Pengantar Tokoh (Untuk buku Merebut Masa Depan)

Oleh: Drs. H. Anwar Yasin

Anggota DPRD Propinsi Jawa Barat Periode 2009-2014

 

BERBICARA mengenai masa depan, maka bisa jadi setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda. Ada orang yang tidak memikirkan masa depannya sehingga yang ia lakukan hanya untuk hidupnya saat ini atau yang sedang dijalaninya saja. Orang seperti ini biasanya berbuat hanya untuk menikmati hidup. Ia tidak memikirkan bagaimana dan apa yang terjadi kelak. Baginya, masa depan adalah sesuatu yang tidak pasti dan tidak jelas. Jadi untuk apa dipikirkan.

Ada juga yang berpikir bahwa masa depan adalah sesuatu yang menakutkan. Sehingga ia begitu khawatir terhadap hidupnya di masa yang akan datang, sampai-sampai ia nyaris tidak mempunyai harapan terhadap masa depannya sendiri. Dengan cara pandang seperti ini, maka orang ini akan bekerja tanpa tujuan yang jelas. Ia menjalani hidupnya mengalir saja mengikuti arus yang ada. Ia menjadi korban kenyataan masa kini yang terbatas.

Ada juga orang yang berpikir positif dan optimis terhadap masa depan. Ia menyadari bahwa masa depan adalah sesuatu yang ditentukan oleh kerja-kerja hari ini. Apa yang terjadi di masa depan adalah akibat dari apa yang ia kerjakan hari ini. Seperti orang yang rajin belajar di masa lalu maka akan menjadi orang yang berilmu di masa kini dan di masa depan. Atau orang yang rajin bekerja akan mendapatkan penghidupan yang layak di masa yang akan datang. Sehingga dengan cara pandang ini seseorang akan berbuat yang terbaik saat ini untuk memperoleh kehidupan yang ia cita-citakan di masa depan.

Memperhatikan tiga cara pandang di atas, maka secara fitrah dan pengetahuan kita akan memahami bahwa cara pandang terakhirlah yang benar dan layak untuk kita yakini. Kita bisa mengambil pelajaran dari seorang petani yang memanen hasil taninya pada saat ini, hal tersebut merupakan hasil yang ia tanam beberapa bulan kemarin. Jadi, gambaran kerja kita hari ini adalah bambaran masa depan kita. Karena tidak mungkin sesuatu itu muncul dan terwujud tanpa ada rencana dan usaha kita untuk merealisasikannya. Sungguh indah ungkapan Arab: “Kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin dan kenyataan hari esok adalah mimpi hari ini”.

Islam sebagai agama yang sempurna yang diturunkan oleh Allah Swt. telah memberikan panduan yang jelas tentang sikap hidup yang selayaknya dipegang oleh setiap muslim. Dalam al-Qur’an Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kalian kepada Allah dan hendaknya setiap jiwa memperhatikan apa yang telah ia usahakan untuk hari esok…”. (Qs. al-Hasyr: 18).

Dengan ayat ini Allah Swt. mengingatkan kita agar berencana dan bekerja untuk masa depan. Karena usaha kita di masa kini akan berakibat pada kehidupan kita di masa yang akan datang. Rencana kita di masa kini akan mempengaruhi apa yang terjadi, apa yang kita alami dan apa yang kita peroleh di masa depan.

Seperti juga perjalanan seseorang, sebuah organisasi, gerakan bahkan juga sebuah negara akan mencapai apa yang diinginkannya di masa depan sesuai dengan rencana atau kerjanya di masa kini. Rencana di masa kinilah yang menentukan bagaimana masa depan. Tentu, yang tak luput dari konteks ini adalah ketentuan Allah yang Maha di atas segalanya.

Selain perencanaan yang matang dan kerja yang profesional, kondisi lingkungan yang dinamis membuat rencana dan pola kerja sebuah organisasi, gerakan atau negara semakin lincah dan relevan dengan perubahan yang terjadi. Kemandegan dalam perencanaan dan kerja dapat mengakibatkan capaian-capaian yang diperoleh menjadi kurang menggigit bahkan kurang dirasakan oleh masyarakat, lingkungan dan rakyatnya. Karena itu, sarana-sarana yang ada dan memungkinkan harus digunakan agar apa yang menjadi cita-cita organisasi, gerakan dan negara kita di masa yang akan datang bisa diwujudkan.

Sebagai muslim dan warga negara kita harus mengkhawatirkan munculnya generasi yang lemah seperti yang diingatkan oleh Allah dalam surat an-Nisa ayat 9:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah….”

Sebagai muslim maupun sebagai warga negara, tantangan yang kita hadapi cukup banyak. Di antara tantangan yang terbuka di depan kita adalah terlalu banyak kelemahan dalam tubuh umat Islam dan generasi muda kita. Dimana kelemahan tersebut bersumber dari internal (dalam diri) kita sendiri berupa bodoh dan malas. Sedang kelemahan dari eksternal (luar) adalah perangkap asing yang berusaha menjauhkan umat Islam dari kekuatan dan ajarannya.

Faktanya, mulai banyak generasi muda yang lebih tertarik kepada ajaran asing dibanding ajaran Islam itu sendiri. Upaya asing yang terus menerus, siang malam, bahkan menggoda dari depan, belakang, kiri dan kanan agar umat Islam khususnya pemuda tidak lagi  terfokus kepada ajaran yang mulia (Islam). Berbagai aspek digarap, dengan menggunakan berbagai macam cara. Sebuah kondisi yang mengharuskan setiap elemen ikut terlibat untuk menemukan solusi terbaik bagi penyelesaiannya.

Pada posisi kita sebagai muslim, sebetulnya upaya menjauhkan kita dari Islam sudah terjadi dari zaman awal risalah ini ada. Di zaman Rasulullah saja, selalu ada upaya-upaya untuk menjauhkan Islam dari umatnya. Suatu ketika Rasulullah di Madinah mengumpulkan Suku Aus dan Khazraj. Sedang asyiknya Rasulullah memberikan ta’lim di masjid, tiba-tiba datanglah seorang Yahudi bernama Syas bin Quais, bercerita masa lalunya, mengatakan bahwa Suku Aus lebih baik dari Suku Khazraj dengan semangatnya memprovokasi. Sampai-sampai Suku Aus dan Khazraj yang tadinya duduk bersatu menjadi berpisah dan mereka semua menjadi saling emosi, bahkan hampir-hampir saja terjadi baku hantam, bahkan sudah ada di antara mereka yang meneriakkan “angkat senjata kalian, angkat senjata kalian”.

Kemudian Rasulullah membacakan ayat:

 

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.

Kemudian Rasulullah mengatakan kepada meraka, “Apakah kalian ingin kembali kepada kejahilan setelah Islam; Apakah kalian akan kembali menjadi kafir setelah kalian beriman; Apakah kalian ingin bermusuhan setelah Islam mempersatukan kalian;  Sekarang tidak ada lagi Aus dan tidak ada lagi Khazraj, kalian semua adalah muslimin?” Mereka menangis bersama, menyesali perbuatan yang dilakukan.

Bisa dibayangkan umat Islam hampir berkelahi, bertempur dan bercerai-berai dalam satu masjid bahkan di situ ada Rasulullah. Padahal penyebabnya hanya karena tingkah satu orang Yahudi. Lalu bagaimana dengan zaman kita sekarang, dimana Rasulullah sudah tiada (kecuali pengikutnya)?

Orang Yahudi yang semakin banyak dan menghegemoni perpolitikan dunia tentu saja tidak tinggal diam. Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 217 Allah Swt. mengingatkan kita,

 

“… Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian, hingga kalian murtad dari agama kalian jika mereka mampu…”.

 

Gerakan pemurtadan akan senantiasa ada sampai kapanpun; baik umat Islam menyadari ataupun tidak menyadarinya. Semakin lemah gerakan Islam maka gerakan pemurtadan berjalan semakin gencar. Bahkan akan semakin menghidupan gerakan pemurtadan.  Dalam kondisi tersebut, umat Islam tidak mungkin dapat eksis tanpa kesadaran untuk bersatu, untuk membangun kembali generasi baru yang telah diprovokasi dan dirusak oleh berbagai ujian dan fitnah tersebut untuk kembali kepada Islam.

 

“Dan berpegang teguhlah kalian pada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai…”.

(Qs. Ali Imron: 103)

 

Sebagai bangsa, sebagai negara dan sebagai umat Islam kita tentu jangan mudah terprovokasi oleh perbedaan-perbedaan kecil, yang sebenarnya bukan prinsip. Kita harus memahami bahwa mestinya ada hal-hal yang boleh berbeda di antara elemen yang ada, namun tetap memiliki persatuan yang kokoh dan saling memahami perbedaan dengan yang lain. Bagaimana tidak, Allah kita sama, Nabi kita sama, dan Kiblat kita sama.

Dari sini saja tidak ada alasan bagi umat Islam untuk bercerai-berai. Kita mesti saling membantu, karena kita ditakdirkan dalam kondisi yang berbeda, ada kaya ada miskin, ada pintar ada bodoh dan ada atasan ada bawahan. Semua ini agar kita saling tolong-menolong, sebab pada prinsipnya antara satu dengan yang lainnya saling membutuhkan.

 

“… Dan saling tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan, dan janganlah kalian saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan…”.

(Qs. al-Maidah: 2)

 

Pada prinsipnya, umat Islam adalah umat yang satu. Kita bagaikan satu tubuh, bila satu kaki yang tertimpa batu semua tubuh merasakan sakitnya. Mata mengeluarkan airnya dan seluruh tubuhnya menggigil. Kita tidak terpisahkan  hanya karena berlainan negara atau suku bangsa. Penderitaan umat Islam di negeri manapun merupakan penderitaan seluruh umat Islam di dunia. Begitulah prinsip global yang dijejakkan oleh Islam sejak awal dihadirkan di muka bumi ini. Sebuah prinsip universal yang sangat indah dan mengagumkan.  Sungguh mempesona firman Allah berikut ini:

 

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara”. (Qs. al-Hujurat: 10)

 

Sangat relevan pernyataan ini, “Jika ada seorang mengaku mukmin, tetapi tidak memiliki rasa persaudaraan, ia adalah mukmin palsu. Dan jika ada persaudaraan yang bukan karena iman, adalah persaudaraan semu. Mereka hanya bersaudara di dunia saja. Maka sudah seharusnya umat Islam merasa sepenanggungan. Sudah saatnya umat Islam berbenah diri untuk merebut masa depan”.

Agar rencana masa depan bisa diwujudkan, maka segala hal mesti disiapkan. Kita mesti memiliki kekuatan. Allah berfirman,

 

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, dan musuh kamu, serta orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya”

(Qs. al-Anfal: 60)

 

Semua kekuatan yang dimiliki harus senantiasa dipersiapkan, diasah dan dilatih. Begitulah generasi pendahulu memberi kita spirit. Bahkan dalam sejarah dikisahkan bagaimana semangat seorang sahabat. Beliau berusia 90 tahun. Namun beliau begitu semangat untuk berlatih memanah dan menggunakan pedang. Suatu ketika beliau ditanyai oleh anaknya, “Untuk apa Ayah masih berlatih memanah dan menggunakan pedang?” Beliau menjawab: “wa a’iddu lahum……” (Dan hendaklah siapkan untuk mereka ….)

Adapun kekuatan di sini adalah semua kekuatan, di antaranya kekuatan iman, kekuatan persaudaraan, kekuatan harta, kekuatan fisik, kekuatan persenjataan dan kekuatan kepemimpinan.

Dengan kekuatan iman, sekalipun mereka hidup di masa kini tetapi semangat perasaan hati mereka seperti generasi yang hidup di abad pertama. Mereka yakin Islam-lah yang dapat menyelamatkan kehidupan mereka baik di dunia maupun di akhirat. Mereka tidak menyandarkan dirinya melainkan hanya kepada Allah semata. Mereka tidak merasa kuat melainkan dengan iman, tidak fanatik kecuali untuk al-Qur’an, dan tidak berbangga kecuali dengan Islam.

Kekuatan persaudaraan ini tumbuh bersamaan dengan kekuatan iman yang ada di dalam dada mereka. Terkait dengan hal ini kita tentu teringat ketika Rasulullah Saw. mempersaudarakan Sa’ad ar-Robbi al-Anshori dengan Abdurrahman bin Aur. Ketika Sa’ad ar-Robbi mengatkan, “Wahai saudaraku, rumahku ada dua, kalian tinggal pilih yang mana, dan aku akan perlihatkan istriku ada dua, kalian pilih yang mana, nanti akan saya ceraikan untuk kemudian dinikahkan kepadamu”. Dengan ikhlas Sa’ad ar-Robbi menyerahkan semua itu kepada saudaranya.

Namun Abdurrahman bin ‘Auf berterima kasih dengan iffah (tetap menjaga wibawa), lalu hanya meminta ditunjukkan jalan menuju pasar. Beliau adalah orang yang berhijrah meninggalkan istri dan anaknya di Mekkah.

Selain itu, kita juga mesti mempersiapkan kekuatan harta. Sebab kenyataannya, kelemahan pada aspek ini akan membawa ke arah kefakiran. Dalam sebuah hadits dijelaskan, “Terkadang kefaqiran itu membuat orang menjadi kafir.” Di sini sebenarnya Islam mengajarkan umatnya agar giat bekerja termasuk mencari nafkah. Bahkan ia berpahala ketika keluar keringat dalam mencari nafkah untuk keluarganya. Tidak sempurna keislaman seseorang sebelum menunaikan ibadah haji (sekalipun tidak berdosa orang yang tidak berhaji karena belum mampu), sehingga umat Islam harus bercita-cita untuk melaksanakan ibadah haji. Artinya, di sini butuh kerja keras untuk mendapatkan kekayaan (harta).

Kita mesti menjauhkan sikap masyarakat terutama umat Islam dari pemahaman yang mengartikan zuhud dengan miskin. Di antara mereka ada yang berpura-pura zuhud, padahal miskin. Padahal sebenarnya, zuhud itu meninggalkan harta, sedangkan miskin ditinggalkan harta. Kondisi seperti ini mesti kita akhiri. Ini bukan tugas satu atau dua elemen, tapi merupakan tugas atau agenda besar semua elemen yang ada, terutama umat Islam.

Selanjutnya, kekuatan fisik dan persenjataan. Untuk merebut masa depan diperlukan kekuatan yang prima termasuk kekuatan fisik dan persenjataan. Kita disuruh menjaga kebugaran tubuh agar tidak ada keluhan dalam melaksanakan ibadah, bahkan kita dilarang makan dan minum yang dapat melemahkan kondisi tubuh, melemahkan ingatan dan gangguan lainnya. Tubuh yang kita miliki ini adalah amanah dari Allah Swt., karena itu kita mesti menjaganya dengan baik.

Bagaimana generasi awal menjaga kesehatan tentu saja kita bisa memahaminya dalam sirah-sirah para sahabat. Di antaranya ada yang berlatih menunggang kuda dengan beberapa kuda dengan berpindah-pindah, ada yang berusia 90 tahun masih berlatih memanah dan bermain pedang. Begitu pula dengan persenjataan, mereka dapat memanah sambil menunggang kuda dengan cepat, meraka dapat menunggang kuda dengan senjata lengkap, tetapi musuh hanya melihat kuda kosong, sedang badan mereka berliuk-liuk di badan kuda.

Selain itu, kita juga mesti mempersiapkan kekuatan ilmu pengetahuan. Mari perhatikan ayat ini secara mendalam,

 

“… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat… ”.

(Qs. Al-Mujadilah: 11)

 

Allah meninggikan derajat orang berilmu sebagaimana yang diberikan kepada orang-orang beriman. Dengan ilmu orang bisa mengarungi berbagai rintangan. “Jika ingin dunia harus berilmu, jika ingin akhirat harus berilmu juga dan jika ingin dunia dan akhirat maka harus berilmu.” Demikian sebuah hadits mengingatkan kita.

Pada prinsipnya, ilmu adalah imamnya amal. Orang yang beramal tanpa ilmu lebih banyak merusak bahkan menyesatkan. Maka sangat dapat dipahami kalau Rasulullah Saw. mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu.

 

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”

 

Kemajuan suatu bangsa sesungguhnya dapat diukur dengan kemajuan pendidikannya, dengan kata lain kalau sebuah negara ingin maju maka tingkatkan kemajuan pendidikannya. Jangan ada kesulitan dalam menuntut ilmu, tidak ada lagi orang yang sedih tidak dapat menuntut ilmu karena miskin; karena itu kemiskinan dan kebodohan harus diperangi bersama.

Perubahan mendasar yang menghadirkan kesejahteraan bisa diwujudkan dengan pemimpin yang tangguh. Pemimpin yang baik memiliki kriteria seperti tubuh yang kuat, berakhlak mulia, kecerdasan yang mumpuni, kekayaan yang memadai, integritas yang tinggi, taat beribadah, serius pandai mengatur waktu dan selalu memikirkan kemajuan orang  lain.

Walaupun sangat langka, pemimpin semacam itu harus berusaha dihadirkan dari sekarang. Pemimpin dadakan tanpa didikan sering kali hanya menambah panjangnya penderitaan masyarakat, boleh jadi penduduk yang sengsara berkurang, tetapi bukan karena sejahtera, tapi penderitaannya telah diakhiri dengan meninggalkan alam fana. Sehingga berapa kalipun pergantian pemimpin tidak akan mampu melakukan apa-apa; bahkan hanya akan menghadirkan kesengsaraan bagi masyarakat luas.

Kelemahan pemimpin menunjukkan kelemahan rakyatnya. Seorang sahabat ditanya “Mengapa di zaman Rasulullah hidup kita lebih tentram dan aman, tidak ada huru-hara. Sekarang di zaman Anda tidak demikian.” Sahabat itu menjawab, “Di zaman Rasulullah rakyatnya seperti saya sedangkan di zaman kepemimpinan saya, rakyatnya seperti Anda”.

Bagaimana mungkin akan terpilih pemimpin yang baik jika rakyatnya tidak baik. Seringkali  masyarakat tidak peduli siapa pemimpinnya, tapi selalu antusias terhadap apa yang ingin didapatkan; sekalipun setelah itu  terpaksa harus mengelus dada karena menambah panjangnya penderitaan karena tidak mendapatkan apa-apa dari yang dipilihnya.

Orang rakus dan koruptor seringkali terpilih menjadi pemimpin karena masyarakat punya ingatan yang sangat pendek, bahkan seperti amnesia, seakan lupa apa yang telah dilakukan oleh sang pemimpin. Dengan demikian kalau ingin mencari pemimpin baik, kita harus sama-sama mendidik dan mencerahkan masyarakat supaya cerdas.

Di samping itu, kita juga mengusahakan kesejahteraan bagi mereka, karena orang bodoh dan miskin akan lebih murah harganya dan sekaligus menjadi sasaran empuk bagi calon pemimpin yang rakus dan suka membuat banyak janji.

Dalam mengeksekusi agenda merebut masa depan, tentu tidak hanya terfokus pada satu sarana saja. Banyak sarana yang bisa gunakan, asal tetap menjaga prinsip dan nilai-nilai dasar Islam dan kelayakan publik. Semua orang juga bisa terlibat sesuai potensi dan kemampuannya masing-masing.

Banyak di antara saudara kita yang telah memberi andil di masyarakat. Meraka telah membuat yayasan, LSM dan berbagai ormas, tetapi kerap kali di antara mereka ada yang enggan, bahkan sakan-akan mengharamkan partai. Di antaranya ada yang mengatakan partai tidak ada di zaman Rasulullah saw. Padahal yayasan juga tidak pernah ada di zaman Rasulullah. Mereka berkelit di yayasan bisa berdakwah, padahal berdakwah di partai lebih besar dan lebih mudah.

Seperti era demokrasi sekarang ini, kita melihat bahwa fungsi partai politik begitu dominan mewarnai perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kalupun tidak bisa dikatakan seratus persen, hampir semua kebijakan yang ada berasal dari saluran-saluran partai politik. Contoh, hampir semua presiden (kepala Negara) dan gubernur (kepala daerah) diusung oleh partai politik. Dan kebijakan yang ditetapkan merupakan hasil musyawarah atau kompromi antara Presiden dan DPR, Gubernur dan DPRD hasil dari pemilu yang diikuti partai politik.

Dalam konteks Jawa Barat, saya pernah membandingkan ketika di yayasan menggratiskan sebagian dari siswa, dengan susah payah mencari donator. Hasilnya terkadang dengan hati yang miris, apalagi melihat gaji guru yang kurang memadai. Tetapi setelah berpolitik dengan Gubernur (seorang kepala daerah, misalnya) kita bisa meminta menggratiskan siswa SD dan SMP se-Jawa Barat.

Sebaiknya memang tidak boleh saling menyalahkan, harus ada kerjasama yang baik, siapa yang di partai, siapa yang di yayasan, LSM dan lain-lain.  Karena semua itu adalah sarana (washilah), maka selama efektif membangun mesti didukung dan ditopang. Karena hanya dengan begitulah umat dan bangsa ini semakin maju dan menemukan takdir kebangkitannya.

Pemuda adalah harapan semua orang yang berpikir ke depan. Oleh sebab itu sangat wajar jika ada pemuda yang baik menjadi harapan kemajuan di masa mendatang.  Allah mengisahkan pemuda dalam surat al-Kahfi, mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Allah dan ditambahkannya petunjuk kepada mereka, bahkan dikisahkan tidurnya saja dapat merubah dunia.

Rasulullah membangun peradaban Islam dengan para pemuda. Pemuda memiliki peran yang amat sangat strategis, memiliki kelemahan tetapi menuju kekuatan. Kalau kelemahan pemuda tertutupi niscaya ke depan akan menjadi pimpinan yang tangguh. Karena pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan. Segala yang dipersiapkan dan yang direncanakan oleh pemuda di masa sekarang adalah sebuah kenyataan yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Tak dapat disangkal, bentangan sejarah perjuangan di setiap negara, pemuda selalu menggoresnya dengan tinta emas, dari mulai meletakkan pondasi kemerdekaan hingga menentukan arah “kompas”, ke manakah arah perjalanan sebuah bangsa atau negara ke depan. Pun tidak terkecuali di Indonesia. Pemuda mempunyai peran yang cukup penting. Pena sejarah bangsa ini juga mencatat, ihwal sumpah pemuda menjadi lokomotif untuk menalikan perjuangan dari pelbagai ragam perbedaan hingga menjadikan bangsa ini terbebas dari penjajahan dan mendeklarasikan kemerdekaannya.

Hemat saya, oleh pemuda, masa depan harus direbut, terlepas dari silang pendapat, kapan waktu yang tepat untuk merebutnya dan kapan sang pemuda menggenggam tongkat estafet kepemimpinan. Oleh karenanya, pemuda harus mengisi lorong-lorong kehidupan yang positif dalam segala aspeknya. Hingga benar—dan memang harus dibenarkan—pendapat dari Hovde, di tangan pemudalah sebagai pendorong untuk belajar, menemukan hal-hal yang baru untuk pembangunan serta mampu memberi kritik serta solusi konstruktif. Ringkas kata, pemuda dengan segudang potensi yang ada di dalam dirinya merupakan medium persemaian. Untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang mendorong dan memelopori proses perubahan dan pembangunan di masa depan.

Pembangunan kita saat ini lebih pada domain demokratisasi dan iklim keterbukaan. Ini berarti bahwa masyarakat kita telah semakin dewasa dalam banyak hal. Dewasa bukan melulu dalam menikmati pembangunan melainkan dewasa dalam partisipasi yang diperankannya. Ini gambaran sederhana dari masyarakat yang akan kita hadapi kini dan masa-masa yang akan datang. Dan sekaligus merupakan tantangan problematis pemuda, pemimpin masa depan.

Lebih jauh dari itu, optimisme publik dan mimpi bersama bangsa bisa dibangun. Jika para pendiri Republik mengibarkan cita-citra merdeka sebagai mimpi bersama, perpaduan kepemimpinan senior-yunior dan dominasi kaum muda harus terus digencarkan dengan menggunakan tujuan nasional sebagai mimpi bersama elemen bangsa.

Karena itu, tujuan nasional tersebut menjadi sublime dari semangat kaum muda dalam merengkuh masa depan. Dengan sepenuh hati kaum muda harus berketetapan hati melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, meningkatkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta mewujudkan perdamaian dunia yang berdasarkan kemerdekaan abadi dan keadilan sosial.

Melihat gelombang kaum muda yang terus bergerak saat ini, partai politik dituntut melakukan penyesuaian-penyesuaian radikal. Ia bukan saja harus berani menjunjung kader muda partai untuk mengambil alih sebagian besar peran strategis di tubuh partai, tetapi lebih jauh dari itu, berani mencalonkan figur berkarakter dari kaum muda. Tetapi kalau partai ingin mati, silahkan regenarasi diperlambat dan oligarki di dalam tubuh partai dipertahankan. Partai yang mengambil langkah tersebut mungkin tinggal menunggu waktu untuk ditinggalkan pengikutnya, termasuk pengikut setianya sekalipun.

Ibarat aliran anak-anak sungai yang akhirnya bertemu dan menjadi lautan, energi kaum muda Indonesia sejatinya sangat tidak terbatas. Adalah ahistoris untuk mengatakan bahwa kaum muda tidak berkemampuan. Mereka melakukan perjuangan dalam bentuk senjata, darah dan nyawa mereka sendiri. Bukan saja untuk Indonesia, tapi juga untuk peradaban dunia. Dan tentu yang utama adalah untuk Islam. Satu kemuliaan heroik yang terus dibentangkan oleh sejarah. Karya ini mengajak sekaligus memprovokasi kita, lintas generasi dan zaman, untuk meniti peran sejarah itu. Selamat membaca! []

 

 

 

Kota Cirebon; Senin, 1 Dzulhijjah  1431  H

8 November 2010 M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s