Terus mendayung, Biar tak hanyut!

18 Okt

Nak,

Tak terasa, kini kau sudah berusia hampir tiga bulan. Usia yang sangat belia. Walau begitu, Ayah dan Bunda selalu memosisikanmu seperti anak yang sudah dewasa. Apapun aktivitas yang mesti Ayah dan Bunda lakukan, akan coba terus dibicarakan denganmu. Ya, Ayah dan Bunda selalu meminta pendapat dan memohon kebijakanmu. Walau kadang dimengerti, ini adalah upaya Ayah dan Bunda untuk membangun kapasitas kepemimpinan dalam dirimu. Harapannya, kelak kau menjadi salah satu manusia yang memiliki kapasitas kepemimpinan yang kan kau sumbangkan bagi masa depan Islam dan negeri ini.

Nak,

Kini, kau belum mengenal siapa Mohammad Natsir. Walau ketika dulu masih dalam kandungan, Ayah dan Bunda sering bercerita mengenai beliau, tetap saja kau belum begitu mengenalnya. Di atas segalanya, Ayah dan Bunda sangat k’pingin agar kelak kau bisa membaca sejarah perjalanan dakwah dan politik beliau, sekaligus membaca lebih jauh mengenai ide dan narasi beliau dalam membangun Indonesia dan Dunia Islam. Kau bisa melakukannya dengan membaca buku yang beliau tulis maupun berbagai buku yang ditulis oleh para pengamat dan cendekiawan tentang beliau, dan berbagai artikel.

Nak,

Ayah dan Bunda mengusulkan agar kelak kau membaca buku Percakapan Antar Generasi. Di situ kau akan menemukan berbagai ide besar yang beliau sampaikan kepada generasi muda beberapa tahun menjelang beliau wafat. Saksi hidup bagi ide tersebut adalah Kuntowijoyo, Amin Rais dan beberapa tokoh Muslim. Bagaimanapun caranya, upayakan kau membaca buku itu. Baca dan pahami isinya. Jangan lupa, sebarkan kepada siapapun, terutama generasi muda yang perlu penjagaan secara pemikiran, cita-cita dan orientasi perjuangan.

Nak,

Dalam buku tersebut terdapat pernyataan yang sangat istimewa, yang ketika momentum mengisi acara di berbagai tempat atau kota, Ayah sering mengutip pernyataan tersebut. Mungkin kau penasaran, bagaiman bunyi pernyataan yang Ayah maksud. Coba duduk sejenak, tenangkan pikiran dan hatimu,,, kemudian bacalah pernyataan M. Natsir berikut ini, “Jangan berhenti tangan mendayung, Nanti arus membawa hanyut!”. Silahkah dibaca dan direnugi beberapa kali hingga kau paham bahkan pernyataan tersebut mengkristal dalam pikiran dan hatimu.

Nak,

Mungkin kau bertanya, mengapa Ayah dan Bunda menyuruhmu  tuk membaca dan memahami isi buku M. Natsir tersebut. Dan mengapa pernyataan “istimewa” di atas mesti dibaca dan dipahami secara berulang-ulang. Atau berbagai bentuk pertanyaan yang terlintas dalam pikiran atau benakmu. Ah, itu tak mengapa. Itu menunjukkan bahwa kau memang memiliki daya respon yang sangat luar biasa. Semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benakmu, maka semakin matanglah kau. Dengan begitu, kau kan temukan jawaban dari setiap pertanyaanmu sendiri, tanpa Ayah dan Bunda menjawabnya secara tuntas.

Nak,

Tapi tak mengapa, Ayah dan Bunda tentu perlu juga memberikan jawaban sederhana. Begini. Pernyataan tersebut adalah salah satu pernyataan M. Natsir, sebagai salah satu pesan moral sekaligus ungkapan penutup pada masa akhir-akhir perjuangan beliau dalam mematok Islam sebagai basis nilai umat dalam mengelola Negara ini. Pernyataan inilah yang membuat beliau tak kenal lelah memberi yang terbaik bagi Indonesia dan Dunia Islam. Ini merupakan pernyataan ampuh sekaligus pesan strategis bagi generasi muda dan tua Muslim pada setiap zaman. Untuk zaman itu, dan bagi zaman kini dan ke depan. Ya, pernyataan untuk seluruh generasi pada setiap zaman.

Nak,

Bagaimanapun kondisimu dan keluarga kita kelak pada saat kau dewasa, kau mesti mematok cita-citamu setinggi mungkin. Kau mesti menjejakan diri menjadi ilmuwan, ahli atau pakar pada berbagai bidang. Upayakan untuk menguasasi ulmul syari’ah seperti tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, bahasa Arab, nahwu, shorof, siroh dan seterusnya. Begitu juga ilmu-ilmu lain sesuai basis studi yang kau geluti seperti ilmu alama, sosial, politik, budaya, pendidikan, kesehatan, sejarah dan lain-lain. Tak kalah pentingnya, kau mesti memahami dunia Islam, geografi, pemikiran Islam, keperempuanan dan seterusnya.

Nak,

Banyak cita-cita Ayah dan Bunda yang insya Allah akan terus diwujudkan, termasuk membesarkan penerbitan Mitra Pemuda. Ini adalah salah satu wujud cinta Ayah dan Bunda terhadap pembangunan sumber daya manusia Indonesia, terutama pada kompetensi literasi. Karena itu, Ayah dan Bunda berharap agar kau bisa menjadikan penerbitan ini sebagai sarana untuk cita-cita besar itu. Harapannya, kontribusi penerbitan ini kelak mampu membuat anak bangsa dan negeri ini semakin maju dan segera menjadi bangsa terbesar di dunia sekaligus menjadi negeri Muslim terbesar yang bermanfaat bagi kebangkitan Islam dan tatanan baru dunia. Untuk itu jugalah, Ayah dan Bunda mengharapkan agar kau menjadi penulis. Belajar dari kecil hingga kelak kau bisa berkarya banyak. Pada masa kau masih dalam kandungan, Ayah dan Bunda sering mengajakmu tuk menulis. Bahkan sangat sering memeinta pendapatmu mengenai bagaimana seharusnya menulis dan apa yang mesti Ayah dan Bunda tulis. Walau tak kau jawab, Ayah dan Bunda percaya kau mendegar apa yang Ayah dan Bunda pinta atau bicarakan.

Nak,

Hal lain yang mesti menjadi pikiranmu juga adalah kau mesti menjadi lokomotif Pusat Studi Islam Al-Afkar. Ini adalah lembaga yang mengkaji berbagai tema dalam Islam, termasuk masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan Islam atau yang beririsan dengan agenda kebangkitan Islam di Indonesia dan Dunia Islam. Karena itu, kau mesti membangun kapasitas mengenai tema-tema yang dimaksud. Jangan menunggu waktu kuliah atau sudah dewasa. Sejak SMP atau SMA juga, itu lebih baik bagimu. Ayah dan Bunda sangat bangga jika kau sudah aktif dalam dunia pergerakan dan dakwah atau dunia sosial apapun sejak kau masih muda. Sehingga kelak, jika kau sudah memasuki dunia kampus dan masyarakat yang lebih luas, kau telah siap. Banyak hal yang mesti kau persiapkan, terutama basis ilmu pengetahuan dan pengalaman keorganisasian. Perbanyak jaringan, matangkan kemampuan diplomasi, dan perkuat basis ekonomi dan bisnis.

Nak,

Secara khusus, Ayah dan Bunda mengusulkan agar kau fokus juga dalam dunia pemikiran. Ini salah satu dunia yang snagat seksi sekaligus sangat bersentuhan langsung dengan dunia keilmuan. Problematika yang menimpa Indonesia, kampus dan Dunia Islam dari waktu ke waktu adalah problem pemikiran yang berawal dari konstruk kelimuan yang keliru. Karenanya, kau mesti perdalam tema-tema mengenai pemikiran, bahkan beli buku-buku para pakar, diskusi dengan mereka, bahkan kau mesti datang ke rumah mereka. Bicaralah secara langsung dengan para pakar yang lebih tahu dan paham tema-tema yang dimaksud.

Nak,

Dunia ini ke depan akan terus dihadapkan dengan berbagai tantangan. Fitnah dan perselisihan pasti akan terus terjadi. Di sini semuanya tergilas bahkan akan menjadi manusia yang lebih suka kepada jalan yang meneysatkan dari pada jalan petunjuk. Karena itu, Ayah dan Bunda mengingatkan agar kau komitmen, kau mesti berpegang teguh pada jalan petunjuk, Al-Islam. Berpijaklah pada kedua sumber agama Allah berupa Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kau tak kan sesat selamanya selama kau berpijak pada kedua hal tersebut. Kau jangan terkecoh, walaupun sendirian atau bahkan nyawamu dikorbankan, kau mesti berpijak di atas keduanya; ya hingga kapanpun.

Nak,

M. Natsir telah memberimu contoh bagaimana seharusnya berjuang, baik dalam menegakkan Islam maupun dalam berdinamika dalam membangun Negara ini. Beliau telah mengisyaratkan kepada sejarah bangsa ini bahwa tak ada cara lain untuk membangun bangsa ini selain pengorbanan dan perjuangan yang tak kenal lelah. Dunia ini kecil, karena ini bercita-citalah dan berjuanglan dengan cita-citamu itu, agar dunia tidak lebih kecil dari fisikmu. Sebagai penutup, Ayah dan Bunda ingin mengatakan sesuatu yang khusus untukmu: Terus mendayung, biar tak hanyut! []

Tuk anakku, Azka Syakira (Baru 3 bulan)

Parsil, Senin 10 Oktober 2011

Pukul 14.20-15.15 WIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: