Problematika Umat

31 Jan

MUNCULNYA semangat umat untuk kembali kepada Islam pada masa kontemporer ini merupakan isyarat kuat bagi bangkitnya Islam di masa depan. Hal ini bisa kita pahami dari berbagai fenomena. Sebuah kenyataan yang tentu saja menghadirkan perasaan dan semangat pada diri umat Islam untuk terus bangkit dan berkontribusi.

Namun, kenyataan dan perasaan tersebut selalu bergantian dengan rasa khawatir yang menghinggap. Di satu sisi, kita memiliki potensi yang sangat luar biasa, namun kita pun belum mampu mengelolanya menjadi kekuatan kolektif yang efektif untuk membangun sebuah peradaban baru. Kita terkadang—untuk tidak dikatakan sering—kehilangan kebanggaan akan peradaban kita, bahkan serta merta kita mengikuti Barat sebagai sebuah peradaban, tanpa koreksi.

Bangsa Barat sendiri saat ini sedang mengalami kebimbangan akan peradabannya. Hal ini terwakili oleh berbagai pendapat, di antaranya, John Poustar Dallas, mantan menteri Luar Negeri Amerika Serikat, dalam tulisannya War of Peace (Perang atau Damai) menceritakan tentang kebangkrutan Barat.

Kebangkrutan ini mendorong dan menambah timbulnya krisis keyakinan, kebingungan yang menyerang pikiran manusia, dan erosi kejiwaan yang melanda Barat secara besar-besaran. Penyebabnya menurut ilmuwan Perancis, Alexis Karel dalam bukunya Manusia itu Misterius adalah karena Barat dibangun tanpa mengindahkan tabiat atau karakter manusia. Padahal peradaban itu, menurut Muhamad Quthb dalam buku Tafsir Islam Atas Realitas, “dibangun untuk manusia”. Dr. Kasis Karl, seorang filosof dan peraih nobel, dalam bukunya Manusia, Itulah Kebodohannya, mengatakan, ”peradaban Barat hanya berorientasi pada benda-benda mati dan tidak memberikan manusia haknya. Peradaban Barat telah memperbodoh manusia, anugrah hidup, kemampuan-kemampuan serta kebutuhannya”.

Sayangnya kita sebagai umat Islam asyik dan terjebak candu dengan peradaban Barat, bahkan sering menjadikan budaya ’rendahan’ Barat sebagai tontonan untuk kemudian jadi tuntunan tanpa seleksi. Pada saat yang sama kita sering lupa untuk mengambil hikmah peradaban Barat dalam hal perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya.

Masih dalam konteks yang sama, kita justru sering menutup mata atas fenomenalnya peradaban dunia di masa lalu ketika Islam mengelola dunia. Salah satu fenomena peradaban Islam yang diceritakan oleh sejarah adalah Islam hadir menyelamatkan dunia pada abad pertengahan ketika bangsa Eropa mengalami masa krisis atau The Dark Middle Age.

Mengenai kemerosotan umat Islam, Rasulullah Saw. memberikan isyarat dalam sebuah hadits beliau. Dari Tsauban ra. ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda, Suatu masa nanti, bangsa-bangsa akan memperebutkan kalian seperti orang-orang yang sedang makan yang memperebutkan makanan di atas nampan.” Kemudian ada sahabat yang bertanya, “Apakah saat itu kita (kaum Muslimin) berjumlah sedikit [sehingga bisa mengalami kondisi seperti itu]?”. Rasulullah Saw. menjawab, Sebaliknya, jumlah kalian saat itu banyak, namun kalian hanyalah bak buih di atas air bah (yang dengan mudah dihanyutkan ke sana ke mari). Dan Allah Swt. akan mencabut rasa takut dari dalam diri musuh-musuh kalian terhadap kalian, sementara Dia meletakkan penyakit wahn dalam hati kalian. Ada sahabat yang bertanya lagi, Wahai Rasulullah Saw., apakah wahn itu? Beliau menjawab, ”Cinta dunia dan takut mati.” (Hr. Ahmad)

Secara umum terdapat dua faktor penyebab kemerosotan umat Islam, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor Internal

Faktof internal yang dimaksud adalah yang datangnya dari dalam kalangan umat Islam sendiri; baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Dalam bukunya Ainal Khalal, Dr. Yusuf Qordhowi menuliskan beberapa problematika yang melanda umat Islam yang berasal dari dirinya.

Pertama, Umat Islam lupa akan dirinya

Dalam al-Qur’an Allah Swt. berfirman,

”Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi umat manusia, (supaya) kamu menyuruh berbuat ma’ruf dan melarang yang mungkar, serta beriman kepada Allah”. (Qs. Ali Imran: 110)

Dan ketika umat Islam lupa akan Allah, maka Allah pun akan melupakannya. Seperti  yang dijelaskan dalam firman-Nya dalam Qs. al-Hasyr: 19,

”Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah melupakan diri mereka sendiri”.

Kedua, Banyak mengharap harta dari kemajuan bangsa dan negara lain

Umat Islam masih menjadi umat yang bergantung pada bangsa lain. Hal ini dikarenakan umat Islam belum mampu menjadi produsen dan cukup puas menjadi konsumen. Ini adalah bom waktu yang dipersiapkan mereka untuk diledakkan setiap waktu. Ini adalah salah bagian dari korban rencana strategis penjajahan ekonomi.

Ketiga, Umat Islam sering menyia-nyiakan kekuataannya

Kekuatan yang dimaksud adalah akal, amal, tenaga, dan spiritual. Sungguh sesuatu yang sangat ironis. Padahal yang pertama kali Islam ajarkan adalah membaca (Qs. al-Alaq: 1-5),[1] tetapi kita sering lupa atau kurang memperhatikan pentingnya membaca.

Selain itu, kita juga krisis etos kerja, bahkan sangat rendah. Padahal Allah Swt. sangat menitikberatkan pada kerja dan hasil kerja, bukan bicara semata (Qs. as-Shaf: 2-3).[2]

Yang paling ironis adalah kekuatan spiritual kita yang semakin merosot. Allah berfirman,

”Sesungguhnya telah menang yang membersihkan jiwanya dan telah rugi orang-orang yang mengotorinya”. (Qs. asy-Syam:      9-10)

Penyebab utama keterbelakangan itu terletak pada pemahaman yang keliru atas Islam. Kita sering mengambil warisan-warisan yang jelek-jelek dari zaman kemunduran kita serta mengambil yang terjelek dari Barat. Jika ditelusuri lebih lanjut, problematika internal umat Islam ini terjadi (tentu) tidak terlepas dari faktor-faktor eksternalnya.

Faktor Eksternal

Faktor eksternal ini lebih diakibatkan oleh adanya konspirasi (persekutuan) internasional yang sangat kuat dan menjadikan Islam sebagai lawan utama yang mesti dimusuhi secara kolektif. Mereka menyusun langkah-langkah strategis dan terprogram dengan rapi beserta tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Konspirasi internasional itu adalah kekuatan-kekuatan terstruktur, di antaranya seperti bangsa Yahudi. Berapa kutipan berikut dapat mewakili bukti obsesi mereka terhadap umat Islam dan peradabannya.

a.      Dalam bukunya Tafsir Islam Atas Realitas, Muhamad Qutb mengatakan bahwa Nixon pernah mengatakan, ”untuk menghadapi ancaman bersama; yaitu Islam, maka tidak boleh tidak pertentangan antara Rusia dan Amerika Serikat harus segera dihilangkan.

b.      Willy Claes (Mantan Sekjen NATO) menyebutkan bahwa “Islam adalah satu-satunya musuh Barat setelah Uni Soviet tumbang.

c.      Simon Perez (Mantan Menteri Luar Negeri Israel) mengatakan bahwa ”setelah komunisme runtuh, ’Fundamentalis Islam’ (baca: Islam) adalah satu-satunya bahaya terbesar yang akan mengancam perdamaian dan kestabilan serta perekonomian dunia.

Pendapat-pendapat tersebut menunjukkan betapa pertentangan kekuatan global-Barat terhadap Islam sangat dahsyat dan luar biasa. Ternyata genderang perang yang mereka lakukan bukan saja dengan perang fisik (ghozwul harbi), tetapi juga dengan perang pemikiran (ghozwul fikriy), perang kebudayaan (ghozwul tsaqofah), perang penjajahan (ghozwul isti’mariy) dan seterusnya. Semua ini akan terus dihadapi oleh umat Islam, kapan dan di manapun umat Islam berada. Namanya mungkin berubah sesuai zaman, namun isi atau substansinya tetap sama: menjajah atau memerangi Islam dan umatnya.

Berikut adalah langkah-langkah mereka dalam menghancurkan Islam:

Pertama, Menghancurkan Islam sebagai sebuah sistem nilai publik

Kehancuran khilafah islamiyah adalah contoh nyata bagi kita, baik sebagai umat maupun sebagai bangsa. Fenomena menggerogoti dan menghancurkan kepemimpinan umat pada awal abad 20 adalah cerita kelam yang mesti menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam di masa kini dalam menata peradaban baru dunia untuk masa depan peradabannya yang islami.

Kedua, Memusnahkan al-Qur’an dan membuat umatnya ragu akan agamanya

Musuh-musuh Islam tahu bahwa kekuatan umat Islam adalah al-Qur’an, maka mereka membuat strategi untuk menjauhkan umat Islam dari al-Qur’an dan bahkan berusaha memusnahkannya. Tokoh-tokoh mereka mengatakan:

  • ”Sesungguhnya kepentingan Eropa di Asia Jauh dan Asia Tengah terancam bahaya selama di sana ada al-Qur’an yang dibaca dan Ka’bah yang kerap dikunjungi”. (William Gladstone, Politisi kawakan Inggris)
  • Kita harus menggunakan al-Qur’an sebagai senjata untuk melawan umat Islam sendiri. Kalau harus menjelaskan kepada umat Islam bahwa apa yang benar dalam al-Qur’an bukanlah sesuatu yang baru, sesungguhnya sesuatu yang baru dalam al-Qur’an belum tentu benar”. (Talky, Missionaris)

Ketiga, Merusak akhlak dan hubungan umat Islam dengan Allah

Samuel Zweimer seorang direktur organisasi missi pada konferensi pers missionaris di Kota al-Quds tahun 1935, berkata, “Misi utama yang dibebankan oleh negara-negara kristen kepada kita bukanlah menjadikan kaum muslimin menjadi kristen, karena hal itu adalah soal hidayah dan kemuliaan. Misi utama kita adalah mengeluarkan seorang muslim dari Islam, supaya menjadi orang yang tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Allah, sehingga ia tidak mempunyai ikatan akhlak sebagai pedoman hidup manusia”.

Keempat, Membangun sistem liberal sebagai sistem berbagai aspek kehidupan publik

Kaum imperealis sengaja meninggalkan negara jajahannya dengan sistem pemerintah yang memiliki kekuatan yang absolut. Karena mereka melihat Islam akan jaya bila diberi sistem politik Islam yang unggulan atau membiarkan umat Islam berpegang teguh dengan Islam. Hal ini terungkap lewat pendapat dari W.K Smit, seorang orientalis Amerika, ”Apabila umat Islam diberi kemerdekaan dalam sistem demokrasi, maka Islam akan menang. Dengan sistem diktator sajalah hubungan antar umat Islam dengan agamanya dapat dipermainkan.

Kelima, Merintangi umat Islam untuk maju dan menjadikan mereka sebagai komunitas konsumen

Dengan strategi ini mereka menempatkan umat Islam senantiasa tergantung kepada bangsa Barat, dengan begitu umat Islam akan tetap mereka jajah melalui penjajahan pendidikan, ekonomi, sosial, politik, budaya, pertahanan-keamanan dan teknologi.

Keenam, Merusak moral wanita dan generasi muda Islam serta menyebarluaskan penyelewengan seks melalui media, informasi dan seni

Dalam buku Wajah Dunia Islam, Dr. Muhammad Sayyid al-Wakil mengutip pernyataan seorang orientalis, ”Gelas dan artis mampu menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Maka tenggelamkan umat Muhammad ke dalam cinta materi dan syahwat.

Untuk menyukseskan agenda ini, kemudian didirikanlah berbagai industri dan berbagai macam jenis film yang serba telanjang dan sangat merendahkan. Tentu kita masih ingat dengan karikatur Nabi Muhammad Saw. yang mereka produksi beberapa waktu yang lalu. Tidak sekedar itu, mereka juga memproduksi film-film porno atau adegan-adegan mesum yang sangat merusak moral berbagai generasi, terutama generasi muda.

Dalam konteks yang lain, pada gejala perkembangan politik yang cukup rumit seperti saat ini, ada sebuah kecemasan yang layak disadari oleh umat Islam: terjebak dalam kungkungan kekeliruan lama. Paling tidak ada beberapa kekeliruan menonjol, di antaranya: Pertama, umat Islam lebih suka marah daripada menyatukan barisan. Kemarahan bisa dipahami dari luapan emosional yang spontan terhadap berbagai permasalahan umat dan bangsa yang tidak disertai dengan target, agenda dan platform yang kelas. Umat Islam sering dipolitisasi tapi belum mampu melakukan politisasi. Padahal, membuat barisan yang lebih rapih seperti melakukan politisasi akan sangat bermanfaat bagi agenda perubahan yang diinginkan.

Kedua, umat Islam lebih suka mengurusi kulit atau kemasan bukan isi atau substansi. Persoalan-persoalan substansial sering luput dari perhatian umat Islam, sementara urusan-urusan artifisial justru menjadi fokus. Kadang umat Islam cukup puas dengan ’sumbangan sosial’ tanpa mengetahui lebih jauh sumber dan angka presentasi sumbangan tersebut—yang notabene bersumber dari uang negara (baca: pajak).

Ketiga, umat Islam sering terpesona pada orang—atau yang diistilahkan oleh Eep Saefulloh Fatah sebagai aktor—atau figur atau pelaku, bukan isme atau wacana yang diproduksinya. Secara sepintas mungkin umat Islam tidak merasakan hal ini. Banyak pengamat yang membentangkan kenyataan bahwa umat Islam sering kali hanya menjadi ’kuli politik’ pada setiap momentum pemilu; selebihnya hanya memperoleh kelelahan dan kemarahan atau bahkan diam seribu bahasa. Umat Islam terjebak dengan ’iklan’ dan ’romantisme’ sang aktor namun jarang sekali mengambil inisiatif untuk mengoreksi kekeliruan kebijakannya. Sederhananya, umat Islam sangat bahagia mendapatkan ’jatah kekuasaan’ tapi tak menyadari betapa banyak ongkos sosial-politik yang dikorbankan bagi masa depan umat Islam sendiri dan Indonesia.

Solusi

Setelah mengetahui permasalahan yang melanda, yang mesti kita lakukan adalah mencari solusi. Kemudian dengan seluruh potensi berupaya untuk mengekseskusinya secara tulus. Hal ini tentu tidak bisa diartikan bahwa setiap ide perubahan yang kita ditawarkan dilandasi karena adanya masalah. Ini merupakan upaya keterlibatan sekaligus tanggung jawab kita sebagai umat Islam dalam memberikan yang terbaik bagi peradaban baru dunia.

Dr. Yusuf Qordhowi dalam buku Ash Shahwah al-Islamiyah Baina al-Amal wa al-Muhadzir (Kebangkitan Islam: Antara Harapan dan Rintangan), merumuskan beberapa hal yang menjadi titik tekan kebangkitan umat, yaitu: Kebangkitan Pemikiran, Kebangkitan Perasaan dan Emosi, Kebangkitan Amal dan Perilaku, Kebangkitan peran Wanita Islam, Kebangkitan Pemuda, dan Kebangkitan Global.

Masih banyak hal yang menjadi penopang kebangkitan Islam, namun beberapa rumusan tersebut layak dikaji lebih lanjut sebagai spirit awal. Selanjutnya, beberapa hal di atas bisa kita pahami lebih menyeluruh dalam rasionalisasi sederhana berikut ini.

Pertama, Kebangkitan Pemikiran

Manusia adalah makhluk berakal, maka kesadaran kognitif menjadi penting. Artinya, umat Islam mesti berusaha untuk memahami Islam secara mendalam. Dalam hal ini bisa dilakukan dengan melakukan proses tajdid atas pemahaman Islam sebagian umat yang tidak sesuai dengan paradigma Islam. Tajdid bukan berarti membuat agama baru, melainkan mengakomodasi pembaharuan pemahaman Islam,  Iman dan Amal.

Tajdid Islam berarti umat Islam harus berusaha kembali kepada Islam sebagaimana masa awal. Generasi muslim yang hidup pada awal Islam datang adalah generasi terbaik yang mesti dijadikan teladan. Mereka adalah para nabi dan rasul serta para pengikut-pengikut mereka di masa-masa berikutnya.

Kedua, Kebangkitan Perasaan dan Emosi

Manusia tidak bisa hanya membangkitkan akalnya saja, karena ia juga mesti dibangkitkan hati nuraninya, perasaannya dan emosinya. Hal ini tidak lain adalah kebangkitan iman, karena manusia terdiri dari anasir akal dan hati. Sebagai upaya penyeimbangan maka ketiga hal tersebut menjadi penting.

Ketiga, Kebangkitan Amal dan Perilaku

Amal dan perilaku umat Islam harus konsisten dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, gerakan penyadaran dilakukan bukan sekedar untuk akal dan iman, tapi juga penyadaran mengenai amal yang mesti sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebab, aktivitas yang memiliki ganjaran pahala dan bernilai positif dalam jangka panjang adalah aktivitas yang ditunaikan sesuai dengan kerangka atau standar umum wahyu bukan nalar akal yang terbatas.

Keempat, Kebangkitan Peran Wanita Islam

Wanita mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam pembangunan umat, karena wanita adalah sekolah (madrasah) pertama bagi anak dan generasi muda dalam kehidupannya. Wanita sangat menentukan perjalanan hidup umat. Oleh karena itu, dengan maraknya wanita kembali kepada kehariban Islam merupakan modal yang kuat bagi kebangkitan Islam.

Di lain sisi, wanita Islam juga mesti mampu merancang secara matang strategi keterlibatannya dalam membangun umat, baik dari level keluarga, masyarakat, negara maupun dalam skala global. Dengan begitu, wanita menjadi komunitas yang semakin dipandang dan dihargai sebagai bagian yang tak terpisahkan dari cita-cita kebangkitan Islam.

Kelima, Kebangkitan Pemuda

Kebangkitan pemuda Islam mempunyai peran strategis, terutama pemuda terpelajar. Mereka akan menjadi tulang punggung kebangkitan Islam. Pemuda mempunyai karakteristik yang sangat dibutuhkan untuk tegaknya nilai-nilai Islam, sebab mereka mempunyai idealisme, semangat dan mobilitas yang tinggi. Untuk itu, tenaga pemuda dalam gerakan penyadaran umat menjadi prioritas. Di tangan merekalah ide tentang kebangkitan umat ini titipkan. Di punggung merekalah obsesi mengenai masa depan yang mencerahkan itu dikalkulasikan. Karena itu, pemuda Islam mesti sadar dan menyiapkan diri.

Sebagai upaya perwujudan obsesi ini, banyak hal yang bisa dilakukan, di antaranya: mengadakan konsolidasi pemuda dari tingkat lokal, nasional hingga internasional dengan berbagai latar belakangnya. Pembahasannya juga sederhana, namun tentu yang bisa diterawang secara kolektif; dari pematangan ilmu pengetahuan, pembentukan forum diskusi, study kawasan, study banding, study komparasi, ide penyelesaian konflik umat Islam di berbagai negara, upaya membangun peta baru dunia dengan perwujudan dialog umat Islam dan Barat, dan seterusnya.

Keenam, Kebangkitan Global

Kebangkitan umat Islam harus merata dan mendunia, karena pada dasarnya umat Islam adalah umat yang satu. Allah berfirman,

”Sesungguhnya inilah umatmu yang satu, terpadu dan menunggal; dan Akulah Robb-mu, karenanya mengabdilah pada-Ku”. (Qs. al-Anbiya: 92)

Dalam konteks ini, umat Islam mesti memperkuat simpul-simpul umat dari seluruh penjuru dunia, sehingga seluruh potensi yang dimilikinya menjadi kekuatan kolektif yang efektif dalam mewujudkan cita-cita Islam sebagai soko guru peradaban dunia. Karena itu, kita mesti melakukan banyak hal seperti menguatkan sistem pengorganisasian umat, membangun jaringan dan diplomasi serta penguatan media massa. Beberapa hal tersebut merupakan senjata terhebat untuk menguasai opini publik.

John Naissbit dalam bukunya Megatrends 2000 mengatakan, “orang yang rasional akan dapat berpikir irrasional ketika dibombardir oleh media massa secara intensif.

Konteks Ke-Indonesia-an

Di tengah dinamika kebangsaan yang begitu problematis, umat Islam kadang hanya dijadikan sebagai alat pemukul para elite atau penguasa. Setelah itu, umat Islam—sebagaimana perkakas—kembali disimpan di gudang sejarah dalam arsip tertulis: korban atau mangsa politisasi.

Lalu, apa yang mesti dilakukan oleh umat Islam agar tidak terjebak dalam kungkungan tirani politik dan kekuasaan seperti itu? Membayangkan bangunan dan model atau format baru politik Islam hendaknya mempertimbangkan kembali terulangnya kekeliruan-kekeliruan politik lama. Format itu hanya mungkin dibayangkan manakala kekeliruan-kekeliruan tersebut dihindari dan tidak terulang. Ada beberapa agenda yang mesti dijejakkan, yaitu:

Pertama, menyokong reformasi menyeluruh. Berbagai kekeliruan politik umat Islam tentu saja sangat dipengaruhi oleh konteks politik yang ada di sekitarnya. Artinya, terproduksinya kekeliruan-kekeliruan tersebut disokong oleh karakter sistem politik yang menjadi konteksnya. Sistem politik yang ekslusif, non-partisipatif, sentralistik dan anti publik telah memberi lahan subur bagi kekeliruan-kekeliruan itu. Oleh karena itu, membangun format baru—sebagaimana yang dijelaskan pada pembahasan Meretas Trend Baru Politik Indonesia—mesti dimulai dengan keikutsertaan yang sungguh-sungguh dari kalangan umat Islam dalam menyongsong reformasi (baca: perubahan) menyeluruh.[3]

Menuju format baru politik Islam berarti membangun kekuatan Islam sebagai penyokong reformasi menyeluruh. Kalangan Islam mesti memosisikan dirinya sebagai agen perubahan berdiri paling depan dan terus teguh (istiqomah).

Kedua, membentuk publik. Agenda berikutnya menuju format baru politik Islam adalah membangun umat Islam beserta berbagai institusi yang bisa didirikan di tengahnya sebagai publik. Inilah agenda yang berjangka panjang yang akan benar-benar mengubah wajah atau format politik Islam. Keberhasilan dan kegagalan dalam agenda ini akan menentukan apakah politik Islam berhasil membangun format barunya atau tidak.

Menuju ke arah itu, umat Islam mesti mengerjakan pekerjaan besar: mengubah pendekatan yang selama ini yang semata-maya memosisikan Islam sebagai agama individu, ke arah Islam sebagai sistem sosial—dimana di dalamnya terdapat dimensi-dimensi sosial. Pada konteks beginilah fiqih sosial mesti dikaji secara serius sebagaimana keseriusan umat Islam dalam mengkaji kaedah-kaedah fiqih ibadah.

Tanda-tanda akan berhasil dibangunnya format baru politik Islam dalam konteks Indonesia antara lain bisa dilihat di ruang-ruang pengajian. Manakala umat Islam merasa sudah selesai mengkaji setelah menutup al-Qur’an dan merasa sudah tidak ada persoalan ketika keluar dari ruang pengajian, format baru politik Islam adalah sesuatu yang masih sangat jauh dari jangkauan. Dan manakala umat Islam belum merasa sudah mengaji ketika setelah menutup al-Qur’an ketika pengajian dan mengkaji dalam ruang pengajian—karena masih melihat dan mesti bergelut dengan realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya yang distortif dan tak sejalan dengan etika, moralitas dan hukum Islam—maka itulah tanda-tanda format baru politik sudah mendekat menjadi trend baru politik kebangsaan.

Renungan Akhir

Fenomena kebangkitan umat Islam pada dasarnya akan segera kembali. Karena itu, kerja kita saat ini adalah menyiapkan syaratnya yaitu mematangkan potensi dan bakat atau talenta kepemimpinan umat, kemudian mensistematiskan potensi dan kompetensi tersebut ke dalam satu gerbong besar umat; harapannya kelak akan menjadi kekuatan kolektif yang terkonsolidasikan.

Selanjutnya, mudah-mudahan Allah Swt. memberi kita kekuatan, petunjuk dan kemudahan agar kita mampu mewujudkan kebangkitan umat itu dalam alam nyata dan ruang yang lebih luas: dunia! []



[1] Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (1) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah (2) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah (3) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam (4) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5)

[2] Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (2) Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (3)

[3] Reformasi atau perubahan yang mesti didukung oleh umat Islam menurut Eep Saefulloh Fattah adalah: (1) reformasi kepemimpinan nasional, yakni proses pembentukan kepemimpinan nasional—berserta perangkat-perangkat penyokongnya—yang otenstik. Kepemimpinan nasional yang otentik adalah yang tidak punya beban psikologis ketika mengagendakan anti-KKN karena ia sendiri tidak terlibat dalam KKN; yang tidak punya beban moral ketika mengagendakan pembentukan clean government karena ia sendiri clean.Umat Islam juga mesti menyokong lahirnya kepemimpinan nasional yang otentik. (2) reformasi karakter kekuasaan politik. Kalangan Islam seyogianya menjadi penyokong reformasi karakter kekuasaan politik guna menghindari terulangnya karakter kekuasaan politik masa lalu yang bercirikan sentralisasi, propublik, institusional, dan rasional (tidak sakral). (3) reformasi perubahan sistematik. Umat Islam seyogianya menjadi penyokong yang sungguh-sungguh program perubahan sistemik. Tanpa sistem yang berubah secara menyeluruh—tentu saja melalui jadwal yang terukur—umat Islam kembali akan menjadi raksasa yang rentan kekuatannya. (4) reformasi paradigma atau pergeseran paradigma. Umat Islam seyogianya menyokong dan ikut menjalani perubahan-perubahan paradigmatis yang sangat diperlukan. Agenda yang paling perioritas dalam konteks ini, tentu saja, pergeseran paradigma di kalangan umat Islam sendiri, terutama dari cara berpikir umat Islam yang apolitis, pragmatis, dan irasional menjadi politis, kalkulatif dan rasional.

8 Tanggapan to “Problematika Umat”

  1. ferry's chemicalengineering 31 Januari 2011 pada 21:50 #

    Assalamu’alaikum wr wb
    Sungguh luar biasa tulisannya Bang, ane terasa sulit berkomentar.. Semuanya memang sudah jelas bahwa kita harus perkuat persatuan umat islam yang sudah dijadikan musuh bangsa barat. Kemenangan yang ditunggu harus selalu dibarengi kebangkitan akal, hati, dan amal.
    Sudah jelas, bukan saatnya kita sebagai pemuda diam saja ketika orang lain bersemangat menambah problematika umat ini.
    Wassalam.
    Afwan (berat mengomentari tulisan Bang Kadir-semoga diperbaiki-)

    Suka

  2. agusrwidodo 12 April 2011 pada 21:23 #

    bagus tulisannya, semoga idealisme anda tetap terjaga

    Suka

    • noname 11 Juni 2011 pada 14:20 #

      Syukran atas tulisannya…
      amat membntu dalam pendalaman materi saya…

      Suka

  3. sava 11 Juni 2011 pada 20:56 #

    sungguh bagus sekali semoga ini bisa bermanfaat untuk umat islam agar umat islam terjauhkan dari serangan kaum yahudi

    Suka

  4. roy 1 Oktober 2011 pada 11:48 #

    mantab bener…sumpah ane smkin smgt

    Suka

  5. azzamcomumingan 29 Oktober 2011 pada 09:18 #

    jazakallah

    Suka

  6. Devia Puspita Sari 24 Februari 2012 pada 19:53 #

    DM1 KAMMI..
    Materi III: Problematika Umat..

    Jazakallah, akh..
    Jadi semakin bertambah ilmu ana.. 🙂

    Suka

  7. The_wee.Solehah_IA 13 Maret 2013 pada 08:22 #

    Bermanfaat.. moga berkah ilmunya… ijin Copy paste ya…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: