Agar Dakwah Menyentuh Hati

Ahad, 18 November 2012, bertepatan dengan 4 Muharram 1434 H, yang lalu saya mendapat undangan menjadi pemateri pada acara Bedah buku Bagaimana Menyentuh Hati. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memeriahkan sekaligus tasyakur Milad LDK XI oleh UKM Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Al-Ukhuwah IAIN Syekh Nurjati Cirebon-Jawa Barat.

Tema kegiatan ini cukup “wah”. Tentu saja bagi saya ini peluang besar untuk membenah diri. Selebihnya ya, semoga dengan mendapatkan amanah seperti ini, saya semakin sadar bahwa dosa dan maksiat yang saya lakukan selama ini insya Allah akan terpupus dengan memaksimalkan potensi positif yang saya miliki untuk hal-hal kebaikan. Allahumma aamiin!

Panitia sebagai penyelenggara memilih tema, “Mengharu Biru Memupuk Aqidah, Membina Ukhuwah Bersama LDK Al-Ukhuwah.” Sebagai “manusia” biasa yang tak luput dari dosa dan maksiat, saya bangga dengan semangat dan antusias mereka untuk mengadakan acara ini. Bagaimana pun, buku yang dibedah kali ini adalah karya seorang tokoh pergerakan yang sudah malang melintang dalam dunia dakwah. Ya, buku Bagaimana Menyentuh Hati dengan judul asli At-Tariq Ilal Qulub ditulis oleh Syeikh Abbas As-Sisi—yang lebih dikenal dengan sebutan Abbas As-Sisi.

Yang tak kalah dahsyatnya adalah semangat dan antusis peserta. Jika digabung dengan jumlah pengurus LDK (panitia), maka jumlah peserta yang hadir ketika itu hampir 100 orang. Bagi saya, ini adalah satu kenyataan bahwa dakwah kampus IAIN SNJ Cirebon masih diminati oleh mahasiswa. Walaupun tantangan dan kendala di sana-sini tetap bermunculan, tetap saja aktivis sejumlah itu adalah garansi nyata bahwa LDK Al-Ukhuwah masih dihuni para pejuang, insya Allah. Semoga mereka istiqomah di jalan dakwah!

Oh iya, buku Bagaimana Menyentuh Hati ini terbit pada saat Mesir tengah diguncang oleh aksi keganasan dan tindakan kekerasan dan beberapa kelompok ekstrem. Pada judul buku ini terdapat suatu kandungan maksud untuk membersihkan berbagai sikap keras dan tindakan kurang bijak dengan menunjukkan jalan-jalan menuju hati. Allah swt, berfirman,

“Maka disebabkan rahmat dan Allah-lab kamu berlaku lemah lembut terbadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berbati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Al-Imran: 159)

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesunggubnya dia telab melampaui batas, maka berbicaralab kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (Thaha: 43-44)

 

“Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telab menjadi teman yang sangat setia.” (Fushilat: 34)

Rasul bersabda,

“Seorang wanita masuk neraka gara-gara seekor kucing yang dikurungnya tanpa diberi ma-kan dan minum, dan ia memnggalkannya dengan tidak memberi makan meski dan serangga tanah.”

“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buab hati dalam rongganya.” (Al-Ahzab: 4)

Karena itu, tidak mungkin pemilik hati yang sarat cinta dan keimanan, pada saat yang sama ia adalah seorang yang berhati gersang, kasar, serta menyimpan rasa dengki dan kebencian kepada pihak lain.

Mungkin Anda, para pembaca, sudah menunggu apa saja yang saya sampaikan ketika itu. Secara sederhana, berikut merupakan elaborasi saya dari “rekamanN dan catatan kecil saya ketika itu. Semoga bermanfaat bagi siapapun Anda!

Dakwah adalah …

Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala sesuai dengan garis aqidah, syari’at dan akhlak Islam.[1] Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da’a yad’u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan. Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata “Ilmu” dan kata “Islam”, sehingga menjadi “Ilmu dakwah” dan Ilmu Islam” atau ad-dakwah al-Islamiyah.[2]

Tujuan dan Hukum Berdakwah

Tujuan utama dakwah ialah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridai oleh Allah. Nabi Muhammad SAW mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan. Dimulai dari istrinya, keluarganya, dan teman-teman karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu.

