Islam dan Kehidupan Publik

Tugas dakwah atau aktivitas perbaikan adalah menyemai kesenjangan antara idealis Islam dan kenyataan umatnya. Mencari titik kepastian Islam pada individu dan komunitas umatnya, juga umat manusia seluruhnya. Dengan begitu, akan terjadi gelombang besar islamisasi dalam berbagai aspek kehidupan umat manusia.

Selanjutnya tugas dakwah juga mencakup: menerangkan mana yang halal dan yang haram, mana yang boleh dan dan mana yang terlarang, memberi jalan keluar bagi semua persoalan yang ada. Baik persoalan pertahanan-keamanan, ekonomi, politik, sosial, budaya,  lingkungan, pendidikan, keilmuan dan lain sebagainya.

Kita percaya akan ada banyak orang yang mengatakan bahwa kalau kita beriman dan bertakwa kepada Allah, melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya; selalu memperhitungkan halal dan haram, yang boleh dan yang terlarang; membersihkan hati dari segala bentuk kotoran dan penyakit, akan menyebabkan datangnya pertolongan Allah. Dan pertolongan Allah itu bentuknya banyak, di antaranya adalah keberhasilan-keberhasilan duniawi.

Namun, keyakinan ini tidak boleh menafikan keharusan bekerja dan berusaha secara wajar dan layak untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Apakah karena seorang petani mukmin, sholeh dan berakhlak mulia kemudian dia tidak perlu memilih benih yang berkualitas, memupuk dan mengusir hama untuk memperoleh hasil optimal? Tentu saja tidak.

Jadi, sekali lagi, dakwah selain berkewajiban menyampaikan nilai-nilai ilahiyah yang bersumber dari wahyu, juga berkewajiban terjun langsung ke ruang umat yang dirundung problematika. Dakwah seperti ini kita sebut saja sebagai dakwah bil hal, dakwah amal nyata. Ini merupakan bagian dari usaha manusiawi. Dengan demikian kelayakan kita menerima pertolongan Allah—karena kita menjadi orang-orang sholeh—akan bertemu dengan upaya yang wajar, relevan dan logis. Begitulah perspektif dan logika umat ini kita bangun.

Bila dakwah atau pengusung (pelaku) perubahan bisa melakukan dakwah secara bil-maqol (verbal) dan bil-hal (kerja nyata), maka umat Islam akan menjadi umat yang kuat, berwibawa, akan diperhitungkan oleh umat lain dan bahkan akan segera menjemput takdir sejarah barunya, menjadi pemimpin dunia di tataran global.

Menjadi umat yang kuat adalah amanah dakwah yang dipesankan oleh Rasulullah Saw. Hal ini terungkap dari do’a yang sering beliau lantunkan kepada Allah Swt., “Allahumma inni a’uzubika minal-hammi wal hazan” (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebimbangan dan kesedihan). Rasulullah Saw. mengajari kita menjauhi keterpuruhan mental; penuh kebimbangan dan kesangsian serta diliputi kesedihan. Mental yang tidak berani berdiri tegak di hadapan wajah kekuatan penjajah dan musuh Allah Swt. Keberdayaan mental inilah yang akan menjadi pendorong keberdayaan faktor-faktor lain.

Selanjutnya Rasulullah Saw. memohon, “Wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasal (Dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan (fisik) dan kemalasan). Isyarat ini membimbing kita juga agar memiliki keberdayaan secara fisik. Karena fisik yang berdaya dapat melakukan banyak hal untuk kebaikan banyak orang. Rasulullah Saw. bersabda, ”Orang-orang yang paling baik adalah mereka yang paling besar manfaatnya bagi orang lain.

