Melawan (Liberalisasi) dengan Ilmu

ANDA tentu tahu jika dari dulu hingga kini umat Islam masih dilanda berbagai masalah. Kita diserang dari segala sisi atau aspek kehidupan dengan berbagai cara. Bukan saja di saat kita terbangun dari tidur, bahkan di saat kita tidur sekalipun kita masih dalam kondisi diperangi. Mungkin tidak semua umat Islam merasakan hal ini, tapi inilah faktanya. Dari cara kita beragama, cara kita berpikir hingga cara kita melakoni kehidupan semuanya beraroma ‘perang’. Spilis yang dimaksudkan pada karya ini adalah berbagai paham atau “isme-isme” yang sangat berbahaya, berupa Sekularisme, Pluralisme Agama, Liberalisme Agama, Hermeneutika, Feminisme, Positivisme, Sinkretisme dan lain-lain. Secara sepintas, “isme-isme” tersebut berwajah ilmiyah, padahal jika ditelusuri lebih jauh, maka kita temukan betapa jauhnya dari nalar dan argumentasi ilmiyah. Walau begitu, tak sedikit kalangan kampus, OKP, Ormas dan lain sebagainya yang menjadi korban, bahkan menjadi penyokong yang tak lelah mengkampanyekan “isme-isme” tersebut. Sebuah kondisi yang memerlukan keterlibatan dan kerja keras semua pihak.  Itulah yang dikenal dengan sebutan perang pemikiran (ghozwul fikr).

Berbeda dengan perak fisik, perang pemikiran—menurut Akmal Sjafril—menggunakan data-data dan hasil pemikiran sebagai senjata. Peluru berganti dengan argumen, sedangkan kemenangan tidak ditentukan oleh banyaknya korban jiwa—walaupun itu juga menjadi salah satu ukuran—melainkan banyaknya pendukung.[1]

Yang perlu digarisbawahi, dalam konteks Indonesia, pertarungan pemikiran ini mencapai titik puncaknya pasca-kemerdekaan. Gagasan sekularisasi dan liberalisasi yang muncul pada tahun 1970-an hingga kini adalah sebuah kenyataan dari keberlanjutan perang tersebut. Fenomena ini merupakan realita paling kental yang menandai kehidupan sosial-politik masyarakat Dunia Ketiga pasca-kemerdekaan. Itulah pertarungan ideologi anak negeri dan kemanusiaan.

Sebagai fenomena sosial, kata Anis Matta[2], pertarungan ini dilatarbelakangi oleh kekosongan ideologi yang dialami Dunia Ketiga setelah hengkangnya imprealisme dari negeri mereka. Dalam kaitan inilah, lanjut Anis, pertarungan ideologi dapat ditafsirkan sebagai pertarungan dalam mengukuhkan jari diri ideologi. Ini bukan pertarungan antara pembaharuan dan konservatisme. Tapi secara sosiologis, polemik ini merefleksikan pertarungan internal antara orsinalitas dan imitasi.[3] Antara kebenaran dan kebatilan, antara yang jelas dan yang abu-abu. Antara yang jujur dan plin-plan.

Analisa sosiologis ini, diakui atau tidak, mendapatkan pembenaran kuat dari substansi pemikiran yang ditawarkan oleh mereka yang secara sepihak, menyebut dirinya pembaharu, toleran, cinta perdamaian dan lain-lain. Ide-ide pembaharuan itu jika dikaitkan dengan ide pembaharuan yang pernah muncul dalam belahan dunia Islam lainnya, mirip dengan apa yang disebut oleh Anis Matta sebagai “onde-onde” yang ditawarkan secara bergilir kepada setiap Negara Islam. Pemikiran mereka sangat jauh dari gagasan tajdid (pembaharuan) dan ijtihad para ulama yang sesungguhnya. Bahkan nyaris tak ada korelasinya sama sekali. Alih-alih bahkan justru menabrak metodologi dan kesimpulan hukum yang pernah dihadirkan oleh para ulama. Bagaimana tidak, di antara mereka tak malu menuduh Imam Syafi’i sebagai penghambat pintu ijtihad. Bahkan mereka menuduh Imam mazhab tersebut sebagai biang kemunduran ilmu pengetahuan umat Islam. Sebuah tuduhan yang tentu saja sangat ceroboh dan memalukan.

