Testimoni Singkat [Pengantar untuk Buku Testimoni Untuk Umat Islam]

Sumber Inspirasi 

30 Desember 2011 yang lalu saya mendapat undangan dari salah satu organisasi mahasiswa di kampus Universitas Padjajaran (Unpad) Jatinagor-Jawa Barat. Ya, ketika itu saya mendapat undangan dan didaulat menjadi pemateri  pada Studium General (SG) Musyawarah Komisariat (Muskom) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Umar Bin Abdul Azis. Tema acara sekaligus materi yang diamanahkan kepada saya ketika itu adalah Kader Dakwah dan Kontribusi Nyata.

Beberapa hari menjelang jadwal acara saya berusaha mencari berbagai sumber materi yang kira-kira relevan dengan tema yang disuguhkan. Kebetulan pekan-pekan akhir tahun saya lagi mendalami berbagai tema seperti Sejarah Peradaban Islam dan Barat, Kebangkitan Ilmu Pengetahuan dalam Islam dan Sejarah Eropa, Liberalisasi Agama-agama, Kebudayaan Islam dan Barat, Perang Salib dan Sejarah Perjalanan Kaum Muslimin. Saya pun mencari berbagai referensi terkait, dari buku, makalah, artikel hingga catatan-catatan kecil yang pernah saya tulis dan simpan dalam file laptop beberapa tahun sebelumnya.

Akhirnya sayapun mendapatkan buku Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib (Dr. Majid ‘Irsan Al-Kilani), Sulthan Muhammad Al-Fatih : Penakluk Konstantinopel (DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi), Hegemoni Kristen-Barat dalam Studi Islam di Perguruan Tinggi (DR. Adian Husaini), Membangun Peradaban Barat dengan Ilmu (DR. Hamid Fahmi Zarkasy dkk), Kebudayaan Islam (Mohammad Natsir), makalah Al-Ghazali, Perang Salib, dan Kebangkitan Islam (DR. Adian Husaini), dan beberapa tulisan singkat yang saya tulis beberapa tahun sebelumnya.

Singkat cerita, saya pun ‘memaksan’ diri membaca beberapa referensi tersebut, kemudian menyusun sebuah makalah sederhana setebal 8 halaman dengan judul Perang Salib dan Strategi Profetik al-Ghazali.[1] Secara pribadi ketika itu sebetulnya saya masih ragu dengan kemampuan saya untuk menjelaskan materi ini. Di satu sisi saya sudah membawa materi yang secara sepintas jauh dari tema yang disuguhkan, di sisi lain saya juga tak begitu paham substansi dari apa yang ingin saya ketengahkan pada makalah tersebut.

Agar keraguan tersebut tidak merambat ke ruang pikiran saya, ketika masih dalam perjalanan dari Cirebon menuju Jatinangor saya selalu membaca beberapa referensi yang ada—termasuk makalah—dan berkomunikasi dengan DR. Adian Husaini[2] perihal referensi yang mumpuni dan ide atau gagasan yang perlu disampikan nanti ketika saya sampai di tempat acara. Akhirnya seperti biasanya, DR. Adian Husaini memberi jawaban singkat, “Oke, itu sudah cukup memadai.” Maksudnya, buku dan makalah yang saya baca serta makalah yang saya tulis sudah cukup untuk menjelaskan secara umum mengenai apa yang ingin saya sampaikan pada acara selama 4 jam tersebut.

Sesampainya saya di tempat acara, panitia langsung mempersilahkan saya untuk menyampaikan materi pada makalah yang sudah diperbanyak oleh panitia. Dalam sesi materi saya memaparkan secara singkat mengenai Perang Salib dan Strategi Profetik al-Ghazali. Mengapa? Karena menurut saya, berbicara dakwah Islam bahkan umat Islam kontemporer—terutama upaya aktivis Islam untuk berkontribusi pada lapangan nyata—tidak bisa dipisahkan dari kenyataan dunia Islam sekian abad sebelumnya. Tema tersebut saya jadikan sebagai inti materi karena berbagai kilasan penting yang terdapat di dalamnya, terutama mengenai kenyataan umat Islam ketika itu, tantangan yang menghadang dan peristiwa-peristiwa penting yang layak dikaji secara mendalam serta keterlibatan atau peran strategis beberapa tokoh atau ulama yang perlu mendapatkan kajian utuh kaum muslimin lintas generasi.

Dari tema tersebut ternyata menghadirkan berbagai pertanyaan yang sangat inspiratif. Suasana diskusipun begitu hangat dan serius. Banyak hal yang didiskusikan, tentu saja dengan berbagai keterbatasan dan kesederhanaan saya sebagai penyaji. Walaupun waktu yang disediakan belum mencukupi untuk menuntaskan apa yang didiskusikan pada forum tersebut, menjelang azan Ashar sesi saya pun berakhir juga.

Apapun tanggapan dan catatan peserta dan panitia yang mengundang saya ketika itu, yang jelas menjelang memberikan pernyataan terakhir pada sesi penutup saya menyampaikan bahwa “Apa yang saya sampaikan pada kesempatan ini adalah semacam testimoni untuk umat Islam, terutama di Indonesia. Lebih utamanya lagi sebagai refleksi bagi generasi muda, ya kita generasi muda Islam.”

Ketika kembali ke Cirebon, pernyataan “testimoni untuk umat Islam” semakin menggelitik pikiran dan hati saya. Entah mengapa, seakan-akan saya mendapatkan inspirasi untuk memberi catatan kecil terhadap kenyataan umat Islam di Indonesia. Akhirnya sayapun berpikiran bahwa ini adalah anugrah terbaik sekaligus spirit dahsyat bagi saya untuk menulis buku, memberi testimony untuk umat Islam Indonesia.

Atas izin Allah Swt. akhirnya sejak 1-10 Januari 2012 saya pun mengumpulkan berbagai file catatan kecil saya di laptop, dan merapihkan kembali berdasarkan tema yang ingin saya susun. Ya, akhirnya terkumpullah tulisan tersebut dalam satu naskah yang kini menjadi buku mungil yang berada di tangan pembaca sekarang. Mudah-mudahan bermanfaat!

Tentang Buku ini

Buku ini berjudul Testimoni Untuk Umat Islam : Upaya Mencari Titik Temu. Mungkin pembaca bertanya dengan nada ketus : “Kok berani-beraninya membuat testimoni, emang siapa dia?” Saya tak mau menjelaskan filosofi judul ini, saya hanya ingin menyampaikan satu hal : di antara penyakit umat Islam yang sangat akut akhir-akhir ini adalah “alergi dikritik” dan “malu mengkritik”. Karena itu, dengan segala keterbatasan ilmu dan kapasitas, saya hadir memberi kritik—dan tentu saja siap dikritik—yang dalam konteks ini saya lebih suka menyebutnya dengan testimoni. Sebagaimana galibnya, testimoni jauh dari upaya caci maki. Testimoni tetap berpijak pada sikap arif dan bijaksana, garisan wahyu, nalar rasionalitas dan azas realistis (waqi’i). Jikapun nanti dalam buku ini ditemukan caci maki, kesalahan dan kekeliruan, itu tak disengaja. Walau begitu, saya tetap berkewajiban untuk meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan atau yang tersinggung.

Buku ini terdiri dari V Bab. Bab I : Konsep Umat. Di sini akan dipaparkan mengenai (1) Idealis Islam Memposisikan Umatnya. Mengapa? Ini adalah salah satu upaya membangkitkan semangat umat Islam untuk kembali menyadari anugrah Allah untuk mereka. Dengan begitu, umat Islam tidak minder atas keberadaan dan keharusan dirinya untuk selalu menjadi yang terbaik. Di sini akan dibahas secara singkat mengenai basis utama umat berupa: pemimpin umat dan umat Islam itu sendiri. Setelah itu akan paparkan juga mengenai amal-amal strategis yang menopang anugrah Allah atas umat Islam sebagai umat terbaik. Kemudian akan dilanjutkan ke pembahasan mengenai (2) Islam dan Kehidupan Publik, mencakup : a. Bidang Lingkungan, b. Bidang Ekonomi, c. Bidang Kesehatan, d. Bidang Sosial-Politik. Hal ini diketengahkan sebagai contoh nyata bagi umat Islam juga publik (baca : non muslim) bahwa Islam memang bukan sekedar agama ritual tapi juga agama sosial. Ia adalah satu-satunya agama yang memiliki konsep dan perhatian terhadap berbagai aspek kehidupan manusia. Kemudian yang terakhir (3) Utuhnya Bangunan Islam. Di sini akan dipaparkan mengenai bangunan dasar Islam sebagai sebuah satu satuan konsep yang sangat apik, bukan saja jumlah rukun Iman dan rukun Islam tapi juga pembahasan singkat yang layak mendapatkan kajian lebih lanjut.

Bab II : Realitas Umat Islam akan dijelaskan mengenai kenyataan umat Islam dan (1) Dua Faktor  yang menjadi sumber permasalahannya seperti Faktor Internal dan Faktor Eksternal. Bahwa berbagai problematika yang dihadapi oleh umat Islam dari masa ke masa secara umum disebabkan oleh kedua faktor tersebut. Lalu akan dipaparkan juga mengenai (2) Masalah lain yang sering dipraktikkan oleh sebagian umat Islam. Kemudian akan dipaparkan berbagai tawaran (3) Solusi. Bahwa bagaimanapun kondisinya, Islam selalu menyediakan jalan keluar yang mesti dibentangkan oleh umat Islam. Kemudian akan dibahas secara singkat mengenai fenomena yang melanda umat Islam di Indonesia dan agenda-agenda strategis yang mesti ditegakkan. Pembahasan ini terdapat dalam tulisan (4) Konteks Ke-Indonesia-an.

Bab III : Bercermin ke Masa lalu. Pada Bab ini akan dipaparkan mengenai (1) Pelajaran dari Perang Salib. Mengapa? Karena jika ditelisik ternyata Perang Salib mengandung pesan-pesan strategis yang layak mendapatkan kajian mendalam, terutama mengenai bagaimana umat Islam membangkitkan kembali peradabannya. Lalu, akan dipaparkan juga mengenai (2) Peran Strategis Al-Ghazali pada momentum Perang Salib. Hal ini dipilih karena rangkaian Perang Salib adalah satu rangkaian yang kaya pesan dan pelajaran, termasuk bagaimana andil para ulama yang hidup pada zaman itu. Dan terkahir, pada tulisan (3) Mari Merenung!, pembaca diajak untuk merenungi beberapa ayat dan hadits serta penjelasan singkatnya dalam konteks kekinian umat Islam. Harapannya, umat Islam mampu memahami ayat dan hadit-hadits tersebut secara mendalam, bukan saja konteks masa lalunya tapi juga konteks kekinian dan masa depannya.

Bab IV : Menatap Masa Depan. Di Bab ini akan dipaparkan mengenai (1) Rumusan Diagnosa atas berbagai problematika yang dihadapi oleh umat Islam. Karena Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki ratusan Ormas Islam dan perannya cukup strategis, maka secara khusus akan dipaparkan juga mengenai Ormas Islam. Hal ini bisa dibaca dalam tulisan (2) Pesan untuk Ormas Islam. Kemudian berlanjut ke pembahasan singkat mengenai pergerakan Islam dalam (3) Pentingnya Dialog Antar Gerakan. Di sini akan dipaparkan secara singkat mengenai keharusan adanya upaya mencari titik temu ide dan misi antar pergerakan Islam, terutama di Indonesia. Tentu saja pembahasannya singkat, karena hanya sebagai pemicu diskusi. Kemudian (4) Generasi Muda dan Masa Depan Baru. Di sini akan dipaparkan mengenai keharusan generasi muda untuk bangkit dan menyiapkan dirinya menjadi generasi terbaik di masa depan. Mereka adalah asset umat Islam, dan  karena itu, mereka mesti dibangunkan dari tidur lelapnya, sekarang juga! Dan terakhir dilanjutkan ke pembahasan mengenai (5) Obsesi Islam Merebut Identitas Global. Sebuah upaya jitu untuk membangunan kesadaran umat Islam akan misi mulia Islam sebagai soko guru peradaban dunia dengan keistimewaan dan keunikan ajarannya.

Apa yang disuguhkan memang hanya tawaran yang mungkin dianggap terlalu ‘picik’. Walau begitu, saya percaya tulisan ini bisa dijadikan sebagai pemantik diskusi yang berlanjut, minimal pada level internal umat Islam. Sederhana memang, namun dari situlah kita memulai untuk melanjutkan peran-peran strategis kita, baik sebagai warga Negara maupun sebagai umat yang mendapatkan gelar umat terbaik.

 

Terima Kasih

Saya mesti bersyukur kepada Allah Swt. atas anugrah dan kesempatan ini. Karena dengannyalah saya bisa belajar menyampaikan sedikit isi pikiran yang selalu melintasi pikiran saya selama ini. Bagi saya, adalah nikmat yang tak berbilang ketika Allah masih memberi kesempatan kepada saya untuk memberi sedikit pencerahan kepada umat Islam akan kenyataan dunia, kemuliaan Islam yang Allah anugrahkan dan kondisi umat Islam saat ini.

Saya mesti menyampaikan ucapan terima kasih kepada DR. Adian Husaini yang telah banyak menginspirasi saya untuk belajar dan terus belajar. Di samping itu, tentu yang tak kalah pentingnya adalah terima kasih saya atas ketulusan beliau untuk selalu siap memberi jawaban atas berbagai pertanyaan yang saya tanyakan, baik di saat bersua dengan beliau maupun lewat SMS. Sebuah penghormatan yang membuat saya semakin percaya bahwa ilmu yang benar adalah ilmu yang mendiami pikiran yang membuat manusia semakin berilmu sekaligus tawadu’ dengan ilmunya. Dan saya mendapatkan spirit itu ketika sejak 7 tahun yang lalu hingga kini berkenalan dan sering berdiskusi dengan beliau. Sekali lagi, terima kasih Pak Adian. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan umat-Nya yang saleh, sehingga kelak kita bersua lagi di dalam surga-Nya bersama para pendahulu yang telah mendahului kita!

Terima kasih juga untuk keluarga besar saya, Ayah, Bunda, Mertua, Nenek, Kakak dan semua keluarga. Bagi saya, keluarga adalah sumber inspirasi yang takkan pernah berhenti mengalirkan semangat dan do’a. Hingga kini saya selalu mendapatkannya. Semacam aliran air yang selalu mengalir melampaui kekeriangan jiwa saya, seperti angin yang selalu menghembus batas-batas fisik manusiawi saya. Ah, keluarga memang segalanya. Malu rasanya jika saya begitu saja melupakan mereka. Jujur, saya selalu menanti do’a dan dukungannya.

Terima kasih juga untuk keluarga besar KAMMI Umar Bin Abdul Azis yang telah menginspirasi saya untuk mempelajari banyak hal, menuntaskan naskah sekaligus menghadirkan buku ini. Tanpa ‘takdir’ menjadi pemateri pada acara Studium General akhir tahun 2011, mungkin hingga kini saya belum melakukan apa-apa. Sekali lagi terima kasih.

Secara khusus untuk istri tercinta, Mba Uum Heroyati, dan anakku, Azka Syakira, saya layak menyampaikan terima kasih. Dengan tulus keduanya begitu antusias menemani saya ketika merapihkan dan menuntaskan buku ini. Walau dengan kesibukannya, istri saya tetap menyempatkan diri untuk memberi saya semangat dan senyuman, termasuk membaca ulang naskah buku ini. Yang membuat semakin romantis adalah ketika istri saya tak pernah lelah menyuguhkan teh manis hangat untuk saya. Sebuah potret yang menambah kehangatan keluarga kecil saya hingga kini. Begitu juga anak saya yang selalu senyum ketika saya bersua dan menatap wajahnya. Walaupun sesekali menangis, senyumannya terlalu naïf jika saya lupakan begitu saja. Istri tercinta dan anak tersayang, terima kasih untuk ketulusan dan kesabaranmu selama ini. Saya mencintaimu, tulus. Insya Allah.

Untuk siapapun, termasuk penerbit, yang telah memberi dukungan dan masukan demi kesempurnaan bahkan hadirnya buku ini, saya layak menyampaikan ucapkan terima kasih. Saya ingin mengatakan satu hal bahwa buku ini tidak layak saya klaim sebagai karya saya pribadi, sebab ada banyak orang yang ikut terlibat baik secara langsung maupun secara tidak langsung dalam menghadirkan karya ini sehingga renyah dibaca dan kini hadir di hadapan pembaca. Bahkan saya termasuk orang yang percaya bahwa hampir tak ada satu karya pun yang hadir tanpa keterlibatan tangan-tangan mereka yang apik dan jiwa-jiwa mereka yang tulus. Itulah perspektif saya dalam melakoni peran menggores pena di atas etalase kehidupan yang kaya dinamika dan pemikiran ini.

Berapa luas wilayah ruang dan waktu yang diberikan sejarah kepada masing-masing kita untuk ‘dimaknai’, ‘dihidupkan’ dan ‘diabadikan’? Itulah satu pertanyaan yang perlu kita jawab. Ini pertanyaan terbuka untuk umum, tapi setiap kita mesti menjawabnya sesuai jawaban kita masing-masing.

Bagi saya, sejarah adalah akumulasi antara satu waktu dengan waktu yang lain. Dan di atas relung waktu itulah saya menjalani kehidupan dunia dan melakoni peran-peran strategis kehidupan. Buku ini saya hadirkan sebagai upaya menjadi anak manusia (yang berasal dari kampung belum tersentuh aspal, listrik, telepon, TV, air pam, mobil angkutan dan taksi) yang mampu ‘memaknai’, ‘menghidupkan’, ‘mengabadikan’ waktu yang Allah anugrahkan kepada saya. Hanya dengan begitulah umur misi saya lebih panjang walaupun umur fisik saya hanya sesaat.

Jujur, di atas kesederhanaan kondisi kampung dan keterbatasan ilmu-lah saya membangun tekad dan semangat untuk menuntaskan karya ini. Saya sulit mengabarkan mengenai apa yang sesungguhnya terjadi pada diri saya beberapa tahun terakhir, yang jelas ada satu impian yang selalu melintasi benak saya hingga kini : menulis buku seumur hidup. Walau hanya menjadi serpihan yang tak lelah menghibur pribadi di sela-sela kesedihan dan cita-cita yang selalu dihadang dinding keterbatasan, walau air mata selalu menjadi saksi sekaligus sahabat yang selalu setia menemani, saya tetap percaya bahwa saya adalah salah satu di antara anak manusia yang mesti mengungkap apa adanya tentang sesuatu yang saya pahami dan saya saksikan, serta sesekali membagi rasa dan perasaan kepada siapapun mengenai mimpi-mimpi indah saya yang terus dirangkai oleh jari dan pena saya dalam bungkusan kertas-kertas kusam.

Akhirnya, mudah-mudahan apa yang saya suguhkan dalam karya sederhana ini bermanfaat untuk para pembaca dan dunia Islam. Tentu saja yang tak mungkin dilupakan adalah mudah-mudahan karya ini menjadi amal saleh terbaik bagi saya di hadapan Sang Kuasa. Sehingga saya pun termasuk hamba-Nya yang bermanfaat bagi sesama dan peradaban manusia. Mari membaca, selamat mengambil manfaat! []

 

Jakarta, 17 Januari 2012

 

 

 

Syamsudin Kadir


[1] Dengan beberapa penyesuaian, makalah yang saya maksud bisa dibaca pada Bab III buku ini.

[2] Ketua Program Studi Magister dan Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor-Jawa Barat, penulis berbagai buku tentang pemikiran dan pendidikan seperti Wajah Peradaban Barat, Pendidikan Islam dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.