Belajar Menantang Kegagalan

 “… mari belajar dari kekalahan dan kegagalan anak kecil. Tantanglah kesalahan dan kegagalan dengan tekad dan semangat. Dengan begitu, Anda akan semakin paham bagaimana menjadi orang sukses dan menjadi pemenang.”

 DALAM kehidupan ini selalu ada dua sisi yang berpasangan dan silih berganti. Ada menang dan kalah, ada sukses dan gagal, dan seterusnya. Hampir tak ada kehidupan yang tidak melalui sisi-sisi tersebut. Bahkan kehidupan ini semakin indah jika sisi-sisi tersebut hadir silih berganti. Sederhananya, tidak ada orang yang mengalami kesuksesan jika tidak pernah mengalami kegagalan dan tidak pernah ada orang yang mengalami kemenangan jika tidak pernah mengalami kekalahan. Jika ingin sukses dan menang, maka bersiap-siaplah untuk gagal dan kalah.

“Dalam kehidupan ini, gagal dan kalah itu perlu. Dari kegagalan kita akan lebih paham bagaimana agar jangan gagal berulang-ulang, kemudian kita pun menjadi orang berhasil. Dari kekalahan kita akan lebih paham bagaimana agar jangan kalah berulang-ulang, kemudian kita pun menjadi pemenang.”

 

Orang yang takut gagal selalu menjadikan kegagalan awal sebagai penghambat dirinya untuk mencoba atau mengulangi upayanya dalam mendalami atau mengupayakan satu rencana besar dalam hidupnya. Sebaliknya, orang yang berani gagal selalu menjadikan kegagalan di awal sebagai pintu masuk bagi dirinya untuk mencoba kembali strategi yang pernah dicoba, atau mencoba sesuatu yang baru dari strategi yang pernah dia coba sebelumnya.

Orang yang “takut kalah” selalu menjadikan kekalahan awal sebagai alasan bagi dirinya untuk berhenti berkarya. Sebaliknya, orang yang “berani kalah” selalu belajar dari kekalahan. Baginya, kekalahan adalah jembatan sekaligus upaya lanjutan untuk meraih kemenangan-kemenangan berikutnya.

Orang yang takut gagal dan takut kalah mudah mengeluh dan menyerah begitu saja kepada kegagalan dan kekalahan yang pernah dia peroleh. Jika dia gagal, baginya itu adalah pintu akhir dari kesuksesan dan kehidupannya. Jika dia kalah, maka baginya itu adalah pintu bagi kehancuran dan kekalahan berikutnya.

“Mari perhatikan orang sukses dan para pemenang. Mereka tidak mau kalah dengan kegagalan atau tantangan yang mereka hadapi dalam mencapai sebuah kesuksesan. Mereka bahkan menantang tantangan dan hambatan yang berserakan dalam kehidupan yang mereka lalui secara lantang.”

Mereka memahami tantangan dan hambatan sebagai tempat belajar gratis bagaimana menggapai kesuksesan dengan cara yang berbeda. Bahkan dengan begitu, mereka percaya bahwa berbagai jenis kesuksesan akan hadir bagai air yang mengalir tanpa henti. Mereka percaya dengan satu falsafah hidup : “Kehidupan ini selalu dipergilirkan.” Karenanya, tak perlu takut dengan apapun yang sedang dialami. Apa yang sedang dialami saat ini adalah takdir Sang Kuasa dan hasil dari jerih payah dan upaya pada masa lalu yang telah lewat. Bagi mereka, cukup bersyukur dengan apa yang ada.

Ya, dalam melalui sisi-sisi kehidupan yang sedang dilalui ini, ada baiknya jika kita belajar dari anak kecil. Kita akan menyaksikan bahwa ternyata anak kecil sangat kreatif dan berani. Dia tak takut salah, gagal dan kalah. Suatu ketika dia mulai berdiri kemudian jatuh. Mungkin Anda akan melihat dia menangis karena kesakitan. Tapi Anda akan melihat seketika dia takkan pernah menyerah, dia bangkit lagi untuk mencoba. Sekian waktu dia melalui proses “mencoba”, akhirnya dia pun bisa berdiri.

Contoh lain, anak kecil yang berlatih naik sepeda kemudian jatuh, dia kesakitan. Dia benar-benar merasa sakit. Tapi apakah dia berhenti bersepeda? Tentu saja tidak. Dia tidak menjadikan pengalaman ‘sakit’ sebagai tembok penghalang bagi dirinya untuk menjadi orang yang bisa bersepeda. Makanya, tidak heran jika dia mencoba kembali dan begitu seterusnya.

Sebelumnya dia jatuh karena menabrak batu yang berada di sisi jalan, makanya dia ‘sakit’. Namun dia tak mau kalah, sebab dalam dirinya terdapat naluri dan kemauan yang kuat untuk bisa. Dari situ dia belajar agar lebih hati-hati. Agar kesalahan yang dia lakukan kemarin tidak terulang kembali. Di sini kreatifitasnya muncul. Dia pun mencoba kembali, baik dengan cara yang sama atau bahkan mungkin dengan cara baru yang muncul dalam lintasan pikirannya hari ini.

Tidak cukup di situ, dia juga semangat untuk mencoba kembali. Semangatnya untuk mencoba menutupi rasa sakit yang dia rasakan ketika awal-awal berlatih. Dia berani melawan rasa ‘sakit’ dan semua bayangan yang melintas dalam pikirannya dengan satu kata : berani. Berani mencoba, berani memulai dan berani menantang kegagalan.

Dari sikapnya terhadap rasa ‘sakit’ itulah, kini anak kecil tersebut sudah bisa bersepeda. Kini dia sudah bisa bersepeda dengan lancar. Bahkan dengan kemampuannya itu kini dia bisa membantu Ibunya membawa barang dagangan ke pasar, misalnya.

Lalu, bagaimana dengan kita? Sebagai orang dewasa, kita bisa jadi tidak sehebat anak kecil. Bahkan banyak penelitian menjelaskan bahwa orang dewasa tidak sekreatif dan seberani anak kecil. Walaupun kenyataan seperti ini tidak bisa menggeneral orang dewasa secara keseluruhan, namun hal ini bisa dijadikan sebagai pembelajaran bagi kita untuk banyak belajar kepada ‘kegagalan’ anak kecil yang tak mau kalah karena kekalahan, tidak mau gagal karena kegagalan, tidak mau jatuh karena kejatuhan dan seterusnya.

 

Anda mungkin pernah membangun usaha kemudian gagal bahkan bangkrut. Lalu, apa yang Anda lakukan atas apa yang Anda alami saat itu? Tentu saja Anda memiliki jawaban tersendiri. Yang jelas, belajarlah dari apa yang Anda alami. Periksa ulang hal-hal besar atau bahkan hal-hal kecil yang mungkin menjadi pemicu bagi hadirnya kegagalan dan kebangkrutan usaha Anda.

Anda pernah kuliah kemudian tidak kelar-kelar. Mungkin Anda bisa mengungkap secara jujur apa saja yang menjadi penyebab, misalnya : minimnya dana untuk biaya, kondisi keluarga yang tidak mendukung dan lain-lain. Tapi apakah Anda pernah mengevaluasi hal-hal lain yang juga terkait dengan kuliah Anda, semisal niat dan orientasi Anda? Atau mungkin manajemen diri dan manajemen waktu Anda?

Anda pernah mencari pekerjaan namun belum juga mendapatkan pekerjaan. Jangan pernah menyerah. Sang Kuasa tidak mungkin membiarkan Anda begitu saja dalam kondisi yang membuat Anda hilang semangat. Bisa jadi apa yang sedang Anda alami itu adalah pintu masuk bagi Anda untuk membuat pekerjaan sendiri atau membangun usaha sendiri. Banyak hal yang bisa Anda lakukan : membuat lembaga pelatihan, mendirikan lembaga kursus bahasa Inggris, menjual pisang goreng, menjual makanan ringan, menjual roti, menjual koran, menjual jam tangan, menulis buku, menjadi editor atau jika memungkinkan Anda bisa mendirikan penerbitan buku.  

Siapapun Anda, kegagalan dan kekalahan adalah bumbu bagi kesuksesan dan kemenangan yang Anda peroleh kelak. Jangan pernah menyerah begitu saja kepada apa pun yang Anda alami saat ini. Percayalah, Anda adalah orang yang segera mendapatkan giliran kesuksesan dan Anda pun menjadi pemenang. Bersabarlah menanti peristiwa mulia dan luar biasa itu. Karena Anda memiliki takdir tersendiri untuk sukses dan menjadi pemenang, semuanya datang tepat pada waktunya. Dalam dugaan atau di luar dugaan Anda.

Sebagai penutup, tanpa bermaksud ‘menggurui’ Anda, saya ingin mengatakan satu hal kepada Anda : mari belajar dari kekalahan dan kegagalan anak kecil. Tantanganlah kesalahan dan kegagalan dengan tekad dan semangat. Dengan begitu, Anda akan semakin paham bagaimana menjadi orang sukses dan menjadi pemenang. Akhirnya, tunggulah giliran Anda menjadi orang sukses dan menjadi pemenang!  []

2 Tanggapan

  1. Siappp, pak kadir. Insya Allah never give up.. Jazakallah telah berbagi ilmu

  2. Kang Kadir, artikel yang bagus. Itu bunda banget deh yang gak pernah kapok-kapoknya biarpun berkali-kali gagal dalam suatu usaha. Dengan kegagalan kita jadi tahu dimana posisi kita, hingga kita bisa memperbaikinya dengan semaksimal mungkin., Btw mau tanya kang kadir nih: Kapan ya Sertifikat penghargaan untuk Penulis Cerpen Terbaik di Lomba bersettingkan Masjid,Surau, Mushola atau Langgar? Oya juga akan mendapatkan bingkisan buiku paket. Maksudnya apa ya Kang Kadir? Buku paket dari buku yang nantinya akan dijilid, begitu? Mohon penjelasan ya. Terima kasih Kang.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.