Menangislah untuk Perpisahan ini! (Untuk ‘Idul Fitri 1431 H)

Saudaraku, betapa sayangnya Allah kepada kita. Pada saat kita berlumuran dosa, maksiat dan khilaf, Allah menyediakan sarana penyucian dan pengampunan.  Ramadhan, sebuah bulan yang kita tunggu-tunggu. Bulan mengasah diri menjadi hamba-Nya yang tulus menghamba. Ya ramadhan, bulan seribu bulan. Bulan memadu cinta, memecut kemesraan. Hingga kelak kita memperoleh derajat takwa.

Saudaraku, kita tentu masih ingat, bagaimana antusias dan kesungguhan kaum muslimin dalam memanfaatkan kesempatan selama 30 hari itu. Betapa kasmarannya para pecinta amal sholeh mengisi hari-harinya. Begitu merdunya tilawah, khusyu’nya shalat, tulusnya do’a dan ikhlasnya beramal sholeh para pecinta Tuhan Pencipta.  Lalu, adakah yang lebih indah dalam kehidupan seorang hamba melebihi rindunya kepada ramadhan? Adakah yang lebih utama dinantikan selain  kembali suci seperti ketika awal dilahirkan?

Saudaraku, mungkin setiap kita punya kisah, kesan dan pengalaman sendiri selama ramadhan. Ada yang memohon ampun atas dosa dan khilaf selama hidup. Ada juga yang merasa seakan menemukan kembali jati diri kemanusiaan dirinya.  Intinya semua orang punya ceritanya masing-masing.

Saudaraku, kini, kita sudah berada di awal Syawal. Sebuah kesempatan awal dimana kita memperoleh hasil dari usaha dan amal kita selama Ramadhan. Lalu, apa yang kita peroleh? Apakah sudah cukup 30 hari bagi kita kemudian merasa terampuninya semua dosa? Apakah kita merasa sedih ditinggal pergi sang kekasih, ramadhan tercinta? Lalu, apa yang kita peroleh dari ramadhan?

Saudaraku, orang bijak mengatakan, “Hidup adalah pertanggung jawaban. Itulah kesadaran eksistensial yang hadir dalam nurani kita sebagai muslim. Kita mesti menyadari bahwa di atas jalan panjang kehidupan ini, kita sesungguhnya memikul tanggung jawab besar dan utuh. Dengan kesadaran yang amat berani bahwa manusia menerima amanah sebagai pengelola bumi. Di sini kita diharuskan untuk menyadari realitas hidup dan tantangan yang bergulat di dalamnya.

Saudaraku, kita tak tahu apakah ramadhan yang baru saja berlalu adalah ramadhan terakhir dalam hidup kita atau tidak. Semuanya ada dalam takdir-Nya. Namun, kalau saja ramadhan yang baru berlalu adalah ramadhan terakhir dalam hidup kita di sini, di dunia, maka alangkah sedihnya kita. Ini adalah pertemuan terakhir kita dengannya. Karena itu, menangislah untuk perpisahan ini!

Saudaraku, mungkin selama perjalanan hidup ada kesalahan yang belum dimaafkan, mari saling memaafkan. Ucapkanlah do’a sekaligus kebahagiaan di hari fitri, ”Taqobalallahu minna wa mingkum!”, Selamat Hari Raya ’Idhul Fitri 1431 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin!  []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s