lalu, apakah anak TK berumur 2-5 tahun layak disebut sebagai penulis? Jika ya, maka mahasiswa atau siswa SMP dan SMA sekalipun lebih layak mendapatkan sebutan sebagai penulis. Ya, ini sekedar pemicu dan pemacu diskusi tentang apa yang aku inginkan sampaikan dalam tulisan ini.

Pada tulisan ini, aku tak bermaksud memperdebatkan kedua pendapat itu. Sebab sampai kapanpun keduanya sama-sama memiliki argumentasi yang sangat kuat. Misalnya, untuk yang pertama bisa dikembangkan pemahamannya dengan: tidak semua yang menulis adalah penulis kecuali yang berprofesi penulis. Lalu yang kedua, bisa dikembangkan lagi dengan pertanyaan gugatan: bagaimana dengan para ulama yang telah menulis berbagai kitab fiqih dan hadits,,,  mengapa mereka tidak disebut sebagai penulis, bahkan penulis hebat? Tapi mengapa anak TK disebut sebagai penulis?

Jadi, bagiku, siapapun Anda, janganlah kiranya mengklaim diri sebagai penulis secara berlebihan kemudian dengan karya seadanya Anda menghukum orang lain yang masih belajar menulis sebagai orang ingusan dalam dunia tulis menulis, yang layak Anda lecehkan. Anda tak punya otoritas dan takaran baku untuk itu. Silahkan Anda berkarya saja. Dan biarlah karya yang menjadi ukuran bahwa Anda adalah penulis hebat. Dan sejarahlah yang akan menyampaikan secara tulus bahwa semuanya memiliki peluang yang sama untuk dikenang sebagai pahlawan pena. Tanpa harus berpidato di mana-mana.

Selebihnya, jika pun Anda adalah penulis bahkan sudah mendapat sebutan sebagai penulis hebat, maka Anda juga tak layak berbangga diri dengan apa yang Anda peroleh. Sebab karya Anda belum punya ukuran baku untuk disebut sebagai karya luar biasa. Dan tak ada takar ukuran yang menentukan bahwa karya Anda layak dijadikan rujukan untuk berbagai persoalan seperti yang Anda bahas dalam tulisan Anda. Anda juga tak sekualitas dengan karya para ulama yang tidak pernah menyebut diri mereka sebagai penulis. Jadi, Anda perlu hati-hati! Hak Anda adalah mendapatkan penghargaan dari karya Anda apa adanya, bukan memaksa pembaca menyebut Anda sebagai penulis.

Begitu juga untuk yang baru belajar menulis. Anda tak punya klaim juga untuk mengaku sebagai penulis. Karya Anda belum diujicoba di ruang publik dalam periode tertentu. Lebih lucu lagi jika Anda baru bisa menulis dan menerbitkan beberapa buku kemudian di mana-mana Anda memamerkan dan mengenalkan diri sebagai penulis hebat. Ini bukan menghambat Anda untuk berkarya, tapi hanya mengingatkan bahwa karya tulis yang Anda tulis belum seberapa jika dibandingkan dengan karya tulis para pendahulu. Di sini Anda butuh apa yang disebut sebagai etika nurani dalam dunia kepenulisan. Jagalah etika tersebut dengan baik, itupun jika karya Anda berumur panjang melebihi usia Anda dalam pentas kehidupan dunia ini.

Wah jadi seru kan tulisanku? Padahal, ini tuh latihan menulis, tepatnya latihan menyampaikan pendapat di hadapan manusia-manusia hebat; ya penulis dan pembaca semua. Hayo, mari lanjutkan dulu, diskusinya nyusul aja deh!

Eh, tapi… maaf, ini bukan menggurui para penulis yang sudah terkenal dalam dunia kepenulisan negeri tercinta Indonesia, ini juga bukan upaya menghambat siapapun Anda yang baru muncul bahkan baru belajar menulis—dalam hal ini buku dan sejenisnya. Aku hanya belajar berpendapat secara sadar di hadapan Anda semua. Entah apakah Anda sepakat atau tidak sepakat, itu urusan Anda. Yang jelas, aku tetap berharap semoga Anda mau membaca dan menulis di atas landasan kecerdasan pikiran dan pemahaman, bukan orientasi sesaat dan picik.

Inilah yang ingin aku sampaikan: bahwa ada hal penting yang sepertinya perlu dijaga, dalam artian perlu dikembangkan dalam aktivitas dan obsesi menulis, yaitu menjaga niat. Wibawa Anda bahkan tulisan Anda tidak ditentukan oleh seberapa banyak manusia membaca karya atau buku Anda. Tidak ada standar objektif yang layak dijadikan ukuran untuk mengukur hal itu. Jika jumlah pembaca yang dijadikan standar wibawa Anda dan tulisan Anda, maka mereka, para penulis buku yang kufur kepada Allah di negeri Barat sana lebih wibawa dari Anda. Tentu saja Anda menolak pernyataan ini.

Lalu, bagaimana selanjutnya? Nah ini dia yang ditunggu. Aku ingin mengatakan satu hal kepada Anda: silahkan menulis tentang apa saja. Entah apakah disebut atau tidak disebut sebagai penulis, itu bukan tujuan. Yang penting Anda telah berkarya. Entah apakah nanti dibaca atau tidak, itu bukan urusan utama. Biarkan saja pena Anda menari di atas lapangan kosong (baca: kertas) dengan niat suci dan  kesederhanaannya. Aku, insya Allah, akan belajar banyak kepada Anda. Ya, aku siap menjadi murid Anda, asal Anda siap membagi ilmu dan pengalaman kepada aku yang masih belajar menulis ini.

Mudah-mudahan Anda mengambil manfaat dari uraian sederhana ini. Aku bukan sedang berteori apalagi menggurui Anda. Itu pekerjaan yang tak layak aku geluti. Apalagi Anda adalah pembaca sekaligus penulis hebat negeri ini. Aku malu dan semakin malu kepada Anda. Karena itu, aku ingin agar Anda menyempatkan diri untuk megajari aku bagaimana menulis yang baik dan benar. Sehingga penaku tak menulis sesuatu yang tidak penting untuk digoreskan. Akhirnya, mari menulis, walaupun tanpa gelar sebagai penulis—apalagi penulis hebat! [Syamsudin Kadir, Ayahnya Azka Syakira]

Persil-Cirebon

Kamis, 24 November 2011  Pukul 13.00-13.50 WIB

Iklan

3 Tanggapan to “Menulis tanpa gelar penulis”

  1. mubaroq 6 Desember 2011 pada 23:53 #

    keren kak…
    salam dari kader DM2 Lampung

    Suka

  2. yayukendang 8 Desember 2011 pada 21:34 #

    Aku jadi semakin tau,
    Aku akan terus belajar dan belajar
    Aku harus banyak membaca dan membaca
    dan akhinya tergores sebuah huruf huruf ,
    kata2 dan kalimat2 sebuah ceritera yang layak untuk dibaca

    Suka

  3. Hasna Munibah 30 Desember 2011 pada 11:12 #

    Wah mantap bang! Kritik sekaligus sarannya keren euihh..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: