Sayang, Terimalah Kado Cinta Ini!

30 Sep

Sayang,

“Dear Mentari… aku tahu tiap hariku tak kan lewat tanpa sinarmu. Pun kini rasanya namamu telah mengisi ruang-ruang hati. Ada sepucuk harapan yang kadang timbul lalu pergi, bahwa diri ini selalu mencari kapan waktunya tiba untuk menjemputmu turun, ke sini”. Pernahkah kau membaca tulisan ini? Apa pendapatmu dan bagaimana perasaanmu?

Sayang,

Kalimat di atas telah terukir dalam dadaku semenjak dulu. Itu bukan untuk siapapun yang aku kenal, tapi untuk siapa saja yang kelak Allah Swt. takdirkan untuk menjadi isteriku. Dan kini ungkapan tersebut menjadi nyata. Kalimat tersebut menjadi nyata di awal-awal kau menjadi isteriku. Walau sederhana, namun ia mewakili hasrat hatiku untuk mendapatkan seorang mentari, seperti dirimu. Tak terhitung ucap syukurku saat Allah Swt. membawamu ke hadapanku, saat itu. Saat kau berkenan untuk membagi hidupmu denganku, saat kau menyambut tawaranku untuk meminangmu, saat ikrar itu kulantunkan dan mulai detik itu kau kan menghabiskan hari dan waktumu denganku. Mulai saat itu, rasanya tak terhitung keindahan yang telah kau suguhkan padaku. Melalui senyum yang kulihat setiap memulai hari, melalui tutur katamu, melalui belai lembutmu yang menghapus penatku, melalui tawamu yang menyegarkan hatiku. Semua itu adalah keindahan tak berbilang yang tak sanggup kuuraikan. Apalagi hanya dalam serpihan sederhana seperti tulisan ini.

Sayang,

Mulai saat itu, aku semakin cinta. Mencintaimu adalah memiliki seluruh detik yang telah kita lewati bersama. Membangun kebahagiaan bersama dengan segala keterbatasan dan kelemahan kita masing-masing. Dan dengannya kupersembahkan cinta ini. Cinta suci dan di atas jalan suci, insya Allah. Walau tak terucapkan, walau mungkin tak kau rasakan, tapi percayalah, diriku mencintaimu seutuhnya dan selamanya… Niat dan tekad ini memang hanya tersirat dalam hati, namun kelak sikap dan perilakuku akan menjadi saksi terbaik bagi semuanya. Bahkan kau sendiri yang menyaksikan semuanya dalam perjalanan dan kehidupan rumah tangga kita.

Sayang,

Beberapa bulan sudah aku mengenalmu, selama itu juga dirimu mengenalku. Jelas tak bisa masing-masing dari kita berucap: “Aku mengenal kekasihku 100%!”  Itu tak mungkin. Ya, karena hidup penuh dengan segala misterinya. Jika tak ada lagi misteri maka itu bukan kehidupan. Bahkan apa yang ada di belakang kepala kita, yang tak tersentuh kedua panca indera kita juga akan tetap menjadi misteri. Bahkan apa yang kadang ada di depan mata saja kita tak tahu itu apa. Begitulah kehidupan kita sebagai manusia dengan segala kesempurnaan dan keterbatasannya.

Sayang,

Ketika kau tanya dulu ke mana akan kubawa hubungan asmara rumah tangga kita, jujur aku tak tahu. Ya, kita memang tak pernah bisa tahu. Itu misterinya. Saat kau tanya apakah ada tempat buatmu di masa depanku, kujawab aku juga tak tahu itu. Seperti kau tahu, aku memang bukan lelaki yang paling rendah hati tapi tak juga dibilang punya pe-de segede gajah. Suatu kesempatan sempat terlintas jika aku ingin membawamu hingga ke surga-Nya. Ya, ke pangkuan keabadian yang niscaya. Sebuah tempat ideal yang dinantikan semua manusia. Ah, itu adalah takdir Allah Swt.

Sayang,

Aku bukan Khalil Jibran yang melihat wanita yang ia cintai dengan tatapan menembus tulang, melihat bayangan anak-anaknya yang belum lahir di mata wanita itu. Bukan. Aku melihatmu, ya dirimu, apa adanya. Kau ya kau. Saat itu aku bukan melihat dirimu sebagai ibu anak-anakku yang belum lahir. Bukan pula sebagai perempuan perkasa yang merawatku saat renta. Atau sebagai ibu rumah tangga super duper cekatan dalam mengurus rumah. Aku berani bilang, kita hidup untuk di zaman ini. Kita hidup dalam kekinian. Jika kita terlalu melihat masa lalu niscaya yang ada hanyalah tangis penyesalan lalu kita hanya akan menjadi seonggok daging yang tak melakukan apa-apa untuk hari ini. Jangankan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu, mengisi hari dengan kebaikan saja tak akan bisa.

Sayang,

Saat pertama melihatmu, “bukan…. itu bukan melati yang kucari”, mungkin itu kalimat pertama yang terbayang dalam benakku. Maka lebih baik kubatalkan saja khitbah ini. Entah mengapa, ini mungkin ujian bagi siapapun yang memiliki niat suci. Namun, di atas segala ujian tersebut aku terlalu kuat untuk melanjutkan niat suci ini. Keinginanku untuk menggenapkan setengah dien sudah bulat. Itulah yang terlintas dalam hati dan pikiranku ketika itu. Maka kuberanikan hati ini tuk mengucapkan kalimat itu, dan diammu adalah persetujuanmu. Singkat cerita, tiba-tiba malam itu kau mengucapkan kalimat pertamamu, “Eh… kita udah jadian loh…” Kalimat itu terputus di tenggorokan, entah apa yang membuat kalimat itu serasa kurang lengkap dari seharusnya, kita saling terdiam, mungkin panggilan yang belum kita sepakati untuk malam itu.

Sayang,

Tak terlalu muluk, kita hanya ingin kesucian diri dan agama kita terjaga dengan sempurna. Itulah kesederhanaan niat yang kita ikrarkan saat ijab-kabul pernikahan ini kita tunaikan. Karena yang sederhana memang lebih bertenaga. Tetapi kesederhanaan kita bukan kesederhanaan yang biasa-biasa saja, kita ingin kesederhanaan yang istimewa dan mempesona seperti sya’ir yang dikutip Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam buku beliau, 40 Nasehat Rumah Tangga.

Sepotong roti yang engkau makan di suatu sudut

Segelas air putih dingin yang engkau minum dari mata air

Kamar bersih tempat engkau menenangkan dirimu

Isteri patuh yang membuat engkau puas dengan melihatnya

Anak perempuan kecil yang dikaruniakan dengan kesehatan

Rezeki yang tidak engkau sangka-sangka sumbernya

Allah menetapkanmu menjadi seorang da’i

Di suatu Masjid terpencil untuk menghilangkan kerusakan

Adalah lebih baik daripada waktu yang engkau habiskan di istana-istana megah

 

(Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid)

Sayang,

Inilah kesederhanaan. Tetapi selalu harus ada nilai-nilai agung dalam kesederhanaan. Seperti halnya kalimat pertama yang terucap saat khitbah-ku dulu, ”bukan….itu bukan melati yang kucari.” Kau adalah pioni yang tegar, saat melati terpatahkan oleh badai, tergugurkan oleh angin, pioni itu mampu meliuk sedatar tanah tuk menaklukkan angin dan badai. Seperti halnya hadits Ummu Salamah tentang kelebihan wanita dunia ketimbang bidadari surga, maka aku pasti akan memilih wanita dunia. Karena kelebihan wanita dunia dibanding bidadari sebagaimana kelebihan apa yang tampak dari apa yang tak terlihat… Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?” Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.” Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?” Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, shoum mereka dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas…. Mereka berkata, ”Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Kami ridho dan tak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”(HR. Ath Thabrani)