Lalu, apakah hukum berdakwah? Hukumnya telah ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah tentang wajibnya berdakwah mengajak menusia ke jalan Allah yaitu bahwa berdakwah termasuk kewajiban. Dalilnya sangat banyak, di antaranya, firman Allah Swt.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” [Ali Imran : 104]

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” [An-Nahl : 125]

“Dan serulah mereka ke (jalan) Rabbmu, danjanganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” [Al-Qashash : 87]

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” [Yusuf : 108]

Allah Swt. menjelaskan, bahwa para pengikut Rasulullah Saw. adalah para dai dan para pemilik ilmu yang mapan. Dan yang wajib sebagaimana diketahui, adalah mengikutinya dan menempuh cara yang dilakukan oleh Nabi Saw., sebagaimana firman Allah Swt.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzab : 21]

Para ulama menjelaskan, bahwa mengajak manusia ke jalan Allah hukumnya fardhu kifayah di negeri-negeri atau wilayah-wilayah yang sudah ada para da’inya yang melaksanakannya. Jadi, setiap negeri dan setiap wilayah memerlukan dakwah dan aktifitasnya, maka hukumnya fardhu kifayah jika telah ada orang yang mencukupi pelaksanaannya sehingga menggugurkan kewajiban ini terhadap yang lainnya dan hanya berhukum sunnah muakkadah dan sebagai suatu amalan yang agung.

Jika di suatu negeri atau suatu wilayah tertentu tidak ada yang melaksanakan dakwah dengan sempurna, semuanya berdosa, dan wajib atas semuanya, yaitu atas setiap orang untuk melaksanakan dakwah sesuai dengan kesanggupan dan kemampuannya. Adapun secara nasional, wajib adanya segolongan yang konsisten melaksanakan dakwah di seluruh penjuru negeri dengan menyampaikan risalah-risalah Allah dan menjelaskan perintah-perintah Allah dengan berbagai cara yang bisa dilakukan, karena Rasulullah pun mengutus para dai dan berkirim surat kepada para pembesar dan para raja untuk mengajak mereka ke jalan Allah.

Agar Dakwah Menyentuh Hati

Dakwah ideal adalah dakwah yang produktif. Dalam pengertian, dakwah yang dilakukan menghasilkan, bermanfaat, maslahat dan berusia paanjang. Produktifitas dakwah tentu hanya akan didapat jika semua elemen dalam dakwah bekerja dengan baik, di samping system yang ada di dalamnya melaksanakan dan mengemban amanah dakwahnya secara baik dan tepat, termasuk kultur islami yang terjaga.

Jika kita menelaah sejarah, maka akan didapati bahwa salah satu kata kunci berdakwah yang sangat efektif, sehingga dakwah menjadi produktif adalah berdakwah dengan “hati”. Ini bermakna bahwa berdakwah mesti disampaikan dengan strategi, cara, pola dan metode yang benar dan tepat yang benar-benar “menyentuh hati”.

Pertanyaannya, bagaimana caranya? Berikut adalah review singkat saya atas buku Bagaimana Menyentuh Hati karya  Syekh Abbas bin Hasan As-Sisi, yang lebih terkenal dengan Syekh Abbas As-Sisi.

Sebelum berbicara lebih jauh, kita perlu mengenal dulu siapa penulis buku tersebut.

Syekh Abbas As-Sisi lahir pada tanggal 28 November 1918 di Kota Rasyid provinsi Buhairah. Beliau memeroleh gelar diploma pada sekolah tinggi industri. Semasa kecil, beliau sangat mahir bermain sepak bola. Beliau bahkan mengaku tidak pernah membayangkan akan bisa menjadi penulis, seperti yang diungkapkannya di dalam mukadimahbuku Fi Qafilah Al-Ikhwan.

Pada tahun 1936, Syekh Abbas As-Sisi mulai berkenalan dengan dakwah Ikhwanul Muslimin melalui Ustadz Mahmud Abdul Halim. Sejak saat itu pun beliau mulai berbaiat kepada Imam Hasan Al-Banna untuk konsisten pada manhaj dakwah dan jihad fi sabilillah. Dengan kepribadiannya yang cair, murah senyum, dan gemar membantu sesama, dakwah Ikhwan tersebar luas di kota Rasyid, tempat beliau beraktivitas.

Lelaki yang tamat usia pada tahun ke-86 ini mewakafkan hidupnya untuk sebuah idealisme risalah dakwah. Beliau adalah ‘guru cinta’ bagi dakwah Ikhwanul Muslimin. Ceramah dan tulisan-tulisannya selalu ditargetkan buat membidik hati. Bukan sekadar menebar pesona dan simpati, melainkan penuh dengan kekuatan kharisma, cinta, dan rasa persaudaraan yang tinggi.

Syekh Abbas As-Sisi adalah ‘sisa-sisa’ generasi awal Ikhwanul Muslimin yang melalui hari-hari pahit di balik jeruji dan berbagai intimidasi serta tuduhan stigma subversif. Beberapa kali beliau mengalami penangkapan. Pada tahun 1984 beliau ditangkap dan ditahan selama enam bulan. Kemudian pada tahun 1954 beliau kembali ditangkap dan ditahan selama dua tahun. Beliau kembali ditangkap pada tahun 1965 dan baru keluar penjara sembilan tahun kemudian, yaitu tahun 1974.

Kegigihan dan keberaniannya tidak pernah diragukan. Beliau terlibat dalam perang dunia 2 di Gurun Barat (Gharbea). Tapi semua itu tidak menjadikan gaya hidup beliau menjadi keras. Sebaliknya, lelaki berambut putih itu selalu menebar senyum untuk siapa saja. Dalam keadaan apa saja. Di mana saja. Jelas, keteduhan yang dalam akan tampak di wajahnya yang meski dimakan usia tetap berseri menawarkan semangat hidup yang tidak pernah padam.

Syekh Abbas As-Sisi wafat pada hari Jumat tanggal 8 Ramadhan 1425 H, bertepatan dengan tanggal 22 Oktober 2004. Jenazah beliau dishalatkan selepas shalat Ashar di Masjid Al-Haq di kota Rasyid, yang diimami oleh Mursyid Am Muhammad Mahdi Akif. Lebih dari dua puluh lima ribu orang mengiring jenazah beliau untuk dimakamkan di pekuburan kota Rasyid.

Saya menjadi saksi bahwa buku ini sangat bagus bagi siapa saja yang ingin memulai untuk menyebarkan keindahan Islam. Namun, sejatinya buku ini tidak hanya perlu untuk para orang-orang yang bergelut di dunia dakwah saja. Karena kalau dipahami lebih dalam ternyata buku ini menjelaskan hal-hal yang perlu dilakukan seseorang agar bisa menjadi lebih sukses dalam menjalin hubungan dan tali silaturahim dengan orang lain dengan cara-cara yang menawan. Hal ini yang menjadi nilai lebih buku ini dibanding buku-buku lain yang cenderung menawarkan kiat-kiat yang terasa “kering dan hambar”. Silakan dibaca dan dipahami isinya, mungkin setelah membacanya jadi tertarik untuk mengamalkan pesan-pesannya.

Syiar berarti menyeru atau menyampaikan, sedangkan syiar Islam berarti menyeru atau menyampaikan nilai-nilai Islam kepada orang-orang. Sudah begitu banyak dari kita, terutama dari kalangan pemuda dengan karakter semangat berapi-api yang sangat khas, menyeru dan mengajak manusia lain untuk mengenal kebaikan dan kebenaran. Namun sangat disayangkan beberapa dari kita, yang menyerukan Islam, juga belum memahami bagaimana menyentuh objek-objek dakwah yang ingin kita rangkul. Objek-objek dakwah tersebut adalah orang yang sama seperti kita, sama-sama memiliki hati dan bukan objek mati yang tidak memiliki respon terhadap sesuatu yang ada di sekitarnya.