Secara pribadi saya menduga dengan kuat bahwa ide-ide pembaharuan atau “isme-isme” yang ditawarkan tersebut, tidak lahir dari rahim perenungan yang mendalam terhadap prolematika umat dan sumber ajaran Islam yang sesungguhnya. Juga bukan dari kegelisahan intelektual atau pencarian kebenaran. Ini adalah “kegenitan” dan “kegatalan” yang sudah akut. Dari nafas ide-ide itu, yang sering tercium justru aroma kekalahan jiwa dan kekosongan pikiran sehat. Konklusinya sering dibangun dari premis yang tidak berbalur secara logis, sebuah latar yang sering mereka gaungkan. Bahkan saya menyaksikan jika jiwa dan nalar sehat mereka teracuni dan terputus secara tiba-tiba oleh virus inferiority complex. Ini fakta. Saya cukup sering mengikuti seminar yang membahas tema-tema seputar berbagai “isme” dengan pemateri langsung dari kalangan yang doyan plin-plan alias aktivis liberal atau dari kalangan yang berupaya menghadapi berbagai “isme” tersebut secara intelektual.

Dari pengalaman tersebut, saya berkesimpulan bahwa sangat mungkin terjadi, bahwa fenomena munculnya berbagai pemikiran dengan latar “isme” yang beragam di negeri kita ini khususnya, atau di dunia Islam umumnya, merupakan sebentuk pembenaran atas teori Ibnu Khaldun yang dikatakannya sekitar lima abad yang lalu. Beliau mengatakan, “Umat yang kalah itu, cenderung mengikuti umat yang mengalahkannya. Sesuatu yang dilakukannya untuk menghapus trauma kekalahannya.” Ya, mereka yang tidak memiliki pijakan dan metodologi yang orsinal dan kuat pasti mengikuti alias mengekor ke pijakan dan metodologi orang lain tanpa nalar yang jelas dan tanpa argumentasi yang kuat. Orsinalitas dan validitas menurut mereka adalah mengikuti pemahaman atau pendapat tanpa seleksi. Artinya, mereka pada kenyataannya sangat anti rasionalitas, bahkan lebih doyan taklid alias ngikut tanpa pijakan dan argumentasi yang akurat. Lalu, siapa yang anti akal atau yang tak menggunakan akal sehat dalam berpikir? Apakah para ulama dengan berbagai basis ilmu atau kaum liberal dengan segala kedangkalan metodologi dan pemahamannya? Anda lebih tahu dan paham jawabannya. Itu juga jika Anda masih waras dan sadar diri.

Segalanya bermula dari kata, tulis seorang penya’ir. “Kita percaya pada Tuhan pun karena kata-kata,” lanjutnya. Mengutip kata Anis Matta, “Memang barangkali ada benarnya, jika dikatakan bahwa “kata” merupakan awal dari setiap gerak manusia. Orang sering menyebut,  “kata” sebagai abstraksi kenyataan gerak yang diragakan oleh makhluk manusia.[4] “Orang berkata-kata, orang menyampaikan gagasan. Kata, alhasil, adalah dutanya pemikiran, wujud konkrit dari gugusan ide-ide di kepala … semuanya menjadi mungkin karena “kata”…”, lanjut Anis.[5]

“Tapi tunggu dulu”, lanjut Anis. “Apa cuma berhenti sampai di situ saja keberadaan kata? Bukankah kepentingan orang bisa beragam, bahkan suatu saat dalam kenyataannya tabrakan interest itu selalu ada? Nah, padahal kata-kata selalu tunduk kepada lidah dan pikiran pengucapnya. Tak ayal lagi, kata-kata yang beredar di belantara perbahasaan manusia terlihat begitu nisbi. Idiom-idiomnya selalu berubah, konotasi yang ditunjukkan sebuah vocabullary gampang terbalik.”[6]

Ah tak perlu terbelit-belit! Toh pada akhirnya orang kebanyakan, man in the street, tak bisa secara pas memaknai kata fundamental. Sehingga kata ini begitu saja dilekatkan kepada sebagian saudara kita di Palestina yang membela diri dengan nada negatif. Bahkan mereka yang doyan dengan “isme-isme” tersebut tak segan-segan menamai para cendekiawan muslim dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menentang dan yang mengharamkan “isme-isme” tersebut sebagai aktivis atau ulama fundamentalis.

Kenyataan lain, ada segelintir umat Islam yang menjadi pendengar setia Reuters, AFP, AP, UPI akhirnya tak bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa di Bosnia, Afganistan, Palestina dan berbagai Negara muslim lainnya sedang terjadi Islamic Cleansing dan bukan Etnich Cleansing seperti yang diberitakan oleh corong-corong Barat. Bakan dengan angkuh mereka katakan bahwa apa yang dilakukan oleh Hamas di Palestina merupakan kegiatan terorisme. Lalu, apakah mereka tidak baca sejarah dan pergulatan Palestina dan Zionisme-Israel yang sesungguhnya? Apakah iman dan nurani mereka tak tersentuh ketika pasukan Zionis-Israel tak henti-hentinya melakukan tindakan biadab dan pengusiran terhadap pemilik sah Palestina?

Anda tentu kenal Dr. Adian Husaini. Ya, bagi saya beliau memiliki banyak beban dan tanggung jawab untuk masalah yang satu ini. Beliau adalah salah satu pengajar—lebih tepatnya sebagai Ketua Program Studi Konsentrasi Pendidikan dan Pemikiran Islam—di pasca sarjana Ibnu Khaldun Bogor, Jawa Barat. Pada tahun 2009 yang lalu beliau sudah menyelesaikan gelar doktoralnya pada bidang Pemikiran dan Peradaban Islam. Kita berterima kasih kepada beliau karena tetap setia dalam dunia ilmu dan pendidikan. Di samping semangat beliau dalam memerangi berbagai penyakit pemikiran yang menjamur di berbagai perguruan tinggi. Kita tentu perlu mengambil peran dalam kerja mulia ini. Setapak demi setapak.

Pada tahun 2005, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kali Jaga Yogjakarta dan KAMMI Daerah Istimewa Yogjakarta bekerjasama dengan Institu te for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Indonesian Student Community for Development of Islamic Civilization (ISDIC) dan berbagai kampus Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) Se-Indonesia mengadakan Workshop Pemikiran Islam di Yogjakarta. Ketika itu saya menjadi delegasi dari KAMMI UIN Sunan Gunung Djati Bandung—yang waktu itu masih Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Jujur saja, waktu itu saya merasakan suasana yang agak berbeda. Serius memang, namun mengasyikan. Bagaimana tidak, saya dan para peserta yang hadir diajak untuk memasuki dunia pemikiran dengan berbagai sudut pandang dan dinamikanya. Sebuah kondisi yang belum saya alami sebelum-sebelumnya. Sungguh sebuah pengalaman luar biasa yang sulit saya lupakan hingga kini. Pikiran saya menjadi terbuka dan termotivasi untuk berpikir sistematis. Walau begitu, saya tetap berusaha agar tetap dalam bingkai pemikiran islami atau apa yang disebut oleh  Dr. Hamid Fahmy sebagai Islamic Worldview. Sekali lagi, ini adalah pengalaman yang sulit saya lupakan hingga kini. Untuk itu, saya mesti mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada Prof. Mohd Wan Daud, Prof. Yuniar Ilyas, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi M.A.Ed, M.Phill, Dr. Adian Husaini, MA., Dr. Anis Malik Toha, Dr. Syamsudin Arif, Dr. Sugiharto, Dr. Nirwan Syafrin dan yang tak cukup saya sebutkan nama-namanya di sini, yang secara tulus dan lugas menjadi pemateri sekaligus instruktur pada acara tersebut.

Sebagai upaya mendalami berbagai pemikiran, dari tahun 2005 hingga kini saya berusaha untuk selalu melakukan komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan beberapa cendekiawan di atas, terutama dengan Dr. Adian Husaini. Banyak manfaat yang saya peroleh dari silaturahim dan diskusi-diskusi dengan beliau. Baik ketika di Yogjakarta, Jakarta, Bandung, Cirebon maupun di kota-kota yang lain. Mudah-mudahan ilmu dan pengalaman yang sering beliau sampaikan menempati posisi yang mulia di sisi Allah sebagai bagian dari upaya pewarisan dan menjadi bagian dari amal soleh terbaik.

Menurut Dr. Adian Husaini—sebagaimana sebagian isi nasehat beliau ketika saya silaturahim ke rumah beliau di Depok—di antara masalah yang paling besar yang sedang dialami umat Islam sekarang ini adalah masalah pemikiran. Ia berawal dari problem ilmu. Saya masih ingat kata-kata beliau ketika itu, “Sekarang ini adalah saat terbaik untuk melakukan jihad intelektual. Sebab semua problem yang muncul terjadi karena salah dalam memahami ilmu dan sumber ilmu. Jika itu yang terjadi, maka semuanya menjadi keliru. Dan berikutnya, hancurlah umat ini.”

Hampir sama dengan Dr. Adian Husaini, Dr. Hamid Fahmy juga memberi porsi yang tak sedikit pada masalah pemikiran Islam ini. Mengingat kembali pernyataan beliau, “Masalah besar umat Islam sekarang ini adalah masalah ilmu yang berawal dari kelemahan umat Islam dalam memahami Islamic worldview.” Ya, kedua cendekiawan tersebut sering mengingatkan kita sebagai umat Islam maupun sebagai warga Negara, bahwa gagasan sekularisasi dan liberalisasi merupakan problem yang sangat fundamental dalam kancah pemikiran umat Islam. Jika kita lalai dan membiarkan proses penyesatan aqidah dan pendangkalan intelektual seperti ini terus berlanjut tanpa interupsi dan “perlawanan”, maka apa yang disebut sebagai kebangkitan umat hanya akan menjadi mimpi berkepanjangan.

Sebuah kondisi yang mengkhawatirkan ini tentu saja membuat banyak orang menjadi galau. Kalau saya dan Anda semua hanya diam dan santai ria atas berbagai kondisi dan ujian umat seperti ini, bisa jadi kita akan terus menjadi korban, dan berikutnya akan muncul korban-korban baru. Nah, karena itu menurut saya, sangat layak bagi kita untuk mendalami berbagai ilmu, terutama Islamic Worldview seperti yang diingatkan oleh Dr. Adian Husaini dan Dr. Hamid Fahmy di atas tadi. Selain sebagai kewajiban, hal ini merupakan salah satu di antara cara terbaik kita dalam menghadapi berbagai ujian dan fitnah tersebut. Hanya dengan ilmu-lah semuanya terselesaikan atau tersolusikan. Anda tentu masih ingat salah satu hadits Nabi Saw. yang menjelaskan bahwa yang menginginkan dunia mesti dengan ilmu, yang menginginkan akhirat mesti dengan ilmu dan yang menginginkan keduanya juga dengan ilmu. Artinya, hanya dengan berilmu-lah semuanya menjadi tercerahkan.

Berbagai “isme” yang muncul akhir-akhir ini merupakan istilah yang berbunga-bunga dan penuh dengan janji. Janji tentang kehidupan damai dan rukun antar masyarakat yang berbeda-beda latar sosial, budaya, ras, etnik, dan agama. Tentu saja, bagi masyarakat majemuk seperti Indonesia, “isme-isme” tersebut memberi berbagai janji yang seakan-akan mendatangkan kemaslahatan. Padahal, itu hanya bohongan belaka, hanya untuk ngakalin kita, bahkan hanya nyesatin umat Islam yang berjumlah ratusan juta ini. Benar-benar berbahaya dan perlu diantisipasi.

Saya hanyalah salah satu di antara manusia sekaligus rakyat biasa yang menonton bahkan kadang tercemari angin beliung “isme-isme” tersebut. Bahkan saya menyaksikan betapa tak sedikit kaum intelektual di dunia kampus dan tokoh-tokoh organisasi berlabel agama (Islam) yang serta merta mendalami, meyakini hingga meng-‘khotbahkan’ berbagai “isme” tersebut dengan nalar-nalar picik dan dangkal. Ya, mereka sangat picik dangkal dangkal. Ini bukan fitnah, tapi nyata. Lebih jelasnya, silahkan baca dan kaji tulisan pada halaman-halaman berikutnya.

Saya hanyalah satu kerikil kecil yang bercampur baur dalam ratusan juta umat manusia. Dengan segala keterbatasan dan kelemahan saya merasa perlu untuk berbicara: menyampaikan apa yang mesti saya sampaikan. Hal ini saya lakukan bukan untuk menyombongkan diri, apalagi untuk mempertontonkan keangkuhan. Sama sekali tidak. Saya hanya ingin mengejahwantahkan keyakinan dan ketaatan kepada ajaran agama yang saya cintai yaitu Islam. Saya sangat rindu bertemu dengan Allah kelak dalam kondisi ceria bukan dalam kondisi masam dan seram karena saya membiarkan kemungkaran intelektual semakin merajalela.

Jadi, izinkan saya berbicara—yang saya awali dengan pernyataan berikut:

 “Hey, lu yang muslim tapi sok ngelindur ke mana-mana. Ilmu tafsir, ilmu hadits and ilmu-ilmu yang lainnya dalam khazanah Islam aja belom lu baca and pahami… Tapi kok injil and buku-buku yang lain lu baca? Ga salah sih, tapi kacian aja ama diri lu. Ilmu dasar yang menentukan dunia-khiratmu lu jauhin. Yang paling aneh lagi nih, lu pernah bilang kalau lu itu gaul, toleran, pro sekularisme, pluralisme, liberalisme, feminisme and isme-isme yang lainnya (termasuk salome kali yah he he he). Tapi kok ga nerimo kritik, terus lu suka ‘monyong’ pada yang berbeda paham? Terus lu juga pernah bilang ahlusunnah wal jama’ah, tapi kok doyan ama bid’ah and ga ngikut pemahaman para ulama yang sesuai sunnah? Lu sendiri yang bilang poligami itu anti HAM, tapi  kok masih rajin nikah-cerai and selingkuh? Bahkan konon ga sedikit yang sepaham dengan lu yang hamil di luar nikah. Terus ada yang keluarganya, terutama istri and anak-anaknya yang frustasi dan stress. Ga cukup di situ. Lu sering kampanyekan Islam rahmatan lil’aalamiin, tapi lu sendiri yang ga siap menerima orang yang berbeda dengan lu. Buktinya, kalau lu ngadain seminar atau kajian githu, lu ga segan-segan mencaci maki and menjelek-jelekin orang, organisasi and ormas yang lain selain milik lu. Ah lu, kalau ga punya duit ga perlu ngamen ke lembaga donor atau asing dengan menjual keyakinan (Islam) lu. Kacian ama hati nurani and keluarga lu sendiri. Apalagi kalau lu punya pengikut atau massa yang banyak, kan repot kalau lu membawa mereka ke jalan yang sesat. Hayo tobat aja deh!

Ya, kini kata-kata makin kabur maknanya, tak jelas gelap terangnya. Seluruh rumusan ideologi menjadi begitu nisbi, yang sewaktu-waktu bisa diputarbalikkan sesuai dengan hasrat tirani dan hedonis yang disetir oleh yang duduk di singgasana. Kebenaran (al-Haq) dan kebatilan (al-Bathil) dicampuraduk dengan rekayasa sistematik oleh manusia yang “beriman” kepada pragmatisme dan permisifisme.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat SMS undangan dari panitia sebuah seminar pendidikan di salah satu kampus di Cirebon, Jawa Barat. Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, pada seminar ini pemateri yang diundang menyuguhkan gagasan “isme-isme” secara gratis dan terbuka. Pada awalnya saya malu bertanya dan tak berani memberi intrupsi. Namun, karena kesabaran saya sudah mencapai derajat klimaks, sayapun berbicara juga. Pada sesi tanya-jawab saya langsung melakukan klarifikasi dan intrupsi terhadap pemateri. Yang membuat saya tersinggung adalah gagasan pluralisme agama yang disampaikan oleh pemateri. Dengan tanpa malu-malu pemateri langsung mengatakan bahwa pluralisme agama adalah inti ajaran Islam dan paham yang sangat relevan; untuk itu menentang pluralisme agama sama dengan menentang Islam. Bahkan secara sepintas pemateri mengatakan bahwa semua agama itu sama, dan sama-sama benar. Karena itu, tak perlu meyakini ada agama yang benar. Hati saya bergumam, kira-kira orang seperti ini rajin cuci muka atau tidak? Kok, bodoh amat! Atau apakah orang seperti ini mau menikahkan anak-anaknya dengan anak-anak umat agama lain selain Islam? Apakah dia pernah membaca buku Tren Pluralisme Agama karya Dr. Anis Malik Thoha yang menjelaskan segala macamnya mengenai pluralisme agama?

Ada satu cerita yang perlu saya sampaikan kembali pada tulisan ini. Suatu ketika kaum liberal mengadakan diskusi terbuka di sebuah universitas. Materi yang  dijadikan tema diskusi kali ini adalah Menggugat Kekuasaan Allah. Yang diundang menjadi panelis berasal dari dua unsur yaitu perwakilan kaum liberal dan perwakilan dari umat Islam yang mereka sebut sebagai kaum ortodok. Singkat cerita, acara diskusipun dimulai. Orang liberal diberi kesempatan pertama untuk menyampaikan pandangan dan pemikirannya mengenai tema tersebut. Tanpa panjang-lebar, pemateri liberal langsung menyampaikan pemikirannya.

 “Begini Pak, Anda kan santri dan memiliki pemahaman bahwa Allah itu Maha Kuasa dan memiliki kemampuan untuk mengatur segala yang terjadi atas makhluk-Nya. Nah, jika Allah yang Anda sembah itu Maha Kuasa, maka tolong minta kepada-Nya agar mematikan saya sekarang. Itu juga jika Dia Maha Kuasa. Kalau tidak mampu berarti Allah yang Anda sembah tidak berkuasa!”, pinta panelis liberal.

Tanpa panjang-lebar, santri (perwakilan penentang paham liberal) pun langsung memberikan jawaban telak.

 “Begini Pak Doktor, sebelumnya saya mohon maaf. Saya hanya santri biasa bukan ustaz atau kiyai. Jika dibandingkan dengan ilmu Pak Doktor, ilmu saya sangat sedikit. Pak Doktor lulusan luar negeri dan mendapatkan sokongan dana dari lembaga-lembaga asing, sementara saya belajar di pesantren sederhana beberapa tahun dengan berbagai kekurangan-kekuarangannya. Karena itu, jawaban saya sederhana dan singkat sesederhana pesantren dan sesingkat ilmu saya. Begini Pak Doktor, Allah itu Maha Kuasa dan memiliki kekuatan untuk mengatur apa yang terjadi pada makhluk-Nya. Allah itu bukan budak Pak Doktor. Karena itu Allah tidak menghendaki apa yang Pak Doktor inginkan atau yang Pak Doktor pinta. Allah memiliki takdir-Nya untuk menentukan apa yang terjadi atas makhluk-Nya. Jika Pak Doktor meminta kepada Allah berarti Pak Doktor tidak ada apa-apanya dong, dan itu artinya Pak Doktor tahu kalau Allah Maha Kuasa di atas segalanya. Jika Pak Doktor tahu Allah Maha Kuasa, mengapa Pak Doktor berkata ‘Itu juga jika Dia Maha Kuasa?’. Lalu, jika Pak Doktor berkuasa, mengapa Pak Doktor minta kepada Allah Yang Maha Kuasa? Jika Pak Doktor memiliki Tuhan Yang Maha Kuasa selain Allah, mengapa Pak Doktor meminta kepada Allah Yang Maha Kuasa yang saya sembah dan imani?”

Dialog singkat ini adalah potret nyata betapa rancau dan cerobohnya logika orang-orang liberal. Sepintas, apa yang mereka suguhkan seakan-akan ilmiyah, padahal sangat dangkal dan picik. Namun sekali lagi, anehnya tak sedikit kalangan kampus—termasuk para dosen dan mahasiswa—yang menjadi korban dan serta-merta mengikuti ajaran paham-paham tersebut. Anda mungkin masih ingat kisah Kemi dalam novel Kemi karya Dr. Adian Husaini. Sebuah penuturan yang sangat lugas mengenai bagaimana kedangkalan pemikiran liberal yang sebenarnya, yang menimpa Kemi, senior dan dosen-dosennya di tempat dia kuliah. Pertanyaannya: Mengapa mereka seperti itu? Apa yang salah dalam studi Islam di perguruan tinggi? Begitu rusakkah metodologi studi Islam pada dunia pendidikan kita? Lalu, siapa yang bertanggung jawab?

Kini tak ada cara lain, kecuali berhadapan langsung secara frontal dengan kata-kata mereka. Kata-kata yang kemudian menjadi istilah dengan makna dan pesan yang terkandung di dalamnya membingungkan bahkan menyesatkan kita. Ini agenda serius dan jangka panjang. Berbagai elemen umat Islam dengan berbagai macam dan bentuk medianya, perlu mengambil peran. Kita perlu berada pada satu titik kesadaran perang pemikiran. Kita perlu menjadikan Qs. al-Baqarah ayat 42[7] dalam tulisan kita sebagai landasan berpijak, sebagai ancang-ancang dalam melangkah.

Ya, saya hadir untuk mengambil bagian dalam mendobrak kebekuan umat manusia—terutama umat Islam—agar segera bangun dari tidur lelap dan segera menentukan keberpihakan: Al-Haq atau Al-Bathil. Karena hidup ini berpatok pada keberpihakan. Saya belajar “memaksa” sekaligus “memprovokasi” siapapun untuk bangun dari kasur stagnasi dan segera berkarya. Karena semuanya mesti berkontribusi. Saya ingin menegaskan satu hal bahwa jangan sampai dengan alasan keragaman ada orang yang dengan mudah “memperkosa” sumber dan prinsip-prinsip Islam kemudian “menyesatkan” manusia (baca: umat Islam) yang lain. Jika ada yang memilih untuk itu, maka dengan berbagai upaya, saya akan melawannya secara intelektual. Rasakan renyah dan gurihnya!

Kita wajib melakukan upaya yang sungguh-sungguh dalam menyikapi setiap penyimpangan dan kemungkaran ilmu dan cara beragama. Hal ini kita lakukan sebagai wujud pelaksanaan kewajiban beramar ma’ruf nahyi munkar. Selebihnya, biarkan Allah yang menjaga agama-Nya dari rongrongan dan tipu daya mereka-mereka yang suka bertipu daya. Allah Maha Tahu siapa yang membela agama-Nya dan siapa yang merusak agama-Nya. Kita berharap agar upaya kita termasuk bagian dari upaya pembelaan agama-Nya. Sehingga kelak kita mendapatkan balasan surga yang sama-sama kita idamkan.

Demikian, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat, menambah pemahaman kita kepada ilmu dan keyakinan kita kepada Allah Swt. dan ajaran-ajaran-Nya. Hanya dengan begitulah  kita bisa berumur panjang—lebih panjang dari umur fisik kita. Selebihnya, boleh jadi dalam tulisan ini terdapat kesalahan dan kekeliruan. Oleh karena itu, saya berharap agar pembaca bisa memberi masukan, kritikan dan apapun yang konstruktif. Dengan begitu, harapannya karya berikutnya lebih baik dan mendatangkan maslahat yang lebih banyak. Mari membaca dan berdiskusi… dan selamat mengambil manfaat! []

 

Cirebon, 2 Agustus 2011

Pukul 01.00 WIB

 

 

 

Syamsudin Kadir


[1] Akmal Sjafril, Islam Liberal 101 (2011), hal. 2

[2] Anis Matta, Arsitek Peradaban (2007), hal. 11

[3] Ibid hal. 12

[4] Ibid hal 13

[5] Ibid.

[6] Ibid hal. 14

[7] ”Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s