Islam sebagai Agama Wahyu

Dalam fenomena keagamaan saat ini, penjelasan Al-Qur’an bahwa Islam yang saat ini dianut oleh umat Islam adalah agama yang masih genuine sebagai agama wahyu (din Allah, din al-Haqq), menemukan faktanya. Konsep ketuhanan, kenabian, wahyu atau kitab, hari kiamat dan peribadatan yang saat hingga saat ini diyakini dan diamalkan umat Islam, tidak tunduk pada sejarah dengan mengalami perubahan dan pergantian di setiap masanya. Sehingga Islam bukanlah agama sejarah (historis), melainkan melintasi sejarah (metahistoris). Identik dengan ajaran-ajaran Nabi sebelumnya, karena memang semuanya bersumber pada wahyu.

            Dalam konsep ketuhanan misalnya, dari awal Islam menegaskan bahwa Tuhan itu satu, tidak berserikat, tidak beranak, tidak pula diperanakkan, tidak ada satu pun yang dapat menyamai-Nya.

Katakanlah (Muhammad), “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak sesuatu yang setara dengan-Nya.” [1]

            Sementara dalam Kristen terjadi perdebatan konsep bahkan perkembangan konsep, dari monotehisme murni menjadi monotheisme tidak murni.

            Menurut Norman P. Tanner[2]—sebagaimana dikutip oleh Adian Husaini dalam Wajah Peradaban Barat (2005: 344-345)—Kaum Kristen awal, dan itu dibuktikan dengan keberadaan agama Yahudi, meyakini bahwa Tuhan itu satu. Tapi kemudian berdasarkan Konsili Nicea 325 ditetapkanlah bahwa Tuhan punya anak, yakni Yesus. Yesus adalah manusia sekaligus Tuhan. Penetapan Yesus sebagai “manusia” sekaligus “Tuhan” ini berubah-ubah pula dalam perumusan syahadat di setiap Konsilinya. Termasuk ketika pada Konsili Toledo III di Spanyol tahun 589 ditambahkan Roh Kudus sebagai oknum ketiga dari Tuhan. Perubahan syahadat ini telah menyebabkan terpecahnya Gereja menjadi Barat dan Timur.

            Berkaitan dengan konsep keselamatan, dalam agama Kristen juga terjadi pergeseran. Dari yang semula ekslusif (mengakui kebenaran hanya pada Kristen) menjadi inklusif. Dan itu terjadi setelah Konsili Vatikan II (1962-1965) menetapkan bahwa ada kemungkinan keselamatan di luar Kahtolik.[3] Kenyataan bahwa masalah aqidah ditetapkan oleh Konsili semakin memberikan fakta bahwa Kristen sudah bukan lagi agama wahyu atau agamanya para Nabi. Islam yang masih genuine sebagaimana awalnya, tetap memiliki pandangan bahwa orang-orang kufur pasti akan masuk ke neraka selama-lamanya.

            Hal yang sama juga mengenai agama Yahudi. Dalam konsep kenabian, tampak sekali dalam Bible mereka adanya pencemaran nama baik, seperti terjadi pada Luth, Daud dan Sulaiman yang disebutkan berzina. Padahal Nabi adalah orang pilihan yang ma’shum. Demikian juga dalam konsep the promised land (tanah yang dijanjikan) yang baru dirumuskan seiring berdirinya Zionisme.[4]

            Dalam konteks peribadatan, hingga saat ini umat Islam masih konsisten dengan shalat, zakat, shaum dan hajinya, yang disebutkan Al-Qur’an sebagai syari’at para Nabi (baca: Islam), walau tentu secara praktik peribadatan mengikuti tuntunan Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi dalam agama Yahudi dan Kristen tidak tampak pada syari’at mereka ajaran-ajaran shalat, zakat, shaum dan haji. Walaupun ada tata cara peribadatan semacam shalat, zakat dan shaum, akan tetapi semuanya sangat tunduk pada sejarah, disesuaikan dengan situasi dan tempat.[5]

            Agama-agama lainnya di luar Yahudi dan Kristen, tampak lebih jelas lagi. Itu dikarenakan mereka dari semula tidak mendasarkan ajarannya pada wahyu, melainkan pada kontemplasi pemimpin agamanya kemudian menghasilkan rumusan-rumusan ajaran. Salah satu contoh sederhana, berbedanya agama Hindu Bali dengan Hindu India.

            Dalam Islam, dari sejak awal disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. 14 abad silam, sampaik sekarang seperti yang dipraktikkan oleh umat Islam (hingga saat ini), tidak terjadi pergeseran konsep keagamaan. Shalatnya masih berbahasa Arab, yang wajibnya tetap lima waktu. Zakatnya masih terdiri dari zakat fitrah dan zakat mal. Shaumnya tetap sebulan Ramadhan penuh. Hajinya tetap ke Masjidil Haram di Makkah pada beberapa hari yang sudah ditentukan di bulan Dzulhijjah. Kalaupun ada perbedaan, itu bukan merupakan pergeseran ajaran, akan tetapi sejak awal memang terjadi perbedaan penafsiran—terutama dalam masalah cabang (furu’).  

            Syed Muhammad Naquib al-Attas, dalam hal ini menegaskan bahwa tradisi intelektual, agama dan budaya Islam tidak memiliki karakteristik yang suatu zaman dicirikan dengan menangnya sebuah sistem pemikiran berdasarkan pada materialisme atau idealisme, dengan beragam posisi seperti empirisisme, rasionalisme, posotivisme, kritisisme, dan lain-lain. Ciri-ciri periode sejarah Islam juga tidak mengenal zaman klasik, pertengahan, modern dan sekarang berubah lagi kepada pasca modern; atau juga periode kelahiran kembali (renaissance) dan pencerahan (englightenment). Paradigma tersebut berubah-ubah karena bersumber dari unsur-unsur filosofis dan budaya yang dibantu oleh ilmu pengetahuan saat itu. Sedangkan Islam bukanlah bentuk budaya, dan sistem pemikirannya serta sistem nilainya bukan semata-mata berasal dari unsur-unsur budaya dan filosofis yang dibantu sains, tetapi sumber aslinya adalah wahyu yang didukung oleh akal dan intuisi.[6]

            Al-Attas menjelaskan lebih lanjut bahwa substansi agama seperti agama, iman dan amal, ibadah, aqidah, serta sistem teologinya diberi oleh wahyu dan diterjemahkan serta ditunjukkan oleh Rasulullah Saw. Bukan dari tradisi budaya dalam arus historisisme. Islam menyadari identitasnya telah lengkap, sempurna dan otentik dari selesai turunnya wahyu. Jadi, Islam telah ‘dewasa’ ketika muncul dalam sejarah dunia. Islam tidak memerlukan pertumbuhan atau progresifitas dalam hal yang sudah sangat jelas.[7]

Jakarta; 18 September 2012

Syamsudin Kadir, 081 804 621 609


[1]QS. Al-Ikhlash [114]: 1-4.

[2] Norman P. Tanner, Konsili-konsili Gereja, Yogjakarta: Kanisisu, 2003, hlm. 35-41.

[3] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, Jakarta: Gema Insani Press: 2005, hlm. 339-340.

[4] Uraian lebih mendalam tentang perkembangan keagamaan Yahudi bisa dibaca dalam buku Adian Husaini, Tinjauan Historis Konflik Yahudi, Kristen, Islam, Jakarta: Gema Insani Press: 2004.

[5] Uraian lebih lengkap di antaranya bisa dibaca dalam buku A.D. el Marzdedeq, Parasit Aqidah.

[6] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An exposition of the Fundamental Element of the Worldview of Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, 1995, hlm. 3-4.

[7] Ibid, hlm. 4-5.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s