Wa a’udzubika minal jubni wal bukhli (Dan aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut dan kekikiran). Hal ini menggambarkan, bahwa seorang muslim idealnya adalah yang memiliki sifat berani dan dalam waktu yang bersamaan mesti rendah hati dan dermawan. Muslim yang bercorak seperti ini adalah muslim yang berdaya secara sosial. Dan rangkaian terakhir dari do’a itu, “Wa a’udzubika min gholabatiddaini wa qahrir-rijal” (Dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan dari penindasan orang-orang). Dan yang gambarannya seperti itu hanyalah umat yang berdaya secara ekonomi dan politis. Artinya, umat Islam tidak selalu terjebak dalam ruang ketidakberdayaan, karena mesti mentransformasikan diri menjadi komunitas manusia yang berdaya. Sehingga, adigium muslim idealis-tak berdaya berubah menjadi idealis-berdaya.

Lebih dari itu semua, Islam memang memerintahkan agar kaum muslimin terlibat dalam mengurusi permasalahan real kemanusiaan dalam segala aspeknya. Rasulullah Saw. bersabda, “siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin maka ia tidak termasuk komunitas mereka. Lebih rincinya, perhatikanlah bimbingan-bimbingan Islam dalam beberapa hal berikut sebagai contoh sederhana dari lahan-lahan dakwah bih-hal yang kita ketengahkan tadi.

 

  1. a.      Bidang Lingkungan

Dalam masalah pemeliharaan dan pelestarian lingkungan, Allah Swt. berfirman,

 

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah keberesannya. [1]

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah Saw. bersabda,

 

Siapa yang memotong pohon bidara, maka Allah akan membenamkan kepalanya ke dalam neraka.

Dalam menjelaskan hadits ini Imam Abu Daud mengatakan,

Barangsiapa yang menebang pohon bidara di tengah lapang yang dipergunakan sebagai tempat berteduh orang yang lewat atau pun binatang, karena main-main dan berlaku zalim, tanpa ada kebenaran padanya, maka Allah akan menenggelamkan kepalanya di

neraka”.

Hal ini menunjukkan bahwa pepohonan tidak boleh ditebang sembarangan kecuali sekadar kebutuhan dan itupun harus dengan perhitungan yang cermat. Hutan tidak layak digundul tanpa perhitungan akurat, matang dan jangka panjang.

Islam juga menghargai dan memuji orang yang memfungsikan tanah yang mati atau terbengkelai agar menjadi subur dan produktif. Rasulullah Saw. bersabda,

Barangsiapa yang menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya. Dan apa yang dimakan oleh binatang liar, maka hal itu menjadi shodaqoh baginya. (HR. Ahmad)

Bahkan lebih tegas dari itu, saat akan terjadi Kiamat sekalipun, kita diperintahkan atau wajib bagi kita untuk menanam. Rasulullah Saw. bersabda,

Jika kiamat terjadi, sedangkan di tangan seseorang di antara kalian ada benih tanaman, maka selama ia mampu menanamnya sebelum berdiri maka lakukanlah. (HR. Ahmad)

Coba perhatikan secara jeli pernyataan nabi dalam hadits tersebut. Pesannya sangat jelas, bahwa selama masih ada waktu untuk hidup di dunia hingga tibanya Kiamat, kita tetap berkewajiban untuk menanam benih tanaman. Tentu saja maknanya, bukan sekadar tanaman tapi juga soal amal atau jenis kebaikan lainnya.

Begitulah Islam mengatur sekaligus memberi kerangka umum kepada kita dalam menata lingkungan dan mengelola bumi yang luas ini. Sebuah panduan yang sulit ditemukan dalam sistem dan ajaran agama lain atau kepercayaan apapun yang ada di muka bumi ini. Bukan kah ini berarti bahwa Islam itu mencakup segala hal?

 

  1. b.      Bidang Ekonomi

Tidak lama setelah Rasulullah Saw. dan kaum muhajirin tiba di kota hijrah, Yatsrib, yang kini dikenal sebagai Madinah, hal pertama yang dilakukan beliau setelah membangun mesjid adalah membangun pasar. Rasulullah Saw. menyadari bahwa kaum Yahudi telah lama menguasai pusat-pusat perdagangan. Bahkan merekalah pemilik pusat-pusat perdagangan itu. Akibatnya mereka menguasai hampir seluruh aset masyarakat di Madinah dan daerah-daerah di sekelilingnya. Sehingga kendali harga berada di tangan mereka.

