Meladeni karena cinta

Beberapa hari kemarin, isteriku, Mba Uum Heroyati, masih saja dengan aktivitas rutinannya: membersihkan dan merapihkan beberapa buku di ruang tamu rumah. Seperti biasa, sebagai suami yang belajar setia, aku ikut membantunya. Hal ini aku lakukan sebagai wujud cintaku padanya, dan cintaku kepada buku-buku yang sudah menjadi sahabat setiaku dari dulu hingga kini. Merekalah yang memberiku banyak ilmu dan pencerahan mengenai banyak hal.

Ini bukan soal pamer cinta, sama sekali bukan. Tapi bagaimana pasangan suami-isteri menunaikan aktivitas sederhana dalam lingkup kecil kehidupan. Ini juga merupakan wujud penghormatan terhadap sumber ilmu, tepatnya dokumentasi ilmu. Adapun kesungguhan isteriku untuk membersihkan dan merapihkan buku, bagiku, hal ini tentu saja sebuah amal terbaik. Terima kasih isteri tercinta. Semoga apa yang kau lakukan menjadi amal saleh terbaik dan mampu mengispirasi anak kita kelak untuk mencintai ilmu dan buku.

Pada tulisan ini aku tidak bermaksud menceritakan apa dan bagaimana aku dan isteriku membersihkan dan merapihkan buku. Sama sekali tidak. Aku hanya ingin kembali membagi semangat kepada Anda semua. Bahwa menulis itu bukan pekerjaan yang sulit dan menyulitkan. Ia adalah pekerjaan mudah, dan tentu saja bisa ditunaikan kapan dan di manapun dengan santai. Jujur saja, aku menuntaskan tulisan ini juga di sela-sela merapihkan buku, dan beberapa aktivitas santai yang menyelingi keseharianku bersama isteriku, Mba Uum Heroyati, dan anakku, Azka Syakira. Termasuk ketika membersihkan dan merapihkan buku-buku.

Lalu, mungkin Anda bertanya, mengapa aku begitu mudah menulis tentang apapun yang aku alami, yang aku lihat, yang aku baca atau yang pernah aku sampaikan. Sebetulnya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menunaikan aktivitas yang satu ini. Apapun alasan yang Anda ungkap yang dijadikan sebagai tameng ‘kemalasan’ atau ‘keengganan’ untuk menulis, bagiku itu hanyalah alasan yang dibuat-buat. Coba Anda jawab dengan jujur dan tulus: Bukan kah Anda punya potensi untuk itu?

Sekedar berbagi pengalaman, aku suka menulis, meladeni aktivitas yang satu ini, karena aku cinta dengannya. Ya, aku meladeni ide atau apapun yang terlintas dalam pikiranku karena aku mencintainya. Begini, aku ingin menyampaikan satu hal kepada Anda: jika Anda sudah cinta, maka Andapun akan melalukan apapun untuk yang Anda cintai. Aku sedang belajar dan akan terus belajar untuk itu. Percayalah, semakin cinta Anda kepada sesuatu, maka Andapun akan semakin tulus dan sungguh untuk melakukan sesuatu sebagai wujud cinta Anda kepadanya. Bukan kah Anda mencintai potensi yang Allah berikan kepada Anda?

Sebagai penyemangat bagi diriku—semoga juga untuk Anda—aku juga terbiasa menulis karena ingin menjawab beberapa pernyataan dan pertanyaan: aku sudah diberi banyak potensi oleh Allah berupa jiwa, akal dan fisik, lalu apa yang sudah lakukan sebagai wujud syukur kepada Allah atas semua ini?; aku sudah diberi oleh Allah kemampuan membaca, menulis, berpikir dan menganalisa, lalu apa yang sudah aku lakukan sebagai wujud syukur atas semua itu?

Jadi, intinya, jika aku mau menulis bahkan sedang malas menulis, maka aku terbiasa membuat banyak pernyataan dan pertanyaan yang membuat hati dan pikiran saya tersemangati. Aku pun tergugah untuk menulis tentang apapun yang terlintas dalam pikiranku. Sehingga dengan spirit dan semangat seperti ini, kapan dan di manapun aku sudah terbiasa untuk menulis. Maaf, ini bukan untuk menyombongkan diri, tapi sebagai upaya membagi pengalaman agar aku dan siapapun yang membaca tulisan ini terinspirasi.

Hal lain yang membuat aku terus menulis adalah karena suka membaca sejarah para ulama ketika mereka hidup. Setelah membaca berbagai kisah perjalanan hidup para ilmu di masa lalu, maka aku bisa berkesimpulan: tidak ada ulama Islam yang tidak berkarya. Semuanya menulis dalam berbagai kitab atau bentuk lainnya. Mungkin kesimpulan ini terlalu sederhana dan terkesan dipaksakan, namun sejarah dan karya-karya mereka selalu jujur memberi kabar kepada siapapun bahwa mereka memang penulis hebat.

Nah, dengan membaca kembali perjalanan hidup dan karya para ulama yang telah berlalu, aku termotivasi untuk menulis. Selain sebagai wujud penghormatan terhadap tradisi mereka, juga sebagai wujud cinta dan kesungguhan untuk melanjutkan salah satu warisan peradaban Islam. Lagi-lagi, ladenilah semangat yang ada. Ladenilah ide atau yang terlintas dalam pikiran. Bisa jadi, apa yang terlintas saat ini tidak akan datang kembali pada waktu berikutnya. Gunakan kesempatan istimewa yang gratis ini.

Di atas semua latar dan alasan yang sering disebutkan, yang menjadi penyebab utama adalah karena cinta; mencintai potensi yang Allah berikan. Biasanya, ini dilakukan oleh para ulama. Dari semangat merekalah aku terinspirasi. Bahwa ini pekerjaan mulia dan istimewa. Tradisi dan warisan orang-orang saleh. Adapun kelak ada keuntungan duniawi, itu adalah ikutan dan sangat wajar. Allah memberi rezeki kepada hamba-Nya dalam berbagai jalan dan cara.

Apapun kesimpulan Anda terhadap tulisan ini, itu pilihan Anda. Aku percaya bahwa Anda memiliki potensi yang luar biasa dari Allah. Adalah alangkah eloknya jika Anda menggunakan atau memanfaatkan semua potensi tersebut pada jalan atau hal-hal yang bermanfaat. Menulis adalah pilihan tepat. Lebih dari membangun kebiasaan, menulis dapat menambah ilmu pengetahuan, melatih diri untuk mengatakan sesuatu secara sistematis, melatih struktur berpikir, melatih mengungkapkan pendapat, belajar mengatakan sesuatu secara benar. Dan berbagai hal positif yang timbul karena menulis. Hayo menulis, aku sudah dan akan terus menunaikannya. Bagaimana dengan Anda, pembaca cerdas, apakah Anda terinspirasi? [Syamsudin Kadir, Ayahnya Azka Syakira]

Ruang tamu rumahku,

Rabu, 9 Novemer 2011  Pukul 12.00-12.50 WIB

Iklan

One thought on “Meladeni karena cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s