Sayang,

Mungkin kau tahu kisah ini. Dikisahkan, datanglah seorang laki-laki ke rumah khalifah Umar ibn Al-Khaththab untuk mengadukan kelakuan isterinya. Beberapa saat lamanya ia menunggu di depan pintu rumah, kemudian ia mendengar suara isteri Amirul Mu`minin sedang menghamburkan kata-kata kasar kepada suaminya. Tetapi Umar diam dan tidak menyahut. Lelaki itupun berundur, melihat kepada dirinya dan berkata, “Keadaanku… (maksudnya kalau Khalifah saja diperlakukan begitu, apalagi aku…)”. Tak lama kemudian, Umar keluar. Laki-laki itu dipanggil dan ditanya. “Apakah tujuan kedatanganmu?” “Ya Amirul Mu`minin… ”, ucapnya sendu. ”Aku datang untuk memberitahukan perihal isteriku. Ia sangat cerewet dan suka mengucapkan perkataan kasar kepadaku. Akan tetapi, aku telah mendengar sendiri, bahwa isteri Anda sama dengan isteriku. Lalu akupun berpikir, kalau isteri Amirul Mu`minin begitu, apalah lagi isteriku…” “Adapun aku…”, kata Umar, “Aku tabah dan sabar menghadapi kenyataan itu karena ia menunaikan kewajiban-kewajiban dengan baik. Dialah yang memasak makananku, dia yang membuatkan roti untukku, dia yang mencuci pakaianku, dia yang menyusui anak-anakku…, padahal itu bukan kewajibannya sepenuhnya.” “Dan dia juga yang menenteramkan hatiku sehingga aku dapat menjauhkan diri dari pebuatan haram. Karena itulah aku tabah dan sabar mendengarkan apa saja yang dikatakannya mengenaiku…”. “Saudara…, bersabarlah menghadapi isterimu, kejadian itu hanya sebentar…!”

Sayang,

Ingatlah akan satu hal, kau sangat beruntung jika melihat kenyataan bahwa aku sangatlah tampan! he he he. Malam itu lampu tak kumatikan. Waktu itu kau izinkan aku tak tidur malam karena aku ingin berada di sampingmu bertopang dagu, memandangmu tertidur malam itu. Kemudian bertanya-tanya, mimpi apakah kau malam ini? Akan kah kau memimpikan aku yang kini sudah menjadi suami atau pendamping hidupmu? Atau apa gerangan yang ada dalam pikiran, hati dam mimpimu, kini?

Sayang,

Maaf jika lampu tak kumatikan. Memandangmu lebih baik daripada mimpi sendirian. Aku hanya ingin tahu apa mimpimu. Karena mimpimu mungkin mimpiku juga. Bertanya-tanya, bisakah kulawan rasa kantuk mendengar nafasmu? Maaf jika aku terlalu dekat. Hingga kudengar detak jantung detak yang juga telah menjadi detakku. Berharap saja tangan ini tak lelah. Jika bisa kulawan segala mati rasa beribu-ribu semut menyerang otot lenganku. Namun kucoba tak kurubah posisi tubuhku. Tak ingin ku bergerak. Tidak! Tidur saja…

Sayang,

Aku ingin menjagamu. Karena esok dan lusa kau disibukkan dengan acara keluarga, mengajar dan berbagai macam kewajibanmu yang lain. Aku menghangatimu dari sini saja, lewat kertas putih yang tak lelah menemaniku hingga kini. Dinginnya pagi tentu saja terus menyelimutiku. Kuharap kau tak merasakan kedinginan selain kehangatan. Bukan saja karena aku tapi juga karena ketulusanmu untuk selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupku kelak.

Sayang,

Ah sederhana, itu kata yang mungkin terlalu naïf jika diungkap sesering mungkin. Namun itulah salah satu kata terindah yang mengandung berbagai macam makna. Apapun yang kau pahami dari awalan ini, yang jelas, kini aku sudah menjadi suamimu, dan kaupun sudah menjadi isteriku. Artinya, kita sudah menjadi pasangan dalam hidup. akhirnya, terimalah kado cinta ini! []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: