Coba diperhatikan, istilah “Bibel” digunakan oleh Yahudi dan Kristen. Keduanya—meskipun memiliki konflik yang panjang dalam sejarah—berbagi irisan dalam soal Bibel. Hingga kini Bibel (Latin: Biblia, artinya ‘buku kecil’; Yunani: Biblos) biasanya dipahami sebagai Kitab Suci kaum Kristen dan Yahudi.
Namun, ada perbedaan antara kedua agama itu dalam menyikapi fakta yang sama, khususnya bagian yang oleh pihak Kristen disebut sebagai The Old Testament atau Perjanjian Lama. Istilah “Old Testament” ditolak oleh Yahudi karena istilah itu mengandung makna, perjanjian (covenant atau testament) Tuhan dengan Yahudi adalah Perjanjian Lama (Old Testament) yang sudah dihapus dan digantikan dengan “Perjanjian Baru” (New Testament) dengan kedatangan Jesus yang dipandang kaum Kristen sebagai Juru Selamat. Yahudi menolak klaim Jesus sebagai juru selamat manusia.
Bagi Yahudi, yang disebut sebagai Bibel adalah 39 Kitab dalam ‘Perjanjian Lama’–nya kaum Kristen, dengan sedikit perbedaan susunan. Yahudi menyebut Kitabnya ini sebagai Bible atau Hebrew Bible atau Jewish Bible. Kedudukan Bibel, yang di dalamnya termuat Torah, bagi kaum Yahudi adalah sangat vital.
Louis Jacobs, seorang teolog Yahudi merumuskan: “A Judaism without God is no Judaism. A Judaism without Torah is no Judaism. A Judaism without Jews is no Judaism.” Yang disebut Torah adalah lima kitab pertama dalam Hebrew Bibel, yaitu Genesis (Kejadian), Exodus (Keluran), Leviticus (Imamat), Numbers (Bilangan), dan Deuteronomy (Ulangan).
Meskipun Hebrew Bibel merupakan kitab yang sangat tua dan mungkin paling banyak dikaji manusia, tetapi tetap masih merupakan misteri hingga kini. Richard Elliot Friedman, dalam bukunya, Who Wrote the Bible, menulis, bahwa hingga kini siapa yang sebenarnya menulis Kitab ini masih merupakan misteri. (It’s a strange fact that we have never known with certainty who produced the book that has played a central role in our civilization). Ia mencontohkan, the Book of Torah, atau The Five Book of Moses, diduga ditulis oleh Moses. Book of lamentation ditulis Nabi Jeremiah. Separoh Mazmur (Psalm) ditulis King David. Tetapi, kata Friedman, tidak seorang pun tahu, bagaimana penyandaran itu memang benar. The Five Book of Moses, kata Friedman, merupakan teka-teki paling tua di dunia (It is one of the oldest puzzles in the world). Tidak ada satu ayat pun dalam Torah yang menyebutkan, bahwa Moses adalah penulisnya. Sementara di dalamnya dalam teks-nya dijumpai banyak kontradiksi.
Problem lain dalam Hebrew Bibel adalah soal standar moral para tokohnya. David, the King of Israel, digambarkan melakukan tindakan keji dengan melakukan perzinahan dengan Batsheba dan menjerumuskan suaminya, Uria, ke ujung kematian. Akhirnya, ia megawini Batsheba dan melahirkan Solomon. Harper’s Bible Dictionary, mencatat sosok David sebagai: “The most powerful King of Biblical Israel.” Namun, David bukanlah sosok yang patut diteladani dalam berbagai hal. A Dictionary of the Bible mengungkap sederet kejanggalan perilaku dan moralitas David, sebagaimana tersebut dalam Bibel. Peperangan-peperangan yang dilakukannya, terkadang diikuti dengan kekejaman yang ganas. Dan dosa besarnya, adalah perzinahannya dengan seorang perempuan cantik bernama Batsheba, yang ketika itu masih menjadi isteri sah dari anak buahnya sendiri. “The great sins of his life, his adultery with Batsheba and murder of Uriah, are perhaps but the common crimes of an oriental despot, but so far as we can judge, they were not common to Israel, and David as well as his subjects knew of a higher moral standard.”
Kasus perzinahan dan perselingkuhan banyak tersebar dalam Bibel. Judah (Yehuda), tokoh Israel, anak Jacob dari Lea, berzina dengan menantunya sendiri yang bernama Tamar (Kejadian 38:1-11 dan 15-18). Juga, Amon bin David diceritakan memerkosa adiknya sendiri. Kisah ini dengan sangat panjang dan secara terperinci diceritakan dalam 2 Samuel 13:1-22. Padahal, hukuman bagi pezina menurut Kitab Imamat 20, adalah hukuman mati.
Kajian ilmiah terhadap teks Perjanjian Baru (The New Testament) yang berkembang pesat di kalangan teologi Kristen serta fakta sejarah dan sains dalam Bibel membuktikan banyaknya problem yang dihadapi. Dua pakar Yahudi, Israel Finkelstein dan Neil Asher Silberman, tahun 2002 lalu menulis buku: The Bible Unearthed: Archaelogy’s New Vision of Ancient Israel and the Origin of Its sacred Texts. Isinya memberikan kritik yang tajam terhadap berbagai data sejarah dalam Hebrew Bibel.
Profesor Bruce M. Metzger, guru besar bahasa Perjanjian Baru di Princeton Theological Seminary, menulis beberapa buku tentang teks Perjanjian Baru. Salah satu bukunya yang berjudul “The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration” (Oxford University Press, 1985) menunjukkan problematika teks yang serius. Dalam pembukaan bukunya yang lain berjudul “A Textual Commentary on the Greek New Testament”, (terbitan United Bible Societies, corrected edition tahun 1975), Metzger menjelaskan adanya dua kondisi yang selau dihadapi oleh interpreter Bibel, yaitu (1) tidak adanya dokumen Bibel yang original saat ini, dan (2) bahan-bahan yang ada pun sekarang ini bermacam-macam, dan berbeda satu dengan lainnya.
Dalam bukunya itu Metzger menjelaskan bahwa The New Testament yang asalnya berbahasa Yunani (Greek) itu mengalami problem kanonifikasi yang rumit. Banyaknya manuskrip menyebabkan keragaman versi Bibel teks tidak dapat dihindari. Hingga kini, ada sekitar 5000 manuskrip teks Bibel dalam bahasa Greek, yang berbeda satu dengan lainnya. Cetakan pertama The New Testament bahasa Greek terbit di Basel pada 1516, disiapkan oleh Desiderius Erasmus. (Ada yang menyebut tahun 1514 terbit The New Testament edisi Greek di Spanyol). Karena tidak ada manuskrip Greek yang lengkap, Erasmus menggunakan berbagai versi Bibel untuk melengkapinya. Untuk Kitab Wahyu (Revelation) misalnya, ia gunakan versi Latin susuan Jerome, Vulget. Padahal, teks Latin itu sendiri memiliki keterbatasan dalam mewakili bahasa Greek. Dalam bukunya yang lain, The Early Versions of the New Testaments, Metzger mengutiip tulisan Bonifatius Fischer, yang berjudul, “Limitationof Latin in Representing Greek”: “Although the Latin language is in general very suitable for use in making a translation from Greek, there still remain certain features which can not be expressed in Latin.”
Memang bahasa asli Bibel menjadi salah satu sebab penting timbulnya persoalan makna-makna dalam teks itu dan sudah tentu interpretasinya. Tahun 1519, terbit edisi kedua Teks Bibel dalam bahasa Yunani. Teks ini digunakan oleh Martin Luther dan William Tyndale untuk menerjemahkan Bibel dalam bahasa Jerman (1522) dan Inggris (1525). Tahun-tahun berikutnya banyak terbit Bibel bahasa Greek yang berbasis pada teks versi Byzantine. Antara tahun 1516 sampai 1633 terbit sekitar 160 versi Bibel dalam bahasa Greek. Dalam edisi Greek ini dikenal istilah Textus Receptus (teks yang disepakati) yang dipopulerkan oleh Bonaventura dan Abraham Elzevier. Namun, edisi ini pun tidak jauh berbeda dengan 160 versi lainnya. (Bruce M. Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament”, hal. xxii-xxiv).
Meskipun sekarang telah ada kanonifikasi, tetapi menurut Metzger, adalah mungkin untuk menghadirkan edisi lain dari The New Testament (the way is open for the possible edition of another book or epistle to the New Testament canon). Jadi karena Bibel asli tidak ditemukan maka teks standar untuk membuat berbagai versi pun diperparah lagi oleh tradisi kependetaan (Rabbanic Tradition) yang memberikan kuasa agama secara penuh kepada gereja. Di sinilah sebenarnya akar masalahnya sehingga Bibel memerlukan hermeneutika.
Lalu, jika teori yang “problematis” dan “gagal” tersebut diterapkan kepada Al-Qur’an, maka pemahaman terhadap Al-Qur’an bahkan Islam akan menjadi rapuh dan ragu. Ujung-ujungnya, umat Islam akan lebih suka mengacak-acak Al-Qur’an daripada usaha untuk memahami ilmu tafsir dan isinya. Lebih rajin mencaci maki para ulama dan sesama muslim daripada melawan para penghancur dan perusak Islam dan Al-Qur’annya.
Selain itu, cara dan metode tafsir hermeneutika tidak bisa diterapkan dalam penafsiran Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an adalah wahyu yang lafaz dan maknanya dari Allah, bukan buatan manusia. Karena itu, misalnya, ketika Al-Qur’an berbicara mengenai pernikahan, khamer, aurat wanita, dan sebagainya, Al-Qur’an tidak berbicara untuk orang Arab, tapi untuk semua manusia. Contoh kecil tentang aurat, bahwa aurat bagi wanita adalah seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangannya. Nah, struktur umum dari anatomi tubuh semua manusia itu sama. Karena itu, hukum menutup aurat berlaku untuk semua manusia yang beriman kepada Al-Qur’an di manapun mereka berasal dan bertempat tinggal. Para ulama sudah menyepakati pemahaman itu. Konsep finalitas seperti inilah yang tidak ditemukan dalam konsep agama lain, baik Kristen, Hindu, Budha maupun yang lainnya.
Dengan demikian, penggunaan hermeneutika sebagai satu metode tafsir Al-Qur’an sangat berbahaya, karena berpotensi besar membubarkan ajaran Islam yang sudah final. Dan itu sama artinya dengan membubarkan Islam itu sendiri. Karena itu, para akademisi muslim dan umat Islam yang masih masih bangga dengan metode ini semestinya sadar benar akan bahaya besar ini. Yang mesti difokuskan adalah menyadarkan diri dan umat untuk kembali memahami metode tafsir yang sudah menjadi metode para ulama yang secara turun-temurun bersambung hingga ke Rasulullah Saw.
Bukan sebaliknya, bersikap tidak peduli atau bahkan dengan gagah dan bangganya mengikuti tradisi Barat dalam memperlakukan Yahudi dan Kristen; atau perlakuan mereka terhadap Bibel. Karena bagaimanapun, Bibel adalah tak lebih seperti karya tulis yang pada faktanya tak ada hubungannya dengan Islam (baca: Al-Qur’an) bahkan dengan seluruh para nabi dan rasul Allah. Sebab tak satupun catatan sejarah yang objektif dan ilmiyah yang menjelaskan bahwa Bibel benar-benar wahyu Allah. Ia hanyalah kumpulan interpertasi petinggi Kristen-Barat terhadap sebuah fenomena keagamaan kemudian disakralkan dan didokumentasikan sebagai kitab suci.
Dalam bukunya “Metodologi Bibel dalam Studi Al-Qur’an” (Jakarta: GIP, 2005), Adnin Armas telah melakukan penelitian yang cukup mendalam tentang realitas infiltrasi atau adopsi metodologi studi Bibel dalam studi Al-Qur’an, termasuk dalam metodologi penafsiran Al-Qur’an. Walaupun masih dan akan terus gagal, proyeksi dan agenda infiltrasi terhadap studi Al-Qur’an ini cukup berbahaya bagi umat Islam. Karenanya perlu kewaspadaan yang tak sedikit dari para ulama dan akademisi Muslim.