Sungguh sangat tepat ketika Rasulullah Saw. memutuskan untuk membangun pusat perdagangan kaum muslimin. Maka ketika kaum muslimin dalam perilaku bisnisnya menampilkan sikap dan sifat terpuji, masyarakat serta merta menyambut kehadiran pasar yang dibangun oleh Rasulullah Saw. dan kaum muslimin itu. Ini artinya mereka meninggalkan sentra-sentra perdagangan Yahudi sebagai pusat perdagangan mereka sebelumnya. Pada gilirannya pasar berada dalam kendali Rasulullah Saw. dan secara ekonomi Madinah beralih ke tangan beliau sebagai icon pemimpin saat itu. Sebuah prestasi yang dalam konteks kepemimpinan tak ada bandingannya di zaman ini bahkan untuk sepanjang zaman.

Pertanyaannya, mengapa mesti ekonomi? Kita memaklumi bahwa kesejahteraan adalah salah satu unsur primer dalam kehidupan manusia, dan kekuatan ekonomilah yang menentukan pemenuhan kebutuhan ini. Sehingga tidak heran jika Rasulullah Saw. mengawali dakwahnya dengan menghadirkan model dan praktik ekonomi yang begitu daahsyat efeknya terhadap pembangunan ekonomi masyarakat ketika itu. Bukan saja bagi kaum muslimin tapi juga untuk kaum yang lain. Dari sini juga dapat kita simpulkan betapa Islam hadir bukan saja membahagiakan kaum muslimin tapi juga kaum yang lain. Sebuah kenyataan yang sulit kita dapatkan dalam dunia Barat pada zaman modern ini.

 

  1. c.       Bidang Kesehatan

Kesehatan masyarakat sangat terkait dengan kesehatan lingkungan. Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan masalah pemeliharaan lingkungan agar tidak terjadi pencemaran atau berkembangnya bibit penyakit. Rasulullah Saw. bersabda,

Hindarilah tiga perbuatan terkutuk: buang air besar di sumber-sumber air, di jalan, dan di bawah bayang-bayang (tempat berteduh).”  (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Pada saat yang sama Islam juga menganjurkan agar menanam pohon sekaligus menghadirkan kehidupan yang sehat dan nyaman. Hal ini bisa kita pahami dari bagaimana Islam memberi isyarat, baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah.

  1. d.      Bidang Sosial-Politik

Dakwah bil-hal dalam bidang sosial-politik bertujuan antara lain untuk memberdayakan masyarakat secara politis. Keberdayaan secara politis ditandai dengan misalnya, hadirnya masyarakat yang memahami hak dan kewajibannya sebagai warga negara; berani mengatakan ‘tidak’ bagi segala yang berada di luar jalur kebenaran; dan sebaliknya siap untuk mendukung bahkan berkorban untuk kebenaran.

Oleh karena itu, menetapkan prinsip “tidak taat kepada pemimpin makhluk dalam rangka maksiat kepada Kholik (Allah Swt.)” menjadi penting. Dalam hal lain, seperti melakukan kontrol kepada penguasa dan pembelaan kepada yang tertindas, Rasulullah Saw. bersabda, “tolonglah saudaramu baik dalam keadaan zholim ataupun dalam keadaan sebagai yang dizholimi.” Tapi bagaimana kami membela yang zholim? tanya para sahabat. Rasulullah Saw. menjawab, dengan cara mencegah kezholimannya.”

Dari beberapa hal di atas saja sudah cukup bagi kita untuk meyakini dan mengatakan bahwa Islam memang merupakan agama yang sempurna dan menyeluruh; ia mencakup semua urusan manusia, baik dunia maupun akhirat, baik yang bersifat individu maupun yang bersifat kolektif. Islam adalah agama yang mencakup dimensi pribadi sekaligus sosial.


[1] Qs. Al-A’raaf (7): 56.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.