Pak Presiden,
Aku ingin bercerita. Tanpa alur, apalagi sistematika ilmiah. Karena aku rakyat biasa yang hanya bisa bertutur apa adanya. Si kecil, sebut saja namanya Azka Syakira, berdiam diri dalam sebuah kamar sederhana. Si kecil itu merenung. Air matanya bercucuran. Ia menangis. Ia merenung tentang Indonesia yang indah tapi kehilangan; ya ia sedang menyaksikan negerinya kehilangan sosok-sosok teladan, sosok Negarawan. Dalam sebuah kertas kusam ia pernah menulis renungan tentang Indonesia, negeri dimana ia huni kini.
“Keindahan Indonesia kini dikotori oleh manusia-manusia keparat, manusia-manusia jahat. Korupsi di mana-mana. Partai Politik disinyalir tak berperan apa-apa, karena hanya berbuat untuk mengais harta dari kekayaan negara dan tak puas-puasnya mencari kekuasaan tanpa kerja progresif untuk rakyat yang menderita. Untuk tukang ojek yang bercucuran keringat, untuk pengajar tanpa gaji yang maksimum, untuk orang-orang cerdas yang tak terurus, untuk anak-anak jalanan yang sulit memprediksi kebahagiaan di masa depan, untuk tukang bakso yang tak punya rumah, untuk Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang tak jelas gaji dan nasibnya, untuk semua rakyat jelata yang mesti dibela. Indonesia memang kehilangan manusia-manusia terbaiknya.”
“Mengapa Indonesia kini seperti ini? Siapa yang salah? Apa penyebab kejadian dan peristiwa-peristiwa ini? Apa yang sudah diberikan dan lakukan untuk Indonesia?”
Pak Presiden,
Si kecil terus menangis dan air matanya tak tertahan tuk bercucuran. Air matanya keluar seperti hujan turun dari langit; ikhlas tanpa ragu. Dialog imajinerpun terus terbangun dalam dirinya.
“Mengapa aku harus menangis?… Aku teringat dengan perjuangan para tokoh dan pahlawan bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan dan berdirinya bangsa ini; aku teringat bagaimana pengorbanan para pendahulu kita agar negeri ini keluar dari penderitaan, bagaimana perjuangan mereka mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini”.
Pak Presiden,
Dalam keluh dan sedihnya yang pilu, mulutnya berteriak,
“Oh Soekarno, oh Hatta, oh Natsir, oh Diponegoro, oh Samanhudi, oh Bung Tomo, oh Agus Salim, oh Ahmad Dahlan, oh Hasyim Asy’ari, oh H.O.S Cokroaminoto, oh Mahasiswa, oh Rakyat Indonesia! Ke manakah kalian pergi? Mengapa kalian pergi dan meninggalkan Indonesia dengan berbagai kondisi yang mengenaskan. Indonesia kini menderita lagi, dan nyaris sedikit yang merasa bertanggung jawab atas kondisi ini. Kini negeri ini kehilangan orang-orang besar, kehilangan manusia-manusia yang berpikir dan berjiwa besar”.
”Oh pahlawanku, ke manakah kalian pergi? Di manakah kalian saat ini? Indonesia kini kehilangan patriotisme. Patriotisme saat ini tak bernilai apa-apa. Perjuangan saat ini hanya dijadikan sebagai slogan ketika momentum Pemilihan Umum (Pemilu) atau Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Nasionalisme saat ini hanya ada pada slogan bukan pada kerja. Kebanggaan atas Indonesia saat ini tak berujung pada aksi nyata. Para politisi hanya muncul ketika angka gaji dinaikkan. Kini banyak orang yang bertanya, di manakah fungsi legislasi, controling dan budjetting-nya DPR? Di manakah fungsi eksekusinya Pemerintah, fungsi controlingnya media massa dan mahasiswa?”
”Semuanya lupa diri. Kebanyakan anak bangsa lupa dengan apa yang diperankan oleh pahlawan-pahlawan di masa lalu. Peringatan hari pahlawan hanya menjadi ritual tanpa mengambil hikmah dan pesan sejarah yang menggemilang. Peringatan berbagai hari-hari besar nasional justru hanya rutinitas dan biasa dijadikan sebagai ajang tebar pesona agar disebut sebagai pahlawan. Peran-peran mengisi kemerdekaan dan proses penerusan peran kepahlawanan bukan dijadikan sebagai agenda. Jika ada agenda, bisa dipastikan tidak akan menyentuh rakyat banyak. Semuanya politis tanpa agenda nyata; bukan merangsang semangat patriotisme kerakyatan dan kebangsaan. Karena slogan kebangsaan dan perjuangan dari berbagai partai politik masih perlu diluruskan. Karena hanya tertulis dalam teks-teks peraturan belaka. Semuanya hanya menjadi isi wejangan di atas mimbar dan altar-altar kekuasaan. Rakyat menderita, politisi bermewah, itulah sedikit realita yang kita hadapi. Sebagaimana slogan nasionalisme juga semu. Ia tidak mengakar dan menyentuh perut rakyat kecil yang menderita. Karena kini penderitaan hanya diobati dengan cara-cara ad hock; ketika Pemilu atau Pilkada datang, bendera dan simbol palsu lainnya. Keberadaan rakyat memang hanya dijadikan sebagai komoditas politik menuju kekuasaan. Karena setiap kali perubahan sistem dan pergantian kepemimpinan nasional dan lokal bisa dipastikan rakyat tetap menderita”.
Pak Presiden,
Si kecil terus menangis dalam kepiluan karena merenungi kondisi bangsanya yang menyebalkan. Namun, dalam kondisi yang peluh itu, dalam pikirannya ternyata masih tersisa sebuah pikiran luhur sekaligus pesan impiannya, rasa kebanggaan. Dia masih bangga menjadi anak Indonesia. Walau rakyat menderita, walau Indonesia sakit; dia tetap bangga dan berikrar, sebagaimana yang ia tuliskan dalam kertas kusamnya,
”Indonesia adalah tanah airku, Indonesia bangsaku. Oh para penguasa, pernah kalian merenung dan berpikir panjang mengenai apa yang kalian perankan selama ini? Wahai rakyat Indonesia, pernah kalian mengevaluasi diri mengenai apa-apa yang kalian lakukan untuk negeri ini? Wahai generasi muda dan mahasiswa Indonesia, apa yang kalian persiapkan? Mengapa kalian diam seribu bahasa? Apa impian kalian untuk Indonesia di masa depan? Mengapa mimpi-mimpi para pendahulu belum menjadi inspirasi kalian untuk berkontribusi?”
”Wahai kalian yang peduli, berkacalah dan bercerminlah! Jangan biarkan diri-diri kalian berdiam diri dari realita negeri dan rakyat yang mengenaskan ini. Negeri ini sedang menangis. Hutan ditebang di mana-mana. Pasir pesisir pantai kini dijual tanpa harga. Budaya ke-Timur-an semakin dijauhkan, karena sebagian anak negeri ini lebih suka dengan budaya Barat yang hedonis. Sebagian anak bangsa lebih suka menggunakan budaya impor, sehingga negeri ini kehilangan identitas khususnya; semacam kesopanan dan kesantunan. Kalau ada yang bertanya, ’lalu siapa yang salah atas semua ini?’ Yang salah adalah diri-diri kita yang sok pahlawan padahal keparat dan tidak melakukan apa-apa. Tidak berbuat yang terbaik untuk rakyat dan negeri ini”.
”Wahai Indonesia, wahai rakyat Indonesia! Maafkan aku dan siapapun penghuni negeri ini. Kami belum melakukan apa-apa untuk kalian. Tapi percayalah bahwa setiap zaman ada pahlawannya. Momentum kehadirannya ada di mana-mana dan kapan saja. Kami mohon, kalian turut berdo’a, agar kami menjadi penerus para pahlawan di masa lalu yang kini telah tiada. Ini memang bukan tugas kecil wahai negeriku, tapi aku teringat dengan pesan Musthofa Muhamad Thohan bahwa kekuatan impian adalah kekuatan pemuda di masa lalu yang menyebabkan mereka menang dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran”.
”Ya Allah, tugas ini sangat berat. Kami merasa bahwa apa yang kami lakukan saat ini belumlah seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan para pahlawan yang telah berkorban untuk negeri khatulistiwa ini beberapa waktu yang lalu”.
”Wahai generasi muda! Tugas kita adalah meneruskan peran Para Pahlawan. Kelak, setelah jasad kita hancur lebur dimakan tanah, sejarah akan bertutur, bahwa kita pernah hidup. Kalaupun tidak berkisah kepada manusia, sejarah akan bercerita kepada Sang Penciptanya. Sejarah akan berkata kepada Allah, ‘ada anak-anak Indonesia yang pernah menorehkan tinta emas dalam lembaranku’. Ya, inilah tugas utama kita, yaitu untuk meraih kebahagiaan abadi di akhirat kelak, kebahagiaan yang diceritakan oleh sejarah akhirat. Jika di antara kalian belum atau tidak ada yang mau untuk mengambil peran ini, maka biarkan ’aku’ mengatakan pada diriku sendiri, akulah pewaris mereka!”
Pak Presiden,
Mengakhiri renungannya, si kecil berikrar,
”Selamat bertobat pemimpinku, selamat bersabar rakyatku; selamat jalan pahlawan Indonesia yang sudah lama menjadi mayat, selamat datang pahlawan baru Indonesia yang bergerak cepat!”
Pak Presiden,
Rekam jejak seorang anak yang aku suguhkan di atas adalah secuil dari potret nyata bangsa ini. Aku kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kembali. Yang tersisa hanya air mata. Ya, aku menangis Pak Presiden. Betapa dalam kondisi bangsa yang serba sulit seperti ini masih ada anak bangsa ”pinggiran” kota yang peduli dan perhatian. Di atas kesederhanaan dan keterbatasan dirinya, ia tetap membangun berjuta impian untuk Indonesia tercinta, negeri dimana tinggal kini.
Pak Presiden,
Bagiku, semangat dan optimisme seperti itu adalah warisan para pejuang dan pahlawan bangsa yang telah mengorbankan diri, jiwa dan raganya untuk bangsa ini. Kita perlu banyak belajar kepada mereka, juga kepada si kecil yang menangis, menyaksikan kondisi bangsanya. Siapapun kita, termasuk Bapak Presiden, perlu banyak belajar dan terus belajar. Jangan patah semangat dan jangan hilangkan optimisme dalam diri. Rakyat butuh teladan dan inspirator yang tak lelah mencontoh. Negeri ini masih punya harapan untuk bangkit. Asal nilai-nilai kepahlawanan masih menjelajah dalam setiap diri anak bangsa dan para pemimpin: Presiden, Menteri atau elite politik.
Pak Presiden,
Bagiku, pahlawan sejati tidak membuang energi mereka untuk memikirkan apakah ia akan ditempatkan dalam sejarah manusia, apakah ia akan ditempatkan dalam liang lahat Taman Pahlawan. Yang mereka pikirkan ialah bagaimana meraih posisi paling terhormat di sisi Allah Swt. Kata kunci mencapai ini adalah keikhlasan. Inilah yang membedakan mereka dengan peundang. Sama menderita, tapi yang satu karena dunia fana, dan yang satu lagi karena Allah semata.
Pak Presiden,
Pekerjaan-pekerjaan besar dalam sejarah hanya dapat diselesaikan oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Tantangan-tantangan besar dalam sejarah hanya dapat dijawab oleh mereka yang mempunyai naluri kepahlawanan. Itulah sebabnya kita menyebut para pahlawan itu orang-orang besar. Apakah Bapak siap menjadi pemimpin utama yang menginspirasi rakyat tuk maju ke medan kepahlawanan? Apapun jawaban Bapak, aku mengusulkan agar Bapak dan elemen bangsa ini banyak belajar kepada si kecil, Azka Syakira. []
Cirebon, 28 Oktober 2011