Hati yang beriman merupakan sumber penggerak. Bahkan setiap manusia di sudut dunia senantiasa dibimbing oleh hati, apabila mereka masih mau layak disebut sebagai manusia. Oleh sebab itu, sebelum kita melangkah jauh dengan bermaksud mengarahkan dan menunjukkan jalan kebenaran kepada orang lain, sudah selayaknya kita harus mampu menyentuh sumber motivasi penggerak dirinya yaitu hati. Itulah mengapa seringkali kita sering melihat (atau menyaksikan sendiri) begitu banyak seseorang yang telah “tertawan” hatinya oleh lawan jenisnya sehingga mereka rela melakukan dan memberikan apapun yang mereka miliki kepada orang yang telah mampu “menawan” hatinya, betapapun itu sangat pahit dan berat bagi dirinya. Meskipun hal ini berada dalam bingkai yang salah dalam tatanan Islam, sudah selayaknya kita mengkaji mengapa hal itu bisa terjadi dan nampaknya memang sisi hati inilah yang harus mampu disentuh terlebih dahulu sebelum kita sebagai penebar nilai Islam berbicara lebih jauh dan lebih banyak. Analoginya, apabila hati yang telah “tertawan” oleh sesuatu nilai yang melenceng (dalam kasus di atas adalah cinta yang didasari nafsu belaka) saja bisa menggerakkan manusia melakukan apapun maka hati yang telah tersentuh oleh keindahan Islam (yang telah kita yakini bersama sebagai rahmatan lil ‘alamin) pastilah akan mampu menggerakkan manusia untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih dahsyat. Di sinilah tugas para da’i untuk mengeksplorasi, mengeksploitasi, dan mengemas nilai-nilai Islam sedemikian rupa sehingga orang-orang bisa melihat, mendengar, dan merasakan sendiri keindahan nilai-nilai ini. Dengan begitu mereka bisa menerima Islam dengan penuh kenyamanan dan tanpa merasa mendapat intervensi serta paksaan dari orang yang mengabarkan Islam.

Kita telah memahami bagaimana hati memiliki peranan penting dalam syiar Islam sebagai aspek yang harus disentuh terlebih dahulu. Sekarang kita akan membahas hal-hal apa saja yang mampu menyentuh hati dan bagaimana kita menampilkannya dengan cara yang baik dan tepat sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Hadits. Berikut sebagian kecil hal yang mampu menyentuh hati menurut buku “Bagaimana Menyentuh Hati” karangan Abbas As Siisiy :

1. Menghafal Nama

Mungkin sebagian besar dari kita merasa kesulitan untuk mengingat nama orang-orang yang baru kita kenal. Percayalah bahwa mengingat nama adalah hal yang penting karena dari sinilah terjadi interaksi dan lahirnya sifat saling percaya sesama individu. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kata yang paling sering diucapkan dalam percakapan manusia, baik secara langsung maupun lewat telepon, adalah kata “aku”. Ini membuktikan bahwa setiap manusia ingin dipandang dan dihargai lebih oleh orang lain. Bagi setiap orang, lantunan rangkaian kata yang paling indah di dunia ini adalah namanya sendiri. Oleh karena itu, berusahalah untuk mengingat nama objek dakwah yang ingin kita dekati sebelum kita menyampaikan Islam. Salah satu caranya adalah dengan mencoba mengingat namanya dengan memperhatikan ciri-ciri wajahnya (jenis rambutnya, warna kulitnya, memakai kacamata atau tidak, berjenggot, dan sebagainya) atau mencatat nama orang yang baru kita kenal. Hal ini bisa dikembangkan lebih jauh sesuai dengan cara yang paling mudah bagi seorang da’i untuk mengingat nama objek dakwahnya.

 

2. Tersenyum

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda “Senyummu di muka saudaramu adalah sedekah”. Di sini dijelaskan secara gamblang bahwa senyum yang dihitung sedekah adalah senyum yang diberikan di depan saudara kita. Jadi, senyum yang tidak terlihat di depan saudara kita tidak akan memiliki arti dan tidak meninggalkan kesan di hati mereka. Di sini, senyuman yang dimaksud adalah senyum yang tulus ikhlas dan tidak dibuat-buat. Senyuman di depan saudara kita haruslah berupa senyuman yang berasal dari hati nurani dan penuh dengan ketulusan karena senyuman adalah gambaran isi hati yang menggerakkan perasaan dan terpancar pada wajah. Senyuman yang tulus ikhlas adalah fitrah, yang akan membuat hati manusia terpikat dan bersimpati.

 

3. Penampilan Seorang Da’i

Cara bertutur kata dan penampilan seorang da’i akan menarik perhatian orang-orang yang mendengar dan melihatnya, karena pada dasarnya jiwa manusia cenderung dan tertarik dengan penampilan yang indah dan baik. Sebuah ungkapan mengatakan “Keberhasilan sebuah misi akan bergantung pada si pembawa misi tersebut”. Contoh yang paling jelas dalam hal ini adalah penunjukan Mushab bin Umair oleh Rasulullah sebagai pemimpin delegasi di Madinah untuk menyampaikan syiar Islam. Kita telah ketahui bahwa Mushab bin Umair merupakan seorang pemuda yang memiliki kedalaman ilmu yang baik dan memiliki penampilan yang sangat menawan. Penampilan dan akhlak yang baik akan membuat orang yang baru saja memandang menjadi tertarik dan simpati. Sehingga tak heran kita menjumpai ada sebagian orang yang menggantungkan kepercayaan melalui pandangan matanya.

4. Pandangan yang Penuh Kasih Sayang

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa memandang saudaranya dengan kasih sayang niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya”. Yang dimaksud pandangan dalam hadits ini adalah pandangan yang ditujukan kepada hati dan mengajaknya berbicara dengan lemah lembut. Sebuah pandangan yang penuh cinta dan kasih sayang kepada saudaranya akan dapat berpengaruh dalam mengantarkan kepada kebenaran yang akhirnya dapat mempererat barisan dan memperkuat bangunan. Apa yang tersimpan dalam hati akan tersingkap dalam tatapan mata. Oleh karena itu, berikanlah pandangan yang penuh ketulusan kepada setiap orang yang kita temui, termasuk kepada penerima dakwah kita, karena hal itu akan tersampaikan kepada mereka meskipun kita terkadang tidak menyadarinya.

 

5. Menyebarkan Salam dan Memberi Salam Lebih Dahulu

Menyebarkan salam akan mampu memberikan rasa aman dan simpati kepada orang-orang yang mendengarkannya. Memberikan salam bisa diberikan baik kepada orang yang sudah kita kenal maupun yang belum kita kenal. Bahkan bagi kita yang memberi salam lebih dahulu akan memberikan daya tarik tersendiri dan akan mampu memikat orang di sekitar kita, selain itu hal tersebut akan mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah.

 

6. Memberikan Tempat Duduk dalam Suatu Majelis

Dalam sebuah kesempatan, kita diundang dalam suatu undangan dan kita tidak mendapatkan tempat duduk di dalam ruangan acara tersebut karena ruangan telah penuh oleh tamu undangan. Pastinya hal tersebut akan membuat kita merasa bingung, salah tingkah, bahkan kesal. Sampai pada akhirnya ada seseorang yang menawarkan tempat duduk pada kita. Pastinya orang tersebut akan berkesan di hati kita sampai kapanpun. Begitu pula sikap kita apabila kita melihat ada orang yang nampak kebingungan karena tidak mendapatkan tempat duduk dalam suatu majelis. Berikanlah tempat duduk padanya, niscaya kita akan senantiasa berkesan di hatinya. Dalam QS. Al-Mujadilah : 11 dijelaskan, “Wahai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berlapang-lapanglah dalam suatu majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian…”

 

7. Berjabat Tangan

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda “Tidaklah seorang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, kecuali bagi mereka ampunan sebelum mereka berpisah”. Yang dimaksud di sini adalah jabat tangan yang disertai rasa kasih sayang dan ketulusan kepada saudaranya. Selain itu, kita harus menjabat tangan saudara kita sambil menghadapkan tubuh kita ke arah saudara kita, tidak dalam keadaan tubuh menyamping atau setengah-setengah ketika menjabat tangannya. Sudah selayaknya jabatan tangan kita harus dibarengi dengan tatapan dan perasaan yang hangat serta senyuman yang datang dari hati sehingga orang-orang yang merasakan jabat tangan kita akan merasa nyaman dan bisa menerima keberadaan kita. Yang perlu diingat, hal ini harus dilakukan antar pria dengan pria atau wanita dengan wanita karena Rasulullah mengajarkan seperti itu.

Akhirnya…

Berdakwah adalah kerja mulia, warisan para utusan Allah. Pelakuknya mendapat ganjaran pahala tak terkira bahkan surga. Berdakwah yang baik adalah proses dakwah yang ditunaikan dengan cinta, di samping berbagi modal seperti ilmu, pemahaman, keteladanan, ketulusan, totalitas, pengorbanan, ukhuwah, ketaatan dan seterusnya. Hanya dengan cintalah dakwah bisa menyentuh hati. Sekeras-kerasnya hati ia akan luluh dengan dan karena api cinta. Semoga saya dan kita semua memilikinya, dengan cara belajar dan terus belajar dari para pendahulu; baik para utusan Allah, sahabat, tabi’in, ulama dan penggawa gerakan Islam di berbagai penjuru dunia. [Cirebon, 23 November 2012. Oleh : Syamsudin Kadir—Penulis sekaligus editor lepas; pegiat Diskusi Dwi Pekanan  Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta. Cp: 081 804 621 609]

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s