<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Akar Sejarah Peradaban</title>
	<atom:link href="http://akarsejarah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akarsejarah.wordpress.com</link>
	<description>Membumikan Ideologi, Menginspirasi Dunia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 14:07:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='akarsejarah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/9a16803a2f91399d2693a0fac40da92b?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Akar Sejarah Peradaban</title>
		<link>http://akarsejarah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://akarsejarah.wordpress.com/osd.xml" title="Akar Sejarah Peradaban" />
	<atom:link rel='hub' href='http://akarsejarah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Belajar Menantang Kegagalan</title>
		<link>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/27/belajar-menantang-kegagalan/</link>
		<comments>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/27/belajar-menantang-kegagalan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 14:07:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsudin Kadir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarsejarah.wordpress.com/?p=1204</guid>
		<description><![CDATA[“… mari belajar dari kekalahan dan kegagalan anak kecil. Tantanganlah kesalahan dan kegagalan dengan tekad dan semangat. Dengan begitu, Anda akan semakin paham bagaimana menjadi orang sukses dan menjadi pemenang.” DALAM kehidupan ini selalu ada dua sisi yang berpasangan dan silih berganti. Ada menang dan kalah, ada sukses dan gagal, dan seterusnya. Hampir tak ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1204&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="center"><em>“… mari belajar dari kekalahan dan kegagalan anak kecil. Tantanganlah kesalahan dan kegagalan dengan tekad dan semangat. Dengan begitu, Anda akan semakin paham bagaimana menjadi orang sukses dan menjadi pemenang.”</em></p>
<p style="text-align:justify;" align="center">
<p style="text-align:justify;"><strong>DALAM</strong> kehidupan ini selalu ada dua sisi yang berpasangan dan silih berganti. Ada menang dan kalah, ada sukses dan gagal, dan seterusnya. Hampir tak ada kehidupan yang tidak melalui sisi-sisi tersebut. Bahkan kehidupan ini semakin indah jika sisi-sisi tersebut hadir silih berganti. Sederhananya, tidak <a href="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/foto-semangat.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-1205" title="foto semangat" src="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/foto-semangat.jpeg?w=627" alt=""   /></a>ada orang yang mengalami kesuksesan jika tidak pernah mengalami kegagalan dan tidak pernah ada orang yang mengalami kemenangan jika tidak pernah mengalami kekalahan. Jika ingin sukses dan menang, maka bersiap-siaplah untuk gagal dan kalah.</p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><strong>“Dalam kehidupan ini, gagal dan kalah itu perlu. Dari kegagalan kita akan lebih paham bagaimana agar jangan gagal berulang-ulang, kemudian kita pun menjadi orang berhasil. Dari kekalahan kita akan lebih paham bagaimana agar jangan kalah berulang-ulang, kemudian kita pun menjadi pemenang.”</strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang takut gagal selalu menjadikan kegagalan awal sebagai penghambat dirinya untuk mencoba atau mengulangi upayanya dalam mendalami atau mengupayakan satu rencana besar dalam hidupnya. Sebaliknya, orang yang berani gagal selalu menjadikan kegagalan di awal sebagai pintu masuk bagi dirinya untuk mencoba kembali strategi yang pernah dicoba, atau mencoba sesuatu yang baru dari strategi yang pernah dia coba sebelumnya.<span id="more-1204"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang takut kalah selalu menjadikan kekalahan awal sebagai alasan bagi dirinya untuk berhenti berkarya. Sebaliknya, orang yang berani kalah selalu belajar dari kekalahan. Baginya, kekalahan adalah jembatan sekaligus upaya lanjutan untuk meraih kemenangan-kemenangan berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang yang takut gagal dan takut kalah mudah mengeluh dan menyerah begitu saja kepada kegagalan dan kekalahan yang pernah dia peroleh. Jika dia gagal, baginya itu adalah pintu akhir dari kesuksesan dan kehidupannya. Jika dia kalah, maka baginya itu adalah pintu bagi kehancuran dan kekalahan berikutnya.</p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><strong>“Mari perhatikan orang sukses dan para pemenang. Mereka tidak mau kalah dengan kegagalan atau tantangan yang mereka hadapi dalam mencapai sebuah kesuksesan. Mereka bahkan menantang tantangan dan hambatan yang berserakan dalam kehidupan yang mereka lalui secara lantang.”</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mereka memahami tantangan dan hambatan sebagai tempat belajar gratis bagaimana menggapai kesuksesan dengan cara yang berbeda. Bahkan dengan begitu, mereka percaya bahwa berbagai jenis kesuksesan akan hadir bagai air yang mengalir tanpa henti. Mereka percaya dengan satu falsafah hidup : “Kehidupan ini selalu dipergilirkan.” Karenanya, tak perlu takut dengan apapun yang sedang dialami. Apa yang sedang dialami saat ini adalah takdir Sang Kuasa dan hasil dari jerih payah dan upaya pada masa lalu yang telah lewat. Bagi mereka, cukup bersyukur dengan apa yang ada.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, dalam melalui sisi-sisi kehidupan yang sedang dilalui ini, ada baiknya jika kita belajar dari anak kecil. Kita akan menyaksikan bahwa ternyata anak kecil sangat kreatif dan berani. Dia tak takut salah, gagal dan kalah. Suatu ketika dia mulai berdiri kemudian jatuh. Mungkin Anda akan melihat dia menangis karena kesakitan. Tapi Anda akan melihat seketika dia takkan pernah menyerah, dia bangkit lagi untuk mencoba. Sekian waktu dia melalui proses “mencoba”, akhirnya dia pun bisa berdiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh lain, anak kecil yang melatih bersepeda kemudian jatuh, dia sakit. Dia benar-benar sakit. Tapi apakah dia berhenti bersepeda? Tentu saja tidak. Dia tidak menjadikan pengalaman ‘sakit’ sebagai tembok penghalang bagi dirinya untuk menjadi orang yang bisa bersepeda. Makanya, tidak heran jika dia mencoba kembali dan begitu seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemarin dia jatuh karena menambrak batu yang berada di sisi jalan, makanya dia ‘sakit’. Namun dia tak mau kalah, sebab dalam dirinya terdapat naluri dan kemauan yang kuat untuk bisa. Dari situ dia belajar agar nanti hati-hati. Agar kesalahan yang dia lakukan kemarin tidak terulang kembali. Di sini kreatifitasnya muncul. Dia pun mencoba kembali, baik dengan cara yang kemarin atau bahkan mungkin dengan cara baru yang muncul dalam lintasan pikirannya hari ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak cukup di situ, dia juga semangat untuk mencoba kembali. Semangatnya untuk mencoba menutupi rasa sakit yang dia rasakan ketika awal-awal berlatih. Dia berani melawan rasa ‘sakit’ dan semua bayangan yang melintas dalam pikirannya dengan satu kata : berani. Berani mencoba, berani memulai dan berani menantang kegagalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sikapnya terhadap rasa ‘sakit’ itulah, kini anak kecil tersebut sudah bisa bersepeda. Kini dia sudah bisa bersepeda dengan lancar. Bahkan dengan kemampuannya itu kini dia bisa membantu Ibunya membawa barang dagangan ke pasar, misalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, bagaimana dengan kita? Sebagai orang dewasa, kita bisa jadi tidak sehebat anak kecil. Bahkan banyak penelitian menjelaskan bahwa orang dewasa tidak sekreatif dan seberani anak kecil. Walaupun kenyataan seperti ini tidak bisa menggeneral orang dewasa secara keseluruhan, namun hal ini bisa dijadikan sebagai pembelajaran bagi kita untuk banyak belajar kepada ‘kegagalan’ anak kecil yang tak mau kalah karena kekalahan, tidak mau gagal karena kegagalan, tidak mau jatuh karena kejatuhan dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Anda mungkin pernah membangun usaha kemudian gagal bahkan bangkrut. Lalu, apa yang Anda lakukan atas apa yang Anda alami saat itu? Tentu saja Anda memiliki jawaban tersendiri. Yang jelas, belajarlah dari apa yang Anda alami. Periksa ulang hal-hal besar atau bahkan hal-hal kecil yang mungkin menjadi pemicu bagi hadirnya kegagalan dan kebangkrutan usaha Anda. </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Anda pernah kuliah kemudian tidak kelar-kelar. Mungkin Anda bisa mengungkap secara jujur apa saja yang menjadi penyebab, misalnya : minimnya dana untuk biaya, kondisi keluarga yang tidak mendukung dan lain-lain. Tapi apakah Anda pernah mengevaluasi hal-hal lain yang juga terkait dengan kuliah Anda, semisal niat dan orientasi Anda? Atau mungkin manajemen diri dan manajemen waktu Anda?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Anda pernah mencari pekerjaan namun belum juga mendapatkan pekerjaan. Jangan pernah menyerah. Sang Kuasa tidak mungkin membiarkan Anda begitu saja dalam kondisi yang membuat Anda hilang semangat. Bisa jadi apa yang sedang Anda alami itu adalah pintu masuk bagi Anda untuk membuat pekerjaan sendiri atau membangun usaha sendiri. Banyak hal yang bisa Anda lakukan : membuat lembaga pelatihan, mendirikan lembaga kursus bahasa Inggris, menjual pisang goreng, menjual makanan ringan, menjual roti, menjual koran, menjual jam tangan, menulis buku, menjadi editor atau jika memungkinkan Anda bisa mendirikan penerbitan buku.  </em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="text-decoration:underline;">Siapapun Anda, kegagalan dan kekalahan adalah bumbu bagi kesuksesan dan kemenangan yang Anda peroleh kelak. Jangan pernah menyerah begitu saja kepada apa pun yang Anda alami saat ini.</span></strong> Percayalah, Anda adalah orang yang segera mendapatkan giliran kesuksesan dan Anda pun menjadi pemenang. Bersabarlah menanti peristiwa mulia dan luar biasa itu. Karena Anda memiliki takdir tersendiri untuk sukses dan menjadi pemenang, semuanya datang tepat pada waktunya. Dalam dugaan atau di luar dugaan Anda.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai penutup, tanpa bermaksud ‘menggurui’ Anda, saya ingin mengatakan satu hal kepada Anda : mari belajar dari kekalahan dan kegagalan anak kecil. Tantanganlah kesalahan dan kegagalan dengan tekad dan semangat. Dengan begitu, Anda akan semakin paham bagaimana menjadi orang sukses dan menjadi pemenang. Akhirnya, tunggulah giliran Anda menjadi orang sukses dan menjadi pemenang!  []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarsejarah.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarsejarah.wordpress.com/1204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarsejarah.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarsejarah.wordpress.com/1204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarsejarah.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarsejarah.wordpress.com/1204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarsejarah.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarsejarah.wordpress.com/1204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarsejarah.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarsejarah.wordpress.com/1204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarsejarah.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarsejarah.wordpress.com/1204/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarsejarah.wordpress.com/1204/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarsejarah.wordpress.com/1204/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1204&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/27/belajar-menantang-kegagalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2858830a285e47afaef1481c19795a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarsejarah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/foto-semangat.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">foto semangat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam dan Kehidupan Publik</title>
		<link>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/26/islam-dan-kehidupan-publik/</link>
		<comments>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/26/islam-dan-kehidupan-publik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 05:52:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsudin Kadir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarsejarah.wordpress.com/?p=1196</guid>
		<description><![CDATA[Tugas dakwah atau aktivitas perbaikan adalah menyemai kesenjangan antara idealis Islam dan kenyataan umatnya. Mencari titik kepastian Islam pada individu dan komunitas umatnya, juga umat manusia seluruhnya. Dengan begitu, akan terjadi gelombang besar islamisasi dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia. Selanjutnya tugas dakwah juga mencakup: menerangkan mana yang halal dan yang haram, mana yang boleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1196&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/gambar-quran1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1200" title="gambar qur'an" src="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/gambar-quran1.jpg?w=300&#038;h=240" alt="" width="300" height="240" /></a>Tugas dakwah atau aktivitas perbaikan adalah menyemai kesenjangan antara idealis Islam dan kenyataan umatnya. Mencari titik kepastian Islam pada individu dan komunitas umatnya, juga umat manusia seluruhnya. Dengan begitu, akan terjadi gelombang besar islamisasi dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya tugas dakwah juga mencakup: menerangkan mana yang halal dan yang haram, mana yang boleh dan dan mana yang terlarang, memberi jalan keluar bagi semua persoalan yang ada. Baik persoalan pertahanan-keamanan, ekonomi, politik, sosial, budaya,  lingkungan, pendidikan, keilmuan dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita percaya akan ada banyak orang yang mengatakan bahwa kalau kita beriman dan bertakwa kepada Allah, melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya; selalu memperhitungkan halal dan haram, yang boleh dan yang terlarang; membersihkan hati dari segala bentuk kotoran dan penyakit, akan menyebabkan datangnya pertolongan Allah. Dan pertolongan Allah itu bentuknya banyak, di antaranya adalah keberhasilan-keberhasilan duniawi.<span id="more-1196"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Namun, keyakinan ini tidak boleh menafikan keharusan bekerja dan berusaha secara wajar dan layak untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Apakah karena seorang petani mukmin, sholeh dan berakhlak mulia kemudian dia tidak perlu memilih benih yang berkualitas, memupuk dan mengusir hama untuk memperoleh hasil optimal? Tentu saja tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, sekali lagi, dakwah selain berkewajiban menyampaikan nilai-nilai ilahiyah yang bersumber dari wahyu, juga berkewajiban terjun langsung ke ruang umat yang dirundung problematika. Dakwah seperti ini kita sebut saja sebagai dakwah <em>bil hal</em>, dakwah amal nyata. Ini merupakan bagian dari usaha manusiawi. Dengan demikian kelayakan kita menerima pertolongan Allah—karena kita menjadi orang-orang sholeh—akan bertemu dengan upaya yang wajar, relevan dan logis. Begitulah perspektif dan logika umat ini kita bangun.</p>
<p style="text-align:justify;">Bila dakwah atau pengusung (pelaku) perubahan bisa melakukan dakwah secara <em>bil-maqol</em> (verbal) dan <em>bil-hal</em> (kerja nyata), maka umat Islam akan menjadi umat yang kuat, berwibawa, akan diperhitungkan oleh umat lain dan bahkan akan segera menjemput takdir sejarah barunya, menjadi pemimpin dunia di tataran global.</p>
<p style="text-align:justify;">Menjadi umat yang kuat adalah amanah dakwah yang dipesankan oleh Rasulullah Saw. Hal ini terungkap dari do’a yang sering beliau lantunkan kepada Allah Swt., “<em>Allahumma inni a’uzubika minal-hammi wal hazan”</em> (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebimbangan dan kesedihan). Rasulullah Saw. mengajari kita menjauhi keterpuruhan mental; penuh kebimbangan dan kesangsian serta diliputi kesedihan. Mental yang tidak berani berdiri tegak di hadapan wajah kekuatan penjajah dan musuh Allah Swt. Keberdayaan mental inilah yang akan menjadi pendorong keberdayaan faktor-faktor lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya Rasulullah Saw. memohon, “<em>Wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasal</em><em>”</em> (Dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan (fisik) dan kemalasan). Isyarat ini membimbing kita juga agar memiliki keberdayaan secara fisik. Karena fisik yang berdaya dapat melakukan banyak hal untuk kebaikan banyak orang. Rasulullah Saw. bersabda, ”<em>Orang-orang yang paling baik adalah mereka yang paling besar manfaatnya bagi orang lain.</em><em>”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“</em><em>Wa a’udzubika minal jubni wal bukhli</em><em>”</em> (Dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan kekikiran). Hal ini menggambarkan, bahwa seorang muslim idealnya adalah yang memiliki sifat berani dan dalam waktu yang bersamaan mesti rendah hati dan dermawan. Muslim yang bercorak seperti ini adalah muslim yang berdaya secara sosial. Dan rangkaian terakhir dari do’a itu, “<em>Wa a’udzubika min gholabatiddaini wa qahrir-rijal”</em> (Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan dari penindasan orang-orang). Dan yang gambarannya seperti itu hanyalah umat yang berdaya secara ekonomi dan politis. Artinya, umat Islam tidak selalu terjebak dalam ruang ketidakberdayaan, karena mesti mentransformasikan diri menjadi komunitas manusia yang berdaya. Sehingga, adigium muslim idealis-tak berdaya berubah menjadi idealis-berdaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih dari itu semua, Islam memang memerintahkan agar kaum muslimin terlibat dalam mengurusi permasalahan <em>r</em><em>ea</em><em>l</em> kemanusiaan dalam segala aspeknya. Rasulullah Saw. bersabda, “<em>siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka ia tidak termasuk komunitas mereka.</em><em>”</em><em> </em>Lebih rincinya, perhatikanlah bimbingan-bimbingan Islam dalam beberapa hal berikut sebagai contoh sederhana dari lahan-lahan dakwah <em>bih-hal</em> yang kita ketengahkan tadi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>a.      </strong><strong>Bidang </strong><strong>Lingkungan </strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dalam masalah pemeliharaan dan pelestarian lingkungan, Allah Swt. berfirman, <strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah keberesannya.</em><em>”</em> <a title="" href="#_ftn1">[1]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“</em><em>Siapa yang memotong pohon bidara, maka Allah akan membenamkan kepalanya ke dalam neraka.</em><em>”</em><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam menjelaskan hadits ini Imam Abu Daud mengatakan,</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Barangsiapa yang menebang pohon bidara di tengah lapang yang dipergunakan sebagai tempat berteduh orang yang lewat atau pun binatang, karena main-main dan berlaku zalim, tanpa ada kebenaran padanya, maka Allah akan menenggelamkan kepalanya di </em><em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>neraka”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini menunjukkan bahwa pepohonan tidak boleh ditebang sembarangan kecuali sekadar kebutuhan dan itupun harus dengan perhitungan yang cermat. Hutan tidak layak digundul tanpa perhitungan akurat, matang dan jangka panjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Islam juga menghargai dan memuji orang yang memfungsikan tanah yang mati atau terbengkelai agar menjadi subur dan produktif. Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Barangsiapa yang menghidupkan tan</em><em>a</em><em>h mati, maka tanah itu menjadi miliknya. Dan apa yang dimakan oleh binatang liar, maka hal itu menjadi shodaqoh baginya.</em><em>”</em><em> </em>(HR. Ahmad)</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan lebih tegas dari itu, saat akan terjadi Kiamat sekalipun, kita diperintahkan atau wajib bagi kita untuk menanam. Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Jika kiamat terjadi, sedangkan di tangan ses</em><em>e</em><em>orang di antara kalian ada benih tanaman, maka selama ia mampu menanamnya sebelum berdiri maka lakukanlah.</em><em>”</em> (HR. Ahmad)</p>
<p style="text-align:justify;">Coba perhatikan secara jeli pernyataan nabi dalam hadits tersebut. Pesannya sangat jelas, bahwa selama masih ada waktu untuk hidup di dunia hingga tibanya Kiamat, kita tetap berkewajiban untuk menanam benih tanaman. Tentu saja maknanya, bukan sekadar tanaman tapi juga soal amal atau jenis kebaikan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah Islam mengatur sekaligus memberi kerangka umum kepada kita dalam menata lingkungan dan mengelola bumi yang luas ini. Sebuah panduan yang sulit ditemukan dalam sistem dan ajaran agama lain atau kepercayaan apapun yang ada di muka bumi ini. Bukan kah ini berarti bahwa Islam itu mencakup segala hal?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>b.      </strong><strong>Bidang</strong><strong> Ekonomi </strong><strong></strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Tidak lama setelah Rasulullah Saw. dan kaum muhajirin tiba di kota hijrah, Yatsrib, yang kini dikenal sebagai Madinah, hal pertama yang dilakukan beliau setelah membangun mesjid adalah membangun pasar. Rasulullah Saw. menyadari bahwa kaum Yahudi telah lama menguasai pusat-pusat perdagangan. Bahkan merekalah pemilik pusat-pusat perdagangan itu. Akibatnya mereka menguasai hampir seluruh aset masyarakat di Madinah dan daerah-daerah di sekelilingnya. Sehingga kendali harga berada di tangan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh sangat tepat ketika Rasulullah Saw. memutuskan untuk membangun pusat perdagangan kaum muslimin. Maka ketika kaum muslimin dalam perilaku bisnisnya menampilkan sikap dan sifat terpuji, masyarakat serta merta menyambut kehadiran pasar yang dibangun oleh Rasulullah Saw. dan kaum muslimin itu. Ini artinya mereka meninggalkan sentra-sentra perdagangan Yahudi sebagai pusat perdagangan mereka sebelumnya. Pada gilirannya pasar berada dalam kendali Rasulullah Saw. dan secara ekonomi Madinah beralih ke tangan beliau sebagai <em>icon</em> pemimpin saat itu. Sebuah prestasi yang dalam konteks kepemimpinan tak ada bandingannya di zaman ini bahkan untuk sepanjang zaman.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaannya, mengapa mesti ekonomi? Kita memaklumi bahwa kesejahteraan adalah salah satu unsur primer dalam kehidupan manusia, dan kekuatan ekonomilah yang menentukan pemenuhan kebutuhan ini. Sehingga tidak heran jika Rasulullah Saw. mengawali dakwahnya dengan menghadirkan model dan praktik ekonomi yang begitu daahsyat efeknya terhadap pembangunan ekonomi masyarakat ketika itu. Bukan saja bagi kaum muslimin tapi juga untuk kaum yang lain. Dari sini juga dapat kita simpulkan betapa Islam hadir bukan saja membahagiakan kaum muslimin tapi juga kaum yang lain. Sebuah kenyataan yang sulit kita dapatkan dalam dunia Barat pada zaman modern ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>c.       </strong><strong>Bidang </strong><strong>Kesehatan </strong><strong></strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Kesehatan masyarakat sangat terkait dengan kesehatan lingkungan. Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan masalah pemeliharaan lingkungan agar tidak terjadi pencemaran atau berkembangnya bibit penyakit. Rasulullah Saw. bersabda,</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Hindarilah tiga perbuatan terkutuk: buang air besar di sumber-sumber air, di jalan, dan di bawah bayang-bayang (tempat berteduh).” </em> (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat yang sama Islam juga menganjurkan agar menanam pohon sekaligus menghadirkan kehidupan yang sehat dan nyaman. Hal ini bisa kita pahami dari bagaimana Islam memberi isyarat, baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>d.      </strong><strong>Bidang S</strong><strong>osial-Politik </strong><strong></strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dakwah <em>bil-hal</em> dalam bidang sosial-politik bertujuan antara lain untuk memberdayakan masyarakat secara politis. Keberdayaan secara politis ditandai dengan misalnya, hadirnya masyarakat yang memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara; berani mengatakan ‘tidak’ bagi segala yang berada di luar jalur kebenaran; dan sebaliknya siap untuk mendukung bahkan berkorban untuk kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, menetapkan prinsip <em>“tidak taat kepada pemimpin makhluk dalam rangka maksiat kepada Kholik (Allah Swt.)”</em> menjadi penting. Dalam hal lain, seperti melakukan kontrol kepada penguasa dan pembelaan kepada yang tertindas, Rasulullah Saw. bersabda, <em>“tolonglah saudaramu baik dalam keadaan zholim ataupun dalam keadaan sebagai yang dizholimi.” </em><em>“</em><em>Tapi bagaimana kami membela yang zholim?</em><em>”</em><em> tanya para sahabat. Rasulullah Saw. menjawab, </em><em>“</em><em>dengan cara mencegah kezholimannya</em><em>.” </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dari beberapa hal di atas saja sudah cukup bagi kita untuk meyakini dan mengatakan bahwa Islam memang merupakan agama yang sempurna dan menyeluruh; ia mencakup semua urusan manusia, baik dunia maupun akhirat, baik yang bersifat individu maupun yang bersifat kolektif. Islam adalah agama yang mencakup dimensi pribadi sekaligus sosial.</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Qs. Al-A’raaf (7): 56.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarsejarah.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarsejarah.wordpress.com/1196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarsejarah.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarsejarah.wordpress.com/1196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarsejarah.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarsejarah.wordpress.com/1196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarsejarah.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarsejarah.wordpress.com/1196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarsejarah.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarsejarah.wordpress.com/1196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarsejarah.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarsejarah.wordpress.com/1196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarsejarah.wordpress.com/1196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarsejarah.wordpress.com/1196/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1196&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/26/islam-dan-kehidupan-publik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2858830a285e47afaef1481c19795a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarsejarah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/gambar-quran1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gambar qur&#039;an</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Idealis Islam Memposisikan Umatnya</title>
		<link>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/21/idealis-islam-memposisikan-umatnya/</link>
		<comments>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/21/idealis-islam-memposisikan-umatnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 10:40:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsudin Kadir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarsejarah.wordpress.com/?p=1191</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu variabel penting yang sering dibicarakan dalam dakwah Islam adalah umat. Secara umum umat bisa didefenisikan sebagai sebuah nama untuk satuan atau elemen yang memiliki visi-misi, konsep, pemimpin dan sejarah. Misi adalah orientasi dan cita-cita keberadaan umat, konsep adalah keseluruhan aturan yang terdapat di dalam risalahnya, pemimpin adalah utusan atau orang-orang yang mendapatkan amanah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1191&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Salah satu variabel penting yang sering dibicarakan dalam dakwah Islam adalah umat. Secara umum umat bisa didefenisikan sebagai sebuah nama untuk satuan atau elemen yang memiliki visi-misi, konsep, pemimpin dan sejarah. Misi adalah orientasi dan cita-cita keberadaan umat, konsep adalah <a href="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/mesjid.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-1194" title="mesjid" src="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/mesjid.jpeg?w=627" alt=""   /></a>keseluruhan aturan yang terdapat di dalam risalahnya, pemimpin adalah utusan atau orang-orang yang mendapatkan amanah untuk mendakwahkan risalahnya, dan sejarah adalah periodesasi dan tahapan-tahapan serta peristiwa dakwah yang terjadi di dalam etalase sejarahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai sebuah entitas sosial, maka umat tentu saja memiliki inti utamanya yaitu umat itu sendiri dan pemimpin umatnya. Berbicara mengenai umat terbaik seperti yang diungkap dalam al-Qur’an adalah mengeja secara apik mengenai kedua hal tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Yang pertama, pemimpin umat</em>. Menghadirkan pemimpin umat adalah salah satu poin utama dakwah Islam. Dan pada kenyataannya, secara sosiologis jumlah pemimpin itu selalu lebih sedikit bahkan sangat sedikit daripada jumlah umat secara umum. Orang-orang seperti ini memiliki kapasitas dan kemampuan strategis. Cara menghadirkannya hanya dengan satu cara : pengkaderan sistematis. Mengkader para pemimpin umat tentu saja berbeda dengan mengkader umat itu sendiri. Sebab para pemimpin umat itulah yang menentukan umat itu kokoh atau lemah. Semakin kuat dan berkualitas pemimpin umat maka akan kuat dan berkualitas pula umatnya, sebaliknya semakin lemah pemimpin umat maka umatnya pun akan lemah.<span id="more-1191"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara cara membangun basis pemimpin dalam tubuh umat Islam adalah :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama, membangun visi-misinya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Islam, visi dan misi individu seorang bersifat <em>given</em>, pemberian. Ia merupakan anugrah dari Allah Swt. kepada umat-Nya. Dalam Islam, visi-misi ini disebut sebagai penghambaan. Hal ini seperti yang tertera dalam Qs. al-Zaariyat ayat 56 :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pemimpin umat mesti menjadikan ibadah sebagai visi hidupnya. Mereka juga mesti memiliki  keyakinan yang kuat terhadap kebenaran rukun Iman dan Islam serta inti-inti ajaran Islam lainnya. Sebab itulah fondasi utama dakwah Islam. Jika beberapa hal tersebut sudah menjadi keyakinan dan dipraktikkan maka umat pun akan dengan mudah mengikuti mereka. Sehingga dengan begitu, peran dakwah sebagai lanjutan dari keyakinan terhadap Islam, bisa ditunaikan dengan mudah. Jadi, visi-misi para pemimpin adalah menghamba kepada Allah dan mendakwahkan Islam agar menghamba kepada Allah. Secara sepintas para pemimpin umat adalah para da’i. Dalam bahasa lain, para pemimpin umat itu harus memiliki dan mengaplikasikan falsafah berikut : menjadi da’i (muslim) sebelum menjadi yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua, membangunan bangunan pemikirannya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hal lain yang mesti dibangun dalam diri para pemimpin umat adalah bangunan pengetahuan dan pemahamannya. Hal ini sangat penting, sebab itulah yang membuat dakwahnya menjadi apik dan terencana dengan matang. Ilmu dan pemahaman adalah dua basis utama yang mesti dimiliki oleh para pemimpin umat. Dengan kedua basis tersebut, maka dengan mudah bagi mereka untuk mendakwahkan Islam secara arif dan bijak berdasarkan konsep dan metodologi dakwah Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh para pendahulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemimpin umat adalah mereka yang memiliki basis keilmuan dan pemahaman yang kuat. Sebab dengan keduanya berbagai tantangan dan problematika yang menjakiti umat Islam dapat dihadapi secara arif. Sebab kebodohan tidak akan pernah menghadirkan peradaban kebenaran yang sesungguhnya. Sebaliknya justru hanya akan mendatangkan kehancuran dan kebangkrutan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga, membangun spiritual dan mentalitasnya  </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Spiritual dan mentalitas adalah hal lain yang mesti dimiliki oleh para pemimpin umat. Kedua hal tersebut hanya bisa didapat jika para pemimpin umat tersebut hidup di tengah-tengah umat, mempraktikkan Islam dalam kancah publik, sebab di situlah Islam itu diwujudkan; dan karenanya juga umat secara umum akan dengan mudah mengikutinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Beragamnya karakter umat dalam etalase kehidupan, tentu saja memerlukan pemimpin umat yang memiliki mentalitas yang kuat. Mentalitas adalah kemampuan menghadapi berbagai tantangan dan peluang-peluang dakwah Islam. Kekuatan mentalitas tidak akan pernah diperoleh kecuali dengan kemampuan untuk menghadirkan solusi dan memberi manfaat kepada umat dimana para pemimpin umat tersebut hidup. Semakin banyak umat merasakan manfaat maka aspek pemerimaan umat terhadap Islam akan semakin kuat. Dengan begitu, para pemimpin pun akan menjadi manusia muslim yang memiliki mentalitas yang mempesona, yang pada akhirnya umat juga akan memiliki mentalitas yang kuat.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa hal di atas tidak akan bisa dihadirkan dalam tubuh pemimpin umat Islam jika tidak ada satuan tugas khusus untuk itu. Karenanya, sangat penting bagi umat Islam untuk menyiapkan satu kekuatan yang memiliki fungsi dan tugas untuk itu. Berbagai pergerakan dan Ormas Islam perlu mencari titik temu untuk satu agenda besar tersebut. Dengan begitu, agenda besar tersebut bukan menjadi tanggung jawab satu elemen umat saja, tapi seluruh umat Islam.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kedua, komunitas umat</em>. Unsur lain yang tak kalah pentingnya dalam entitas umat adalah umat itu sendiri. Keragaman Ormas dan berbagai kultur yang terdapat dalam tubuh umat tersebut tentu saja menjadi satu kekuatan penting dalam tubuh umat Islam. Walau begitu, tentu saja kita tidak menafikan adanya berbagai kendala dan tantangan dari tubuh umat yang menjadi ujian tersendiri bagi para pemimpin umat. Membentuk basis umat tentu saja berbeda dengan membentuk basis pemimpin umat. Basis spiritual, keilmuan dan pemahamannya sangat berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam teori dakwah dijelaskan bahwa unsur penting dari para pemimpin umat yang dibutuhkan oleh umatnya hanya satu : manfaat. Umat akan menerima dengan mudah dakwah Islam jika mereka merasakan manfaat dari Islam yang disampaikan oleh pemimpin umat itu sendiri. Jadi teorinya adalah logika manfaat. Semakin banyak manfaat yang mereka rasakan maka semakin mudah bagi mereka untuk menerima pesan-pesan dakwah Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Umat Islam mesti bersyukur kepada Allah, sebab sejak lama sudah mendapatkan gelar sebaik-baik umat atau umat terbaik (<em>khairu ummah</em>). Gelar ini diberikan karena prestasi gemilang umat Islam yang cukup memukau dunia. Tidak heran jika para pengamat Islam dari dunia Barat memberi pendapat dan pernyataan bahwa Islam memiliki peran strategis dalam membangun peradaban dunia dari episode sejarah ke episode sejarah berikutnya. Tak ada peradaban dunia yang bangkit dan maju kecuali di dalamnya terdapat peran strategis Islam. Bahkan nyaris tak ada peradaban tanpa keberadaan Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Qs. Ali Imran ayat 110 Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>”Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi umat manusia, (supaya) kamu menyuruh berbuat ma’ruf dan melarang yang mungkar, serta beriman kepada Allah”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ayat ini menggambarkan posisi dan peran strategis umat Islam sebagai umat yang terbaik. Dinyatakan di dalamnya bahwa gelar <em>khairu ummah</em> didapat karena umat Islam melakukan peran-peran strategis dengan melaksanakan tiga hal yaitu; Pertama, progresif dalam melaksanakan dan mendukung proyek-proyek kebaikan; kedua, berani memberantas dan mencegah proyek-proyek keterbelakangan dan keburukan; dan ketiga, aktif meningkatkan hubungan keimanan pada Allah semata.</p>
<p style="text-align:justify;">Unsur manfaat dari Islam akan didapatkan dengan cara memasifkan ketiga peran yang dijelaskan pada ayat di atas. Artinya, jika umat Islam ingin mematangkan dirinya menjadi umat yang terbaik, terutama di masa kini dan di masa depan, maka umat Islam mesti meunaikan ketiga hal tersebut secara serius. Dalam praktiknya tentu saja tidak satu model, sebab setiap kebaikan yang ingin diwujudkan selalu memiliki caranya tersendiri. Dan dalam varian-varian itulah umat Islam bisa memerankan posisinya sebagai umat terbaik. Lalu, seperti apakah peran umat Islam Indonesia? Itulah yang mesti kita jawab.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarsejarah.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarsejarah.wordpress.com/1191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarsejarah.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarsejarah.wordpress.com/1191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarsejarah.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarsejarah.wordpress.com/1191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarsejarah.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarsejarah.wordpress.com/1191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarsejarah.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarsejarah.wordpress.com/1191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarsejarah.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarsejarah.wordpress.com/1191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarsejarah.wordpress.com/1191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarsejarah.wordpress.com/1191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1191&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/21/idealis-islam-memposisikan-umatnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2858830a285e47afaef1481c19795a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarsejarah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/mesjid.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">mesjid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Testimoni Singkat [Pengantar untuk Buku Testimoni Untuk Umat Islam]</title>
		<link>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/19/testimoni-singkat-pengantar-untuk-buku-testimoni-untuk-umat-islam/</link>
		<comments>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/19/testimoni-singkat-pengantar-untuk-buku-testimoni-untuk-umat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 09:26:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsudin Kadir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarsejarah.wordpress.com/?p=1186</guid>
		<description><![CDATA[Sumber Inspirasi  30 Desember 2011 yang lalu saya mendapat undangan dari salah satu organisasi mahasiswa di kampus Universitas Padjajaran (Unpad) Jatinagor-Jawa Barat. Ya, ketika itu saya mendapat undangan dan didaulat menjadi pemateri  pada Studium General (SG) Musyawarah Komisariat (Muskom) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Umar Bin Abdul Azis. Tema acara sekaligus materi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1186&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Sumber Inspirasi  </strong></p>
<p style="text-align:justify;">30 Desember 2011 yang lalu saya mendapat undangan dari salah satu organisasi mahasiswa di kampus Universitas Padjajaran (Unpad) Jatinagor-Jawa Barat. Ya, ketika itu saya mendapat undangan dan didaulat menjadi pemateri  pada Studium General (SG) Musyawarah Komisariat (Muskom) Kesatuan <a href="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/testimoniku-2.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-1202" title="testimoniku. 2" src="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/testimoniku-2.jpeg?w=627" alt=""   /></a>Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Umar Bin Abdul Azis. Tema acara sekaligus materi yang diamanahkan kepada saya ketika itu adalah Kader Dakwah dan Kontribusi Nyata.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa hari menjelang jadwal acara saya berusaha mencari berbagai sumber materi yang kira-kira relevan dengan tema yang disuguhkan. Kebetulan pekan-pekan akhir tahun saya lagi mendalami berbagai tema seperti Sejarah Peradaban Islam dan Barat, Kebangkitan Ilmu Pengetahuan dalam Islam dan Sejarah Eropa, Liberalisasi Agama-agama, Kebudayaan Islam dan Barat, Perang Salib dan Sejarah Perjalanan Kaum Muslimin. Saya pun mencari berbagai referensi terkait, dari buku, makalah, artikel hingga catatan-catatan kecil yang pernah saya tulis dan simpan dalam file laptop beberapa tahun sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya sayapun mendapatkan buku Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib (Dr. Majid ‘Irsan Al-Kilani), Sulthan Muhammad Al-Fatih : Penakluk Konstantinopel (DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi), Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (DR. Adian Husaini), Membangun Peradaban Barat dengan Ilmu (DR. Hamid Fahmi Zarkasy dkk), Kebudayaan Islam (Mohammad Natsir), makalah Al-Ghazali, Perang Salib, dan Kebangkitan Islam (DR. Adian Husaini), dan beberapa tulisan singkat yang saya tulis beberapa tahun sebelumnya.<span id="more-1186"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Singkat cerita, saya pun ‘memaksan’ diri membaca beberapa referensi tersebut, kemudian menyusun sebuah makalah sederhana setebal 8 halaman dengan judul Perang Salib dan Strategi Profetik al-Ghazali.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Secara pribadi ketika itu sebetulnya saya masih ragu dengan kemampuan saya untuk menjelaskan materi ini. Di satu sisi saya sudah membawa materi yang secara sepintas jauh dari tema yang disuguhkan, di sisi lain saya juga tak begitu paham substansi dari apa yang ingin saya ketengahkan pada makalah tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Agar keraguan tersebut tidak merambat ke ruang pikiran saya, ketika masih dalam perjalanan dari Cirebon menuju Jatinangor saya selalu membaca beberapa referensi yang ada—termasuk makalah—dan berkomunikasi dengan DR. Adian Husaini<a title="" href="#_ftn2">[2]</a> perihal referensi yang mumpuni dan ide atau gagasan yang perlu disampikan nanti ketika saya sampai di tempat acara. Akhirnya seperti biasanya, DR. Adian Husaini memberi jawaban singkat, “Oke, itu sudah cukup memadai.” Maksudnya, buku dan makalah yang saya baca serta makalah yang saya tulis sudah cukup untuk menjelaskan secara umum mengenai apa yang ingin saya sampaikan pada acara selama 4 jam tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesampainya saya di tempat acara, panitia langsung mempersilahkan saya untuk menyampaikan materi pada makalah yang sudah diperbanyak oleh panitia. Dalam sesi materi saya memaparkan secara singkat mengenai Perang Salib dan Strategi Profetik al-Ghazali. Mengapa? Karena menurut saya, berbicara dakwah Islam bahkan umat Islam kontemporer—terutama upaya aktivis Islam untuk berkontribusi pada lapangan nyata—tidak bisa dipisahkan dari kenyataan dunia Islam sekian abad sebelumnya. Tema tersebut saya jadikan sebagai inti materi karena berbagai kilasan penting yang terdapat di dalamnya, terutama mengenai kenyataan umat Islam ketika itu, tantangan yang menghadang dan peristiwa-peristiwa penting yang layak dikaji secara mendalam serta keterlibatan atau peran strategis beberapa tokoh atau ulama yang perlu mendapatkan kajian utuh kaum muslimin lintas generasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari tema tersebut ternyata menghadirkan berbagai pertanyaan yang sangat inspiratif. Suasana diskusipun begitu hangat dan serius. Banyak hal yang didiskusikan, tentu saja dengan berbagai keterbatasan dan kesederhanaan saya sebagai penyaji. Walaupun waktu yang disediakan belum mencukupi untuk menuntaskan apa yang didiskusikan pada forum tersebut, menjelang azan Ashar sesi saya pun berakhir juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Apapun tanggapan dan catatan peserta dan panitia yang mengundang saya ketika itu, yang jelas menjelang memberikan pernyataan terakhir pada sesi penutup saya menyampaikan bahwa “Apa yang saya sampaikan pada kesempatan ini adalah semacam testimoni untuk umat Islam, terutama di Indonesia. Lebih utamanya lagi sebagai refleksi bagi generasi muda, ya kita generasi muda Islam.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kembali ke Cirebon, pernyataan “testimoni untuk umat Islam” semakin menggelitik pikiran dan hati saya. Entah mengapa, seakan-akan saya mendapatkan inspirasi untuk memberi catatan kecil terhadap kenyataan umat Islam di Indonesia. Akhirnya sayapun berpikiran bahwa ini adalah anugrah terbaik sekaligus spirit dahsyat bagi saya untuk menulis buku, memberi testimony untuk umat Islam Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Atas izin Allah Swt. akhirnya sejak 1-10 Januari 2012 saya pun mengumpulkan berbagai file catatan kecil saya di laptop, dan merapihkan kembali berdasarkan tema yang ingin saya susun. Ya, akhirnya terkumpullah tulisan tersebut dalam satu naskah yang kini menjadi buku mungil yang berada di tangan pembaca sekarang. Mudah-mudahan bermanfaat!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tentang Buku ini</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Buku ini berjudul <strong>Testimoni Untuk Umat Islam : Upaya Mencari Titik Temu</strong>. Mungkin pembaca bertanya dengan nada ketus : “Kok berani-beraninya membuat testimoni, emang siapa dia?” Saya tak mau menjelaskan filosofi judul ini, saya hanya ingin menyampaikan satu hal : di antara penyakit umat Islam yang sangat akut akhir-akhir ini adalah “alergi dikritik” dan “malu mengkritik”. Karena itu, dengan segala keterbatasan ilmu dan kapasitas, saya hadir memberi kritik—dan tentu saja siap dikritik—yang dalam konteks ini saya lebih suka menyebutnya dengan testimoni. Sebagaimana galibnya, testimoni jauh dari upaya caci maki. Testimoni tetap berpijak pada sikap arif dan bijaksana, garisan wahyu, nalar rasionalitas dan azas realistis (<em>waqi’i</em>). Jikapun nanti dalam buku ini ditemukan caci maki, kesalahan dan kekeliruan, itu tak disengaja. Walau begitu, saya tetap berkewajiban untuk meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan atau yang tersinggung.</p>
<p style="text-align:justify;">Buku ini terdiri dari V Bab. <strong>Bab I : Konsep Umat</strong>. Di sini akan dipaparkan mengenai (1) <em>Idealis Islam Memposisikan Umatnya</em>. Mengapa? Ini adalah salah satu upaya membangkitkan semangat umat Islam untuk kembali menyadari anugrah Allah untuk mereka. Dengan begitu, umat Islam tidak minder atas keberadaan dan keharusan dirinya untuk selalu menjadi yang terbaik. Di sini akan dibahas secara singkat mengenai basis utama umat berupa: pemimpin umat dan umat Islam itu sendiri. Setelah itu akan paparkan juga mengenai amal-amal strategis yang menopang anugrah Allah atas umat Islam sebagai umat terbaik. Kemudian akan dilanjutkan ke pembahasan mengenai (2) <em>Islam dan Kehidupan Publik, mencakup : a. Bidang Lingkungan, b. Bidang Ekonomi, c. Bidang Kesehatan, d. Bidang Sosial-Politik. </em>Hal ini diketengahkan sebagai contoh nyata bagi umat Islam juga publik (baca : non muslim) bahwa Islam memang bukan sekedar agama ritual tapi juga agama sosial. Ia adalah satu-satunya agama yang memiliki konsep dan perhatian terhadap berbagai aspek kehidupan manusia. Kemudian yang terakhir (3) <em>Utuhnya Bangunan Islam. </em>Di sini akan dipaparkan mengenai bangunan dasar Islam sebagai sebuah satu satuan konsep yang sangat apik, bukan saja jumlah rukun Iman dan rukun Islam tapi juga pembahasan singkat yang layak mendapatkan kajian lebih lanjut.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bab II : Realitas Umat Islam </strong>akan dijelaskan mengenai kenyataan umat Islam dan (1) <em>Dua Faktor</em>  yang menjadi sumber permasalahannya seperti <em>Faktor Internal</em> dan <em>Faktor Eksternal</em>. Bahwa berbagai problematika yang dihadapi oleh umat Islam dari masa ke masa secara umum disebabkan oleh kedua faktor tersebut. Lalu akan dipaparkan juga mengenai (2) <em>Masalah lain</em> yang sering dipraktikkan oleh sebagian umat Islam. Kemudian akan dipaparkan berbagai tawaran (3) <em>Solusi</em>. Bahwa bagaimanapun kondisinya, Islam selalu menyediakan jalan keluar yang mesti dibentangkan oleh umat Islam. Kemudian akan dibahas secara singkat mengenai fenomena yang melanda umat Islam di Indonesia dan agenda-agenda strategis yang mesti ditegakkan. Pembahasan ini terdapat dalam tulisan (4) <em>Konteks Ke-Indonesia-an</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bab III : Bercermin ke Masa lalu. </strong>Pada Bab ini akan dipaparkan mengenai (1) <em>Pelajaran dari Perang Salib</em>. Mengapa? Karena jika ditelisik ternyata Perang Salib mengandung pesan-pesan strategis yang layak mendapatkan kajian mendalam, terutama mengenai bagaimana umat Islam membangkitkan kembali peradabannya. Lalu, akan dipaparkan juga mengenai (2) <em>Peran Strategis Al-Ghazali</em> pada momentum Perang Salib. Hal ini dipilih karena rangkaian Perang Salib adalah satu rangkaian yang kaya pesan dan pelajaran, termasuk bagaimana andil para ulama yang hidup pada zaman itu. Dan terkahir, pada tulisan (3) <em>Mari Merenung!,</em> pembaca diajak untuk merenungi beberapa ayat dan hadits serta penjelasan singkatnya dalam konteks kekinian umat Islam. Harapannya, umat Islam mampu memahami ayat dan hadit-hadits tersebut secara mendalam, bukan saja konteks masa lalunya tapi juga konteks kekinian dan masa depannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bab IV : Menatap Masa Depan. </strong>Di Bab ini akan dipaparkan mengenai (1) <em>Rumusan Diagnosa</em> atas berbagai problematika yang dihadapi oleh umat Islam. Karena Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki ratusan Ormas Islam dan perannya cukup strategis, maka secara khusus akan dipaparkan juga mengenai Ormas Islam. Hal ini bisa dibaca dalam tulisan (2) <em>Pesan untuk Ormas Islam</em>. Kemudian berlanjut ke pembahasan singkat mengenai pergerakan Islam dalam (3) <em>Pentingnya Dialog Antar Gerakan</em>. Di sini akan dipaparkan secara singkat mengenai keharusan adanya upaya mencari titik temu ide dan misi antar pergerakan Islam, terutama di Indonesia. Tentu saja pembahasannya singkat, karena hanya sebagai pemicu diskusi. Kemudian (4) <em>Generasi Muda dan Masa Depan Baru</em>. Di sini akan dipaparkan mengenai keharusan generasi muda untuk bangkit dan menyiapkan dirinya menjadi generasi terbaik di masa depan. Mereka adalah asset umat Islam, dan  karena itu, mereka mesti dibangunkan dari tidur lelapnya, sekarang juga! Dan terakhir dilanjutkan ke pembahasan mengenai (5) <em>Obsesi Islam Merebut Identitas Global</em>. Sebuah upaya jitu untuk membangunan kesadaran umat Islam akan misi mulia Islam sebagai soko guru peradaban dunia dengan keistimewaan dan keunikan ajarannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang disuguhkan memang hanya tawaran yang mungkin dianggap terlalu ‘picik’. Walau begitu, saya percaya tulisan ini bisa dijadikan sebagai pemantik diskusi yang berlanjut, minimal pada level internal umat Islam. Sederhana memang, namun dari situlah kita memulai untuk melanjutkan peran-peran strategis kita, baik sebagai warga Negara maupun sebagai umat yang mendapatkan gelar umat terbaik.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Terima Kasih </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Saya mesti bersyukur kepada Allah Swt. atas anugrah dan kesempatan ini. Karena dengannyalah saya bisa belajar menyampaikan sedikit isi pikiran yang selalu melintasi pikiran saya selama ini. Bagi saya, adalah nikmat yang tak berbilang ketika Allah masih memberi kesempatan kepada saya untuk memberi sedikit pencerahan kepada umat Islam akan kenyataan dunia, kemuliaan Islam yang Allah anugrahkan dan kondisi umat Islam saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mesti menyampaikan ucapan terima kasih kepada DR. Adian Husaini yang telah banyak menginspirasi saya untuk belajar dan terus belajar. Di samping itu, tentu yang tak kalah pentingnya adalah terima kasih saya atas ketulusan beliau untuk selalu siap memberi jawaban atas berbagai pertanyaan yang saya tanyakan, baik di saat bersua dengan beliau maupun lewat SMS. Sebuah penghormatan yang membuat saya semakin percaya bahwa ilmu yang benar adalah ilmu yang mendiami pikiran yang membuat manusia semakin berilmu sekaligus tawadu’ dengan ilmunya. Dan saya mendapatkan spirit itu ketika sejak 7 tahun yang lalu hingga kini berkenalan dan sering berdiskusi dengan beliau. Sekali lagi, terima kasih Pak Adian. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan umat-Nya yang saleh, sehingga kelak kita bersua lagi di dalam surga-Nya bersama para pendahulu yang telah mendahului kita!</p>
<p style="text-align:justify;">Terima kasih juga untuk keluarga besar saya, Ayah, Bunda, Mertua, Nenek, Kakak dan semua keluarga. Bagi saya, keluarga adalah sumber inspirasi yang takkan pernah berhenti mengalirkan semangat dan do’a. Hingga kini saya selalu mendapatkannya. Semacam aliran air yang selalu mengalir melampaui kekeriangan jiwa saya, seperti angin yang selalu menghembus batas-batas fisik manusiawi saya. Ah, keluarga memang segalanya. Malu rasanya jika saya begitu saja melupakan mereka. Jujur, saya selalu menanti do’a dan dukungannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Terima kasih juga untuk keluarga besar KAMMI Umar Bin Abdul Azis yang telah menginspirasi saya untuk mempelajari banyak hal, menuntaskan naskah sekaligus menghadirkan buku ini. Tanpa ‘takdir’ menjadi pemateri pada acara Studium General akhir tahun 2011, mungkin hingga kini saya belum melakukan apa-apa. Sekali lagi terima kasih.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara khusus untuk istri tercinta, Mba Uum Heroyati, dan anakku, Azka Syakira, saya layak menyampaikan terima kasih. Dengan tulus keduanya begitu antusias menemani saya ketika merapihkan dan menuntaskan buku ini. Walau dengan kesibukannya, istri saya tetap menyempatkan diri untuk memberi saya semangat dan senyuman, termasuk membaca ulang naskah buku ini. Yang membuat semakin romantis adalah ketika istri saya tak pernah lelah menyuguhkan teh manis hangat untuk saya. Sebuah potret yang menambah kehangatan keluarga kecil saya hingga kini. Begitu juga anak saya yang selalu senyum ketika saya bersua dan menatap wajahnya. Walaupun sesekali menangis, senyumannya terlalu naïf jika saya lupakan begitu saja. Istri tercinta dan anak tersayang, terima kasih untuk ketulusan dan kesabaranmu selama ini. Saya mencintaimu, tulus. Insya Allah.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk siapapun, termasuk penerbit, yang telah memberi dukungan dan masukan demi kesempurnaan bahkan hadirnya buku ini, saya layak menyampaikan ucapkan terima kasih. Saya ingin mengatakan satu hal bahwa buku ini tidak layak saya klaim sebagai karya saya pribadi, sebab ada banyak orang yang ikut terlibat baik secara langsung maupun secara tidak langsung dalam menghadirkan karya ini sehingga renyah dibaca dan kini hadir di hadapan pembaca. Bahkan saya termasuk orang yang percaya bahwa hampir tak ada satu karya pun yang hadir tanpa keterlibatan tangan-tangan mereka yang apik dan jiwa-jiwa mereka yang tulus. Itulah perspektif saya dalam melakoni peran menggores pena di atas etalase kehidupan yang kaya dinamika dan pemikiran ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Berapa luas wilayah ruang dan waktu yang diberikan sejarah kepada masing-masing kita untuk ‘dimaknai’, ‘dihidupkan’ dan ‘diabadikan’? Itulah satu pertanyaan yang perlu kita jawab. Ini pertanyaan terbuka untuk umum, tapi setiap kita mesti menjawabnya sesuai jawaban kita masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi saya, sejarah adalah akumulasi antara satu waktu dengan waktu yang lain. Dan di atas relung waktu itulah saya menjalani kehidupan dunia dan melakoni peran-peran strategis kehidupan. Buku ini saya hadirkan sebagai upaya menjadi anak manusia (yang berasal dari kampung belum tersentuh aspal, listrik, telepon, TV, air pam, mobil angkutan dan taksi) yang mampu ‘memaknai’, ‘menghidupkan’, ‘mengabadikan’ waktu yang Allah anugrahkan kepada saya. Hanya dengan begitulah umur misi saya lebih panjang walaupun umur fisik saya hanya sesaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Jujur, di atas kesederhanaan kondisi kampung dan keterbatasan ilmu-lah saya membangun tekad dan semangat untuk menuntaskan karya ini. Saya sulit mengabarkan mengenai apa yang sesungguhnya terjadi pada diri saya beberapa tahun terakhir, yang jelas ada satu impian yang selalu melintasi benak saya hingga kini : menulis buku seumur hidup. Walau hanya menjadi serpihan yang tak lelah menghibur pribadi di sela-sela kesedihan dan cita-cita yang selalu dihadang dinding keterbatasan, walau air mata selalu menjadi saksi sekaligus sahabat yang selalu setia menemani, saya tetap percaya bahwa saya adalah salah satu di antara anak manusia yang mesti mengungkap apa adanya tentang sesuatu yang saya pahami dan saya saksikan, serta sesekali membagi rasa dan perasaan kepada siapapun mengenai mimpi-mimpi indah saya yang terus dirangkai oleh jari dan pena saya dalam bungkusan kertas-kertas kusam.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, mudah-mudahan apa yang saya suguhkan dalam karya sederhana ini bermanfaat untuk para pembaca dan dunia Islam. Tentu saja yang tak mungkin dilupakan adalah mudah-mudahan karya ini menjadi amal saleh terbaik bagi saya di hadapan Sang Kuasa. Sehingga saya pun termasuk hamba-Nya yang bermanfaat bagi sesama dan peradaban manusia. Mari membaca, selamat mengambil manfaat! []</p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:right;" align="right"><strong>Jakarta, 17 Januari 2012 </strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="right"><strong>Syamsudin Kadir </strong></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Dengan beberapa penyesuaian, makalah yang saya maksud bisa dibaca pada Bab III buku ini.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Ketua Program Studi Magister dan Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor-Jawa Barat, penulis berbagai buku tentang pemikiran dan pendidikan seperti Wajah Peradaban Barat, Pendidikan Islam dan lain-lain.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarsejarah.wordpress.com/1186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarsejarah.wordpress.com/1186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarsejarah.wordpress.com/1186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarsejarah.wordpress.com/1186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarsejarah.wordpress.com/1186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarsejarah.wordpress.com/1186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarsejarah.wordpress.com/1186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarsejarah.wordpress.com/1186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarsejarah.wordpress.com/1186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarsejarah.wordpress.com/1186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarsejarah.wordpress.com/1186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarsejarah.wordpress.com/1186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarsejarah.wordpress.com/1186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarsejarah.wordpress.com/1186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1186&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/19/testimoni-singkat-pengantar-untuk-buku-testimoni-untuk-umat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2858830a285e47afaef1481c19795a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarsejarah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/testimoniku-2.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">testimoniku. 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mari Belajar Kepada Azka Syakira!</title>
		<link>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/15/mari-belajar-kepada-azka-syakira/</link>
		<comments>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/15/mari-belajar-kepada-azka-syakira/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 16:22:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsudin Kadir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarsejarah.wordpress.com/?p=1183</guid>
		<description><![CDATA[Pak Presiden, Aku ingin bercerita. Tanpa alur, apalagi sistematika ilmiah. Karena aku rakyat biasa yang hanya bisa bertutur apa adanya. Si kecil, sebut saja namanya Azka Syakira, berdiam diri dalam sebuah kamar sederhana. Si kecil itu merenung. Air matanya bercucuran. Ia menangis. Ia merenung tentang Indonesia yang indah tapi kehilangan; ya ia sedang menyaksikan negerinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1183&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pak Presiden,</p>
<p style="text-align:justify;">Aku ingin bercerita. Tanpa alur, apalagi sistematika ilmiah. Karena aku rakyat biasa yang hanya bisa bertutur apa adanya. Si kecil, sebut saja namanya Azka Syakira, berdiam diri dalam sebuah kamar sederhana. Si kecil itu merenung. Air matanya bercucuran. Ia menangis. Ia merenung tentang Indonesia yang indah tapi kehilangan; ya ia sedang menyaksikan negerinya kehilangan sosok-sosok teladan, sosok Negarawan. Dalam sebuah kertas kusam ia pernah menulis renungan tentang Indonesia, negeri dimana ia huni kini.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“Keindahan Indonesia kini dikotori oleh manusia-manusia keparat, manusia-manusia jahat. Korupsi di mana-mana. Partai Politik disinyalir tak berperan apa-apa, karena hanya berbuat untuk mengais harta dari kekayaan negara dan tak puas-puasnya mencari kekuasaan tanpa kerja progresif untuk rakyat yang menderita. Untuk tukang ojek yang bercucuran keringat, untuk pengajar tanpa gaji yang maksimum, untuk orang-orang cerdas yang tak terurus, untuk anak-anak jalanan yang sulit memprediksi kebahagiaan di masa depan, untuk tukang bakso yang tak punya rumah, untuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tak jelas gaji dan nasibnya, untuk semua rakyat jelata yang mesti dibela. Indonesia memang kehilangan manusia-manusia terbaiknya.”<span id="more-1183"></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“Mengapa Indonesia kini seperti ini? Siapa yang salah? Apa penyebab kejadian dan peristiwa-peristiwa ini? Apa yang sudah diberikan dan lakukan untuk Indonesia?”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pak Presiden,</p>
<p style="text-align:justify;">Si kecil terus menangis dan air matanya tak tertahan tuk bercucuran. Air matanya keluar seperti hujan turun dari langit; ikhlas tanpa ragu. Dialog imajinerpun terus terbangun dalam dirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“Mengapa aku harus menangis?&#8230; Aku teringat dengan perjuangan para tokoh dan pahlawan bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan dan berdirinya bangsa ini; aku teringat bagaimana pengorbanan para pendahulu kita agar negeri ini keluar dari penderitaan, bagaimana perjuangan mereka mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini”.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pak Presiden,</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam keluh dan sedihnya yang pilu, mulutnya berteriak,</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">“Oh Soekarno, oh Hatta, oh Natsir, oh Diponegoro, oh Samanhudi, oh Bung Tomo,  oh Agus Salim, oh Ahmad Dahlan, oh Hasyim Asy’ari, oh H.O.S Cokroaminoto, oh Mahasiswa, oh Rakyat Indonesia! Ke manakah kalian pergi? Mengapa kalian pergi dan meninggalkan Indonesia dengan berbagai kondisi yang mengenaskan. Indonesia kini menderita lagi, dan nyaris sedikit yang merasa bertanggung jawab atas kondisi ini. Kini negeri ini kehilangan orang-orang besar, kehilangan manusia-manusia yang berpikir dan berjiwa  besar”.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">”Oh pahlawanku, ke manakah kalian pergi? Di manakah kalian saat ini? Indonesia kini kehilangan patriotisme. Patriotisme saat ini tak bernilai apa-apa. Perjuangan saat ini hanya dijadikan sebagai slogan ketika momentum Pemilihan Umum (Pemilu) atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Nasionalisme saat ini hanya ada pada slogan bukan pada kerja. Kebanggaan atas Indonesia saat ini tak berujung pada aksi nyata. Para politisi hanya muncul ketika angka gaji dinaikkan. Kini banyak orang yang bertanya, di manakah fungsi legislasi, <em>controling</em> dan <em>budjetting</em>-nya DPR? Di manakah fungsi eksekusinya Pemerintah, fungsi <em>c</em><em>ontroling</em>nya media massa dan mahasiswa?”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">”Semuanya lupa diri. Kebanyakan anak bangsa lupa dengan apa yang diperankan oleh pahlawan-pahlawan di masa lalu. Peringatan hari pahlawan hanya menjadi ritual tanpa mengambil hikmah dan pesan sejarah yang menggemilang. Peringatan berbagai hari-hari besar nasional justru hanya rutinitas dan biasa dijadikan sebagai ajang tebar pesona agar disebut sebagai pahlawan. Peran-peran mengisi kemerdekaan dan proses penerusan peran kepahlawanan bukan dijadikan sebagai agenda. Jika ada agenda, bisa dipastikan tidak akan menyentuh rakyat banyak. Semuanya politis tanpa agenda nyata; bukan merangsang semangat patriotisme kerakyatan dan kebangsaan. Karena slogan kebangsaan dan perjuangan dari berbagai partai politik masih perlu diluruskan. Karena hanya tertulis dalam teks-teks peraturan belaka. Semuanya hanya menjadi isi wejangan di atas mimbar dan altar-altar kekuasaan. Rakyat menderita, politisi bermewah, itulah sedikit realita yang kita hadapi. Sebagaimana slogan nasionalisme juga semu. Ia tidak mengakar dan menyentuh perut rakyat kecil yang menderita. Karena kini penderitaan hanya diobati dengan cara-cara <em>ad hock</em>; ketika Pemilu atau Pilkada datang, bendera dan simbol palsu lainnya. Keberadaan rakyat memang hanya dijadikan sebagai komoditas politik menuju kekuasaan. Karena setiap kali perubahan sistem dan pergantian kepemimpinan nasional dan lokal bisa dipastikan rakyat tetap menderita”.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pak Presiden,</p>
<p style="text-align:justify;">Si kecil terus menangis dalam kepiluan karena merenungi kondisi bangsanya yang menyebalkan. Namun, dalam kondisi yang peluh itu, dalam pikirannya ternyata masih tersisa sebuah pikiran luhur sekaligus pesan impiannya, rasa kebanggaan. Dia masih bangga menjadi anak Indonesia. Walau rakyat menderita, walau Indonesia sakit; dia tetap bangga dan berikrar, sebagaimana yang ia tuliskan dalam kertas kusamnya,</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">”Indonesia adalah tanah airku, Indonesia bangsaku. Oh para penguasa, pernah kalian merenung dan berpikir panjang mengenai apa yang kalian perankan selama ini? Wahai rakyat Indonesia, pernah kalian mengevaluasi diri mengenai apa-apa yang kalian lakukan untuk negeri ini? Wahai generasi muda dan mahasiswa Indonesia, apa yang kalian persiapkan? Mengapa kalian diam seribu bahasa? Apa impian kalian untuk Indonesia di masa depan? Mengapa mimpi-mimpi para pendahulu belum menjadi inspirasi kalian untuk berkontribusi?”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">”Wahai kalian yang peduli, berkacalah dan bercerminlah! Jangan biarkan diri-diri kalian berdiam diri dari realita negeri dan rakyat yang mengenaskan ini. Negeri ini sedang menangis. Hutan ditebang di mana-mana. Pasir pesisir pantai kini dijual tanpa harga. Budaya ke-Timur-an semakin dijauhkan, karena sebagian anak negeri ini lebih suka dengan budaya Barat yang hedonis. Sebagian anak bangsa lebih suka menggunakan budaya impor, sehingga negeri ini kehilangan identitas khususnya; semacam kesopanan dan kesantunan. Kalau ada yang bertanya, ’lalu siapa yang salah atas semua ini?’ Yang salah adalah diri-diri  kita  yang sok pahlawan padahal keparat dan tidak melakukan apa-apa. Tidak berbuat yang terbaik untuk rakyat dan negeri ini”.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">”Wahai Indonesia, wahai rakyat Indonesia! Maafkan aku dan siapapun penghuni negeri ini. Kami belum melakukan apa-apa untuk kalian. Tapi percayalah bahwa setiap zaman ada pahlawannya. Momentum kehadirannya ada di mana-mana dan kapan saja. Kami mohon, kalian turut berdo’a,  agar kami menjadi penerus para pahlawan di masa lalu yang kini telah tiada. Ini memang bukan tugas kecil wahai negeriku, tapi aku teringat dengan pesan Musthofa Muhamad Thohan bahwa kekuatan impian adalah kekuatan pemuda di masa lalu yang menyebabkan mereka menang dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran”.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">”Ya Allah, tugas ini sangat berat. Kami merasa bahwa apa yang kami lakukan saat ini belumlah seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan para pahlawan yang telah berkorban untuk negeri khatulistiwa ini beberapa waktu yang lalu”.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">”Wahai generasi muda! Tugas kita adalah meneruskan peran Para Pahlawan. Kelak, setelah jasad kita hancur lebur dimakan tanah, sejarah akan bertutur, bahwa kita pernah hidup. Kalaupun tidak berkisah kepada manusia, sejarah akan bercerita kepada Sang Penciptanya. Sejarah akan berkata kepada Allah, ‘ada anak-anak Indonesia yang pernah menorehkan tinta emas dalam lembaranku’. Ya, inilah tugas utama kita, yaitu untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat kelak, kebahagiaan yang diceritakan oleh sejarah akhirat. Jika di antara kalian belum atau tidak ada yang mau untuk mengambil peran ini, maka biarkan ’aku’ mengatakan pada diriku sendiri, akulah pewaris mereka!”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pak Presiden,</p>
<p style="text-align:justify;">Mengakhiri renungannya, si kecil berikrar,</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">”Selamat bertobat pemimpinku, selamat bersabar rakyatku; selamat jalan pahlawan Indonesia yang sudah lama menjadi mayat, selamat datang pahlawan baru Indonesia yang bergerak cepat!”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pak Presiden,</p>
<p style="text-align:justify;">            Rekam jejak seorang anak yang aku suguhkan di atas adalah secuil dari potret nyata bangsa ini. Aku kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kembali. Yang tersisa hanya air mata. Ya, aku menangis Pak Presiden. Betapa dalam kondisi bangsa yang serba sulit seperti ini masih ada anak bangsa ”pinggiran” kota yang peduli dan perhatian. Di atas kesederhanaan dan keterbatasan dirinya, ia tetap membangun berjuta impian untuk Indonesia tercinta, negeri dimana tinggal kini.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pak Presiden,</p>
<p style="text-align:justify;">Bagiku, semangat dan optimisme seperti itu adalah warisan para pejuang dan pahlawan bangsa yang telah mengorbankan diri, jiwa dan raganya untuk bangsa ini. Kita perlu banyak belajar kepada mereka, juga kepada si kecil yang menangis, menyaksikan kondisi bangsanya. Siapapun kita, termasuk Bapak Presiden, perlu banyak belajar dan terus belajar. Jangan patah semangat dan jangan hilangkan optimisme dalam diri. Rakyat butuh teladan dan inspirator yang tak lelah mencontoh. Negeri ini masih punya harapan untuk bangkit. Asal nilai-nilai kepahlawanan masih menjelajah dalam setiap diri anak bangsa dan para pemimpin: Presiden, Menteri atau elite politik.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pak Presiden,</p>
<p style="text-align:justify;">Bagiku, pahlawan sejati tidak membuang energi mereka untuk memikirkan apakah ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia, apakah ia akan ditempatkan dalam liang lahat Taman Pahlawan. Yang mereka pikirkan ialah bagaimana meraih posisi paling terhormat di sisi Allah Swt. Kata kunci mencapai ini adalah keikhlasan. Inilah yang membedakan mereka dengan peundang. Sama menderita, tapi yang satu karena dunia fana, dan yang satu lagi karena Allah semata.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Pak Presiden,</p>
<p style="text-align:justify;">Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Tantangan-tantangan besar dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang-orang besar. Apakah Bapak siap menjadi pemimpin utama yang menginspirasi rakyat tuk maju ke medan kepahlawanan? Apapun jawaban Bapak, aku mengusulkan agar Bapak dan elemen bangsa ini banyak belajar kepada si kecil, Azka Syakira. []</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;" align="right"><strong>Cirebon, 28 Oktober 2011 </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarsejarah.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarsejarah.wordpress.com/1183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarsejarah.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarsejarah.wordpress.com/1183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarsejarah.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarsejarah.wordpress.com/1183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarsejarah.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarsejarah.wordpress.com/1183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarsejarah.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarsejarah.wordpress.com/1183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarsejarah.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarsejarah.wordpress.com/1183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarsejarah.wordpress.com/1183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarsejarah.wordpress.com/1183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1183&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/15/mari-belajar-kepada-azka-syakira/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2858830a285e47afaef1481c19795a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarsejarah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>‘Melawan Dogmatisme Aktivis Liberal’</title>
		<link>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/08/melawan-dogmatisme-aktivis-liberal/</link>
		<comments>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/08/melawan-dogmatisme-aktivis-liberal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 10:39:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsudin Kadir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarsejarah.wordpress.com/?p=1175</guid>
		<description><![CDATA[SAYA memahami Islam sebagai din yang sempurna dan menyeluruh; mencakup seluruh kehidupan manusia. Ia memiliki konsep yang kuat, tak terterjangi kemampuan dan akal manusia yang terbatas. Saya meyakini itu tanpa meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; dalam artian agama yang bisa diotak-atik oleh manusia seenaknya. Ia memang selalu sesuai dengan zaman dan tempat, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1175&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">SAYA memahami Islam sebagai din yang sempurna dan menyeluruh; mencakup seluruh kehidupan manusia. Ia memiliki konsep yang kuat, tak terterjangi kemampuan dan akal manusia yang terbatas. Saya meyakini itu tanpa meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah “organisme” yang hidup; dalam artian agama yang bisa diotak-atik oleh manusia seenaknya. Ia memang selalu sesuai dengan zaman dan tempat, tapi bukan berarti Islam bisa dirombak konsep <a href="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/foto-liberal-kali.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-1180" title="foto liberal kali" src="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/foto-liberal-kali.png?w=300&#038;h=133" alt="" width="300" height="133" /></a>dan prinsip-prinsipnya pada etalase ruang dan waktu secara dangkal dan membabibuta. Kesesuaian Islam dengan ruang dan waktu yang dimaksudkan adalah bahwa konsep, nilai-nilai dan pesan-pesan Islam tidak mungkin bertabrakan dengan proses alamiyah dan perputaran sunatullah yang berlaku di alam raya. Islam tidak seperti yang dipahami atau yang diyakini oleh kaum liberal yang memahami : “Islam sebagai agama “abad 7 masehi”, dan karenanya, Islam hanya berlaku untuk zaman itu. Selebihnya, Islam perlu dikontekstualisasikan sesuai selera dan sesukanya. Dalam pengertian bahwa hal-hal prinsip maupun cabang dalam Islam perlu dirombak atau menurut bahasa mereka “digugat.” Kedangkalan pemikiran kaum liberal dalam memahami Islam, dengan begitu, mereka memahami Islam sebagai patung. Sebagaimana galibnya, patung bisa dipahat, dirubah bentuk dan segala macamnya sesuai selera pematung atau pemahat patung. Karena Islam bukan patung, kecuali kaum liberal itu sendiri, bahkan dalam hal tertentu mereka tak jauh beda dengan patung yang bisa dipahat dalam bentuk yang variatif sesuai selera nara sumber pemikran mereka yang kaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya melihat, kecenderungan yang kuat dan jelas dari ide-ide mereka untuk “memperkosa” Islam, bahkan akhir-akhir ini amat menonjol. Karena itu, saya perlu mengatakan suatu hal: sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menghalangi atau membatasi berbagai kecenderungan liberalisme seperti ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1175"></span><br />
Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha sederhana menyegarkan kembali pemikiran kaum liberal atas Islam yang saya pandang cenderung merusak keyakinan umat Islam dan konsep-konsep dasar Islam. Nalar mereka terlalu naïf untuk dianggap ilmiah dan rasional. Pemahaman dan pemikiran yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi kemajuan Islam itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara jalam menuju kemajuan berpikir yang lebih objektif dalam lingkup pemikiran kaum liberal adalah dengan mempersoalkan cara mereka dalam menafsirkan agama ini. Untuk menuju ke arah itu, kita memerlukan beberapa hal.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama, penafsiran Islam di atas dasar atau landasan ilmu yang benar, bukan sesuai denyut nadi kaum liberal yang pragmatis.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jadi, yang diperlukan adalah penafsiran Islam yang utuh dan menyeluruh, bukan penyimpangan pemahaman ala kaum liberal. Islam itu memiliki nilai-nilai yang universal, mencakup setiap masa dan tempat. Apa yang dianggap haram oleh Islam pada masa lalu, maka berlaku juga untuk saat ini. Begitu juga yang halal. Tidak dipahami bahwa Islam mesti dipahami berdasarkan selera budaya tertentu misalnya konteks Arab, Melayu, Asia Tengah, dan seterusnya. Seperti kata kaum liberal: “Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam…. tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab. Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi praktik-praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang memenuhi standar kepantasan umum (public decency). Kepantasan umum tentu sifatnya fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia. Begitu seterusnya.” Nalar seperti ini mencerminkan kepicikan dan kedangkalan dalam menggunakan akal dan dalam memahami pesan-pesan historis dan hukum dalam sejarah Islam.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua, umat Islam hendaknya memandang dirinya sebagai “masyarakat” atau “umat” yang memiliki posisi strategis sebagai umat terbaik, “bersyarat”. (Qs. Ali ‘Imran : 104, 110)</strong><br />
Dengan munculnya berbagai ide dangkal kaum liberal justru mengingkari bahwa umat Islam memiliki peluang untuk menjadi umat terbaik. Bahkan dengan serta merta kaum liberal mengingkari kenyataan bahwa umat manusia adalah keluarga universal sebagaimana yang digariskan Islam dengan tanpa sedikitpun embel-embel liberalisme-nya. Kemanusiaan adalah nilai yang sejalan, bukan berlawanan dengan Islam. Dalam keragaman bukan berarti hal-hal prinsip dalam Islam digadai untuk kebutuhan seks dan kepentingan perut lainnya. Kebolehan untuk menikah beda agama seperti yang menjadi salah satu tema kaum pluralisme adalah semata-mata bukan untuk menghormati keragaman tapi untuk kebodohan yang bersifat sesaat, bahkan konon karena kebutuhan biologis semata. Larangan kawin beda agama dalam Islam, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, adalah suatu prinsip yang sangat relevan untuk setiap zaman, termasuk zaman sekarang dan di masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Islam sendiri sangat tegas melarang itu, karena Islam menganut pandangan universal, legalitas dan taat hukum serta berperadaban. Ia menghargai martabat manusia yang sederajat, yang kemudian mendapat jaminan derajat berdasarkan kualitas takwa. Orang kafir tentu tidak bertkawa kepada Allah dan nabi Muhammad Saw. Dan tentu saja orang bertakwa tidak mau menikahkan anaknya kepada orang yang mengingkari Allah dan nabi Muhammad Saw.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu, segala produk pemikiran liberal yang tidak mengakui adanya terminologi “Iman”, kafir” dan sejeninya perlu direvisi bahkan dimusnahkan dari warisan sejarah umat manusia. Karena, anti terminologi tersebut juga merupakan wujud nyata bahwa ide liberalisme memang bukan ide yang dibangun di atas landasan rasionalitas tapi khayalan yang berdiri tegak di atas ranjang dogmatis dan doktrin-doktrin usang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga, kita perlu menegaskan bahwa Islam memiliki konsep mengenai struktur sosial, politik dan semacamnya.</strong><br />
Kebenaran Islam dan berbagai konsep yang terkandung di dalamnya bukan konsep yang berlaku hanya untuk individu, tapi juga untuk kehidupan publik. Karena itu, pemahaman liberal yang mengatakan Islam adalah urusan individu adalah wujud kebodohan atas ajaran Islam itu sendiri. Kegagalan dalam memaknai Islam sebagai agama yang mengatur aspek kehidupan, baik yang bersifat individu maupun publik, akan berakibat pada jauhnya praktik islami dalam kehidupan nyata. Hal ini bisa diperhatikan dalam praktik nyata ajaran-ajaran Islam dalam lingkup kehidupan kaum liberal. Sederhananya, susah ditemukan Islam dalam lingkup kehidupan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut saya, syari’at itu ada dalam Islam, dalam pengertian seperti dipahami kebanyakan orang Islam, bukan seperti seperti keyakinan dan pemikiran segelintir kaum liberal yang kini semakin punah ditelan ruang dan waktu. Misalnya, hukum tentang pencurian, jual beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Dan beberapa hal lain yang mengandung prinsip-prinsip umum dan universal. Nilai-nilai itu adalah perlindungan atas keteraturan, akal, kepemilikan, keluarga/keturunan, dan kehormatan (honor). Bagaimana nilai-nilai itu diterjemahkan? Itu tidak diserahkan begitu saja dalam konteks sejarah dan sosial tertentu. Karena itu, ia perlu patokan dari konsep utama Islam. Sebab budaya dan kondisi sosial sselalu berubah. Realitas yang berubah tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur untuk menentukan salah dan benarnya sesuatu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keempat, Di antara nilai luhur ajaran Islam adalah konsep-konsep keadilan.</strong><br />
Nilai yang diutamakan Islam adalah keadilan dan penegakannya. Di antara misi Islam yang paling penting adalah bagaimana menegakkan keadilan di muka Bumi, terutama di bidang politik, ekonomi (tentu juga di bidang budaya), dan berbagai tata etik dalam Islam seperti menutup aurat (jilbab dan lan-lain), menempatkan perempuan sesuai fitrah yang digariskan Islam, memelihara sunnah dan semacamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan begitu, Islam mengingkari misi “pemerkosaan” atas Islam seperti yang dilakukan oleh kaum liberal dengan mencurigai konsep-konsepnya yang agung dan fitrawi. Keadilan itu tidak bisa hanya dikhotbahkan (seperti yang dilakukan oleh kaum liberal), tetapi harus diwujudkan dalam bentuk sistem dan aturan main, undang-undang, dan sebagainya, dan diwujudkan dalam perbuatan. Termasuk dalam rumah tangga.</p>
<p style="text-align:justify;">Upaya menafsirkan Islam secara liberal, bagi saya, adalah wujud ketidakberdayaan kaum liberal dalam menghadapi masalah ekonomi, kemajuan ilmu, dan kedinamisan Islam serta berbagai problem sosial yang mengimpit mereka. Kaum liberal menganggap, semua masalah akan selesai dengan sendirinya (1) manakala Islam dipahami secara bebas, (2) umat Islam mesti kufur terhadap Islam, (3) dalam penafsirannya umat Islam mesti percaya dengan keyakinan dogmatis-keseragaman, dalam pengertian bahwa Islam mesti dipahami dengan cara keluar dari konsep dasar atau utama Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena itu, menurut saya, masalah kemanusiaan tidak bisa diselesaikan dengan merujuk kepada “kaum liberal” (sekali lagi: saya tidak percaya adanya kebenaran dalam gagasan dan penafsiran yang bersifat liberal dari “kaum liberal”; saya hanya percaya pada pemahaman para ulama yang saleh, berilmu dan bertanggung jawab atas ilmunya), tetapi harus merujuk kepada hukum-hukum atau sunnah yang telah diletakkan Allah dalam wahyu-Nya. Baik dalam masalah ibadah maupun dalam masalah muamalah, yang dalam konteks tertentu sudah diformulasikan oleh para ulama dalam berbagai tema ilmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata Nabi, konon, man aradad dunya fa’alihi bil ‘ilmi, wa man aradal akhirata fa ‘alihi bil ‘ilmi; barang siapa hendak mengatasi masalah keduniaan, hendaknya memakai ilmu, begitu juga yang hendak mencapai kebahagiaan di dunia, juga harus pakai ilmu. Saya tak menemukan nuansa ilmiyah dalam kajian kaum liberal, justru kenyataannya adalah kajian dogmatis bahkan sangat radikal. Dengan mudahnya mereka meneror agama dengan sangat sadis. Ilmu dunia maupun akhirat takkan ditemukan dalam etalase kaum liberal.</p>
<p style="text-align:justify;">Pandangan bahwa pemikiran liberal adalah suatu “paket lengkap” yang sudah jadi, suatu resep ideal dalam menyelesaikan masalah umat adalah pandangan yang sangat keliru, bahkan akan menimbulkan masalah yang sangat dahsyat. Mengajukan model penafsiran “hermeneutika” sebagai solusi atas semua masalah adalah sebentuk kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari masalah; sebentuk eskapisme dengan memakai alasan kebebasan, untuk kemudian “mencuri cara orang lain” untuk menafsirkan kitab suci sendiri yang sudah memiliki metode tafsir tersendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Eskapisme inilah yang menjadi sumber kemunduran intelektual di mana-mana. Saya tidak bisa menerima “kemalasan” semacam ini, apalagi kalau ditutup-tutupi dengan alasan, itu semua demi menegakkan kebebasan akal dan kebebasan berekspresi. Jangan dilupakan: tak ada kebebasan abadi. Sebab dalam kehidupan sosial kebebasan dibatasi oleh kebebasan orang lain yang berbeda. Dan karena itu diperlukan aturan yang dijadikan patokan atau alat ukur. Selebihnya, umat Islam perlu tahu bahwa tak ada kebebasan objektif dalam kredo kaum liberal, yang ada adalah pemaksaan pemikiran yang bersumber dari keyakinan dan pemikiran tokoh-tokoh fosil yang tak memiliki peran sejarah dalam membangkitkan peradaban manusia ke arah yang berperadaban—selain kejumudan, taklid, dan dogmatis.</p>
<p style="text-align:justify;">Musuh Islam paling berbahaya sekarang ini adalah dogmatisme kaum liberal, sejenis keyakinan yang tertutup bahwa suatu doktrin tokoh tertentu merupakan obat mujarab atas semua masalah, dan mengabaikan bahwa kehidupan manusia terus berkembang, dan perkembangan peradaban manusia dari dulu hingga sekarang adalah hasil dari pemahaman yang benar atas Islam yang ditorehkan oleh generasi awal Islam dan ulama yang berilmu dan sholeh.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara “kami” dengan “mereka”, antara “kaum liberal” dan “kaum Muslimin”; adalah bukti nyata sekaligus penyakit sosial kaum liberal yang tak bisa kita ingkari. Karena nyatanya begitu. Itulah terminologi yang sering mereka ungkapkan dalam berbagai pertemuan, seminar, kajian bahkan karya-karya mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemisah antara “kami” dan “mereka” sebagai akar pokok dogmatisme kaum liberal, mengingkari kenyataan bahwa mereka adalah bagian dari manusia yang lain, bahkan mengikari bahwa mereka adalah bagian dari umat Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya memahami bahwa Islam adalah agama Allah yang dianugrahkan kepada manusia melalui seperangkat aturan, konsep dan nilai-nilai yang tersistematiskan dalam wahyu-Nya. Islam bukan agama seperti yang diyakini kaum liberal : “Bahwa Islam adalah sebuah “proses” yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah “lembaga agama” yang sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan.” Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 19 adalah tamparan gratis dan telak bagi kaum liberal.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, tidak semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Dengan demikian, tidak semua agama adalah benar. Semua agama bukan berada ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya. Islam memiliki konsepnya sendiri yang sangat berbeda dengan agama lain. Saya beragama dengan memilih Islam karena saya yakin bahwa keyakinan selainnya adalah keliru atau salah. Itu sudah jelas diungkap di dalam Al-Qur’an, baik secara tekstual maupun pesan-pesan konteks ayat-ayatnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kelima, Syarat dasar memahami Islam yang tepat adalah dengan tetap mengingat, apa pun penafsiran yang kita bubuhkan atas agama itu, patokan utama yang harus menjadi batu uji adalah maslahat manusia itu sendiri.</strong><br />
Selama ini penjelasan atau interpertasi kaum liberal jelas-jelas justru mendatangkan mafsadat yang besar. Islam adalah anugrah buat umat manusia. Memang manusia adalah makhluk yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif, tapi tidak dengan serta merta agama juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia itu sendiri. Yang ada adalah manusia mesti menjadikan takaran-takaran agama sebagai landasan agar tidak terjerumus dalam lembah kenistaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Islam hendak diseret kepada suatu penafsiran yang justru berlawanan dengan maslahat manusia itu sendiri sebagaimana yang sering dilontarkan oleh kaum liberal, atau malah menindas kemanusiaan itu sendiri, maka pemahaman yang semacam ini adalah keyakinan dan kepercayaan kaum fosil yang tak lagi berguna buat umat manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita cari Islam yang lebih segar, lebih cerah, lebih memenuhi maslahat manusia. Mari kita tinggalkan pemahaman kaum liberal yang beku, yang menjadi sarang dogmatisme yang menindas maslahat manusia itu sendiri. Taubatlah wahai fosil-fosil liberalisme! []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarsejarah.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarsejarah.wordpress.com/1175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarsejarah.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarsejarah.wordpress.com/1175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarsejarah.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarsejarah.wordpress.com/1175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarsejarah.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarsejarah.wordpress.com/1175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarsejarah.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarsejarah.wordpress.com/1175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarsejarah.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarsejarah.wordpress.com/1175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarsejarah.wordpress.com/1175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarsejarah.wordpress.com/1175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1175&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/08/melawan-dogmatisme-aktivis-liberal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2858830a285e47afaef1481c19795a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarsejarah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2012/01/foto-liberal-kali.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">foto liberal kali</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemenang Antologi Indanya Persahabatan 1</title>
		<link>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/02/pemenang-antologi-indanya-persahabatan-1/</link>
		<comments>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/02/pemenang-antologi-indanya-persahabatan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 14:17:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsudin Kadir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarsejarah.wordpress.com/?p=1170</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah setelah melewati waktu selama 1 bulan lebih, melalui berbagai kendala ‘kagetan’, dinamika pendapat dan perdebatan tim juri yang begitu sengit, dan masukan dari beberapa sahabat yang berpengalaman dalam dunia kepenulisan, akhirnya dengan mengharapkan ridho Allah dan ketulusan sahabat semua, kami memilih dan memutuskan 35 naskah pemenang untuk Antologi Indahnya Persahabatan 1 (AIP 1 atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1170&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>Alhamdulillah</em> setelah melewati waktu selama 1 bulan lebih, melalui berbagai kendala ‘kagetan’, dinamika pendapat dan perdebatan tim juri yang begitu sengit, dan masukan dari beberapa sahabat yang berpengalaman dalam dunia kepenulisan, akhirnya dengan mengharapkan ridho Allah dan ketulusan sahabat semua, kami memilih dan memutuskan 35 naskah pemenang untuk Antologi Indahnya Persahabatan 1 (AIP 1 atau Antologi 1). Dengan catatan, naskah yang tidak masuk pemenang Antologi 1, akan diusahakan untuk diterbitkan dalam Antologi Indahnya Persahabatan 2 dan 3 (AIP 2 dan AIP 3). Untuk pememang AIP 2 dan AIP 3 sudah ada, namun kami butuh waktu untuk mengelompokkan berdasarkan ‘karakter’ naskah dan klarifikasi beberapa hal. Karenanya, kami mohon dukungan, do’a dan kesabaran sahabat semua.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Berikut adalah pemenang AIP 1 atau Antologi 1 (*nomor bukanlah urutan pemenang, hanya abjad saja):</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Aku dan Pasikbra, Noviana</li>
<li>Bersama Yenni, Ritual Sepiring Berdua, Teni SinLa</li>
<li>Berteman dengan Pelangi, Nihlaa Hilaby</li>
<li>Cerita Tentang Sahabat Saya, Andi, Encep Abdullah</li>
<li>CYS Sahabat  Abadi, Azam Cholidy</li>
<li>Cinta dalam Persahabatan, Dela Oktadiani</li>
<li>Dear Friends, Riska Fajri</li>
<li>Kenangan Yang Terkenang, Nina Nabilah</li>
<li>Kepergian Seorang Sahabat, Zefita</li>
<li>Ketika Sahabat Sejati Menyapa, Lismawati</li>
<li>Lembayung Sang Sahabat, Nur Afiani</li>
<li>Lima Koma Lima, Junior Panda Limbong</li>
<li>Mari Mengoleksi Sahabat dan Teman!, Maya Uspasari</li>
<li>Menepis Ruang Bersamamu, Kaimas Bunshi</li>
<li>Mengenang Nunik Yuniati, A. Azka S.</li>
<li>Menggapai Jejak Bintang, Irfan Fauzi</li>
<li>Mereka Selalu Ada Untukku, Ghofar El Ghifary</li>
<li>Pelangi Hati, Himmah Mahmudah</li>
<li>Persahabatan : Mutiara bernilai Surga, Usman Alfarisi</li>
<li>Pesan Yang Tertahan, Absurditas Malka</li>
<li>Sahabat Bagaikan Soulmat, Yati Rachmat</li>
<li>Sahabat Dalam Badai, Aisyah Prastiyo</li>
<li>Sahabat Sampai Kiamat, Nurbaiti</li>
<li>Sahabat, Bukan seekor kupu-kupu, Rizka Febriyona</li>
<li>Sahabatku Belahan Jiwaku, bidadari_Azzam</li>
<li>Sahabatku Romantis!, Syarfina S. Malem</li>
<li>Sahabatku, Motivatorku, Siti Nurjannah</li>
<li>Salahku Menjadi Lukamu, Zahidah Zulfa Zahira</li>
<li>Sang Kupu-Kupu, Abi Sabila</li>
<li>Selalu Ada Sahabat Baik, Nenny Makmun</li>
<li>Selamanya Sahabat, Devi Liani</li>
<li>Setelah 34 tahun, Bunda Lily</li>
<li>Setetes Embun Untuk Sayitri, Riri Ansar</li>
<li>Terminal di Atas Bukit, Ade Nurhopipah</li>
<li>Terima Kasihku untuk Hatimu, Sahabat!, Chandra Ayudiar Arie</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sahabat, lisan kadang salah berucap, kaki kadang salah melangkah, telinga salah mendengar, pikiran salah menganalisa, mata salah melihat, hati salah menduga,,, Apa yang disuguhkan pada group Kantin Menulis Penerbit Mitra Pemuda selama ini adalah wujud cinta. Kami, sebagaimana sahabat, sedang belajar mencintai negeri ini, mencintai potensi seluruh anak negeri. Mungkin banyak hal yang dituntut dari kehadiran semua anak bangsa di atas bumi pertiwi ini; itu adalah kewajaran. Namun, di atas kesederhanaan dan keterbatasan yang dimiliki, belum banyak yang bisa kami berikan selain belajar dan belajar; minimal untuk mengumpulkan kisah inspiratif sebagian anak bumi pertiwi. Tentang apapun yang mereka tuliskan, termasuk tentang persahabatan.<span id="more-1170"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk sahabat yang telah memberi kami warna baru dan pencerahan, untuk sahabat yang telah sempat dan tulus mengirimkan naskahnya (diterima ataupun tidak), untuk sahabat yang tak lelah bertanya dan memberi inspirasi, untuk sahabat yang selalu memberi nasehat dan teguran, untuk sahabat yang mungkin kesal atau bahkan marah,,, jujur, kami tak sempurna. Termasuk dalam menilai dan mengapresiasi karya sahabat semua. Yang pasti, kehadiran sahabat adalah pembawa semangat dan ceria bagi kami untuk selalu memperbaiki diri, untuk selalu memberi apa yang kami punya dan melakukan apa yang kami bisa. Semuanya menuju satu titik kesadaran: kesempurnaan peran dan maksimalnya kontribusi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sahabat, di atas segalanya, di sini ada sebuah pengajaran yang agung. Bahwa sudah saatnya kita membuang kecenderungan mermehkan potensi diri kita. Ketika kita mempersembahkan sebuah amal yang sangat kecil atau karya sederhana, saat itu kita harus membesarkan jiwa kita dengan mengharap hasil yang memadai. Sebab amal yang kecil atau karya sederhana itu, selama ia baik, akan mengilhami kita untuk melakukan amal atau menghasilkan karya yang lebih baik dan karya besar. Ibnu Qayyim mengatakan, sunnah yang baik, akan mengajak pelakunya melakukan ‘saudara-saudara’ sunnah itu. Begitu juga karya tulis, saat ini belum mendapatkan takdir pemenang, itu tak mengapa, karena esok dan lusa adalah kesempatan lain yang masih menanti. Lebih dari itu, selama berkarya karena niat tulus dan orientasi abadi, maka karya itu kan menjadi abadi. Bahkan lebih abadi dari umur fisik kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan semua karya tulis sahabat kelak memberi manfaat bagi seluruh anak bangsa, dan Kantin Menulis Penerbit Mitra Pemuda menjadi saksi bahwa sahabat sudah berkarya. Jika saat ini sahabat belum mendapatkan balasan, itu tak mengapa. Karena kami yakin setiap amal selalu mendapatkan balasan, baik di dunia maupun di akhirat. Pena malaikat-Nya tak pernah tidur dari kewajiban mendokumentasikan dan merekam seluruh amal anak-cucu Adam dan Hawa, ya sahabat semua. Selamat berkarya sahabat, kami selalu bersedia menjadi sahabat, semoga sahabat juga begitu. Agar apa yang sudah kita tunaikan menjadi saksi sejarah lanjutan bagi kehidupan dan tentang betapa indahnya persahabatan. [<strong><em>Cirebon; 01 Januari 2012, Pukul  01.00-01.10 WIB</em></strong>]</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;"> Pusat informasi :</p>
<p style="text-align:right;">085 220 910 532 (Kang Kadir)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarsejarah.wordpress.com/1170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarsejarah.wordpress.com/1170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarsejarah.wordpress.com/1170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarsejarah.wordpress.com/1170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarsejarah.wordpress.com/1170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarsejarah.wordpress.com/1170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarsejarah.wordpress.com/1170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarsejarah.wordpress.com/1170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarsejarah.wordpress.com/1170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarsejarah.wordpress.com/1170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarsejarah.wordpress.com/1170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarsejarah.wordpress.com/1170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarsejarah.wordpress.com/1170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarsejarah.wordpress.com/1170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1170&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarsejarah.wordpress.com/2012/01/02/pemenang-antologi-indanya-persahabatan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2858830a285e47afaef1481c19795a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarsejarah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perang Salib dan Strategi Profetik al-Ghazali[1]</title>
		<link>http://akarsejarah.wordpress.com/2011/12/29/perang-salib-dan-strategi-profetik-al-ghazali1/</link>
		<comments>http://akarsejarah.wordpress.com/2011/12/29/perang-salib-dan-strategi-profetik-al-ghazali1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 12:46:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsudin Kadir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarsejarah.wordpress.com/?p=1163</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Syamsudin Kadir[2] “Jika kamu melihat kegoan ditaati, nafsu diikuti, dunia diutamakan, dan setiap orang yang berilmu membanggakan pendapatnya, maka kamu harus sibuk membenahi diri sendiri dan hindarkan dirimu dari urusan orang banyak.”[3]  “Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, jiwamu dan lisanmu.”[4]   Selintas tentang Perang Salib Perang Salib dimulai pada tahun 1095. Pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1163&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;" align="center"><strong>Oleh : Syamsudin Kadir</strong><a title="" href="#_ftn2">[2]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong><em>“</em></strong><em>Jika kamu melihat kegoan ditaati, nafsu diikuti, dunia diutamakan, dan setiap orang yang berilmu membanggakan pendapatnya, maka kamu harus sibuk membenahi diri sendiri dan hindarkan dirimu dari urusan orang banyak.</em>”<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:center;" align="center"> <em>“Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, jiwamu dan lisanmu.”</em><a title="" href="#_ftn4">[4]</a><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"> <strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Selintas tentang Perang Salib </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perang Salib dimulai pada tahun 1095. Pada 50 tahun pertama, Pasukan Salib  berhasil mendominasi peperangan. Kekuatan kaum Muslim porak-poranda. Sebagian jantung negeri Islam, seperti Syria dan Palestina ditaklukkan. Ratusan ribu kaum Muslim dibantai. Pasukan Salib <a href="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/perang-salib-iv.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1164" title="Perang Salib IV" src="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/perang-salib-iv.jpg?w=300&#038;h=285" alt="" width="300" height="285" /></a>yang memasuki Jerusalem (1099) kemudian melakukan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk Kota Suci itu. Di Masjid al-Aqsha terdapat genangan darah setinggi mata kaki, karena banyaknya kaum Muslim yang dibantai. <em>Fulcher of Chartress</em> menyatakan, bahwa darah begitu banyak tertumpah, sehingga membanjir setinggi mata kaki: <em>“If you had been there your feet would have been stained to the ankles in the blood of the slain.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Seorang tentara Salib menulis dalam <em>Gesta Francorum, </em>bagaimana perlakuan tentara Salib terhadap kaum Muslim dan penduduk Jerusalem lainnya, dengan menyatakan, bahwa belum pernah seorang menyaksikan atau mendengar pembantaian terhadap ‘kaum pagan’ yang dibakar dalam tumpukan manusia seperti piramid  dan hanya Tuhan yang tahu berapa jumlah mereka yang dibantai: <em>“No one has ever seen or heard of such a slaughter of pagans, for they were burned on pyres like pyramid, and no one save God alone knows how many there were</em>.”<a title="" href="#_ftn5">[5]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Diperkirakan, penduduk Jerusalem yang dibantai pasukan Salib sekitar 30.000 orang. Puluhan ribu kaum Muslim yang mencari penyelamatan di atap masjid al-Aqsha dibantai dengan sangat sadis. Kekejaman pasukan Salib di Jerusalem memang sangat sulit dibayangkan akal sehat. Setahun sebelumnya, pada tahun 1098, tentara Salib itu juga telah membunuh ratusan ribu kaum Muslim di Marra’tun Noman, salah satu kota terpadat di Syria. Paus Urbanus II menyebut musuh kaum Kristen sebagai “The Seljuq Turks”. “Seljuk Turks”, kata Paus, adalah bangsa bar-bar dari Asia Tengah yang baru saja menjadi muslim. Bangsa ini telah menaklukkan sebagian wilayah kekaisaran imperium Kristen Bizantium. Paus mendesak agar para ksatria Eropa menghentikan pertikaian antara mereka dan memusatkan perhatian bersama, untuk memerangi musuh Tuhan. Bahkan, kata Paus, bangsa Turki itu adalah bangsa terkutuk dan jauh dari Tuhan. Maka, Paus menyerukan, “membunuh monster tak ber-Tuhan seperti itu adalah suatu tindakan suci; adalah suatu kewajiban Kristiani untuk memusnahkan bangsa jahat itu dari wilayah kita.”<a title="" href="#_ftn6">[6]</a><span id="more-1163"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tahap-tahap perang Salib merupakan babak pahit dalam sejarah Islam. Dan tampilnya Shalahuddin al-Ayyubi sebagai pemimpin umat Islam waktu itu, membalik situasi, menjadi mimpi buruk bagi tentara Salib. Sebuah film yang bagus dalam menggambarkan kisah sukses Shalahuddin al-Ayyubi merebut Jerusalem adalah sebuah film berjudul <em>Kingdom of Heaven</em> arahan Ridley Scott. Film ini cukup berhasil menampilkan sosok pahlawan Islam Shalahuddin al-Ayyubi secara lebih objektif. Wajar jika film yang menampilkan sisi-sisi hitam sejarah Kristen itu memeranjatkan banyak orang di Barat. Sebab, selama ini sosok Shalahuddin al-Ayyubi dipersepsikan sebagai “momok”, yang dibenci. Jenderal Graud, saat berhasil menaklukkan Damaskus pada tahun 1920 menginjak kakinya di makam Shalahuddin al-Ayyubi, sambil berteriak : <em>“Saladin, Wake up, We are beck!”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Karem Armstrong, dalam bukunya, “<em>Holy War : The Crusades and Their Impact on Today’s World”, </em>menguraikan dampak perang Salib dalam bentuk persepsi masyarakat Barat terhadap Muslim. Film <em>Kingdom of Heaven</em> mengungkap fakta yang sangat kontras antara sikap pasukan Kristen dan pasukan Islam saat merebut Jerusalem. Jika pasukan Salib dengan biadab dan bangganya membantai ratusan ribu kaum Muslim, lain halnya saat Shalahuddin al-Ayyubi muncul menjadi pemimpin kaum Muslim, orang Kristen justru dibebaskan tanpa bayaran dan dibiarkan meninggalkan Jerusalem secara nyaman tanpa sedikit pun darah yang keluar ataupun nyawa yang hilang. Sebuah fakta yang susah dilupakan pena sejarah yang jujur dan objektif, seperti susahnya sejarah melupakan fakta bagaimana tragisnya kondisi kaum Muslim menjelang dan pada saat perang Salib.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Al-Ghazali dan Perang Salib </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sejarah Perang Salib (<em>Crusade</em>) terdapat satu fakta sejarah yang cukup strategis untuk dibicarakan, tepatnya mengenai posisi dan <a href="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/al-ghazali.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-1166" title="al-ghazali" src="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/al-ghazali.jpeg?w=627" alt=""   /></a>peran al-Ghazali. Beliau adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali yang lebih dikenal  dengan sebutan Imam Al-Ghazali (450/1058-505/1111).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sejarah Islam beliau dikenal sebagai seorang pemikir besar, teolog terkemuka, filosof, faqih, sufi, dan sebagainya. Beliau menulis begitu banyak buku yang mencakup berbagai bidang seperti aqidah, fiqih, ushul fiqih, filsafat, kalam, dan sufisme.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau sempat mengalami satu peristiwa besar dalam sejarah umat Islam, yaitu Perang Salib (<em>Crusade</em>). Namun, di dalam karya besarnya, <em>Ihya‘ Ulumiddin</em>, beliau justru tidak menulis satu bab tentang jihad. Malah, dalam kitab yang ditulis sekitar masa Perang Salib itu, al-Ghazali menekankan pentingnya apa yang disebut <em>jihad al-nafs</em> (jihad melawan hawa nafsu).</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu dahsyatnya pembantaian terhadap kaum Muslim ketika itu. Karena itulah, banyak yang kemudian mempertanyakan  sikap dan posisi al-Ghazali dalam Perang Salib dan juga konsepsinya tentang jihad, dalam makna <em>qital </em>(perang) melawan musuh yang jelas-jelas sudah menduduki negeri Muslim. Sebagai contoh, Robert Irwin, dalam artikelnya berjudul “<em>Muslim responses to the Crusades</em>” (1997), menyebutkan, bahwa meskipun al-Ghazali sempat berkunjung ke berbagai tempat suci Islam, termasuk Masjid al-Aqsha pada tahun 1096, tetapi ia tidak pernah menyebut tentang masalah pasukan Salib dalam berbagai tulisannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika dikaji secara mendalam, sebetulnya, tidak diragukan lagi beliau adalah seorang tokoh dalam mazhab Syafi’i, al-Ghazali memahami kewajiban jihad melawan kaum penjajah. Dalam pandangan ulama mazhab Syafi’i, jihad adalah <em>fardhu kifayah, </em>dengan perkecualian jika penjajah sudah memasuki wilayah kaum Muslim, maka status jihad menjadi <em>fard al-‘ain</em>. Pakar Fiqih Islam, Wahbah al-Zuhayliy  mencatat: <em>“Jihad adalah fardu kifayah. Maknanya, jihad diwajibkan kepada semua orang yang mampu dalam jihad. Tetapi, jika sebagian sudah menjalankannya, maka kewajiban itu gugur buat yang lain. Tetapi, jika musuh sudah memasuki negeri Muslim, maka jihad menjadi fardu ‘ain, kewajiban untuk setiap individu Muslim.”</em> (Wahbah al-Zuhayliy, <em>al-Fiqh al-Islamiy wa Adillatuhu</em>, Damascus: Dar al-Fikr, 1997).</p>
<p style="text-align:justify;">Memang, beberapa cendekiawan ada yang kemudian mengkritik keras sikap al-Ghazali dalam soal <em>Crusade</em>. Dalam disertasi doktornya, Dr. Zaki Mubarak menyalahkan kecenderungan al-Ghazali terhadap sufisme sebagai sebab utama mengapa al-Ghazali tidak memainkan peran dalam jihad melawan pasukan Salib. Ia menulis: “Al-Ghazali telah tenggelam dalam khalwatnya, dan didominasi oleh wirid-wiridnya. Ia tidak memahami kewajibannya untuk menyerukan jihad.” Dalam bukunya, <em>Abu Hamid al-Ghazali wa al-Tashawuf</em>, ‘Abd al-Rahman Dimashqiyyah juga menyalahkan sufisme al-Ghazali.  Dr. Yusuf al-Qaradhawi menyebut bahwa posisi al-Ghazali dalam Perang Salib masih dipertanyakan (<em>puzzling</em>). Tentang posisi al-Ghazali, Qaradhawi menulis, bahwa “hanya Allah yang tahu fakta dan alasan Imam al-Ghazali.”  (Yusuf al-Qaradhawi, <em>Al-Imam al-Ghazali Bayn Madihihi wa Naqidihi </em>(Al-Mansurah: Dar al-Wafa’, 1988).</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/ihya.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1165" title="ihya" src="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/ihya.jpg?w=627" alt=""   /></a>Adalah menarik memang, bahwa dalam karya terbesarnya, <em>IÍya’ ‘Ulum al-Din, </em>al-Ghazali justru menekankan pentingnya <em>jihad al-nafs</em>. Walaupun tidak menempatkan satu bab khusus tentang jihad dalam <em>Ihya’</em>, al-Ghazali menekankan pentingnya jihad bagi kaum Muslim. Beliau mengutip sejumlah ayat al-Quran yang menyebut tentang kewajiban jihad bagi kaum Muslim, seperti firman Allah Swt. : <em>“Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas  orang-orang yang duduk.” </em>(QS. al-Nisa : 95).</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Kilani menjelaskan bahwa usaha yang dilakukan oleh al-Ghozali adalah mengatasi masalah kondisi umat yang layak menerima kekalahan (<em>qobiliyyat al-bazimah</em>) daripada menangisi segala bentuk kekalahan (<em>mazbahir al-bazimah</em>) yang diderita olehnya, persis seperti gagasan Malik bin Nabi di abad ini yang menyuruh agar mengkaji tentang kondisi umat yang layak dijajah (<em>al-qobiliyyat li al-isti’mar</em>) daripada hanya terus mengecam penjajahan.<a title="" href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut al-Ghozali, lanjut Al-Kilani, masalah yang paling besar adalah rusaknya muatan pemikiran dan diri kaum Muslim yang berkenan dengan aqidah dan sosial, sedangkan di luar itu hanya merupakan gejala-gejala lahiriah yang akan hilang dengan sendirinya apabila akar penyakit utamanya berhasil disembuhkan.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bab <em>al-Amr bi al-Ma‘ruf wa an-nahyu ‘an al-Munkar </em>al-Ghazali menyebutkan sejumlah hadits atau atsar<em> </em>(perkataan sahabat Nabi) tentang jihad.<em> </em>Dalam bab ini, al-Ghazali juga menekankan, bahwa aktivitas amar ma’ruf dan nahi munkar, adalah yang menentukan hidup-matinya umat Islam. Dalam karya-karyanya yang lain, al-Ghazali telah banyak menjelaskan makna jihad dalam arti perang, seperti dalam <em>al-Wajiz fi Fiqh Madzhab al-Imam as-Shafi‘iy. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Ini dapat disimpulkan bahwa sebagai pakar fiqh, <em> </em>al-Ghazali sangat memahami kewajiban jihad, dan ia telah banyak menulis tentang  hal ini. Wahbah az-Zuhayliy menyebutkan, menurut ulama ash-Shafi‘iyyah, jihad adalah perang melawan kaum kafir untuk menolong Islam. (<em>huwa qital al-kuffar li nushrah al-Islam. </em>Mengutip hadith Rasulullah saw, “<em>Jahid al-mushrikina bi amwalikum wa anfusikum wa alsinatikum”</em>, al-Zuhayliy menyebutkan definisi jihad: “Jihad adalah mengerahkan segenap kemampuan untuk memerangi kaum kafir dan berjuang melawan mereka dengan jiwa, harta, dan lisan mereka.”</p>
<p style="text-align:justify;">Posisi al-Ghazali dalam soal jihad melawan pasukan Salib menjadi jelas jika menelaah <em>Kitab al-Jihad </em>yang ditulis oleh Syekh Ali bin Thahir al-Sulami an-Nahwi (1039-1106), seorang imam bermazhab Shafi‘i dari Damaskus. Ia adalah seorang yang aktif menggalang jihad melawan pasukan Salib melalui pertemuan-pertemuan umum pada tahun 1105 (498 H),  enam tahun setelah penaklukan Jerusalem oleh pasukan Salib. Adalah sangat mungkin al-Sulami berguru kepada al-Ghazali di Masjid Ummayad, sebab Ali al-Sulami adalah imam di Masjid tersebut  dan al-Ghazali juga sempat tinggal di tempat yang sama pada awal-awal periode Perang Salib.<a title="" href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Kitabnya itu, Ali al-Sulami mencatat, bahwa satu-satunya solusi yang dapat menyelamatkan wilayah-wilayah Muslim, adalah menyeru kaum Muslim kepada jihad. Ada dua kondisi (baca: prakondisi) yang harus disiapkan sebelumnya. <strong><em>Pertama</em></strong>, “reformasi moral” untuk mengakhiri “degradasi spiritual”  kaum Muslim ketika itu.  Invasi pasukan Salib harus dilihat sebagai hukuman Allah, sebagai peringatan agar kaum Muslim bersatu. Kekalahan Muslim, menurut al-Sulami, adalah sebagai hukuman Allah atas kealpaan menjalankan kewajiban agama, dan di atas semua itu, adalah kealpaan menjalankan jihad. Tahap <strong><em>kedua</em></strong>, penggalangan kekuatan Islam untuk mengakhiri kelemahan kaum Muslim yang telah memungkinkan pasukan Salib menguasai negeri-negeri Islam. Dalam kitabnya, al-Sulami menyebutkan dengan jelas tentang situasi saat itu dan stretagi untuk mengalahkan pasukan Salib.</p>
<p style="text-align:justify;">Konsep al-Sulami dalam melawan pasukan Salib berupa “reformasi moral”  dari al-Ghazali’s memainkan peran penting. Sebab, menurut al-Sulami, melakukan jihad melawan pasukan Salib akan hampa jika tidak didahului dengan jihad melawan hawa nafsu. Ia juga mengimbau agar pemimpin-pemimpin Muslim memimpin jalan ini. Dengan demikian, perjuangan melawan hawa nafsu, adalah prasyarat mutlak (baca: prakondisi) sebelum melakukan perang melawan pasukan Salib.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam naskah <em>Kitab al-Jihad</em>  yang diringkas oleh Niall Christie,  al-Sulami mengutip ucapan Imam al-Syafi’i dan al-Ghazali tentang jihad. Di antaranya, al-Ghazali menyatakan, bahwa jihad adalah fardu kifayah. Jika satu kelompok yang berjuang melawan musuh sudah mencukupi, maka mereka dapat berjuang keras melawan musuh. Tetapi, jika kelompok itu lemah dan tidak memadai untuk menghadapi musuh dan menghapuskan kejahatannya, maka kewajiban jihad itu dibebankan kepada negeri terdekat, seperti Syria, misalnya. Jika musuh menyerang salah satu kota di Syria, dan penduduk di kota itu tidak mencukupi untuk menghadapinya, maka adalah kewajiban bagi seluruh kota di Syria untuk mengirimkan penduduknya untuk berperang melawan penjajah sampai jumlahnya memadai. (Dikutip dari “<em>A Translation of Extracts from the Kitab al-Jihad of &#8216;Ali ibn Tahir Al-Sulami </em>(d. 1106)” oleh Niall Christie. <a href="http://www.arts.cornell.edu/prh3/447/texts/Sulami.html./">http://www.arts.cornell.edu/prh3/447/texts/Sulami.html.</a>).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jihad Ilmu ala al-Ghazali         </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari pemaparan di atas, dapat dipahami bahwa al-Ghazali bukan tidak peduli dengan Perang Salib. Tetapi, kondisi moral dan keilmuan umat Islam yang sangat parah, menyebabkan seruan jihad tidak banyak mendapatkan sambutan umat Islam. Karena itulah, para ulama seperti al-Ghazali berusaha menyembuhkan penyakit umat secara mendasar. Caranya, dengan mengajarkan keilmuan yang benar. Ilmu yang benar akan mengantarkan pemiliknya kepada keyakinan, kecintaan pada ibadah, zuhud,  dan jihad. Ilmu yang rusak akan menghasilkan ilmuwan dan manusia yang rusak, yang  cinta dunia dan pasti enggan berjihad di jalan Allah. Itulah mengapa Kitab <em>Ihya’ Ulumiddin</em> diawali pembahasannya dengan bab tentang ilmu (<em>Kitabul ‘Ilmi</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah al-Ghazali ini perlu direnungkan dengan serius. Ketika umat Islam mengalami krisis dalam berbagai bidang kehidupan, al-Ghazali melakukan upaya penyembuhan secara mendasar. Sebab, sumber dari segala sumber kebaikan dan kerusakan adalah “hati/aqal”. Rasulullah Saw. bersabda:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat mudghah. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Dan jika dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Itulah al-qalb.”</em> (HR Muslim).</p>
<p style="text-align:justify;">Memperbaiki hati manusia haruslah dengan ilmu dan pendidikan yang benar. Karena itu, menyebarnya paham-paham yang merusak iman harus dihadapi dengan serius. Abu Harits al-Hasbi al-Atsari dalam kata pengantarnya untuk buku Ibnul Qayyim al-Jauziyah yang berjudul <em>Al-Ilmu </em>menjelaskan, bahwa Allah telah menurunkan “Kitab” dan “Besi”  sebagai sarana untuk tegaknya agama Allah. <em>“Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (Keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.”</em>  (QS. al-Hadid : 25).</p>
<p style="text-align:justify;">Di masa hidupnya, al-Ghazali telah melakukan berbagai usaha yang sungguh-sungguh untuk mengajarkan ilmu yang benar. Lebih dari itu, al-Ghazali juga memberikan keteladanan hidup. Meskipun beliau berilmu tinggi dan mendapatkan peluang  besar untuk hidup mewah dengan ilmunya, tetapi beliau justru memilih tinggal di kampungnya, di Thus. Di sanalah al-Ghazali mendirikan satu pesantren, membina para santrinya dengan ilmu dan keteladanan hidup yang tinggi. Dari upaya para ulama seperti al-Ghazali inilah kemudian lahir satu generasi yang hebat, yaitu generasi Shalahuddin al-Ayyubi. Bukan hanya seorang Shalahuddin, tetapi satu generasi Shalahuddin, yang pada tahun 1187 berhasil memimpin pembebasan Kota Suci Jerusalem dari cengekaraman Pasukan Salib.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sebuah Renungan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kekalahan umat Islam dalam babak-babak awal perang Salib memunculkan banyak keanehan. Islam yang ketika itu tampil sebagai peradaban yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan peradaban Barat justru mengalami kekalahan, dan Jerusalem bisa ditaklukkan oleh pasukan Salib dari tahun 1099-1187.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahwa tragisnya kondisi kaum Muslim menjelang dan pada saat perang Salib adalah sebuah fakta yang susah dilupakan pena sejarah—terutama sejarah Islam. Dari (1) penyakit cinta dunia para penguasa yang susah diperbaiki, (2) para tentara yang terkena penyakit lupa agama dan tak berperan membela kebenaran yang begitu akut, (3) sebagian ulama yang tergoda fitnah kekuasaan dan kepentingan sesaat lainnya, (4) umat Islam yang malas memahami dan mengamalkan sumber utama Islam berupa al-Qur’an dan as-Sunnah, (5) pengikut aliran dan mazhab bertaklid dan saling mencaci maki dengan pengikut aliran dan mazhab yang berbeda, (6) virus politik yang mendominasi berbagai kalangan, (7) amar ma’ruf nahyi mungkar yang hampir hilang, hingga (8) perpecahan umat Islam dalam bentuk kelompok-kelompok, juga (9) generasi muda yang taklid kepada generasi tua tanpa ilmu, pemahaman dan rasionalitas.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada yang menyangkal, bahwa kekalahan kaum Muslim dari pasukan Salib pada akhir 5 H merupakan salah satu tragedi terbesar yang dialami oleh umat Islam. Namun lebih dari sekedar menangisi sebuah tragedi, kita dituntut untuk merenung lebih jauh, faktor apa yang membuat umat yang mendapat gelar “Umat Terbaik” ini bisa terpuruk, bahkan tidak berdaya sedikitpun saat menghadapi serangan Salibis itu. Kesmpulannya, tentu ada sesuatu yang tidak beres dengan umat Islam. Ada arus penyimpangan kolektif yang dilakukan oleh berbagai lapisan umat Islam setelah ditinggalkan oleh generasi emas sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Adalah sangat indah Rasulullah Saw. mengisyaratkan kondisi tersebut pada sebuah haditsnya, <em>“Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda : Apabila umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan tercabut dari mereka kehebatan Islam. Dan apabila mereka meninggalkan amar ma’ruf nahyi mungkar, maka mereka akan terhalang dari keberkahan Wahyu. Dan apabila umatku saling menghina, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah.”</em> (HR. Hakim, Tirmizi—Darul Mantsur)</p>
<p style="text-align:justify;">Allah Swt. memperingatkan, <em>“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.”</em> (Qs. Asy-Syuraa : 20)</p>
<p style="text-align:justify;">Kita bersyukur, bahwa 90 tahun kemudian, tampil Shalahuddin al-Ayyubi yang memimpin pasukannya merebut <em>Hiththin</em> sebagai pembuka jalan untuk merebut Palestina kembali. Apa gerangan yang terjadi? Apakah Shalahuddin al-Ayyubi seorang utusan langit yang datang begitu saja untuk menyelamatkan umat Islam? Apakah Shalahuddin al-Ayyubi seorang pahlawan tunggal yang berjuang sendirian dan mengandalkan segala keistimewaan pribadinya? Jawabannya tentu tidak. Sejak awal Shalahuddin al-Ayyubi adalah pelanjut Imam Zanki dan anaknya Nurudin Zanki yang sudah mempersiapkan mimbar baru untuk masjidil Aqsha jauh sebelum itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam konteks perang Salib dan upaya membangkitkan peradaban Islam pada saat ini juga di masa depan, tentu Shalahuddin al-Ayyubi tidak sendiri. Sebab, kita tidak mungkin melupakan peran signifikan sejumlah ulama dan tokoh umat Islam yang hidup dalam kurun waktu tersebut, seperti al-Ghazali, Abdul Qodir al-Jaelani, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dan sederatan nama lainnya yang berhasil melakukan perubahan radikal pada paradigma pemikiran dan pendidikan umat Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Alhasil, Shalahuddin al-Ayyubi hanya seorang juru bicara resmi dari sebuah generasi yang telah mengalami proses penggodokan dan perubahan. Sebuah generasi yang telah berhasil melampaui kesalahan-kesalahan masa lalu yang ditorehkan oleh para pendahulu dan meneruskan peran-peran perjuangan mereka. Bahwa Shalahuddin al-Ayyubi—sebagaimana Muhammad Al-Fatih<a title="" href="#_ftn10">[10]</a>—tidak lebih dari salah satu komponen sebuah generasi baru yang telah melalui proses pengkaderan yang matang. Mereka telah melakukan proses konstruksi model manusia seperti pemikiran, persepsi, nilai, tradisi dan kebiasaan. Kemudian mereka dipersiapkan untuk menempati posisi-posisi yang sesuai dengan kesiapan dan kemampuan masing-masing, baik kemampuan jiwa, akal maupun fisik. Akhirnya, dampak dari proses pengkaderan tersebut berhasil mewarnai kondisi politik, ekonomi, sosial dan kekuatan militer yang ada saat itu. Sebagaimana juga berhasil meluruskan setiap aksi dan mengarahkan setiap aktivitas mereka.</p>
<p style="text-align:justify;"> Jadi, para pelopor dan pengusung perubahan adalah mereka yang merasakan berbagai bentuk penderitaan, mereguk pahitnya perjalanan dan perjuangan, kesalahan dan penyimpangan (baik dalam pemikiran maupun praktek nyata dalam kehidupan). Mereka pula yang merasakan manisnya kebenaran dengan cara melakukan perubahan terhadap apa yang ada pada diri mereka sendiri terlebih dahulu, lalu berusaha mengkristalisasi persepsi-persepsi tertentu dan strategi khusus. Hal ini membawa kepada sebuah kesimpulan, yaitu harus mewujudkan integralitas dan perpaduan seluruh bidang dan potensi, dan mengkondisikan semua institusi dan kelompok dalam sebuah jaringan kolektifitas (<em>jama’i</em>). Setelah itu, mereka mulai menerapkan strategis tersebut selangkah demi selangkah dengan cermat dan penuh perhitungan sehingga berhasil mencapai langkah terakhir, yaitu melakukan persiapan umum dan mendeklarasikan jihad dan dakwah. Perlu direnungi bahwa kadar kesuksesan yang mereka raih dalam jihad tersebut sesuai dengan tingkat ketepatan dan keikhlasan dalam menerapkan strategi yang dirancang sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekelumit kejadian dan kenyataan umat Islam ketika itu dapat dibaca dalam bukunya DR. Majid ‘Irsan Al-Kilani yang berjudul Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib.<a title="" href="#_ftn11">[11]</a> Dalam buku tersebut, Al-Kilani begitu cerdas memberikan gambaran yang terang mengenai Islam setelah ditinggalkan para sahabat, terutama khalifa rosyidin. Beliau hendak memberi <em>clue</em> tentang masalah umat Islam yang dihadapi dulu dan permasalahan umat yang dihadapi pada zaman sekarang ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam konteks saat ini—terutama aktivis Muslim—terlalu berat dan berlebihan dalam aspek politik, ekonomi, sosial—dengan meninggalkan dan mengecilkan aspek ilmu dan ulama—akan menjadi bumerang bagi perjuangan Islam di masa depan. Umat Islam perlu Shalahuddin al-Ayyubi, pahlawan perang dan negarawan yang tangguh. Tapi, di masa perang ilmu, seperti saat ini, umat Islam juga sangat perlu al-Ghazali, yakni ulama dan cendekiawan yang berilmu tinggi, saleh dan gigih dalam menjaga dan mengembangkan <em>ulumuddin</em>; dasar-dasar agama Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">            Mari renungi peringatan berikut:</p>
<p style="text-align:justify;" dir="RTL"> سيأتي على الناس زمان لا يبقى من الإ سلام إلا اسمه ولا من القرأن إلا رسمه</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya :</p>
<p style="text-align:justify;">“Akan datang kepada manusia suatu zaman bahwa tidak akan tersisa Islam kecuali namanya saja dan tidak pula al-Qur’an kecuali tulisannya saja.” (<em>Misykat</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">            Di atas segalanya, inilah idealnya yang menyemangati kita untuk selalu mempersiapkan diri dan terlibat nyata dalam perjuangan Islam : Sekalipun banyak prestasi Islam dalam peradaban—dan saat ini dalam kadar tertentu masih dilampaui oleh Barat—tetapi ada prestasi yang belum dapat dilampaui oleh Barat (baca: Krsiten) yaitu keberhasilan Islam dalam melahirkan manusia-manusia yang luar biasa di pentas sejarah. Dalam dunia politik Islam telah melahirkan banyak pemimpin yang sangat besar kekuasaan politiknya, tetapi sekaligus orang-orang yang sangat tinggi ilmunya dan sangat sederhana hidupnya.<a title="" href="#_ftn12">[12]</a> Bumi pertiwi dan seluruh semesta Melayu akan menjadi saksi bahwa seluruh elemen umat Islam Indonesia, terutama generasi muda Islam, akan melanjutkan peran-peran strategis tersebut. Akhirnya, mengutip pernyataan Mohammad Natsir, salah satu tokoh Masyumi dan Perdana Menteri RI, dalam buku Percakapan Antar Generasi : Pesan Perjuangan Seorang Bapak (1989), “Jangan berhenti tangan mendayung, nanti arus membawa hanyut!” <em>Wallahu a’lam bi showab</em>. [<strong><em>Cirebon, 28 Desember 2011</em></strong>]</p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Disampaikan pada Studium General Musyawarah Komisariat KAMMI Umar Bin Abdul Azis Universitas Padjajaran (Unpad) Jatinangor-Jawa Barat pada 30 Desember 2011 di Kampus Unpad Jatinangor.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> Pegiat Kajian <em>Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization</em> (INSISTS) dan Direktur Pusat Studi Islam Al-Afkar</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Hadits ini diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud,al-Nasa’i, Ahmad, ad-Darimi dengan sangat yang kuat. Ibnu Hibban, al-Hakim dan an-Nawawiy menyatakan, bahwa hadits ini shahih. Silahkan baca Musa bin Ismail, Sunan Abu Dawud, (Istanbul : Kitab al-Jihad, bab. 17, 1997, 22-23)</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> David R. Blanks and Michael Frassetto (ed) Western Views of Islam in Medieval and Eearly Modern Europe, (New York, St. Martin’s Press, 1999), hal. 62-63.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a>  Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, Adian Husaini (GIP, Jakarta : 2006), hal. 4</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref7">[7]</a> Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, Dr. Majid ‘Irsan Al-Kilani (Kalam Aulia Mediatama, Bekasi : 2007), hal. 78</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref8">[8]</a> <em>Ibid</em>.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref9">[9]</a> Hegemoni Kristen-Barat Dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi, Adian Husaini (GIP, Jakarta : 2006), hal. 18</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref10">[10]</a> Beliau adalah Sultan Muhammad II (1481 M/831 H), Sultan Utsmani ketujuh dalam silsilah keturunan keluarga Utsman. Muhammad digelari Al-Fatih dan Abu Al-Khairat. Memerintah hampir selama tiga puluh tahun, yang diwarnai dengan kebaikan dan kemuliaan bagi kaum muslimin. Memangku kesultanan Utsmani setelah ayahnya wafat pada tanggal 16 bulan Muharram 855 H, yang bertepatan dengan tanggal 18 Februari 1451 M. Waktu itu umurnya baru menjelang 22 tahun. Beliau berhasil menaklukkan Konstantinopel dengan seluruh potensi dan keunggulan kepemimpinannya. Coba ingat kembali hadits berikut : “<em>Konstantinopel akan bisa ditaklukan di tangan seorang laki-laki. Maka orang yang memerintah di sana adalah sebaik-baik penguasa dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara</em>.” (HR. Ahmad, dalam Musnad-nya, 4/335). Kalau pada zaman perang Salib terdapat ulama karismatik, al-Ghazali, maka pada zaman Al-Fatih juga terdapat ulama karismatik, Aaq Syamsuddin. Selanjutnya, silahkan baca buku Sulthan Muhammad Al-Fatih : Penakluk Konstantinopel karya DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi (Pustaka Arafah, Solo : Juli 2011).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref11">[11]</a> Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, Dr. Majid ‘Irsan Al-Kilani (Kalam Aulia Mediatama, Bekasi : 2007).</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref12">[12]</a> Sebuah prestasi gemilang peradaban Islam, misalnya, diletakkan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam mewujudkan sebuah model masyarakat Madinah yang diatur berdasarkan sebuah konstitusi Negara tertulis pertama di dunia. Baca dalam Muhamad Hamidullah, <em>The Prophet’s Establishing a State His Succession</em> (Pakistan : Pakistan Hijra Council, 1988) sebagaimana dikutip oleh DR. Adian Husaini dalam Indonesia Masa Depan : Perspektif Peradaban Islam pada buku Membangun Peradaban dengan Ilmu, DR. Hamid Fahmi Zarkasy dkk. (Kalam Indonesia, Jakarta : 2010).</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarsejarah.wordpress.com/1163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarsejarah.wordpress.com/1163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarsejarah.wordpress.com/1163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarsejarah.wordpress.com/1163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarsejarah.wordpress.com/1163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarsejarah.wordpress.com/1163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarsejarah.wordpress.com/1163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarsejarah.wordpress.com/1163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarsejarah.wordpress.com/1163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarsejarah.wordpress.com/1163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarsejarah.wordpress.com/1163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarsejarah.wordpress.com/1163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarsejarah.wordpress.com/1163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarsejarah.wordpress.com/1163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1163&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarsejarah.wordpress.com/2011/12/29/perang-salib-dan-strategi-profetik-al-ghazali1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2858830a285e47afaef1481c19795a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarsejarah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/perang-salib-iv.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Perang Salib IV</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/al-ghazali.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">al-ghazali</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/ihya.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ihya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Air Mata Haru untuk Dr. Adian Husaini</title>
		<link>http://akarsejarah.wordpress.com/2011/12/26/air-mata-haru-untuk-dr-adian-husaini/</link>
		<comments>http://akarsejarah.wordpress.com/2011/12/26/air-mata-haru-untuk-dr-adian-husaini/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 00:37:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsudin Kadir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarsejarah.wordpress.com/?p=1157</guid>
		<description><![CDATA[“Assalamu’alaikum, bagaimana kabar antum? Saya dengar antum sakit. Sakit apa antum? Saya dengar antum sakit tenggorokan, benar?” “Ya, semoga cepat sembuh! Antum sudah meriksa ke dokter? Kalau belum, usahakan segera meriksa ke dokter. Biar cepat pulih. Saya dulu pernah seperti itu, sering keluar kota mengisi acara, terus sakit. Ternyata kata dokter saya radang tenggorokan. Jadi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1157&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;" align="center"><em>“Assalamu’alaikum, bagaimana kabar antum? Saya dengar antum sakit. Sakit apa antum? Saya dengar antum sakit tenggorokan, benar?”</em></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><em>“Ya, semoga cepat sembuh! Antum sudah meriksa ke dokter? Kalau belum, usahakan segera meriksa ke dokter. Biar cepat pulih. Saya dulu pernah seperti itu, sering keluar kota mengisi acara, terus sakit. Ternyata kata dokter saya radang tenggorokan. Jadi, antum mesti cepat ke dokter.”</em></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong><em>—DR. Adian Husaini— </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/adianhusaini-300x240.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1158" title="adianhusaini-300x240" src="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/adianhusaini-300x240.jpg?w=627" alt=""   /></a>SENIN</strong> 19 Desember 2011, walau masih sakit, saya memaksakan diri untuk “sibuk” dengan berbagai aktivitas. Dari mengecek naskah buku dan lomba, merapihkan tulisan (buku dan artikel), membaca beberapa tulisan (seputar sejarah dan peradaban Islam), dan membantu istri tercinta, Mba Uum Heroyati, merapihkan nilai siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Sabilul Huda Cirebon-Jawa Barat dimana istri mengajar, hingga menyiapkan materi untuk acara Workshop mahasiswa IAIN. Kebetulan saya mendapatkan undangan menjadi pemateri pada salah satu acara akhir tahun di IAIN Syekh Nurjati Cirebon pada Selasa, 20 Desember 2011.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah-tengah “kesibukan” tersebut, tepatnya pukul 08.20 WIB tiba-tiba HP saya berdering. Pada awalnya saya tak menghiraukan, sebab beberapa hari terakhir—terutama karena tenggorokan yang sangat sakit—saya sengaja tak mau menerima <em>obrolan</em> siapapun yang menghubungi. Tapi karena HP terus bordering dan karena “paksaaan” sang istri, akhirnya saya pun memaksakan diri untuk mengambil HP. Masya Allah, ternyata dugaan saya benar, pasti ada “orang penting”. Ya, ternyata yang menghubungi saya adalah Pak Adian, ya Dr. Adian Husaini, MA.<span id="more-1157"></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;" align="center">**</p>
<p style="text-align:justify;" align="center">
<p style="text-align:justify;">            “Assalamu’alaikum, bagaimana kabar antum? Saya dengar antum sakit. Sakit apa antum? Saya dengar antum sakit tenggorokan, benar?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Wa’alaikumussalam wr.wb. Ya Pak, saya lagi sakit. Kebetulan beberapa waktu yang lalu, tepatnya 26 November dan 6 Desember 2011, saya mendapat undangan untuk menjadi pemateri acara pelatihan mahasiswa se-Jawa Timur di Surabaya dan Se-Sumatra Bagian Selatan di Bandar Lampung. Pas pulangnya langsung sakit, sampai sekarang. Mohon do’anya pak!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, semoga cepat sembuh! Antum sudah meriksa ke dokter? Kalau belum, usahakan segera meriksa ke dokter. Biar cepat pulih. Saya dulu pernah seperti itu, sering keluar kota mengisi acara, terus sakit. Ternyata kata dokter saya radang tenggorokan. Jadi, antum mesti cepat ke dokter.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya Pak, terima kasih. Beberapa hari yang lalu saya sudah dibekam oleh salah seorang teman. Alhamdulillah ada perubahan. Tapi sakitnya masih sampai sekarang.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya coba segera ke dokter. Semoga cepat sembuh!”</p>
<p style="text-align:justify;">            “Lagi di mana Pak Adian,,, lagi di Cirebon atau Jawa Timur?”</p>
<p style="text-align:justify;">            “Saya lagi di Cirebon, di tol. Sekarang lagi menuju Jakarta. Saya baru kembali dari Jawa Timur menuju Jakarta. Tadi malam menghubungi antum, mau singgah dan ketemuan, tapi tidak bisa dihubungi. Jadi mau langsung ke Jakarta. Ini saya dengan Pak Nuim Hidayat.”</p>
<p style="text-align:justify;">            “Oh, kebetulan HP saya tak diaktifkan Pak. Oh ya, kalau begitu bisa istirahat sejenak di Cirebon Pak, biar bisa bicara banyak. Sekalian untuk rencana Workshop Pemikiran Islam di Cirebon ke depan. Cirebon punya peluang untuk acara-acara seperti itu. Oh, ya salam tuk Pak Nuim.”</p>
<p style="text-align:justify;">            “Oh,,, saya sudah masuk tol menuju Jakarta. Begini saja, kebetulan nanti tanggal 16 Januari 2012 saya ada acara di Tegal-Jawa Tengah. Tanggal 17-18 Januari 2012-nya saya luangkan untuk ke Cirebon. Antum atur saja. Kita juga baru saja ada kumpulan dengan beberapa orang aktivis dari berbagai daerah. Ada dari Garut, Bandung, Jakarta dan lain-lain.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya Pak, insya Allah, nanti saya siapkan. Bagusnya memang ada Workshop di Cirebon. Untuk tempat bisa di masjid At-Takwa atau beberapa tempat yang lain. Oh, ya kalau acara ulang tahun INSISTS kapan pastinya Pak? Kali aja saya dan beberapa teman bisa hadir. Terima kasih Pak atas kesempatannya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oke, insya Allah. Tuk acara INSISTS nanti Februari atau Maret 2012. Nanti ada informasinya, siap-siap saja. Kalau begitu saya pamit dulu ya, saya langsung ke Jakarta. Semoga segera sembuh, biar bisa melanjutkan aktivitas antum! Wassalamu’alaikum Wr.Wb.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oke pak, wa’alaikumussalam wr.wb.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;" align="center">**</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah dialog singkat saya dengan Dr. Adian. Ya, walau hanya 4-5 menit, bagi saya, dialog ini punya banyak pesan dan manfaat. <strong><em>Pertama, ukhuwah dan silaturahim</em></strong>. Ya, jujur saja saya tak begitu tahu dari mana Pak Adian mendapatkan informasi kalau saya lagi sakit. Siapa yang menginformasikan ke beliau? Tak biasanya beliau menghubungi saya, kecuali ada sesuatu yang sangat penting, seperti informasi kegiatan INSISTS, opini dan propaganda di media dan berbagai isu keumatan lainnya. Lalu, atas dasar apa Pak Adian begitu antusias menanyakan kesehatan saya?</p>
<p style="text-align:justify;">Jujur, saya merasakan betapa kuatnya ukhuwah Pak Adian. Sehingga dengan gelar Doktor bahkan amanah menjadi Ketua Program Studi Pendidikan Islam di Pasca Sarajana Universitas Ibn Khaldun Bogor-Jawa Barat tak membuat hati beliau tertutup untuk memperkuat silaturahim, termasuk dengan saya yang sudah mengenalnya sejak tahun 2004 silam. Walau hanya lewat telphon, beliau berusaha menyempatkan diri. Hati saya sempat terbesit, “Sempat-sempatnya beliau menanyakan kabar dan kesehatan saya.” Maha Suci Allah atas semua ini, hanya Allah-lah yang menakdirkan semuanya!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kedua, tradisi ilmu</em></strong>. Ya, beliau baru saja menjadi pembicara dalam sebuah acara di Jawa Timur. Saya tak tahu pastinya acara apa. Yang jelas, biasanya, kalau beliau ditemani oleh tim-nya, itu isyarat ada Workshop Pemikiran Islam. Inilah salah satu aktivitas rutin INSISTS, dimana Pak Adian menjadi tim utamanya. Semangat beliau pada dunia keilmuan dan pemikiran begitu kuat. Sehingga tak heran beliau langsung meluangkan kesempatan untuk acara yang sempat saya sampaikan kepada beliau barusan. Bayangkan saja, saya baru memberi isyarat dan belum mengundang, tapi beliau langsung mengatakan kesediaannya. Sungguh, bagi saya ini adalah sebuah penghormatan dan anugrah. Sebab yang saya tahu, jadwal aktivitas beliau sangat padat, dan sulit dihubungi kecuali 2 bahkan 5 bulan sebelum acara dimulai. Karenanya, saya berusaha mengundang beliau untuk menjadi pembicara pada acara Workshop yang saya rencanakan nanti bulan Juli 2012. Tapi ternyata, tanpa panjang-lebar, beliau langsung bersedia, bahkan beliau sendiri seperti sudah bisa memahami maksud saya. Uniknya lagi, beliau yang menentukan jadwal acaranya, 17 atau 18 Januari 2012. Sungguh luar biasa!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ketiga, spirit berdakwah</em></strong>. Ada salah satu pernyataan Pak Adian yang sulit untuk saya lupakan, “Saya akan selalu hadir jika yang mengundang adalah aktivis-aktivis muda. Sebab, mereka adalah kaum intelektual dan punya potensi untuk membangun peradaban umat di masa depan. Kaum muda adalah asset besar umat Islam.”  Ya, itu salah satu pernyataan beliau ketika bersua dengan saya sebelum mengisi acara bedah novel beliau yang berjudul KEMI beberapa bulan yang lalu. Kebetulan beberapa bulan yang lalu beliau menghadiri undangan BEM IAIN SNJ untuk menjadi pembicara di satu-satunya kampus Islam negeri di Cirebon itu. Bagiku, ini adalah spirit dakwah. Beliau memahami bahwa kaum muda adalah asset yang sangat besar. Dengan demikian, jika ada undangan, selama ada kesempatan, beliau selalu bersedia hadir—bahkan sengaja menyempatkan diri. Terutama untuk bedah buku, Workshop dan sejenisnya. Semangat itulah salah satu di antara banyak “keistimewaan” yang saya ambil dari Pak Adian Husaini. Baik ketika dulu saya di Bandung, Jakarta maupun setelah sekarang di Cirebon.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tak punya kesimpulan yang tuntas atas dialog singkat saya dengan Pak Adian. Yang jelas, saya sangat merasakan betapa beliau sangat perhatian kepada saya. Sungguh, sebuah kenyataan yang selalu sulit saya lupakan. Saya merasakan perhatian beliau dari dulu 2004 hingga kini. Seperti sang kakak, dulu ketika masih kuliah, beliau sering menanyakan kuliah dan aktivitas saya; seperti sang guru, beliau selalu mengajariku ilmu dan memberi informasi mengenai ilmu, agenda INSISTS dan seterusnya. Bahkan yang unik, ketika beberapa waktu yang lalu, beliau meminta saya untuk menulis mengenai kenalan awal saya, kesan, pesan  dan apapun pandangan saya seputar INSISTS. Akhirnya, saya pun membuat tulisan sebanyak 14 halaman dengan judul <strong>Barokah INSISTS</strong>. Tulisan ini sudah disatukan dengan tulisan lain dari seluruh aktivis dan dosen di seluruh Indonesia, yang rencananya akan diterbitkan menjadi buku, dalam rangka ulang tahun INSISTS ke-10 pada bulan Februari-Maret 2012 yang akan datang.</p>
<p style="text-align:justify;">            Mudah-mudahan semangat dan kesungguhan beliau dalam dunia keilmuan dan dakwah terwariskan kepada saya, dan generasi muda yang lainnya. Lebih dari itu, semoga nilai dan prinsip-prinsip ukhuwah yang beliau praktekkan menjadi spirit dan contoh bagi siapapun untuk melakukan hal yang sama, sekarang dan di masa yang akan datang. Akhirnya, di atas kesederhanaan dan keterbatasan tulisan ini, air mata haru dan rasa sakit yang masih menimpa diri, saya sangat perlu untuk menyampaikan, “Terima kasih Dr. Adian Husaini!” <strong>[Syamsudin Kadir—<em>Cirebon, Senin,19 Desember 2011 pukul 10.00-10.40 WIB</em>] </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarsejarah.wordpress.com/1157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarsejarah.wordpress.com/1157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarsejarah.wordpress.com/1157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarsejarah.wordpress.com/1157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarsejarah.wordpress.com/1157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarsejarah.wordpress.com/1157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarsejarah.wordpress.com/1157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarsejarah.wordpress.com/1157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarsejarah.wordpress.com/1157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarsejarah.wordpress.com/1157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarsejarah.wordpress.com/1157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarsejarah.wordpress.com/1157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarsejarah.wordpress.com/1157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarsejarah.wordpress.com/1157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1157&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarsejarah.wordpress.com/2011/12/26/air-mata-haru-untuk-dr-adian-husaini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2858830a285e47afaef1481c19795a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarsejarah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/adianhusaini-300x240.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">adianhusaini-300x240</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agar Menulis Tak Sekedar Menulis</title>
		<link>http://akarsejarah.wordpress.com/2011/12/14/agar-menulis-tak-sekedar-menulis/</link>
		<comments>http://akarsejarah.wordpress.com/2011/12/14/agar-menulis-tak-sekedar-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 02:57:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syamsudin Kadir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akarsejarah.wordpress.com/?p=1153</guid>
		<description><![CDATA[&#160; SAAT orang membayangkan apa artinya menjadi seorang penulis, mereka sering membayangkan praktek menulis: memenuhi halaman demi halaman, menyunting paragraf, memeriksa kata-kata dengan hati-hati dan seterusnya. Ya, itu memang bagian menulis, yang intinya adalah praktek meletakkan pena pada kertas atau jari-jari pada tombol komputer atau laptop. Namun, menulis tentu lebih dari itu. Bagiku, agar menulis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1153&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/pen-paper1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1154" title="pen-paper1" src="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/pen-paper1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a>SAAT</strong> orang membayangkan apa artinya menjadi seorang penulis, mereka sering membayangkan praktek menulis: memenuhi halaman demi halaman, menyunting paragraf, memeriksa kata-kata dengan hati-hati dan seterusnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, itu memang bagian menulis, yang intinya adalah praktek meletakkan pena pada kertas atau jari-jari pada tombol komputer atau laptop. Namun, menulis tentu lebih dari itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagiku, agar menulis tak sekedar menulis berarti menggabungkan proses kreatif ke seluruh aktivitas menulis. Jamaica Kincaid mengatakan bahwa dia selalu menulis dalam pikirannya, terutama pada saat dia berkebun. Jadi, ketika benar-benar meletakkan pada pena di atas kertas, dia sudah mengubah ceritanya berkali-kali di kepalanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Apapun yang sedang Anda lakukan, entah itu berjalan atau mengerjakan tugas sekolah dimana Anda belajar atau mengajar, kampus dimana Anda menjadi mahasiswa atau dosen, kantoran dimana Anda menjadi pegawai atau karyawan dan rumah dimana Anda menjadi kepala, ibu atau anggota rumah tangga, Anda tetap bisa menulis. Oleh karena itu, menulis juga bisa dipahami sebagai proses mengamati, berpikir, menciptakan, merenungkan—lalu menuliskan semua itu.<span id="more-1153"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menulis bisa jadi sesuatu yang rutin. Aku dapat membuat catatan harian di atas secarik kertas, untuk membiasakan diriku sendiri. Namun, pada waktu lain, aku menulis karena luapan semangat. Ketika menulis menjadi kebiasaan—aku lakukan hampir setiap hari atau beberapa kali sepekan—hal itu akan meresap ke dalam kehidupanku. Aku merasakan, ia memberi cita rasa terhadap cara pandangku tentang hidup, tentang dunia, dan hanya dengan itulah aku benar-benar menjadi seorang yang memberi makna bagi kehidupan, termasuk untuk menulis.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, hayo menulis! Itulah ungkapan yang kujadikan sebagai penyemangatku. Walaupun aku kadang merasa takut jika tulisanku tak berisi, walaupun aku kadang merasa minder jika tulisanku dinilai “sampah” oleh pembaca. Namun, seiring berjalannya waktu, semakin sering aku menulis, semakin sering aku memandang dan memahami diriku sebagai seseorang yang punya potensi menjadi penulis. Aku belajar menulis dengan melakukannya, karena sebuah kata akan menuntun ke lebih banyak kata dan kata berikutnya. Ya, begitulah caraku agar aku menulis tak sekedar menulis.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sering bertanya pada diriku, dan aku menjawabnya secara jujur dan serius.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Mengapa aku ingin menulis?</li>
<li>Mengapa menulis itu penting?</li>
<li>Manfaat apa yang aku dapat dan harapkan dari menulis?</li>
<li>Apa yang akan aku dapatkan dari menulis?</li>
<li>Apa yang paling ingin aku tulis?</li>
<li>Mengapa aku mesti menuliskannya?</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut secara tulus dan jujur seringkali membantuku dalam menuntaskan satu atau dua judul tulisan. Aku percaya bahwa kalau aku mau mengasah perasaanku, aku akan lebih menyadari detail kecil yang membentuk berbagai hal besar di sekitar diriku. Dan dengan melihat, mendengar, dan mengalami banyak hal secara sungguh-sungguh, aku akan menjadi orang yang kaya akan gagasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku pernah heran dengan para penulis hebat:  dari mana mereka mendapat gagasan, kesan, dialog, irama, alur cerita yang mengejutkan dan karakter yang terdapat dalam karya mereka?</p>
<p style="text-align:justify;">Bagiku, sebagai orang yang sedang belajar menulis, penting untuk menyadari semua hal di sekitar diriku. Terbersit dalam pikiranku, kelak ketika aku sudah menjadi penulis skenario atau novel, aku membayangkan mataku sebagai kamera bioskop, pertama-tama ambil pemandangan besar, lalu fokuskan kepada orang-orang, objek-objek, gerakan-gerakan, dan percakapan. Memperhatikan semua gerakan, seperti tangan yang terangkat atau peralihan ucapan, dapat memberitahukan apa dan siapa yang aka lihat dan aku dengar. Dalam benak, aku uraikan cerita dalam kalimat-kalimatku sendiri, langsung saat semua fakta tertangkap oleh inderaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, bagaimana cara dan strateginya sehingga menghasilkan karya tulis yang luar biasa? Aku tak begitu tahu bagaimana strateginya, namun—kalau dibolehkan—aku akan menjelaskan beberapa hal yang merupakan pengalamanku selama ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Pertama, Jika dalam memulai atau menuntaskan sebuah tulisan biasanya aku mencoba untuk berhenti sejenak menenangkan pikiran</em></strong><strong>.</strong> Cuci muka, minum air atau boleh juga jalan-jalan kecil di samping kamar atau rumah. Aku juga biasa jalan-jalan di halaman yang terdapat bunga-bunga indah. Dengan demikian pikiranku tercerahkan, dan berikutnya aku menjadi fokus pada apa yang mesti aku tulis.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau penulis yang sudah tersohor biasanya mereka menggunakan satu jurus ampuh: berhenti menulis seputar tema yang sedang digarap. Biasanya mereka menanti kesempatan yang lain. Bahkan pada kondisi seperti ini kadang ada juga yang membuat tulisan dengan tema lain yang mungkin itu lebih tepat untuk saat itu. Artinya, tak ada liburnya. Yang ada hanya pengalihan dari satu tema ke tema yang lain. Dan aku belajar untuk melakukan hal yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kedua, Aku mencoba untuk melibatkan diri dalam masalah yang sedang aku tulis</em></strong>. Hal ini aku lakukan agar apa yang aku tuangkan dalam sebuah tulisan benar-benar aku alami, fokus dan arahnya jelas. Sehingga ketika dibaca bedanya terasa, dan tentu saja lebih mengalur dan mengalir. Biasanya, sebelum menulis aku diam sejenak. Aku berpikir dan merenung sekaligus memohon kepada Allah agar tulisanku bermanfaat dan mendatangkan maslahat bagi diriku dan pembacanya kelak.</p>
<p style="text-align:justify;">Katakan misalnya, aku sedang menulis seputar kepenulisan, maka aku mesti membangun dialog atau diskusi kecil-kecilan dengan diriku sendiri. Aku juga melakukan obrolan santai dengan teman-temanku yang aktif di dunia kepenulisaan. Sarana dan caranya banyak. Bisa bertemu langsung atau lewat <em>facebook</em> yang sedang menjamur. Begitu juga dengan tema-tema yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ketiga, Yang tak kulupakan adalah setiap hari aku mesti membaca buku</em></strong><em>. </em>Hal ini aku lakukan agar perbendaharaan kata, pemilihan kata dan kemasan tulisanku semakin kaya referensi. Dengan cara seperti ini, sangat mudah bagiku mengungkap sebuah pemahaman atau pemikiran dalam sebuah tulisan. Intinya kaya referensi. Jujur, ini adalah salah satu hal utama yang sedang aku coba buktikan, minimal untuk diriku sendiri. Bahwa banyak membaca adalah kunci terbaik bagiku untuk berkarya: menulis.</p>
<p style="text-align:justify;">Itu beberapa hal yang menjadi pengalamanku selama ini. Anda tentu saja punya pengalaman yang sama  atau mungkin berbeda. Apapun pengalaman Anda, jika Anda yakin pengalaman tersebut bisa memacu semangat menulis Anda dan menghasilkan karya inspiratif, semuanya layak Anda publikasikan. Ya aku mengusulkan agar Anda berbagi dengan aku dan semua pembaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya, keputusan ada pada setiap diri, aku dan Anda semua, mau “menulis asal menulis” atau “menulis lebih dari sekedar menulis”, terserah masing-masing. Yang pasti, aku sudah membagi pengalaman, yang menurutku sangat membantu aku selama ini dalam menunaikan aktivitas menulis; ya menulis yang tidak sekedar menulis. Semoga bermanfaat untuk Anda, dan akupun mendapat balasan terbaik dari Sang Kuasa! []</p>
<p style="text-align:justify;">
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/akarsejarah.wordpress.com/1153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/akarsejarah.wordpress.com/1153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/akarsejarah.wordpress.com/1153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/akarsejarah.wordpress.com/1153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/akarsejarah.wordpress.com/1153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/akarsejarah.wordpress.com/1153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/akarsejarah.wordpress.com/1153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/akarsejarah.wordpress.com/1153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/akarsejarah.wordpress.com/1153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/akarsejarah.wordpress.com/1153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/akarsejarah.wordpress.com/1153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/akarsejarah.wordpress.com/1153/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/akarsejarah.wordpress.com/1153/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/akarsejarah.wordpress.com/1153/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=akarsejarah.wordpress.com&amp;blog=13229546&amp;post=1153&amp;subd=akarsejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akarsejarah.wordpress.com/2011/12/14/agar-menulis-tak-sekedar-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2858830a285e47afaef1481c19795a0f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">akarsejarah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://akarsejarah.files.wordpress.com/2011/12/pen-paper1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">pen-paper1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
