Menghidupkan Kembali G 30 M

Upaya memasifkan Gerakan 30 Menit:

membaca, menulis dan berdiskusi perhari[1]

Oleh: Syamsudin Kadir

Kaderisasi KAMMI Periode 2008-2010/Editor Muda Cendekia Jakarta

SUATU ketika aku bermimpi. Indonesia, sebuah negeri di mana aku tinggal dan hidup berubah menjadi bangsa besar; menjadi negara berperadaban. Aku bahkan juga penduduk bumi tercengang dan berdecak kagum. Indonesia menjadi model negara masa depan yang memiliki bangunan peradaban yang unik. Semua rakyat dan para pemimpinnya menjadi rujukan bagi bangsa-bangsa besar dunia dalam membangun model baru negara bahkan peradaban mereka.

Di lain kesempatan, aku juga ditaburi mimpi indah. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), sebuah organisasi di mana aku memperoleh banyak hal: pengalaman, ilmu, persaudaraan, sahabat dan nilai-nilai kehidupan, menjadi organisasi (gerakan) yang besar dan memiliki daya pengaruh yang dahsyat. Bahkan berbagai organisasi duniapun tak urung untuk datang mengunjungi KAMMI, aktivis-aktivisnya. Semua elemen pemuda bahkan para elit penguasa dan rakyat sekalipun memberi cap ‘jempol’ untuk KAMMI. Bukan karena apa-apa, tapi karena KAMMI ikut terlibat dalam membangun bangsanya bahkan dunia dengan memasifkan turats[2]unik. Itu yang terrekam dalam mimpiku beberapa waktu yang lalu.

Singkat cerita, eh akupun terbangun. Ternyata itu benar-benar mimpi. Iya mimpi dalam istirahat malamku beberapa waktu yang lalu. Selintas pikiranku tercengang. Kok, aku bisa mimpi seperti ini? Tak satupun jawaban yang terlintas dalam benak. Yang ada hanya sebuah ingatan akan pernyataan seorang sahabat bahwa isi mimpi yang hadir dalam mimpi ketika tidur adalah akumulasi dari ide, pikiran, keinginan, kemauan dan cita-cita yang dibicarakan atau bahkan yang diformulasi sebelum tidur. Selintas aku berdecak kagum dan menganggukan kepala tanda percaya sambil berkata, “Iya juga yah!”.

Percaya tidak percaya, itu adalah mimpiku beberapa waktu yang lalu. Jujur, pada awalnya aku memiliki semangat untuk membangun budaya membaca, menulis dan berdiskusi. Karena itu, akupun tergoda untuk melakukan berbagai upaya agar budaya ini benar-benar menjadi nyata dalam ruang hidupku dan juga lingkunganku. Tak heran jika kemudian, demi mewujudkan ide ini, akupun memanfaatkan setiap momentum untuk membumikan budaya ini. Misalnya, setiap ada undangan mengisi kajian di manapun aku memiliki standar sendiri, seperti panitianya mesti membuat tulisan seputar materi yang diamanahkan untukku. ‘Perlakuanku’ yang unik ini beberapa kesempatan mendapatkan ‘perlawanan’ dari beberapa orang, namun tanpa menunggu waktu yang lama merekapun sadar bahwa ini bukanlah ‘pendzholiman’ tapi pendewasaan dan pembangunan turats. Akupun menang. Mengapa? Karena bisa kupastikan bahwa setiap orang yang menulis pasti membaca. Biasanya, kalau ada orang yang membaca—atau bahkan menulis—menemukan kesulitan, mendapatkan ide baru dan mengalami efek dari apa yang dibaca atau yang ditulis  biasanya dengan sendirinya bertanya, menyampaikan atau bahkan mendiskusikan kepada orang atau sahabat-sahabat terdekatnya. Walau sederhana—sekali lagi—aku menang; aku berhasil.

Itu yang aku bangun beberapa waktu terakhir. Anehnya, ternyata apa yang aku bangun di luar waktu tidur itu terrekam dalam mimpi ketika tidur. Masya Allah. Indahnya mimpiku ini. Jujur, jarang-jarang aku bermimpi seperti ini. Selama ini yang aku mimpikan adalah jalan-jalan dengan teman-teman sebayaku ketika di pesantren, main bola bahkan makan-makan. Bahkan yang paling unik adalah ketika aku bermimpi tentang main tebak-tebakkan dengan teman-temanku ketika Sekolah Dasar. Iya, benar-benar mimpi dalam tidur. Lebih anehnya lagi, ternyata apa yang terrekam dalam mimpiku ketika tidur itu kini mulai terbangun dalam ruang nyata. Jujur, dari sinilah aku menjadi bertambah percaya bahwa kebiasaan itu bisa terrekan dalam mimpi ketika tidur, dan setiap mimpi yang terrekan dalam tidur kemungkinan besar akan menjadi nyata dalam ruang kenyataan. Ini mungkin jarang, asing dan aneh, tapi aku merasakan hal itu dan mengalaminya.

Yang terrekam dalam ingatanku terkait mimpi di atas adalah masifikasi 3 budaya atau yang sering aku sebut dengan turats (yaitu): membaca, menulis dan berdiskusi. Bagiku, ketiga hal ini merupakan tonggak bagi bangkitnya sebuah bangsa dan peradaban besar. Jika ketiga hal di atas sudah menjadi budaya yang membumi, maka percayalah perubahan total akan menjadi kenyataan yang segera terwujud. Ideku ini mungkin tak selalu pada ruangnya yang tepat, namun percayalah bahwa jika semuanya memiliki semangat yang sama, maka semuanya akan memperoleh manfaat. Lebih dari itu, kalau beramal nyata susah, lalu mengapa bermimpi yang gratis saja enggan?

Nah, agar ide membangun turats ini menjadi nyata dan bisa dimasifkan secara menyeluruh dalam ruang yang lebih luas, maka adalah lebih bijak bagiku jika memberikan penjelasan atau semacam penalaran sederhana, baik secara filosofi maupun secara praksis, terkait dengan ketiga budaya tersebut. Apa yang kuungkap tentu tak luput dari ketidaksempurnaan. Karenanya, kalau memungkinkan silahkan bagi siapapun yang membaca tulisan ini, atau siapapun yang memiliki gagasan seputar membangun ketiga budaya tersebut, aku mohon agar dengan tulus hati menyempurnakan gagasan ini. Selanjutnya, izinkan aku untuk menjelaskan sedikit pendapat atau pikiran terkait dengan upaya membangun budaya tersebut.

Membaca dan Membaca

Aku percaya bahwa setiap kita percaya dengan ‘clotehanku’ berikut ini. “Fir’aun merupakan manusia besar yang namanya abadi dalam sejarah. Ternyata, kekuasannya dibangun tidak semata-mata ditopang oleh kekuasaan militer, tapi juga dengan ilmu pengetahuan. Dalam sejarah tercatat, pada saat berkuasa, dia memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi sejumlah 20.000 buku. Ini suatu bukti bahwa pengetahuan adalah kekuatan sebagaimana dikatakan kemudian oleh Francis Bacon, siapapun pelakunya”.

Perlu diketahui, jauh sebelum Bacon mengucapkan kata-kata tersebut, Islam telah mewajibkan pada umatnya untuk menuntut ilmu yang disimbolkan dengan perintah iqra’.

Yang aku ketahui dari beberapa buku, perintah membaca adalah perintah utama dan pertama dalam Islam sebelum diperintahkannya kewajiban yang lain. Perintah ini kemudian direalisasikan dengan penuh kesadaran oleh para sahabat dan generasi berikutnya. Akibat dari itu adalah suatu ketika kita menyaksikan peradaban Islam menjadi sokoguru peradaban dunia yang menguasai lebih dari sepertiga jagad ini. Peletak dasar ilmu-ilmu yang ada sekarang lahir dari tangan-tangan para ulama yang memiliki ‘kegilaan’ dalam membaca.

Kekagumanku terhadap apa yang pernah dicapai oleh dunia Islam di masa lalu tentu bukan tanpa alasan. Peradaban Islam pernah jaya karena kesungguhan umatnya untuk membangun turats, cinta ilmu dan semangat berilmu. Kemajuan sebuah bangsa atau sebuah peradaban memang selain karena bangunan sistem negara, efektifitas peran setiap elemen masyarakat, yang utama lagi adalah masifnya elan vital membaca; karena membaca adalah kunci untuk memasuki gerbang pengetahuan. Orang bijak mengingatkan kita, “Buku adalah gudang ilmu dan membaca adalah kuncinya”. Buku adalah sebuah simbol upaya dalam menemukan kembali kunci peradaban baru.

Iqra’! Read! Lesen! Lire! Letto! Yomu! Ilg-gi! Chitat’! Diavazo! Bahasa Indonesinya adalah bacalah! Kata perintah ini merupakan firman Allah pertama yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad Saw. Bacalah! mengandung perintah yang menghendaki sebuah perubahan dari pasif menjadi aktif, dari diam menjadi bergerak, dari tidak bisa menjadi bisa, dan dari tidak tahu menjadi tahu. Perubahan ini menunjukkan telah tejadinya sebuah kemajuan dengan bukti bertambahnya ilmu dan keahlian. Dengan demikian, siapapun yang ingin ilmu dan keahliannya bertambah, berarti ia harus membaca.

Lalu, suatu ketika seorang temanku bertanya, “Emang membaca apa sih?” Jujur, aku belum cukup ilmu tuk menjawab pertanyaan sederhana itu. Namun, tak mengapalah kiranya jika aku mencoba untuk sedikit berbagi atas apa yang aku ketahui. Waktu itu, aku menjawab sekaligus memberi penjelasan sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang pernah kualami selama beberapa waktu terakhir. Agar lebih tersistematis, waktu aku menjawabnya dalam bentuk tulisan. Berikut aku kutipkan:

Membaca berasal dari kata dasar baca, yang artinya memahami arti tulisan. Membaca yang dalam bahasa Arab iqra’ dan bahasa Inggris reading, menjadi bagian penting dalam mencerdaskan manusia. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri yang tertulis dan tidak tertulis.

Menurut Tate Qomaruddin, kata iqra’ merupakan perintah yang tidak menyebut objeknya. Kadi, membaca merupakan perintah yang memerintahkan untuk membaca apapun, baik ayat-ayat yang tersurat maupun yang tersirat, baik ayat-ayat yang bersifat qouliyyah (wahyu) maupun ayat-ayat kauniyyah (semesta).

Hodgson dalam bukunya Learning Modern Languages mengatakan, membaca merupakan suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Menurut Finochiaro dan Bonomo, membaca adalah mengambil serta memahami arti atau makna yang terkandung dalam bahasa tertulis.

Tentu tak cukup di situ. Pertanyaan lain pun muncul. Tapi  alhamdulillah, pertanyaan berikut hanyalah pertanyaan selintas dalam pikiranku waktu itu. “Lalu, bagaimana strategi atau caranya agar membaca menjadi budaya yang membumi?” Dengan tanpa aling-aling, akupun langsung memberikan jawaban apa adanya; tentu lagi-lagi dalam bentukan tulisan sederhana.

Setiap orang memiliki pendapat dan pengalamannya masing-masing, namun tak salah jika di sini aku menyampaikan beberapa hal yang layak dijadikan sebagai komparasi bahkan bisa diujicobakan dalam ruang nyata. Sederhana dan sangat sederhana, silahkan mengambil hikmahnya!

Ada beberapa kunci yang ditemukan dari mempelajari budaya membaca para ulama. Mengapa semangat membaca mereka bagaikan api yang tak kunjung padam? Apa rahasia mereka sehingga memiliki konsistensi membaca bagaikan batu karang yang kokoh? Jawabannya adalah karena mereka memiliki kesadaran, cita-cita, ilmu dan tekad yang akan coba dijelaskan satu persatu berikut ini.

  • Kesadaran

Peradaban selalu bermula dari gagasan. Peradaban besar selalu lahir dari gagasan-gagasan besar. Gagasan-gagasan besar selalu lahir dari akal-akal raksasa. Apabila kita membaca sejarah, ternyata sahabat yang ditinggalkan Rasulullah Saw. memang sedikit, tapi mereka semua membawa semangat dan kesadaran sebagai pembangun peradaban. Kesadaran inilah sesungguhnya warisan yang sangat berharga yang kemudian secara estafet diturunkan kepada generasi berikutnya.

Kesadaran itu terbentuk sejak dini dalam benak para sahabat. Allah Swt. menciptakan manusia untuk beribadah dan mengelola serta menegakkan khilafah di muka bumi. Untuk itu, Allah Swt. memberi mereka petunjuk berupa al-Qur’an dan menurunkan seorang rasul sebagai komunikator Allah sekaligus sebagai pemberi contoh pelaksana dalam kehidupan nyata.

Sejak awal mereka menyadari bahwa al-Qur’an bukanlah sebuah buku filsafat kehidupan yang kering dan rumit atau pikiran-pikiran indah yang tersimpan di menara gading dan tidak mempunyai alas dalam realitas kehidupan. Al-Qur’an adalah manual tentang bagaimana seharusnya kita mengelola kehidupan di bumi ini. Bumi ini adalah ruang dan tempat di mana kita menurunkan kehendak-kehendak Allah yang termaktub dalam wahyu-Nya, menjadi satuan-satuan realitas dalam kehidupan manusia di muka bumi. Bumi adalah realitas kasat mata yang harus dikelola manusia.

Karena alasan tersebut, doktrin al-Qur’an tentang Allah, rasul, manusia, dan kehidupan sejak awal menegaskan sebuah kesadaran yang integral bahwa kehidupan yang sesungguhnya adalah akhirat dan bahwa misi manusia di dunia ini adalah ibadah, tapi ruangnya adalah bumi. Karena itulah mereka mempunyai kesadaran yang kuat tentang ruang; ruang di mana mereka hidup, ruang yang menjadi tempat untuk menumpahkan seluruh proses kreatif mereka, yaitu bumi.

Kesadaran tentang ruang ini telah menanamkan sikap realisme dalam benak mereka. Oleh karena itu, mereka bergerak lincah dalam wilayah itu. Proses kreativitas mereka tumpah ruah di sini, dalam semangat merealisasikan kehendak-kehendak Allah di muka bumi, dalam semangat memakmurkan dunia, dalam semangat membangun peradaban. Kesadaran tentang ruang, sejak awal, membuat peran intelektual dan kerja pemikiran mereka terpola dalam kerangka sebagai arsitek peradaban.

Kesadaran seperti itulah sesungguhnya yang melatarbelakangi mereka bersemangat membaca. Jadi, kalau ditanya mengapa orang-orang besar memiliki kegilaan yang sangat dalam membaca? Tentu saja jawabannya adalah karena mereka memiliki kesadaran pentingnya membaca. Oleh karena itu, agar seseorang mau membaca, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangkitkan kesadaran.

Proses Penyadaran

Yang dimaksud dengan penyadaran di sini adalah sebuah proses yang dapat membuat seseorang sadar atas diri dan situasinya yang kemudian akan membuka jalan untuk berusaha mengubahnya.

Menumbuhkan kesadaran sangat perlu sebagai langkah awal dari bangkitnya motivasi. Kesadaran merupakan kunci yang harus dimiliki seseorang agar perubahan dapat tercapai. Dengan adanya kesadaran yang dimiliki, maka seseorang akan sangat mudah untuk menyelesaikan problem-problem pribadi atau sosial yang ada di masyarakat.

Dalam proses penyadaran ini, seseorang akan dihadapkan pada berbagai maca problematika sosial, seperti kemiskinan, pengangguran, konflik, persaingan, dan lain-lainnya yang terjadi dalam kondisi aktual. Seseorang diajak bersama-sama membaca secara kontekstual lingkungan sosial yang senantiasa mengepung kehidupannya setiap hari. Ia harus mengambil posisi sebagai subjek, bukan objek dan menjadikan realitas sosial sebagai materi pembelajaran.

Proses pergulatan dengan realitas dilakukan secara dialogis yang berorientasi pada terwujudnya kesadaran kritis dalam diri. Pada akhirnya—menurut Suherman dalam bukunya Bacalah!—seseorang akan memasuki tiga jenis kesadaran sebagaimana digolongkan oleh Paulo Freire, yaitu sebagai berikut: Kesadaran magis (magical consciousness)[3], Kesadaran naif (naival consciousness)[4] dan Kesadaran kritis (critical consciousness)[5].

Seseorang belum dikatakan sadar apabila belum mengetahui keadaan (realitas) yang sedang dialaminya, serta belum mau mengubah keadaan tersebut menjadi lebih baik. Dalam proses penyadaran ini, perlu ditekankan bahwa yang sangat bertanggung jawab atas masa depan adalah dirinya sendiri. Sebagaimana diterangkan oleh Allah dalam al-Qur’an surat ar-Ro’du ayat 11, Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan[6] yang ada pada diri mereka sendiri”.

Sisi dalam manusia dinamai nafs, dan sisi luarnya dinamai jism. Jika kita ibaratkan sebagai wadah, berarti nafs sebagai wadah besar yang di dalamnya terdapat kotak yang berisikan segala sesuatu yang disadari oleh manusia (gagasan dan kemauan). Al-Qur’an menamai kotak itu dengan qolbu (hati).

Di  dalam qolbu inilah tersimpan suatu kesadaran (tingkah laku manusia). Suatu masyarakat tidak akan berubah keadaan lahiriahnya sebelum mereka mengubah lebih dahulu apa yang ada dalam wadah nafas-nya, antara lain adalah gagasan dan kemauan atau tekad untuk berubah. Gagasan yang benar yang disertai dengan kemauan suatu kelompok masyarakat dapat mengubah keadaan masyarakat itu. Akan tetapi, gagasan saja tanpa kemauan atau kemauan saja tanpa gagasan tidak akan menghasilkan perubahan.

Hasil akhir yang diinginkan dari proses penyadaran ini adalah adanya perubahan paradigma—yang merupakan sumber dari sikap dan prilaku manusia. Perubahan paradigma ini akan mampu menggerakkan seseorang dari satu cara melihat dunia ke cara yang lain. Hanya dengan perubahan paradigma inilah perubahan budaya baca yang kuat dalam diri seseorang. Seseorang yang tadinya tidak peduli terhadap berbagai macam persoalan menjadi merasa bertanggung jawab dan siap untuk mengambil peran. Culture is the way we think, the way we do thing aroud here (Budaya adalah cara kita berpikir yang akan mempengaruhi cara kita melakukan segala hal di sekitar kita).

Untuk menuju  perubahan budaya membaca, langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara merubah paradigma, terutama jika ingin menggali lebih banyak manfaat dari membaca. Harus mulai menempatkan pola berpikir ke jalan yang benar bahwa membaca adalah sebuah kebutuhan jika ingin terus bertahan hidup dalam persaingan global yang semakin ketat.

Berdasarkan uraian ini, dapat dipahami mengapa para ulama, para pahlawan atau orang-orang besar selalu memiliki semangat atau motivasi membaca yang tinggi. Dari memoar atau biografi yang mereka tulis, dapat dipelajari bahwa motivasi membaca mereka selalu berkobar dikarenakan mereka semua memahami realitas objektif persoalan aktual yang dihadapinya, khususnya realitas kolonialisme atau penindasan terhadap kemanusiaan maupun ketidakadilan.

Jadi, upaya pertama untuk membangkitkan kesadaran membaca adalah dengan mengajak seseorang atau masyarakat untuk mengetahui problematika bangsa dari berbagai macam dimensi serta faktor-faktor penyebabnya.

Biasanya, mereka yang gila membaca adalah mereka yang telah memiliki tujuan hidup yang jelas dan memiliki rencana jauh ke depan. Gelora membaca hanya akan dimiliki oleh mereka yang masih merasa belum memiliki kesempurnaan ilmu pengetahuan. Bagi mereka, buku adalah gudang dari banyak jenis ilmu; dan hanya dengan membacalah semuanya bisa terkuasai.

  • Cita-cita

Cita-cita (himmah), mimpi atau visi adalah hasrat jiwa untuk mencapai tujuan tertinggi yang memungkinkan, baik di bidang ilmu maupun amal. Mimpi adalah kata yang menyederhanakan rumusan dari segenap keinginan-keinginan, cita-cita yang ingin diraih dalam hidup, atau visi dan misi. Jika ia seperti sebuah maket, ia adalah miniatur kehidupan yang ingin dicita-citakan. Kekuatan mimpi terletak pada kejelasannya. Sebuah keinginan yang tervisualisasikan dengan jelas dalam benak akan menjelma menjadi kekuatan motivasi yang dahsyat. Kemauan dan tekad menemukan akarnya pada mimpi.

  • Ilmu Pengetahuan

Para ulama dan orang-orang besar selalu memiliki antusiasme dalam mencari ilmu karena memiliki paradigma yang jelas tentang ilmu pengetahuan. Dalam paradigma mereka, ilmu merupakan kebutuhan primer bagi manusia seperti kebutuhan makan, minum, bahkan lebih dari itu.

Selain itu, Islam juga memberikan perhatikan yang besar terhadap ilmu. Dalam beberapa riwayat dijelaskan:

“Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim”

(Hr. Bukhori dan Muslim)

“Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat..”

(Hr. Abu Daud)

“Sesungguhnya malaikat meletakan sayap-sayapnya karena ridha kepada para ahli ilmu”

(Hr. Bukhori dan Muslim)

  • Tekad

Ust. Anis Matta dengan sangat cerdas menjelaskan fenomena tekad bahwa ia adalah jembatan di mana pikiran-pikiran masuk dalam wilayah fisik dan menjelma menjadi tindakan. Tekad adalah energi jiwa yang memberikan kekuatan pada pikiran untuk mengubahnya menjadi tindakan.

Tekad memberi dorongan dan tenaga untuk melakukannya. Pikiran memberi arah, sedangkan tekad mendorong untuk melangkah. Pikiran menerangi jalan kehidupan, sedangkan tekad meringankan kaki untuk menjalaninya.

Untuk mewujudkan budaya ini tentu perlu dimensi-dimensi utama yang mendukung. Setiap manusia secara manusiawi pasti menginginkan keuntungan dari setiap apa yang dilakukannya. Lalu, apa sih keuntungan membaca? Aku percaya kalau setiap orang memiliki jawabannya sesuai pengalamannya masing-masing. Aku juga demikian. Namun, agar lebih sempurna, alangkah baiknya bagiku kalau mengutip pendapat orang-orang yang berpengalaman lebih. Akhirnya, akupun membaca beberapa buku seputar budaya membaca. Namun, yang lebih asyik untuk dijadikan sebagai rujukan menurutku adalah Prembayun Miji Lestari. Dalam bukunya Bikin kamu tergila-gila membaca Mba Lestari menyebutkan bahwa manfaat membaca adalah:

  1. a. Memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan
  2. b. Meningkatkan kemampuan berimajinasi
  3. c. Bisa menemukan hal baru yang berbeda dari biasanya
  4. d. Mampu mengubah sudut pandang, Bisa menghilangkan stres dan beban pikiran
  5. e. Mengembangkan kreativitas
  6. f. Membaca merupakan gerbang perubahan
  7. g. Menguatkan kepribadian
  8. h. Mempertajam daya analisis dan Mengembangkan pola pikir.

Aku tak perlu memberikan komentar atas gagasan Mba Lestari. Karena aku percaya bahwa ide-ide tersebut sudah layak bagiku untuk dijadikan referensi tambahan dalam membangun budaya ini.

Lalu, bagaimana caranya agar terbiasa membaca? Ada beberapa hal yang bisa dijadikan penguat, seperti:

  1. 1. Bangun paradigma positif atas budaya membaca
  2. 2. Biasakan membaca meski hanya sedikit
  3. 3. Cari lingkungan yang mendukung
  4. 4. Kendalikan TV
  5. 5. Menentukan jenis selingan yang tepat
  6. 6. Rencanakan jadwal membaca
  7. 7. Sadarilah penting dan manfaat membaca
  8. 8. Berawallah dari buku-buku yang sederhana
  9. 9. Seringlah ke toko buku atau perpustakaan
  10. 10. Tumbuhkan minat dan keinginginantahuan sesuatu lebih besar
  11. 11. Rajin dan rutin
  12. 12. Percayalah bahwa membaca itu menyenangkan
  13. 13. Miliki perpustakaan pribadi

Sebagai prangkat teknis, beberapa tips berikut juga layak diujicobakan.

  1. Lakukan gerakan-gerakan yang mengarah pada aktivitas cinta dan gemar membaca
  2. Beli dan bacalah bacaan yang kita senangi guna merangsang daya tarik membaca
  3. Mulailah dalam keadaan paling menyenangkan dan  santai dalam membaca
  4. Bacalah bacaan sedikit demi sedikit tapi tetap kontinyu untuk menghindarkan beban berat membaca banyak sekaligus
  5. Jangan memaksa diri untuk terus membaca jika tidak berselera dan bertambah bete
  6. Cobalah membaca buku selain yang kita sukai
  7. Catat dan renungilah apa-apa yang sudah kita baca
  8. Endapkanlah pikiran barang sejenak, untuk kemudian melakukan pengembangan atas apa yang sudah kita baca
  9. Upayakan apa yang dibaca dikerjakan
  10. Berdo’a.

Lalu apa lagi? Sebelum jauh-jauh, ada baiknya bagiku untuk menjelaskan sedikit ide. Sebagai awalan,  ketahui dulu apa tujuan-tujuan membaca. Secara sederhana, ada 3 tujuan membaca, yaitu: Pertama, membaca sebagai hiburan (reading as relaxation); kedua, membaca untuk memperoleh ilmu pengetahuan (reading for to Get Science); ketiga, membaca kritis (menganalisa dan mencermati lebih dalam)

Metode membaca kritis adalah salah satu metode yang punya basis kekuatan yang cukup kuat. Lalu, bagaimana trik membaca bacaan dengan metode membaca kritis? Banyak cara sebetulnya, tapi paling tidak berikut adalah hasil obrolanku dengan beberapa teman yang biasa menggunakan metode ini. Dari beberapa poin yang sempat aku obrolkan, aku sederhanakan menjadi beberapa poin, yaitu: Bacalah buku atau bacaan sepintas sebelum membaca keseluruhan; Tandailah yang tidak dimengerti; Bacalah dengan saksama; dan terakhir adalah Evaluasi yang kita baca.

Begitulah sedikit gagasanku terkait upaya membangun budaya membaca. Sederhana dan sangat sederhana. Sebetulnya tidak ada gagasan baru, yang ada hanyalah pengembangan dari apa-apa yang sudah sering disampaikan oleh mereka-mereka yang memiliki ilmu dan pengalaman yang cukup. Namun demikian, bagaimanapun yang utama dari semua itu adalah kemauan dan kesungguhan untuk menunaikan secara tulus budaya ini.

Menulis dan Menulis

Lalu, bagaimana memulai menulis? Aku sangat percaya bahwa teman-teman sudah lebih tahu dan paham. Aku hanya ingin sedikit berbagi. Kalau boleh mengusulkan, silahkan teman-teman membaca buku “Daripada Bete, Nulis Aja! Karya Caryn Mirriam-Goldberg, Dunia Kata karya Fauzil Adhim dan lain-lain.” Buku-buku tersebut sangat dahsyat.

Selanjutnya, di sini aku juga mengutip beberapa pernyataan dan pengalaman beberapa tokoh terkait kepenulisan. Mungkin bukan teori menulis, tapi lebih kepada motivasi. Atau apalah namanya, silahkan teman-teman sendiri yang menyimpulkan nanti setelah membaca pernyataan-pernyataan beberapa penulis ternama—yang kukutip dari buku yang sangat luar biasa, “Chicken Soup for the Writer’s Soul” kumpulan tulisan Jack Canfield, Mark Victor Hansen dan Bud Gardner—berikut ini (sebetulnya pada tulisan sebelumnya sudah saya kutip, namun tak mengapa jika kemudian dikutip kembali di sini):

“Menulis adalah tentang frase-frase yang mengesankan, penggambaran yang menyentuh. Menulis adalah tentang tersambung dengan pemahaman orang lain mengenai dunia.

Pagi itu aku belajar bahwa menulis adalah tentang memberi seseorang, satu pembaca, kata-kata yang tepat.”  Catharine Bramkamp)

”Ketika aku masih muda, satu-satunya hal yang pernah ingin kulakukan adalah menjadi penulis. Aku bernasib baik mempunyai karier yang menantang sebagai seorang penulis, guru, editor, dan penerbit. Melalui hubunganku yang relatif singkat dengan Theodore Sturgeon, aku telah belajar bahwa cara paling pasti untuk mewujudkan impianku sendiri adalah dengan membantu orang lain mencapai impian mereka. Nasib kekaisaran tidak tergantung pada karyaku atau pada karya siapa pun. Tapi kami yang telah diberi anugerah ini mempunyai tanggung jawab untuk terus menulis dan menerbitkan karya kami sampai terbentuk sekelompok karya. Pesan kami penting. Dunia memerlukannya. Ini pekerjaan kami. Jangan pernah lupa: Apa pun yang kalian tulis. Keyakinan kalian akan terpancar.” (Elizabeth Engstrom)

“Setiap penulis mempunyai adegan besar dalam pikiran mereka, tapi jika kamu tidak memikirkan dengan teliti adegan-adegan kecil yang membangun saat puncak dalam bukumu, pembacamu mungkin menjadi bosan atau tidak sabar dan melemparkan bukumu ke samping sebelum mencapai bagian penting yang mengilhamimu untuk mulai menulis.

Kamu harus mempertahankan kesederhanaan tulisanmu. Bukan kamu yang berhak merevisi bahasa Inggris. Kamu harus selalu mengeja dengan benar dan menggunakan tanda baca yang tepat.

Membungkuklah bersama angin. Ketika kekecawaan datang, sesuatu yang pasti kamu alami, jangan menjadi kaku karena perasaan pahit. Bersikaplah anggun. Pasrah. Anggap dirimu sendiri sebagai sebatang anak pohon, menyerah pada keadaan tanpa patah atau putus. Membungkuk mengikuti angin membuatmu bisa menegakkan diri lagi ketika kesulitan sudah berlalu.” (Chip Grafton)

“Aku beruntung dibesarkan dalam sebuah keluarga di mana buku sangat dihargai. Orangtuaku adalah pembaca yang rakus dan, sejak dini, mereka mengajari aku dan saudara perempuanku, Ann, kenikmatan halaman cetakan. Ayahku, C.W. “Chip” Grafton, adalah pengacara obligasi kota paraja di Louisville, Kentucky, dan menghabiskan empat puluh tahun hidup profesionalnya dengan mengabdi pada kegemarannya terhadap hukum. Di waktu luangnya, ia memupuk sebuah kegemaran dari jenis yang lain—menulis.

Dengan kematiannya, ayahku masih memberikan satu lagi pelajaran—pelajaran yang sebenarnya ingin kuajarkan kepadanya. Ikuti hatimu. Kerahkan keberanian untuk mewujudkan impianmu. Tidak ada di antara kita yang benar-benar mengetahui berapa banyak waktu kita yang tersisa. Menulis adalah tugas kita. Itulah tanggung jawab kita di bumi ini. Jika kamu gemar menulis, jangan tunda prosesnya. Menulislah setiap hari, penuhi hidupmu dengan khayalan yang tak kenal takut. Kamu mungkin akan kesulitan melakukannya, tapi disiplin yang kamu jalani akan membentuk dan mengisi hidupmu. Bekerja keras. Tekun. Dan, tolong, jangan lupa—mengejalah dengan benar. Gunakan tata bahasa dan tanda baca yang tepat. Pertahankan kesederhanaan tulisanmu dan pehatikan peralihan ceritamu. Cermati karakter-karakter kecil dan yang terpenting, teman-temanku, belajarlah membungkuk mengikuti angin.” (Sue Grafton)

“Aku menjadi penulis karena aku seorang penulis, karena ke mana pun aku memandang selalu ada kisah untuk diceritakan. Jadi, jika aku ditanyai, “Apa yang harus kulakukan untuk menjadi penulis sukses?” Aku akan menjawab bahwa kau harus menginginkannya lebih daripada kau menginginkan yang lain. Entah kau menulis untuk majalah atau surat kabar atau sebagai novelis atau penulis naskah. Aku bisa menambahkan satu hal lagi. Bacalah penulis yang paling kaukagumi, uraikan jaring kata-kata yang mereka pintal, dan biarkan mereka menjadi gurumu. Kau bisa belajar banyak tentang mekanisme menulis di sekolah, tapi gambaran sebenarnya terletak dalam pemahamanmu tentang hati manusia. Tidak ada sekolah yang bisa mengajarimu hal itu. Hanya  telinga dan matamu sendiri.” (Howard Fast)

“Aku ingin memberitahu dunia satu kata saja. Karena tidak bisa melakukannya, aku menjadi penulis.” (Stanislaw Lec)

“Ketika masih di sekolah menengah dan di perguruan tinggi, aku lebih dikenal sebagai atlet yang bercita-cita tinggi daripada seekor singa sastra. Ketika akhirnya berhasil sebagai pengarang, aku hampir sama kagetnya seperti guru-guru bahasa Inggris-ku, jika mereka mengetahui kebarhasilanku, yang berpendapat aku lebih cocok menyusun bata daripada bermain dengan kata-kata. Aku menggantikan kualitas yang tidak kumiliki dengan kuantitas—kata-kata yang mengagungkan kerinduan terdalamku sendiri, yang, seperti benih, menanti saat bertunas.

Aku tahu aku memerlukan keterampilan menulis, tapi juga sesuatu sebagai topic tulisan. Jadi aku mulai menulis artikel untuk majalah senam. Lama-kelamaan, topik-topik tulisanku mengembang ke luar arena olahraga—dari dasar-dasar olahraga menjadi dasar-dasar kehidupan.

Saat menjalani tahun-tahun yang sulit, aku berpegang pada lima aturan menulis dan hidup: Muncul; perhatikan; katakana kebenaranmu; lakukan yang terbaik; jangan melekat pada hasil. “Muncul” berarti duduk di kursi di hadapan komputermu atau di depan notesmu. “Perhatikan” berarti melihat, mendengarkan, menyentuh, membaui, merasakan kehidupan dan menulis untuk kelima indra; lalu baca tulisanmu, perhatikan kelemahannya, dan perbaiki pekerjaanmu. “Katakan kebenaranmu” berarti menulis dengan caramu sendiri, karena tidak ada orang lain yang bisa menulis persis sepertimu. “Lakukan yang terbaik” berarti terus-menerus menulis ulang sampai kau yakin kau tidak bisa memperbaiki satu kalimat lagi atau satu kata lagi—lalu menyingkirkannya sebentar sebelum kau membuat konsep yang lebih baik lagi. “Jangan melekat pada hasil” berarti kau tidak bisa mengendalikan hasilnya, hanya usahamu yang bisa kamu kendalikan—bahwa usaha itu sendiri merupakan keberhasilan. Hanya itu yang bisa dilakukan penulis mana pun—dengan melakukan lemparan, kita sangat menambah peluang kita untuk memasukkan bola sastra ke dalam keranjang.

Kerja keras menghasilkan nasib baik, dan aku telah bernasib baik. Semuanya diawali dengan muncul—terus  menulis selama saat-saat baik dan buruk. Aku telah belajar bahwa aku bisa menulis untuk pengungkapan diri, tapi untuk menjadi pengarang, aku tidak saja harus mengembangkan keahlian menulis, tapi juga empati untuk para pembacaku. Banyak penulis bisa menebarkan kata-kata indah di atas kanvas halaman, tapi pengarang professional menghargai kenyataan bahwa mereka sedang menciptakan sebuah produk yang harus cukup disukai pembaca sehingga terpilih dari antara ribuan buku lain.

Yang bisa kita lakukan sebagai penulis hanyalah mencoba, mengerahkan usaha, menabur benih, dan menuai panen apa pun yang diberikan dengan penuh sukacita dan syukur.” (Dan Millman)

“Aku pernah mendengar sang professor berkata kepada sang penulis pemula: “Semua sudah pernah ditulis, dan ditulis dengan lebih baik daripada kamu bisa melakukannya. Jika kamu berniat menulis tentang cinta, tragedi, petualangan… lupakan saja, karena semua itu sudah dilakukan oleh Shakespeare, Dickens, Tolstoy, Flaubert, dan lainnya. Kecuali jika kamu mempunyai sesuatu yang benar-benar baru untuk dikatakan, jangan menjadi seorang penulis, pelajarilah akuntansi.”

Kata-kata itu konyol—benar-benar bodoh. Semuanya belum dikatakan, dan takkan pernah dikatakan. Emosi manusia mungkin selalu sama, tapi di bumi ini tidak pernah ada seorang pun sebelum dirimu yang persis sepertimu dan yang melihat cinta dan benci persis seperti kau melihatnya melalui matamu.

Dan kau tidak perlu mengalami sesuatu untuk melihatnya, untuk menulis tentang hal itu. Kau dilengkapi dengan khayalan. Gunakanlah.

Gunakan khayalanmu setiap hari. Menulis bukan hanya sebuah seni tapi juga sebuah profesi. Sementara ilham merupakan unsur yang sangat besar, menulis buku merupakan sebuah profesi. Kau perlu mempersiapkan diri untuk profesi ini dengan melatihnya—menulis buku harian, jurnal, surat, fragmen—dan dengan mempelajari karya-karya pengarang yang kau kagumi, untuk mempelajari cara mereka menciptakan karakter, menyisipkan konflik, menggerakkan sebuah cerita.

Kau harus menulis tidak hanya ketika semangat menggerakanmu, tapi setiap hari. Jika ada hari-hari yang buruk, kau bisa membuang apa yang telah kautulis, tapi menulislah setiap hari, berpura-pura bahwa kau menerima gaji, berpura-pura bahwa kau harus menyerahkan sesuatu atau dipecat, tapi tetap terus-menerus bekerja untuk dirimu sendiri dan dengan usahamu sendiri.

Akhirnya, kau harus ingin menulis daripada dikenal sebagai penulis. Itu sebabnya kau harus memperlakukan kegiatan menulismu sebagai sebuah karier. Kau tidak boleh membicarakannya. Kau harus melakukannya—ingin melakukannya, suka melakukannya walaupun harus kesepian, merasa bahwa di bumi tidak ada yang lebih penting ketika kau sedang melakukannya.

Karena tidak ada hal yang lebih penting. Meski apa yang telah dikatakan professor itu, masih ada hal-hal yang harus dikatakan. Dunia di sekitarmu berbeda dengan dunia yang ditulis oleh Shakespeare—duniamu sekarang telah berjalan di bulan, demi Tuhan. Bagi setiap penulis baru, setiap tahun baru tetap tidak terjelajahi sebelum ia menjelajahinya.” (Irving Wallace)

“Pikirkan tentang menulis satu halaman, hanya satu halaman, setiap hari. Di akhir 365 hari, di akhir satu tahun, kamu mempunyai 365 halaman. Dan tahukah kamu apa yang kamu punya? Kamu mempunyai sebuah buku lengkap.” (Jerome Weidman)

“Jika aku menangis ketika menulis, aku menyentuh sesuatu dalam diri orang lain. Terbukti, jika aku menangis ketika sedang menulis, cerita itu pasti akan terjual saat pertama kali kutawarkan.

Dan itulah hubungannya—ketika kita menulis tentang hal-hal yang dirasakan orang di mana pun saat sulit, saat menyenangkan, keputusasaan, kegembiraan—anda dikirim, seorang sahabat sejiwa menangkapnya, dan hubungan penting itu terjalin. Dan itu sebabnya kita menulis.” (Marylin Pribus)

“Ayahku memang seorang tukang kayu, tapi dengan caranya sendiri ia mengajarkan lebih banyak tentang disiplin penulisan daripada siapapun.

Ayahku adalah pembaca yang tekun. Ia suka cerita novel koboi dan mata-mata, tapi ia juga membaca banyak nonfiksi. Ia mempunyai kebiasaan aneh. Ia bisa membaca buku picisan sampai selesai, meski begitu ia juga akan berhenti membaca sebuah buku—sejauh apa pun ia sudah membacanya—jika ia menemukan satu fakta yang menurutnya tidak benar.

Katanya, “Kalau menulis tentang periode sejarah, kita harus menyajikan fakta yang benar. Kalau ada satu fakta yang tidak benar, seluruh cerita akan rusak.” (Ed Robertson)

“Rasa frustasi mulai menerpaku ketika aku mengarsip satu lagi surat penolakan yang “sopan”. Dengan karya-karya berupa dua novel populer dan satu novel misteri, serta satu lagi novel misteri yang belum selesai ditulis, aku tidak hijau dalam bidang menulis. Tapi aku sama sekali tidak mempunyai keberuntungan dalam upayaku menembus dunia pengarang yang karyanya diterbitkan. Dan yang terburuk adalah, aku tidak mengerti kenapa.

Di konferensi dan lokakarya penulis, aku mendengar semua saran yang umum. “Hindari kalimat pasif.” “Tulis apa yang Anda ketahui.” “Edit, edit, edit. Temukan kata yang sempurna untuk setiap kalimat.”

Tanpa mendapat manfaat kelompok pengkritik (karena aku hidup di daerah pedalaman), semakin lama aku semakin merasa hilang arah. Akhirnya, setelah sekali lagi menerima sepucuk surat penolakan “sopan,” aku mengumpulkan keberanianku. Penulis misteri paling terkenal yang pernah kujumpai secara langsung adalah Sue Grafton. Ia menjadi pembicara kunci di sebuah konferensi lokal, dan meskipun aku sangat tidak yakin ia mengingatku, aku memutuskan untuk meminta sarannya.

Kembali ke hal-hal mendasar. Aku tidak yakin Sue Grafton akan pernah mengetahui seberapa besar dampak kelima kata sederhana itu bagiku, tapi aku takkan pernah melupakan betapa ia meluangkan waktu dari kehidupannya yang sibuk untuk membantuku—seorang penulis yang masih berusaha keras—kembali ke jalan yang benar.” (Connie Shelton)

“Ibuku adalah penulis. Mungkin ini bersifat genetis. Akku sudah digigit kutu tulis. Sekali digigit, gatalnya berlanjut. Hanya sesame penulis yang bisa mengenali rasa gatalnya, perkembangannya, dan penyembuhannya. Dokter tidak bisa membantu—kami memerlukan sebuah penerimaan bagi tindakan cinta tertulis yang kami geluti.” (Pat Gallant)

“Para pencuri yang membongkar rumah kami hampir mencuri warisanku. Mereka tidak mengetahui muatan berharga apa yang telah mereka tinggalkan di belakang. Terletak di dasar ransel, di antara kartu-kartu kredit, buku-buku cek, dan barang-barang berharga lain, terdapat sebuah kotak cerutu tua yang dipakai ibuku untuk menyimpan surat-surat cinta ayahku.

Aku ngeri membayangkan surat-surat cinta Ayah hampir dicuri. Tanpa surat-surat itu, aku takkan pernah diberi karunia wawasan yang mendorongku menjalani periode tersulit dalam hidup.

Meskipun tulisanku diterbitkan lama sesudah ayahku meninggal, aku merasa, entah bagaimana, ia mengetahui betapa pentingnya dampak kata-katanya bagiku dan betapa aku sekarang sangat menghargai kata tertulis yang menerangi hidup kami. Surat-surat cintanya merupakan sebuah warisan suci, seperti halnya semua tulisan yang menyentuh. Betapa sakralnya kata tertulis yang melukiskan gambaran dalam jiwa kita.” (Jenifer Martin)

“Seumur hidupku aku mempunyai tiga impian. Aku ingin mempunyai sebuah keluarga besar, memperoleh gelar perguruan tinggi, dan menjadi seorang penulis yang diterbitkan. Yang pertama ternyata yang termudah! Aku menikah di usia Sembilan belas tahun dan ketika berumur dua puluh enam tahun aku mempunyai lima anak. Saat itu, aku tidak mempunyai waktu atau uang untuk kuliah, dan satu-satunya yang kutulis adalah daftar belanja kebutuhan rumah tangga! Aku tidak keberatan karena aku tahu aku akan mempunyai waktu untuk impianku yang lain ketika anak-anak sudah besar.

Ketika putriku berumur sembilan bulan, aku mulai mendapat masalah kesehatan yang serius. Selama enam minggu aku buta. Tak lama kemudian, aku mengalami komplikasi tambahan dan diberitahu dokterku bahwa kemungkinan aku akan mati. Aku berdoa semoga aku akan hidup cukup lama supaya anak-anakku bisa mengingatku dan mengetahui betapa besar cintaku kepada mereka. Aku sangat takut. Didorong oleh seorang mantan guruku, aku menulis sebuah buku. Dengan kata-kataku sendiri, aku memberitahu anak-anakku betapa besar cintaku kepada mereka, untuk berjaga-jaga jika aku mati sebelum mereka sempat mengetahuinya sendiri. Bukuku adalah awal impian keduaku.

Anak-anak menjadi dewasa dan akhirnya meninggalkan rumah. Kelimanya menikah dalam waktu dua tahun. Tiba-tiba, meski aku sakit, impianku untuk kuliah dan menulis menyala lagi. Aku bertekad tidak ada yang akan menghalangiku untuk akhirnya bisa memenuhi impian-impianku. Sekali lagi, selama sesaat, duniaku terlihat begitu sempurna! Aku telah menunggu peluang ini seumur hidupku.

Dengan bantuan para dosen, dan dukungan keluarga serta teman-temanku yang membesarkan hati, aku menyelesaikan kuliah privatku dengan seorang dosen. Di tahun 1996, aku lulus summa cum laude, dan menerima gelar yang begitu lama kunantikan dalam bidang menulis kreatif. Aku sangat gembira!

Tak lama setelah hari wisuda, kampus membuka sebuah laboratorium menulis dimana murid-murid yang memerlukan bantuan dalam mengerjakan tugas menulis bisa mendapatkannya. Ketika diminta menjadi salah satu pembimbing di laboratorium, aku sangat bahagia. Aku bisa berada di tempat yang kusukai, dengan orang-orang yang kucintai, dan melakukan hal yang paling kusenangi: menulis.” (Barbara Jean Fisher)

“Aku tak banyak berpikir tentang menulis sebelum menjadi murid tahun terakhir sekolah menengah. Lalu seorang guru memberi kami tes esai mengenai sebuah insiden bersejarah. Ia meminta kami menulis dua halaman esai. Aku tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang telah terjadi atau mengapa, tapi aku mulai menulis. Kutuliskan semua yang bisa kuigat tentang hal itu, dan semua yang telah diberitahukan guru kepada kami.

Ketika selesai, aku mempunyai tiga halaman esai, tapi aku masih tidak yakin tentang kebenaran fakta-fakta yang kutulis. Ketika tes itu dikembalikan, aku mendapat nilai A. Kuputuskan bahwa menulis itu menyenangkan dan aku pandai melakukannya.

Aku berhasil memasuki dunia paperback, di mana volume dan kecepatan menulis merupakan faktor penting.

Dalam perjalanan karierku, aku diberi julukan penulis “cepat”.

Saat kuingat lagi, aku tidak yakin aku akan pernah menjadi seorang penulis jika bukan karena sang profesor yang mengatakan bahwa kemungkinan aku takkan lulus mata kuliahnya, dan yang meragukan bahwa aku akan pernah keluar dari kategori “sementara”. Aku berhasil keluar.

Sekarang aku sudah menulis dan menerbitkan 286 buku, sebagian besar fiksi, tapi juga dua belas nonfiksi. Motivasi? Ya, label “sementara” itu masih mengusikku. Tapi aku sadar aku sudah menggunakan label itu untuk mewujudkan impianku menjadi seorang novelis.

Aku akan terus menulis novel sampai aku tahu bagaimana caranya.” (Chet Cunningham)

Setiap orang boleh memberi komentar, pendapat atau kritik atas tulisan ini. Silahkan tunaikan semuanya dengan diskusi atau berupa tulisan yang lebih baik dan argumentatif.

Mari Berdiskusi! [7]

Diskusi adalah sebuah interaksi komunikasi antara dua orang atau lebih/kelompok. Biasanya komunikasi antara mereka/kelompok tersebut berupa salah satu ilmu atau pengetahuan dasar yang akhirnya akan memberikan rasa pemahaman yang baik dan benar. Diskusi bisa berupa apa saja yang awalnya disebut topik. Dari topik inilah diskusi berkembang dan diperbincangkan yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu pemahaman dari topik tersebut.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; 1990), Diskusi memiliki arti, “Pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah”.

Dalam diskusi biasanya para peserta mencari penyelesaian suatu masalah, minimal mereka mengajukan usul atau ide yang memungkinkan untuk menyelesaikan masalah yang mereka diskusikan. Grup ini dalam kontek ke-Indonesia-an sering dinamai dengan “Discussion Forum” atau “Forum Diskusi”.

Diskusi adalah salah satu dari sekian banyak metode dalam menyampaikan apa yang ingin diwujudkan atau dicapai. Dalam kontek dakwah, diskusi adalah salah satu sarana yang bisa dimanfaatkan. Karena ada segmen tertentu masyarakat yang hanya mau menyambut seruan dakwah dengan penjelasan yang argumentatif. Bahkan ada juga orang yang hanya akan turut jika sang da’i mampu mematahkan penentangannya melalui perdebatan.

Diskusi adalah membicarakan suatu masalah oleh para peserta diskusi dengan tujuan untuk menemukan pemecahan yang paling baik berdasarkan berbagai masukan.

Seorang memiliki berbagai media yang dapat dipergunakan untuk menyebarkan gagasannya di tengah masyarakat. Namun, hendaknya ia memahami bahwa media pertama dan utama yang harus didahulukan atas yang lain adalah “diskusi”. Mengapa demikian? Karena kata-kata yang baik dan tulus adalah senjata utama dan sebagai bekal dai dalam mengemban tugas mulia ini, baik ketika menawarkan—untuk pertama kali—misalnya gagasannya kepada orang lain ataupun ketika membela diri dari tuduhan keji. Selain itu, diskusi juga merupakan media pokok untuk melakukan interaksi antar seseorang, utamanya tatkala ada perbedaan pendapat dalam memahami suatu permasalahan, memahami metodologi, maupun menentukan skala prioritas agenda perubahan.

Terdapat banyak variabel yang menunjang keberhasilan suatu proses diskusi, meliputi situasi psikologis, momentum, suasana ruangan, kejelasan vokal pelaku diskusi, validitas argumentasi, dan yang mutlak harus ada pada diri sang da’i adalah akhlak yang mulia. Jadi, ada aspek moral yang harus diindahkan dan ada faktor skill yang harus dikuasai.

Dengan begitu, setelah orang tahu rambu-rambu yang boleh dan yang tidak boleh dalam diskusi, selebihnya aktivitas ini merupakan seni dalam berkomunikasi. Apalagi jika diingat bahwa yang terlibat di dalamnya adalah manusia yang sangat “tidak mekanis”. Yang dibutuhkan bukan sekedar sampainya pesan ke telinga audiens, tetapi bagaimana pesan itu sampai, dimengerti, dan diterima secara sadar. Dua aspek inilah (moral dan skill) yang perlu kita bahas.

Antara Diskusi dan Debat

Diskusi dan debat bertemu pada satu hal, bahwa keduanya sama-sama pembicaraan antara dua pihak. Akan tetapi, keduanya berbeda setelah itu. Biasanya dalam perdebatan terjadi perseteruan, meski hanya sebatas perseteruan lisan. Perdebatan senantiasa bermuara pada permusuhan yang diwarnai oleh fanatisme terhadap pendapat masing-masing pihak dengan merendahkan pendapat pihak lain.

Diskusi merupakan upaya tukar pendapat yang dilakukan oleh kedua belah pihak secara sinergis, tanpa adanya suasana yang mengharuskan lahirnya permusuhan di antara keduanya.

Sedangkan debat adalah pembicaraan tentang suatu masalah dengan tujuan untuk memenangkan atau mempertahankan pendapat yang dimiliki oleh peserta debat.

Dalam al-Qur’an kita dapati beberapa keterangan yang menunjukkan perbedaan antara debat dengan diskusi ini. Al-Qur’an menggunakan kata jidal (debat) untuk hal-hal yang tidak diridhai atau tidak membawa manfaat. Seperrti di Surat al-Mu’min ayat 5 dan al-Hajj ayat 8. Kata jidal dalam al-Qur’an terdapat di 29 tempat. Hampir kesemuanya dalam konteks pembicaraan yang tidak menghendaki munculnya debat dan tidak bermanfaatnya sebuah perdebatan.

Adapun kata hiwar (diskusi), terdapat dalam al-Qur’an hanya pada tiga tempat. Sebenarnya kata-kata yang semakna dengan hiwar itu, tersebut dalam al-Qur’an di banyak tempat. Hanya saja tidak menggunakan kosakata hiwar itu sendiri, akan tetapi menggunakan kosakata “berkata” (qala). Ini disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 527 kali.

Al-Qur’an dan Diskusi

Al-Qur’an, melalui ayat-ayatnya, menaruh perhatian besar pada gaya percakapan dan diskusi. Ini sama sekali tidak mengherankan, karena diskusi merupakan cara terbaik untuk meyakinkan dan memberikaan kepuasan kepada hati manusia; atau dalam kontek dakwah kita sebut dengan objek dakwah.

Al-Qur’an menyuguhkan kepada kita beberapa contoh diskusi. Ada percakapan Allah Swt. dengan para malaikat tentang pencipataan Nabi Adam (al-Baqarah: 30-32); antara Allah Swt. dengan Nabi Ibrahim tatkala ia memohon kepada-Nya agar memperlihtkan bagaimana Dia menghidupkan orang mati (al-Baqarah: 260); antara Allah Swt. dengan Nabi Musa tatkala Musa memohon kepada-Nya agar diizinkan untuk memandang wajah-Nya (al-A’raf: 143); kisah Nabi Isa tatkala ditanya Allah Swt., apakah ia menyuruh kaumnya untuk menjadikan diri dan ibunya sebagai dua Tuhan selain Allah Swt. (al-Maidah: 116); diskusi dalam kisah pemilik dua kebun (al-Kahfi: 18); diskusi dalam kisah Nabi Ibrahim tatkala hendak menyembelih anaknya (Ash-Shafat: 102); kisah Qarun dengan kaumnya (Al-Qashash: 76); kisah Nabi Daud dengan dua orang yang sedang bertikai (Shad: 21); kisah Nabi Nuh bersama kaumnya (al-A’raf: 143); kisah Nabi Syu’aib bersama kaumnya (Hud: 84), dan contoh-contoh lain yang dapat kita jumpai dalam al-Qur’an, semuanya menunjukkan bagaimana pentingnya diskusi.

Selain itu, penting bagiku untuk mencantumkan beberapa ayat al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan diskusi:

  • “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit; pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat; Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.” (Qs. Ibrahim: 24-26)
  • “… serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia…”(Qs. al-Baqarah: 83)
  • “Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.” (Qs. al-Hajj: 24)
  • “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qs. Qaf: 18)
  • “dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.” (Qs. al-Mu’minun: 3)
  • “Ucapan yang baik adalah sedekah.” (Mutafaqun ‘Alaih)
  • “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata benar atau diam.” (Mutafaqun ‘Alaih)
  • “Jagalah lisanmu, usahakan agar kamu betah di dalam rumahmu, dan menangislah atas dosa-dosamu.” (Hr. Tirmizi)
  • “Dan tidaklah menjerumuskan manusia ke dalam api neraka kecuali buah dari lisan mereka.” (Hr. Tirmizi)

Macam-macam dikusi

  1. Seminar

Pertemuan para pakar yang berusaha mendapatkan kata sepakat mengenai suatu hal.

  1. 2. Sarasehan/Simposium

Pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat prasaran para ahli mengenai suatu hal/masalah dalam bidang tertentu.

  1. 3. Lokakarya/Sanggar Kerja

Pertemuan yang membahas suatu karya.

  1. 4. Santiaji

Pertemuan yang diselenggarakan untuk memberikan pengarahan singkat menjalang pelaksanaan kegiatan.

  1. 5. Muktamar

Pertemuan para wakil organisasi mengambil keputusan mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama.

  1. 6. Konferensi

Pertemuan untuk berdiskusi mengenai suatu masalah yang dihadapi bersama.

  1. 7. Diskusi Panel

Diskusi yang dilangsungkan oleh panelis dan disaksikan/dihadiri oleh beberapa pendengar, serta diatur oleh seorang moderator.

  1. 8. Diskusi Kelompok

Penyelesaian masalah dengan melibat kan kelompok-kelompok kecil.

Etika Diskusi

1. Niat yang ikhlas

Hendaknya seorang menahan diri untuk tidak berdiskusi, jika ia tidak yakin bahwa motivasinya karena Allah Swt semata. Hendaklah ia tidak mempunyai maksud untuk menunjukkan kepandaian dan keluasan wawasannya dalam setiap perbincangan; atau mengangkat dirinya atas orang lain dengan meremehkan lawan bicara; atau membanggakan diri untuk mendapatkan sanjungan. Semua itu dapat menghapus pahala amalnya di sisi Allah Swt. dan merusak citranya di mata masyarakat.

Diriwayatkan bahwa ada seorang anak yang bertanya kepada bapaknya, “Ayah, ananda melihat ayah melarang kami berdebat, padahal dahulu ayah pendebat ulung.” Sang bapak menjawab, “Wahai anakku, dahulu kami berdebat dengan perasaan was-was yang amat sangat kalau-kalau kami mengalahkan lawan bicara. Sedangkan kini, kalian berdebat dengan rasa cemas jangan-jangan tergelincir lantas dikalahkan oleh lawan bicara.“

Perlu ditegaskan bahwa pelaku diskusi harus berhenti, jika ia mendapati bahwa dirinya telah berubah dari tujuan semula; telah masuk ke dalam suasana permusuhan dan pertentangan. Sabda Rasulullah Saw., “Sesungguhnya larangan yang pertama ditujukan kepadaku setelah penyembahan berhala adalah perdebatan (yang dibarengi dengan permusuhan). Rasulullah Saw. bersabda, Sesungguhnya saya berikan jaminan dengan sebuah rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, padahal sesungguhnya ia adalah pihak yang benar. Juga sebuah rumah di sekitarnya bagi orang yang meninggalkan perdebatan, sementara ia berada di pihak yang salah.”

2. Berdikusi dalam kondisi yang kondusif

Seorang pelaku diskusi hendaklah melihat situasi sebelum berdiskusi; apakah cocok untuk melakukan diskusi atau tidak. Situasi yang melingkupi kita menyangkut tiga macam, yaitu tempat, waktu, dan manusianya. Ungkapan klasik menyatakan, “Tidak setiap yang diketahui itu harus diucapkan. Setiap posisi sosial memiliki kata-katanya sendiri.”

3. Menggunakan ilmu

Janganlah memperbincangkan suatu tema yang kita sendiri tidak mengerti dengan baik dan janganlah kita membela suatu pemikiran manakala kita tidak yakin dengan pemikiran tersebut. Bashirah (pengetahuan yang dalam) yang diisyaratkan dalam al-Quran berfungsi sebagai perlindungan bagi seseorang untuk tidak berbicara tanpa ilmu dan menahan dirinya dari usaha membantah argumentasi orang lain tanpa ia sendiri mempelajari tema pembicaraan.

Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kamu mencari ilmu untuk berbangga jadi ulama, merendahkan orang-orang bodoh, dan agar orang lain berpaling kepadamu. Barangsiapa melakukan untuk itu, ia di neraka” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

4. Memahami lawan bicara

Kemampuan otak manusia, tingkat pemahaman, dan keluasan wawasannya, sangat berbeda-beda. Argumentasi yang bisa dipahami oleh Zaid, belum tentu dapat dipahami oleh Amar. Pembicara yang baik adalah pembicara yang memahami dengan siapa ia berbicara, lalu ia dapat menentukan metode yang dianggap sesuai untuknya.

Salah satu cara untuk mengetahui tingkatan lawan bicara adalah dengan melontarkan pertanyaan netral kepadanya yang mengesankan adanya kesamaan pemikiran antara kita, pembicara, dengannya. Dengan begitu, kita dapat mengukur kedalaman pengetahuannya tanpa menyinggung perasaannya.

5. Menghargai lawan bicara

Pelaku diskusi atau pembicara secaara umum, tidak boleh mendominasi pembicaraan; yakni tidak memberikan kepada pihak lain peluang berbicara. Tetapi cegahlah ia berbicara yang bertele-tele, sehingga keluar dari konteksnya. Mendominasi pembicaraan sama halnya dengan serakah dalam urusan makan. Semua itu merupakan sikap tercela.

6. Mendengarkan dengan baik

Pembicara yang baik adalah pendengar yang baik, karenanya jadilah pendengar yang baik. Janganlah memotong pembicaraan orang lain. Sebaliknya, perhatikan ia sebagaimana kita sendiri juga senang jika orang lain memperhatikan kita. Ketahuilah bahwa kebanyakan orang—sebenarnya—lebih menghormati pendengar yang baik daripada pembicara yang baik.

Kadang-kadang ada situasi tatkala kita mendengarkan suatu pembicaraan, kita melihat ada beberapa hal yang harus dievaluasi, dikomentari, diluruskan, atau diperjelas dari pembicaraan itu. Tentu saja sangat bermanfaat jika di tangan kita tersedia alat tulis dan kertas untuk membuat catatan. Jika giliran kita untuk berbicara tiba, kita dapat menyampaikan apa yang ada di catatan itu tanpa ada yang terlewatkaan. Sikap seperti ini jauh lebih utama daripada jika kita memutuskan benang pikiran orang lain yang tengah diurai, yang akhirnya hanya merugikan diri kita sendiri.

7. Sempurnakan diri sebelum orang lain

Ketika kita tengah berbicara, perhatikanlah diri kita sendiri; apakah kita berbicara terlalu keras? Ingatlah nasihat Lukman kepada puteranya, “Dan sederhanakanlah engkau dalam berjalan dan lunakkan suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.”.

Perhatikanlah diri kita: apakah kita merasa lebih berilmu? Apakah ‘perasaan lebih’ itu tampak pada raut muka, tutur kata, atau gerakan tangan kita? Jika kita merasakannya, ubahlah segera cara kita itu. Jika merasa ada yang salah, segeralah minta maaf. Janganlah kita mengikuti emosi kita, sehingga kita mengubah diri dari seorang kawan diskusi menjadi seorang musuh diskusi. Karena bisa saja dari mulut kita keluar kata-kata kasar, ungkapan pedas, kalimat yang mengesankan diri kita seorang hebat, pemberi petuah, sok merasa besar, dan semisalnya yang dapat melahirkan dampak negatif bagi diskusi yang dilakukannya.

8. Menggunakan bahasa, kata dan kalimat yang jelas dan mudah dipahami

Tegasnya ungkapan, fasihnya lisan, dan bagusnya penjelasan adalah sebagian dari pilar-pilar penopang diskusi dan dialog yang produktif.

Rasulullah Saw. bersabda, ”Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh mejelisnya dariku pada hari kiamat adalah orang-orang yang berlebihan dalam berbicara, yang suka mengungguli orang lain dengan perkataannya, dan yang menunjuk-nunjukkan mulut besarnya dengan omongan untuk menampakkan kelebihan di hadapan orang lain.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Suatu isyarat yang tepat bisa lebih berguna dari uraian dan penjelasan panjang lebar. Tindakan ini sekaligus berguna untuk mengoreksi kesalahan yang diperbuat orang lain tanpa membuat mereka tersinggung. Itulah yang pernah dilakukan oleh dua cucu Rasulullah Saw., Hasan dan Husain, ketika melihat seseorang yang kurang benar dalam berwudhu. Sementara rasa malu kepada orang itu menghalangi mereka untuk mengingatkannya secara terus terang.

Keduannya (Hasan dan Husein) pun bermusyawarah, lalu bersepakat mendatanginya dan meminta kepadanya untuk menilai mereka berdua, mana yang lebih benar wudhunya. Orang itu lalu melihat secara cermat dan menilai wudhunya Hasan dan Husein. Setelah itu, sadarlah dia bahwa selama ini ia tidak bisa berwudhu dengan baik seperti wudhunya Hasan dan Husein. Inilah yang dimaksud dengan bayan (kejelasan).

9. Gunakan Ilustrasi

Pelaku diskusi yang cerdik adalah mereka yang pandai membuat ilustrasi guna melengkapi dan memperjelas setiap uraian pembicaraannya. Imam Ghazali pernah membuat ilustrasi untuk orang yang mencegah kemungkaran dengan kekerasan. Mereka seperti orang yang ingin menghilangkan bercak darah dengan air kencing. Cara mencegah kemungkaran seperti itu adalah bentuk kemungkaran yang lain, bahkan bobot kemungkarannya lebih besar daripada kemungkaran yang diberantas. Kedua-duanya sama-sama najis, tetapi najisnya air kencing lebih berat.

10. Memperhatikan titik persamaan

Ketika seorang hendak berbicara, maka hendaklah ia memulai pembicaraan dengan mengungkap titik-titik persamaan yang ada. Hal-hal yang asiomatik.

Dale Carnagie mengatakan, “Buatlah lawan bicaramu sepakat ataas contoh-contoh yang engkau lontarkan kepadanya dan biarkan ia menjawab dengan kata ‘ya’. Jauhkanlah—sebisa mungkin—antara dia dengan kata ‘tidak’. Karena kata ‘tidak’ merupakan rintangan yang sulit diatasi daan sulit dikalahkan. Seseorang yang telah berkata ‘tidak’, kesombongan akan memaksanya untuk senantiasa membela diri. Kata ‘tidak’ itu sebenarnya lebih dari sekedar kata yang terdiri dari beberapa huruf. Ketika seseorang berkata ‘tidak’, maka urat saraf dan emosinya terangsang untuk mendukung sikap penolakannya. Berbeda dengan kaata ‘ya’, yang sama sekali tidak membebani gerak jasmani.”

Dikisahkan, bahwa Socrates, seorang ahli hikmah dan filosof Yunani yang terkenal, juga mengikuti cara ini. Ia memulai diskusinya dengan orang lain dari titik-titik persamaan di antara mereka berdua. Ia bertanya kepada lawan bicaranya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban, kecuali kata ‘ya’. Demikianlah Socraates terus mendapatkan jawaban ‘ya’ secara beruntun, sehingga lawan bicara menyadari bahwa dirinya telah menyetujui suatu ide yang beberapa saat sebelumnya ditolaknya mentah-mentah.

11. Sesekali katakan aku belum tahu

Apabila lawan diskusi kita mengemukakan sesuatu pembicaraan yang kita tidak memahaminya, janganlah kita malu untuk bertanya dan meminta penjelasan. Karena apabila kita diam, kita akan rugi, akan dikatakan sebagai orang bodoh atau orang yang berusaha menutupi kebodohannya. Ketahuilah bahwa banyak pemimpin besar umat yang tidak malu mengatakan, “Saya tidak tahu!, “Aku belum tahu”, “Boleh mohon penjelasan ulang?”. Ia menjauh dari berbicara tanpa pengetahuan yang cukup tentang masalah yang dibicarakan.

12. Membela kebenaran secara proporsional dan tak sungkan mengakui Kesalahan

Sikap fanatik dalah sikap tetap tidak menerima kebenaran setelah adanya kejelasan dalil. Seorang muslim adalah pencari kebenaran. Ia tidak fanatik kepada individu, kelompok, komunitas atau paham tertentu. Seorang muslim hanya akan mengikuti sebuah pemahaman ketika pemahaman tersebut bersumberkan wahyu (al-Qur’an dan as-Sunnah). Karena itu, berpijaklah di atas kebenaran di manapun kebenaran itu berada.

Mengingkari dan menolak kebenaran, menyembunyikan atau menutup-nutupinya adalah termasuk sifat-sifat Yahudi dan Nasrani. Sifat seperti merupakan sifat yang mengancam kehidupan dan nasib seseorang di akhirat kelak. Oleh karena itu sejak dulu para ulama telah memberi perhatian yang sungguh atas fenomena ini. Dalam masalah ini Imam al-Ghozali—ketika berbicara tentang masalah fenomena khilaf dan dampak perdebatan—berkata, “Bekerjasama dalam mencari kebenaran adalah bagian dari agama. Tetapi ia harus memiliki syarat-syaratnya. Di antaranya adalah: dalam mencari kebenaran hendaklah seperti orang yang mencari barang hilang. Tidak usah dipersoalkan apakah barang itu dipertemukan oleh dirinya sendiri atau oleh orang lain. Hendaklah ia melihat sahabat, (lawan bicara)nya, sebagai penolong, bukan sebagai pesaing. Berterimakasihlah kepadanya jika ia dapat menunjukkan mana yang salah dan mana yang benar. Begitulah musyawarah yang terjadi di antara para sahabat. Sampai-sampai ada seorang wanita yang mengingatkan Umar bin Khothob pada kebenaran ketika beliau sedang berpidato di hadapan kaum muslimin. Demi mendengar teguran wanita itu mar berkata, “Benarlah wanita itu dan kelirulah Umar.”

Dalam riwayat lain, seseorang bertanya kepada Ali bin Abi Tholib, lalu Ali pun menjawab pertanyaan itu. Setelah mendapatkan jawabannya, laki-laki tadi memberi komentar, “Bukan begitu wahai Amirul Mukminin, akan tetapi begini dan begitu.” Ali berkata, “Kamu benar dan saya salah. Di atas orang yang tahu masih ada yang lebih tahu.”

Mengenai hal ini silahkan baca di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam al-Ghozali. Dalam kitab tersebut dijelaskan secara jelas bagaimana sahabat nabi mengakui kekeliruan mereka dalam beberapa hal. Mereka sangat ikhlas menerima kritikan dan penyempurnaan orang lain. Sebuah contoh yang sangat baik untuk diikuti.

Mengakui kesalahan—setelah tidak mengakuinya di awal pembicaraan—dapat menarik simpati dan penghargaan dari lawan bicara. Berbeda halnya jika ia bergeming dengan kesalahan, hal ini bisa menghilangkan rasa hormat dari orang lain, juga dari diri kita sendiri.

13. Jujur dan kembali ke sumber rujukan

Hormatilah kebenaran. Jadilah orang yang jujur ketika menyampaikannya. Janganlah memotong ungkapan, sehingga mengubah konteksnya atau mencabut daari relevansinya dengan memberikan penafsiran sesuai dengan keinginan kita. Di antara cara menghormati kebenaran adalah kita tidak berargumentasi dengan mengutip pendapat orang yang tidak bisa dipercaya ilmu dan kejujurannya. Artinya, kita mesti berargumentasi dengan mengutip pendapat orang yang dipercaya ilmu, kejujuran dan ketawadhuaannya. Bukan kedudukan dan kesombongannya.

14. Menghormati pihak lain

Umar bin Khattab r.a berkata, “Jangan sekali-kali engkau berprasangka terhaadap kata-kata saudaramu seiman selain dengan kebaikan, selama engkau dapati pada kata-kata itu peluang kepada kebaikan.

Di antara wasiat Rasululah Saw. adalah, “Seorang muslim adalam saudara bagi muslim (yang lain). Karenanya ia tidak menzhalimi, tidak meninggalkan, tidak merendahkan, dan tidak menghinakan. Cukuplah seseorang disebut buruk lantaran merendahkan saudara muslim yang lain.”

15. Hargai orang lain (lawan diskusi) dengan menyempurnakan pemikiran, ide atau pendapatnya

Dalam suatu diskusi, sebaiknya yang dibahas, dianalisis, dikritik, dan disanggah adalah pemikirannya, bukan pemilik pemikiran itu. Hal itu untuk menghindari berubahnya forum diskusi menjadi forum percekcokan yang disertai dengan caci maki atau berubah dari forum diskusi pemikiran menjadi forum perseteruan fisik oleh individu-individu yang ada.

16. Menerima pendapat yang lebih baik

“Berdebat dengan cara yang baik” itu artinya kita tidak bersikap apriori terhadap pendapat lawan bicara kita dan menunjukkan penghargaan kepadanya, meskipun pendapat itu barangkali bertentangan dengan pikiran kita.

17. Lemah lembut dalam memberikan kritikan

Metode menyerang dalam berdiskusi, meskipun dengan argumentasi yang kuat dan dalil yang nyata, dapat menimbulkan kebencian bagi orang lain. Hal itu karena mendapatkan simpati hati, sebenarnya lebih penting daripada mendapatkan perubahan sikap tetapi tidak berangkat dari hati yang tulus. Adapun jika kita bersikap lemah lembut, ia akan merasa puas dengan pendapat kita, cepat atau lambat.

18. Tunaikan semuanya dengan rasa cinta dan kasih sayang

Perbedaan pendapat, sampai antar kawan dan sahabat, sering sampai menghapuskan rasa cinta dan kasih sayang. Waspadalah untuk tidak jatuh ke dalamnya. Perdebatan atau perbincangan, atau diskusi pada umumnya berpengaruh terhadap perasaan dan hati. Ingatlah hal ini tatkala kita tengah berbicara dengan seseorang. Janganlah kita tunjukkan sikap permusuhan kepada seseorang. Tidak saja di depannya tapi juga di belakangnya.

Apalagi mengklasfikasikan diri sebagai aktivis muslim, da’i atau yang lainnya. Jangan sampai kita berbangga-bangga dengan posisi dan komunitas sendiri pada saat kita sedang menyakiti hati orang yang sebetulnya lebih mencintai Islam daripada kita yang seakan-akan mencintai Islam—padahal kita adalah perusaknya.

19. Pastikan menjaga emosi secara proporsional

Jika lawan bicara kita tidak setuju dengan pendapat kita, jangan terburu marah. Janganlah kita memaksakan semua orang untuk mengiyakan apa yang kita anggap benar. Apalagi pendapat atau pemahaman kita belum tentu benar. Mohon diperhatikan, hal ini biasanya terjadi dalam internal umat Islam. Misalnya dalam kontek berjama’ah. Banyak orang yang memaksakan pemahamannya dengan caci maki, merendahkan bahkan menghina orang-orang yang tidak begitu tahu dan tidak paham dengan jama’ah yang dipaksakan. Orang-orang seperti ini biasanya marah jika pemahamannya diminta untuk dijelaskan oleh mereka yang belum paham. Dia tetap ngotot agar pemahamannya diterima dan diikuti oleh orang yang diajak diskusi. Bahkan biasanya orang-orang seperti ini suka berkata seperti ini, “Kalau engga ikut dengan pemahaman saya silahkan cari jama’ah lain. Kalau mau di sini ikuti apa yang saya sampaikan.”

Coba perhatikan pernyataan di atas, pernyataan atau pendapat pribadi dipaksa agar dianggap sebagai kebijakan jama’ah. Jadi seakan-akan jama’ah itu dia sendiri. Seakan-akan yang memiliki saham besar dan pengorbanan untuk kejayaan Islam hanya dia dan jama’ahnya. Ini bahaya. Mungkin jama’ahnya tidak salah, tapi mengklaim pendapat pribadi menjadi pendapat jama’ah adalah kesalahan fatal yang sering dilakukan oleh banyak orang.

20. Ketika logika tak lagi berarti

Kadang-kadang, ketika kita memulai diskusi, rasa permusuhan telah menguasai salah satu dari kedua belah pihak. Dalam keadaan demikian, apabila pihak yang menghadapinya dengan sikap yang baik, niscaya permusuhan itu akan berubah menjadi persahabatan dan kebencian berubah menjadi kasih sayang. Nasihat ini berguna bagi para orang tua yang suka mencela, para suami yang cerewet, para guru yang berhati batu, dan para pemimpin yang tengah marah. Apalagi kalau seseorang punya jabatan atau kedudukan tertentu. Ukuran kebenaran kemudian diukur di atas logika kedudukannya. Jadi, apapun yang dia sampaikan diklaim sebagai kebijakan organisasi atau jabatannya. Padahal kadang itu adalah syahwat pribadi. Atau mungkin boleh jadi itu sebuah kebijakan tapi cara menyampaikan, cara menghadapi orang dan cara menjelaskannya tidak menecerminkan kalau dia adalah pemimpin. Orang seperti ini biasanya suka ‘kekeh’ dan cepat marah, bahkan emosional dengan lawan bicara atau teman diskusinya. Di beberapa kesempatan ada yang membela diri, kalau yang dia lakukan itu hanya ekspresi saja. Coba perhatikan pembelaan orang seperti ini. Dia sudah tidak mempan dengan berbagai masukan dan penyempurnaan. Setiap kali diberi pandangan atau masukan selalu dijawab dengan pembelaan yang kadang tak disadari kalau apa yang dia sampaikan tidak ada benar dan tidak rasional.

21. Biasakan untuk tidak menggunakan kata ganti orang pertama

Biasakan untuk tidak menggunakan kata ganti orang pertama dalam berbicara, seperti: “Saya telah berbuat demikian”, atau “Saya senang menjelaskan masalah ini” atau “Pendapatku dalam masalah ini adalah demikian.” Sebaiknya pula ia menjauhi penggunaan kata ganti orang pertama jamak. Misalnya, “Pengalaman kami membuktikan yang demikian. Apabila kami mempelajari masalah yang diperselisihkan, tampak bagi kami hal-hal berikut ini.”

Mengapa semua itu harus dihindari? Karena apabila hal itu digunakan ketika berbicara, dikhawatirkan dapat menyeret pembicara—baik disadari maupun tidak—kepada sikap memuji diri sendiri dan menonjol-nonjolkan pengalaman dan keluasan wawasannya. Ini berarti kejatuhan di awal langkah yang dapat merusak niat.

Sebagai gantinya, berbicaralah dengan menggunakan pola ungkapan yang tidak langsung menisbatkan pengetahuan kepada pembicara dan yang menimbulkan kesan objektif, seperti, “Agaknya para peneliti telah membuktikan adanya…” atau “Pengalaman para pakar di lapangan dakwah menunjukkan akan kebenaran orang yang mengatakan…,” atau “Seorang da’i yang telah malang melintang di dunia dakwah memberi komentar terhadap masalah yang kita hadapi… dan patut kita mengambil pelajaran darinya.”

Tentu beberapa hal tersebut disesuaikan juga dengan konteksnya. Jika memang mebutuhkan dan lebih tepat untuk menggunakan kata “Saya” dan lain sebagianya, maka gunakanlah.

22. Pergunakan suara secara proporsional

Orang yang tengah berdialog sebaiknya tidak mengeraskan suaranya lebih dari yang dibutuhkan oleh pendengar, karena suara yang keras itu jelek dan menyakitkan. Pelaku dialog bukanlah seorang orator yang terkadan—pada saat-saat tertentu—dituntut harus mengeraskan suaranya. Perlu diingatkan pula, bahwa kerasnya suara sama sekali tidak dapat menguatkan suatu argumentasi.

Dalam banyak kasus, orang yang suaranya keras, sedikit kandungan ilmunya, lemah argumentasinya, dan sering pula mengeraskan suaranya justru untuk menutupi kelemahannya. Biasanya orang seperti ini bersandar di atas jabatan dan kedudukan. Apapun jenis dan bentuk organisasinya.

Berbeda dengan pemilik suara yang tenang. Suara tenang itu biasanya merefleksikan kematangan berfikir, kekuatan argumentasi dan objektivitas pendirian. Suara yang tenang, yang tidak dibumbui dengan teriakan dan tidak juga bisikan, adalah suara yang paling kuat pengaruhnya dalam hati, disebabkan keagungan suara itu dan ketenangan pemiliknya.

Tetapi bukan berarti suaranya diperkecil. Sebab sering kali dalam  banyak diskusi, orang yang suaranya kecil membuat para pendengar menjadi marah dan kesal. Bahkan sering terjadi suara pendengar lebih keras daripada suara pembicara. Karena itu, yang penting di sini adalah memahami kondisi dan situasinya.

Pola-Pola Diskusi

Prasaran

  • Penyajian bahan pokok oleh satu atau beberapa orang pembicara dengan prasaran tertulis (makalah, kertas kerja).
  • Tanggapan peserta diskusi (forum) terhadap bahan pokok.
  • Tanggapan terhadap bahan pokok oleh pembicara lain (penyanggah / pembahas).

Ceramah

  • Seorang/lebih penceramah menguraikan bahan pokok.
  • Tanggapan, sanggahan atau pertanyaan dari forum untuk meminta penjelasan yang lebih teliti.

Diskusi Panel

  • Bahan pokok disajikan oleh beberapa panelis. Panelis meninjau masalah dari segi tertentu.
  • Tanggapan, sanggahan atau pertanyaan forum untuk meminta penjelasan dari panelis.

Brainstorming

  • Bahan pokok yang dipersiapkan ditawarkan kepada peserta diskusi oleh pimpinan.
  • Tiap peserta diminta pendapat dan gagasannya. Sebanyak mungkin orang diajak bicara dan setiap ide dicatat.
  • Berbagai ide disimpulkan dan ditarik benang merahnya. Kesimpulan ini kemudian dijadikan kerangkan pembicaraan dan pembahasan lebih lanjut.

Persyaratan Diskusi

Berkomunikasi dalam kelompok dengan catatan:

  • Tata tertib tidak ketat.
  • Setiap orang diberi kesempatan berbicara.
  • Kesediaan untuk berkompromi.

Bagi peserta diskusi:

  • Pengertian yang menyeluruh tentang pokok pembicaraan.
  • Sanggup berpikir bebas dan lugas.
  • Pandai mendengar, menjabarkan dan menganalisa.
  • Mau menerima pendapat orang lain yang benar.
  • Pandai bertanya dan menolak secara halus pendapat lain.

Bagi pemimpin diskusi:

  • Sikap hati-hati,cerdas,tanggap.
  • Pandai menyimpulkan.
  • Sikap tidak memihak.

Ada beberapa persiapan agar diskusi dapat berjalan dengan baik dan sehat. Persiapan dapat dibagi ke dalam 2 hal, yaitu Persiapan tempat dan persiapan diri.

Persiapan tempat meliputi: ketenangan, kebersihan, kenyamanan, ketersediaan prasarana

Persiapan diri meliputi: persiapan materi, pemahaman tentang diskusi, informasi-informasi pendukung, kemampuan berlogika, dan kemampuan berkomunikasi.

Ada beberapa kesalahan-kesalahan yang umumnya dilakukan oleh peserta diskusi:

  • Umumnya mendasarkan pendapat pada pendapat umum saja
  • Menutup diri pada informasi baru yang berbeda dengan yang sudah diketahui
  • Taklid pada informasi yang didapat dari orang yang dihormati
  • Salah dalam berlogika sehingga salah dalam mengambil kesimpulan
  • Menyampaikan informasi yang benar secara setengah-setengah
  • Saat mendiskusikan sesuatu yang telah membuat ill feel sering tidak menyimak bahasan selanjutnya

Selain kesalahan-kesalahan di atas masih ada kemungkinan terjadinya kesalahan-kesalahan lain. Agar tidak melakukan kesalahan-kesalahan dalam berdiskusi maka kita perlu melakukan:

  • Klarifikasi terhadap informasi-informasi yang didapat. Untuk melakukan validasi terhadap informasi yang didapat kita bisa merujuk kepada buku-buku dari para ahli yang berkaitan dengan informasi yang kita dapat atau merujuk pada sumber informasi yang diakui, misalnya kamus ilmiah.
  • Membuka diri pada beragam paradigma/ sudut pandang terhadap suatu masalah.
  • Hati-hati terhadap informasi yang didapat, karena bisa jadi itu adalah hoax. hoax adalah berita bohong tentang sesuatu hal. terkadang hoax hampir mirip dengan kebenaran, bahkan ada pula bagiannya yang memang sebuah kebenaran.
  • Tidak menjadikan pendapat umum sebagai sebuah kebenaran.
  • Mencari padanan kata terhadap istilah yang didiskusikan. Pencarian padanan kata bisa juga dari bahasa lain yang dianggap sebagai bahasa asal dari istilah yang didiskusikan.
  • Tidak menjadikan informasi yang meragukan sebagai dasar opini.
  • Menyampaikan sumber informasi yang jelas dari setiap informasi yang kita sampaikan.
  • Menyampaikan bukti-bukti konkrit dari opini yang kita sampaikan.
  • Tidak melakukan generalisasi terhadap hal-hal yang tidak bisa digeneralisasi.

Apakah ada pendapat, masukan atau kritikan terkait gagasan ini? Apapun yang teman-teman sampaikan, itu adalah gagasan cerdas. Yang penting sampaikan dengan cara yang baik dan upayakan untuk disistematikakan juga dalam sebuah tulisan. Biar pembaca yang lain mengerti dan memahami apa yang sedang dan ingin kita sampaikan.

Yang terlintas dalam benakku, aku mesti bersungguh-sungguh, mengeluarkan semua tenaga dan pikiranku agar apa yang kumimpikan ini terwujud dalam ruang kenyataan.  Jujur, aku sangat menginginkan agar aku konsisten dalam menumbuhkan dan membumikan Gerakan 30 Menit membaca, menulis dan berdiskusi perhari yang kusingkat dengan G 30 M ini. Selanjutnya, selamat mengambil hikmah dan berdiskusi, mari masifkan G 30 M! []

Cp: 085 220 910 532, FB: Syamsudin Kadir

blog: akarsejarah@wordpress.com


[1] Ditulis di Jl. Ahmad Yani No. 873 Kota Bandung; Kamis/1 Junli 2010, Pukul 06.00-19.30 WIB. Disempurnakan pada Rabu/11 Agustus 2010

[2] Menurut Dr. Khalif Muammar dalam makalahnya Pandangan Islam terhadap Tradisi dan Modernitas—yang disampaikan pada acara Seminar Intenasional “Pertembungan Pandangan Alam (Worldviw) Islam dan Barat” yang diselenggarakan oleh Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan (PIMPIN) Bandung bekerjasama dengan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) Unversitas Kebangsaan Malaysia di Auditorium FIPS Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung Ahad, 8 Agustus 2010—menjelaskan bahwa turats adalah kumpulan karya-karya ulama silam yang merakamkan pemahaman dan penafsiran mereka terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah. Turast adalah warisan para ulama salaf yang sholeh dan ulama muktabar sepanjang zaman. Sedangkan tradisi (menurut beliau) adalah segala pandangan, doktrin, amalan, peribadatan, adat kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lain. Tradisi adalah ajaran-ajaran yang tidak tertulis daripada Nabi dan pembesar agama. Ia lebih kepada cerita dongeng dan mitos yang diturunkan dari generasi ke generasi melalui komunikasi lisan.” Karena itu di sini aku lebih relevan untuk menggunakan istilah turats.

[3] Yaitu suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu faktor dan faktor lain. Kesadaran magis dibangkitkan dengan mengaitkan bahwa kegiatan membaca sebagai sebuah pekerjaan suci yang dititahkan oleh agama (teologi membaca).

[4] Keadaan yang dikategorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat aspek manusia sebagai akar penyebab masalah masyarakat. Masalah etika, kreativitas dan need for achievment dalam kesadaran ini dianggap sebagai penentu perubahan. Jadi, dalam menganalisis penyebab kemiskinan masyarakat (misalnya) kesalahannya terletak pada masyarakat sendiri. Masyarakat dianggap malas membaca, tidak memiliki kewiraswastaan atau tidak memiliki budaya membangun dan seterusnya.

[5] Kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural menghindari blaming the victims (menyalahkan korban) dan melakukan analisis kritis untuk menyadari struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya serta akibatnya terhadap keadaan masyarakat. Untuk bisa mencapai kesadaran kritis dibutuhkan pendidikan kritis yang berbasis pada realitas sosial.

[6] Tuhan tidak akan merobah keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.

[7] Dielaborasi dari beberapa sumber seperti: Kitab “Etika Diskusi”, WAMY (World Assembly Moslem Youth) terbitan Intermedia, Solo (1998), http://nakih.blogdetik.com/ http://forum.dudung.net/

Iklan

4 thoughts on “Menghidupkan Kembali G 30 M

  1. keep your spirit my bro…together we wiil go to Indonesia JENIUS 2018 With Sang Bintang School…I’m interesting for Cultur of Discussion, Reading n’ Writing…take care..(Shr/14)

    • Sepakat dengan pernyataan ini : “keep your spirit my bro…together we wiil go to Indonesia JENIUS 2018 With Sang Bintang School…I’m interesting for Cultur of Discussion, Reading n’ Writing…take care.” Mantap, tulisan ini memang merupakan bagian dari upaya membumikan G 30 M (Gerakan 30 Menit membaca, menulis dan berdiskusi perhari). Jzklh akh Sahri. Wassalamu’alaikum

  2. cara memulai diskusi ya dengan cara kita harus bisa mencari topik yang menarik untuk dibahas, tidak perlu susah-susah atau rumit untuk mengangkat topik. coba cari perihal yang menarik yang ada disekitar kita.

    dan orang-orang yang ikut dalam diskusi juga cukup tahu masalah dan problem apa yang didiskusikan……..

    Bali Villa Bali Villas Bali Property

  3. minta izin buat diprint and copas ya…..!!!!! untuk sementara diprint……nanti kalau udah dizinin copas, baru dimasukkan ke web

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s