Beningnya Cinta

5 Sep

“Cinta sejati adalah cinta yang dibangun dalam ruang kecintaan-Nya. Cinta yang membuat seseorang hamba bertambah tulus dan ikhlas beribadah kepada-Nya. Cinta yang membawa seseorang hamba bertambah sabar menjalani kehidupan yang dilaluinya. Itulah beningnya cinta”

BEBERAPA waktu yang lalu, aku diminta tuk mengisi bedah buku Mengapa Aku Mencintai KAMMI: Serpihan Hati Para Pejuang di Bandung. Beberapa pekan kemudian aku juga diundang tuk membedah buku yang sama di Tasikmalaya. Jujur, aku merasa materi ini terlalu sensitif bahkan asing bagiku. Bukan karena bukunya, tapi karena tema cinta yang konon kadang membuat orang terpedaya. Jujur, aku takut dan khawatir dengan diriku. Aku takut terjebak dalam kubangan kepalsuan. Cinta palsu. Mengapa?

Bagiku, buku ini merupakan serpihan cinta beberapa kader terbaik KAMMI. Ini adalah bukti cinta mereka untuk gerakan KAMMI, Islam dan negeri ini. Lalu? Aku hanyalah manusia biasa, yang tak begitu tahu KAMMI. Tak begitu paham secara mendalam isi buku itu. Walau menjadi editor yang mengotak-atik naskah  sebelum ia menjadi buku, aku tetap merasa kalau aku tak memiliki kompetensi untuk membedah buku itu. Tapi entahlah, ini mungkin sudah takdirku di KAMMI: Menjadi tim instruktur tuk setiap agenda yang terkait dengan KAMMI. Tentang apa saja dan kapan saja. Walaupun aku masih merasa, kalau apa yang kulakukan kadang tak selalu aku pahami dan kuasai. Aku merasa masih belajar dan mencoba tuk terus belajar.

Beberapa hari setelah mengisi undangan di beberapa kampus dan daerah, akupun semakin percaya bahwa orang bisa karena biasa. Ya, aku mendapatkan pelajaran dari berbagai kampus dan tempat. Di Unsil (Tasikmalaya), Unisma (Bekasi), UII (Jogjakarta) dan Unpas, UIN (Bandung) sendiri. Dari semua tempat aku memperoleh hikmah yang sulit tuk aku lupakan. Indonesia memang terlalu indah tuk aku lupakan. Jujur, aku mencintai negeri ini, aku mencintai Indonesia. Walau tetap tahu diri, kalau aku mencintai Indonesia tapi belum memberi apa-apa dan belum melakukan apa-apa. Ya, aku masih belajar agar dapat membuktikannya.

Tepat akhir Juni 2010, aku diundang oleh beberapa aktivis kampus Universitas Padjajaran (Unpad) Jatinangor, Sumedang. Aku diminta untuk mengisi seputar pengkaderan, seputar kaderisasi KAMMI. Singkat cerita, aku menunaikan semua ini sebagai upayaku tuk terus belajar memberi, belajar melakukan. Ya, aku belajar mencintai diriku sendiri, mencintai saudara-saudaraku, mencintai KAMMI, mencintai Indonesia dan mencintai Islam. Walau tak begitu bening, namun begitulah diri ini mencoba melatih menjadi yang terbaik. Walaupun ketidakikhlasan itu selalu menggoda. Begitulah warna kehidupan. Namun, di balik semua itu aku mencoba untuk menunaikan semuanya dengan ikhlas hanya karena dan untuk-Nya, insya Allah.

Aku teringat dengan SMS seorang adik angkatanku di KAMMI, “Kadang Allah menghendaki kita jatuh, kalah dan menangis. Itu hanya untuk membuat kita sadar, bahwa keberhasilan itu butuh keringat dan air mata. Biarlah Allah saja yang menyemangati kita, hingga ia menjadikan setiap peristiwa adalah teguran atas segala  kelalaian. Cukup Allah saja menilai kita, karena penilaian terkadang menghanyutkan keikhlasan.” Ya, aku mencoba untuk belajar tulus dan ikhlas.

Suatu waktu setelah kembali dari berbagai aktivitas yang cukup melelahkan akupun kembali ke tempat tinggalku di sebuah perumahan di Jatinangor. Di sana aku tidur pulas. Nikmatnya! Di sana, aku membaca buku Ini Rumah Kita, Sayang… karya Gola Gong dan Tyas Tatanka (istrinya). Tak disangka, pikiranku mengawang ke mana-mana. Akhirnya akupun tertidur.  Singkat cerita, akupun bermimpi. Mimpi itu kurekam dalam catatanku.

**

“Sesaat akupun mengobrol dengan seseorang yang sedang berada di depanku. Akupun menyampaikan sesuatu untuknya.  ‘Apakah kau pernah menonton sinetron Beningnya Cinta, sayang?  Kalau belum pernah, aku berharap kau menonton dan memahami jalan ceritanya. Juni 2010 yang lalu, bahkan hingga kini sinetron itu masih ditayangkan di TV Indosiar setiap ba’da magrib. Aku tak mengajakmu tuk menodai makna cinta yang sesungguhnya. Ini sekedar berbagi pengalaman dan berita. Betapa dunia ini masih meyisahkan banyak cerita. Aku tak mau menceritakan apa yang aku peroleh dari sinetron itu. Aku hanya meminjam judulnya: Beningnya Cinta. Lalu, apakah kau ingin mengambil hikmah, sayang?”

**

ENTAH karena apa, akupun terbangun. Yang terbesit dalam benakku, betapa indahnya mimpiku kali ini. Seakan-akan si dia benar-benar berada di depanku. Ternyata mimpi. Kata seorang temanku, “Mimpi memang benar-benar menggoda dan membuat banyak orang menjadi suka tidur”.

Ya itulah sedikit mimpi yang kuingat. Jujur, aku memang beberapa waktu sempat menonton sinetron itu. Ternyata karenanyalah aku ikut terhanyut. Bukan pada perjalanan ceritanya, tapi pada pesan utamanya. Aku mencoba tuk menjadi penonton yang mampu mengambil manfaat terbaik dari setiap yang ada di sinetron itu.

Suatu ketika dalam hayalku, akupun menyampaikan sesuatu dalam sebuah coretan untuk si dia.

**

“Dari sinetron ini aku memperoleh beberapa hal yang mungkin sangat bermanfaat bagi kehidupanmu dan juga kehidupanku kelak. Mungkin yang terbersit dalam benakmu ketika mendengar apa yang kusampaikan ini aku terlalu melankolik. Namun hikmah dan pelajaran yang aku peroleh dari sinotren ini cukup punya maknanya dalam ruang pikiran dan pemahamanku beberapa waktu terakhir.

Jujur, aku terkesima dengan Bening, salah satu pemain yang berperan sebagai pembantu rumah tangga Pak Arman yang diperankan oleh Jiremi Tomas. Di sini bukan menceritakan bagaimana pak Arman memperlakukan beberapa wanita dan juga beberapa pembantunya. Yang aku ingat adalah betapa baiknya Bening dalam menunaikan peran dan fungsinya sebagai pembantu rumah tangga. Tak cukup di situ, Bening juga memperlihatkan kepada publik betapa sabarnya Bening menghadapi sikap kedua wanita kakak-beradik yang sering berada di rumah Pak Arman, yang selalu menzdaliminya.

Di antara pelajaran penting dari kisah ini adalah bahwa berbuat baik itu mesti dilakukan secara tulus kepada siapapun. Tak perlu orang lain berbuat baik, yang utama adalah ketulusanku tuk berbuat baik. Lebih dari itu, bersabar adalah kemestian bagi siapapun yang ingin hidup lama; lama fisiknya, lama pikiran dan kebaikannya itu sendiri.

Lalu, apakah kau mendapatkan sedikit hikmah dari apa yang kusampaikan ini? Apakah kau bisa mengambil pesan dan makna dari catatan ini? Kalau boleh menyampaikan sesuatu, aku ingin mengatakan kepadamu secara jujur. Kalau kau menjadi bagian dari hidupku, maka jadikan kedua hal di atas sebagai pewarna hidup dan langkahmu. Aku mengharapkan ketulusanmu dalam menunaikan fungsi dan peran sebagai pendamping hidup; dan juga kesabaranmu dalam menerima dinamika dan warna kehidupan yang dilewati. Tentu, aku tak hanya mengharapkan semua itu darimu seorang, tapi juga untuk aku sendiri. Aku mohon do’amu agar aku mampu menjadi yang terbaik; mampu tulus dan sabar melewati semua warna hidup yang kita lewati kelak.

Kalau Bening bisa dan mampu tulus, baik dan sabar, yang kuharap adalah kita juga mampu. Begitulah Bening memberi kita teladan bagaimana cara melangkah dalam hidup. Itulah kekuatan yang membuat Bening bertambah kuat. Begitupun bagi kita.

Akankah kau mampu mengambil kebeningan dari beningnya cinta Bening? Aku harap begitu. Yang jelas, itu bukan sekedar beningnya cinta Bening, tapi itu juga adalah beningnya cinta. Semoga kita mendapat hikmah dan pelajaran dari beningnya cinta Bening!”

**

WAKTU terus berjalan. Kini aku sudah berada di awal Juli 2010. Dari keseluruhan pengalaman ini, aku jadi teringat dengan salah satu tulisanku di kertas kusam beberapa pekan yang lalu, “Cinta sejati adalah cinta yang dibangun dalam ruang kecintaan-Nya. Cinta yang membuat seseorang hamba bertambah tulus dan ikhlas beribadah kepada-Nya. Cinta yang membawa seseorang hamba bertambah sabar menjalani kehidupan yang dilaluinya. Namun, cinta kepada-Nya bukan berarti tidak mencintai hamba atau penciptaan-Nya. Karena justru, semestinya, karena mencintai-Nya maka kitapun mencintai penciptaan-Nya. Tentu tidak melebihi cinta kepada-Nya. Itulah beningnya cinta”. [Syamsudin Kadir]

Jl. Ahmad yani No. 873

Sabtu, 3 Juli 2010 Pukul 17-00-18.15 WIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: