Menulis di atas air mata

18 Sep

“Mungkin inilah yang mesti aku lalui, menangis dan menangis. Bagiku, tak ada menangis yang indah selain karena taubat dan mohon ampun atas dosa. Semuanya biasa dilakukan kapan dan dimanapun. Apapun kondisinya, bahkan apapun yang terjadi, aku tetap menulis. Walau di atas air mata. Air mata kesedihan dan penderitaan”.

Aku tak begitu tahu mengapa hari ini aku menitikan air mata. Jujur, aku benar-benar tidak tahu. Pada awalnya aku menulis beberapa tulisan sederhana, kemudian membaca beberapa buku bacaan yang berada di dekat meja tulisku. Akupun lelah. Sejenak aku diam, kemudian minum air yang masih tersisa dalam gelas di samping tempatku duduk. Karena lelah dan lumayan ngantuk, buku-buku itu aku simpan di atas laptop mungil yang tak libur menemani kesepianku di Gg. Cempaka No. 133. Akupun tidur.

Percaya atau tidak percaya, aku menangis dalam tidurku. Akhirnya aku terbangun, ternyata aku masih menangis. Aku tak begitu tahu mengapa aku menangis. Jujur, hingga kini aku belum menemukan jawaban yang pasti apa gerangan yang membuat aku menangis. Kalau sekedar air mataku keluar sedikit itu tak mengapa. Tapi ini benar-benar aku menangis. Seperti orang biasa menangis.

Ya Allah, ada apa denganku. Apakah aku banyak dosa kemudia jiwaku menangis dan mengabarkan kepadaku dengan air mata yang tak kuundang? Apakah karena aku sedang sedih lantaran beberapa hari ini aku merasakan suasana yang berbeda dengan hari-hari biasanya?

Ya aku sadar, aku adalah seorang hamba yang banyak dosa dan khilaf. Tak ada yang kututup-tutupi. Karena Allah Maha Melihat, dan Mengetahui segalanya. Aku juga merasakan kalau aku memang makhluk yang lemah dan membutuhkan kekuatan dari Allah yang Maha Perkasa. Hanya dengan itulah aku menjadi kuat dan semangat. Bagaimanapun, acara walimahanku tinggal beberapa hari lagi. Sementara persiapanku masih seadanya. Tak ada lagi jalan selain mengadu pada-Nya, termasuk lewat tulisan sederhanaku ini.

Ya Allah, berilah hamba kekuatan agar mampu melewati ini semua. Yang jelas, hamba benar-benar butuh bantuan dan pertolongan untuk persiapan acara walimahanku pada tanggal 4 Oktober kelak. Ya Allah, hamba benar-benar sendiri ya Allah. Hamba hanya memohon kekuatan dan keadilan-Mu. Kalau acara walimahanku tanggal 4 Oktober nanti memang bagian dari kesungguhanku untuk menunaikan salah satu perintah agama-Mu, maka mudahkanlah ya Allah.

Ya Allah, tulisan ini sengaja hamba torehkan sebagai saksi atas apa yang terjadi dan pernah hamba alami. Ya Allah, biarlah jari-jariku semakin kuat dan semangat untuk terus berkarya. Biarkan aku menulis dan menulis, walau aku tunaikan semuanya di atas tangis dan air mata. Ya, menulis di atas air mata. []

Geger Kalong; Kamis, 16 September 2010

07 Syawal 1431 H, Pukul 17.00-17.20 WIB

Iklan

Satu Tanggapan to “Menulis di atas air mata”

  1. tri lego indah 20 September 2010 pada 13:57 #

    Subhanallah ………

    ^_^

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: