Umat Islam dan Perang Pemikiran

“Katakanlah, akankah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sesat amal perbuatannya di dunia ini, tetapi mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”
(Qs. al-Kahfi: 103-104)

KETAHUILAH bahwa kewajiban seorang muslim sebelum beramal adalah berilmu. Bahkan agar akidahnya lurus dan terjaga, seorang muslim harus senantiasa memupuknya dengan ilmu. Bila pemahaman terhadap Islamnya berdasarkan basis ilmu yang benar, maka akidah, ibadah dan pemahamannya pun akan benar. Sebaliknya, jika pemahaman terhadap Islamnya dengan salah memahami ilmunya, maka ia akan terbawa ke dalam pemahaman dan pengamalan yang keliru bahkan akan menjadi seorang muslim yang ragu-ragu dengan keimanannya. Karena itu, kemungkaran terbesar dalam pandangan Islam adalah kemungkaran dalam bidang akidah atau kemungkaran yang mengubah bangunan fondasi Islam. Kemungkaran ini diawali dari kemungkaran dalam ilmu pengetahuan. Kemungkaran jenis ini jauh lebih berbahaya dari pada kemungkaran di bidang amal. Begitulah pesan para cendekiawan kita.

Oleh karena itu, menurut M. Quraish Shihab, umat Islam dituntut, pertama, terus-menerus mempelajari Kitab Suci (Al-Qur’an) dalam rangka mengamalkan dan menjabarkan nilai-nilainya yang bersifat umum agar dapat ditarik darinya petunjuk-petunjuk yang dapat disumbangkan atau diajarkan kepada masyarakat, bangsa dan Negara, yang selalu berkembang, berubah dan meningkat kebutuhan-kebutuhannya. Atau, dengan kata lain, mereka harus mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut agar dapat diterapkan dalam membangun dunia ini serta memecahkan masalah-masalahnya. Karena yang demikian itulah tujuan Kitab Suci (Al-Baqarah 213), dan itu pulalah tujuan mengapa mereka diperintahkan untuk selalu mempelajari dan mengajarkannya. Kedua, mereka juga dituntut untuk terus mengamati ayat-ayat Tuhan (Allah) di alam raya ini, baik diri manusia secara perorangan maupun kelompok, serta mengamati fenomena alam. Ini mengharuskan mereka untuk mampu menangkap dan selalu peka terhadap kenyataan-kenyataan alam dan sosial. Hal ini mengandung konsekwensi bahwa peran mereka tidak hanya terbatas pada perumusan dan pengarahan tujuan-tujuan, tetapi sekaligus harus mampu memberikan contoh pelaksanaan serta sosialisasinya.

Sebelum dilanjutkan ke pembahasan berikutnya, di sini perlu disampaikan beberapa hal penting yang mesti kita pikirkan; dianalisa secara cermat dan dikaji secara mendalam.
Dari sebuah sumber rahasia (baca: internal intelijen) Central Intelligence Agency (CIA) dalam sebuah tulisan dijelaskan bahwa ada tiga cara menghancurkan Islam, terutama Indonesia yaitu: Pertama, menjauhkan umat Islam dari aturan kehidupannya; Kedua, membiarkan umat Islam terpecah belah berdasarkan Ormas dan kepentingan sesaat; dan Ketiga, membatasi generasi mudanya untuk memahami Islam dan menghilangkan rasa tanggung jawab mereka terhadap negara dan umatnya.

Kemudian, salah satu pemikir Jerman—sebagaimana dikutip oleh Anis Matta, dalam bukunya Integrasi Politik dan Dakwah—mengatakan: Umat Islam perlu dijadikan musuh karena tiga alasan, yaitu: pertama, karena mereka punya basis ideologi yang membuat identitas Islam tidak bisa punah; kedua, mereka (baca: umat Islam) punya sumber daya alam yang dibutuhkan untuk membangun suatu peradaban; ketiga, populasi mereka (baca: umat Islam) terus bertambah, sementara Barat memiliki stagnasi dalam pertumbuhan populasi.

Pertanyaannya, apakah ketiga potensi tersebut benar-benar menjadi kenyataan dalam diri umat Islam? Lalu, bagaimana daya efek dan pengaruh dari ketiga potensi tersebut? Selanjutnya, yang perlu kita renungi secara mendalam adalah ketika ketiga alasan tersebut ada dalam diri umat, bagaimana strateginya agar terkelola dengan baik, sehingga keberadaannya efektif dalam menyiapkan umat dalam menghadapi kompleksitas tantangan zaman, di masa kini dan masa depan? Setiap elemen umat Islam-lah yang layak bertanggung jawab untuk memberikan jawaban atau klarifikasi.

Kondisi bangsa ini (dan dunia Islam) saat ini sungguh mengkhawatirkan. Di satu sisi, geliat untuk menegakkan Islam merebak di sepanjang nusantara bahkan dunia, di sisi lain berbagai ujian kehidupan terus gencar merasuk ke dalam pola hidup dan tubuh kaum muslimin. Kondisi tersebut, membuat ketar-ketir orang yang teguh dengan akidah islamiyahnya. Sebuah kondisi yang mestinya membuat umat Islam berpikir serius, untuk kemudian mencari solusi terbaik.

Dari ujung rambut sampai ujung kaki, masyarakat zaman sekarang merasakan pengaruh peradaban Barat yang begitu dahsyat. Cara bicara dan berpakaian, visi kehidupan bernegara dan hubungan antar-bangsa, bahkan untuk hiburan pun kini orang kebanyakan menggunakan ukuran kesenangan orang-orang Barat. Sarana yang dimasifkan untuk mengelabui umat Islam, Barat menggunakan berbagai cara dan sarana; salah satunya adalah perang pemikiran.

Semenjak dihentikannya perang fisik berupa invasi militer ke seluruh dunia, kolonialisme baru menggunakan berbagai saluran selain fisik, seperti ekonomi (iqtishadi), politik (siyasah), budaya (tsaqafah) dan terutama adalah pemikiran atau gagasan (fiqrah). Seluruhnya menjadi sarana invasi dari Barat—sebagai simbol kolonial dan imperialis—ke dunia Islam. Sejalan dengan itu, usaha Barat untuk melakukan invasi pemikiran—sebagai sarana fundamental konstruksi budaya masyarakat—ke dalam dunia Islam tidak pernah berhenti. Inilah pertarungan panjang yang akan terus alami.

Secara bahasa, ghazwah adalah serangan, serbuan atau invasi. Fikri berarti pemikiran atau pemahaman. Serangan atau serbuan di sini berbeda dengan serangan dan serbuan dalam qital (perang). Secara istilah, ghazwul fikr berarti penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran umat Islam guna merubah apa yang ada di dalamnya sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan darinya hal-hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal-hal tidak islami.

Dunia Islam—termasuk negeri ini—sedang menghadapi masalah yang cukup pelik. Maraknya produk pemikiran yang memenuhi ruang publik yang terang-terangan dan baru dikemukan atau yang memang sudah lama, meradang di tubuh umat. Dinamika pemikiran dengan munculnya ”isme-isme” lama dengan istilah baru terus datang bertubi-tubi. Bahkan pada perkembangannya menimbulkan berbagai macam anggapan dan tanggapan dari pihak yang pro maupun yang kontra.

Mengutip pendapat Samuel Huntington (2002), kepentingan global Barat sesungguhnya adalah dominasi ekonomi dan politik atas seluruh negara non-Barat. Untuk melancarkan kepentingannya itu, Barat memakai banyak cara, dari yang paling halus sampai yang paling berdarah-darah. Cara halus Barat mengukuhkan hegemoninya di antaranya melalui rezim pengetahuan alias dekonstruksi konsep ilmu.

Rezim pengetahuan yang diciptakan Barat—menurut Amin Sudarsono—tidak memberi ruang yang bebas kepada pengetahuan lain untuk berkembang. Generasi terdidik di negara berkembang diarahkan sedemikian rupa menjadi agen dan penjaga sistem pengetahuan Barat. Dan bukan hanya cara berpikir saja yang diarahkan, tetapi gaya hidupnya pun dikendalikan. Inilah ghazwul fikr yang sebenarnya. Kita dihadapkan dengan masalah umat yang cukup rumit.

Lalu, apakah kita hanya diam seribu bahasa, kemudian dengan senang hati menerima tantangan-tantangan tersebut tanpa mengambil peran dan kontribusi nyata? Kini adalah kesempatan terbaik bagi kita untuk mengambil posisi dan berperan aktif. Tak ada jalan lain selain berilmu, kemudian mengamalkannya; baik untuk penecerahan individu maupun untuk pencerahan umat. Mari menyiapkan diri, berkontribusi dan berperan aktif! []

2 Tanggapan

  1. very inspiring and motivating writing. terus berkarya teman…

  2. walan tardlo ankal yahudu walan nashoro hatta tattabi’a millata hum……

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.